one shoot gsky

By Vaa_sukaIno

22.7K 1.4K 119

Boleh req,tapi Dino,sultan,Reza,Alvin,Pipin bottom More

cast...
1? Isal x Dika
2?Abi x Dino
3?Najib x Rassel
4?Nopal x Sultan
5?Kaka x Riko
6?Tian x Pipin
7?Alif x Alvin
8?Zull x Seno
9?Boy x Reza
10?Putra x Felix
11? Imam x Arif
12? Seno x Zull
13? Abi x Dino
14? Tian x Pipin
15?(SelJib)
16?(SenZull)
17?(SalDik)
18?(JibSel)
19?(Boydin)
20?(Salpin)
21?(SenZull)
22?(Putlix)
23?(SelNo)
24?(Boydik)
25?(Boysal)
26?(KaKo)
27?(SelJib)
28?(SenBi)
29?(Feldik)
30?(Boyza)
31?(boysel)
32?(Boyjib)
33?(Kiksel)
34?(Boypin)
35?(Boybi)
36?(Saljib)
37?(Kikbi)
38?(Putza)
39? Abi x Budi
40? Najib x Pipin
41? Mas Yoyok x boy
42? Isal x Rassel
43? Boy x Isal
44? Tian x Pipin
45? Vicky x Budi
46? Nemo x Dino
47? Boy x Nemo
48? kikik x Najib
49? Isal x Dika
50? Najib x Isal
51? Dika x Isal
52? Rassel x Dika
53? boy x Dino
54? Isal x boy
55? Najib x Rassel
56? Isal x Tian
57? Restu x Budi
58? Kikik x Pipin
59? Boy x pipin
60? Tian x Najib
61? Ridwan x Sultan
62? Arya x Fadli
63? Isal x Dika
64? Najib x Pipin
65? Mas Yoyok x Dino
66? Rasya x Java
67? Boy x Abi
68? Mas Yoyok x Najib
69? Rassel x Najib
70? Feri x Irpak
71? Nemo x Najib
72? Kikik x Reza
73? boy x Reza
75? Isal x Najib
76? Dika x Najib
77? Kikik x putra
78? Boy x Dino
79? Dika x Isal

74? Yudis x Arya

108 10 0
By Vaa_sukaIno

18+




Hujan deras mengguyur kota Yogyakarta, menciptakan simfoni rintik yang menghantam atap seng sebuah rumah tua bergaya kolonial di pinggiran kota. Di dalam ruangan perpustakaan pribadi yang luas, aroma buku tua, kayu jati, dan teh melati yang mulai mendingin menyatu dengan kelembapan udara yang merayap masuk dari sela-sela jendela. Cahaya lampu gantung kristal yang temaram memberikan kesan klasik sekaligus melankolis, memantulkan bayangan panjang di antara deretan rak buku yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit.

Yudis duduk di kursi kebesarannya, menatap keluar jendela ke arah kegelapan malam yang pekat. Sebagai seorang kolektor barang antik dan kurator sejarah, hidupnya adalah tentang menghargai masa lalu, menjaga detail yang hampir terlupakan, dan mengendalikan narasi dari setiap benda yang ia miliki. Ia adalah pria dengan ketenangan yang mengintimidasi, seseorang yang selalu tahu bagaimana cara menempatkan setiap elemen dalam hidupnya agar terlihat sempurna dan berwibawa. Baginya, keindahan terletak pada presisi dan kontrol.

Di sisi lain ruangan, Arya sedang bersandar pada tangga kayu perpustakaan, jemarinya menelusuri punggung buku-buku kulit yang sudah mulai mengelupas. Arya adalah seorang mahasiswa arkeologi yang cerdas namun memiliki jiwa yang liar dan sulit untuk dijinakkan.

Yudis memutar kursinya, matanya yang tajam menatap Arya yang tampak gelisah di antara rak-rak buku. Ketegangan di antara mereka bukan lagi tentang sejarah atau artefak, melainkan tentang tarikan magnetis yang tak kasat mata namun terasa nyata di udara.

"Kau terlalu banyak mencari jawaban di masa lalu, Arya," suara Yudis rendah, beresonansi di keheningan perpustakaan. "Padahal apa yang kau cari ada tepat di depan matamu."

Arya menelan ludah, merasakan jantungnya berdegup kencang saat Yudis berdiri dan melangkah mendekat. "Masa lalu itu aman, Yudis. Masa depan terlalu... tidak terduga."

Yudis berhenti tepat di depan Arya, mengurungnya di antara tubuhnya yang besar dan tangga kayu. Ia mengangkat tangan, menyelipkan seuntai rambut Arya ke belakang telinga dengan gerakan yang sangat tenang namun penuh intimidasi. "Ketidakterdugaan adalah bagian terbaik dari kehidupan," bisik Yudis, sebelum ia menunduk dan mencium leher Arya dengan intensitas yang membuat napas pemuda itu terputus.

Arya mengerang rendah saat bibir Yudis berpindah dari leher ke tulang selangkanya, memberikan gigitan kecil yang membuat tubuhnya gemetar. Ia tidak lagi peduli pada tumpukan buku atau sejarah yang ia pelajari; dunianya kini menyusut menjadi hanya sentuhan Yudis yang panas dan menuntut.

Yudis mengangkat tubuh Arya dengan mudah, mendudukkannya di atas meja kayu jati yang kokoh di antara deretan buku kuno. Dengan gerakan yang efisien namun penuh gairah, ia menanggalkan pakaian mereka satu per satu. Saat kulit mereka bertemu, panas yang dihasilkan seolah mampu menguapkan kelembapan udara di perpustakaan itu. Yudis kemudian menghunjamkan dirinya ke dalam Arya dengan satu dorongan yang dalam dan mantap, membuat Arya memekik, mencengkeram bahu Yudis sambil menatap langit-langit dengan pandangan yang kabur oleh kenikmatan.

Ritme gerakan Yudis semakin intens, menghancurkan keheningan perpustakaan yang sakral dengan suara napas yang memburu dan gesekan kulit. Setiap hentakan terasa seperti penemuan arkeologis yang mendalam bagi Arya, menggali lapisan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia tidak lagi berusaha menahan diri; tubuhnya melengkung mengikuti setiap instruksi dari gerakan Yudis yang dominan.

"Yudis... lebih... ahhh!" rintih Arya, jemarinya mencengkeram pinggiran meja jati hingga kukunya terasa perih.

Yudis tidak memberikan jeda, ia justru mempercepat temponya, menatap tajam ke dalam mata Arya seolah ingin mengklaim jiwa pemuda itu sepenuhnya. Dalam satu dorongan yang sangat kuat dan presisi, mereka berdua mencapai puncak yang menghancurkan segala logika, meninggalkan mereka dalam keadaan lemas dan saling berpelukan erat di tengah aroma kayu dan sejarah yang kini terasa jauh lebih hidup.

Keheningan kembali menyergap perpustakaan, hanya menyisakan suara rintik hujan yang masih setia menghantam jendela. Yudis perlahan menarik dirinya, namun ia tetap memeluk Arya erat, membiarkan tubuh mereka yang berkeringat tetap bersentuhan. Ia mengecup pelipis Arya yang basah, sebuah gerakan yang jauh lebih lembut dibandingkan dominasi yang ia tunjukkan beberapa saat lalu.

Arya menyandarkan kepalanya di dada Yudis, mendengarkan detak jantung pria itu yang perlahan mulai kembali ke ritme normal. Ia merasa lelah, namun ada rasa puas yang menjalar di seluruh sarafnya, seolah-olah ia baru saja menemukan harta karun yang paling berharga di tengah tumpukan sejarah yang mati.

"Kau tidak akan bisa kembali ke buku-bukumu dengan pikiran yang tenang setelah ini," bisik Yudis dengan nada rendah yang penuh kemenangan.

Arya hanya tertawa kecil, sebuah tawa lemah yang penuh dengan penerimaan. "Mungkin itu memang tujuannya."





Tbc.

Continue Reading

You'll Also Like

3K 266 10
direbuti dua cogan awalnya risih tapi lama-kelamaan jatuh cinta🤭
1.4K 221 10
Dunia mafia tidak pernah memberi ruang untuk kelemahan. Namun bagi Eka Wahyu Santoso-Kiki, satu kelemahan itu memiliki nama. Dino Dwi Santoso. Setela...
6.4K 227 15
HANYA AUā— DON'T COPY āŒ Susah cari ide .. Lapak BxB ā—ā— Menceritakan tentang seorang remaja SMA di sebuah sekolah di Magelang yang diminta ikut les pr...
7.7K 609 6
menceritakan tentang seorang laki laki yang mencintai teman nya sendiri tapi dalam diam.... nggak suka skip beb bƗb
Wattpad App - Unlock exclusive features