GAMBAR TANPA SKETSA

By cahay221008

7 0 0

Kami tak tahu cara memulainya, kami tak tahu bagaimana ini berakhir. Kami hanya tahu begaimana rasa nyaman in... More

Bab 2 cewe preman
Bab 3 Ada

Bab 1 Ini Kita

4 0 0
By cahay221008

Pukul 02;00 dini hari, sebuah motor melaju dengan kecepatan normal— menurut Bintang— sang pengendara, jauh di belakangnya terdapat mobil yang juga menuju ke tempat yang sama. Di POV  Bintang yang mengendarai motornya dengan santai, berbeda dengan sang ibu yang sibuk mengomel di mobil setelah menyaksikan Bintang menyalip mereka dengan kecepatan penuh.

"Harusnya Ayah paksa aja anak itu biar ikut mobil aja, lihat sekarang! Kebut-kebutan di jam segini!"

Sosok orang yang disalahkan hanya diam menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

flashback 

Di teras rumah dengan suara motor yang sedang dipanaskan mengerang bercampur dengan pertukaran argumentasi antara ibu dan anak, menciptakan bekerjanya telinga yang mendengar perlu tenaga extra untuk tetap menunggu keberangkatan merka ke kota timpat tinggal baru.

"Pokoknya Bunda ngga ngizinin kamu buat bawa motor, nanti aja kita minta orang buat ambil motor kamu! Sekarang naik ke mobil dan kita berangkat sekarang!!"

"Bun itu bakal bikin repot, Bintang masih bisa bawa sendiri, loh?"

Ayah yang sedang menggendong Langit sedari tadi hanya menyimak sambil bersandar di mobil siap berangkat, "Udah, Bun biarin aja, Bintang udah besar gitu."

"Justru karena itu! Anak ini pasti bakal ngebut di jalan ga liat orang lain!!"

"Engga, Bun. Masa ngefitnah anak sendiri?" pembelaan dari Bintang malah menumbuhkan rasa kesal bundanya lebih  kuat lagi.

"Bunda tuh udah hidup bareng sama kamu sampai kamu umur tujuh belas tahun in, Mas. Makanya Bunda langsung tahu gimana kebiasaan kamu!'

"Lama sekali berangkatnya...." gumaman seorang balita yang kini menyandarkan kepalanya di bahu sang ayah sontak mengundang atensi ketiganya.

"Ya udah boleh," akhirnya bunda mengalah dengan hati yang setengah, di sisi lain Bintang langsung sumringah dan memeluk bundanya berlagak menangis dramatis menghiraukan raut wajah sang bunda yang masih kesal itu.

flashback off

Sesampainya di tujuan yaitu rumah mendiang kakek, Bintang langsung bersiap menghadapi serangan omelan dari bundanya apalagi tadi ia hampir menabrak seorang wanita yang sepertinya seumuran dengan Bunda dan nampak tidak asing baginya. Lak-laki itu berdiri tegak di samping motornya dengan tangan saling bertaut layaknya seorang pengawal. ketegapan itu langsung sirna saat bunda turun dari mobil sambil menggendong Langit dan langsung menarik telinga Bintang sampai memberikan rasa menyengat pada seluruh tubuh Bintang. 

"KAMU YA!! TIGA HARI KEDEPAN KAMU LIBUR NAIK MOTOR!!!"

....

"Ayah, ayo anter Bintang," nada lesu itu mengundang tawa kecil dari sang ayah.

"Mana motor kebanggaan kamu?" mendengar itu Bintang hanya pura-pura tidak mendengarnya dan langsung pergi keluar menunggu di teras rumah. 

Bisa ia lihat ada seorang gadis yang memakai seragam persis sepertinya baru saja pergi mengendarai motor scoopy, wajahnya tak asing bagi ingatannya tapi entah siapa dia. Suara klakson mobil dari ayah menyadarkan Bintang, cowok itu masuk ke mobil dan pergi ke sekolah diantar oleh ayahnya. Perjalanan masih berlanjut dengan damai—sepi— sampai ayah mulai memecahkan keheningan.

"Kenapa kamu ngeliatin rumah Tante Anti tadi?"

"Tante Anti?" 

Pandangan ayah berpaling pada Bintang sebentar, "Iya Tante Anti, masa kamu lupa sama Tante Anti, yang selalu bikinin kamu bakso setiap kamu main ke sini."

"Tante Anti mamanya Calya?" mendengar itu, ayah langsung menggelengkan kepala.

"Kalo soal Calya aja inget semua, iya, mamanya Calya sama Cahya. Tapi setau Ayah, sekarang Calya ga di sini."

Kilau mata Bintang redup tanpa ia sadari, "Terus dimana?"

"Tanya aja sama Cahya atau Tante Anti."

Sesampainya di sekolah barunya, Bintang berjalan mencari ruang BK untuk menemukan kelasnya. Ia mendapati gadis yang sama yang ia lihat di rumah tante Anti tadi sedang duduk di depan guru BK dan menunduk memeriksa sebuah buku yang Bintang tebak mungkin itu buku absensi. Seorang guru perempuan berseragam yang di pakai dengan gaya modis menghampiri Bintang.

"Eh kamu Bintang anak baru itu, ya?"

Sapaan itu bukan hanya mengundang tatapan Bintang, tapi juga mengundang tatapan gadis itu— Cahya—. Di saat Bintang menanggapi guru BK itu, Cahya selesai dengan tugasnya dan berpamitan dengan guru BK yang tadi memintanya untuk melaporkan absensi kelasnya. Cahya keluar dari ruang BK bersamaan dengan Bintang yang juga keluar bersama guru BK perempuan tadi menuju kelas yang sama dengan Cahya. Begitu Cahya masuk, Bintang bersama guru BK juga masuk membuat para murid langsung duduk di bangku mereka.

"Ibu ga lama-lama ya di sini, ini ada temen baru, yang akur ya," tepukan akrab dari guru BK itu menarik senyum sopan tertekan dari Bintang.

"Perkenalkan, Bintang," perkenalan singkat dan tentunya canggung itu hanya mengundang anggukan dari para murid.

Setelah beberapa menit Bintang duduk dengan teman sebangkunya yang baru, kini situasi sudah tidak secanggung tadi sampai Cahya menghampiri Bintang sambil membawa buku absensi kelas. Tatapan Bintang menyapu matanya bahkan sebelum Cahya sampai di hadapannya.

"Siapa nama lengkap lo?" pertanyaan jutek dan terdengar angkuh itu tentu saja disambut dengan tatapan julid Bintang. Ia pikir gadis itu akan memiliki sikap lemah lembut tapi sangat berbeda dengan harapannya setelah mendengar nada bicaranya itu.

"Bintang Altair sirius," jawaban jutek juga Bintang berikan untuk pertanyaan yang dilontarkan tadi. Untuk sesaat Cahya berdiri diam ditempatnya sambil menulis nama Bintsng di buku absensi kelas, dan langsung pergi setelahnya.

Bintang diam menatap keperegian Cahya sebelum tepuka teman sebangkunya—Zidan—menyadarkannya, "Kalo mau jatuh cinta jangan sama Cahya, mau ngasih saran aja sih, entah nanti lo punya anak jangan sampe anak lu sama tu bocah."

"Kenapa?"

"Pokoknya jangan, mending sama adeknya tuh Calya, dia mah lembut banget ga kaya Cahya, titisan busi motor anjing." penerangan itu menimbulkan hembusan nafas kasar menyerupai tawa dari Bintang.

"Mana yang namanya Calya?" pertanyaan itu muncul yang sebenarnya sudah ia pertanyakan dari saat setelah ayahnya tadi membicarakan keberadaan Calya tadi di mobil.

"Katanya dia pindah, ga ada yang tau kenapa dia pindah." 

Tanpa mereka sadari sedari tadi Cahya sudah menatap mereka dan menngirimkan tatapan tajamnya, "Jaman sekarang ternyata cowok juga suka ngomongin orang lain ya?"

Zidan langsung kicep dengan tangan yang di tautkan meminta ampun dalam diam.

"Segamaunya lo biarin temen baru lo itu suka sama gue, jangan sekalinya lo promosiin adek gue kaya gitu!"

"Ga bermaksud, ga lagi-lagi gue begitu, SERIUS!" nada bicara Zidan semakin tinggi saat dia melihat Cahya mendekat dengan membawa energi premannya itu bersama teman kelasnya yang membungkuk lagaknya pangeran memberi jalan.

Suara teriakkan terdengar di kelas itu bercampur suara tawa menggelegar dari para penghuni kelas yang senang melihat Zidan diterlentangkan di atas meja sebelum tangan dan kakinya ditahan oleh siswa yang lain dan pinggangnya ditusuk-tusuk dengan pulpun oleh Cahya membuat Zidan menngeliat geli bahkan menangis ditempatnya.

Bintang yang melihat hanya ikut tertawa sekaligus bingung bagaimana menanggapi.

•••

"Calya, terima kasih buat segala hasil yang lo capai."

Continue Reading

You'll Also Like

20.8M 1.1M 38
Young adult romance #1 fiksi || "Mereka aneh, mereka memaksa, dan mereka menginginkanku. Tiga lelaki itu...yang sangat ingin kuhindari..." -Annaqil...
2.6M 180K 50
[Jika ceritanya dirasa kurang cocok, bisa berhenti baca tanpa meninggalkan ujaran kebencian 💕] Di antara kerasnya dunia militer dan lembutnya kehidu...
Wattpad App - Unlock exclusive features