_
■■■
Mendengar itu Ruby langsung merapatkan kakinya.
Victor menaikkan salah satu alisnya dengan dahi berkerut, lalu meremas sisi pinggang Ruby. "Kamu yakin mau menutup kakimu rapat-rapat?" tanyanya dengan suara licik yang menggoda, membuat kaki Ruby melemas.
"Aku..." Napas Ruby semakin tersendat. "Aku malu." jujurnya dengan nada pelan, nyaris seperti mencicit dan menatap Victor dengan mata bulatnya.
Victor berdecih. "Kupikir urat malumu sudah putus selama ini."
Ruby mengerutkan keningnya dan bibir bawahnya sedikit mencebik, lalu menelan ludahnya. "L-lalu... apa... s-seperti ini?..." inisiatifnya sambil mulai melebarkan kedua kakinya.
Tatapan Victor kembali menggelap, tidak ada lagi senyuman tipis di sudut bibirnya, matanya semakin sayu dengan rahang dan bagian bawahnya yang masih mengeras.
"Good girl." bisiknya dengan napas berat dan suara serak. "Ya benar seperti itu." tambahnya.
Tangan Victor yang memegangi lehernya perlahan turun ke bawah, lalu memainkan tali gaun tidur satin yang dikenakan Ruby.
"Ruby... setiap gaun yang kuberikan padamu selalu cantik, termasuk gaun tidur yang dikenakanmu ini, bukan?"
Ruby perlahan menganggukkan kepalanya dengan napas yang juga berat dan jantung berdegup kencang, sementara Victor mulai menurunkan tali gaun yang dikenakannya.
"Tapi... untuk melihat kesempurnaan dan kecantikan yang lebih nyata, aku perlu menanggalkan setiap helaian kain yang menutupi tubuhmu."
Victor berhenti menurunkan gaunnya ketika melihat dua gundukan sempurna dan sintal di depannya, sementara pipi Ruby merona dengan tubuh kikuk, tidak tahu bagaimana dia harus bereaksi.
"Dan tubuhmu ini... akan lebih sempurna lagi jika dipenuhi oleh tandaku di sana..." tambahnya sambil menekan ujung ibu jari dan telunjuknya ke salah satu puncak kemerahan dari sepasang lekuk indah di depannya.
Ruby menggigit bawah bibirnya kuat-kuat dengan tatapan sayu, menahan sensasi asing yang menjalar di tubuhnya.
Melihat ekspresi Ruby di bawahnya, Victor benar-benar sudah tidak tahan lagi, dia meraup bibirnya secara kasar sambil menanggalkan gaun tidurnya.
"That needy expression of yours is really driving me crazy." Victor menggeram sambil meremas salah satu buah sintal di depannya.
Sebuah erangan tertahan lolos dari bibir Ruby dan tubuhnya bereaksi menginginkan lebih, tapi dia pun tengah memproses kalimat dalam bahasa asing yang diucapkan Victor.
"Tolong bicara dalam bahasa Jerman saja, aku tidak mengerti." Ruby terengah-engah.
Ruby berbicara setelah Victor melepaskan pautan bibir mereka, napasnya memburu hebat dengan bibir bawahnya tampak bengkak karena setiap hisapan Victor tadi sangat rakus, seolah seseorang yang kelaparan.
Ruby pun tengah berusaha menutupi tubuhnya yang sekarang hanya tertutupi celana dalam.
Victor menarik sudut bibirnya, pandangannya menyapu setiap inci tubuh Ruby, dan dia terhibur setiap kali istri kecilnya itu merengek pada hal-hal kecil, dan pada hal yang bukan harusnya dia pikirkan sekarang.
Victor menyeka bibir bawah Ruby yang berkilauan karena air liur mereka.
"Aku pernah mengatakan padamu kan, belajar bahasa asing itu penting?"
"Terutama bahasa Inggris? Jika kamu masih sulit memahaminya, maka mempraktikkannya dengan cara berkomunikasi bisa membuat bahasa Inggrismu meningkat."
"Dan sekarang waktu yang tepat untuk mempraktikannya." bisiknya dengan pandangan tak lepas dari Ruby.
Lekukan di bawah tubuh Ruby masih berdenyut liar dan terasa lembab, suara dan ekspresi wajah pria itu memiliki sihir atau apa, dia tidak tahan mendengar dan melihatnya, rasanya ingin melemparkan tubuhnya padanya jika dia tidak tahu malu.
Kemudian Victor menurunkan wajahnya, dia mulai menggigiti ceruk leher Ruby, lebih lambat dari gigitan sebelumnya.
Victor lebih dari siap mengajarkan Ruby bahasa asing itu, terutama membantunya menambah kosakata kotor yang harus dia ingat disela pergelutan yang akan mereka lakukan di ranjang.
Jemari Victor perlahan mengusap paha bagian dalam Ruby yang lebih sensitif, dan menekan panggulnya ketika perempuan itu menggeliat tak tertahankan karena dari respon alami tubuhnya.
Victor sedikit menarik sudut bibirnya melihat kebingungan dalam diri Ruby, dia yakin perempuan itu menginginkan hal yang sama dengannya, tapi masih tidak mengerti, seolah tak tahu kemana jalan yang harus dia ambil.
Dan sebagai seseorang yang senang memimpin apa pun, Victor sangat bersedia menuntunnya, apalagi menuntun Ruby dalam puncak kenikmatannya malam ini.
Ciuman Victor perlahan turun ke dadanya, membuat tubuh Ruby menggeliat dengan erangan yang tertahan.
"Hngghh, Victor.... t-this is ticklish." Ruby mencoba menghentikannya dan mencoba mengatakan balasan dalam bahasa asing yang sama ketika bibir dan lidah pria itu perlahan turun menyapu perutnya, yang membuatnya menggeliat geli.
Victor mendongakkan sedikit kepalanya di antara kedua paha Ruby yang terbuka. "Just take it, my little wife. I know you need my touch too." ucapnya lembut, lalu mengecup paha bagian dalamnya.
Ruby memalingkan wajahnya sambil menutupnya dengan salah satu lengannya, pipinya terasa panas saking merasa malunya, pertama kalinya tubuhnya terbuka di hadapan seorang pria.
"Victor?!" Ruby tiba-tiba memekik terkejut ketika Victor mulai menurunkan pakaian dalam terakhirnya itu dengan menggigit ujungnya, lalu melanjutkan menurunkannya dengan tangannya.
Ruby menutup setengah pahanya dengan ragu-ragu dan terus menelan ludahnya, wajahnya tampak terkejut dan panik selama menatap Victor ke bawah. "A-apa kamu seekor anjing, menggigit pakaian orang sembarangan." omelnya.
Victor terkekeh. "Menggemaskan." pujinya sambil meremas bagian bulat belakang tubuh Ruby yang sudah tak tertutupi helaian kain apa pun.
"Aku lebih senang disebut serigala malam ini." ucap Victor dengan seringai tipis.
"Tapi kalau kamu mau melihatku sebagai seekor anjing juga tidak masalah." tambahnya, lalu menjulurkan lidahnya dekat dengan area lipatan sensitif tubuh Ruby di bawah sana, hingga air liurnya sengaja jatuh membasahinya.
Mata Ruby terbelalak dengan napas yang semakin tersendat, mengapa tindakannya itu membuatnya semakin gelisah mendambakan sentuhan.
"Karena di mataku... setiap saat kamu adalah mangsaku." Victor mendongak sambil menambahkan ucapannya lagi dengan tatapan yang semakin sayu dan seringai tipis di bibirnya lenyap.
Pandangan mereka terkunci selama beberapa saat, kemudian tanpa terduga Victor menyambar lipatan bibir Ruby di bawah sana dengan rakus.
Ruby tersentak dengan tubuh membusung dan memekik sambil menarik rambut Victor kencang, berusaha menjauhkan wajahnya. "A-apa yang kamu lakukan, Victor..."
"Tidak, tolong... jangan..." Ruby terengah disela erangan keras dengan tubuh menggeliat.
"Itu k-kotor... hnghhh..." Ruby terengah.
Mendengar rengekan Ruby, Victor semakin menekan lidahnya masuk ke dalam lipatan di bawah sana, dan membawa jarinya masuk bersama, tubuh Ruby lagi-lagi terhentak akan sensasi kenikmatan yang belum pernah dia rasakan.
Rasanya seperti dibawa terbang ke permukaan atas yang begitu tinggi, tapi di saat yang sama dia sangat gelisah dan tak nyaman, membutuhkan sesuatu untuk lebih tenang akan melepaskan sensasi ini.
Victor menjauhkan wajahnya ketika Ruby hampir dipuncak.
Dia menyeringai dengan licik. "Aku sedang berusaha membuatmu bisa tidur dengan cara membuatmu lelah, ingat?" jawabnya.
Ruby terengah dengan mata setengah tertutup sejenak lalu dia menggertakkan giginya kesal sambil menatap Victor ke bawah. "Tapi kenapa harus dengan cara itu??"
"Karena itu cara yang terbaik dan kita sama-sama menginginkannya, jadi tidak masalah, bukan?"
"B-bukan itu maksudku... aku tidak puas, aku masih belum lelah, dan masih ingin disentuh, tapi kenapa kamu malah berhenti?"
"Arrghh, sial..." Victor menggeram dengan tatapan yang kembali menggelap mendengar rengekan akan kebutuhan istri kecilnya itu.
Saat itu juga Victor sudah tidak lagi memikirkan untuk sedikit lebih lembut dengan alasan tidak ingin membuat Ruby takut, rupanya perempuan itu jauh lebih sanggup untuk menerima apa pun yang akan dia berikan malam ini.
TBC
SELAMAT MAKAN VICTOR, TAPI RUBY YANG KENYAAANGGG HAHAHAHAA
PADAHAL RUBY CUMA MAU BISA TIDUR
TAPIII VICTOR IDENYA TERLALU LIAR😭 DIGODAIN TERUS JADINYA RUBY JATUH KE PERANGKAPNYA😭🤣
Aku berusaha buat gak terlalu eksplisit, takut banget loch🤣🤣
Dan kalau ada waktu aku mau revisi chapter lain🤣🤣
Terima kasih banyak yang udah selalu vote dan komen, aku terus lanjut di tengah kesibukan karena jadi semangat waktu baca komentar kalian🤧🤧
Kalau suka banget sama cerita ini jangan lupa buat kasih komentar di setiap kalimatnya yaa sayangku😚😚
NEXT????
Jangan lupa vote, komen, dan follow akun aku 👉🏻qinazxaa👈🏻 Makasih!><
Bagi yang selalu silent reader, sesusah itu kah buat sekadar vote😫😫🤏🏻