Mengobati Sulit Makan Sang Ad...

By FloRose20

2.7K 415 21

Seorang koki muda dari zaman modern tiba-tiba terlempar ke zaman kerajaan dan ditugaskan memasak untuk seoran... More

02
03
04
05
06

01

929 86 1
By FloRose20

"Selamat datang di babak final National Young Chef Championship!"

Suara pembawa acara menggema memenuhi aula megah yang dipenuhi penonton. Lampu sorot menari di atas panggung memasak, sementara kamera televisi terus menyorot para finalis.

"Hari ini kita akan menyaksikan pertarungan dua koki muda berbakat yang telah mengalahkan ratusan peserta dari seluruh Indonesia!"

Riuh tepuk tangan langsung memenuhi ruangan.

"Di sebelah kanan, koki berusia dua puluh tiga tahun yang dikenal sebagai bintang baru dunia kuliner... Arga Pratama!"

Sorakan penonton semakin keras. Arga mengangkat sebelah tangannya sambil tersenyum percaya diri. Rambut hitamnya tertata rapi, celemek putihnya bersih tanpa noda sedikit pun. Tatapannya penuh keyakinan.

"Dan di sebelah kiri, juara bertahan kompetisi tahun lalu sekaligus koki favorit para juri... Kevin Hartono!"

Kevin membalas dengan anggukan tenang.

Pembawa acara kembali berbicara.
"Keduanya akan memperebutkan gelar juara nasional dan kesempatan mengikuti seleksi internasional. Siapa pun yang menang hari ini akan selangkah lebih dekat menuju impian setiap koki.. mendapatkan pengakuan dari Michelin Guide."

Mata Arga langsung berbinar.
Itu impianku.

Sejak kecil, Arga bercita-cita menjadi koki yang namanya dikenal dunia. Bukan sekadar memiliki restoran mewah, melainkan mendapatkan pengakuan dari Michelin Guide. Baginya, itulah bukti bahwa seluruh kerja kerasnya tidak sia-sia.

"Aku pasti menang."

Arga mengepalkan tangan.
"Aku sudah berlatih bertahun-tahun. Tidak mungkin kalah."

"Sepuluh..."

"Sembilan..."

Hitungan mundur dimulai.

"Delapan..."

"Tiga..."

"Dua..."

"Satu!"

"Mulai!"

Bel berbunyi nyaring.
Peserta langsung bergerak.

Pisau beradu dengan talenan, suara kompor menyala bersahutan, aroma mentega dan rempah-rempah mulai memenuhi ruangan.

Arga bekerja dengan sangat cepat. Ia mengambil sayuran, memotong daging, lalu berlari menuju meja peralatan untuk mengambil panci besar yang akan digunakan membuat kaldu.

Hari ini harus sempurna.
Saat kembali menuju kompor, kakinya tidak sengaja menginjak genangan air yang entah berasal dari mana.

"Eh-"

Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Panci besar di tangannya terlepas ke udara.

"Awas!" Semua orang histeris.

Buk!

Panci itu menghantam tepat di kepalanya. Pandangan Arga langsung berputar, lampu-lampu berubah buram.

Suara penonton semakin jauh lalu semua berubah gelap.

"Tu... Tuan muda... Bangunlah. Sudah pagi." Suara asing terdengar samar.

Arga mengernyit.
Kepalanya masih terasa sangat sakit.

Rumah sakit? Pikir Arga.

Ia membuka mata perlahan, yang pertama kali dilihatnya bukan langit-langit rumah sakit, melainkan atap kayu dengan balok-balok besar.

"Syukurlah, Tuan muda sudah sadar."

Seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun mengenakan pakaian pelayan berdiri di samping tempat tidur.

Arga berkedip beberapa kali.
Siapa dia?

Ia langsung duduk. Ruangan itu dipenuhi perabot kayu, lemari besar, meja rias kuno, serta jendela berlapis kertas tipis. Tidak ada lampu listrik, tidak ada pendingin ruangan, bahkan tidak ada suara kendaraan dari luar.

"Aku... di mana?"

Pelayan itu terlihat bingung.
"Tuan muda sedang berada di kediaman Adipati Timur."

"Apa?" Arga menatap pria itu seolah baru mendengar lelucon paling aneh dalam hidupnya.

Adipati?
Mereka sedang syuting drama kerajaan, kah? Batin Arga penuh tanda tanya.

Ia buru-buru turun dari tempat tidur.
Namun begitu melewati cermin besar tubuhnya langsung membeku.

Pantulan di dalam cermin bukan dirinya. Pria muda itu memang tampan, tetapi wajahnya jauh lebih muda. Pipi masih sedikit bulat, tubuh lebih ramping, dan tinggi badannya pun berkurang.

"Apa..." Arga menyentuh wajahnya.

Pantulan itu melakukan hal yang sama. "Ini bukan aku."

Tiba-tiba kepalanya kembali berdenyut. Berbagai ingatan asing menyerbu masuk.

Namanya.
Masa kecil.
Rumah makan sederhana.
Ayah yang mabuk hampir setiap malam, utang yang menumpuk.
Ibu yang bekerja tanpa kenal lelah lalu kebakaran.
Penyakit dan pemakaman.

Satu demi satu anggota keluarga meninggal hingga hanya tersisa seorang anak laki-laki bernama Arsanta Nararya. Usianya delapan belas tahun.

Ayahnya dahulu memiliki rumah makan yang cukup ramai. Namun setelah kecanduan minuman keras dan judi, semua harta keluarga habis. Rumah makan bangkrut, utang menumpuk, lalu kehidupan mereka jatuh miskin.

Setelah kedua orang tuanya meninggal, Nara hidup sendirian.

Karena merasa iba, seorang kerabat jauh dari pihak ibunya, yaitu Adipati Timur, membawanya tinggal di kediaman adipati agar tidak terlantar.

Arga memegang kepalanya.
"Jadi... aku masuk ke tubuh orang lain?"

Pelayan itu memiringkan kepala.
"Tuan muda berkata apa?"

Arga tanpa sadar berdecak pelan.
"Dasar orang tua tidak tahu di untung. Punya rumah makan malah dihancurkan sendiri!"

Pelayan itu tampak kebingungan.
"Maaf, Tuan muda... apa yang barusan Anda katakan?"

Arga langsung tersentak.
"Eh..."

Ia menggeleng cepat sambil memasang senyum kaku.
"Tidak... bukan apa-apa."

Pelayan itu mengangguk pelan, meski raut wajahnya masih dipenuhi tanda tanya. Sementara itu, Arga hanya bisa mengembuskan napas panjang.

Kini ia bukan lagi Arga Pratama, koki muda yang sedang mengejar impian meraih pengakuan Michelin untuk restorannya.

Sekarang ia adalah Arsanta Nararya, pemuda delapan belas tahun yang tinggal di kediaman seorang adipati di jaman kerajaan.

Adipati Jayantaka Dirganta.

Nara masih berdiri di depan cermin sambil mengamati wajah barunya. Sulit dipercaya, tetapi ingatan Arsanta Nararya benar-benar menyatu dengan ingatan Arga. Ia bahkan masih mengingat letak setiap ruangan di kediaman ini.

"Kalau begitu..." gumamnya pelan. "Di mana Adipati?"

Pelayan yang sedari tadi merapikan tempat tidur menghentikan pekerjaannya.

"Adipati Jayan sedang berada di wilayah perbatasan, Tuan Muda."

"Perbatasan?" Tanya Nara.

"Benar. Beliau berangkat beberapa hari yang lalu untuk meninjau pasukan dan menyelesaikan persoalan dengan wilayah tetangga."

Nara mengangguk pelan.
Entah mengapa, ia merasa jawaban itu masuk akal.

Ingatan Nara kembali muncul di kepalanya. Meski sudah beberapa bulan tinggal di kediaman Adipati Timur, Nara ternyata belum pernah sekalipun bertemu langsung dengan pemilik kediaman ini.

Setiap kali Adipati pulang, Nara sedang berada di tempat lain atau di kamarnya. Sebaliknya, saat Nara keluar membantu para pelayan, sang adipati justru telah berangkat menjalankan tugasnya.

"Jadi... memang belum pernah bertemu, ya," gumam Nara.

"Benar, Tuan Muda."

Pelayan itu tersenyum tipis.
"Beliau adalah orang yang sangat sibuk. Bahkan kami para pelayan pun tidak setiap hari dapat melihat beliau."

Nara menghela napas lega.
"Syukurlah."

Pelayan itu mengernyit.
"Syukurlah?"

"I-iya... maksudku, syukurlah beliau sehat dan bisa beraktivitas."

"Hm." Pelayan itu tidak begitu yakin dengan jawaban tersebut. Ia kemudian mendekat beberapa langkah dan menurunkan suaranya.

"Tuan Muda, izinkan saya mengingatkan sesuatu."

"Apa?"

"Mulai sekarang, Anda harus lebih berhati-hati ketika berhadapan dengan Adipati Jayan."

Nara menatapnya penasaran.
"Memangnya kenapa?"

Pelayan itu melirik ke arah pintu lebih dulu, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar.

"Beliau terkenal tegas... bahkan cenderung kejam."

Nara langsung menelan ludah.
"Kejam seperti apa?"

"Beliau tidak menyukai orang yang melanggar aturan. Terlebih lagi, beliau sangat membenci orang yang meremehkannya atau berbicara lancang di hadapannya."

Pelayan itu berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Katanya, banyak bangsawan yang gemetar hanya karena dipanggil menghadap beliau."

Mata Nara membulat.
Wah... baru berpindah jiwa sudah dapat bos galak.

Ia spontan menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Baiklah," katanya dari balik telapak tangan.

Lalu ia mengangkat ibu jarinya tinggi-tinggi sambil mengangguk.

"Aku mengerti."

Dalam hati, Nara hanya memiliki satu tekad sederhana.

Aku masih ingin hidup.

Kalau harus menjaga mulut agar tidak membuat sang adipati murka, ia akan melakukannya. Lagi pula, dibanding menghadapi juri kompetisi memasak yang galak, menghadapi seorang adipati yang katanya terkenal kejam terdengar jauh lebih berbahaya.

.
.

Bersambung...


Continue Reading

You'll Also Like

122K 8K 85
【TAHAP REVISI】 *** Sebuah kecelakaan mobil tragis, mengakibatkan aktor terkenal Louis terluka parah. Saat Louis membuka matanya, dia sedang terbaring...
68.2K 6.9K 50
Darmawangsa adalah Ayah yang keras, di rumah, aturan harus ditaati. Tidak mentolerir kesalahan, baik kecil maupun besar, sampai anak bungsunya ketahu...
774K 57.9K 51
Di mata dunia, Elion G.V adalah sebuah mahakarya. Parasnya perpaduan ganteng dan cantik yang tak masuk akal begitu simetris sampai sering dikira kara...
257K 22.8K 31
Niat Langga hanya ingin menyelesaikan skripsi Arkeologinya di sebuah sendang kuno kaki Gunung. Namun, kecerobohannya membuat ia tidak sengaja menemuk...
Wattpad App - Unlock exclusive features