Sang Serigala dan Sang Viper
_______________________________________________
Hujan belum juga reda di London malam itu.
Di lantai empat puluh tujuh sebuah hotel warisan kolonial yang kini berdiri sebagai menara kaca, Alessandro De Luca menatap kota dari balik jendela. Jemarinya melingkar di sekitar gelas bourbon yang sudah setengah kosong, es batu di dalamnya mencair tanpa suara. Jas Givenchy-nya tersampir asal di sofa. Lengan kemeja putihnya tergulung sampai siku, menampakkan sebagian tato sayap elang-simbol keluarganya-dan noda darah yang belum sempat ia bersihkan.
Satu jam lalu, ia menembak seorang pria tepat di kepala.
Pria itu mengkhianatinya. Menjual informasi ke keluarga Volkov.
Volkov.
Nama itu meninggalkan rasa besi di lidahnya.
Ia meneguk bourbon-nya dan membiarkan sensasi membakar itu mengalir ke dada. Dari lantai ini, ia bisa melihat Sungai Thames yang hitam, lampu-lampu kota yang berkelap-kelip, dan bayangannya sendiri di kaca. Wajahnya tenang. Tapi di dalam, Serigala itu lapar.
Satu ketukan di pintu.
Alessandro tidak menoleh. "Masuk."
Langkah kaki. Ringan. Terlalu ringan untuk ukuran anak buahnya yang biasa.
Ia berbalik.
Perempuan itu berdiri di ambang pintu. Gaun hitam seleher. Rambut pirang pucat tergerai di bahu. Bibirnya merah delima, dan di tangannya ada sepucuk pistol yang mengarah tepat ke dada Alessandro.
"Selamat malam, De Luca," katanya, suara rendah dengan aksen Rusia yang kental. "Aku dengar kau membunuh orangku tadi."
Katerina Volkov.
Si Viper.
Alessandro meletakkan gelasnya di meja. "Orangmu," ulangnya datar, "seharusnya lebih pintar memilih pihak."
"Mungkin." Katerina tersenyum-senyum yang tidak mencapai matanya. "Tapi seperti kata pepatah Rusia, 'Orang bodoh hanya berguna ketika mati.' Jadi kau baru saja membantuku. Terima kasih."
Pistolnya tidak bergerak satu inci pun.
Alessandro melangkah mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Sampai moncong pistol itu nyaris menyentuh kancing pertama kemejanya.
"Kalau kau mau menarik pelatuknya," bisiknya, menatap lurus ke mata biru Katerina yang sedingin Laut Baltik, "lakukan sekarang. Karena begitu aku bergerak, kau tidak akan sempat."
Detik-detik berlalu. Detak jantung. Tarikan napas. Hujan mengguyur kaca.
Katerina tidak menembak.
Mereka berdiri dalam ruang yang dipenuhi kebencian dan sesuatu yang lain-sesuatu yang belum punya nama. Jarak di antara mereka begitu pendek, seolah-olah dunia bawah tanah Eropa terlalu sempit untuk menampung dua monster sekaligus.
"Lain kali," Katerina akhirnya bersuara, pistolnya tetap teracung, "aku tidak akan memberimu peringatan."
Ia mundur perlahan. Senyum masih bertahan di bibirnya. Lalu menghilang ke balik pintu, meninggalkan aroma parfum mawar dan ancaman yang menggantung di udara.
Alessandro berdiri diam untuk waktu yang lama.
Kemudian ia tersenyum-senyum pertama yang berbeda. Senyum seorang Serigala yang baru saja menemukan lawan yang sepadan.
Ia tidak tahu, di luar sana, Katerina yang sudah masuk ke dalam lift juga tersenyum dengan cara yang sama.
Malam itu, hujan di London belum reda.
Dan dua mahkota baru saja memulai tarian yang akan menghancurkan mereka berdua.
---
Jangan lupa ⭐