'TRUE lOVE'

By e_rosdyfi

57.6K 6.2K 1.1K

Valen adalah seorang miliarder muda yang memiliki segalanya, namun ia merasa hidupnya membosankan sampai ia b... More

Prolog & visualisasi
PART 01
PART 02
PART 03
PART 04
PART 05
PART 06
PART 07
PART 08
PART 09
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
PART 28
PART 29
PART 30
PART 32
PART 33
PART 34
PART 35
PART 36
PART 37
PART 38
PART 39
PART 40
PART 41
PART 42
PART 43
PART 44
PART 45
PART 46
PART 47
PART 48
PART 49
PART 50
PART 51
PART 52
PART 53
PART 54

PART 31

1K 118 26
By e_rosdyfi

Untuk merayakan 100 pengikut akun ini. Aku up lagii. Ayo yang belum follow, follow aku dulu biar bisa kasih kejutan up terus.

🍂🍂🍂

Hari-hari menjelang pernikahan Arbil dan Melly menjadi minggu paling "ajaib" di kediaman Dirgantara. Valen, yang biasanya hanya bicara soal grafik saham dan ekspansi pasar, kini punya hobi baru: membaca buku panduan kehamilan dan berburu buah-buahan asam di jam dua pagi.

Di kantor, suasana sedikit kacau karena Arbil sudah mulai mengambil cuti. Valen terpaksa menangani semuanya sendiri, namun fokusnya terbagi. Setiap sepuluh menit sekali, ia akan mengirim pesan singkat pada Mila.

Mila yang sedang santai di rumah hanya bisa geleng-geleng kepala melihat layar ponselnya. Ia sedang asyik membantu Melly mengecek daftar tamu terakhir lewat telepon saat Valen tiba-tiba muncul di pintu penthouse pukul empat sore—jauh lebih awal dari biasanya.

"Lho, kok kamu udah pulang?" tanya Mila kaget

Valen langsung menghampiri Mila, berlutut di depannya, dan menempelkan telinganya di perut Mila yang masih rata. "Pekerjaan bisa nunggu, tapi rasa kangenku sama kalian nggak bisa. Tadi aku kepikiran terus, takut kamu pingsan atau apa."

"Sayang, aku cuma hamil, bukan sakit parah," protes Mila sambil mengacak rambut suaminya. "Kasihan Arbil kalau kamu tinggal-tinggal terus kantornya."

"Tenang, Arbil sudah aman. Dia lagi luluran mungkin sama Melly," canda Valen sambil tertawa rendah.

Malam sebelum akad nikah, Valen dan Mila menyempatkan hadir di acara syukuran sederhana di kediaman keluarga Melly. Melly tampak sangat cantik dengan rona bahagia, sementara Arbil—untuk pertama kalinya—terlihat gugup setengah mati. Dasinya miring, dan ia terus-menerus memegang teks akad nikah.

Valen menarik Arbil ke sudut ruangan. "Bil, rileks. Lo mau nikah, bukan mau presentasi di depan investor Jerman."

Arbil menyeka keringat di dahinya. "Beda, Bos. Ini taruhannya dunia akhirat. Kalau salah sebut nama Melly gimana?"

Valen menepuk bahu sahabatnya itu dengan mantap. "Lo pasti bisa. Oh iya, satu lagi kado dari gue dan Mila. Karena lo bakal punya rumah baru, gue sudah daftarkan asuransi pendidikan buat anak pertama lo nanti. Jadi, lo nggak usah pusing mikir biaya sekolah kalau nanti anak kita seumuran."

Mata Arbil membelalak. "Len... lo bener-bener ya. Gue makin berasa jadi adek lo daripada asisten lo."

"Memang begitu, kan?" Valen tersenyum tulus.

Pagi harinya, gedung mewah itu sudah dipenuhi bunga mawar putih dan melati. Valen tampak gagah dengan beskap modern, sementara Mila memakai kebaya longgar berwarna salem yang senada. Eyang  juga hadir, duduk di kursi roda paling depan dengan wajah yang sangat segar—sepertinya berita kehamilan Mila adalah obat paling manjur di dunia.

Saat Arbil mengucapkan ijab kabul dengan satu napas yang mantap, seluruh ruangan bergema dengan kata "Sah!". Mila spontan menggenggam tangan Valen erat, matanya berkaca-kaca melihat sahabatnya akhirnya menemukan kebahagiaan.

"Nanti kalau anak kita lahir, kita bikin pesta yang lebih meriah dari ini ya?" bisik Valen di telinga Mila sambil merangkul pinggang istrinya protektif.

"Nggak perlu mewah, Len. Yang penting kita bertiga sehat dan bahagia," sahut Mila lembut.

Saat sesi foto bersama, Mila mendadak merasa pening karena aroma parfum tamu yang terlalu menyengat. Wajahnya kembali pucat. Valen yang menyadari perubahan itu langsung sigap. Tanpa peduli sedang di atas pelaminan dan banyak kamera, ia langsung memapah Mila.

"Sayang, duduk dulu. Bil, Mel, sori ya, Nyonya Besar butuh oksigen," pamit Valen pada pengantin.

Arbil malah tertawa dari kursinya. "Bawa istirahat, Bos! Jangan sampai ponakan gue protes di dalam sana!"

Eyang yang melihat itu dari bawah panggung langsung melambai. "Valen! Bawa Mila ke ruang VIP sekarang! Jangan dipaksa berdiri terus!"

Di ruang VIP, Valen dengan telaten mengipasi Mila dengan buku panduan acara. Ia memberikan teh hangat dan memastikan Mila merasa nyaman.

"Maaf ya, aku... jadi ngerusak suasana," gumam Mila merasa bersalah.

Valen mencium kening Mila lama. "Nggak ada yang rusak, sayang. Justru ini pengingat buat aku kalau sekarang prioritasku sudah berubah total. Perusahaan, Arbil, bahkan dunia... semuanya nomor dua. Nomor satunya adalah kamu dan bayi kita."

Mila tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Valen. Di luar sana, pesta masih berlanjut dengan meriah, merayakan cinta Arbil dan Melly. Namun di dalam ruangan sunyi itu, Valen dan Mila merayakan cinta mereka sendiri—sebuah cinta yang kini tumbuh menjadi kehidupan baru yang sangat mereka nantikan.

---

Bulan-bulan berlalu dengan cepat, dan kini perut Mila sudah membuncit sempurna, menandakan persalinan tinggal menghitung hari. Kehamilan ini benar-benar mengubah tatanan di penthouse mewah itu. Valen, yang dasarnya sudah protektif, kini berubah menjadi "komandan siaga satu".

Tidak tanggung-tanggung, Valen menambah jumlah asisten rumah tangga menjadi tujuh orang. Ada yang khusus menangani nutrisi makanan Mila, ada yang bertugas memastikan setiap sudut lantai tetap kering agar Mila tidak terpeleset, hingga perawat pribadi yang berjaga 24 jam.

"Len, ini rumah atau batalyon sih? Ke mana-mana aku diikuti. Mau ke toilet aja ada yang nunggu di depan pintu," keluh Mila suatu sore saat Valen baru pulang kantor.

Valen hanya terkekeh sambil berlutut, mengelus perut Mila yang terasa keras. "Biar aku tenang di kantor, Sayang. Apalagi jagoan kita ini aktif banget tendangnya. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa pas aku lagi rapat."

Hasil USG terakhir memang membuat seisi keluarga Dirgantara berpesta pora atas kehadiran Bayi laki-laki. Eyang bahkan sudah menyiapkan kamar bayi yang luasnya hampir menyamai luas rumah rata-rata, lengkap dengan furnitur impor. Eyang sering bergumam, "Akhirnya, akan ada Valen kecil yang lari-larian di lorong mansion ini lagi nanti. "

Meski dikelilingi tujuh pelayan, Mila tidak pernah merasa kesepian atau stres. Justru, rumahnya selalu ramai karena dua sahabat setianya hampir setiap hari main dirumahnya.

Sore itu, Mila duduk santai di sofa panjang dengan kaki diganjal bantal empuk. Di hadapannya, April sedang heboh menceritakan kegalauan hatinya, sementara Melly sibuk mengupas jeruk untuk Mila.

"Aduh, Mil, Kak Mel... Gue bingung banget sama si Robi ini!" seru April sambil menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi. "Dia itu baik, perhatian, tapi setiap gue tanya soal 'kejelasan', dia malah bahas soal harga saham atau proyek barunya. Dia itu fotokopian Valen apa gimana sih?"

Mila tertawa sampai perutnya berguncang. "Mungkin dia cuma grogi, Pril. Cowok kayak gitu biasanya lebih suka aksi daripada kata-kata. Coba deh kamu kasih kode yang lebih keras."

"Kode keras gimana lagi? Gue udah pakai baju warna pink mentereng biar dia peka, eh dia malah bilang: 'April, mata kamu sakit ya pakai warna itu?'. Kan kesel!" keluh April yang langsung disambut tawa renyah Melly.

Melly, yang kini terlihat lebih berisi dan segar setelah menikah dengan Arbil, mengelus lengan April. "Sabar, Pril. Arbil dulu juga gitu, kaku banget. Tapi lihat sekarang, malah dia yang lebih manja. Aku aja sekarang lagi fokus promil, jadi nggak mau stres-stres mikirin kerjaan Arbil."

Melly menatap Mila dengan tatapan lembut. "Aku belajar banyak dari kamu, Mil. Lihat kamu sehat begini, aku jadi makin semangat buat segera kasih Arbil kabar gembira juga. Doain ya, bulan depan hasilnya garis dua."

"Pasti, Kak. Kita bakal punya anak yang seumuran nanti, biar mereka bisa main bareng," sahut Mila tulus.

Saat jam menunjukkan pukul tujuh malam, April dan Melly pamit pulang karena Valen sudah mengirim pesan "peringatan" bahwa jam istirahat Mila akan segera dimulai.

Tak lama setelah mereka pergi, Valen masuk membawa sebuah kotak besar. Wajahnya yang lelah setelah seharian bekerja langsung cerah melihat istrinya.

"Tadi April sama Melly baru pulang?" tanya Valen sambil mengecup dahi Mila.

"Iya, April lagi galau berat soal Robi. Katanya Robi terlalu kaku kayak kamu," goda Mila.

Valen mendengus. "Robi itu asisten manajer yang pintar, tapi memang kurang pergaulan. Nanti biar aku kasih 'kursus singkat' cara jadi cowok romantis sama dia." Ya Robi memang salah satu asisten manager di perusahaannya.

Valen kemudian membuka kotak yang ia bawa. Isinya adalah sebuah alat musik kotak musik kayu kuno yang sangat indah. Saat diputar, melodinya sangat menenangkan.

"Ini buat jagoan kita. Katanya kalau bayi sering dengar musik klasik di dalam perut, nanti dia bakal tenang kayak ayahnya," ujar Valen bangga.

"Tenang? Kamu itu bukannya tenang, Len, tapi kaku!" canda Mila.

Valen menarik Mila ke dalam pelukannya, berhati-hati agar tidak menekan perut besarnya. "Kaku-kaku gini, tapi kamu cinta kan?"

Mila menyandarkan kepalanya di bahu Valen, menikmati momen tenang itu di tengah hiruk-pikuk persiapan kelahiran. Di luar sana, Jakarta mungkin masih bising dan penuh kompetisi, tapi di dalam penthouse ini, hanya ada kehangatan yang menunggu kehadiran sang pewaris kecil Dirgantara.

Malam semakin larut di penthouse keluarga Dirgantara, namun suasana di dalam kamar utama terasa begitu tenang. Cahaya lampu tidur yang redup menyinari wajah Mila yang tengah bersandar di tumpukan bantal empuk. Valen, sang CEO yang biasanya tak tersentuh, kini sedang sibuk mengoleskan minyak aromaterapi ke kaki Mila yang mulai membengkak.

"Sayang, sudah... kamu baru pulang kantor, pasti capek. Biar suster atau pelayan saja yang pijitin," ujar Mila pelan, merasa tidak enak melihat suaminya berlutut di lantai.

Valen menggeleng tegas tanpa mengalihkan pandangannya dari kaki Mila. "Tujuh pelayan itu tugasnya jaga kamu pas aku nggak ada. Pas aku di sini, itu tugas aku, Mil. Lagipula, jagoan kita ini kayaknya lebih tenang kalau ayahnya yang pegang."

Seolah menyetujui ucapan ayahnya, perut Mila bergerak pelan—sebuah tendangan kecil yang terlihat jelas dari balik daster sutranya. Valen tersenyum lebar, jemarinya mengusap perut itu dengan penuh pemujaan.

---

Keesokan harinya, seperti biasa, April datang dengan wajah yang lebih kusut dari kemarin. Ia langsung merebahkan diri di karpet bulu kamar Mila, mengabaikan dua pelayan yang sedang merapikan rak buku bayi.

"Mil... gue beneran mau pensiun jadi manusia aja," keluh April dramatis. "Si Robi itu... masa tadi pagi dia kirim pesan cuma: 'Jangan lupa sarapan, karbohidrat penting untuk fungsi otak'. Itu perhatian apa mau ngajak ujian biologi sih?!"

Mila yang sedang menikmati jus alpukatnya hampir tersedak. "Pril, itu tandanya dia peduli kesehatan kamu. Robi itu tipe yang praktis, persis kayak Valen dulu pas baru kenal aku."

Melly yang baru masuk menyahut sambil membawa buah tangan berupa camilan sehat. "Bener kata Mila, Pril. Arbil juga dulu gitu. Pas PDKT bukannya kasih bunga, malah kasih gue laporan hasil audit biar gue 'belajar'. Cowok-cowok di lingkaran Dirgantara Group itu memang defisit romansa tapi surplus setia."

April mendengus, tapi matanya berbinar. "Iya sih... pas gue telat makan kemarin, dia diem-diem pesenin makanan lewat ojek online ke meja gue tanpa bilang-bilang. Tapi tetep aja, gue pengen denger dia bilang 'I love you' atau apa gitu!"

Melly duduk di samping Mila, mengelus perut sahabatnya itu. "Sabar, Pril. Semua ada waktunya. Kayak aku sekarang, lagi sabar nunggu 'titipan' juga. Tadi pagi aku baru cek, tapi masih garis satu. Sedih sih, tapi lihat Mila sudah mau lahiran gini, aku jadi ngerasa punya harapan lagi."

Mila menggenggam tangan Melly erat. "Jangan putus asa, Kak. Jagoan kecil ini pasti butuh temen main seumuran nanti. Aku doain bulan depan ya."

Malam harinya, saat Valen sedang asyik membacakan cerita tentang ekonomi makro (yang menurutnya bagus untuk stimulasi otak bayi) di depan perut Mila, tiba-tiba Mila merintih.

"Awhh... Len..." Mila mencengkeram lengan baju Valen.

Valen langsung melempar bukunya ke lantai. Wajahnya yang tenang berubah menjadi pucat pasi dalam sekejap. "Kenapa, Sayang? Kontraksi? Atau ketuban pecah? SUSTER! ARBIL! SIAPIN MOBIL!" Semua dia panggil padahal arbil tidak ada disana.

"L-Len... bukan... ini cuma tendangan maut si kecil aja, kenceng banget," bisik Mila sambil mengatur napas.

Valen terdiam, jantungnya masih berdegup kencang. Ia menghela napas panjang, lalu menyandarkan dahinya di bahu Mila. "Kamu bikin aku jantungan, Mil. Aku sudah mau telepon helikopter tadi."

Mila tertawa kecil, mengusap keringat dingin di pelipis suaminya. "Kamu terlalu tegang, Papa Valen. Padahal persalinannya kan diprediksi masih minggu depan."

"Nggak peduli minggu depan atau besok. Mulai malam ini, aku tidur nggak boleh pulas. Tas bayi sudah di bagasi mobil, rute ke RS sudah aku cek bebas macet, dan dokter obgyn kamu sudah aku kasih 'uang lembur' biar stand by 24 jam," ucap Valen dengan nada otoriter yang tak terbantahkan.

Mila hanya bisa tersenyum pasrah. Inilah sisi lain dari suaminya; pria yang kaku dan terlalu logis, namun akan menjadi orang paling panik dan siaga jika menyangkut keselamatan orang yang ia cintai. Di tengah pengawasan tujuh pelayan, perhatian dua sahabat, dan proteksi luar biasa dari Valen, Mila merasa dirinya adalah wanita paling beruntung di dunia.

"Kamu... janji ya, nanti pas aku lahiran, jangan pingsan di ruang persalinan?" goda Mila.

Valen mendelik. "Seorang Valan Dirgantara nggak akan pingsan cuma lihat darah, Mil."

"Kita lihat saja nanti," tantang Mila sambil tersenyum penuh arti.

Bersambung...

---

Jangan lupa vote dan komennya 💙

Continue Reading

You'll Also Like

57.3K 2K 34
Cerita ini menceritakan tentang seorang pria yang menemukan cinta nya di asrama sekolah nya
60.5K 2.8K 39
CINTA YANG BERTEMU DI PANGGUNG BESAR KOMPETISI
60.4K 5.1K 29
"Menyendiri adalah caraku bertahan hidup." Maisha Anindya. Bagi Maisha, kesunyian adalah tempat ternyaman di dunia. Ia tidak membenci orang, hanya s...
19.2K 1.3K 29
Kisah keluarga akbar , yaitu Milen dan kedua anak mereka Arbil dan April.
Wattpad App - Unlock exclusive features