KALAU MEMANG JODOH

By Watermellow_cake

62 18 3

Bagi Naruto, pertemuan pertama dan jatuh cinta bisa terjadi di momen yang sama jika kita membicarakan Hinata... More

Jatuh Hati

First Sight

37 10 2
By Watermellow_cake

Hinata menatap bayangannya yang terpantul di cermin besar kamar mandi. Malam ini perempuan itu memilih sebuah midi maxi black dress dengan panjang di bawah lutut yang bernuansa vintage. Berpotongan mengembang serta kerah V lebar dengan aksen pita di pundak, membuat tampilan Hinata sangat menawan. Gayanya makin elegan dengan tambahan aksesori kalung mutiara, sarung tangan berbahan tulle dan lipstik merah bata.

Setelah memastikan dandanannya maksimal, Hinata keluar dari toilet ballroom hotel Haruno. Masih sama seperti sebelum-sebelumnya, Hinata dengan cepat merasa asing dari sekitar. Ino Yamanaka dan Sai Shimura sudah pasti berkeliling bertemu dengan orang-orang. Hinata memaklumi hal itu karena mereka baru saja menikah.

 
Di saat yang sama, Kizashi Haruno yang beberapa rambutnya telah memutih—berdiri dari meja VVIP dan mengetuk gelasnya dengan sendok beberapa kali. Tanpa agenda utama, acara malam ini akan dimulai dengan pemotongan kue ulang tahun Haruno Corporation. Charity event tahunan ini memang salah satu cara Haruno Corporation untuk merayakan tahun demi tahun masa berdirinya.

 
Hiashi Hyuuga—ayahnya, sedang sibuk mengobrol dengan jajaran tamu-tamu VVIP malam ini. Hinata melihat Kizashi Haruno yang tak henti menepuk-nepuk bangga pundak Sasori—putra sulungnya. Dari cara pria itu membungkuk atau mengangguk sambil mendekap tangannya di dada, Hinata tahu pria itu mendapat banyak pujian hari ini.

Tanpa sadar Hinata tersenyum sendiri. Senang rasanya melihat Sasori—mantan kekasihnya dulu sewaktu remaja, sekarang sudah dipercaya untuk memimpin salah satu perusahaan keluarganya. Kehidupan pria itu terlihat sempurna dengan kehadiran seorang putri cantik yang menggemaskan dari pernikahannya dengan Shizuka Nadeshiko.

Hinata memilih duduk di meja sudut sambil mengudap makanan. Ia malas berbasa-basi dengan para lelaki yang mendekatinya dari tadi. Untung saja kue-kue kecil hidangan acara kali ini cukup menarik dan berbeda dari biasanya.

Hinata lalu melemparkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ia melihat putri bungsu dari pemilik acara malam ini yaitu Sakura Haruno—teman satu angkatan dengannya saat SMA dulu. Saat ini, gadis itu sedang bersama dengan seorang pria asing yang memiliki postur tubuh yang sempurna.

 
Tampannya ... mungkin dia kekasih Sakura, pikir Hinata.

Tak lama, Hiashi Hyuuga datang menghampirinya bersama seorang pengusaha muda yang berdarah campuran Austria. Kata sang ayah, Pein Yahiko—si pengusaha muda itu berniat bekerja sama dengan perusahaan Hyuuga Group. Namun, lagi dan lagi, Hinata merasa ayahnya punya niat lain belakangan ini dengan memperkenalkan beberapa pria padanya.

Setelah cukup berbasa-basi, Hinata kemudian meninggalkan Pein Yahiko duduk sendirian di sana. Dia tadi pamit padanya untuk pergi ke toilet, dari obrolan pertamanya saja Hinata sudah malas. Dia tidak menyukai cara pria itu yang terlalu narsis, seolah-olah ia adalah wanita paling beruntung jika bersanding dengan seorang Pein Yahiko.

 
"Keruh sekali wajahmu, by the way siapa lelaki yang baru saja kau tinggalkan, Hinata?"

 
Tiba-tiba saja Ino menghalangi jalannya, bersama dengan Sai yang mengulurkan gelas berisi wine kepada Hinata.

Perempuan itu langsung meneguk minumannya sekaligus, kemudian mengerang sebal. "Biasalah ..." decaknya.

 
"Dikenalkan oleh paman Hiashi? Lagi?" tanya Ino sambil tertawa kecil.

 
Hinata mengangguk sebentar, sebelum bertanya, "Apa kalian masih lama di sini?" tanyanya langsung dan dibalas dengan anggukkan dari wanita di depannya. "Kalau begitu, aku duluan, ya. Mau mencari udara segar!" tambahnya kepada sepasang suami istri itu.

 
"Hei ... kau ini, tidak seru sekali! Memangnya kau tidak mau menunggu acara lelangnya?" kata Ino, berusaha menahan kepergiannya.

 
Hinata menggeleng lesu. Ia melempar pandangan meringis pada kedua sahabatnya itu dengan gestur memohon bantuan pada mereka jika nanti sang ayah mencarinya. Ino pun hanya mencebik dan mengangkat kedua bahu.

 
"Tenang saja, nanti aku yang mengatakannya pada paman Hiashi," ujar Sai sambil menatap istrinya. "Ya, kan, Sayang? Kasihan Hinata, nanti dia demam meriang kalau terlalu lama di sini," sindirnya dengan nada meledek dan tersenyum manis.

 
Hinata sontak tertawa kecil mendengarnya. "Sialan kau!"

 
Ino berdecak. "Memangnya kau mau kemana, sih?"

 
Hinata tersenyum menyeringai. "Rahasia," jawabnya iseng.

[[]]

 
Naruto menaiki satu per satu anak tangga menuju rooftop hotel Haruno dengan perasaan getir. Beberapa kali ia menatap langit malam yang dipenuhi begitu banyak bintang berkilauan. Ada kebisuan di tengah ramainya para tamu undangan. Menembus angin dingin yang membisikkan kehampaan. Pria itu menyembunyikan kedua telapak tangan ke dalam saku celananya, berusaha melawan angin malam yang lumayan kencang.

 
Naruto senang menikmati pemandangan kota dan hiruk pikuk di sekitarnya. Di tengah keramaian itu, Naruto merasa sendiri. Terkadang ia menikmati kesendirian itu. Namun, terkadang Naruto benci dengan suara embusan angin yang seolah mengejeknya. Menyadarkannya akan sepi. Hampa.

Pria itu lalu mengeluarkan sebungkus rokok dan menyulutnya sebatang. Ia menatap lampu-lampu Tokyo dari tempat berdirinya saat ini. Hawa dingin yang disertai angin malam membuat Naruto ingin selalu mengisap rokok agar tubuhnya terasa hangat.

"Sumimasen ... boleh saya minta rokoknya?"

 
Naruto sontak menoleh dan mendapati seorang wanita berdiri cukup renggang di sebelahnya, ikut menatap deretan lampu di kejauhan dengan kedua tangannya yang bertumpu pada pagar pembatas.

Naruto terdiam sesaat ketika menatapnya, lalu memperhatikan rokoknya sendiri dan menatap wanita itu lagi.

 
Dalam keterbatasan cahaya, Naruto memindai sebentar wanita yang berdiri di sampingnya. Mata bulatnya seperti puppy eyes dengan alis sedikit tebal yang melengkung rapi, serta pipinya yang agak tembam. Hidungnya juga mancung, lalu bibirnya yang mungil namun terlihat penuh. Secara keseluruhan karakteristik wajahnya tampak lembut dan terlihat innocent.

 
Rambut perempuan itu sekelam malam, yang super panjang hingga sepinggang. Menggunakan pita berbahan beludru dengan rambut di ikat setengah, membuat tampilannya terasa feminim namun tetap meriah. Tinggi badannya terlihat standar, tapi cukup semampai dengan postur tubuh yang ideal. Penampilan perempuan itu sungguh menawan.

 
Hal gila lainnya, Naruto tidak pernah bisa merasakan debaran yang begitu kuat setiap ia dekat dengan perempuan lain, selain dengan Sakura—sahabat yang sudah mencuri hatinya. Sampai ketika ia bertemu dengan wanita ini sekarang.

"Boleh!" jawab Naruto dramatis. "Maksud saya, silakan ..." lanjutnya dengan gestur yang berubah sedikit canggung, ia menyadari sikapnya yang berlebihan.

 
Refleks Naruto mengeluarkan lagi bungkus rokoknya dan menyalakan lighter untuk wanita di sampingnya.

 
"Terima kasih," ujar wanita itu tersenyum ramah.

 
Hinata sudah lupa kapan terakhir kali dia menyentuh nikotin. Pada isapan pertama ia langsung terbatuk-batuk. Namun, lama kelamaan ia mulai terbiasa lagi.

 
Naruto menelengkan kepalanya dengan dahi yang berkerut lembut, ketika menatap ekspresi wanita itu yang tampak meragu. Namun, akhirnya pria itu tertawa kecil. Naruto memperhatikan Hinata dengan saksama. Di lihat dari gaun dan aksesori Hinata, sepertinya ia tipe-tipe yang mengerti fashion. Naruto tahu dari sekilas penampilannya dan clutch bag yang tersampir di lipatan lengannya, bahan pakaiannya saja kelihatan bukan hasil pabrik konveksi sembarangan.

"Nona, Anda sendirian saja?" Naruto bertanya sambil celingukan. Ia pikir tidak ada orang lain selain dirinya di atas sini.

 
Hinata mengangguk tersenyum sebagai jawaban. Kemudian ia mengembuskan asap rokoknya kuat-kuat ke udara.

Wah, perempuan ini tidak ada takut-takutnya sendirian di rooftop tengah malam begini, kata hati Naruto.

"Tidak ikut acara lelang di bawah?" tanya Naruto lagi. Pria itu menilai dari penampilan Hinata, jika wanita di sampingnya ini adalah salah satu tamu undangan yang sama dengannya.

Hinata menoleh ke arahnya dengan dahi berkerut seolah-olah pertanyaan pria itu sedikit aneh. Naruto pun tersenyum tipis dan mengedikkan bahunya. "Dengan penampilan yang sekarang ini, saya pikir mungkin Anda juga salah satu tamu undangan di acara tahunan Haruno Corporation yang sedang berlangsung di bawah sana."
 

Mendadak Hinata meringis dalam hati kala menyadari siapa pria itu. Ia mengingat wajah pria di sampingnya ini adalah pria yang ia lihat selalu menempel dengan Sakura Haruno saat pesta tadi.

"Anda sendiri bagaimana? Tidak menikmati pesta di bawah?" Hinata menjawab dengan pertanyaan.

Naruto mengangkat sebelah alisnya, kemudian tertawa kecil. Dia merasa lucu sendiri karena pertanyaan tersebut, seakan menjawab bahwa wanita di sebelahnya ini pasti sudah melihatnya di acara pesta tadi.
 

Ketika Naruto berusia sepuluh tahun, panti asuhan tempat tinggalnya sempat mengalami keterpurukan dalam hal keuangan. Dia dan anak-anak lainnya terancam tidak bisa melanjutkan sekolah. Namun, seperti sebuah keajaiban dari langit, keluarga Haruno datang mengulurkan bantuan dan membantu panti asuhan itu agar kembali stabil.

Kizashi Haruno seperti melihat potensi besar dalam diri Naruto. Anak itu sedang belajar menggambar sebuah bangunan ketika Kizashi tidak sengaja melihatnya. Sejak saat itu, Naruto menjadi anak asuh dari Kizashi Haruno.

 
Naruto sangat menghargai keluarga Haruno yang sudah dengan baik hati mengundangnya ke acara mewah tersebut. Tapi, tetap saja tidak membuat pria itu merasa lebih baik, Naruto merasa terasing sendiri.

"Ya begitulah ..." jawab pria itu tersirat, seraya tersenyum sumir. Ia lantas mengganti topik lain dengan cepat untuk menghindari alasannya.

 
Saat Naruto sedang bicara, diam-diam Hinata memindai penampilan pria jangkung itu. Dari awal ia sudah menyadari jika pria di sampingnya ini adalah seorang yang berdarah campuran. Setelan jas yang dipakainya tidak mencolok seperti yang lain, tapi tampak gagah di tubuh atletisnya. Hinata menyukai bibir tipis yang agak lebar namun berisi dan batang hidungnya yang tinggi. Alisnya sempurna, tebal dan melengkung indah, membingkai mata birunya yang teduh. Rambut pirangnya dipangkas pendek dan rapi. Struktur wajah pria itu terlihat jantan tapi elegan.

Penampilan pria ini sederhana, tapi itu adalah keindahan yang sempurna di mata Hinata.

Sayang sekali, pria ini sudah menjadi kekasihnya Sakura, kata hati Hinata asal, setengah bercanda.

"Saya pikir dengan bersama Sakura, Anda bisa lebih nyaman di dalam sana," ujar Hinata blak-blakan, sembari mengisap rokoknya dalam-dalam.

Sontak Naruto menoleh dan menautkan keningnya sebentar. "Sakura?" tanyanya bingung.

Naruto menatap Hinata keheranan sekaligus penasaran karena pertanyaan barusan. Dia juga sembari meneliti berapa kira-kira umur wanita di sampingnya itu, tampak seperti seumuran atau mungkin lebih muda darinya. Tebakan Naruto, wanita tersebut berusia sekitar pertengahan 20-an atau mungkin lebih dari itu, seperti dirinya dan Sakura.

"Uhm, Anda ... kekasihnya Sakura, kan?" tanya Hinata hati-hati, memastikan rasa penasarannya.

Naruto tidak segera menjawab. Pertanyaan barusan sekaligus menjawab tebakannya tadi kalau wanita ini mengenal Sakura, jadi sudah pasti mereka berdua saling mengenal. Pria itu kembali mengisap rokoknya, merasakan nikotin yang menjalar ke paru-parunya. Naruto malah tersenyum hangat yang membuat pola guratan samar di pipinya tampak sangat memikat, membuat pipi Hinata sedikit memanas.

Saat sedang asyik-asyiknya mengamati pria di sampingnya, Naruto kemudian menoleh. Umumnya, Hinata harus membuang muka dan pura-pura tidak terjadi apa-apa. Namun, rasanya itu justru akan membuat situasi menjadi canggung. Hinata pun memutuskan untuk tidak menghindar.

 
"Bukan. Kami hanya bersahabat," jawab Naruto terus-terang.

 
Mendadak hati Hinata terasa lebih ringan dengan topik yang sangat riskan ini. Tetapi, ia mengusahakan untuk bersikap sewajarnya.

"Oh," kata Hinata pendek, sambil tersenyum kecil.

 
Sudut bibir Naruto pun terangkat sedikit saat melihat respons cerah dari Hinata.

[[]]

 
Keheningan menyelimuti kemudian. "Anda kerja di sini?" tanya Naruto ingin tahu, karena mereka hadir di pesta yang sama.
 

Perempuan itu menoleh sekilas. "Tidak," jawab Hinata kalem.

Naruto mengangkat sebelah alis. "Kalau bukan di sini, lalu Anda kerja di mana?" tanyanya sedikit ragu.

 
"Di Hyuuga Group," jawab Hinata singkat.

 Naruto hanya manggut-manggut mendengarnya. Sama seperti Haruno Corporation, Hyuuga Group memang perusahaan yang besar di Jepang. Untuk bekerja di Hyuuga Group sangat sulit jika tidak punya kualifikasi yang mumpuni. Dan di daerah sana juga terkenal dengan kawasan elite.

Pantas saja penampilan wanita itu menarik sekali di mata Naruto. Visual wanita di sampingnya ini mungkin bisa masuk ke dalam salah satu jajaran aktris atau idol cantik yang sering ia lihat di layar kaca maupun media sosial.

 
"Ngomong-ngomong ... nama Anda siapa? Maaf ya, sudah mengobrol tapi lupa bertanya," kata Hinata sambil tertawa kecil, dia buru-buru mengulurkan tangannya dengan sopan.

 
Naruto pun ikut tersenyum lebar. Dia lantas membalas uluran tangannya dan mereka akhirnya saling berjabat. "Saya Naruto Uzumaki. Anda—?" tanyanya ingin tahu.

 
"Saya Hinata," kata wanita itu otomatis. Naruto diam menunggu karena berpikir wanita itu akan melanjutkan nama belakangnya, namun dia tak kunjung mengatakan. Hanya satu kata untuk namanya.

Tetapi, sesaat kemudian Hinata mendadak terdiam. Nama pria itu terdengar seperti toping mie ramen, mengingatkannya pada kucing liar berwarna orange yang sering muncul di kedai ramen sederhana langganannya. Hinata sering memberi kucing liar itu toping Naruto yang ada di mangkuk ramennya, sehingga ia terbiasa memanggil kucing liar itu dengan sebutan Naruto.

Natsu, asisten rumah tangganya yang sering mengajak jalan-jalan Mika—kucing jenis Pekinese, kesayangannya ke area pemukiman di sekitar kedai ramen sederhana langganan Hinata. Katanya, Mika suka manja luar biasa kalau Naruto, si kucing jantan itu mendekatinya. Natsu juga sering membagikan video Mika dan kucing liar itu padanya.

 
Wah, kenapa bisa kebetulan sama begitu, sih? Lucu sekali, kata hati Hinata.

Ada keheningan sesaat, mereka saling memandang sekilas. Hingga Hinata tertawa lalu badannya terguncang-guncang.

Naruto melihat kerutan-kerutan yang terbentuk di hidung Hinata ketika ia tertawa lepas, juga mata bulatnya yang melengkung membentuk bulat sabit. Menggemaskan sekali. Naruto memperhatikan tulang selangka dan posisi bahu wanita itu yang agak membungkuk hingga payudaranya sedikit menyembul. Entah kenapa Hinata punya gestur yang menarik.

"Hinata-san, ada apa?" tanya Naruto keheranan, sambil berusaha mengalihkan pikirannya dari tulang selangka dan dada wanita itu.

 
"Hah?" Hinata membelalakkan mata, seolah tersadar dari sikapnya barusan. "Oh, bukan apa-apa. Hanya saja nama Anda mengingatkanku pada kejadian lucu. Maaf, ya," jawab Hinata salah tingkah.

 
"Namaku?" Naruto mengerutkan dahi, lalu ikut tertawa kecil karenanya. Rokok pria itu sudah habis dan dia membuang puntungnya, lantas menginjaknya hingga padam.

 
"Kata nenek TSunade—ibu kepala Panti, saat itu mereka menemukanku ketika terbawa arus sungai yang deras waktu umurku sekitar dua tahun, dan ajaibnya masih bisa selamat. Satu tahun berlalu dengan penyelidikan orang hilang, namun tidak ada petunjuk yang berarti tentang siapa diriku yang sebenarnya. Hanya kalung yang melekat di leherku dengan lambang spiral yang tampak seperti pusaran air. Mendiang kakek Jiraiya—suami dari ibu kepala panti, akhirnya yang memberiku nama 'Naruto' saat ia sedang menikmati semangkuk ramen. Jadi, begitulah ceritanya hingga nama Naruto Uzumaki itu tercipta."

 
Hinata terkesiap mendengar penuturan jujur pria jangkung itu. Mendadak hatinya diliputi oleh perasaan bersalah. "Saya turut menyesal atas apa yang telah terjadi pada Anda ... maaf, saya tidak bermaksud seperti itu. Sungguh, saya betul-betul tidak punya niat untuk mencela nama Anda, Naruto-san," akunya dengan nada sungkan.

Naruto mengangguk tersenyum. "Aku tahu, tidak apa-apa," katanya menenangkan. "Itu sudah berlalu, aku mengerti karena arti dari namaku—Naruto yang sering disalahpahami sebagai toping mie ramen," balasnya hangat. "Lagi pula ramen itu makanan favoritku, jadi santai saja," tambahnya kemudian.

Hinata melebarkan mata sesaat, rasanya mendadak tak punya muka karena merasa tertangkap basah. Lalu, buru-buru menundukkan pandangannya dari mata sebiru samudra yang seolah bisa menariknya hingga ke dasar lautan. "Gomenasai ...."

 
Dahi Naruto berkerut lembut saat melihat Hinata yang masih merasa bersalah padanya. Pria itu lantas mengubah topik untuk merubah suasana. "Hinata, kenapa kau sendirian di sini? Tidak kedinginan?" tanya Naruto lembut, tanpa sadar panggilannya mendadak berubah kasual.

Hinata menoleh dan tersenyum kecil. Wanita itu lantas menyelipkan telapak tangannya di lipatan lengan, dan satu tangan yang lainnya bergerak naik. Hinata kembali mengisap rokok dan mengembuskan asapnya kuat-kuat ke udara.

 
Suhu malam itu cenderung dingin untuk ukuran kota Tokyo di penghujung musim panas. Angin dingin yang berembus tersebut cukup membuat tengkuk dan tangan Hinata kedinginan. Ia pun baru menyadari kalau Naruto sudah merubah sebutan untuk dirinya sendiri dengan kasual sejak bercerita tadi.

 
"Ehm ... lumayan sih. Entah kenapa, aku merasa kesepian di pesta yang meriah tadi," jawab Hinata terus terang, ia pun ikut mengubah panggilannya supaya terdengar lebih akrab.

Bersamaan dengan itu, Naruto melepaskan jasnya dan kemudian menyampirkannya di bahu Hinata yang terlihat kedinginan.

Sontak dada Hinata bergemuruh karena perhatian kecil dari pria di sampingnya. Hinata tersenyum lembut sebagai ungkapan terima kasih padanya.

"Apa kau tidak suka dengan keramaian?" tanya Naruto tiba-tiba.

 
Seketika raut wajah Hinata tampak sedikit murung. "Bukan seperti itu. Tidak peduli mau seramai apa pun di sekitarku, mendadak rasanya bisa berubah seperti asing. Entah karena hal lain atau karena kenangan-kenangan manis dan pahit yang bermunculan satu per satu dalam pikiranku. Dingin. Sesak," jawab Hinata dengan nada yang terdengar pahit, kemudian ia mematikan rokoknya.

Naruto terperangah dengan perkataan Hinata. Mata samudranya menelisik mata jernih wanita di sampingnya. Seperti mencari-cari celah untuk mengenal Hinata lebih dekat. Dua orang yang seperti kehilangan harapan dan hanya mengikuti arus kehidupan, akhirnya bertemu. Hampa dan senyap.

 
Pria itu malah tertawa kecil. Tawanya pun terdengar hambar. "Aku tumbuh besar tanpa tahu siapa orang tua kandungku. Sepi, seperti ada lubang di dalam hatiku yang kosong, lalu terisi angin. Rasanya beku dan hening."

 
Naruto mengeluarkan sebungkus rokok dan korek, lalu menyulutnya lagi. Kemudian ia melanjutkan, "Tapi, meskipun begitu terkadang aku dilanda dorongan untuk mengetahui, seperti apa sih kedua orang tuaku? Bagaimana wajah mereka? Apakah aku mirip dengan ayah ataukah mirip ibu?" Kegetiran menjalari suaranya.

 
Informasi yang tidak pernah Naruto bagi kepada orang yang baru dikenalnya. Pria itu berani berbagi isi hatinya karena Hinata lebih dulu yang mulai membuka dirinya. Entah kenapa Naruto merasa aman dan nyaman bercerita padanya. Mata biru samudra Naruto bertemu dengan mata bening mutiara Hinata. Tatapannya hangat dan ramah.

 
Hinata membalasnya dengan senyum sumir. "Aku juga baru kehilangan ibuku beberapa waktu yang lalu. Dia adalah panutanku, orang terdekatku. Rupanya kita berdua adalah orang-orang yang terluka, ya ..." kata wanita itu dengan lirih sekaligus simpatik.

 
Selama sepuluh menit kemudian mereka hanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Naruto sengaja menghadap ke arah lain ketika mengembuskan asap rokoknya agar tidak mengenai Hinata.
 

"Dari kecil aku besar di panti asuhan. Tiap satu bulan sekali, aku pasti akan menyempatkan diri untuk menjenguk anak-anak dan ibu kepala panti asuhan di tempat tinggalku yang dulu," ungkap Naruto dengan senyum tipis.

"Memang di mana tempatnya, Naruto-kun?" tanya Hinata sambil menghadapkan tubuhnya pada pria itu.

 
"Di Kyoto."

 
"Wah ... aku juga pernah beberapa kali ke sana kalau sedang merasa bosan dengan pemandangan gedung-gedung di sini," ucap Hinata kepada Naruto. "Arashiyama Bamboo Grove, hutan bambu yang indah dan populer di kalangan wisatawan. Kemudian ada Gion; Distrik geisha yang terkenal dengan rumah-rumah kayu tradisional. Sudah pasti tempat itu tidak mungkin terlewatkan oleh para pelancong yang datang ke Kyoto."

 
Naruto menoleh sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Bukankah di sana juga terdapat banyak kuil, ya? Seperti Fushimi Inari Taisha, kuil Shinto yang terkenal dengan ribuan gerbang torii merah. Lalu, ada Heian Shrine, kuil Shinto yang dibangun untuk memperingati ulang tahun Kyoto yang ke 1100 tahun," lanjut Hinata dengan nada bersemangat. "Selain itu ada Kinkaku-ji, kuil Buddha yang terkenal dengan bangunan emasnya yang indah. Serta, Kiyomizu-dera, kuil Buddha yang menjadi situs warisan dunia UNESCO."

 
Naruto menatapnya dengan senyuman hangat saat Hinata masih terus berbicara. "Dan jangan lupa di sana juga ada Nijo Castle yang dibangun tahun 1600-an untuk kediaman shogun Tokugawa dan Kyoto Imperial Palace, istana tempat tinggal kekaisaran Jepang yang terdahulu hingga tahun 1800-an," kata Hinata lagi.

 
"Oh, wisata kuliner di sana jangan ketinggalan! Pasar Nishiki, pasar yang menawarkan berbagai kuliner otentik seperti takoyaki, yuba (kulit tahu), teh sencha dan matcha khas Kyoto yang berkualitas tinggi. Terus, ada juga beberapa restoran bersejarah yang menyajikan Kaiseki dengan sentuhan klasik yang mempertahankan tradisi lama," kata Hinata dengan nada penuh semangat, menutup cerita panjangnya. Hinata tertawa kecil mengingat kenangannya ketika berlibur di sana.

 
Naruto ikut tertawa renyah mendengar ceritanya. Merasa takjub dengan suasana hati Hinata yang berubah dengan cepat.

"Kau suka kulineran jika sedang traveling?" tanyanya. Mata pria itu mendadak berkilat-kilat mendengar cerita Hinata yang tahu banyak soal kota tempat asalnya.

 
Hinata mengangguk ringan. "Biasanya jika sedang traveling, aku lebih suka menikmati street food-nya, baik di dalam atau di luar negeri. Tapi, entah kenapa jika di luar negeri itu ... ya, terutama benua Asia, beda gurihnya dengan masakan di sini. Seperti bumbu mereka cenderung lebih kuat dengan aroma yang pekat, mirip tapi sebenarnya beda sih," terangnya sambil mengingat-ngingat lagi kenangan perjalanannya. "Lain lagi kalau berkunjung ke Eropa atau Amerika, rasa masakan mereka cenderung light," tambahnya. Kemudian, ceritanya mengalir begitu saja kepada pria yang baru ia kenal malam ini.

Naruto tersenyum hangat kala melihat Hinata yang mendadak jadi bersemangat. "Kau sering ke luar negeri, ya?"

 
Lagi, wanita itu melihat kilat mata biru Naruto yang menyala-nyala mendengar cerita dirinya ketika di luar negeri. Rasanya seperti di dengarkan.

 
Hinata mengangguk tersenyum, namun tampak sedikit canggung. "Uhm ... biasanya dalam setahun aku pasti pergi liburan ke luar negeri sih."

 
Naruto ber-oh panjang dan menganggukkan kepala sekilas. Dia tersenyum tipis saat menyadari bahwa wanita di sebelahnya ini memang berasal dari keluarga berada.

 
"Aku sih belum pernah pergi ke Hungaria dan Republik Ceko. Hanya pernah dengar kalau di Hungaria itu seperti negeri dongeng karena arsitektur bangunannya, dengan bahasa mereka yang unik dan sulit di Eropa. Juga, Republik Ceko ini selain terkenal dengan negeri seribu kastil dan seratus menara, Ceko juga menjadi jantungnya Eropa karena lokasi geografisnya yang strategis di Eropa Tengah. Dan, ya ... dua negara itu masuk dalam list perjalananku," balas Naruto terus terang.

 
Pria itu terlihat seperti orang yang suka menanggapi ketika orang lain berbicara, sehingga Hinata senang mengobrol dengannya.

"Pilihan yang bagus. Atmosfer kota Budapest dan Praha memang sungguh memukau. Naruto-kun, setidaknya sekali seumur hidup kau harus ke sana! Aku juga bukan hobi sih, hanya ya ... menikmati sekali kalau sudah jalan-jalan. Banyak berpikir dan belajar, juga banyak makan," cerita Hinata sambil tertawa kecil.

 
Mata bulat Hinata yang cantik itu sekarang menyipit. Membuatnya terlihat semakin manis. "Menambah wawasan juga. Jadi, kalau tiba-tiba bussines trip atau bertemu orang asing, aku tidak culture shock. Tahu bagaimana cara bersikap," katanya lagi.

 
Naruto membalasnya dengan senyum simpul. Hinata suka culinary dan traveling, Naruto akan mengingat itu dengan baik.

Cara Hinata bercerita tentang cita rasa makanan dan kecintaannya akan jalan-jalan terdengar menarik di telinga pria itu. Sangat kontras dengan kesedihannya yang lain. Wanita yang satu ini seperti orang yang tahu caranya menikmati hidup dan punya pandangan hidup. Bukan cuma mengikuti tren masa kini, pikir Naruto kagum.

 
Hinata menatap ponselnya untuk kedua kalinya dalam empat puluh lima menit. Waktunya untuk pulang, tadi sebelum naik ke rooftop Hinata menelepon sopir pribadinya untuk datang menjemput.

 
Hinata baru saja mendapat pesan dari sopirnya yang mengabari jika lelaki paruh baya itu sudah tiba dan sekarang berada di basemen hotel. Karena itu, dia memberanikan diri untuk menunggu di rooftop hingga sopirnya tiba.

Menurut Hinata, saat ini rooftop adalah tempat yang paling tepat agar terhindar dari sang ayah dan beberapa pengawalnya. Entah kenapa, tempat ini terlintas begitu saja dalam pikirannya.

 
Naruto tersenyum saat menatapnya. Baru akan bertanya soal kekasih, tapi Hinata sudah duluan membuka mulut.

 
"Naruto-kun, sepertinya aku harus pergi karena sudah ditunggu di parkiran. Duluan, ya ..." Hinata melepaskan jas milik Naruto dan menyerahkan kembali pada pemiliknya.

Bibir Naruto mendadak kelu. Lupa mau bicara apa, yang keluar dari mulutnya hanya, "Oh, begitu. Baiklah, hati-hati ya ...."

 
Okaasan ... pria yang baru saja aku temui malam ini, mendengarkan ceritaku sebaik dirimu, kata Hinata dalam hati.

 
Hinata mengangguk tersenyum sebagai jawaban. Kemudian, wanita itu melangkah menjauh dan berjalan menuju pintu rooftop.

 
Hanya satu informasi yang pria itu tangkap, Hinata bekerja di Hyuuga Group, daerah pusat bisnis Ibu Kota.

 
Masalahnya, aku tidak punya teman atau kenalan di tempat dia. Tidak mungkin juga aku tiba-tiba bertanya kepada Sakura-chan. Sial! gerutu Naruto dalam hati.

Entah dorongan dari mana tapi Naruto sontak ikut bergerak, ia berlari kemudian untuk menghalangi jalan Hinata yang hampir mencapai pintu rooftop.

 
"Hinata!" tahan Naruto buru-buru.

 
Dia mendongak dan menatap Naruto dengan tatapan bingung. "Ya?"  

 
Pria itu terdiam sebentar, seolah sedang mempertimbangkan banyak hal.

 
Naruto berdeham untuk menutupi kegugupannya. "Ehm, aku boleh minta nomor kontakmu??" tanyanya sedikit ragu, sembari mengusap belakang kepala. Antara malu dan tidak sabar, rasanya campur aduk di dalam benaknya.

Dahi Hinata berkerut sebentar. "Untuk apa ya, Naruto-kun?" ujarnya balik bertanya.

 
Astaga, Hinata ... ya, memang sembrono sekali sih sebenarnya aku langsung bertanya begini. Kita berdua kan baru saja kenal. Baru lho ... baru juga mengobrol sekali ini, keluh Naruto dalam hati.

 
Otak pria itu seketika berputar cepat, berusaha mencari-cari alasan. Dan hanya alasan ini yang keluar dari bibirnya yang tipis dan lebar namun berisi.

 
"Untuk bertanya-tanya saja soal tempat yang bagus dikunjungi kalau ingin liburan ke luar negeri," jawab Naruto akhirnya.

Asli, bodoh sekali sih aku, tidak bisa main halus! Baka! Naruto memaki dalam hati.

 
Dalam keterbatasan cahaya, Naruto bisa melihat pipi wanita itu sedikit memerah. Hinata tampak tersenyum malu, namun tak lama kemudian ia lantas memberikan nomor teleponnya pada Naruto.

[[[ ]]]

Continue Reading

You'll Also Like

21.3K 3.7K 25
Disclaimer Masashi Kishimoto ... Lelaki baik yang selalu tersenyum, berprilaku lembut serta sopan. Begitulah image yang Naruto ciptakan didepan orang...
55.5K 3.2K 21
[OPEN PRE-ORDER] [Terbitan Gramedia] Warning!!! Cerita ini adalah lanjutan dari Daddy Min milik @azzahidahqonita Jadi bagi yang belum baca Daddy Min...
THE OLD SOUL By ‎ ‎

General Fiction

476 82 3
Mahali, seorang perempuan dengan kehidupan yang diimpikan oleh banyak orang. Segala yang perempuan itu miliki tampak begitu indah, menggoda, dan memb...
680K 70.5K 23
Lari dari calon suami yang sudah beristri enam, malah terjebak dengan Duda beranak dua. Entah kesialan atau keberuntungan bagi Uzumaki Naruto yang t...
Wattpad App - Unlock exclusive features