Apartemen BangChan biasanya terdengar seperti studio musik yang keren, penuh dengan beat bass yang rendah.
Tapi hari ini? Apartemen itu terdengar seperti kebun binatang yang sedang demo masak.
"Felix! Jangan warnai sofa pakai selai kacang, Sayang!" seru Chan dengan suara serak.
Tangannya sibuk menggendong Jeongin yang berusia delapan bulan, yang sejak tadi berusaha menarik kabel headphone mahal ayahnya.
(Susah banget nyari foto jeongin pas bayi, ada nya cuma ini)
Chan adalah seorang CEO sukses di usia 32 tahun yang biasanya tampil tak cela, tapi saat ini, dia terlihat seperti pria yang baru saja selamat dari badai kategori lima.
Rambutnya acak-acakan, kemeja kerjanya terkena tumpahan susu, dan ada lingkaran hitam di bawah matanya.
Ting-nong.....
Bel pintu berbunyi. Chan hampir saja menangis haru. Itu pasti dia. Kandidat pengasuh yang berani membalas iklan lowongan kerjanya di Twitter semalam.
Saat pintu dibuka, berdiri seorang pemuda dengan kemeja flanel cokelat, kacamata bertengger di hidung mancungnya, dan ransel mahasiswa yang terlihat berat.
Wajahnya datar, hampir tidak ekspresif.
"Halo. Saya Kim Seungmin. Saya ke sini untuk wawancara lowongan babysitter," ucap pemuda itu tenang.
Tepat saat itu, Felix (4 tahun) berlari melewati kaki Chan sambil berteriak
"AKU ADALAH NAGA!"
lalu menabrak kaki Seungmin sampai selai kacang di tangannya menempel di celana bahan sang mahasiswa.
Chan meringis, menunggu pemuda itu marah dan pergi seperti lima kandidat sebelumnya. Namun, Seungmin hanya menunduk, menatap noda di celananya, lalu menatap Felix.
"Naga gak makan selai kacang, Adik Kecil," ucap Seungmin pelan namun tegas.
"Naga makan brokoli supaya apinya tetap hijau dan kuat. Mau coba?"
Felix mendongak, terpaku dengan nada bicara Seungmin yang tidak membentak tapi sangat berwibawa. Ajaibnya, Felix mengangguk pelan.
Chan melongo.
"Eh... kamu diterima! Langsung kerja hari ini bisa? Saya punya deadline kerjaan yang harus selesai sore ini atau kepala saya yang meledak."
Seungmin membetulkan letak kacamatanya, lalu melangkah masuk ke dalam rumah yang berantakan itu seolah-olah dia adalah seorang jenderal yang siap menertibkan pasukan.
"Tarif saya naik 10% karena noda selai kacang ini, Pak Bang," ucap Seungmin sambil meletakkan tasnya di meja makan yang penuh sisa sereal.
"Dan tolong mandi. Anda bau susu basi."
Chan tertegun, lalu tertawa kecil. Tajam juga mulutnya, pikir Chan.
Tapi entah kenapa, melihat punggung Seungmin yang sekarang sedang dengan tenang mengambil alih Jeongin dari gendongannya, Chan merasa beban di pundaknya mendadak ringan.
Sekitar dua puluh menit kemudian, Chan keluar dari kamar mandi dengan perasaan yang jauh lebih manusiawi.
Rambutnya sudah tidak lagi mirip sarang burung, dan aroma susu basi sudah berganti jadi wangi sabun maskulin yang segar.
Begitu dia melangkah ke ruang tengah, Chan nyaris mengucek matanya karena tidak percaya.
Suasana apartemennya yang tadinya mirip medan perang, mendadak hening.
Felix, yang biasanya tidak bisa diam barang satu detik, sekarang duduk manis di atas karpet berbulu sambil menyusun balok lego dengan sangat fokus.
Sementara itu, Jeongin sudah berada di dalam high chair-nya, asyik mengunyah potongan buah pir yang dipotong rapi bentuk bintang.
Chan bersandar di tembok, memperhatikan Seungmin yang sedang sibuk mengelap sisa selai kacang di sofa dengan cairan pembersih.
"Aku gak tau kamu pakai jampi-jampi apa, tapi makasih banget, ya. Tadi aku beneran udah mau nyerah," kata Chan sambil menghela napas lega.
Seungmin tidak menoleh. Dia masih fokus menggosok noda di sofa dengan gerakan efisien.
"gak pakai jampi-jampi. Anak kecil itu butuh struktur, Kak. Bukan cuma dikasih mainan terus ditinggal main HP."
Chan terkekeh sambil berjalan ke dapur untuk membuat kopi.
"Galak banget bahasanya. Tapi ya udahlah, yang penting kamu hebat. Mau kopi gak?"
"Nggak usah, makasih. Aku gak minum kafein kalau lagi kerja," jawab Seungmin singkat.
Dia bangkit berdiri, lalu menghampiri Chan di dapur dengan sebuah buku catatan kecil di tangannya.
"Ini apa?" tanya Chan bingung saat Seungmin menyodorkan buku itu ke depan wajahnya.
"Aturan main," jawab Seungmin datar.
"Aku udah list semuanya. Jam makan, jam tidur siang, jam mandi, sampai batas waktu mereka boleh main gadget. Dan satu lagi..."
Seungmin menatap mata Chan tajam dari balik kacamatanya, membuat Chan mendadak merasa seperti mahasiswa yang lagi disidang dosen penguji.
"Kakak juga harus ikut aturan ini. Jangan mentang-mentang Kakak bosnya, Kakak bisa berantakin rumah lagi pas aku baru aja beresin. Kalau Kakak telat kasih makan mereka pas aku lagi ada kelas di kampus, tarif aku naik lagi sepuluh persen. Deal?"
Chan hampir saja tersedak kopinya sendiri. Dia baru sadar kalau yang dia sewa ini bukan cuma pengasuh, tapi sepertinya manajer rumah tangga berkedok mahasiswa.
"Buset, posesif banget soal aturan,"
Chan tertawa, tapi hatinya malah merasa aneh. Ada perasaan hangat yang muncul melihat Seungmin yang begitu peduli dengan keteraturan rumahnya.
"Oke, oke. Deal, Pak Guru. Galak amat sih."
Seungmin cuma mengangkat bahu cuek.
"Bukan galak, Kak. Aku cuma mau semuanya efektif. Oh iya, nanti malam aku harus balik ke kampus jam tujuh buat rapat himpunan. Kakak udah di rumah kan jam segitu?"
"Aku usahain. Tapi kalau aku lembur dikit di kantor gimana?" tanya Chan sambil memasang muka memelas.
Seungmin diam sebentar, memperhatikan muka Chan yang memang kelihatan masih capek, lalu dia menghela napas panjang.
"Yaudah, asal jangan lewat jam sembilan. Dan kalau telat, Kakak harus beliin aku makan malam. Aku males masak pas balik ke kosan."
Chan tersenyum lebar, kali ini senyumnya tulus banget sampai matanya menyipit.
"Gampang itu mah. Kamu mau makan apa? Aku jabanin."
Seungmin cuma memutar bola matanya, meskipun ada semburat merah tipis di pipinya yang nggak luput dari penglihatan Chan.
"Terserah. Yang penting kenyang."
🍼🍼🍼
Malam itu, hujan turun rintik-rintik di luar, membuat suasana apartemen terasa jauh lebih dingin.
Chan melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam.
Dia buru-buru merapikan tas laptopnya dan keluar dari kantor, teringat janji "denda" makan malam untuk Seungmin.
Saat pintu apartemen terbuka, Chan disambut oleh keheningan yang menenangkan.
Lampu ruang tengah sudah diredupkan, dan aroma sabun bayi yang lembut tercium di udara.
Chan melangkah perlahan ke arah dapur. Di sana, dia menemukan Seungmin sedang duduk di meja makan, kepalanya tertumpu pada sebelah tangan sementara tangan lainnya memegang pulpen di atas tumpukan kertas tugas kuliahnya.
Matanya terlihat sayu, tapi dia langsung tegak begitu mendengar langkah kaki Chan.
"Kakak telat satu setengah jam," ucap Seungmin pelan, suaranya agak serak karena mengantuk.
Dia melirik jam dinding dengan tatapan menghakimi yang khas.
Chan meringis bersalah sambil mengangkat kantong plastik besar yang mengeluarkan aroma gurih yang menggoda.
"Maaf banget, tadi ada kendala teknis di kantor. Sebagai gantinya, aku bawain nasi goreng langganan aku sama cake coklat buat kamu. Masih anget, nih."
Mata Seungmin sedikit berbinar melihat kantong makanan itu, tapi dia berusaha tetap terlihat tenang.
"Sesuai perjanjian, ya. Aku gak mau masak di kosan habis ini."
Chan tertawa kecil sambil mulai menata makanan di atas meja.
"Iya, iya. Makan dulu yuk, aku juga belum makan dari siang."
Mereka akhirnya makan malam berdua dalam diam yang nyaman. Sesekali Chan melirik ke arah Seungmin yang makan dengan lahap tapi tetap rapi.
Pipi Seungmin yang sedikit menggembung saat mengunyah membuat Chan tanpa sadar tersenyum.
"Anak-anak gimana?" tanya Chan memecah keheningan.
"Felix tadi sempat rewel minta mainan, tapi akhirnya mau tidur setelah aku janjiin besok mau bantu dia bikin istana dari kardus bekas. Kalau Jeongin, dia udah pules dari jam tujuh abis minum susu," jawab Seungmin tanpa mengalihkan pandangan dari nasi gorengnya.
"Kakak beruntung, anak-anak Kakak itu sebenarnya pinter, cuma butuh perhatian lebih aja."
Chan terdiam sejenak, menatap nasi di piringnya.
"Makasih ya, Seungmin. Aku tau aku sering banget sibuk dan mereka jadi telantar. Makanya aku seneng kamu ada di sini."
Seungmin menghentikan kunyahannya, lalu menatap Chan. Tatapannya kali ini tidak setajam biasanya, malah terasa sedikit lebih lembut.
"gak usah berlebihan, Kak. Aku kan dibayar buat ini."
"Tapi cara kamu jagain mereka... itu beda. Kamu beneran peduli," gumam Chan tulus.
Seungmin berdeham canggung, wajahnya tiba-tiba memerah. Dia buru-buru membereskan piringnya yang sudah kosong.
"udahlah, aku harus balik ke kosan sekarang. Besok aku ada kelas pagi jam delapan."
"Eh, biar aku anterin ya? Udah malem, hujan lagi," tawar Chan sambil ikut berdiri.
Seungmin sempat ingin menolak, tapi melihat hujan yang makin deras di luar jendela, dia akhirnya mengangguk pelan.
"Yaudah, makasih ya, Kak."
Saat mereka berjalan menuju parkiran, Chan tanpa sadar memayungi Seungmin dengan jaketnya supaya mahasiswa itu tidak kedinginan.
Seungmin yang merasakan kedekatan itu hanya bisa menunduk, berusaha menyembunyikan senyum kecil yang mulai muncul di bibirnya.
Kalo kalian suka cerita ini komen lanjut ya🌹