Sabtu pagi yang biasanya identik dengan kemacetan panjang menuju pusat perbelanjaan, namun bagi Ziva, Sabtu kali ini adalah hari "Eksekusi Mental". Ia berdiri di depan cermin kamarnya, menatap pantulan dirinya yang mengenakan kaos putih santai dipadu dengan jumpsuit denim biru laut-warna yang entah kenapa mengingatkannya pada air kolam renang.
Ia memenuhi janji. Atau lebih tepatnya, menyerah pada ancaman licik sang "Demit Nomor 08".
"Ziv! Udah siap belum? Davin sama anak-anak sudah di depan nih!" teriak Ibunya dari lantai bawah.
Ezra batal menjemputnya (suatu hal yang sangat disyukuri Ziva) karena dijemput pelatihnya duluan. Ziva tidak tahu apa yang akan terjadi jika Ezra menjemputnya untuk pergi bersama. Pasti sepanjang jalan, cowok itu akan selalu menemukan cara untuk merusak harinya yang damai.
Ziva menghela nafas.
Rencananya hari ini sebenarnya sangat menyenangkan: pergi ke pameran seni rupa di galeri kota untuk merayakan masuknya sketsa miliknya ke dalam nominasi, lalu makan siang santai bareng teman-teman Spirit Fingers. Namun, karena intervensi manipulatif Ezra, jadwalnya berubah drastis.
Pameran hanya bisa ia datangi sebentar, lalu ia harus menyeret Davin, Fajri, dan Kak Bianca menuju Gelanggang Olahraga (GOR) untuk menonton seorang atlet renang yang hobi mengancam privasi orang lain.
Begitu mereka tiba di area GOR, suasana sudah sangat riuh. Suara peluit pelatih, teriakan suporter sekolah, dan aroma kaporit yang menyengat langsung menyambut indra penciuman mereka. Spanduk-spanduk dukungan terbentang di tribun penonton. Ternyata, kejuaraan renang tingkat daerah ini jauh lebih besar dan antusias dari yang Ziva bayangkan.
"Wah, rame banget ya, Ziv. Gue baru tahu kalau kejuaraan renang bisa seheboh ini," ujar Davin sambil menyesuaikan letak kacamatanya. Ia tampak antusias melihat-lihat sekeliling. "Ezra emang bintangnya di sini, ya?"
"Bintang bagi mereka, iblis bagi aku, Vin," gumam Ziva pelan, membuat Davin menoleh bingung.
"Hah? Lo ngomong apa?"
"Enggak, itu... yuk cari tempat duduk!" ajak Ziva cepat, berusaha menyembunyikan kegugupannya.
Ziva celingak-celinguk di antara kerumunan atlet yang sedang melakukan pemanasan di pinggir kolam. Matanya yang sudah terlatih membedakan struktur bahu Ezra di antara ratusan orang akhirnya menemukan targetnya. Di sana, di dekat papan loncat, Ezra sedang berbincang serius dengan pelatihnya yang membawa stopwatch.
Seolah memiliki radar khusus terhadap keberadaan Ziva, Ezra mendongak tepat saat Ziva menatapnya. Tatapan mereka bertemu di tengah keriuhan. Ziva sempat ingin berbalik sembunyi di belakang tubuh Davin, namun Ezra sudah memberikan isyarat dengan tangannya agar Ziva mendekat.
Dengan langkah ragu dan diikuti oleh rombongan Spirit Fingers yang penasaran, Ziva berjalan menuju area pembatas kolam.
Ezra menghampiri mereka. Ziva sempat tertegun sesaat. Ia mengira akan melihat Ezra dengan celana renang minim seperti di sketsa-sketsa rahasianya, namun dugaannya salah total. Ezra mengenakan pakaian renang model setelan lengan panjang yang menutupi hingga lutut, ditambah legging hitam teknis di dalamnya. Hampir tidak ada kulit yang terekspos kecuali telapak tangan, wajah, dan lehernya. Pakaian itu sangat ketat, menonjolkan lekuk ototnya yang efisien, namun tertutup rapat.
Ezra berhenti tepat di depan Ziva, sedikit membungkuk agar wajahnya sejajar dengan gadis itu.
"Kecewa ya?" bisik Ezra, suaranya sangat rendah, hanya bisa didengar oleh Ziva. "Kamu nggak bisa lagi maling foto abs-ku secara ilegal buat koleksi buku sketsamu hari ini."
Wajah Ziva seketika meledak menjadi merah padam. Ia merasa seluruh oksigen di GOR mendadak hilang. Ia salah tingkah, meremas tali tasnya dengan panik. "A-apa sih! Siapa juga yang mau foto! Pede banget kamu!"
Bianca dan Fajri yang berdiri di belakang Ziva mulai berbisik-bisik, penasaran dengan apa yang baru saja dibisikkan sang atlet idola sekolah itu hingga membuat Ziva tampak seperti udang rebus.
Tiba-tiba, di luar dugaan semua orang, Ezra mengulurkan tangannya dan merangkul bahu Ziva dengan santai. Gerakan itu begitu alami, seolah-olah mereka sudah sering melakukannya. Ezra menoleh ke arah teman-teman Ziva dengan senyum "Mode Sekolah"-nya yang paling sopan namun berwibawa.
"Makasih udah datang buat ngedukung aku hari ini," ujar Ezra. "Aku nggak nyangka Ziva bakal bawa rombongan sebanyak ini."
Davin, yang dasarnya adalah orang yang ramah, maju selangkah dan tersenyum. "Iya, Bro. Ziva yang ajak kita semua ke sini setelah dari pameran tadi. Katanya harus banget dukung lo hari ini."
Ezra melirik Davin sebentar. Matanya yang tajam memindai kedekatan Davin dengan Ziva sebelumnya. Respon Ezra sedikit malas, hanya anggukan kecil yang formal. "Gitu ya. Baguslah kalo kalian sempat mampir."
"Oh ya, Ezra," lanjut Davin dengan akrab. "Bulan depan jangan lupa gantian, ya. Lo harus datang dukung kita-terutama Ziva-sebagai perwakilan SMA Harapan Bangsa di pameran seni dan budaya dinas Kebudayaan. Ziva udah kerja keras banget buat sketsanya."
Mendengar nama Ziva disebut sebagai fokus utama dukungan, ekspresi Ezra sedikit melunak, namun tetap penuh teka-teki. Ia mengeratkan rangkulannya di bahu Ziva, membuat gadis itu hampir terjungkal karena kaget.
Ezra melirik Ziva dengan tatapan yang sangat dalam, lalu kembali menatap Davin dan yang lainnya. "Pastinya aku bakal datang. Aku bakal kasih dukungan Ziva secara penuh."
Ia menjeda kalimatnya sejenak, sebuah seringai tipis muncul di sudut bibirnya-seringai kemenangan. "Lagian, aku kan tinggal di rumah Ziva."
HENING.
Keheningan yang tercipta di area pinggir kolam itu seolah-olah seseorang baru saja menjatuhkan bom atom di tengah kerumunan. Bianca menutup mulutnya dengan tangan, Davin mematung dengan mata membelalak di balik kacamatanya, dan anggota klub lainnya saling pandang dengan ekspresi "Apa gue nggak salah dengar?".
Ziva merasa dunianya runtuh saat itu juga. Ia bisa merasakan tatapan menyelidik dan penuh gosip mulai bermunculan dari orang-orang di sekitar mereka yang sempat mendengar ucapan Ezra.
"Maksudnya... KOSTAN!" teriak Ziva histeris, suaranya melengking menembus kebisingan GOR. Ia buru-buru melepaskan tangan Ezra dari bahunya dengan kekuatan penuh. "Dia tinggal di kostan milik Mama aku! Di paviliun belakang! Nggak satu rumah, cuma satu area tanah! Tolong ya, jangan dengerin mulut cowok manipulatif ini!"
Ezra hanya terkekeh pelan, tampak sangat puas melihat kepanikan Ziva. Ia tidak membantah, ia justru membiarkan ambiguitas itu menggantung di udara.
Fajri, yang sudah tahu dinamika aneh di antara mereka berdua, hanya bisa cekikikan sambil memegangi perutnya. Ia melihat betapa kelabakannya Ziva mencoba menjelaskan silsilah properti keluarganya kepada teman-temannya yang kini sudah mulai berbisik-bisik soal "Skandal Tinggal Bersama".
"Ziva, lo beneran tinggal sama Ezra?" bisik Bianca penuh selidik, matanya berbinar-binar penuh semangat gosip.
"ENGGAK, KAK! SUMPAH!" Ziva hampir menangis karena frustrasi. Ia menoleh ke arah Ezra dan memberikan tatapan paling mematikan yang pernah ia miliki. "Kamu... kamu beneran cari perkara ya, Ezra! Habis ini aku bakal bilang Mama buat naikin uang sewa kamu sepuluh kali lipat!"
Ezra hanya mengedikkan bahu, kembali ke arah pelatihnya dengan langkah tegap. "Aku harus bersiap. Jangan lupa teriak yang kencang begitu aku di lintasan nanti, ya. Ingat janji kita."
Ziva hanya bisa berdiri mematung, dikelilingi oleh teman-temannya yang kini menuntut penjelasan panjang lebar. Ia tahu, mulai detik ini, hidupnya di sekolah tidak akan pernah tenang lagi. Ezra tidak hanya mengancam privasi di buku sketsanya, tapi baru saja meledakkan reputasi sosialnya dengan sebuah pernyataan yang, meskipun secara teknis benar, namun secara konteks sangatlah mematikan.
"Gue butuh pindah planet sekarang juga," gumam Ziva sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, sementara suara peluit tanda perlombaan dimulai menggema di seluruh penjuru GOR.
🩵🩵🩵