LAST PARTT!!
THANK U BANGET YANG UDAH BACA CERITAKU DARI AWAL SAMPAI HABIS LUV U FULL🥹💗
Fanny termenung diteras rumah, sendirian. Ia hanya ingin menenangkan pikirannya sejenak, bersama senja sore itu.
Fanny menghembuskan nafas pelan, ingatannya kembali memutar peristiwa beberapa hari yang lalu. Kejadian yang membuat hubungan dirinya dan Fino semakin renggang, tapi bukan karena kepentingan OSIS.
Masalah mereka jauh lebih serius.
Ia memandangi ponselnya berulang kali, memastikan apakah ada notif chat dari Fino untuk meminta maaf padanya.
Namun nihil. Sejak kejadian itu, Fino justru tidak menghubunginya sama sekali.
Menyakitkan.
"Gue putusin dia kapan, ya?"
~~
"PANAS BANGET ANJIR, GABISA DIATUR KECEPATAN 2x KAH!?"
Fanny hanya menggelengkan kepala sembari tersenyum gemas melihat tingkah Dea yang seperti cacing kepanasan.
"Rey, Pak Yusuf kemana sih? Kita udah latihan dari jam 9 pagi lohh, ini udah mau jamiss." Protes Dea lagi.
"Lo cuma kebagian nyanyi Indonesia Raya aja kebanyakan protes," sahut Rey.
Kelas XII IPA 2 terpilih menjadi petugas upacara untuk hari Senin mendatang, maka dari itu saat ini mereka sedang latihan. Namun, latihan mereka belum bisa dikatakan clear ketika belum dilihat oleh Wali Kelas.
Rey mengamati gadis yang berdiri disampingnya, senyum tipis terpancar diwajah lelaki tersebut. Seolah-olah ini adalah moment yang sangat ia nantikan.
"Gue ngga perlu susah payah buat hubungan mereka kandas," ucap lelaki itu dalam hatinya.
Ia melindungi kepala gadis itu dengan tangan kirinya supaya tidak terpapar sinar matahari yang semakin menyengat.
Gadis itu terpaku sejenak sebelum kepalanya menoleh kesamping secara perlahan.
"Biar lo ngga kepanasan," Rey tersenyum.
Aksi dari ketua kelas tersebut rupanya menyita perhatian dari teman-teman mereka, tidak sedikit yang menyoraki mereka.
"Ng-ngga perlu sampai segitunya," ucap Fanny dengan nada gugup.
"Gue cuma takut lo pingsan, yang baca Janji Siswa siapa kalau lo ngga ada."
Rey sebagai pembaca UUD 1945 sedangkan Fanny membaca Janji Siswa, pembagian tugas tersebut tentunya dipilih oleh Wali Kelas dan apesnya Fanny bersebelahan dengan Rey.
"Fan,"
"Ya?"
"Gue boleh minta nomor lo?"
Fanny terkejut namun masih bisa mengendalikan mimik wajahnya, "di grup kelas ada kok."
Rey tertawa renyah, "lo aja ngga pernah nimbrung mana gue tau nomor lo yang mana"
"Udah lo sebutin aja, gue apalin nomer lo."
Mau tidak mau gadis itupun mengejakan nomornya, daripada berurusan dengan lelaki itu.
"Thanks ya, Fan." Rey tersenyum sumringah sedangkan Fanny hanya tersenyum tipis sebagai jawaban.
~~
6 bulan kemudian
Kedekatan Fanny dengan Rey sudah diketahui seantero sekolah, bahkan guru-guru sekalipun sudah mengetahuinya.
Sedangkan hubungan Fanny dengan Fino sudah benar-benar ada diujung tanduk, lelaki itu sama sekali tidak memberinya kabar.
"Lo ngga ada niatan buat PDKT-an sama Rey aja?" Ucap Dea.
Fanny menoleh dengan cepat, terkejut dengan penuturan dari teman sebangkunya itu. Mereka saat ini sedang didalam kelas menunggu guru mapel, dan Fanny takutnya ada yang mendengar ucapan Dea.
"Bukan karena gue masih sodaraan sama Rey terus gue jadi mak comblang, ngga gitu Fan."
"Gue cuma kasian sama lo, sampai kapan lo pertahanin Fino? Dia aja ngga ada say sorry ke lo semenjak kejadian udah setengah tahun yang lalu."
Fanny menghembuskan nafas pelan, ia tidak mungkin menceritakan soal Alfin pada Dea. "Gue ngga tau harus gimana..."
"Lo harus putusin Fino dan terima orang baru, kita udah mau lulus Fan. Jangan sampai lo ngga konsentrasi ke ujian karena masalah ini," ucap Dea meyakinkan.
"Bukannya kalau udah ngga komunikasi berbulan-bulan tandanya udahan?"
Dea menggeleng keras, "ngga, lo harus bilang minta putus."
Sebelum guru mapel masuk, Fanny dengan cepat merogoh ponselnya untuk memberikan pesan singkat pada Fino.
---
Fino
Kita selesai sampai disini aja.
Oke
---
Pesannya terbalas dengan cepat, ia tersenyum kecut. Selama 6 bulan ia menanti kabar dari lelaki itu dan seperti ini endingnya. Mungkin memang Fino sudah ingin mengakhiri hubungan mereka namun dengan cara membuat Fanny-lah yang harus mengakhiri.
~~
Pembelajaran untuk hari ini sudah selesai, murid-murid sudah dipersilahkan untuk pulang.
Fanny memasukkan buku kedalam tas lalu hendak menggendong ranselnya sebelum dicegah oleh Dea, "jangan buru-buru pulang dulu."
"Kenapa? ini udah jam pulang," Fanny menatap Dea heran.
"Fan.."
Fanny terpaku mendengar suara lelaki itu, terlebih lagi lelaki itu berdiri tepat didepannya.
"Ada yang mau gue omongin," ucapnya dengan tersenyum.
"Setengah tahun ini Fan, gue coba deketin lo. Segala cara gue lakuin supaya bisa sama lo terus, gue ngga bisa bohongin perasaan gue. Gue suka sama lo. Dari awal masuk SMA Athala gue udah suka sama lo,"
"Apa lo mau jadi penyemangat gue?"
Lagi-lagi Fanny dibuat tercengang oleh pengakuan dari Rey, apa? Lelaki itu menyukainya sejak lama.
"TERIMA AJA FAN!"
Seisi kelas menyorakinya, ia sangat malu saat ini menjadi tontonan.
"Gue bakal jagain lo dengan cara gue Fan, gue ngga ngrebut lo dari siapapun. Gue selalu pastiin hati lo kosong lebih dulu sebelum gue masuk,"
"Rey.." Fanny tidak sanggup untuk menjawabnya sekarang, ia benar-benar malu.
"Gapapa kalau lo belum mau jawab sekarang, lo bisa jawab via chat." Ucapnya dengan tersenyum manis.
"Seenggaknya, seisi kelas XII IPA 2 jadi saksi."
"Gue mau,"
Mata Rey terlihat berbinar, "SERIUS!?"
"LO TERIMA GUE FAN?"
Fanny menganggukkan kepala sembari tersenyum melihat Rey berlompat ria seolah sedang mendapatkan hadiah.
Tidak ada salahnya kan ia menerima cinta baru lagi? Mengingat lelaki itu memang benar-benar gigih mendekatinya.
Selama beberapa bulan terakhir, Rey selalu dekat dengan Fanny. Meminta gadis itu untuk mengajarinya, bertanya apakah ada PR, dan berangkat kesekolah jauh lebih pagi dari biasanya bahkan lebih dulu lelaki itu daripada Fanny.
Kebiasaan-kebiasaan Rey yang sekarang sangat disukai oleh guru-guru SMA Athala, maka dari itu guru-guru tidak mempermasalahkan kedekatan mereka jika dampaknya sepositife itu untuk Rey.
Semoga ini yang terakhir untuk Fanny.
Dari kejauhan, pandangan Alfin tidak lepas sama sekali dengan objek favorite-nya sejak dulu.
Ia tersenyum getir, lagi-lagi dirinya harus mengalah.
"Padahal tulusnya gue jauh lebih besar dari pada laki-laki brengsek itu, tapi kenapa yang lo pilih dia." gumamnya.
—•—
END
Yukk, baca cerita baruku! 🫶🏻💗 aku bakal update setiap sabtu. Walaupun masih bersinggungan sama cerita "Fanny" tapi versinya beda kokk, aku pastiin ceritanya jauh lebih seru.