Di pagi hari yang cerah Davina sedang duduk sendiri di kursi taman sambil merenung memikirkan perkataan Mamanya kemarin, dan itu membuat kepala Davina terasa pusing tujuh keliling.
"Astaga, mumet banget sih gue!" kesal Davina.
Drigan dan Valen pun datang barengan lalu mereka berdua pun menghampiri Davina yang sedang merenung sendirian di taman.
"Davina, kamu lagi apa ko sendirian sih?" tanya Drigan.
"Iya nih Kak, aku lagi mumet!" ketus Davina melirik sekilas wajah Drigan.
"Len, ke kelas yuk!" ajak Davina menarik tangan Valen ke kelas.
"Ihhhhh, ko malah pergi sih mana dia ngajak si Valen lagi, sebel deh!" kesal Drigan pergi juga ke kelasnya.
Kini istirahat pun telah tiba semua murid berhamburan dari ruangan kelas masing-masing ada yang pergi ke kantin, tolet, perpustakaan.
Davina dan Ketiga sahabatnya pun buru-buru memilih tempat duduk kosong di kantin karena takut nggak kebagian.
Ketiga sahabat Davina itu adalah, Clara, Sofia, dan Hanifah.
Drigan dan Valen pun mereka berebut tempat duduk kosong yang berada disamping Davina.
"Minggir Lo, itu tempat duduk gue anjirr!" omel Drigan narik tangan Valen.
"Apaan sih, orang gue duluan yang duduk disini, Kak Drigan!" kesal Valen.
"Idih, yang sampai kesini kan gue duluan, terus lo nyerobot ajah duduk disitu!" jawab Drigan semakin kesal ke Valen.
"Stop... Malah berantem sih, no disana kan masih ada tempat kosong!" bentak Davina menggebrak meja.
"Habisnya tuh temen kamu ngeduluin aku duduk disitu!" sahut Drigan menatap sinis Valen.
"Kaya bocil tau, kursi ajah diperebutin!" ketus Sofia sahabat Davina.
"Yaudah deh gue duduk disana ajah!" jawab Valen ngalah ke Drigan padahal umur Drigan lebih tua darinya.
"Nah gitu ngalah biar nggak ribut berisik tau telinga gue sakit!" ketus Davina menatap sinis Valen dan Drigan.
Valen pun mengalah ia lebih milih duduk bersama teman sekelasnya yang lain.
Meskipun Drigan lebih tua dari Valen tetapi dia tak mau kalah soal percintaan.
Jadi Drigan dan Valen itu sepupuan ya.
"Bolehkan gue duduk disini?" tanya Drigan.
"Boleh ko!" jawab Davina memasang wajah juteknya.
"Bu saya pesen mie ayam, minumnya es teh ajah deh!" ucap Davina.
"Siap, Neng!" sahut Bu Tuti.
"Kalian mau pesen apa?" tanya Davina ke ketiga sahabatnya.
"Samain ajah bier nggak ribet!" jawab mereka kompakan.
"Bu, saya juga samain ajah ya kaya mereka!" sahut Drigan.
"Idih, caper amat sih Kak Drigan!" ketus Valen mendengus kesal.
Tak terasa waktu pun terus berputar bel tanda pulang pun menggema ke seluruh penjuru sekolah, murid-murid berhamburan meninggalkan kelasnya masing-masing.
"Cantik, pulang bareng gue yuk!" ajak Drigan menghampiri Davina.
"Nggak ah thank's aku mau pesen ojol ajah!" tolak Davina.
"Mending pulang bareng gue ajah yuk!" ajak Valen sambil melirik sinis Drigan.
"Apa-apaan sih lo, ikut-ikutan ajah ngajak Davina pulang bareng!" ketus Drigan kesal.
"Ya suka-suka gue dong!" sahut Valen.
"Sorry, noh ojol gue udah datang!, bestoy gue pulang duluan ya, bye," ucap Davina naik ke motor Abang ojol.
"Bye juga!" jawab ketiga sahabat Davina.
"Yah kesel deh, malah naik ojol dia!" ucap Drigan menghela nafas panjang.
"Mending pulang, bye!" jawab Valen menggeplak helm Drigan.
"Anjir lo, dasar adik sepupu laknat gue kutuk jadi kodok tau rasa Lo!" omel Drigan.
"Gak takut!" jawab Valen menyalakan motornya lalu pergi ninggalin Drigan.
"Awas ya lo nanti, gue cincang Lo!" Drigan kesal lalu ia pun menyusul Valen pulang.
Jadi Drigan dan Valen itu satu rumah ya, karena orang tua Valen di luar negeri. Jadi Valen dititipin ke keluarganya Drigan.
Sesampainya di rumah Davina pun langsung masuk ke kamarnya, ia buru-buru pergi mandi dan langsung menuju meja makan karena perutnya sudah keroncongan.
"Bi, Mama kemana?" tanya Davina ke Bi Mimah art dirumahnya Davina.
"Mama Non, tadi pergi belanja katanya stok makanan sudah menipis," jawab Bi Mimah.
Davina pun mengambil nasi, lalu menyiuk SOP iga kesukaannya ke piring ditambah steak sapi, sama nugget.
Setelah kenyang makan Davina pun pergi ke kamarnya, lalu tertidur hingga sore hari.
"Hoammmz, jam berapa ini?" Davina terbangun dari tidurnya sambil melirik jam.
"Astaga udah jam lima belum mandi sama belum sholat Ashar!" kaget Davina loncat dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.
Davina pun mandinya sat-set, setelah mandi ia pun sholat ashar.
Davina pun tiba-tiba pingin jajan seblak dan boba.
"Aduh ko aku pingin seblak sama Boba sih?"
Davina pun beranjak dari kamarnya mengambil kunci mobil Mamanya di atas lemari es.
"Ma, pinjem mobilnya sebentar ya?" tanya Davina.
"Emangnya kamu mau kemana, sayang?" tanya Mama Laura.
"Aku mau jajan seblak sama boba," jawab Davina.
"Oh!" ucap Mamanya singkat.
"Mama, mau nitip nggak mumpung Davina pergi?"
"Nggak ah!" jawab Mamanya sambil tersenyum tipis.
"Yaudah, kalau gitu Davina berangkat dulu ya, Ma!" Davina pun pergi menuju tukang seblak yang sekaligus jualan Boba juga.
Setelah sampai di tukang bakso ia pun bertemu dengan Drigan yang kebetulan lewat mau ke toko buku.
"Hai Davina, kamu lagi apa?" tanya Drigan.
"Aku mau beli seblak sama boba, kalau Kak Drigan lagi apa disini?" tanya Davina.
"Kakak, mau ke toko buku," jawab Drigan.
"Oh!" jawab Davina singkat.
"Yaudah, kalau gitu Kak Drigan pergi dulu ya, bye Davina!" pamit Drigan.
"Iya, Kak!" jawab Davina ketus.
Setelah beli seblak dan boba Davina pun mampir ke tukang martabak, karena Mamanya sangat suka martabak rasa coklat keju, setelah beli martabak ia pun pergi beli kentang ati kesukaan pembantunya yaitu Bi Mimah.
Kini Davina pun sudah sampai dirumahnya, ia pun memarkirkan mobilnya di halaman rumah.
"Ma...ini martabak buat Mama, Davina taruh di atas meja ya!" teriak Davina karena Mamanya sedang di kamar mandi.
"Ya!" jawab Mamanya.
Davina pun pergi ke dapur mencari Bi Mimah, ternyata Bi Mimah sedang masak untuk makan malam.
"Eh, Non!" ucap Bi Mimah tersenyum.
"Ini kentang ati kesukaan Bibi!" jawab Davina menyodorkan kantong keresek ke Bi Mimah.
"Aduh... Makasih Non!" seru Bi Mimah menerima pemberian Davina.
"Iya, sama-sama Bi!" jawab Davina tersenyum manis.
Davina pun mengambil Mangkuk dan sendok, lalu ia pun pergi ke ruang keluarga, menyalakan tv, lalu duduk santai di sofa sambil makan seblak dan minum Boba.
"Davina, kamu lagi makan apa lahap amat?" tanya Papanya yang baru habis mandi.
"Lagi Makan seblak, Papa mau?" tanya Davina.
"Nggak ah, Papa nggak suka pedes jadi buat kamu ajah!" tolak Papanya sambil tersenyum lalu duduk di kursi ikutan nonton TV bareng Davina.
Zidan Alvaro, Papanya Davina ia seorang CEO di perusahaan ternama.
Hari demi hari berlalu kini Davina pun naik ke kelas 3 SMA.
"Akhirnya sainganku lulus sekolah juga!" teriak Valen.
"Saingan apa maksud lo kodok sawah?" tanya Drigan mentoyor kepala Valen.
"Saingan yang selalu deketin Davina di sekolahan!" ketus Valen nyengir kuda.
"Iya disekolahan, tapi di luar sekolah juga gue bakalan terus pelet si Davina kali!" jawab Drigan.
"Nggak boleh, pokoknya Davina milik gue!" sahut Valen.
"Belum tentu dia mau sama kodok sawah kaya Lo!" omel Drigan terkekeh.
"Idih, kan belum tentu juga dia mau sama Lo, dasar cunguk!" bentak Valen kesal.
Davina pun datang menghampiri dua cowok yang sedang ribut itu.
"Kak Drigan selamat ya, kakak sekarang udah lulus!" ucap Davina.
"Iya makasih ya ucapannya, Davina!" jawab Drigan tersenyum.
"Oh iya, nanti malam kamu ada waktu nggak?" tanya Drigan ke Davina.
"Ada sih, emangnya kenapa gitu, Kak?" tanya Davina.
"Nanti malam kakak dirumah mau ngadain party kelulusan, kamu mau datang nggak. Kalau mau nanti kakak jemput deh ke rumah?" tanya Drigan sambil menatap lekat wajah Davina yang cantik itu.
"Oh, boleh deh tapi itu juga kalau di izinin sama Papa dan Mamaku!" jawab Davina ragu.
"Yaudah, kalau dibolehin chat ajah kakak atau telepon ya!" seru Drigan.
"Ok, Kak!" sahut Devina pergi gabung bersama ketiga sahabatnya.
Malam hari telah tiba Davina pun minta izin kepada kedua orang tuanya untuk pergi ke acaranya Drigan.
"Pa, Ma, Davina boleh nggak ke partynya Kak Drigan?" tanya Davina memelas.
"Boleh dong sayang, tapi pulangnya jangan kemalaman!" jawab Papanya sambil mengelus rambut puteri kesayangannya itu.
"Nggak boleh, Mamakan sudah ngelarang kamu berapa kali jauhi Drigan!" omel Mamanya membuat Davina sedih.
"Mama ko gitu sih, emangnya salah Kak Drigan apaan sih?" tanya Davina.
"Mama, itu nggak suka ya sama Mamanya Drigan, dia itu pernah kecentilan sama Papa kamu pas kita masih seumuran kamu!" sahut Mamanya kesal.
"Mama, jangan sangkut pautin masalah masa lalu sama anak kita dong, kasian tau Davina!" bentak Papanya.
"Pokoknya Mama nggak mau tau, nggak boleh ya nggak boleh, Mama cuma ngijin kalau Davina deket-deket sama Valen!" ketus Mamanya.
"Mama egois nggak mau mikirin perasaan anaknya sendiri!" bentak Papa bangkit dari duduknya lalu pergi entah kemana.
Davina pun tetap mau pergi, ia pun ngechat Drigan.