Cerita ini dibuat semata-mata untuk tujuan fiksi dan hiburan. Penulis tidak bermaksud untuk mendorong atau mempromosikan perilaku apa pun yang digambarkan di dalamnya. Kebijaksanaan pembaca sangat dianjurkan.
Sebagai bentuk dukungan untuk penulis, cukup berikan vote di setiap bab.
.
.
.
Hyuna Siriporn Rattanakosin sudah lima tahun lamanya menetap di Bangkok. Selama lima tahun itu pula, dadanya kerap terasa sesak oleh rindu yang tak bertuan, ia jarang sekali berjumpa dengan wanita yang dicintainya.
Siang ini, penantian panjang itu akhirnya berujung. Wanita yang dicintainya akan tiba di apartemennya. Ibu tirinya, Sudarat Kittipong, dan ayahnya, Thanapat Rattanakosin, akan mengantar sang adik tiri, Sunny Warisara Kittipong, untuk tinggal bersamanya di Bangkok. Lokasi kampus kedokteran tempat Sunny belajar memang cukup dekat dengan apartemen Hyuna.
Mendengar kabar Sunny akan berkuliah di Bangkok membuat hati Hyuna berdebar tak karuan. Bagaimana tidak? Hyuna sudah sejak lama menyimpan rasa pada adik tirinya sendiri. Perasaannya memang salah, ia tahu itu. Logikanya terus memaki, mengatakan bahwa tidak seharusnya ia menyukai adiknya sendiri, tapi siapa yang bisa mengatur degup jantung? Siapa yang bisa memerintahkan perasaan untuk berhenti mencintai wanita yang sudah menguasai hatinya sejak lama?
Hyuna menarik napas pelan, menatap pantulan dirinya di kaca jendela apartemen.
"Lima tahun... dan aku masih seperti ini," gumamnya lirih.
Hyuna ingat betul saat pertama kali ia bertemu dengan Sunny. Saat itu Sunny masih berusia 12 tahun yang polos, sementara Hyuna sudah berusia 17 tahun. Perbedaan usia mereka memang cukup jauh. Hyuna yang duduk di bangku SMA sudah jatuh hati pada gadis kecil yang masih duduk di bangku SD itu. Mereka sempat tinggal bersama selama dua tahun, hingga akhirnya Hyuna lulus sekolah dan memutuskan pindah ke Bangkok untuk kuliah dan bekerja hingga meraih sukses seperti sekarang.
TING!
Bunyi bel apartemen itu seketika memecah lamunan Hyuna. Jantungnya mencelos. Dengan langkah terburu, ia beranjak dan membuka pintu. Di sana berdiri kedua orang tuanya, dan jangan lupakan sosok yang sejak tadi menghuni pikirannya—Sunny. Di usia 19 tahun, Sunny tampak semakin cantik, wajahnya terlihat jauh lebih dewasa dan mempesona, membuat Hyuna sempat terpaku sejenak.
"Ayah... Ibu... bagaimana kabarnya?
Maaf tahun ini Hyuna belum bisa pulang ke rumah, jadinya Ayah sama Ibu yang harus ke Bangkok segala. Ayo, silakan masuk," ujar Hyuna berusaha menetralkan suaranya sambil mempersilakan mereka masuk. Namun, saat ia memberikan senyum termanisnya ke arah Sunny, wanita itu justru membuang muka dengan angkuh.
"Sudah tidak apa-apa, kau semakin sukses Hyuna... sampai bisa membeli apartemen semewah ini," kata Sudarat—ibu tirinya—seraya menatap kagum ke sekeliling interior apartemen yang elegan itu.
"Ayah bangga padamu, Hyuna. Kau bekerja keras sampai bisa hidup mandiri dan sukses seperti sekarang," giliran Thanapat yang memuji putri semata wayangnya, menepuk bahu Hyuna dengan bangga.
Berbeda dengan orang tuanya, Sunny nampak acuh tak acuh. Ia berdiri dengan tangan bersedekap, menatap dinding seolah-olah itu lebih menarik dari pada keberadaan Hyuna. Jika bukan karena desakan ibunya, Sunny tidak akan sudi menginjakkan kaki di sini, apalagi tinggal bersama. Baginya, Hyuna itu sosok yang menyebalkan dan hingga detik ini, ia tidak pernah sudi mengakui Hyuna sebagai saudaranya.
"Oh iya, jadi Sunny benar mengambil jurusan kedokteran?" tanya Hyuna mencoba mencairkan suasana. Ia tidak terlalu suka dipuji berlebihan, apalagi di bawah tatapan dingin Sunny.
"Iya Hyuna... Sunny memilih kedokteran. Itu sebabnya Ibu memintanya tinggal bersamamu di sini. Di luar sana tidak aman, dan Ibu lebih tenang jika kau yang menjaganya," jawab Sudarat.
"Tanpa menunggu kuliahku selesai pun aku bisa mencari tempat tinggal sendiri. Lagi pula, ini kan cuma permintaan Ibu saja," celetuk Sunny dengan nada ketus dan wajah mendingin.
PLAK!
Sudarat menepuk keras lengan Sunny yang berbicara tidak sopan di hadapan Hyuna.
"AWW! Sakit, Bu!" pekik Sunny seraya memegangi lengan kanannya, matanya melotot tajam ke arah sang ibu.
"Kau seharusnya bersyukur Hyuna mau memberikan tempat tinggal untukmu! Kau tidak tahu seberapa mahal biaya sewa di Bangkok? Jangan tidak tahu diri!" ujar Sudarat dengan nada penuh penekanan, merasa malu dengan sikap putrinya.
Hyuna hanya bisa terdiam, hatinya sedikit mencelos melihat penolakan terang-terangan dari Sunny. Thanapat yang menyadari ketegangan itu segera menatap Hyuna dengan sorot memohon.
"Hyuna, Ayah harap kau mau mengerti sikap adikmu Sunny. Dia hanya belum terbiasa." ucapnya lembut.
"Tidak apa-apa, Ayah. Aku mengerti kok, mungkin Sunny masih lelah karena perjalanan jauh," jawab Hyuna berusaha tegar seraya memaksakan sebuah senyuman.
"Ya sudah kalau begitu, Ayah dan Ibu pamit pulang sekarang. Masih banyak urusan." pamit Thanapat.
"Kenapa tidak menginap saja semalam di sini, Ayah?" tanya Hyuna menawarkan.
"Masih ada banyak urusan yang harus Ayah selesaikan di Chiang Mai, Nak. Lain kali saja." tolak sang ayah halus.
Sebelum melangkah keluar, Sudarat menggenggam tangan Hyuna erat.
"Hyuna... Ibu titip Sunny padamu. Kalau dia bersikeras kurang ajar atau nakal padamu, pukul saja, Ibu tidak akan marah. Dia memang harus diberi pelajaran sesekali." bisik Sudarat.
"Bu!" protes Sunny kesal, bibirnya mencabik jengkel.
Berbeda dengan Hyuna, ia tersenyum manis, sebuah senyuman yang menyembunyikan banyak arti.
"Aku akan menjaga Sunny dengan baik, Bu. Aku janji." jawab Hyuna mantap.
Janji yang ia ucapkan dengan terlalu lembut... seolah bukan hanya sekadar menjaga sebagai kakak.
Thanapat dan Sudarat tahu betul sikap temperamental Sunny. Mereka hanya bisa berharap Hyuna memiliki stok sabar yang banyak untuk menghadapi gadis itu. Sebenarnya, jika bukan karena keadaan ekonomi keluarga yang sedang merosot drastis akibat penjualan toko kelontong yang menurun tajam, mereka tidak akan membebani Hyuna. Namun, mereka tidak punya pilihan lain.
Bagi mereka, Hyuna adalah permata. Sejak dulu ia selalu membanggakan- kuliah dengan beasiswa penuh tanpa merepotkan orang tua sepeser pun. Sangat kontras dengan Sunny yang masuk jalur mandiri dengan biaya selangit namun memiliki perangai yang sulit diatur. Kini, di dalam apartemen mewah itu, Hyuna berdiri menatap pintu yang tertutup, lalu perlahan membalikkan tubuhnya ke arah Sunny yang masih menatapnya dengan benci.
Dan kini hanya tersisa mereka berdua, sunyi.. canggung dan penuh hal yang tidak pernah terucapkan.
Hyuna berdiri beberapa langkah dari Sunny. Ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak tahu harus mulai dari mana.
"Kalau kau tidak mau di sini... aku bisa—" ucapan Hyuna terhenti.
"Aku tidak bilang aku tidak mau," potong Sunny cepat. Suaranya tetap dingin. "Aku cuma tidak suka dipaksa."
Hyuna terdiam.
"Aku juga tidak minta kau suka," jawabnya pelan, hampir seperti bisikan.
Sunny akhirnya menatapnya untuk pertama kalinya sejak datang, tatapan mereka bertemu dan dalam sepersekian detik itu ada sesuatu yang bergetar di antara keduanya namun Sunny segera mengalihkan pandangannya lagi.
"Tunjukkan kamarku," perintahnya singkat.
"Iya... ikut aku." jawab Hyuna seraya mengangguk pelan.
Hyuna berjalan lebih dulu, sementara Sunny mengikutinya dari belakang.
Jarak mereka tidak jauh namun terasa sangat... sangat jauh.
***
Beberapa menu makanan telah siap tersaji di meja makan minimalisnya, mengepulkan aroma yang seharusnya menggugah selera. Namun, suasana di meja itu justru terasa membeku. Hyuna duduk dengan tenang, jemarinya memainkan sendok sembari matanya tak lepas memperhatikan setiap pergerakan Sunny.
Adik tirinya itu tampak enggan meski hanya untuk melirik ke arah Hyuna. Ia seolah sedang berperang dengan piringnya sendiri, jauh lebih tertarik pada butiran nasi dibandingkan keberadaan orang di depannya. Tapi, karena menyadari tatapan Hyuna yang terus—menerus menguliti setiap gerak—geriknya, pada akhirnya Sunny mengangkat wajah. Ia menatap Hyuna dengan wajah datarnya yang sedingin es.
"Bisakah kau berhenti menatapku? Apakah aku jauh lebih menarik dibandingkan makananmu?" ujar Sunny dengan kilatan tajam dan nada yang menusuk.
Hyuna tidak berpaling. Ia justru semakin menajamkan tatapannya, seolah sedang membaca setiap inci ekspresi di wajah Sunny.
"Mm.. iya. Kau jauh lebih menarik dibandingkan makanan ini," jawab Hyuna santai.
Jawaban yang berhasil membuat Sunny memicingkan satu alisnya. Ia tidak menduga jika Hyuna akan menjawab seberani itu, bahkan sembari mengulas senyum manis yang terlihat begitu tulus-namun menyebalkan di mata Sunny.
"CK! Kau menjijikkan sekali!" timpal Sunny kesal, suaranya naik satu nada.
Hyuna justru terkekeh renyah mendengarnya. Reaksi Sunny yang meledak-ledak adalah apa yang ia rindukan selama sepuluh tahun ini.
"Tapi bagiku kau tetap menggemaskan, Sun," ucap Hyuna tak mau kalah. Ia kini menopang dagu dengan satu tangannya, memajukan tubuhnya sedikit lebih dekat ke arah Sunny, sengaja ingin melihat bagaimana wajah cantik itu memerah karena amarah.
Sunny mendengus kasar. Ia pikir setelah sepuluh tahun berlalu, saudara tirinya itu akan berubah menjadi lebih dewasa atau setidaknya lebih tahu diri. Tapi ternyata Hyuna masih menjadi orang yang sama—orang yang sangat menyebalkan. Bagi Sunny, setiap ucapan manis yang keluar dari bibir Hyuna adalah racun yang menjijikkan.
"Aku sudah selesai," Sunny tiba-tiba beranjak, kursi makannya berderit nyaring di atas lantai.
"Kau mau ke mana?" tanya Hyuna, suaranya tenang namun berhasil menghentikan langkah Sunny yang baru saja ingin berbalik.
"Ke kamar! Mau ke mana lagi!" jawabnya.
"Setelah makan, kau harus mencuci piring bekas makananmu sendiri. Jangan dibiasakan meninggalkan kotoran di meja," kata Hyuna seraya memberikan senyum kecil yang penuh kemenangan.
Sunny menghela napas panjang, bahunya naik turun menahan jengkel. Ia menoleh sekilas dengan tatapan meremehkan. "Aku tidak mau. Aku ngantuk! Lagipula kau yang menyuruhku tinggal di sini, jadi urus saja semuanya sendiri!" sahutnya meremehkan.
Tanpa menunggu balasan, Sunny pergi begitu saja, membanting pintu kamarnya hingga menimbulkan suara dentuman yang cukup keras.
Hyuna terdiam sejenak, menatap pintu kamar yang tertutup itu. Bukannya marah, sebuah tawa kecil justru lolos dari bibirnya.
"Oh ya Tuhan.. benar-benar menggemaskan sekali," ucapnya lirih.
Hyuna bangkit, lalu perlahan mulai membereskan piring-piring di meja makan. Ia sama sekali tidak kesal karena Sunny menolak mencuci piring atau bersikap kurang ajar. Justru, ia merasa detak jantungnya kembali hidup setelah sekian lama hanya karena melihat wajah kesal Sunny barusan.
Bagi Hyuna, menggoda Sunny adalah kesenangan tersendiri—sebuah cara untuk tetap terhubung meskipun hanya lewat kemarahan. Ia tidak keberatan jika harus mencuci piring bekas makanan Sunny, atau bahkan mengurus seluruh hidup wanita itu. Baginya, asalkan Sunny ada di jangkauan pandangannya, itu sudah lebih dari cukup.