Seperti Seharusnya

By sefryanakhairil

5.1K 491 79

Bercerai. Dihancurkan. Dicekal dari dunia kerja. Saat hidup Jasmine berada di titik terendah, ia menemukan se... More

Bab 1: Sisa-Sisa Rasa yang Membeku
Bab 2: Dunia yang Terlalu Sunyi
Bab 3: Secangkir Kopi dan Jalan Lain
Bab 4: Kala Semesta Mempertemukan Kita
Bab 5: Takdir yang Tak Pernah Dibayangkan
Bab 6: Jalan Buntu
Bab 7: Ternyata Mengarah ke Dirimu
Bab 8: Inikah Takdir Itu?
Bab 9: Yang Tak Pernah Direncanakan
Bab 10: Keputusan yang Diambil
Bab 11: Luka yang Tak Pernah Diceritakan
Bab 12: Semakin Dekat, Semakin Menakutkan
Bab 13: Pintu yang Mulai Terbuka
Bab 14: Puing Duka dan Prasangka
Bab 15: Kita Tidak Sedang Jatuh Cinta
Bab 16: Kenangan di Hari Besar
Bab 17: Luka dan Rasa
Bab 18: Getaran yang Tidak Boleh Ada
Bab 19: Belajar Menjadi Keluarga
Bab 20: Ternyata Tak Sulit untuk Menerima
Bab 21: Lebih dari yang Disangka
Bab 23: Mengenal Dunia Baru
Bab 24: Menduga-duga Rasa
Bab 25: Kita yang Membicarakan Cinta
Bab 26: Bagaimana Jika Semuanya Berakhir?
Bab 27: Pesan untuk Mama
Bab 28: Rasa yang Nyata

Bab 22: Batas yang Tak Terlihat

59 14 4
By sefryanakhairil

Pagi itu, udara kompleks masih terasa sejuk merengkuh kulit ketika Jasmine melangkah keluar dengan pakaian olahraga. Rambut panjangnya diikat tinggi, sementara Hauri sudah menunggunya di depan pagar seraya melakukan pemanasan ringan.

"Siap, Kak?" tanya Jasmine.

Hauri menoleh lalu mengangguk singkat. "Siap, Tan."

Mereka mulai berlari pelan menyusuri jalanan kompleks yang sepi. Tidak terlalu cepat. Jasmine sengaja menyesuaikan temponya dengan Hauri yang sesekali mengatur ritme napas.

Beberapa menit pertama berlalu dalam keheningan yang tenang, hanya diisi derap langkah kaki mereka dan cicitan burung pagi. Sampai akhirnya Hauri memecah hening.

"Tante."

"Hm?"

Hauri melirik Jasmine dari samping. "Aku boleh tanya sesuatu, nggak?"

"Boleh. Mau tanya apa?"

"Kenapa Tante mau menikah sama Papa?"

Langkah Jasmine seketika agak melambat. "Hah?"

"Jujur saja, Tan," sahut Hauri polos.

Jasmine terkekeh kecil. "Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?"

"Penasaran saja." Hauri kembali memandang lurus ke depan. "Waktu Papa buka lowongan mencari ibu, Tante langsung mau?"

Jasmine menggeleng. "Tidak langsung mau, lah."

"Terus?"

Jasmine menarik napas panjang, mengumpulkannya di paru-paru. "Waktu pertama kali lihat lowongannya... yang terpikir di kepala Tante cuma satu: mau cari uang."

Hauri menoleh heran. "Uang?"

"Iya," kekeh Jasmine. "Awalnya Tante pikir ini murni pekerjaan. Papa kamu butuh seseorang untuk mengurus anak-anak, dan Tante waktu itu sedang sangat butuh pekerjaan. Jadi... menurut Tante logika sederhananya begitu."

"Padahal ini pernikahan."

"Nah! Itu dia yang bikin Tante sempat berpikir kalau ini ide gila."

"Terus, kenapa akhirnya tetap diambil?"

Jasmine terdiam sejenak, memutar ingatan. "Tante bertemu Cello. Tante lihat bagaimana Papa kamu kelihatannya sangat kewalahan mengurus kalian sendirian. Di saat yang sama, dia harus menghadapi tekanan soal hak asuh dari Oma kalian. Saat itu Tante berpikir... mungkin Tante bisa membantu. Bukan cuma bantu Papa kamu, tapi bantu kalian juga." Ia tersenyum tipis, penuh kehangatan. "Jadi akhirnya Tante memutuskan... ya sudah. Tante mau menikah dengan Papa."

"Tapi Tante suka sama Papa?"

Pertanyaan itu membuat langkah Jasmine hampir tersandung. Ia cepat-cepat menguasai diri dan kembali mengatur napasnya yang mendadak tak beraturan. "Mmm..."

Hauri menunggu dengan binar ingin tahu.

Jasmine menelan ludah. "Bagaimana ya... Suka dalam arti kagum, mungkin."

"Kagum?"

"Iya. Lagipula, perempuan mana yang tidak kagum dengan sosok Bara Ariesandy?"

Hauri terkekeh mengiyakan. "Papa memang keren, sih. Tapi kaku."

"Sangat kaku," sahut Jasmine cepat.

Tawa kecil kompak pecah di antara mereka. Namun tak lama kemudian, raut wajah Hauri perlahan berubah lebih serius.

"Aku tahu bagaimana hancurnya Papa setelah Mama meninggal, Tan," ujar Hauri. Pandangannya lurus menerawang. "Hancur... sehancur-hancurnya."

Langkah kaki mereka makin melambat. Jasmine memilih diam, memberikan ruang penuh untuk Hauri bercerita.

"Mungkin kalau tidak ada kami anak-anaknya... Papa sudah tidak kuat lagi bertahan," desah Hauri. "Selama beberapa bulan pertama, aku, Mas Kenzo, Cello, sama Alma dirawat Uti, Tante Jani, sama Bi Sani. Papa cuma tahu kerja. Pulang, masuk kamar, mengunci diri. Sudah."

Jasmine bisa membayangkan bayangan kelam itu.

"Sampai suatu hari, Uti memarahi Papa," lanjut Hauri. "Marah besar sekali."

"Kamu lihat waktu Papa dimarahi Uti?"

Hauri menggeleng. "Tidak. Aku dan adik-adik di dalam kamar. Mas Kenzo lupa deh lagi di mana. Tapi saat aku keluar dari toilet, aku tidak sengaja mendengar Uti bicara ke Papa. Uti bilang Papa tidak boleh terus-terusan begini. Kasihan anak-anak."

Jasmine tampak prihatin. "Terus?"

"Mulai dari situ Papa perlahan berubah. Mulai peduli lagi, mulai menanyakan sekolah, mulai mengajak makan bersama, dan mengurus kami." Hauri menyunggingkan senyum kecil. "Tapi ya... Papa seperti yang Tante lihat sekarang. Kaku. Seperti robot."

Jasmine tertawa renyah. "Jangan bicara begitu di depan Papa."

"Ya nggak kok."

Mereka kembali berlari-lari kecil. Namun beberapa saat kemudian, dorongan rasa penasaran di dada Jasmine membuat bibirnya tak tahan untuk bertanya.

"Papa kamu... pernah dekat dengan perempuan lain tidak, sih?"

Hauri seketika menoleh penuh, matanya menyipit curiga. "Kok Tante menanyakan itu?"

Jasmine mendadak salah tingkah. "Ya... cuma mau tahu saja."

"Kenapa?"

"Karena..." Jasmine memutar otak mencari alasan logis. "...kenapa papa kamu sampai harus buka lowongan kalau sebelumnya sempat dekat dengan perempuan lain?"

"Oh," Hauri mengangguk paham. "Papa beberapa kali sempat dekat dengan perempuan, kok. Katanya sih Papa tidak pernah benar-benar mencari. Kebetulan saja ada yang mengenalkan. Kadang Uti, Tante Jani, atau teman-teman kantornya."

Jasmine diam-diam memasang telinganya tajam-tajam. "Lalu?"

"Papa pernah dekat dengan artis."

Jasmine spontan menoleh kaget. "Artis?"

"Iya."

"Siapa?"

"Cassandra Laurent."

Mata Jasmine seketika membelalak. "Yang... mamanya Nathan?"

"Iya. Menurut Nathan, mamanya suka sekali sama Papa. Tapi Papa lempeng-lempeng saja."

Jasmine berusaha keras menata raut wajahnya agar tetap terlihat santai. "Oh... Lama mereka dekatnya?"

Hauri mendadak memicingkan mata jahil. "Tante cemburu, ya?"

"Tidak!" jawab Jasmine terlalu cepat, suaranya naik setengah nada.

Hauri langsung tertawa lepas. "Tidak apa-apa, Tan!"

"Tidak, beneran tidak cemburu!" Wajah Jasmine merona merah. "Untuk apa Tante cemburu?"

"Ya... siapa tahu," goda Hauri riang.

"Tidak kok," elak Jasmine seraya menggeleng kaku.

"Tidak lama, kok, Tan," jawab Hauri akhirnya kasihan. "Cuma dua atau tiga bulan saja."

"Oh..." Jasmine mengangguk-angguk. Hanya itu kata yang mampu keluar dari tenggorokannya, meski ada sedikit kelegaan aneh yang menyelinap di dadanya.

Namun kelegaan itu tak bertahan lama. Jasmine sadar, ia tak punya hak sedikit pun untuk merasa lega—apalagi cemburu. Pernikahan mereka berawal dari lembar-lembar klausul dan Bara masih menyimpan nama Kireina di tempat terpuncak dalam hidupnya.

"Papa cinta mati sama Mama, Tan," ujar Hauri tiba-tiba.

Langkah Jasmine kembali melambat telak.

"Sama seperti aku," lanjut Hauri tanpa menyadari perubahan raut muka Jasmine. "Di hatiku selamanya cuma ada satu Mama. Tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi Mama. Mau artis, atau siapapun itu." Hauri menoleh seraya tersenyum manis.

Jasmine tertegun. Bagaikan disiram air es, hatinya berdesir perih. Namun dengan dewasa, Jasmine membalas senyuman itu sehangat mungkin.

Di dalam hatinya, Jasmine dipaksa menapak bumi dan mengingat posisinya kembali. Ia bukan Kireina. Ia tidak akan pernah menjadi Kireina. Ia hanyalah Jasmine—istri kontrak Bara. Perempuan yang masuk ke rumah itu untuk membantu seorang ayah membesarkan anak-anaknya. Bahasa kasarnya, ia mungkin hanya pengasuh yang diberi status resmi. Tidak lebih.

Jasmine menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan untuk mengusir sesak di dadanya, lalu kembali menata langkah kakinya.

"Ayo, Kak. Kita pulang."

"Iya, Tan."

Mereka berdua berbalik arah menuju rumah. Hauri kembali bercerita dengan ceria tentang jadwal sekolahnya hari itu, sementara Jasmine mendengarkan seraya menyunggingkan senyum terbaiknya.

***

Suara denting besi beradu secara teratur memecah keheningan di ruangan gym pribadi lantai dua. Bara baru saja menyelesaikan set terakhirnya. Napasnya masih berat saat ia menaruh dumbbell kembali ke rak, lalu merengkuh handuk di bahu untuk menyeka keringat yang membasahi pelipis dan lehernya.

Di sudut ruangan, ponselnya terhubung via earphone. Suara Rena—sekretarisnya—terdengar jernih di sambungan telepon.

"Untuk jadwal hari ini, Pak... jam sembilan ada meeting dengan tim legal internal. Jam sebelas meeting dengan klien perkara pengadaan. Setelah makan siang, Bapak ada agenda ke Pengadilan Negeri."

Bara berjalan menuju treadmill, menyalakannya, lalu menaikkan kecepatan perlahan. Gerakan kakinya yang stabil beradu dengan ritme napas yang masih menggebu.

"Meeting klien yang jam sebelas pindahkan ke sore," potong Bara.

"Jam dua, Pak?"

"Jam dua terlalu mepet. Jam tiga saja."

"Baik, Pak," sahut Rena seraya mencatat. "Lalu ada dua dokumen yang perlu Bapak tanda tangani. Saya sudah kirim soft copy-nya ke email."

"Perkara korupsi?"

"Salah satunya, Pak. Satu lagi draf legal opinion untuk perusahaan tambang."

Bara meneguk air dingin dari tumbler-nya. Otot-otot tubuhnya yang tegang dan memanas mendadak memicu denyut lain di dalam dadanya. Di antara deretan kalimat profesional Rena, pikiran Bara tanpa permisi melenceng liar—membayangkan Jasmine.

Napas Bara yang memburu menyapu kulit leher Jasmine yang halus. Ia bisa merasakan bagaimana tubuh di dekapannya itu mendadak menegang halus. Tanpa memberi jeda pada keraguan, Bara merendahkan kepalanya sedikit lagi. Bibirnya yang hangat mendarat pelan di atas kulit halus tengkuk Jasmine—menempelkan kecupan-kecupan kecil yang lambat, dalam, dan sarat akan dahaga kepemilikan yang selama ini tertahan.

Mendengar bisikan napas Jasmine yang tertahan serta merasakan bagaimana kepala perempuan itu terlempar pasrah ke belakang, dada Bara makin bergemuruh pekat. Persendian Jasmine terasa lemas di bawah naungannya, dan Bara menyukai dampaknya pada perempuan itu.

"Mas..." bisik Jasmine tercekat, suaranya halus bagai hela angin.

Namun ucapan itu Bara telan bulat-bulat saat bibirnya mendarat menuntut di atas bibir Jasmine. Ciuman itu panas, dalam, dan dipenuhi oleh kelaparan yang telah lama Bara bungkam. Ia tidak lagi menahan diri. Ia menyesap bibir manis itu, menuntut setiap jengkal kenikmatan yang ditawarkan Jasmine.

Telapak tangannya merayap turun dari pinggang ke pinggul bawah Jasmine, meremasnya lembut lalu menekan tubuh perempuan itu makin erat ke dalam dekapannya, mengikis habis setiap jengkal udara yang tersisa.

"Pak Bara?" panggil Rena.

Bara tersadar. "Bagaimana, Ren?"

"Dokumennya bagaimana, Pak?"

"Taruh di meja kerja saya. Nanti saya tanda tangan sebelum berangkat," sahut Bara, memaksakan suaranya agar tetap terkontrol meski terdengar lebih berat dan serak dari biasanya.

"Siap, Pak."

"Thanks, Ren."

Sambungan telepon terputus. Bara memperlambat laju treadmill hingga berhenti total. Ia melepaskan earphone, memejamkan mata rapat-rapat seraya memiringkan kepala.

Bara buru-buru ke kamar mandi. Ia menyiram wajahnya dengan air dingin di wastafel, berusaha keras mengusir bayangan gairah liar yang hampir melumpuhkan logikanya.

Setelah mengusap wajah dengan handuk, Bara melangkah keluar dari area gym.

Rumah masih relatif sepi. Ia melirik jam tangan—sudah cukup siang. Naluri keayahannya otomatis membuat matanya mencari keberadaan anak-anak.

Pertama, Bara melewati kamar Cello yang pintunya sedikit terbuka; terdengar samar suara siaran kartun dari televisi di dalam.

"Cello sudah bangun," kata anak itu.

Langkah kakinya berlanjut ke kamar Alma. Pintu yang terbuka memperlihatkan Sus Lala sedang merapikan baju-baju kecil.

"Alma mana, Sus?"

"Sudah bangun, Pak. Lagi di kamar mandi," jawab Sus Lala.

Bara mengangguk. Sekarang giliran anak-anak remajanya. Ia menggeser langkah ke depan kamar Kenzo, lalu mengetuk dua kali.

Tidak ada jawaban. Bara langsung memutar gagang pintu.

Kamar itu masih gelap gulita. Kenzo masih meringkuk penuh di balik selimut tebal, sementara ponselnya tergeletak pasrah di samping bantal.

"Ken."

Tak ada pergerakan.

"Kenzo."

Anak itu hanya menggeram malas. "Lima menit lagi, Pa..."

"Sekarang."

"Masih pagi..."

"Sudah jam tujuh."

Kenzo membuka sebelah matanya, silau. "Seriously?"

Bara berjalan mendekati jendela dan menarik tirai lebar-lebar. Cahaya matahari pagi langsung menembus masuk, membanjiri seluruh sudut kamar. "Bangun. Sekolah."

Kenzo mengerang, menarik selimut sampai menutupi seluruh kepalanya. "Dad, please..."

Bara menarik paksa selimut itu hingga menyisakan dada Kenzo. "Bangun, Kenzo."

Kenzo akhirnya duduk terpaksa dengan rambut acak-acakan. "Iya, iya!"

"Jangan telat."

Bara keluar dari kamar Kenzo, lalu melangkah ke kamar di sebelahnya—kamar Hauri.

"Hauri?" panggil Bara dari luar.

Tak butuh waktu lama, pintu terbuka sedikit. Hauri berdiri di balik pintu dengan seragam sekolah yang sudah rapi.

"Sudah bangun dari tadi, Pa," potong Hauri cepat sebelum ayahnya sempat bertanya.

Bara menatap putrinya sejenak, mengamati kerapian Hauri. "Bagus. Jangan lupa sarapan di bawah."

***

Pisau di tangan Jasmine bergerak cepat. Paprika dan jamur ditumis sebentar menggunakan sedikit minyak zaitun sebelum dicampurkan ke dalam kocokan telur. Aroma gurih mentega, telur, dan tumisan sayur perlahan memenuhi seluruh dapur.

Bukan hanya untuk menyiapkan sarapan anak-anak. Ia ingin membuat sesuatu yang sedikit lebih spesial untuk Bara.

Entah kenapa, sejak mengetahui Bara menyukai kopi hitam dan sering melewatkan sarapan ketika sedang sibuk, Jasmine ingin memastikan pagi ini lelaki itu tidak hanya minum kopi lalu berangkat bekerja.

Ia menata omelet sayur, chicken sausage panggang, avocado toast, buah potong, dan yogurt di atas piring. Untuk Kenzo dan Hauri, porsinya dibuat lebih mengenyangkan. Untuk Cello dan Alma, ia menambahkan pancake kecil.

Setelah semuanya selesai, Jasmine mengambil satu piring khusus untuk Bara. Ia membuat omelet dengan paprika, jamur, dan keju, kemudian menambahkan dua potong avocado toast serta chicken sausage di sampingnya.

"Semoga Mas Bara suka," gumamnya pelan.

Jasmine kemudian berjalan menuju mesin kopi. Ia mengambil biji kopi yang tersimpan di dalam wadah kaca, menggilingnya, lalu menyiapkan mesin espresso.

Tak lama kemudian, suara mesin terdengar. Aroma kopi yang pekat langsung menyebar di udara.

Jasmine menuangkan espresso ke dalam cangkir, kemudian menambahkan air panas secukupnya. Americano. Tanpa gula. Tanpa susu. Ia mengaduknya sebentar, lalu mengangkat cangkir itu dan menghirup aromanya.

"Bu Jasmine."

Jasmine menoleh.

Bi Sani baru saja masuk dari arah ruang makan dan langsung memperhatikan meja yang sudah penuh dengan makanan. "Wah, pagi-pagi sudah sibuk."

Jasmine tersenyum. "Saya bikin sarapan. Ada buat Bi Sani dan yang lain juga."

"Untuk semua?"

"Iya."

Bi Sani kemudian melihat satu piring yang berbeda dari lainnya. "Itu punya siapa, Bu?"

Jasmine melirik piring tersebut. "Pak Bara."

"Oh. Buat suami tercinta memang harus spesial ya, Bu," goda Bi Sani.

Jasmine langsung tertawa malu. "Bi Sani bisa aja."

"Bibi mah maklum, Bu. Namanya juga pengantin baru. Masih berbunga-bunga," timpal Bi Sani. "Bibi ini nikah lima kali, Bu. Setiap kali nikah rasanya begitu."

"Oo..." bibir Jasmine membulat.

"Sekarang sih sudah kapok nikah ah, Bu. Kalau nggak dapat pengangguran, tukang selingkuh, ya KDRT, nggak ada yang bener," cerita Bi Sani. "Kalau Pak Bara sih dijamin kerja keras, setia, nggak akan mukul. Insya Allah Bu Jasmine sama Pak Bara langgeng sampai akhir hayat."

"Aamiiin... makasih doanya, Bi." Jasmine tersenyum. "Ya sudah, Bibi buat susu untuk anak-anak."

"Siap, Bu."

Jasmine kembali memperhatikan meja. Ia mengambil cangkir Americano yang baru dibuatnya, lalu meletakkannya tepat di samping piring Bara. Setelah itu ia menggeser cangkir sedikit ke kanan dan menggesernya lagi ke kiri.

Bi Sani memperhatikan dengan geli. "Kenapa, Bu?"

"Posisinya aneh."

"Posisi kopi?"

"Iya."

Bi Sani tertawa kecil. "Kayaknya sudah pas."

Jasmine akhirnya menyerah. "Ya sudah."

Ia menatap sarapan itu sekali lagi. Ada perasaan kecil yang sulit dijelaskan. Tidak ada alasan khusus. Ia hanya ingin Bara memulai harinya dengan baik. Bukan karena Bara adalah suaminya. Bukan karena itu bagian dari pekerjaannya.

Ia hanya... ingin.

***

Setelah selesai mandi dan mengenakan kemeja kerjanya, langkah kaki Bara yang hendak turun ke lantai bawah mendadak terhenti.

Entah dorongan dari mana, pagi itu ia justru melangkah menuju kamar utamanya. Kamar yang selama hampir empat tahun terakhir lebih banyak ia biarkan terkunci, menjadi tempat ia mengasingkan diri bersama masa lalu.

Pintu terbuka. Bara melangkah masuk perlahan.
Kamar itu masih menyimpan terlalu banyak kenangan. Tidak ada satu pun tata letak yang berubah: lemari pakaian, meja kecil di dekat jendela, hingga sofa tempat Kireina dulu selalu menghabiskan waktu untuk membaca buku.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kamar itu tak lagi menjadi satu-satunya tempat Bara menyimpan kenangan. Kini, ada sesosok kehidupan baru yang perlahan merembes masuk ke dalam rumahnya—dan Bara belum sepenuhnya tahu apakah ia siap membukakan pintu.

Bara berhenti di depan meja samping tempat tidur. Foto pernikahannya dengan Kireina masih berdiri anggun di dalam bingkai kayu sederhana.

Ia mengangkat bingkai itu dengan hati-hati. Wajah Kireina di dalam foto masih sama persis seperti yang selalu ada di kepalanya: senyum hangat yang dulu menyambutnya pulang, serta pendar mata yang selalu membuat rumah terasa aman.

Ibu jari Bara mengusap permukaan kaca bingkai itu dengan lembut.

"Kirei..." bisiknya. "Sekarang ada Jasmine tinggal di rumah."

Bara mengulas senyum tipis, tetapi kabut duka masih tertangkap jelas di matanya. "Rasanya aneh." Ia menunduk sejenak. "Selama hampir empat tahun, rumah ini cuma milik kita. Aku, anak-anak, dan semua hal yang kamu tinggalkan."

Bara menarik napas panjang yang terasa berat di dada. "Sekarang ada perempuan lain di sini."

Ia terdiam. Bayangan Jasmine melintas sekilas di benaknya: cara perempuan itu tertawa lepas bersama Cello, kepolosan Alma saat memanggilnya Mama, dan bayangan malam saat pertahanan diri Bara nyaris runtuh hingga ia hampir kehilangan kendali.

Rahang Bara mengeras tajam. "Tempo hari... aku hampir menyentuh dia." Ia memejamkan mata rapat-rapat. "Maafin aku, Kirei."

Keheningan melingkupi ruangan itu selama beberapa saat. Ketika Bara kembali membuka matanya, tatapannya ke arah foto Kireina sudah berubah—menjadi lebih dingin.

"Tapi itu nggak akan mengubah apa pun," tegasnya. "Aku masih cinta sama kamu. Cuma kamu." Jemarinya mengusap tepi bingkai kayu itu sekali lagi. "Dan akan selalu kamu."

Bara menelan ludah yang terasa pahit. "Jasmine memang istriku sekarang. Dia akan tinggal di rumah ini, membantu aku menjaga anak-anak..." Ia menghentikan kalimatnya sejenak. "Tapi semuanya punya batasan. Begitu semuanya selesai, aku akan melepaskan dia. Kontraknya selesai, urusan anak-anak selesai, semuanya selesai... aku akan mengembalikan hidupnya."

Ia menatap lurus manik mata Kireina di foto tersebut. "Dan setelah itu, aku akan tetap sendiri." Sebuah senyum tipis dan getir terukir di bibirnya. "Karena aku nggak butuh perempuan lain, Kirei."

Bara menundukkan kepala, menempelkan keningnya sejenak pada kaca bingkai foto itu. "Jadi jangan khawatir." Ia meletakkan kembali bingkai itu di tempat semula dengan amat perlahan. "Nggak akan ada yang bisa menggantikan posisi kamu. Selamanya cuma kamu, Kirei."

Ia memutar tubuhnya, melangkah keluar untuk kembali ke realitas. Namun begitu membuka pintu kamar, sosoknya mendadak kaku.

Jasmine berdiri tepat di ambang pintu dengan tangan terangkat setengah—barusan hendak mengetuk. Perempuan itu tampak terkejut melihat Bara tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar yang biasanya selalu terkunci rapat.

"Mas..." sapa Jasmine, memasrahkan tangannya turun. "Aku baru aja mau ngetuk kamar Mas. Sarapan udah siap."

Bara membalas tatapannya dingin. "Oh. Oke," sahut Bara singkat.

Bara langsung melangkah mendahului Jasmine tanpa menunggu, sengaja menyisakan jarak di antara mereka. Namun sebelum kakinya menapaki anak tangga pertama, Bara menghentikan langkahnya dan menoleh sedikit ke belakang.

"Satu hal, Jasmine," potong Bara dengan suara berat dan datar.

Jasmine menghentikan langkahnya.

"Kamu bebas bergerak ke mana pun di rumah ini," ucap Bara dingin, tatapannya mengunci mata Jasmine. "Tapi kamar itu... kamu nggak boleh masuk ke sana. Pernah atau kapan pun."

Jasmine sempat tertegun sejenak sebelum akhirnya mengangguk paham. "Aku mengerti, Mas."
Bara tidak menambahkan apa pun lagi. Ia kembali berbalik dan berjalan turun menuju meja makan, membiarkan Jasmine mengekor di belakangnya dalam diam.

***

Meja makan keluarga Bara Ariesandy terasa jauh lebih hidup dari biasanya. Empat anak sudah duduk rapi di tempat masing-masing. Cello sibuk mengoleskan selai cokelat ke rotinya, Alma memainkan potongan buah dengan garpu mungil, sementara Kenzo masih setengah mengantuk dengan rambut yang belum sepenuhnya rapi. Hauri duduk lebih tenang di sebelah Kenzo.

Jasmine keluar dari dapur membawa beberapa piring tambahan yang harum. "Ini omelet sayurnya," ujar Jasmine seraya meletakkan piring di tengah meja. "Terus ini  buahnya jangan lupa dimakan, ya."

Cello langsung menyambar satu potong omelet. "Enak!"

Jasmine tertawa renyah. "Belum juga dikunyah sudah bilang enak."

"Aku tahu masakan Mama pasti enak!" pamer Cello bangga.

Alma ikut mendongak antusias. "Mama masak buat Alma juga?"

"Iya, dong. Ini pancake khusus untuk Alma," sahut Jasmine lembut.

Mata Alma seketika berbinar riang. "Yeay!"

Jasmine kemudian mengambil empat kotak bekal dan menyusunnya di pinggir meja. "Nah, ini bekal kalian untuk ke sekolah."

Kenzo menatap kotak makannya ragu. "Yang ini... punya aku, Tante?"

"Iya."

Kenzo membuka tutupnya sedikit. "Chicken Nanban?"

Jasmine mengangguk. "Jangan lupa dimakan, ya."

Kenzo bergumam pelan, "T-thanks, Tante."

Hauri juga menerima kotak bekalnya. "Ini buat aku juga?"

"Iya. Ada potong buah seger juga di dalamnya."

Hauri tersenyum. "Terima kasih banyak, Tante."

"Sama-sama, Sayang."

***

Bara yang sejak tadi duduk di ujung meja memperhatikan seluruh interaksi itu dalam hening. Ia menyesap americano hangat buatan Jasmine. Rasanya pas di lidahnya. Sarapan di depannya lezat, anak-anak tertawa lepas, dan Jasmine mondar-mandir memastikan kebutuhan semua orang terpenuhi.

Pemandangan itu terasa... begitu hangat. Begitu nyaman.

Terlalu nyaman.

Bara perlahan menurunkan cangkirnya. Sirine bahaya di dalam kepalanya mendadak berbunyi. Ia harus segera mengingatkan dirinya sendiri.

Jangan. Ia tidak boleh mulai terbiasa menganggap ini sebagai kehidupan yang sebenarnya. Mereka terikat kontrak. Jasmine akan pergi begitu masa tugasnya usai. Dan ia tidak boleh membiarkan dirinya—atau anak-anaknya—terlalu bergantung pada kehadiran perempuan itu.

Setelah anak-anak selesai sarapan dan pamit bersiap, Bara berdiri lalu meraih jasnya.

Jasmine yang sedang mengelap meja menoleh hangat. "Mas, kopinya enak?"

Bara mengangguk datar. "Enak."

"Besok pagi aku buatkan lagi, ya."

Bara terdiam sesaat. Kalimat sederhana yang ditawarkan Jasmine dengan tulus itu justru membuat dadanya terasa sesak. Ia tahu Jasmine mengatakannya murni karena kebaikan hati. Namun ia harus menghentikan kenyamanan ini sebelum menjadi sesuatu yang merusak pertahanannya.

"Jasmine."

"Ya, Mas?"

"Kamu tidak perlu buatkan kopi lagi untukku."

Gerakan tangan Jasmine yang sedang mengelap meja seketika terhenti. "Oh...?"

Bara memasukkan sebelah tangannya ke saku celana, memasang wajah sekaku mungkin. "Dan sarapan juga."

Jasmine menatapnya bingung, alisnya bertaut halus. "Maksud Mas Bara?"

"Aku bisa siapkan sendiri."

"Tapi..."

"Kamu tidak perlu repot-repot."

Ada perubahan dingin dalam nada suaranya. Tidak kasar, tetapi cukup tegas untuk menegaskan garis batas yang jelas.

Jasmine menatap raut wajah lelaki di depannya dengan bingung. "Mas lagi ada masalah di kantor?"

"Tidak."

"Terus kenapa tiba-tiba begini?"

Bara menghela napas pelan. Ia bisa saja mengarang alasan sibuk atau hal profesional lainnya. Namun menatap mata Jasmine, ia memilih untuk jujur. "Aku cuma merasa..." Bara menggantung kalimatnya sejenak, mengunci mata Jasmine. "...kamu benar."

Jasmine makin bertambah bingung. "Benar soal apa?"

"Kita perlu menjaga batas."

Jasmine terpaku.

Keheningan yang menekan mendadak tercipta di antara mereka.

Bara melanjutkan dengan suara lebih rendah namun menghantam. "Hubungan kita dari awal memang punya batas. Kontrak. Peran masing-masing. Aku tidak mau kita terlalu terbiasa melakukan hal-hal yang seharusnya tidak perlu."

Jasmine menunduk perlahan, meremas kain lap di tangannya. Rasa hangat yang tadi memenuhi dadanya mendadak menguap dingin. "Oh..."

Bara hendak berbalik pergi, tetapi suara Jasmine kembali menahannya.

"Kalau begitu... bekal Mas bagaimana?"

Langkah Bara terhenti. "Bekal?"

"Aku... sudah buatkan bekal makan siang untuk Mas." Jasmine menunjuk sebuah tas bekal kecil.

Bara menatap tas bekal itu sejenak. "Besok-besok tidak usah. Untuk hari ini..." Bara melangkah mendekat dan menyambar tas bekal tersebut. "...aku bawa."

Senyum kecil akhirnya terukir di bibir Jasmine. "Oke."

Bara berjalan menuju pintu depan. Sebelum melangkah keluar, ia menoleh sekali lagi ke arah Jasmine. "Hati-hati di rumah."

Jasmine mengangguk singkat. "Mas juga hati-hati di jalan."

Pintu itu akhirnya tertutup rapat.

***

Bara duduk di kursi belakang mobil dengan sebuah tas bekal kecil buatan Jasmine yang terletak manis di sampingnya. Pak Darto mengemudi dengan tenang, membelah jalanan kota.

Bayangan percakapan dingin mereka di dapur tadi pagi mendadak melintas kembali di benaknya.

Kita perlu menjaga batas.

Bara menghembuskan napas panjang yang tertahan. "Pak Darto," panggil Bara memecah hening.

"Iya, Pak Bara?"

"Langsung ke kantor, ya."

"Siap, Pak."

Bara menyandarkan punggungnya, berusaha rileks, tapi tidak berhasil. Ia pun mengeluarkan ponselnya.

"Bu Jasmine baik sekali ya, Pak," cetus Pak Darto.

Bara mengangkat wajah dari ponselnya. "Iya."

"Saya kalau pulang, suka dibawakan camilan atau makanan sama Bu Jasmine," lanjut Pak Darto dengan nada semringah. "Kalau ada masakan lebih, saya sering ikut kebagian. Masakannya enak sekali, Pak."

Bara terkekeh tipis—kekehan singkat yang hampir tak terdengar. "Dia memang suka memasak."

"Sangat perhatian juga sama anak-anak," tambah Pak Darto lagi.

Bara tidak menjawab, memilih diam mendengarkan.

"Anak-anak sekarang kelihatannya jauh lebih ceria, Pak. Terutama Non Alma dan Den Cello, senang sekali kayaknya punya ibu." Pak Darto melirik lagi dari kaca spion, tersenyum. "Menurut saya... Bapak tidak salah memilih istri."

Kalimat sederhana dari Pak Darto itu menghantam dada Bara dengan telak, meninggalkan rasa sesak yang halus namun menusuk. Bukan karena Bara ingin membantahnya. Justru karena di dalam hati kecilnya... ia tahu Pak Darto sepenuhnya benar.

Jasmine memang sangat baik. Perhatian. Penyayang. Dan tanpa Bara sadari, perempuan itu perlahan-lahan sudah merayap masuk, menjadi bagian dari rutinitas dan napas rumahnya.

Demi menutupi gejolak di dadanya, Bara cepat-cepat mengalihkan pandangan ke luar jendela mobil. "Pak Darto."

"Iya, Pak?"

"Jangan sampai terlambat. Saya ada meeting penting jam sembilan."

Pak Darto tersenyum mengerti. "Siap, Pak."

Sopir itu tidak mengatakan apa-apa lagi, membiarkan keheningan kembali menguasai kabin mobil.

Di kursi belakang, Bara menghela napas.

***

Continue Reading

You'll Also Like

616K 31.6K 66
She was their princess. Then she became their shame. At seventeen, Aadhira was accused of a crime that tore her family apart. Overnight, she lost her...
1.9M 24.7K 7
Seperti perempuan pada umumnya, Sheren Callista Winata memimpikan kisah romantis yang berakhir dengan mengucapkan janji suci bersama di depan altar...
71.4K 213 5
Awal cerita akan berfokus pada Pak Is yang mulai memasuki periode umur 45, dimana beliau mengalami masa puber kedua, yang membuat gairah seks tinggi...
Wattpad App - Unlock exclusive features