Dari Kos-kosan ke Hogwarts

By yuyumuyy

194 56 8

Jatuh dari Bintang Aria Ramadhani, mahasiswi semester akhir yang hidupnya berputar di sekitar rebahan, mie in... More

Bagian II: BOCAH MELAWAN BOCAH (TERNYATA)
Bagian III: HIDUP BARU, MULUT LAMA
Bagian IV: ANAK KUCING NAKAL DAN PENGINTAI KECIL
Bagian V: DIAGON ALLEY, TOPI BERBICARA, DAN AWAL SEGALANYA
Bagian VI: SAPU TERBANG, ANAK ANJING ANEH, DAN TSUNDERE YANG GAGAL TOTAL
Bagian VIII: PESTA, ANJING, DAN TOPENG YANG MULAI RETAK
Bagian VII: KORIDOR TERLARANG, FLUFFY, DAN MALAM YANG MENGUBAH SEGALANYA
Bagian IX: MUSIM PANAS YANG TERTUNDA DAN KAMAR RAHASIA YANG TERBUKA
Bagian X: NAMA SAYANG, BASILISK, DAN PELAJARAN TENTANG KEBENARAN
Bagian XI: DEMENTOR, HIPPOGRIFF, DAN PERANG IMUT-IMUTAN
Bagian XII: PETA PERAMPOK, KEBENARAN YANG TERSEMBUNYI, DAN MALAM BULAN PURNAMA
Bagian XIII: PERGELARAN TIGA PENYIHIR DAN BAYANG-BAYANG PERPISAHAN
Bagian XIV: LABIRIN, PIALA, DAN PENGORBANAN DI BAWAH BULAN
Bagian XV: TERBANGUN
Bagian XVI: PEMULIHAN, UMBRIDGE, DAN CINTA YANG MAKIN SULIT DISEMBUNYIKA
Bagian XVII: KELAMBU KEMATIAN DAN BAYANG-BAYANG YANG MAKIN DEKAT
Bagian XVIII: SANG PANGERAN, DAN HAL YANG HARUS ARIA SELESAIKAN SENDIRI
Bagian XIX: PANGERAN BERDARAH CAMPURAN DAN KESEIMBANGAN YANG HARUS DIJAGA
Bagian XX: PERTEMPURAN TERAKHIR (ENDDD)
Bagian XXI: YANG TERSISA (BONCHAPPP)
BAGIAN XXII: SATU NAMA, DUA DUNIA (SPECIAL PART)

Bagian I: HIDUP MAGER, REKENING KERING, TIBA-TIBA NYASAR

32 5 0
By yuyumuyy

Pukul dua pagi, dan seperti biasa, Aria Ramadhani—mahasiswi semester delapan yang katanya "tinggal skripsi doang"—masih terjaga di kosannya yang berantakan, ditemani cahaya layar HP yang menyilaukan dan semangkuk mie instan yang udah dingin dari setengah jam lalu.

"Bentar lagi, bentar lagi," gumamnya sambil scroll TikTok untuk yang kesekian kalinya, padahal besok—oh tunggu, hari ini—dia ada bimbingan jam sembilan pagi. Tapi siapa peduli soal jam bimbingan kalau ada video kucing lucu yang harus ditonton sampai habis?

Begitulah Aria. Kalau ada kontes "Mahasiswi Paling Mager se-Indonesia," dia mungkin gak menang juara satu—karena dia juga terlalu mager buat daftar lomba—tapi pasti masuk nominasi.

Hidupnya simpel, sebenarnya. Bangun siang (kalau gak ada kelas), makan seadanya, kerja paruh waktu sebagai admin online shop yang gajinya pas-pasan tapi at least halal, dan menghabiskan sisa waktu buat rebahan sambil mikirin "kapan ya jadi orang kaya tanpa kerja keras." Filosofi hidupnya cuma satu: santuy aja, toh besok masih ada hari esok.

Soal duit, jangan ditanya. Aria itu mata duitan tingkat akut. Bukan tipe yang serakah sampai nipu orang, tapi tipe yang kalau ada diskon dia rela jalan kaki dua kilo demi hemat ongkos. Tipe yang kalau temen ngajak makan di luar, pasti nanya dulu, "Ada promo gak? Pake GoPay aja ya, lagi cashback."

"Aria, lo tau gak sih, hidup lo tuh udah kayak sinetron receh," kata Kirana, sahabatnya sejak SMA, suatu hari di kantin kampus sambil ngeliatin Aria yang lagi ngitung struk belanjaan demi mastiin gak ada yang salah hitung.

"Receh emang gue, kan emang lagi nyari recehan buat bayar parkir," jawab Aria asal, gak nyadar pun maksud Kirana.

Kirana cuma geleng-geleng. "Bukan itu maksud gue, woi."

Selain Kirana, ada juga Bara, temen satu angkatan yang sering jadi korban kepolosan—atau lebih tepatnya kebodoan strategis—Aria. Bara ini tipe cowok baik hati yang selalu kena PHP soal traktiran.

"Ar, lo kan kemarin bilang mau traktir gue kalau tugas akhir lo kelar," protes Bara suatu siang, pas mereka nongkrong di warkop dekat kampus.

"Lah, tugas akhir gue kan belum kelar, Ba. Logikanya gimana sih," balas Aria santai sambil nyeruput es teh yang dia minta gratis tambahan karena "kemarin yang ini kurang manis."

"Tapi kan lo yang nyebut duluan—"

"Itu kan motivasi diri, Bara. Biar semangat. Bukan kontrak notaris." Aria nyengir lebar, dan Bara cuma bisa pasrah. Begitulah hari-hari mereka berlalu—penuh drama receh, obrolan gak penting, dan tawa yang gak ada habisnya.

Tapi di balik semua kemalasan dan sifat masa bodohnya, ada satu hal yang Aria sukai banget sejak kecil: dunia fantasi. Khususnya, Harry Potter.

Dia bukan cuma penggemar biasa. Aria itu, bisa dibilang, separuh nyawanya ada di dunia sihir itu. Novelnya udah dibaca berkali-kali sampai sampulnya lecek, filmnya udah ditonton entah berapa ratus kali, bahkan dia punya playlist khusus soundtrack Harry Potter yang diputer pas lagi mager di kos.

"Coba gue jadi penyihir," gumamnya suatu malam sambil mantengin ulang adegan pertarungan Harry vs Voldemort di laptop yang udah lemot. "Pasti hidup gue gak seburam ini."

Dia ngebayangin, kalau aja dia bisa masuk ke dunia itu, mungkin dia bisa jadi penyihir keren, atau minimal jadi murid Hogwarts yang anteng aja duduk di pojokan sambil makan permen Bertie Bott's tanpa perlu mikirin UKT atau tugas akhir.

Tapi ya, itu cuma fantasi. Toh, gak mungkin kan tiba-tiba ada portal yang muncul terus dia masuk ke dunia sihir beneran? Itu cuma ada di novel-novel fanfiction yang sering dia baca di sela-sela waktu kosong—iya, Aria juga gemar baca cerita-cerita transmigrasi receh semacam itu, sambil ngebatin, "Enak banget ya jadi tokoh utama, tiba-tiba pindah dunia, ketemu cowok-cowok ganteng."

Malam itu, setelah berjam-jam scroll TikTok dan nonton ulang film Harry Potter yang kesekian kalinya, mata Aria mulai berat. Dia menggeletakkan diri di kasur tanpa sempat matiin laptop, masih dengan suara latar film yang terus berputar pelan.

"Bentar... lima menit lagi gue tutup mata..." gumamnya, padahal lima menit itu biasanya berubah jadi lima jam.

Pagi itu, Aria terbangun dengan kepala pusing dan badan pegal-pegal, seperti biasa efek tidur sembarangan tanpa ganti posisi. Dia meraih HP-nya, mengecek jam—

"WOY JAM SEMBILAN KURANG SEPULUH!"

Bimbingan! Dia lupa total soal bimbingan skripsi pagi ini!

Dalam keadaan setengah sadar, Aria langsung lompat dari kasur, asal sambar baju yang ada di lantai (untungnya masih lumayan bersih), dan lari ke kamar mandi buat cuci muka kilat. Gak ada waktu buat mandi lengkap, yang penting wangi parfum semprot dua kali, beres.

"Dosen gue bisa marah beneran nih kalau gue telat lagi," gerutunya sambil buru-buru ngepak laptop dan draft skripsi yang masih berantakan revisinya.

Di tengah kepanikan, dia lupa sarapan, lupa bawa payung padahal langit terlihat agak mendung, dan—yang paling fatal—lupa kalau dompetnya ketinggalan di meja belajar.

"AH SIAL," teriaknya begitu nyadar pas udah di tengah jalan menuju kampus, motor matic-nya yang udah agak tua melaju kencang. "Mana gue udah jauh dari kos, gak mungkin balik lagi!"

Dengan modal nekat dan tekad "yang penting sampai dulu, urusan duit belakangan," Aria terus melaju. Jalanan pagi itu cukup ramai, motor-motor berseliweran, suara klakson di sana-sini, khas suasana kota yang sibuk.

Sialnya, di tengah jalan, langit yang tadinya cuma mendung biasa, mendadak berubah gelap drastis. Bukan gelap karena hujan akan turun, tapi gelap yang... aneh. Seperti ada sesuatu yang gak wajar terjadi.

"Lah kok jadi gini?" Aria menengadah sebentar, alis mengernyit bingung. Tapi dia gak punya waktu buat mikirin fenomena alam aneh—bimbingan lebih penting (atau begitu pikirnya).

Tepat saat dia melintasi perempatan, sebuah kilatan cahaya aneh—bukan kilat petir biasa, tapi cahaya yang berwarna keunguan dengan kilauan aneh seperti partikel berkilau—muncul tiba-tiba tepat di depannya.

"WOAAA APA ITU—"

Refleks, Aria membanting setir motornya untuk menghindar. Tapi terlambat. Cahaya itu seperti menelan seluruh pandangannya. Dunia di sekitarnya memutih, lalu menghitam, lalu berputar-putar seperti dia masuk ke dalam mesin cuci raksasa.

"INI APAAN—HALOOO—TOLONG—"

Dia gak bisa lagi merasakan motor di bawahnya. Gak bisa merasakan aspal jalanan. Yang ada cuma sensasi jatuh—jatuh yang sangat, sangat lama, seperti gravitasi memutuskan untuk bermain-main dengannya.

Aria menjerit sepanjang "jatuh" itu, walau dia gak yakin ada yang bisa denger jeritannya di tengah kekosongan absurd yang dia alami. Pikirannya campur aduk: Ini mimpi kan? Ini efek kecelakaan kan? Atau jangan-jangan gue beneran modar dan ini fase antara hidup-mati?

Tapi sebelum dia bisa menyimpulkan apa pun, dunia di sekitarnya mulai terbentuk lagi. Warna-warna muncul perlahan: hijau rerumputan, abu-abu batu, dan—

BRUKK!

Dia mendarat. Keras. Dengan posisi yang sama sekali gak elegan—muka duluan, lalu berguling beberapa kali sebelum akhirnya berhenti telentang, menatap langit yang... entah kenapa terasa berbeda. Lebih cerah, lebih luas, dengan awan yang bergerak aneh seperti punya kehidupan sendiri.

Aria diam beberapa detik, mencerna apa yang baru terjadi. Seluruh badannya sakit, tapi entah kenapa gak separah yang seharusnya terjadi kalau jatuh dari ketinggian sejauh itu.

"...Aduh," gumamnya pelan, mencoba duduk. "Ini kenapa rasanya kayak abis ikut roller coaster ekstrem tanpa sabuk pengaman..."

Dia menggosok matanya, mencoba fokus. Dan begitu pandangannya jelas, dia langsung membeku.

Di depannya, berdiri sebuah bangunan raksasa yang... familiar. Sangat familiar. Menara-menara tinggi menjulang, batu-batu tua dengan ukiran rumit, gerbang besi besar dengan lambang yang—

Tunggu.

Lambang itu.

Singa, ular, elang, dan luwak, mengelilingi huruf "H" besar di tengahnya.

"...Anjir," Aria bergumam, suaranya bergetar antara kaget dan gak percaya. "Ini... ini kan..."

Dia berdiri, masih sempoyongan, lalu berjalan beberapa langkah mendekati gerbang itu. Matanya menatap lurus ke arah bangunan megah yang menjulang di kejauhan, dengan menara-menara yang seakan menembus langit, jendela-jendela bercahaya meski di siang hari, dan suasana yang terasa begitu magis—begitu hidup.

"HOGWARTS?!"

Suaranya melengking, membuat beberapa burung di pepohonan dekat sana terbang kaget. Tapi Aria gak peduli. Dia berdiri di sana, mematung, sambil menatap bangunan yang selama ini hanya dia lihat di halaman buku dan layar film.

"Ini... ini pasti mimpi. Iya, ini mimpi. Gue ketiduran lagi pas bimbingan kan? Atau jangan-jangan gue kecelakaan terus koma dan ini cuma alam bawah sadar gue doang—"

Dia mulai mencubit pipinya sendiri, keras.

"AW—SAKIT WOI!"

Dia mencubit lagi, kali ini di lengan.

"ANJIR SAKIT BANGET INI MAH—"

Semakin dia mencubit, semakin nyata rasa sakitnya, dan semakin nyata pula kenyataan bahwa dia—Aria Ramadhani, mahasiswi mager mata duitan asal Indonesia—sekarang berdiri tepat di depan gerbang Hogwarts. Bukan replika, bukan taman bermain tematik, tapi Hogwarts yang asli, dengan segala kemegahan dan keanehannya.

Dia mulai tertawa. Bukan tawa bahagia, tapi tawa yang lebih ke arah "gue udah gila kayaknya."

"HAHAHAHA—oke, oke, ini lucu banget. Gue ketransmigrasi. GUE. KETRANSMIGRASI. Kayak di fanfic-fanfic yang gue baca!" Tawa Aria semakin menggila, sampai air mata mulai keluar di ujung matanya—entah karena syok, ketawa, atau campuran keduanya. "Tapi ini gak ada plot twist romantis dulu, gak ada cowok ganteng yang nolongin gue, ini mah gue jatoh kayak orang gak jelas terus ketawa sendirian di depan gerbang sekolah sihir kayak orang gila beneran!"

Dia berputar-putar sebentar, menatap sekeliling dengan campuran antara takjub dan panik. Padang rumput luas di sekitarnya, hutan gelap di kejauhan yang dia yakin adalah Forbidden Forest, dan danau besar yang airnya berkilau seperti permukaan kaca.

"Oke, oke, Aria, tenang. Tarik napas. Buang. Tarik lagi," dia mencoba menenangkan diri sendiri, walau suaranya masih sedikit panik. "Ini... ini beneran dunia Harry Potter. Berarti ada sihir. Berarti ada Voldemort. Berarti ada—"

Pikirannya berhenti sejenak.

"Berarti gue gak punya wand. Gue gak punya tongkat sihir. Gue gak ngerti mantra apa pun selain yang gue denger dari film. Gue gak punya rumah. Gue gak punya duit—WAIT, DUIT DI SINI PASTI BEDA DONG, ASTAGA INI GIMANA NASIB GUE—"

Panik mulai merayap lebih nyata, menggantikan rasa takjub awal. Aria mulai menyadari betapa absurd dan berbahayanya situasi yang dia hadapi. Dia bukan penyihir. Dia gak punya identitas di dunia ini. Dia gak punya tempat tinggal, gak punya sumber penghasilan, dan yang paling penting—dia gak tahu gimana caranya pulang.

"Oke, oke, mungkin ini cuma sementara. Mungkin nanti gue bangun lagi di kos. Mungkin—"

Tap. Tap. Tap.

Suara langkah kaki kecil mendekat dari arah gerbang, membuat Aria membeku di tempat. Dia menengok, dan matanya membulat begitu melihat siapa yang datang.

Seorang bocah laki-laki, mungkin berusia sebelas tahun, dengan rambut pirang platina yang disisir rapi, mengenakan jubah hitam dengan lencana hijau-perak yang sudah terpasang di dadanya—lambang Slytherin. Wajahnya yang masih kekanak-kanakan terlihat angkuh, dengan dagu terangkat sedikit, seakan dunia ini ada di bawah kakinya.

Bocah itu berhenti beberapa meter dari Aria, menatapnya dengan ekspresi campuran antara bingung dan jijik—seperti baru saja menemukan sesuatu yang aneh tersangkut di sepatu mahalnya.

"Siapa kau?" suaranya tegas, walau masih terdengar khas anak kecil yang belum pubertas, namun penuh dengan nada superior yang gak main-main. "Dan kenapa kau berpakaian aneh seperti itu? Kau bukan murid Hogwarts."

Aria membeku sempurna, matanya membulat menatap bocah di depannya. Rambut pirang itu, ekspresi sombong itu, nada bicara yang penuh percaya diri itu—

Anjir. Ini... ini Draco Malfoy kecil?!

"Eh— anu—" Aria gelagapan, gak tahu harus jawab apa. Pikirannya berputar cepat: Oke, oke, gue lagi ngomong sama Draco Malfoy versi bocah sebelas tahun. Tenang, Aria. TENANG.

Tapi sebelum dia bisa menjawab dengan kalimat yang masuk akal, bocah itu—Draco—mengernyitkan hidungnya, menatap Aria dari atas ke bawah dengan tatapan menilai yang sama sekali gak ramah.

"Kau berbau aneh," katanya ketus. "Dan pakaianmu... apa itu? Kenapa ada gambar kucing di bajumu? Memalukan."

Aria menunduk, baru sadar dia masih mengenakan kaos santai bergambar kucing lucu yang biasa dia pakai buat tidur—pantas saja terlihat sangat asing di dunia sihir formal seperti ini.

"Eh, ini... fashion modern, dek," jawab Aria asal, mencoba bersikap santai walau dalamnya panik luar biasa.

"'Dek'?" Draco mengulang kata itu dengan nada tersinggung, alisnya naik sebelah. "Aku bukan anak kecil yang bisa kau panggil seenaknya. Aku Draco Malfoy, dan kau seharusnya menghormatiku."

Oh demi Merlin, dia beneran narsis dari kecil, Aria membatin sambil menahan tawa yang aneh bercampur panik.

Sebelum percakapan absurd itu berlanjut lebih jauh, dan sebelum Aria sempat mencerna sepenuhnya bahwa hidupnya baru saja berubah drastis 180 derajat, satu hal sudah pasti: dia sekarang terdampar di dunia Harry Potter, berdiri di depan Hogwarts, berhadapan dengan bocah penyihir paling sombong yang pernah ada—dan entah kenapa, dia punya perasaan kuat bahwa ini baru permulaan dari kekacauan yang jauh, jauh lebih besar.

Continue Reading

You'll Also Like

Ready Or Not By R E D

Science Fiction

6.4K 1.1K 21
(READY SERIES #2) Hazel sudah bebas dari peran yang mengekangnya. Dia tidak lagi menjadi pemeran antagonis dan tidak perlu mengkhawatirkan masa depan...
DAMN Z [END] By frank.

Mystery / Thriller

17K 1.7K 34
Manusia yang terinfeksi mulai mengambil alih dunia, apa yang harus aku lakukan? _________________________________________ [SUDAH DIREVISI! SELAMAT ME...
48.2K 3.9K 23
Sigyn - sang dewi kelembutan dan kesetiaan - harus turut mati mengikuti suaminya, Loki, dalam hukuman yang diberikan oleh para dewa. Saat sekarat, Si...
29K 2.9K 23
Terjebak di dunia lain bersama sekelompok anak famous di kampus dalam dunia Dari film Lord of the Rings. Hidup Leia berubah drastis ketika Haldir, to...
Wattpad App - Unlock exclusive features