Tiga belas tahun yang lalu, semesta di sekitar kampus belum sedingin malam di pinggir telaga. Waktu itu, udara terasa lebih ringan, dipenuhi aroma buku-buku baru, fotokopian diktat yang masih hangat, dan ambisi khas mahasiswa baru yang menyala-nyala.
Di antara lautan mahasiswa berwajah tegang yang sibuk mencari ruang kelas atau mencoba menarik perhatian senior, ada satu anomali yang berjalan dengan santainya. Namanya Jaka. Rambutnya gondrong nanggung-belum pantas disebut seniman, tapi terlalu berantakan untuk ukuran mahasiswa rajin. Celana jin belel dan kemeja flanel kebesaran menjadi seragam kebesarannya. Jika mahasiswa lain sibuk membawa buku tebal pengantar ilmu ekonomi atau filsafat, Jaka selalu menyelipkan sebuah buku catatan bersampul kulit imitasi yang sudah mengelupas di saku kemejanya.
Itulah Jaka. Pria yang kelak menyebut dirinya sang 'Pujangga Dablongan'. Seorang pemuda dengan kepala yang terlalu penuh oleh kata-kata puitis, namun dieksekusi dengan kelakuan yang sekenanya, spontan, dan sering kali tak masuk akal bagi manusia normal.
Bagi Jaka, kehidupan mahasiswa baru tidak akan lengkap tanpa sebuah takdir yang dramatis. Dan takdir itu telah ia temukan beberapa hari sebelum masa orientasi, tepatnya di Taman Kota.
Jaka masih ingat betul pertemuan itu. Gadis itu bernama Gayatri. Saat itu, Gayatri sedang duduk membaca buku di bangku taman, terlihat begitu tenang di tengah hiruk-pikuk anak-anak kecil yang berlarian. Entah keberanian dari mana yang merasuki Jaka, ia menghampiri gadis itu, mengulurkan tangan dengan gaya sok ksatria, dan memperkenalkan diri sebagai *"jamet tampan rupawan laksana titisan Arjuna"*.
Wanita normal mungkin akan langsung mengemasi barangnya dan pergi menjauh. Namun Gayatri tidak. Gadis itu menoleh, menatap Jaka dengan sepasang mata yang teduh, lalu tertawa. Tawa yang sangat renyah, seolah-olah lelucon garing Jaka adalah hal paling menghibur yang pernah ia dengar seharian itu.
*"Saya Gayatri, Kangmas,"* balasnya waktu itu, menjabat tangan Jaka dengan anggun.
Panggilan 'Kangmas' itu menghantam dada Jaka lebih keras dari pukulan petinju kelas berat. Sejak detik itu, Jaka tahu, ia sudah tamat.
Beberapa minggu setelah pertemuan di Taman Kota, semesta seolah ikut bermain. Mereka ternyata berada di fakultas yang sama.
Siang itu, di kantin fakultas yang riuh oleh suara dentingan sendok dan gosip mahasiswa, Jaka duduk berhadapan dengan Gayatri. Di meja mereka hanya ada dua gelas es teh manis dan sepiring tempe mendoan yang asapnya masih mengepul.
Jaka memandangi mendoan itu dengan tatapan filosofis, lalu mendongak menatap Gayatri yang sedang asyik membaca catatan kuliah.
"Nimas Gayatri," panggil Jaka dengan nada berat yang sengaja dibuat-buat.
Gayatri mendongak, menutup pulpennya. Senyum tipis sudah lebih dulu terbit di bibirnya. Ia sudah hafal betul raut wajah Jaka jika pria itu bersiap melontarkan sesuatu yang absurd. "Ya, Kangmas? Ada apa dengan mendoannya? Kurang asin?"
Jaka menggeleng dramatis. Ia mengambil satu tempe mendoan, mengangkatnya tinggi-tinggi seolah itu adalah pusaka sakti. "Tahukah kamu, Nimas, mengapa mendoan ini digoreng setengah matang?"
"Karena kalau digoreng kering namanya keripik?" jawab Gayatri santai, alisnya terangkat sebelah.
"Bukan," bantah Jaka tegas. "Mendoan ini dibiarkan setengah matang oleh ibu kantin, karena separuh proses pematangannya hanya bisa diselesaikan oleh kehangatan senyumanmu."
Selama dua detik, hening mengambil alih meja mereka. Sedetik kemudian, Gayatri menutup wajahnya dengan buku catatan, bahunya bergetar karena tawa yang tak bisa ditahan. Ia tertawa lepas, mengabaikan beberapa pasang mata mahasiswa lain yang menoleh ke arah meja mereka.
"Kangmas, gombalan macam apa itu?" ucap Gayatri di sela tawanya, wajahnya sedikit memerah. "Mendoan disamakan dengan perasaanku. Tidak berkelas sekali."
"Hei, jangan meremehkan mendoan!" seru Jaka pura-pura tersinggung. "Di balik wujudnya yang lemas dan berlumur minyak, ia menyimpan kehangatan yang jujur. Sama seperti perasaanku."
Tawa Gayatri perlahan mereda, menyisakan lengkung senyum yang membuat Jaka sering kali lupa cara bernapas. Gayatri menatap mata Jaka, dan entah mengapa, di balik tatapan jenaka pria *dablongan* itu, Gayatri selalu menemukan tempat yang aman. Tempat di mana ia tidak perlu memikirkan target nilai, tidak perlu memikirkan tanggung jawab berat yang menunggu di rumah, dan tidak perlu berpura-pura menjadi wanita baja. Bersama Jaka, Gayatri bisa menjadi gadis berusia sembilan belas tahun pada umumnya.
Bagi Jaka sendiri, tawa Gayatri adalah validasi tertinggi. Pria normal mungkin menganggap Jaka aneh. Teman-teman seangkatannya sering kali geleng-geleng kepala melihat tingkahnya yang memakai kacamata hitam di dalam kelas, atau membacakan puisi tentang 'pengorbanan ayam kampus goreng' saat presentasi tugas. Tapi Gayatri mengerti. Gayatri membaca buku yang sama, menertawakan hal yang sama, dan menerima sisi *nyeleneh* Jaka seolah itu adalah mahakarya seni.
Sore itu, saat mereka berjalan berdampingan menuju gerbang kampus di bawah langit yang mulai berwarna jingga, Jaka merenung dalam diam. Jari-jari mereka sempat bersentuhan tak sengaja, memberikan sengatan listrik kecil yang membuat Jaka segera memasukkan tangannya ke dalam saku flanel.
Dalam benak sang Pujangga Dablongan, sebuah prinsip perlahan terbentuk dan mengakar kuat.
*Untuk apa sebuah pernyataan?* batin Jaka saat melirik Gayatri dari sudut matanya.
Dunia terlalu sibuk dengan label dan simbol. Orang-orang berpacaran, mengucapkan janji-janji klise, hanya untuk putus tiga bulan kemudian dan saling memblokir nomor telepon. Jaka tidak menginginkan hal sesepele itu untuk Gayatri.
Baginya, cinta sejati tidak memiliki formulir pendaftaran atau tanggal peresmian. Cinta adalah ketika Gayatri secara otomatis memesankan kopi hitam pekat kesukaannya tanpa perlu ditanya. Cinta adalah ketika Jaka tahu kapan harus bertingkah konyol saat raut wajah Gayatri terlihat kusut sehabis ujian. Dua rasa yang saling memahami, tanpa perlu ditegaskan oleh kata 'kita'.
"Besok jam kosong mau kemana, Kangmas?" tanya Gayatri, membuyarkan lamunan Jaka.
"Aku berencana mencari wangsit di perpustakaan. Ada naskah drama kuno yang harus kupelajari," jawab Jaka asal. "Nimas mau ikut masuk ke dimensi kata-kata bersamaku?"
Gayatri tertawa kecil, mengangguk pelan. "Boleh. Asal Kangmas tidak membacakan puisi tentang gorengan lagi di dalam perpustakaan. Nanti kita diusir penjaga."
"Janji," ucap Jaka, menyunggingkan senyum andalannya.
Di dalam hatinya, Jaka merasa sangat penuh dan cukup. Tidak perlu ada deklarasi. Tidak perlu ada peresmian. Semuanya sudah berjalan sempurna di atas rel takdir yang ia yakini.
Namun, Jaka yang polos tidak pernah tahu, bahwa menolak hukum alam tentang 'kepastian status' akan menjadi bumerang paling mematikan yang kelak menghancurkan hatinya. Dan bumerang itu, sayangnya, akan dilemparkan oleh teman-temannya sendiri.