- SENYUM YANG TERTINGGAL
Langit sore berwarna abu angin membawa debu melewati jalan batu yang retak Orang-orang berdiri berbaris Tidak ada sorakan Tidak ada tangisan.
Hanya diam seolah mereka sedang menyaksikan sesuatu yang harus terjadi di tengah lapangan itu berdiri seorang pria Usianya mungkin belum mencapai 30
Namun matanya tidak berpaling di depannya berdiri seorang pria berambut merah.
Tangan terikat t,ubuh penuh luka ,Tetapi wajahnya...Tetap tenang
Anak itu menggenggam ujung bajunya senkdiri
Kenapa?
Pertanyaan itu muncul lagi Kenapa dia ada di sana?Kenapa orang-orang ini diam?Bukankah dia sudah menyelamatkan mereka?Bukankah dia membantu mereka?Bukankah dia-
"Jangan lihat."
Suara seseorang terdengar.
Anak itu tidak bergerak Ia ingin melihat
Ia harus melihat ,Karena kalau ia memalingkan mata...
Tidak akan ada yang mengingat pengorbanannya pria itu menoleh
Tatapannya bertemu dengan anak itu
Lalu...Ia tersenyum.²
Senyum yang tidak dipahami oleh bocah iyu
Tidak marah,Tidak benci,Tidak menyalahkan siapa pun.
Dan justru karena itu...
Bocah itu ingin berteriak ,Kenapa?
Kenapa kau tidak membenci mereka?
Tangannya bergetar.
Untuk sesaat sesuatu di tubuhnya bereaksi.
Udara di sekitarnya bergetar pelan.
Beberapa simbol sihir yang terpasang di,lapangan mulai retak Suara-suara muncul.
Bukan dari luar ,Dari dalam dirinya.
Mereka mengkhianatinya ,Bunuh mereka
Semua para penyihir Hancurkan-
"Diam."
Bocah itu berbisik Suara-suara itu berhenti
Ia sudah mengenal mereka.
Orang-orang yang tidak pernah ditemuinya,Wajah-wajah yang hidup di kepalanya.
Orang orang yang membenci penyihir mereka sama seperti dirinya, Namun saat ini...
Ia tidak ingin mendengar mereka.
Karena di depannya berdiri seseorang yang layak membenci penyihir dan seharusnya membenci mereka sampai mati ,sesuai dengan apa yang aku percayai selama ini.
Namun pria itu tersenyum lagi Lalu bibirnya bergerak pelan.
Bocah itu tidak bisa mendengar suaranya
Tetapi ia membaca gerak bibirnya.
"Hiduplah"
Mata bocah itu membesar ,detik berikutnya Dunia menjadi sunyi bagi anak itu ,walau disekitarnya orang-orang bersorai ria seolah itu adalah hal paling wajar untuk dilakukan
Namun senyum itu...masih tetap ada .
______________________
Sudah delapan tahun sejak hari itu ,delapan tahun sejak aku melihat seorang pria tersenyum di hadapan kematian,delapan tahun sejak aku melihat seseorang yang menyelamatkan begitu banyak orang...Lalu dibuang oleh orang orang yang ia lindungi.
Dulu aku tidak mengerti namun sekarang aku telah mengerti kenapa guru yang sudah kuanggap keluarga sendiri saat gurunya dikhianati oleh orang orang yang telah dia selamatkan dia tidak membenci mereka yang telah membunuhnya .
"Kenapa orang seperti dia bisa mati seperti itu?"
"Karena sejak awal dia sudah mengetahui jalan yang dipilihnya. Dia tahu di ujung sana tidak ada kebahagiaan, tidak ada keselamatan, tidak ada tangan yang akan menyambutnya. Yang menunggu hanyalah neraka yang perlahan menelan segalanya. Namun dia tetap melangkah. Tanpa ragu Tanpa penyesalan.
Dia terus berjalan sampai akhir... dan bahkan pada detik terakhirnya, dia masih bisa tersenyum. Seolah penderitaan yang mengiringi hidupnya bukanlah sesuatu yang layak dibenci.
Karena itulah aku masih hidup. Meski orang yang paling kucintai telah pergi, aku tidak bisa berhenti melangkah. Aku ingin menjadi seperti dirinya. Jika suatu hari takdir yang sama datang kepadaku, jika akhir yang menungguku hanyalah kehancuran, maka aku ingin menerimanya sambil tersenyum... seperti dirinya dahulu.
Dan alasan aku masih bertahan di dunia ini... bukan karena aku takut mati. Bukan karena aku masih memiliki harapan. Aku tetap hidup karena ada satu keinginan yang tidak bisa kuabaikan. Guruku ingin aku tetap hidup.
Jadi selama napas ini masih ada, selama tubuh ini masih mampu berdiri... aku akan terus berjalan. Bahkan jika jalan itu pada akhirnya menuntunku ke neraka yang sama dengannya
____________________
Di depanku berdiri Ibu Kota Asteria Jantung dari Kerajaan Sihir Barat.
Kota putih yang dibangun di atas danau buatan raksasa.
Menara-menara sihir berdiri tinggi seperti tombak yang menusuk langit.
Jembatan batu menghubungkan distrik demi distrik.
Lingkar sihir raksasa melayang di udara.
Kereta tanpa kuda bergerak sendiri Penyihir ,Pedagang,Kesatria,Petualang
Semua bercampur.
Di pusat kota berdiri satu bangunan yang bahkan bisa dilihat dari gerbang luar Akademi Sihir Asteria.
Tempat para penyihir terbaik dilahirkan tempat yang paling harus kujauhi dari dunia ini .
Aku terus berjalan sampai Langkah kakiku berhenti.
Suara keributan terdengar dari gang samping.
"Serahkan uangmu!"
"tidak akan uang , ini adalah biaya pendaftaran sekolah ku"
7 orang Preman Mengepung seseorang pemuda,
Usianya mungkin tidak jauh dariku Rambutnya berwarna hitam pekat yang sangat jarang ada dunia ini Pakaiannya sederhana dan rambut yang acak acakan .
Aku menghela napas. Kejadian seperti ini terjadi setiap lima menit di Ouroboros. Aku berniat membantunya dan pergi, sampai aku melihat dia mengambil batang besi dibawahnya dan berusaha melawan preman preman itu.
"Bocah bodoh! Kau mau melawan kami dengan rongsokan itu?!" salah satu preman maju sambil tertawa mengejek, disusul tawa renyah dari enam orang lainnya.
Preman itu mengayunkan tangannya ke udara. Sebuah lingkaran sihir kecil berwarna kuning menyala di sekitar pergelangan tangannya, mengalirkan energi panas yang seketika melapisi permukaan tinjunya dengan sihir api tingkat rendah. Udara di sekitarnya mendadak memanas.
Wusss!
Tinju berapi itu meluncur deras menuju wajah si pemuda berambut hitam. Namun, yang membuatku terkejut bukan serangan itu, melainkan respons dari pemuda di depannya.
Dia tidak merapal mantra. Tidak ada lingkaran sihir yang muncul untuk melindunginya. Pemuda itu justru merendahkan tubuhnya, mengayunkan batang besi berkarat di tangannya dengan dua tangan murni menggunakan tenaga fisik
TANGG!
Batang besi itu menghantam pergelangan tangan sang preman. Hantaman fisik murni yang keras itu berhasil membelokkan arah jangkauan tinju api, membuat si preman terhuyung ke samping.
Melihat pemandangan itu, aku seketika menajamkan inderaku. Aku mencoba membaca sisa distorsi aura atau aliran energi yang dilepaskan pemuda itu saat mengayunkan besi. Namun, hasilnya membuatku membeku di tempat.
Nihil. Sempurna hampa.
Di ibu kota yang dipenuhi pendar sihir abadi ini, di mana bahkan tikus got pun memiliki sisa denyut mana di dalam tubuh mereka, pemuda di depanku ini sepenuhnya kosong. Tidak ada energi sihir sekecil atom pun yang mengalir di dalam nadinya. Dia benar-benar hampa sepertiku.
Bagaimana mungkin ada orang lain yang terlahir tanpa sihir selain diriku?
"Brengsek! Dia tidak punya sihir tapi berani melawan!" Preman yang tangannya dipukul tadi berteriak murka. "Hajar dia bersama-sama! Patahkan kaki dan tangannya!"
Tiga preman lainnya langsung bergerak serentak. Dua di antaranya menghunus belati yang dilapisi sihir penguatan kecepatan, sementara yang ketiga bersiap melepaskan peluru angin dari jarak dekat.
Pemuda berambut hitam itu terengah-engah, menyadari bahwa batang besi ringkihnya tidak akan mampu menahan tiga serangan sihir yang datang bersamaan dari berbagai sudut. Dia terpojok, punggungnya membentur tembok gang yang dingin, sementara matanya menatap pada kilatan belati yang mengarah ke dadanya.
Aku sudah tidak bisa berdiam diri lagi ,sebelum belati itu menyentuh pemuda itu aku sudah berada ditengah antara pemuda itu dan para preman .aku menangkap pergelangan tangan preman itu sebelum belati itu menusuk dada pemuda itu.
-------------
Apakah ini adalah akhirku?) pemuda itu bertanya dalam hatinya. (Maafkan aku, Ellie... aku tidak bisa menepati janji kita. Seharusnya aku membawa pedang asliku bersamaku.)
Saat pemuda itu menutup mata, menunggu rasa sakit dari tebasan sihir yang akan mengakhiri hidupnya, detak demi detak jantungnya berlalu. Rasa sakit yang dia tunggu-tunggu ternyata tidak kunjung datang.
Perlahan, dia membuka mata. Di sanalah dia melihatku-seorang pria asing bertudung yang tiba-tiba muncul dari kegelapan dan menahan belati yang nyaris merenggut nyawanya. Pemuda berambut hitam itu melebarkan matanya, terkejut setengah mati dengan kedatanganku yang tak terduga.
Aku sedikit menoleh ke belakang, menatapnya dari balik bayangan tudung jubahnya.
"Apa kau tidak apa-apa?" tanya pria itu pada pemuda ku.
"I-iya, aku baik-baik saja," jawabku terbata-bata sambil mengangguk pelan. Dia hanya tersenyum tipis mendengar jawaban polosnya, lalu kembali memfokuskan pandanganku pada musuh di depan.
Ketujuh preman itu benar-benar terkejut dan murka dengan kedatangan pria misterius yang mengacaukan rencana mereka.
"Siapa kau yang berani mencampuri urusan kami?!" gertak preman yang tangannya sedang kucengkeram erat.
"Cuma seorang pengembara yang kebetulan lewat," katanya sambil terus mempertahankan senyum percaya dirinya.
Bersamaan dengan kalimat itu, aku memutar pergelangan tangan preman tersebut dengan satu sentakan fisik yang presisi.
KRETEK!
"Aghhhhhhhh!" Teriakannya bergaung memecah kesunyian gang sempit Asteria.
Melihat rekan mereka menjerit kesakitan hingga berlutut di tanah, enam preman lainnya langsung tersulut emosi. Mereka mengacungkan kembali senjata masing-masing, siap merapal mantra untuk membalas perbuatanku.
"Eitsss, tunggu sebentar. Aku ada pertanyaan untuk kalian semua," kataku sambil mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar mereka menahan diri.
Para preman itu seketika kebingungan. Mereka memiringkan kepala bersamaan, menatapku dengan tatapan tidak percaya.
"Haaaaah?!" seru mereka serempak.
Preman-preman itu saling berpandangan, benar-benar dibuat bingung oleh ketenangan pria itu yang tidak masuk akal.
"Tanya apa? Cepat bicara sebelum lidahmu kami potong!" gertak sang bos preman yang mulai habis kesabarannya.
pria itu memiringkan kepalaku sedikit, membiarkan desau angin malam Asteria yang dingin berhembus di antara mereka. "Kalian tahu tidak... gajah apa yang paling baik hati dan suka menolong?"
Keheningan yang sangat canggung mendadak menyelimuti gang tersebut. Atmosfer intimidasi yang mereka bangun dengan susah payah runtuh begitu saja. Enam preman itu mengerutkan kening dalam-dalam. Beberapa dari mereka bahkan refleks menurunkan senjata karena otak mereka terpaksa berpikir keras, mencari jawaban dari sebuah teka-teki yang sama sekali tidak nyambung dengan situasi hidup-mati ini.
"Apa?! Gajah apa?! Jangan main-main dengan kami, keparat!" Bos preman membentak, wajahnya memerah karena merasa dipermainkan.
Aku menarik sudut bibirku tipis, mengulas sebuah senyuman hambar yang dipaksakan dari balik bayangan tudung jubah hitamku.
"Jawabannya... Gajah-t lah hatimu, jangan bimbang," ucapnya dengan nada main main.
Catatan: Plesetan dari "Gajah" dan "Gajajah/Gajahat" - Gajah tahu hatimu).
"..."
Gang buntu itu mendadak sunyi senyap selama beberapa detik. Jokes bapak-bapak yang luar biasa garing itu sukses membuat mental ketujuh preman tersebut membeku. aku yang berada dibelakang pria itu bahkan sampai melongo, tidak tahu harus merespons apa di tengah situasi sekritis ini.
---------------
Sebelum keheningan canggung itu pecah sepenuhnya oleh amarah mereka, aku bergerak.
Memanfaatkan detik-detik berharga saat para preman itu masih melongo kebingungan karena lelucon garingku, aku melesat maju Jarak di antara kami terkikis dalam sekejap mata. Tangan kananku melesat dari balik jubah, mencengkeram kuat wajah preman terdekat sebelum dia sempat mengangkat senjatanya.
Jari-jariku mengunci rahangnya dengan cengkeraman yang masif, lalu dengan satu sentakan fisik yang brutal, aku menghempaskan seluruh beban tubuhnya ke tanah.
BLAAM!
Ubin batu di bawah kami retak, berdentang keras bersamaan dengan suara tengkorak yang berbenturan dengan beton. Preman itu langsung tidak sadarkan diri dengan tubuh mengejang, menyisakan enam orang lainnya yang seketika tersentak dari lamunan mereka.
"B-brengsek! Hajar dia sampai mati!" teriak sang bos dari para preman yang panik melihat satu rekannya tumbang dalam sekejap.
Dua orang preman dari sisi kiri dan kanan langsung melompat maju dengan beringas, Preman di sebelah kiri mengayunkan belati belapis sihir penguatan tajam yang mendesis di udara, sementara preman di sebelah kanan melayangkan tendangan lurus yang mengincar dadaku.
Fokus mereka sudah buyar akibat rasa kesal dan terkejut di mataku, pergerakan mereka yang emosional terasa lambat.
Aku merendahkan poros tubuhku, membiarkan sabetan belati sihir lewat beberapa sentimeter di atas tudung jubahku. Di saat yang sama, tangan kiri bergerak secepat kilat menangkap pergelangan kaki preman yang sedang menendang. Tanpa belas kasihan, aku memutar kaki itu ke arah berlawanan hingga terdengar bunyi krak yang mengerikan dari sendi lututnya.
"AGHHH!"
Belum sempat jeritannya selesai, tangan kananku melesat maju, menghantam rahang preman yang memegang belati dengan sebuah pukulan lurus murni yang amat keras. Pukulan tanpa sihir itu mengalirkan daya hantam kinetik yang begitu padat, membuat tulang rusuknya berderit patah.
Tubuhnya terlempar tiga meter ke belakang, menabrak tumpukan tong kayu hingga hancur berantakan sebelum ambruk tak berkutik.
Melihat tiga rekan mereka dihabisi dalam hitungan detik dengan cara yang sangat brutal, sisa preman yang ada mulai gemetar.
Dua orang di antaranya nekat maju bersamaan, mengayunkan pedang berlapis sihir api yang menyala kemerahan, mengincar kepalaku dari dua arah berlawanan.
Aku tidak mundur selangkah pun. Mengandalkan presisi fisik yang telah ditempa selama belasan tahun, aku melangkah maju satu langkah tepat di saat ayunan pedang mereka mengayun. Langkah tak terduga ini memotong jarak jangkauan senjata mereka.
Kedua tanganku bergerak serentak. Tangan kiriku menepis pergelangan tangan musuh sebelah kiri, sementara tangan kananku mencengkeram langsung pergelangan tangan musuh sebelah kanan sebelum ayunan tongkat mereka mencapai titik puncak momentumnya.
KRETEK!
Aku meremukkan pergelangan tangan preman di sebelah kanan dengan kekuatan cengkeraman murniku yang dingin. Pedangnya terjatuh, dan sebelum sempat menyentuh air di tanah, aku menangkap gagangnya dengan tangan kiri, lalu memutarnya ke belakang untuk menghantam rahang preman di sebelah kiri hingga giginya rontok dan tubuhnya berputar di udara sebelum jatuh berdebam.
Bos preman yang tersisa tidak langsung kabur. Rasa takut di dalam diri mereka mendadak menguap, berubah menjadi keputusasaan yang nekat dan berbahaya.
Si bos preman menarik sebuah botol ramuan kecil berlambang segel tengkorak retak dari balik sabuknya-ramuan peningkat kekuatan terlarang yang biasa digunakan oleh para pengikut fanatik Penyihir Hitam. Ramuan yang seharusnya sudah dibasmi habis oleh Iblis dari Timur beberapa tahun lalu. Rupanya, botol di tangannya adalah salah satu sisa pusaka hitam yang gagal dimusnahkan.
Tanpa ragu, dia meminum cairan pekat itu hingga kering, lalu meraung gila. Pembuluh darah di leher dan wajahnya menghitam seketika seperti akar pohon yang membusuk, mengalirkan energi pekat yang melipatgandakan kekuatan fisiknya jauh melampaui batas kemanusiaan.
"Mati kau, keparat!" raungnya, suaranya berubah berat dan bergetar seperti monster dari lantai terbawah labirin.
Dia melesat maju dengan kecepatan abnormal, membelah rintik hujan. Sebuah pukulan lurus yang dilapisi aura hitam pekat mengarah tepat ke wajahku. Aku refleks mengangkat kedua tanganku, membentuk posisi silang untuk menahan hantaman itu secara frontal.
BOOM!
Daya hantam dari ramuan hitam itu terlalu masif untuk diredam manusia biasa. Benturan keras itu mematahkan pertahananku secara paksa. Tubuhku terlempar hebat ke belakang, melayang di udara sebelum akhirnya menghantam tembok beton gang dengan sangat keras.
BRAAAK!
Tembok beton itu retak parah, menyebarkan debu-debu kasar. Aku merosot ke tanah yang basah, memuntahkan gumpalan darah segar yang seketika membasahi bagian dalam tudung jubahku. Pandanganku sempat memburuk dan kabur selama beberapa detik. Dadaku terasa luar biasa sesak, seolah baru saja dihantam oleh palu godam raksasa. Efek korosif dari sihir hitam itu benar-benar berniat menghancurkan organ dalamku dari dalam.
"Hahaha! Hanya segini kemampuanmu, kecoa?!" Bos preman itu tertawa gila, tawanya menggema di sela dinding gang.
Dia berjalan mendekat dengan langkah berat. Kuku-kukunya memanjang menjadi cakar hitam yang tajam, siap merobek leherku yang masih terduduk lemas tak berdaya.
Di saat kritis itulah, sebuah pergerakan tak terduga terjadi di sudut gang. Pemuda berambut hitam yang sejak tadi hanya menonton dengan tubuh bergetar mendadak bergerak. Mengabaikan rasa takut yang nyaris melumpuhkan lututnya, dia melompat ke arah salah satu preman yang sudah pingsan, lalu merebut sebilah pedang besi berornamentasi tajam yang tergeletak di atas ubin.
"Jangan sentuh dia, bajingan!" teriak pemuda itu dengan lantang.
Dengan dua tangan yang menggenggam erat hulu pedang rampasan tersebut, dia melesat maju dari arah blind spot sang bos preman, mengayunkan bilah logam itu dalam tebasan diagonal yang bertenaga penuh.
SLAASSH!
Bilah pedang itu berhasil menggores dalam lengan sang bos, memutuskan fokus aliran sihir hitam yang sedang berkumpul di ujung cakarnya. Bos preman itu menjerit murka. Dia berbalik dengan cepat dan melayangkan tendangan samping yang luar biasa keras. Pemuda itu refleks mengangkat bilah pedangnya secara vertikal untuk menahan hantaman kaki tersebut.
TANGG!
Benturan itu menghasilkan suara dentingan logam yang nyaring. Meskipun berhasil menahannya, daya dorong yang masif membuat tubuh si pemuda terseret beberapa meter ke belakang di atas ubin yang licin.
Namun, pengalihan perhatian yang dia lakukan sudah lebih dari cukup bagi tubuhku untuk bangkit kembali.
"Hei," bisikku dari balik kegelapan tudung jubah.
Sebelum bos preman itu sempat mengejar dan menghabisi si pemuda, aku sudah melesat maju, memotong jarak dan mengejar momentum dengan seluruh sisa tenaga fisik murniku. Pertarungan brutal yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Aku menerjang dari belakang, melompat, dan langsung mengunci leher bos besar itu dengan lengan kiri asliku. Di saat yang sama, tangan kananku mencengkeram rahangnya dengan kuat, menarik kepalanya paksa ke belakang untuk mematahkan fokusnya. Bos preman itu melolong murka. Dia melayangkan pukulan-pukulan buta ke arah belakang yang berulang kali menghantam rusukku. Aku mengeratkan gigi, menahan rasa sakit yang luar biasa itu, dan memperkencang kuncianku hingga terdengar bunyi sendi lehernya yang tertekan hebat.
"Sekarang! Tebas dia!" teriakku pada pemuda berambut hitam.
Aku menahan penjahat itu dengan kedua tanganku sembari memperhatikan pemuda itu bangkit dari ubin yang basah. Di detik itu, ada sesuatu yang berubah drastis dari tatapannya. Rasa takut yang tadi mendominasi matanya lenyap tanpa bekas, digantikan oleh fokus sedingin es yang terasa amat asing untuk pemuda seukurannya.
Dia menarik napas dalam-dalam, memantapkan posisi kedua kakinya di atas tanah yang licin. Cara dia memegang hulu pedang besi rampasan itu berubah total. Dia tidak lagi menggenggamnya dengan amatiran seperti saat memegang batang besi tadi. Kedua tangannya mengunci gagang pedang dengan presisi yang mutlak. Ujung bilahnya diturunkan sedikit ke bawah, sejajar dengan pinggang-sebuah kuda-kuda yang sangat spesifik, mematikan, dan efisien.
Kuda-kuda itu... Jantungku berdesir aneh saat melihatnya. Otakku mendadak mengalami deja vu yang mengerikan.
"Sialan kau, bocah!" Bos preman itu meraung gila. Dia mengabaikan kuncianku sejenak, menggunakan sisa tenaga sihir hitamnya untuk menggerakkan kedua tangannya, mencoba menerjang si pemuda dengan cakar hitam yang siap merobek dada anak itu.
Namun, pemuda itu tidak mundur satu sentimeter pun. Dia justru melangkah maju satu depa tepat saat cakar hitam itu menyambar ke arahnya. Gerakannya sangat tenang, seolah-olah waktu di sekitar gang buntu ini melambat secara ekstrem.
"Teknik Pertama Aliran Langit: Pembelah Fajar."
Pemuda itu menggumamkan nama teknik yang dia pelajari dari ayahnya. Bersamaan dengan kata terakhir yang terucap, dia mengayunkan pedangnya dari bawah ke atas dalam satu gerakan melingkar yang sangat cepat, presisi, dan murni berlandaskan mekanika tubuh yang sempurna, tanpa sihir sedikit pun.
SLAASSH!
Bilah pedang itu memotong jalur serangan dengan akurasi yang menakutkan. Dalam satu kedipan mata, bilah logam itu memutus tangan kiri sang bos hingga tebasannya melesat ke udara. Belum sempat darah hitamnya menyembur, pemuda itu memutar poros tubuhnya secara horizontal, memanfaatkan momentum putaran untuk menebas balik ke arah berlawanan, dan seketika memutus tangan kanan makhluk itu dari sikunya.
SLAASSH!
Dua lengan monster itu jatuh berdebam ke atas tanah, menyisakan tubuh raksasa tanpa tangan yang kini melolong kesakitan di bawah hujan Asteria.
Di belakangnya, aku membeku dengan mata membelalak lebar di balik jubahku. Seluruh tubuhku meremang. Aku benar-benar syok. Teknik fisik murni yang baru saja dia tunjukkan... distribusi berat tubuh, pemotongan sudut mekanika, dan eksekusi tanpa celah itu-itu bukan sekadar teknik bela diri biasa. Itu adalah replika sempurna dari esensi gerakan orang itu.
----------------------
~setelah pertarungan
Bos preman itu akhirnya ambruk sepenuhnya ke atas ubin basah, pingsan atau mungkin mati akibat syok dari kehilangan kedua tangannya dan habisnya efek ramuan hitam. Jeritan gila yang tadi memenuhi gang buntu itu kini lenyap, menyisakan deru napas kami yang memburu bersahutan dengan bunyi rintik hujan.
Pemuda berambut hitam itu melepaskan pegangannya dari hulu pedang. Senjata rampasan itu jatuh berdenting di atas batu. Kakinya gemetar pelan, sebelum akhirnya dia terduduk lemas sembari memegangi dadanya. Tubuhnya sebenarnya kokoh dan telah ditempa latihan berat selama bertahun-tahun, namun mengeksekusi teknik sekompleks itu di pertarungan hidup-mati yang sesungguhnya-untuk pertama kali tanpa adanya pengalaman bertempur yang matang-jelas menguras habis fokus dan energinya.
Aku menghela napas panjang, menstabilkan kembali organ dalamku yang sempat terguncang akibat hantaman tadi. Perlahan, aku melangkah mendekatinya. Tudung jubahku yang sempat tersingkap kembali kurapikan, menyembunyikan wajahku di balik bayangan yang pekat aku mengulurkan tanganku ke hadapannya.
"Kau tidak apa-apa?" tanyaku kepadanya
Pemuda itu mendongak. Dia menatap tanganku sejenak, lalu meraihnya untuk bangkit berdiri. Kurasakan telapak tangannya yang dipenuhi kapalan tebal-bukti dari latihan keras yang konstan, meski gerakannya tadi masih menyisakan kecanggungan sesosok amatir yang minim pengalaman lapangan.
"I-iya. Hanya sedikit syok," jawabnya sambil menyeka sisa keringat dan cipratan darah di dahinya. Dia tersenyum tipis, sebuah senyuman polos yang kontras dengan kebrutalan yang baru saja dia tunjukkan.
"Terima kasih sudah menahan penjahay itu tadi. Kalau tidak ada kau, tebasanku pasti meleset."
"Aku hanya mengembalikan fokus mereka yang buyar karena teka-tekiku," balasku dengan sedikit tersenyum, membuat pemuda itu terkekeh pelan meski tubuhnya masih kesakitan. Aku menarik kembali tanganku ke dalam jubah.
"Siapa namamu?"
"Ah, maaf, aku lupa sopan santun," dia menepuk dahinya sendiri. "Namaku Regis seraphina . Aku datang ke Ibu Kota Asteria untuk mendaftar ke Akademi Sihir, walau sebenarnya aku... yah, aku tidak bisa menggunakan sihir "
Regis. Nama yang sederhana. Namun bukan namanya yang mengusik ketenanganku, melainkan asal-usul dari gerakan mematikan yang dia peragakan tadi.
"Regis," aku memanggilnya dengan nada lebih berat, membuat senyum di wajahnya perlahan memudar karena merasakan perubahan atmosfer di sekelilingku. "Kuda-kuda dan tebasanmu tadi. Kau bilang itu adalah salah satu dari tujuh teknik yang diajarkan kepadamu ?siapa yang mengajarimu"?
Regis , tampak sedikit bingung dengan arah pertanyaanku. "Ayahku yang mengajariku sejak aku kecil. Dia bilang, jika suatu saat aku terpojok di dunia yang kejam ini, gunakan mekanika tubuh untuk melampaui sihir. Itu disebut Aliran Langit. Kenapa? Apa ada yang salah dengan teknik itu?"
Aku tidak langsung menjawab. Di balik tudung jubahku, mataku menatap tajam ke arah postur tubuh Regis, cara dia memosisikan kakinya bahkan saat berdiri santai, dan struktur ototnya. Segala hal tentang dirinya-pola pergerakannya, ketahanan fisiknya yang tidak masuk akal untuk remaja tanpa sihir, hingga nama Aliran Langit yang dia sebutkan-membuat kepingan teka-teki di kepalaku jatuh ke tempat yang tepat aliran Langit.
Duniaku mendadak terasa berputar. Syok yang kurasakan kali ini jauh lebih besar daripada saat aku dihantam oleh pukulam sang bos preman.
Pemuda di depanku ini bukan sekadar orang asing yang kebetulan lewat. Pola serangan Pembelah Fajar yang meremukkan dua lengan monster tadi adalah cap mutlak dari garis keturunan yang paling ditakuti dalam sejarah kelam perang fisik murni.
Dia adalah putra dari orang itu.
Sosok legendaris yang seharusnya menjadi pemegang puncak ilmu pedang( walau tak sehebat guruku) , yang dirumorkan telah menghilang atau binasa dalam tragedi besar belasan tahun lalu. Ternyata, darah dari sang legenda ada di sini, berdiri di hadapanku dengan pakaian sederhana, rambut acak-acakan, dan memegang biaya pendaftaran sekolah yang nyaris dirampas penjahat kelas 3 .
"Hei? Kau baik-baik saja?" Regis melambaikan tangannya di depan wajahku, membuyarkan badai pikiran yang berkecamuk di dalam otaku.
"Kau melamun sejak tadi. Apa kau terluka parah karena hantaman tembok itu?"
Aku menarik napas dalam-dalam, meredakan debaran jantungku yang berpacu liar. Kutatap pemuda berambut hitam itu sekali lagi. Ada rasa takjub, ngeri, sekaligus ironi yang mendalam di dalam dadaku. Di kota yang dipenuhi para penyihir sombong ini, takdir justru mempertemukan aku dengan putra dari orang itu.
"Tidak, aku baik-baik saja," kataku perlahan, suaraku kembali terdengar .
"Regis... sebaiknya kita segera pergi dari sini sebelum penjaga kota datang karena keributan ini."
Aku berbalik, membiarkan jubah hitamku berkibar membelah kegelapan gang. Regis bergegas memungut kantong uang pendaftarannya yang sempat terjatuh, lalu berlari mengikutiku dari belakang.
-------------------
Astrea berdiri membeku di atas tribun. Udara di parunya seolah terkunci mati. Dari tempatnya berpijak, ia baru saja menyaksikan sebuah kemustahilan yang meremukkan nalar: Instruktur Kyle, seorang penyihir tingkat tinggi yang namanya diagungkan di akademi, kini terkapar bagai rongsokan tak berharga. Pria yang menghajarnya adalah Jilu-pemuda yang selama ini mereka rundung dan mereka labeli sebagai sampah tanpa bakat.
Jilu berdiri tegak di tengah kehancuran. Dari tubuhnya, menguar sejenis aura hitam yang pekat dan hampa. Aura itu tidak memancarkan mana, melainkan sebuah anomali murni yang melahap dan menolak segala bentuk sisa mantra di udara hingga stadion itu mendadak kehilangan pasokan sihir.
Jilu sengaja tidak membunuh Kyle. Ia membiarkan pria angkuh itu tetap bernapas, namun menghancurkan seluruh harga diri dan fisiknya hingga tak tersisa. Setelah memastikan lawannya tak lagi mampu merangkak, Jilu membalikkan tubuh. Langkah kakinya terdengar berat saat ia berjalan menghampiri Regis yang masih terduduk lemas, terengah-engah di tengah retakan ubin arena.
Dari kejauhan, Astrea dapat menangkap sorot mata Regis. Tidak ada binar kebanggaan atau rasa lega di sana. Yang ada hanyalah sebuah gejolak batin yang hebat, bercampur dengan kebingungan yang teramat sangat.
Kenapa, Jilu? batin Regis bergemuruh, menatap nanar punggung pria yang selama ini dia anggap seperti kakak baginya.
Di dalam kepala Regis, ribuan pertanyaan mendadak berkejaran tanpa ujung. Sejak sihirnya sendiri bangkit secara tidak sengaja setelah ujian beberapa hari lalu, atmosfer di antara mereka berubah total. Jilu tidak lagi sama.
Sebenarnya... untuk apa kau masuk ke akademi ini bersamaku? Kenapa tepat setelah sihirku bangkit, cara pandangmu berubah? Kenap tatapanmu seolah-olah... kau sedang bersiap untuk melangkah pergi dan meninggalkanku sendirian?
Regis benar-benar buta akan segalanya. Dia tidak tahu rencana apa yang tersimpan di balik kepala pria di depannya, tidak tahu alasan emosional di balik setiap tindakan protektifnya, dan tidak tahu mengapa Jilu mendadak membangun dinding pemisah yang begitu tebal sejak kekuatan sihirnya muncul. Baginya, Jilu adalah kabut hitam yang bergerak di dalam bayangan. Dan semua rahasia itu, benar-benar belum saatnya untuk dia pahami.
"Kau..." Regis akhirnya bersuara. Suaranya yang serak memecah keheningan stadion yang begitu mencekam. "Siapa kau sebenarnya? Dan apa yang sebenarnya kau cari di tempat ini?"
Langkah kaki Jilu terhenti. Ia berdiri tepat beberapadi hadapan Regis.
Perlahan, Jilu menoleh. Ia menatap pemuda berambut hitam itu sejenak dengan pandangan yang sulit diartikan. Kemudian, ia memalingkan wajahnya, mengangkat dagunya tinggi-tinggi, dan menyapu pandangan ke arah ribuan pasang mata yang menatapnya dengan horor dari atas tribun.
Jilu menarik napas dalam-dalam, menghela napas pendek yang sarat akan beban masa lalu, lalu bersiap melepaskan sebuah kebenaran yang akan meruntuhkan fondasi Akademi Asteria.
"Aku memiliki beberapa nama yang disematkan oleh dunia ke atas pundakku," teriaknya. Suaranya tidak lagi tenang, melainkan menggelegar hebat, bergetar memekakkan telinga hingga meretakkan keheningan total di seluruh stadion.
"Aku adalah Iblis dari Timur! Pembantai Tujuh Penyihir Agung! Akulah manusia yang dikutuk oleh seluruh dunia, murid dari sang penjahat perang, dan pengguna anti-sihir ke-32..."
Jilu menjeda kalimatnya, membiarkan angin malam menerbangkan jubah hitamnya yang dekil, sebelum meneriakkan namanya dengan sisa seluruh energinya.
"Jilu! Jilu Emiyas!"
Gema nama legendaris itu melesat mencabik malam, meninggalkan keheningan yang teramat mencekam, seolah-olah seluruh dunia baru saja berhenti berputar karena ngeri.
Gema nama "Jilu Emiyas" belum sepenuhnya lenyap dari dinding-dinding batu stadion ketika atmosfer di seluruh Akademi Asteria mendadak mati kutu. Keheningan horor itu hanya bertahan sedetik sebelum akhirnya sirine darurat sihir melengking tinggi, membelah malam dengan suara pekikan yang masif.
"Tangkap dia! Eksekusi mati di tempat! Dia adalah ancaman bagi seluruh peradaban!" Jeritan histeris dari tribun langsung menyulut lantai arena menjadi neraka.
Gerbang besi di bawah tribun jebol seketika. Bukan lagi pasukan penjaga biasa, melainkan ratusan penyihir militer tingkat tinggi dan faksi Magic Swordsman-para ksatria pedang sihir bertopeng besi-merangsek masuk bagaikan gelombang pasang perak. Mereka datang dalam jumlah ratusan, mengepung dari segala penjuru dengan formasi tempur berskala perang yang rapat dan mematikan.
"Mundur, Regis. Jauh-jauh dari sini," perintah Jilu datar.
Jilu tidak menunggu jawaban atau reaksi dari pemuda di sampingnya. Lengan mekanis kanannya bergerak dengan bunyi klik-klik hidrolik yang dingin. Jari-jari besinya mencengkeram ujung perban tebal yang melilit lengan kirinya, lalu menyentaknya paksa dalam satu tarikan brutal.
SREEEK!
Kain perban berdarah itu terlepas, melayang ditiup angin malam. Detik ketika kulit asli tangan kirinya terekspos ke udara, Astrea yang menonton dari tribun tertinggi bisa merasakan jantungnya mencelos. Kulit itu tidak memancarkan energi apa pun, melainkan tampak seperti lubang hitam visual yang menolak dan menghapus cahaya di sekelilingnya.
PRANK! PRANK!
Rantai-rantai sihir pengunci berwarna emas yang sempat merambat di kaki Jilu seketika retak dan hancur menjadi abu kelabu, murni karena bersentuhan dengan hawa tubuh aslinya. Tubuh pria itu sendiri adalah anti-sihir berjalan.
"Serang! Jangan biarkan dia melangkah!"
Tiga puluh Magic Swordsman di barisan terdepan melesat serentak. Pedang-pedang raksasa mereka menyala dengan kobaran api magis dan elemen petir yang menderu. Mereka mengayunkan senjata dari berbagai sudut, mengunci mati semua jalur pelarian Jilu.
Namun, Jilu memiliki kekuatan fisik mentah yang luar biasa keras hasil tempaan ekstrem selama bertahun-tahun. Tanpa ragu, ia justru maju menerjang badai bilah tajam itu. Tangan kirinya bergerak secepat kilat, mencengkeram bilah pedang berapi milik ksatria pertama dengan telapak tangan kosong.
WUSH!
Kobaran api di pedang itu langsung padam total, terhapus saat menyentuh kulit Jilu. Sebelum ksatria itu sempat memproses rasa syoknya, Jilu menarik pedang tersebut dengan tenaga raksasa, menyeret tubuh sang ksatria maju, lalu menghantamkan siku kanan prostetiknya tepat ke topeng besi lawan.
KRAAAK!
Besi tebal itu amblas ke dalam, menghancurkan struktur wajah di baliknya. Darah segar menyembur ke udara. Jilu merebut pedang yang kini telah kehilangan kekuatan magisnya tersebut, menyalurkan hawa anti-sihir dari tangannya ke dalam bilah baja itu hingga warnanya berubah menjadi hitam pekat, lalu memutarnya dalam satu tebasan horizontal yang masif.
SLAASSH!
Tiga ksatria di sekelilingnya terbebat tebasan brutal, baju zirah perak mereka robek bersama jaringan daging di dalamnya.
Di saat yang sama, dari barisan belakang, lima puluh penyihir tingkat tinggi merapalkan mantra penghancur secara bersamaan. Badai api dan tombak petir raksasa menyatu, mengguyur posisi Jilu tanpa ampun.
Jilu menghentakkan kakinya ke tanah, memicu dorongan pegas mekanis pada kaki prostetiknya hingga tubuhnya melesat vertikal menembus badai elemen tersebut. Dari pori-pori kulitnya, emosi tergelap memanifestasikan zat hitam pekat yang gila, memadat menjadi sepasang sayap hitam kasar di punggungnya.
WUSH!
Sayap itu mengibas, menciptakan gelombang hampa udara yang pekat. Begitu badai sihir itu menghantam manifestasinya, seluruh energi magis itu terhapus dari realitas tanpa sempat meledak, menyisakan Jilu yang menukik turun dengan kecepatan penuh ke tengah-tengah kerumunan penyihir.
Ia mendarat dengan hantaman lutut yang memecahkan ubin batu arena. Tangan kanannya menarik pistol hitam laras panjang dari balik jubah.
BANG! BANG! BANG! BANG!
Dentuman mesiu murni mengguncang stadion. Peluru timah panas yang tak terdeteksi oleh indra mana para penyihir menembus dada dan kepala barisan pelapis mereka. Jilu bergerak bagai mesin pembantai yang efisien; tangan kirinya mencengkeram leher seorang penyihir, menyalurkan sifat anti-sihir secara instan hingga sirkulasi mana di dalam tubuh korban macet total dan meledakkan organ dalam mereka sendiri.
Darah mulai menggenang di ubin arena yang retak, mencoreng kesucian Akademi Asteria di bagian pertama pertarungan ini.
Astrea mencengkeram pembatas tribun hingga ujung jarinya memutih dan gemetar. Pemandangan di bawah sana terlalu mengerikan untuk dicerna akal sehat. Barikade ratusan penyihir tingkat tinggi dan ksatria sihir yang diagungkan sebagai faksi elite akademi justru berguguran bagai daun kering. Namun, jumlah mereka yang terlalu banyak serta luka rekan-rekan mereka mulai memaksa para petinggi akademi mengubah taktik secara drastis.
Mereka sadar mendikte Jilu dengan tembakan elemen murni adalah tindakan bunuh diri.
"Ubah strategi! Jangan serang tubuhnya secara langsung! Gunakan hukum alam dan manipulasi fisik objek di sekitarnya!" teriak seorang komandan penyihir dari sayap kanan, suaranya parau karena panik.
Mendengar perintah itu, tiga puluh penyihir dari divisi Vektor dan Telekinesis langsung maju mengambil alih garis depan. Mereka tidak lagi mengarahkan tongkat sihir ke arah Jilu, melainkan menembakkan kilatan mana mereka ke arah struktur bangunan stadion di sekeliling mereka.
"Geokinesis: Struktur Runtuh!"
KRAAAAAK!
Pilar-pilar beton raksasa pembatas tribun dan sebagian langit-langit stadion di atas mereka hancur berkeping-keping. Puing-puing batu raksasa berbobot puluhan ton tercipta dalam sekejap, jatuh bebas dari ketinggian tiga puluh meter tepat ke titik di mana Jilu berdiri.
Jilu mendongak tajam Ia mengepalkan tangan kirinya, memanifestasikan sayap hitam pekat dari tubuhnya untuk menghalau runtuhan tersebut
.
Zat hitam dari pori-pori kulitnya bekerja sempurna; detik ketika batu-batu itu menyentuh auranya, sisa mana yang menempel pada puing terseut langsung terhapus bersih.
Namun, anti-sihir tidak bisa menghapus hukum alam. Gravitasi dan berat massa dari puluhan ton beton padat itu tetap nyata, tidak hilang, dan terus meluncur deras membawa momentum jatuhnya.
BOOM! BOOM! BRAKK!
Jilu terpaksa menyilangkan kedua lengannya, menahan hantaman langsung dari sebuah bongkahan pilar raksasa yang meluncur bagai meteor. Kekuatan fisik murninya yang luar biasa keras menahan beban itu, membuat seluruh otot di tubuh tegapnya menegang ekstrem hingga pembuluh darahnya menonjol mengerikan di balik perban yang tersisa.
Namun, hantaman momentum fisik murni itu terlalu masif. Tanah di bawah kaki Jilu amblas sedalam setengah meter. Lengan mekanis kanannya berdecit keras, memuntahkan percikan api dan uap panas akibat gesekan komponen hidrolik yang dipaksa bekerja melampaui batas absolutnya.
Belum sempat Jilu melempar bongkahan batu tersebut, para penyihir Vektor di barisan depan menghentakkan tongkat mereka ke tanah secara serentak.
"Vektor Pembalik: Momentum Maksimal!"
Mereka tidak menciptakan sihir baru, melainkan memanipulasi arah gerak dan kecepatan udara serta debu di sekitar Jilu. Angin mendadak berputar secara ekstrem, melipatgandakan daya dorong fisik dari ribuan pecahan kerikil tajam yang berterbangan di arena, mengubahnya menjadi secepat peluru supersonik.
Karena kerikil-kerikil itu adalah objek padat alami yang hanya diubah arah gerak fisik dan momentumnya, anti-sihir di kulit Jilu tidak bisa melenyapkannya.
SLAASSH! SLAASSH! SLAASSH!
Hujan kerikil berkecepatan tinggi itu mendesing brutal, mengoyak sisa-sisa perban yang melilit tubuh Jilu. Kulit kerasnya mulai robek di berbagai tempat. Darah segar berwarna merah pekat merembes deras, mengalir dari pundak, dada, hingga pelipis wajah Jilu akibat goresan-goresan fisik yang tak terhindarkan.
"Dia bisa terluka!" seru Astrea dari tribun, menyadari celah fatal itu. "Dia tidak bisa menghapus hukum alam dunia ini!"
Melihat Jilu yang tertahan oleh hujan puing dan manipulasi vektor udara, seorang penyihir telekinesis bertubuh kekar langsung memanfaatkan celah terbuka. Ia menghentakkan kedua tangannya ke atas, mencengkeram ubin batu raksasa tempat Jilu berpijak, lalu melemparnya secara paksa ke udara.
DUUAARR!
Tanah itu melesat runtuh ke atas, membuat Jilu kehilangan tumpuan kakinya dan melayang tak berdaya di udara. Di dalam situasi tanpa gravitasi itu, seorang penyihir Vektor dari jarak jauh langsung mengunci posisi Jilu, membalikkan vektor gravitasi di sekitar tubuh pria itu menjadi seratus kali lebih berat ke arah horizontal.
WHUUSH-BOOM!
Tubuh Jilu terlempar horizontal dengan kecepatan abnormal yang mengerikan, menghantam dinding pembatas stadion hingga retak parah dan runtuh menimbun tubuhnya sepenuhnya. Ratusan ksatria sihir yang tersisa seketika bersorai riuh, mengira sang Iblis dari Timur akhirnya telah takluk di bawah runtuhan hukum fisika.Sorak-sorai kemenangan para ksatria sihir terhenti seketika ketika reruntuhan tembok pembatas setinggi lima meter itu mulai bergetar hebat. Sebuah tekanan fisik yang luar biasa keras mendadak meledak dari dalam, mencerai-beraikan bongkahan beton raksasa yang menimbun Jilu hingga terlontar ke segala arah.
Dari balik kepulan debu yang tebal, Jilu kembali melangkah keluar.
Napasnya mulai memberat, darah segar mengalir bebas dari pelipis dan sela jubahnya yang koyak, dan lengan mekanis kanannya tampak sedikit bengkok di bagian siku dengan kabel-kabel beraliran listrik yang mencuat kasar. Namun, sepasang matanya sama sekali tidak memancarkan rasa takut atau rasa sakit. Tatapannya justru makin tajam, mengunci mati barisan penyihir di hadapannya.
"Teknik mekanika fisika dan manipulasi momentum, ya?" desis Jilu dalam hati.
Menggunakan akses memori langsung dari salah satu pengguna anti-sihir terdahulu-sang ilmuwan kuno yang menguasai seluk-beluk teknologi murni tanpa mana-Jilu menggerakkan jari-jari besi tangan prostetiknya dengan presisi tinggi. Ia menekan sebuah tuas rahasia tersembunyi di pangkal siku mekanisnya.
KLIK! KRAAK!
Struktur internal tangan besi itu bergeser secara ekstrem. Komponen-komponen baja di dalamnya berputar dan menyusun ulang bentuk, mengubah laras lengan prostetiknya menjadi sebuah sistem pelontar bertekanan udara tinggi (pneumatic compression cavity).
"Kalian pikir, hanya penyihir yang bisa mengendalikan momentum fisik?" suara Jilu bergema dingin, memotong keheningan.
Sebelum para penyihir Vektor sempat merapalkan mantra pelindung baru, Jilu melesat maju kembali dengan teknik pergerakan yang jauh lebih efisien dan mematikan. Ia merendahkan tubuhnya ekstrem, meluncur di atas ubin arena untuk menghindari tebasan silang berkecepatan tinggi dari dua Magic Swordsman tingkat tinggi yang menghadangnya.
Dengan mekanika gerak yang sempurna, ia memutar tubuhnya tepat di bawah sela ketiak lawan, lalu menempelkan moncong lengan mekanisnya yang telah berubah bentuk tepat ke dada ksatria bertopeng besi tersebut.
BOOM!
Hantaman gelombang udara padat murni tanpa sihir meledak dari lengan prostetiknya. Tekanan fisik yang luar biasa itu seketika menembus zirah besi tebal mereka, meremukkan tulang rusuk di dalamnya, dan melontarkan kedua ksatria itu sejauh dua puluh meter hingga menghantam telak barisan penyihir di belakang mereka.
Jilu tidak memberi mereka waktu untuk bernapas. Ia memanfaatkan momentum jatuhnya tubuh lawan untuk merebut sebuah tombak besi biasa yang tergeletak di tanah. Detik ketika telapak tangan kiri aslinya menggenggam gagang senjata itu, ia menyalurkan hawa anti-sihir murni dari dalam tubuhnya. Zat hitam pekat yang gila dan kasar langsung merambat cepat, melapisi seluruh permukaan tombak besi tersebut hingga warnanya berubah menjadi sehitam malam.
Dengan satu sentakan otot lengannya yang abnormal, Jilu melemparkan tombak hitam itu ke arah kerumunan penyihir Vektor yang sedang bersiap merapalkan sihir gravitasi baru.
Tombak hitam itu melesat membelah udara bagai meteor. Para penyihir Vektor mencoba menghadangnya dengan membentangkan lingkaran sihir pembalik momentum, namun skenario itu berujung fatal. Detik ketika lingkaran sihir vektor mereka bersentuhan dengan tombak yang telah dilapisi anti-sihir murni milik Jilu, seluruh formasi mantra mereka langsung buyar, retak, dan hancur berkeping-keping seolah tidak pernah ada.
STAB! STAB!
Tombak hitam itu meluncur tanpa hambatan magis, menembus zirah dan dada tiga penyihir sekaligus dalam satu garis lurus, sebelum akhirnya tertancap dalam di lantai arena, memaku tubuh mereka di atas genangan darah yang pekat.
Astrea yang menyaksikan dari tribun hanya bisa mematung dengan wajah pucat pasi. Pertarungan kini telah bergeser menjadi pembantaian taktis yang mengerikan. Jilu memadukan kekuatan otot absolut, teknik bela diri tingkat tinggi, dan teknologi kuno untuk menghancurkan barisan ratusan penyihir yang mulai kehilangan arah karena seluruh manipulasi hukum fisika mereka berhasil dipatahkan oleh kecerdasan taktis sang Iblis dari Timur.
----------
Setelah pertempuran Jilu yang mengguncang stadion, Regis tidak bisa tinggal diam. Rasa bingung, dikhianati, dan tidak berdaya bercampur menjadi satu. Dia memutuskan untuk berdiri dan menantang pria yang selama ini melindunginya, menuntut kejelasan dengan sebilah pedang di tangannya sebelum pertumpahan darah yang sebenarnya dimulai.
------------------
Suara gema nama "Jilu Emiyas" perlahan memudar, meninggalkan atmosfer stadion yang terasa begitu berat dan pekat hingga membuat siapa pun sulit bernapas. Namun, di tengah kepungan rasa ngeri yang melanda seluruh isi akademi, ada satu orang yang menolak untuk tunduk pada rasa takut itu.
Regis.
Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, pemuda berambut hitam itu memaksa kedua kakinya yang gemetar untuk berdiri tegak di tengah kehancuran arena. Tangan kanannya perlahan bergerak ke pinggangnya, mencengkeram gagang sebuah pedang yang selalu ia bawa ke mana pun ia pergi-pedang warisan berharga, satu-satunya peninggalan dan pemberian dari mendiang ayahnya.
SREK!
Regis menarik bilah pedang itu dari sarungnya. Kilatan logamnya memantulkan cahaya bulan yang suram di atas stadion. Tanpa mengalihkan pandangannya dari Jilu, Regis mengangkat senjata tersebut, mengacungkan ujung bilahnya tepat ke arah pria bertudung di depannya. Ujung pedang pemberian ayahnya itu bergetar, bukan karena ia takut, melainkan karena gejolak batin yang luar biasa hebat.
"Berbalik, Jilu..." suara Regis bergetar, namun sarat akan ketegasan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Atau siapa pun namamu yang sebenarnya... Berbaliklah dan hadapi aku!"
Langkah kaki Jilu terhenti. Bahunya bergerak sedikit, menghela napas panjang melihat tindakan nekat pemuda yang selama ini ia sembunyikan di balik punggungnya. Perlahan, Jilu memutar tubuhnya. Matanya langsung tertuju pada pedang yang dipegang erat oleh Regis-ia tahu betul sejarah dan arti penting dari pedang pemberian ayah pemuda itu.
Jilu kemudian mengangkat pandangannya, menghadapi Regis yang kini menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena amarah dan kebingungan.
"Menodongkan senjata pemberian ayahmu kepadaku, Regis?" tanya Jilu pelan. Suaranya terdengar tenang, namun ada setitik nada getir yang tersembunyi di dalamnya. "Setelah apa yang baru saja kau saksikan, kau pikir bilah besi itu bisa menghentikanku?"
"Aku tidak peduli kau ini Iblis dari Timur, pembunuh Sage, atau penjahat yang dikutuk dunia!" teriak Regis, suaranya pecah menggema di tengah keheningan stadion. "Selama ini... aku mengikutimu karena aku percaya kita adalah teman ! Tapi sekarang, kau meruntuhkan seluruh tempat ini, menunjukkan kekuatan yang tidak masuk akal, dan bersiap pergi seolah-olah aku ini hanya beban yang sudah selesai kau jaga!"
Regis mempererat cengkeramannya pada pedang sang ayah, perlahan menyalurkan sisa mana sihirnya yang baru bangkit ke dalam bilah tersebut hingga pedang itu memancarkan hawa magis yang bergejolak tidak stabil.
"Jika semua ini benar-benar belum saatnya untuk kupahami, maka paksa aku untuk paham! Jangan berjalan pergi begitu saja menggunakan punggung itu tanpa memberikan jawaban!" lanjut Regis, matanya menatap tajam, menuntut kejelasan dengan memajukan pedang warisannya satu jengkal lebih dekat.
Dari atas tribun, Astrea menahan napas Ia menyadari bahwa situasi telah berubah total. Sebelum Jilu melangkah lebih jauh, ia harus menghadapi konfrontasi emosional terbesar yang paling ia hindari: tatapan penuh tuntutan dari Regis yang kini berdiri menantangnya dengan pedang titipan sang ayah.
Suasana mencekam itu pecah seketika saat Regis menerjang maju. Dengan raungan frustrasi yang memutus akal sehatnya, ia mengayunkan pedang pemberian ayahnya dalam satu tebasan diagonal yang cepat, tajam, dan presisi.
WUSH!
Jilu membungkuk cepat, memungut sebilah pedang besi biasa yang tergeletak di lantai arena untuk menangkis serangan Regis.
CHINGG!
Benturan pertama itu memercikkan bunga api yang menerangi wajah kalap Regis. Regis tidak berhenti di situ; emosinya yang meluap memicu rangkaian serangan beruntun. Ia memutar tubuhnya, memanfaatkan bobot pedang sang ayah untuk melepaskan tebasan horizontal, yang kemudian bertransisi secara mulus menjadi tusukan cepat ke arah ulu hati Jilu.
Langkah kaki Regis berpindah dengan ritme yang cepat, seolah meluncur dan melompat di sela-sela ubin yang retak-sebuah seni bela diri pedang yang ia pelajari dari catatan tua peninggalan mendiang ayahnya.
Namun, kejutan besar langsung menghantam mental Regis.
Jilu bergerak mundur dengan ritme langkah dan kalkulasi tangkisan yang luar biasa mutakhir. Setiap kali Regis mengayunkan pedang dari sudut tersulit atau mencoba mengecoh dengan tipuan gerak, Jilu selalu berada satu langkah di depan. Bilah besi di tangan Jilu bergerak efisien, menepis setiap jengkal ancaman Regis dengan sudut kemiringan baja yang sempurna, seolah ia sudah bisa membaca ke mana arah mata pedang Regis sebelum ayunan itu dimulai.
CHING! CHING! KRAK!
Bilah mereka saling menggesek, menciptakan suara lengkingan besi yang memekakkan telinga. Mereka beradu dalam kecepatan yang kian meningkat. Regis menebas dari atas, Jilu memiringkan kepalanya sedikit sambil menepis bilah itu ke samping. Regis memutar tumitnya untuk melayangkan tendangan, namun Jilu sudah lebih dulu membaca pergerakan pinggulnya dan mundur setengah langkah, membiarkan serangan itu lewat hanya beberapa sentimeter di depan dadanya.
Adu mekanik pedang murni ini berlangsung intens dan melelahkan. Udara di sekitar mereka berdesir kencang akibat kecepatan ayunan kedua belah pihak. Bagi para penyihir yang menonton dari tribun, pertarungan ini tampak seperti seorang murid yang sedang mengerahkan seluruh hidupnya untuk menyentuh sosok guru yang tak tergoyahkan.
CHINGG!
Regis mendesis di sela benturan, otot-otot lengannya gemetar hebat saat menekan pedangnya kuat-kuat ke arah Jilu setelah bilah mereka saling mengunci mati di udara.
Jilu menatap lurus ke dalam sepasang mata Regis dari jarak sedekat itu. Wajahnya sedingin es, namun di balik tatapan matanya yang kelam, ada kedalaman rasa sakit yang amat sangat.
Dengan satu hentakan kekuatan fisik murninya yang luar biasa kokoh, Jilu memutar pergelangan tangannya, mengunci silang bilah pedang Regis, lalu menyentaknya ke samping hingga pemuda itu terdorong mundur dan kehilangan keseimbangan selama beberapa detik.
"Kau terlalu lambat, Regis," suara Jilu bergema pelan, namun kata-kata itu terasa menghantam dada Regis lebih keras daripada runtuhan beton mana pun. "Ilmu pedangmu penuh dengan keraguan. Kau bertarung dengan emosi, bukan dengan tekad."
Regis menggelengkan kepalanya keras-keras, napasnya memburu berantakan, keringat bercampur darah menetes dari dahinya. "Jangan menceramahiku! Aku bertarung untuk mendapatkan jawaban yang darimu!"
Regis kembali menerjang, mengayunkan pedangnya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Namun, fokusnya sudah hancur oleh rasa frustrasi karena merasa dipermainkan. Kuda-kudanya goyah, dan jarak antar serangannya melebar.
Melihat fokus dan mental Regis yang sudah berantakan, Jilu tahu ini saatnya mengakhiri bagian pertama. Tanpa menggunakan anti-sihir sedikit pun, ia melesat maju menggunakan kekuatan otot kaki mentahnya dalam satu kedipan mata. Gerakannya terlalu cepat dan meledak-ledak untuk diantisipasi oleh indra Regis yang sedang kacau.
Jilu tidak menggunakan sisi tajam pedangnya. Dengan gerakan memutar yang sangat presisi, ia menyelinap ke sisi dalam pertahanan Regis, lalu menghantamkan bagian tumpul gagang pedangnya tepat ke arah pergelangan tangan Regis yang memegang senjata.
TAK!
Hantaman keras itu murni mengenai titik saraf motorik di tangan Regis. Efek benturan fisik yang akurat tersebut seketika membuat seluruh jari tangan Regis mati rasa, kehilangan seluruh daya cengkeramnya dalam sekejap.
PRANK... CLANG...
Pedang besi pemberian mendiang ayahnya terlepas dari genggaman. Bilah pusaka itu berputar beberapa kali di udara sebelum akhirnya jatuh terhempas, berdenting nyaring di atas ubin arena yang dingin.
Regis langsung jatuh berlutut di depan senjata warisan tersebut. Tubuhnya bergetar hebat, menatap nanar bilah baja yang kini memantulkan wajahnya yang hancur karena kekalahan fisik yang teramat dalam. Di bagian pertama ini, ia telah takluk seutuhnya oleh keunggulan mutlak ilmu pedang Jilu
Pedang peninggalan ayahnya tergeletak bisu beberapa meter di belakang mereka. Regis, yang kini dikuasai oleh amarah buta dan rasa frustrasi yang meledak di dalam kepalanya, tidak lagi memedulikan akal sehat. Dengan raungan liar yang terdengar mengerikan di tengah keheningan stadion, ia menerjang maju dengan tangan kosong. Ia melayangkan pukulan jab kanan yang mentah, mengincar langsung rahang Jilu.
WUSH!
Jilu bahkan tidak berkedip. Ia hanya memiringkan kepalanya beberapa derajat ke kiri, membiarkan tinju Regis melesat melewati udara kosong di samping telinganya. Bersamaan dengan momentum Regis yang condong ke depan, Jilu bergerak.
BTAK!
Tanpa menggunakan tangan prostetiknya, tangan kiri asli Jilu mencengkeram pergelangan tangan kanan Regis dengan cengkeraman besi yang langsung meremukkan pelindung kulit di sana. Sebelum Regis sempat menarik tangannya, Jilu memutar tubuhnya setengah lingkaran, menarik lengan Regis secara paksa, dan menghantamkan sikut kirinya tepat ke arah hidung pemuda itu.
KRAKK!
Suara tulang yang patah terdengar begitu renyah. Darah segar langsung menyembur, mengotori wajah Regis dan jubah hitam Jilu. Regis terhuyung mundur, pandangannya mendadak buram dan dipenuhi warna merah. Namun, Jilu tidak memberinya ruang untuk bernapas atau meresapi rasa sakit itu.
Jilu merangsek maju, menutup jarak dalam satu hentakan kaki. Tangan kanan mekanisnya melesat bagai hantaman piston, bersandar telak di ulu hati Regis.
BOOM!
Tekanan fisik mentah tanpa mana itu begitu masif hingga membuat tubuh Regis menekuk ke depan secara ekstrem, sementara seluruh sisa udara di paru-parunya dipaksa keluar dalam satu petikan kasar. Regis memuntahkan cairan lambung bercampur darah, matanya melotot putih menahan rasa sakit yang mematikan.
Jilu belum selesai. Dengan dingin, ia menggunakan tangan prostetiknya untuk mencengkeram rambut hitam Regis, menarik kepala pemuda itu ke atas secara paksa agar menatap matanya yang sedingin es.
"inilah akhirnya " desis Jilu, suaranya pelan namun terdengar seperti vonis mati tepat di depan wajah Regis.
PANG!
Satu pukulan cross kiri murni dari Jilu menghantam pipi kanan Regis, merobek daging bagian dalam mulutnya dan merontokkan satu giginya. Kepala Regis tersentak hebat ke kiri, namun cengkeraman Jilu pada rambutnya menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Jilu menyentaknya lagi ke kanan, lalu menghantamkan lututnya tepat ke arah rusuk Regis.
CRACK!
Dua tulang rusuk Regis patah seketika. Pemuda itu bahkan tidak bisa lagi berteriak; suaranya tercekat di tenggorokan yang tersumbat darah.
Jilu akhirnya melepaskan cengkeraman rambutnya, membiarkan tubuh Regis yang sudah tak berdaya itu ambruk secara horisontal. Sebelum tubuh itu menyentuh ubin, Jilu memutar tumitnya dan melayangkan tendangan melingkar (low kick) yang brutal menggunakan kaki prostetiknya, menghantam pinggang Regis.
WHUUSH-PREKK!
Tubuh Regis terlontar, berguling-guling secara mengenaskan di atas lantai arena yang retak, menyapu genangan darahnya sendiri sebelum akhirnya berhenti dalam posisi tengkurap.
Regis terkapar bagai rongsokan. Wajahnya hancur, bengkak, dan bersimbah darah pekat yang terus mengalir dari hidung serta bibirnya yang pecah. Napasnya terdengar seperti bunyi gesekan kain rusak-pendek, serak, dan penuh penderitaan. Setiap jengkal otot di tubuhnya telah dilumpuhkan oleh trauma fisik yang teramat masif.
Dari atas tribun, Astrea memalingkan wajahnya sambil menangis, tidak sanggup lagi menyaksikan pemandangan yang teramat sadis tersebut. Para penyihir yang tersisa di stadion membeku, menyadari bahwa di hadapan mereka bukan lagi seorang petarung, melainkan mesin pembantai yang tak menyisakan ruang untuk belas kasihan.
Namun, di luar dugaan, ubin arena kembali bergetar pelan.
Dengan seluruh sisa tekad yang menolak untuk padam, Regis memaksa kedua lututnya yang gemetar hebat untuk kembali tegak. Tubuhnya limbung ke kiri dan ke kanan, tulang rusuknya yang patah menimbulkan rasa sakit luar biasa di setiap tarikan napas, namun ia menolak untuk ambruk. Dengan wajah hancur bersimbah darah, Regis berhasil berdiri kembali di atas kedua kakinya, menatap Jilu dengan tatapan mata yang kabur namun penuh dengan tekad .
Jilu menghentikan langkahnya. Melihat pemuda di depannya masih mampu berdiri setelah menerima siksaan fisik sebrutal itu, tatapan dingin di mata Jilu perlahan melunak.
Jilu melangkah maju secara perlahan mendekati Regis. Ia tidak lagi mengepalkan tangannya. Ketika jarak mereka hanya tersisa satu jengkal, Jilu mengangkat tangan kiri aslinya, lalu menepuk pundak Regis yang bersimbah darah dengan lembut.
"Kerja bagus," bisik Jilu pelan, sebuah pengakuan tulus yang langsung menembus hati Regis.
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Jilu membalikkan tubuhnya. Tanpa menoleh lagi, ia melangkah pergi meninggalkan arena, jubah hitamnya yang compang-camping berkibar ditiup angin malam, menghilang di balik kepulan debu dan kegelapan gerbang stadion.
Kesadaran Regis berada di ambang batas. Dunianya mulai berputar, dan pandangannya perlahan menggelap. Namun, sebelum tubuhnya kembali ambruk ke tanah, sebuah suara langkah kaki yang panik terdengar berlari kencang ke arahnya
.
"Regis!!!"
Sesosok gadis berambut terang menerobos masuk ke dalam arena yang hancur. Itu adalah Ellie, teman masa kecilnya. Wajah Ellie tampak pucat pasi dipenuhi air mata kepanikan saat melihat kondisi tragis Regis. Sebelum tubuh Regis menyentuh ubin dingin, Ellie melesat menangkapnya, mendekap tubuh pemuda itu erat-earat di atas pangkuannya.
Aroma familier dari Ellie dan hangat dekapannya meruntuhkan seluruh pertahanan mental Regis yang tersisa. Air mata Regis akhirnya pecah, mengalir deras bercampur darah di wajahnya yang hancur. Di dalam pelukan hangat teman masa kecilnya itu, Regis menangis sejadi-jadinya, meluapkan seluruh rasa sakit, kehilangan, dan kebingungan yang menyiksa jiwanya, sebelum akhirnya pandangannya gelap gulita dan ia pingsan sepenuhnya.
----------------
Dunia nyata perlahan memudar bagi Regis. Suara tangisan Ellie yang histeris, aroma darah yang anyir, dan dinginnya lantai stadion yang hancur perlahan tenggelam ke dalam keheningan yang absolut. Rasa sakit yang menghantam fisiknya mendadak lenyap, digantikan oleh rasa hampa yang luar biasa dingin.
Regis merasa dirinya jatuh ke dalam jurang kegelapan tanpa dasar. Namun, alih-alih mendarat di tanah yang keras, tubuhnya perlahan melayang di atas permukaan air yang hitam pekat namun jernih bagaikan cermin. Tempat itu begitu sunyi, luas tanpa batas, dan dilingkupi oleh pilar-pilar cahaya magis berwarna biru keperakan yang redup.
"Di mana... aku?" bisik Regis. Suaranya tidak keluar, namun bergema di dalam kepalanya.
PING...
Sebuah riak air kecil tercipta beberapa meter di depannya. Bersamaan dengan riak tersebut, hawa magis yang luar biasa masif, murni, dan penuh kehangatan mendadak memenuhi seluruh ruangan hampa itu. Tekanan sihir ini begitu besar, jauh melampaui para tetua akademi atau penyihir hebat mana pun yang pernah Regis temui, namun anehnya, sihir ini tidak menyakitinya. Sihir ini terasa familier, seperti sebuah pelukan yang sudah lama hilang.
Dari balik pilar cahaya, sesosok wanita berjalan mendekat dengan anggun di atas permukaan air.
Wanita itu mengenakan gaun putih panjang bersulam benang emas yang menjuntai indah. Rambutnya yang sewarna dengan malam terurai panjang, dan di atas kepalanya melingkar sebuah mahkota kecil yang terbuat dari kristal sihir murni. Wajahnya begitu rupawan, memancarkan aura agung sekaligus kelembutan yang tak lekang oleh waktu. Sepasang matanya yang indah menatap Regis dengan tatapan penuh kerinduan yang mendalam.
Regis terpaku. Jantungnya berdegup kencang. Tanpa alasan yang jelas, dadanya terasa sesak saat melihat sosok wanita itu. "Kau... siapa?"
Wanita itu melangkah mendekat, lalu berhenti tepat beberapa langkah di hadapan Regis. Senyum getir namun penuh kasih sayang terkembang di bibirnya.
"Namaku Laurel..." suara wanita itu terdengar bagai alunan simfoni yang menenangkan jiwa, menggema lembut menembus sanubari Regis. "Laurel Seraphina. Itulah namaku, Regis."
Mendengar nama itu, jantung Regis bagai berhenti berdetak. Matanya membelalak lebar, dan tubuhnya seketika membeku Seraphina
Nama belakang yang selama ini melekat pada dirinya sendiri. Nama belakang yang selalu ia pertanyakan karena ayahnya tidak pernah menggunakan nama itu. Selama hidupnya, Regis mengira "Seraphina" hanyalah nama pemberian acak atau nama baptis kuno yang tidak punya arti apa-apa.
"Se-Seraphina...?" suara Regis bergetar hebat, dipenuhi rasa tidak percaya yang teramat sangat.
"Kenapa... kenapa nama belakangmu sama denganku? Siapa kau sebenarnya?!"
Laurel perlahan berlutut di atas permukaan air, menyamakan tingginya dengan Regis. Ia mengulurkan tangannya yang halus dan hangat, bermaksud menyentuh pipi Regis yang di dunia nyata sedang hancur babak belur.
"Karena aku adalah ibumu, Regis. Wanita yang mewariskan nama dan darah itu kepadamu," ucap Laurel lirih, setitik air mata tampak menggenang di sudut matanya.
Kata-kata itu seketika menghantam mental Regis. Kepalanya berdenyut semakin parah, mencoba menolak kenyataan yang terlalu tiba-tiba ini.
"T-tidak mungkin..." Regis melangkah mundur, menepis pelan tangan hangat tersebut dengan tubuh yang bergetar. "K-kau pasti berbohong! Ibuku sudah mati! Ayah bilang dia meninggal tepat setelah melahirkanku! Aku tidak pernah bertemu dengannya seumur hidupku!"
Bagi Regis, fakta ini terlalu gila untuk diterima. Satu-satunya memori yang ia miliki hanyalah samar-samar suara tangisan seorang wanita di hari ia lahir, sebelum akhirnya ia dibesarkan sebagai anak yatim piatu dengan nama belakang misterius tersebut. Dan kini, pemilik asli nama belakang itu berdiri di depannya, mengklaim sebagai ibunya yang ternyata masih hidup.
Laurel menatap tangan yang ditepis itu dengan tatapan sedih, namun ia bisa memaklumi keterkejutan putranya.
"Ibu tidak mati, Regis. Ibu masih hidup," jawab Laurel dengan suara yang bergetar menahan rindu. "Ibu terpaksa memalsukan kematian Ibu dan mengasingkan diri dari dunia luar untuk melindungimu dari takdir kejam yang mengincar silsilah kita. Ibu tahu kau tidak mengingat Ibu... karena pertemuan pertama dan terakhir kita secara nyata hanyalah beberapa detik setelah kau menarik napas pertamamu di dunia."
Laurel kemudian menatap Regis dengan tatapan yang kembali agung, memancarkan wibawa tirani yang mutlak. "Dan alasan mengapa marga Seraphina itu harus disembunyikan darimu... karena aku adalah Ratu dari para penyihir. Dan kau, Regis Seraphina, adalah putra termudaku "
Mendengar pengakuan jujur yang menjawab misteri nama belakangnya selama ini, dinding pertahanan mental Regis runtuh sepenuhnya. Ikatan darah dan kehangatan sihir yang memeluk jiwanya saat ini menjadi bukti mutlak yang tak bisa dibantah lagi. Fakta bahwa ibunya ternyata masih hidup-dan merupakan seorang Ratu Penyihir -membuat tangis Regis kembali pecah di dalam ruang bawah sadarnya.
T-tidak mungkin..." Regis melangkah mundur, menepis pelan tangan hangat tersebut dengan seluruh tubuh yang bergetar hebat. "K-kau pasti berbohong! Ibuku sudah mati! Ayah bilang dia meninggal tepat setelah melahirkanku! Aku tidak pernah bertemu dengannya seumur hidupku!"
Melihat penolakan keras dari putranya, pertahanan emosional Laurel runtuh seketika. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh begitu saja, membasahi pipinya yang pucat. Ia tidak peduli lagi dengan keagungannya sebagai seorang ratu. Dengan segenap kerinduan dan rasa sesal yang terpendam selama belasan tahun, Laurel langsung merangsek maju dan menarik tubuh Regis ke dalam pelukannya secara paksa.
DEKAP.
"Maafkan Ibu, Nak... Demi Dewa, maafkan Ibu..." Laurel terisak hebat, mendekap kepala Regis erat-erat ke dadanya, seolah takut pemuda itu akan menghilang lagi jika ia melepaskannya. Tubuhnya gemetar, dan suaranya parau oleh rasa bersalah yang menyiksa jiwanya.
"Ibu tidak mati, Regis! Ibu masih hidup!" tangis Laurel pecah, tangannya yang halus mengusap rambut Regis dengan penuh kepanikan yang emosional. "Ibu terpaksa memalsukan kematian Ibu... Ibu terpaksa meninggalkanmu! Setiap hari Ibu tersiksa karena egois, membiarkanmu tumbuh di dunia luar tanpa pelukan seorang ibu... Pertemuan kita secara nyata hanyalah beberapa detik setelah kau menarik napas pertamamu ke dunia, sebelum Ibu dipaksa pergi..."
Dekapan hangat yang begitu murni itu, bersamaan dengan getaran kesedihan yang merambat dari tubuh Laurel, langsung mengunci seluruh pergerakan Regis. Rasa asing itu lenyap, digantikan oleh kehangatan jiwa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Regis membeku di dalam pelukan itu. Ada rasa sesak yang aneh di dadanya. Selama ini, dia tidak pernah merasa tersiksa. Ayahnya membesarkannya dengan sangat baik, memberikan masa kecil yang penuh kasih sayang, hangat, dan damai di pinggiran kota. Dia tidak tumbuh sebagai anak yang merana. Namun, melihat wanita yang mengaku sebagai ibunya ini menangis sejadi-jadinya dan memohon maaf karena merasa telah menelantarkannya, hati Regis mendadak tersentuh parah.
Mendengar pengakuan jujur yang menjawab perkataanya, dipadu dengan ledakan emosi seorang ibu yang begitu nyata menghantam sanubarinya, dinding pertahanan mental Regis runtuh seutuhnya. Ikatan darah dan kehangatan sihir yang memeluk jiwanya saat ini menjadi bukti mutlak yang tak bisa dibantah lagi.
Fakta bahwa ibunya ternyata masih hidup-dan merupakan seorang Ratu Penyihir-membuat tangis Regis akhirnya kembali pecah di dalam ruang bawah sadarnya. Ia berlutut di hadapan Laurel, menutupi wajahnya dengan kedua tangan saat bahunya berguncang hebat, menumpahkan segala emosi, rasa haru, dan kebingungan yang bercampur aduk di dalam hatinya.
--------------------
Setelah gelombang emosi yang hebat itu perlahan mereda, keheningan yang menenangkan kembali menyelimuti ruang bawah sadar mereka. Laurel menuntun Regis berjalan perlahan di atas permukaan air yang jernih bagai cermin, menuju ke tepi hamparan air yang menyerupai sebuah danau tak berujung.
Mereka berdua kemudian duduk bersisian di tepi danau mistis tersebut, membiarkan kaki mereka tenggelam dalam riak air hangat yang memancarkan pendar cahaya keperakan. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Regis bisa merasakan kehadiran seorang ibu yang nyata di sampingnya-merasakan bahu mereka yang saling bersentuhan.
Regis menatap pantulan dirinya di permukaan air yang perlahan mulai menjernih, memperlihatkan luka-luka lebamnya di dunia nyata yang kini tidak terasa sakit sama sekali di sini. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian untuk menanyakan inti dari pertemuan gaib ini.
"Ibu..." panggil Regis, suaranya kini jauh lebih tenang namun sarat akan rasa ingin tahu. "Kenapa Ibu membawaku ke sini? Ke dalam ruang kesadaranku sendiri?"
Laurel ikut menatap hamparan danau yang luas di depan mereka. Senyum lembut di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi serius seorang Ratu yang bersiap membagikan rahasia terbesar kerajaan. Pandangannya menerawang jauh menembus kegelapan pilar-pilar cahaya.
"Sudah saatnya, Regis," jawab Laurel dengan nada suara yang tenang namun penuh penekanan. "Sudah saatnya kau mengetahui segalanya. Apa yang ingin kau tanyakan kepadaku, tanyakanlah. Ibu akan berusaha menjawab sebisa ibu yang mampu jawab "
Ah, tunggu. Sebelum itu..." Regis menahan kalimatnya, teringat kata-kata Laurel sebelumnya. "Kalau aku adalah putra termudamu... berarti aku punya saudara? Siapa kakakku, Ibu?"
Mendengar pertanyaan itu, senyum di wajah Laurel langsung runtuh seketika. Ekspresinya menegang, dan tatapannya yang tadi hangat mendadak berubah menjadi dingin, dipenuhi rasa bersalah dan kepedihan yang amat mendalam.
Hamparan air danau di sekitar kaki mereka bahkan ikut bergetar, merespons gejolak emosi Laurel yang mendadak tidak stabil.
"Kau benar, Regis. Kau memiliki seorang kakak laki-laki," ucap Laurel, suaranya mendadak memberat, nyaris seperti bisikan yang tertahan di tenggorokan.
Laurel mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas pangkuannya, menatap kosong ke arah danau seolah sedang melihat bayangan masa lalu yang mengerikan.
"Dia adalah kakak kandungmu... sekaligus kegagalan terbesar dalam hidup Ibu, baik sebagai seorang Ratu, maupun sebagai seorang ibu yang melahirkannya."
"IBLIS DARI TIMUR"
Mendengar julukan itu disebut, suasana di dalam ruang bawah sadar Regis mendadak mencekam. Pendar cahaya keperakan di atas danau meremang, digantikan oleh aura dingin yang menusuk tulang.
"Dia... dikenal dunia sebagai Iblis dari Timur," lirih Laurel, seolah menyebut nama itu saja memberikan beban yang amat berat di dadanya.
"