Usai ketegangan yang menyelimuti mansion Mahatma perlahan memudar, suasana hening menyisakan kesunyian yang terasa menyesakkan di kamar Ersya. Sikap Rangga yang begitu dingin serta tatapan tajamnya mampu membuat Ersya merasa tersudutkan dan takut.
Dengan tatapan itu, Ersya langsung merasa bersalah. Padahal ia tidak tahu kesalahan apa yang telah ia perbuat. Ersya hanya berniat mengambil handphonenya kembali. Namun, aura menekan dari Rangga mendominasi ruangan. Begitu menekan hingga tak seorang pun berani membantah. Tak terkecuali Vira. Melihat anaknya yang sedang disudutkan, ia memilih terdiam.
Terlebih Ersya sebagai penghuni baru di mansion ini. Membuat sang pemilik mansion marah, Ersya merasa sungkan. Takut jika melakukan sesuatu akan dianggap salah. Ia jadi serba salah.
Rasa sakit di kepalanya semakin menjadi-jadi. Pikirannya berkecamuk. Memikirkan apa yang telah terjadi. Ia pikir tinggal bersama Vira akan menyenangkan. Nyatanya, semakin hari semakin tersiksa. Harus menghadapi realita yang tak sesuai ekspektasi, belum lagi Mira yang selalu mencari gara-gara padanya.
Biasanya ia yang mencari gara-gara ke abang-abangnya. Sekarang ia menjadi korban. Ternyata rasanya menjengkelkan.
Memang benar ia mendapatkan kebebasan yang selama ini tidak pernah ia miliki. Namun, kebebasan itu terasa hambar ketika tidak dibersamai dengan kehangatan dan kasih sayang.
Rasa penasaran tak lagi menghantuinya. Ia rindu tinggal dengan keluarga Leonard. Terlebih abang-abangnya yang selalu memanjakannya, meskipun pemarah. Abang sulungnya-Barra Leonard tampaknya benar-benar marah padanya. Sampai-sampai tak ingin bertemu dengannya di luar.
Perasaan sedih yang dialami Ersya membuat dirinya tak memiliki keinginan selain tidur untuk mengurangi pusing yang mendera kepalanya.
"Ersya ...." Dengan suara lirih, Vira berusaha memanggil nama anaknya. Memastikan apakah Ersya masih tersadar atau sudah terlelap. Sayang sekali, mata terpejam dengan hembusan napas yang teratur itu menjadi pemandangan Vira. Hal tersebut membuat ekspresinya murung. Banyak hal yang ingin ia tanyakan. Permintaannya juga menggantung begitu saja.
Fokus Vira tertuju pada handphone milik Ersya yang katanya dari Barra. Kilatan penuh ketertarikan terpancar dari kedua matanya. Sejenak ia menoleh pada Ersya, lalu kembali ke arah handphone itu. Menimbang-nimbang.
Keinginannya lebih kuat daripada keraguannya. Dengan cepat Vira mengambilnya. Menyalakan handphone itu dan menggulir layar. Karena Kendrik tak berinisiatif datang ke sini seperti apa yang ia harapkan, maka ia sendiri yang akan menghubunginya. Vira beranjak menuju balkon. Menunggu pihak seberang mengangkat panggilannya. Harap-harap cemas.
"Ersya?"
"Akhirnya kamu menghubungi mommy."
"Mommy tahu kamu pasti merindukan mommymu."
"Ersya? Kenapa tidak menjawab? Apa yang terjadi?"
Bukan suara berat milik Kendrik yang menyapanya, melainkan suara wanita yang mencecar pertanyaan. Kening Vira mengerut. Ia jelas-jelas menghubungi Kendrik.
"Ersya, jawab mommy."
Ekspresi Vira semakin masam. Tak ada niatan membalas. Tangannya mencengkram handphone yang ia genggam. Kenapa wanita itu yang mengangkat telepon ini. Ini kan nomornya Kendrik.
"Sayang, kenapa Ersya tidak menjawab?" Terdengar Rachel yang bingung dan bertanya pada Kendrik karena Ersya tak kunjung menjawab teleponnya.
Suara heboh yang diciptakan oleh Rachel kini terganti dengan suara berat milik Kendrik.
"Ersya, ini daddy."
Kali ini Vira tersenyum mendengarnya.
"Hai, Kendrik. Ini aku." Vira langsung membalas saking semangatnya. Terjadi keheningan sesaat. Vira gugup menunggu balasan dari seberang.
"Di mana Ersya?" Suara Kendrik yang semula terdengar santai kini berubah dingin.
"Ersya sedang tidur, dia cukup nyaman di sini," balas Vira sedikit ia lebih-lebihkan.
"Tunggu, jangan menutup telepon." Seakan-akan punya firasat dengan tindakan Kendrik, ia terlebih dulu mencegahnya. "Bagaimana kabar kalian? Anak-anak?"
"Sangat baik." Balasan yang terdengar cukup menusuk.
"Terima kasih sudah mengizinkan Ersya untuk tinggal bersamaku. Aku-"
"Jangan gunakan handphone Ersya lagi. Jika bukan karena Ersya yang ingin, kami tak akan pernah melepaskannya padamu. Tak perlu bertanya tentang keadaan kami. Itu bukan urusanmu."
"Dan hidupmu bukan urusan kami."
Perkataan Vira disela begitu saja. Napasnya tercekat. Rasa sesak menusuk dadanya. Nada dingin serta kata-kata sarkas tak ada bedanya seperti dulu. Sudah bertahun-tahun, ternyata tak ada perubahan. Vira benar-benar meremehkan keluarga Leonard.
Tak berhenti begitu saja. Kendrik memberikan ultimatum pada Vira. "Jika kami mendengar Ersya diperlakukan buruk di sana, kalian akan mendapat balasan yang jauh lebih buruk."
Sambungan telepon itu terputus. Meninggalkan Vira yang diam terpaku. Mendengar penolakan secara kasar dari Kendrik, ia benar-benar tak mempunyai kesempatan lagi.
Kendrik tak datang ke sini. Tak mengharu biru sapaannya. Hanya ada ancaman. Bukannya fokus pada ancaman Kendrik, Vira hanya memikirkan sikap Kendrik padanya. Itu membuatnya sedih.
Setelah bertahun-tahun, keluarga Leonard tetap tak berubah. Tetap dingin tak berperasaan, seperti dulu. Sebelum bahkan sesudah permasalahan keluarga itu terjadi. Berakhir ia tak kuat menjalaninya hingga sekarang mereka memiliki kehidupan masing-masing.
Ia pikir setelah bertahun-tahun, ia akan baik-baik saja. Seharusnya. Namun setelah melihat keakraban Kendrik dan istri barunya, anak-anaknya yang sudah tumbuh besar dan tampan, kekayaan keluarga Leonard yang semakin melimpah. Vira merasa harusnya ia yang menjadi nyonya Leonard sampai saat ini.
Yang awalnya murni ingin mengetahui kabar anak bungsunya, berakhir timbul kelicikan karena tidak terima melihat keluarga Leonard hidup lebih baik tanpa dirinya.
...
...
...
Sinar matahari menembus jendela kamar bernuansa biru. Sang pemilik kamar mulai mengernyitkan dahinya. Mata yang terpejam perlahan terbuka. Sorot mata sayu Ersya memandang sekeliling kamar.
"Hmmm ...," gumam Ersya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Mulut yang selalu melengkung indah itu kini tertarik ke bawah. Tak ada semangat dalam dirinya. Mengingat jika ia harus masuk sekolah, membuatnya ingin menangis.
Ia tak ingin masuk sekolah. Ingin tidur saja mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sakit. Meskipun begitu Ersya tetap beranjak dari duduknya. Bersiap diri untuk berangkat sekolah.
Menetap di sini tampaknya bukan pilihan yang tepat. Ersya menginginkan sesuatu.Tak mempedulikan tubuhnya yang lemas, ia ingin segera mendapatkan keinginannya.
Setelah selesai dengan urusannya. Ersya bergabung di ruang makan. Melihat Rangga, Ersya masih merasa tertekan dengan sikapnya kemarin. Tak berani menyapa bahkan sekadar mengangkat pandangan. Takut disalahkan lagi.
Pun Rangga tak memberikan senyum sapaannya seperti hari biasa. Kemudian melihat wajah Vira, ekspresinya murung. Mira? Dia duduk santai menikmati sarapannya.
Mira tak mengenakan seragam. Apakah Mira bolos sekolah hanya karena kemarin? Padahal saat itu ia yang disalahkan. Aneh. Bocah aneh.
Karena tak ada yang mengajaknya berbincang, Ersya tetap diam. Bahkan mommynya sendiri tak ada niatan untuk mengajaknya berbaur.
Vira murung karena percakapan di telepon kemarin. Hingga tanpa sadar mengabaikan anaknya.
"Mommy, Daddy, habis ini kita ke mall, ya," pinta Mira dengan nada manja.
"Hm," balas Rangga singkat, fokusnya terbagi antara sarapan dan tabletnya. Sibuk dengan masalah perusahaan kemarin. Sedangkan Vira tak menyahut, ia sibuk mengaduk-aduk makanan.
"Mommy?" tanya Mira sekali lagi.
"Ah, iya." Vira tersadar dari lamunannya. Hampir melupakan ajakan Mira hari ini. Karena Mira masih sakit akibat dorongan dari Ersya. Rangga dan Vira berniat menghibur Mira. Rencana pergi berbelanja ke mall adalah keinginan Mira sendiri. Ya, Mira pintar dalam mengambil kesempatan.
Tatapan Vira beralih ke Ersya. "Ersya, belajar yang rajin saat sekolah nanti," nasihat Vira dibalas dengan senyum tipis Ersya.
Dari senyuman itu, terlihat mencurigakan.
...
...
...
Suasana kelas di pagi hari dengan sedikit obrolan dari beberapa murid. Nathan masuk ke kelas dengan ekspresi datar seperti biasanya. Suasana hatinya selalu buruk. Semenjak tidak ada Ersya, mansion terasa membosankan.
Sorot mata Nathan tertuju pada bangkunya dengan Ersya. Tidak ada Ersya. Belum berangkat?
Mengabaikan kebisingan di kelas, Nathan duduk di kursinya sembari memainkan handphone. Menunggu Ersya datang. Beberapa menit kemudian, tak ada tanda-tanda kehadiran Ersya. Bahkan bel masuk sudah berbunyi.
Perasaannya tidak enak. Ekspresinya semakin mengkeruh. Jarinya bergerak cepat mencari nomor Ersya. Kali pertama Nathan mengirim pesan ke nomor baru itu. Rentetan pesan-pesan telah ia kirim. Namun tak kunjung dibalas.
Teman-teman Ersya yang ingin bertanya pada Nathan mengenai Ersya pun takut sendiri. Untuk saat ini situasi sangat tidak mendukung untuk bertanya.
Aura dingin menguar dari diri Nathan. Rahangnya mengeras, menandakan jika Nathan sedang menahan amarah. Tak ada kabar dari Ersya, tidak masuk sekolah. Ke mana Ersya? Apakah sesuatu terjadi padanya?
Kilat tajam Nathan menyoroti kehadiran guru yang telah masuk ke kelas. Kemudian jari Nathan menggulir layar dengan cepat. Ia mengetuk grup keluarga yang selalu sepi.
"Ersya tidak masuk sekolah, handphonenya tidak bisa dihubungi."
Pesan itu dibaca dengan cepat oleh yang lain. Pertahanan mereka yang selama ini dipertahankan akhirnya runtuh hanya karena satu pesan itu.
.......