Malam yang tenang, tidak biasanya malam hari di kos setenang ini. Pasti selalu ada sumber suara yang memulai kericuhan, entah itu Septian, atau yang lainnya.
Radit sedang berada di dapur. Ia masih tak berani membuka surat dari Satya, ia masih sangat berantakan, hatinya hancur sekali.
Tapi untuk beberapa saat, ia berpikir.
"Itu barang terakhir yang bang Satya kasih. Kalau gue gak buka.. sama aja gue ga sayang bang Satya.."
Gumamnya pelan. Lalu akhirnya ia beranjak dari dapur, dan pergi ke kamarnya. Ia buka laci yang berada disebelah kasurnya, lalu perlahan-lahan dengan tangan yang gemetar ia genggam secarik kertas yang terlipat itu.
Dan setelah memikirkannya berkali-kali, akhirnya ia buka lipatan kertas itu.
"Radit,
Dit, gue tau lo pasti adalah orang yang paling berantakan, yang paling hancur. Tapi gue mohon, jangan anggap ini hukuman buat lo. Lo gak salah apapun sama gue, Dit. Gue kira kalau gue tahan sedikit sakitnya bakal bikin gue tetep hidup. Ternyata ngga.
Dit, jangan nyalahin diri sendiri atas semua yang telah terjadi ini ya. Gue pergi bukan karena kesalahan lo, tapi karena gue yang memang udah cape.
Radiitt, tetap jadi favorit nya bocil-bocil ya. Tetep jadi idaman ciwi-ciwi di komplek ini, hehe. Jangan kehilangan diri lo sendiri juga habis ini, lo punya hidup sendiri.
Inget satu pesan gue tadi, jangan menyalahkan diri sendiri atas semua ini.
Dit, lo punya mimpi, lo punya masa depan yang lebih baik nantinya. Jadi, habis ini fokus ke diri lo sendiri ya..
Tolong hidup lebih lama, Raditya Mahesa.
Tertanda, Satya."
Air matanya terjun begitu saja setelah perjuangannya menahan. Pikirannya sudah entah kemana pergi. Rasanya ia hidup tanpa pijakan, dunia sekitarnya menjauh.
"Bang.. maaf ya.."
—————————
Mendengar tangisan Radit yang begitu memilukan, Dirga semakin takut untuk membuka lipatan kertas yang sudah digenggam olehnya. Ia meremas sedikit ujung kertas itu. Perlahan, dengan nyali yang sedikit, ia buka kertas itu, dan mulai membaca.
"Dirga,
Dirga, pelawaknya kosan. Gue harap lo ga kehilangan senyum dan sifat ceria lo itu ya setelah ini. Anak kos masih butuh lo, masih butuh lawakan garing lo itu. Gue ga ngelarang lo sedih, tapi jangan lama-lama ya, kalau kelamaan, nanti gue sakit lagi disini.
Dirga, pelan-pelan aja ya sembuhnya, ga harus langsung ceria, ga harus langsung tersenyum juga.
Jangan lupa, dimakan tuh es krim yang gue beliin dikulkas, ga tau deh udah basi apa belum, gue beli dua minggu lalu tuh, hehe.
Dirrgaa, in another life kita ketemu lagi ya, sebagai sahabat, sebagai seseorang yang ceria. Kita ukir kisah baru lagi, dengan waktu yang lebih lama.
Having you in this life, I feel very lucky, Dirga.
Selalu jadi matahari yang paling bersinar dan ceria, ya. Dirga Wiratama.
Tertanda, Satya."
Dirga tak menangis. Aneh rasanya, ia yang paling perasa di kosan ini. Gampang menangis. Anehnya, ia tak menangis kali ini, seperti sudah mati rasa.
"Ini hukuman buat gue ya, bang.."
—————————
Semilir angin malam membelai pipi lembut Rangga. Terasa usapan dingin angin malam di permukaan pipinya.
Ia sedang duduk di balkon, menatap ke arah langit yang dipenuhi dengan bintang. Lalu didalam hatinya, ia berbicara.
"Disalah satu bintang itu.. pasti ada lo ya, bang."
Ia tersenyum tipis, masih merasakan keberadaan Satya meski jauh. Dan akhirnya, ia bisa membuka surat itu. Dengan pelan.
"Rangga,
Rang, ga perlu marahin gue lagi ya kalau gabisa bahasa isyarat. Gue udah ga bisa lu ajarin lagi soalnya, hehe.
Gue mau lihat lo senyum lagi, kejar mimpi lo yang sempat tertunda. Gue bangga pernah jadi bagian dari hidup lo.
Gue melepas semua beban masa lalu kita. Ga ada lagi marah, ga ada lagi sesak. Gue mau lo hidup tenang dan bahagia, melepas gue dengan ikhlas.
Jangan keseringan nangis ya, Rang. Sekarang udah ga ada tangan halus yang menghapus air mata lo itu.
Tapi inget, gue pergi bukan untuk menghilang. Lihat langit malam nanti, gue ada diantara bintang-bintang yang paling terang.
Makasih udah jadi bagian dari hidup gue ya, Rang. Ikhlas, ya? Maaf kalau perpisahan ini terlalu cepat. Gue sayang lo, dulu, sekarang, selamanya.
Kisah kita terukir abadi, di kosan itu, Rangga Theondra.
Tertanda, Satya."
Pas sekali, ia menatap ke langit yang masih banyak bintang-bintang.
Dan dia tersenyum lagi. Di antara yang lain, ialah yang paling ikhlas, dan akan melanjutkan sebagian hidupnya tanpa Satya. Tidak apa-apa, ia ukir lagi kisah barunya.
—————————
Septian duduk di ujung kasur. Udara dingin menusuk kulitnya. Tangannya menggenggam surat itu. Ia juga adalah salah satu yang paling ikhlas setelah Rangga. Ia tahu, menangisi Satya, tak akan membuatnya kembali.
"Gue buka pelan aja ya bang, kalo nangis maaf ya."
"Septian,
Gue tau kepergian gue mendadak dan menyakitkan. Tolong maafin gue kalau ada janji yang belum terpenuhi ya, gue udah terlalu sakit, serius deh.
Tetep jadi yang paling ceria ya, Iyan. Jadilah orang yang tangguh, kayak yang gue selalu gue ajarin. Dunia tuh luas, jelajahi dengan berani. Gue bakal selalu bangga sama lo.
Jangan cari gue ditempat gelap, cari gue di antara bintang yang paling terang. Atau cari gue di lagu favorit yang selalu kita nyanyiin dulu. Gue ga pernah benar-benar pergi.
Gue pergi bukan karena ga sayang, tapi gue tau ini yang terbaik. Kita ga bisa terus melukai, janji untuk nyembuhin hati lo.
Ada satu hal yang mau gue ucapin. Gue sayang sama lo, maafin gue kalau ada salah sama lo. Jangan dendam ya, jadikan ini titik awal lo untuk melangkah lebih ringan.
Selamat menjalani kehidupan baru, Septian Pradipta.
Tertanda, Satya."
Septian justru tidak menangis, ia tertawa kecil, mengingat semua kebaikan yang pernah Satya lakukan.
"Oke, gue cari lo diantara bintang-bintang itu. Awas kalau ga ada ya, Satya."
—————————
Tidak pakai panjang lebar, Vero langsung membuka surat itu tanpa memikirkan apakah ia akan menangis nantinya atau tidak. Yang jelas—ini barang terakhir dari Satya.
"Vero,
Eh ini nih manusia anti gempa gue. Gatau ya gue nanti lo nangis apa ngga pas ditinggal sama gue. Jangan nangis deh tapi, nanti gue ngikut disebelah lo. Serem deh.
Gue pergi, tapi bukan berarti hidup lo berhenti. Tolong ya, hidup dengan bahagia untuk gue juga, gue mau lihat lo senyum terus.
Mungkin surat ini ga pernah lo harapkan, ya? Tapi izinin gue mengucap maaf untuk semua luka yang pernah gue kasih ke lo. Gue pergi bukan buat lupain lo, tapi buat merelakan kita.
Setiap kecewa lo adalah penyesalan terbesar gue. Tapi, ada hal-hal yang emang harus selesai biar kita bisa tumbuh masing-masing.
Percaya deh, gue disini bahagia banget bisa ketemu Mama. Bisa peluk dia lagii kayak sebelumnya. Pelukannya masih sangat hangat.
Pokoknya lo harus tetep jadi manusia paling kuat dan anti gempa didunia ini ya. Bahagia terus.
Berbahagialah, Alvero Biandra.
Tertanda, Satya."
Vero tak banyak bicara, tapi untuk pertama kali setelah beberapa lama, ia tersenyum. Kali ini tulus, bukan karena dipaksa.
"Thank you, udah jadi bagian dari orang favorit gue ya, bang."
—————————
Dipta menatap lurus ke arah depan. Entah apa yang ia lihat, foto terakhirnya bersama Satya.. atau hanya kosong. Hanya ia yang tahu.
Dipta membuka secarik kertas itu, meski ia sangat takut akan kehilangan, ia tetap nekat. Demi Satya.
"Dipta,
Halo adik bungsu kesayangan gue. Bangun pagi yaa habis ini, jangan lupa belajar jalan lagii tanpa gue. Maaf ya hari ini ga ninggalin roti buat lo sarapan. Minta sama Radit yaa nanti.
Gue nulis ini bukan karena benci. Tapi karena gue sadar kita udah ga bisa tumbuh bersama lagi, lo berhak bahagia, begitu juga dengan gue. Pergi itu jalan terbaik supaya kita bisa saling menghargai. Makasih untuk cinta yang pernah ada.
Tolong simpan kenangan kita berdua dalam senyum ya adek, bukan dalam air mata. Hidup lo masih panjang, berbahagia lah tanpa gue.
Gue masih ingat suara ketawa lo yang lucu itu. Meskipun sekarang bakal jarang gue denger, percaya kalau gue akan selalu ingat itu.
Saat dirasa lo rindu, lihat ke arah bintang ya. Gue ada disana, menjaga tidur lo.
Makasih atas cinta yang pernah tumbuh, yang pernah ada. Maaf kalau gue pergi terlalu cepat, dan lo belum bisa menerimanya.
Kejar mimpi lo ya, Dipta Andrian.
Tertanda, Satya."
Dipta tak berkutik banyak. Tapi tulisan Satya diakhir, tentang mengejar mimpinya. Akan ia turuti, ia kejar setinggi apapun mimpinya.
"Makasih kak Satya, udah pernah hidup."
—————————
Kini, dari luar mungkin terlihat biasa. Namun dulu, kosan itu pernah terukir kisah manis berisi tiga belas orang. Kehilangan satu orang bukan berarti berhenti melanjutkan hidup. Tapi justru itu adalah awal untuk memulai kembali.
Untuk cinta yang pernah mereka saling beri, untuk bahagia yang pernah mereka salurkan. Dan untuk senyum yang tak akan pernah pudar.
Perpisahan ini hanya sementara, kita akan kembali bertemu ditempat yang lebih indah.
Terima kasih telah mengajarkan arti persahabatan yang sesungguhnya. Beristirahatlah dengan tenang, Satya.
Kamu akan selalu ada, dihati kita. Dulu, sekarang, dan selamanya.
Karena pada akhirnya, yang benar-benar tinggal… adalah kenangan yang tidak pernah pergi.
-END-
MAU NANGIS BANGET UDAH END HUHU, tenang nanti bakal ada beberapa side story dan bonchap.
Terimakasih untuk segala dukungan yang kalian berikan untuk anak kos, salam hangat, semuanya.