"Jangan mau sama anak teknik, mereka brengsek."
Kalimat itu bukan sekali dua kali Jennie dengar. Hampir setiap tahun, bahkan setiap semester rasanya, temannya selalu mengulang kalimat yang sama dengan nada penuh keyakinan seolah itu adalah hukum alam yang tidak bisa dibantah.
Jennie hanya mengangguk pelan, seperti biasa. Tidak menyangkal, tidak juga membenarkan. Di hadapannya, Roseanne Kalana sedang bersedekap, wajahnya penuh ekspresi tidak terima, seperti baru saja mengingat sesuatu yang menyebalkan.
Bukan tanpa alasan Rose bisa sekesal itu. Ia pernah didekati salah satu anak teknik, yang awalnya terlihat baik, perhatian, bahkan sempat membuatnya percaya. Sampai akhirnya... hilang begitu saja. Di-Ghosting. Sialan memang.
Sebelumnya, perkenalkan aku Jennie Indira, mahasiswi pendidikan untuk anak sekolah dasar. Iya. Aneh memang. Sifatku yang mudah terpancing emosi ini harus mengurus bocah-bocah yang bahkan mungkin belum tau caranya buang air besar dengan benar. Dan juga, aku seorang mahasiswa semester 6 yang tengah pusing ditagih judul skripsi oleh dosen pembimbing.
"Serius, Jen. Mending sama anak seni atau sastra," lanjut Rose sambil menyandarkan dagu di telapak tangannya. Senyumnya mulai berubah, agak melamun. "Bayangin, kamu bisa abadi di karya mereka. Puisi kek, lagu kek..."
Sayangnya, Jennie telah menyukai anak teknik yang mahir dalam seni dan sastra. Dan itu sudah berlangsung selama hampir 3 tahun. Bagaimana? Apakah ia telah menyukai anak brengsek yang bisa membuatnya abadi dalam sebuah karya?
Lisa Anandara namanya. Pemilik nama yang punya senyum lebar dan motor astrea yang sudah di modifikasi. Yang sering memakai kemeja flanel kotak-kotak atau terkadang memakai jaket himpunan dengan kaos polos di dalamnya.
Cara jennie jatuh suka pada lisa itu simple, hanya karena aroma parfum saat tidak sengaja berpapasan di acara volunteer luar kampus dan juga bagaimana wajah frustasi lisa saat mengengkol motor butut miliknya itu.
"Anjirr anjir wangi banget itu orang, padahal mukanya kayak orang nggak mandi berhari-hari" Jennie terus berjalan namun kepalanya terus menghadap kebelakang.
Jennie ingat kala itu di hari yang sama dengan kejadian 'aroma parfum', pada saat ia sedang menunggu ojek online setelah rapat divisi volunteernya, ia melihat lisa terlihat begitu frustasi menunjuk-nunjuk motor bututnyaa. Jennie melihatnya tersenyum geli saat lisa sedang menggaruk kepalanya padahal masih menggunakan helm.
"Pak, tolong tunggu sebentar yaa. 5 menit aja pak, saya sedang menghafal wajah masa depan saya."
Bapak ojek itu sempat menatap Jennie dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Antara iba dan sedikit khawatir. Tapi tetap saja, ia menunggu. Dan Jennie? Ia berdiri di sana, pura-pura sibuk dengan ponselnya, padahal matanya tidak lepas dari satu orang itu yang masih saja berkutat dengan motor Astrea-nya yang seolah punya dendam pribadi. Helmnya belum dilepas. Tangannya beberapa kali menepuk-nepuk jok motor, lalu menggaruk kepala yang tentu saja tidak akan terasa karena terhalang helm.
"Lucu banget sih," gumamnya pelan.
Awalnya Jennie pikir itu cuma ketertarikan sesaat. Tipe-tipe "oh lucu juga ya ni orang" yang biasanya hilang dalam seminggu. Nyatanya? Ia mendapati dirinya terus bolak-balik fakultas teknik untuk melihat wajah lisa lagi, ingin tahu lisa lagi apa, pakai baju apa yaa dia hari ini, motornya mogok lagi gak, ada latihan arak-arakan gak, apakah lisa dihukum terlalu keras oleh kating atau apakah lisa punya waktu tidur yang cukup mengingat fakultas teknik yang katanya salah satu jurusan tersulit.
Hampir tiga tahun menyukai dalam diam, tentu Jennie cukup banyak tahu mengenai lisa hanya dengan bermodalkan third accountnya yang memfollow akun lisa dan himpunan jurusannya.
@salamliterasi_mbgbubar follow you on instagram.
Lisa dari jurusan teknik kimia, suka makan soto, suka minum susu stroberi atau kadang ngemut milkita stroberi, punya adik perempuan masih sekolah dasar, punya mantan satu dan pacaran berlangsung selama 6 bulan, putus sejak akhir menengah atas karna fokus mengejar ujian masuk universitas, baju yang sering dipakai flanel kotak-kotak warna cream, bergabung dalam komunitas literasi gen z kampus dan banyak hal lain yang diketahui.
'skill basic yang dimiliki perempuan' katanya.
Kalau boleh jujur, belakangan ini Jennie sedang berada di fase yang cukup membingungkan. Bukan karena skripsinya, bukan juga karena dosen pembimbingnya yang makin rajin menagih revisi. Semua bermula dari hal sepele. Malam itu, seperti biasa, Jennie sedang rebahan di kasurnya sambil scroll Twitter tanpa tujuan yang jelas. Timeline-nya penuh dengan hal-hal random, keluhan tugas, meme receh, sampai curhatan orang-orang yang bahkan tidak ia kenal. Sampai akhirnya, jempolnya berhenti di satu cuitan.
'Fuckkk mencintai dalam diam. Aku akan mencintaimu dengan brutal dan explicit'
Jennie membacanya sekali.
Lalu dua kali.
Dan entah kenapa, kalimat itu seperti menyindirnya.
"Apakah ia harus mulai melakukan pendekatan? Tapi gengsi dong? Ehh tapi 3 tahun suka gini masa ga dapet apa-apa? Tapi kalo ditolak gimana? Ehh emang siapa sih yang bisa menolak manusia secantik ini? Tapi malu dong masa pdkt pakai baju hitam putih atau batik? Tapi gapapa juga iya ga sih, jadi keliatan aku anak PGSD yang sangat mengayomi anak-anak? Aishhhhh kenapa sih fakultas keguruan gabisa pakai baju bebas, kan jadi ngga bisa tampil cantik depan lisa" Jennie mengusak rambutnya kasar sambil cemberut melihat wajahnya depan cermin.
"Masa sih harus tepuk pramuka atau teriak Tut Wuri Handayani dulu biar di notice lisa? Hilang dong harga diri"
"Kata mbak-mbak tiktok cinta itu harus dijebak, gaboleh ditunggu" Ia menatap kosong ke langit-langit kamarnya, satu tangan menopang dagu, sementara tangannya yang lain memainkan ujung selimut tanpa sadar. Dahi Jennie sedikit berkerut, tanda ia benar-benar sedang berpikir meskipun yang dipikirkan justru membuatnya semakin pusing sendiri.
Jennie menghela napas panjang, lalu berguling ke samping, memeluk bantalnya erat-erat. "Gimana sih cara menjebak orang tanpa keliatan desperate..." gumamnya pelan.
Apalagi targetnya Lisa. Orang yang bahkan kalau mereka tidak sengaja bertemu di warung molen langganannya saja, Jennie lebih memilih putar balik daripada harus berpapasan langsung. Padahal cuma tinggal bilang "hai".
Tapi tetap saja nggak bisa. Saltingnya kebangetan.
"Sial," desisnya pelan sambil menutup wajah dengan bantal.
Jennie kepikiran satu hal. Menjebak lisa dengan kesukaanya, milkita stroberi. Namun masalahnya, bagaimana caranya?
"Psss psss lisa come here, I got your fav candy" Jennie menggelengkan kepalanya segera, menjauhkannya dari pikiran tak masuk akal itu.
Jennie menjatuhkan tubuhnya ke kasur dengan dramatis, lalu mulai mengguling-gulingkan badannya ke kanan dan ke kiri tanpa arah, seperti orang yang sedang kehilangan kewarasan.
"Astaga... kenapa sih aku nggak bisa waras dikit aja kalau urusan dia," keluhnya sambil menutup wajah dengan bantal.
•••
Seminggu berlalu, Jennie telah membulatkan tekadnya untuk melakukan pendekatan. Dengan pelan-pelan tentunya. Ia tidak seberani mbak-mbak twitter yang mencintai seterang-terangan itu. Ide nya tetap sama. Menggunakan permen milkita sebagai perantara keduanya. Ia telah membeli dua renteng milkita stroberi untuk memulai aksinya.
Pagi itu, tepat pukul sembilan, Jennie sudah berdiri di area parkiran gedung teknik dengan langkah yang sedikit lebih cepat dari biasanya. Matanya menyapu satu per satu deretan motor yang terparkir, mencari sesuatu yang sudah sangat ia hafal bentuknya. Tangannya sesekali menggenggam tali tasnya lebih erat, berusaha menenangkan diri yang entah kenapa jadi ikut tegang.
Beberapa detik kemudian, ia menemukan motor astrea Lisa. Lalu ia melangkah mendekat, kali ini dengan lebih hati-hati. Ia melirik ke kanan dan kiri sekilas.
"Aman... pasti lagi kelas," bisiknya meyakinkan diri sendiri.
Tangannya masuk ke dalam tas, mengeluarkan satu permen milkita stroberi beserta notes kecil yang sudah ia siapkan. Dengan gerakan yang sedikit cepat, ia menyelipkan permen itu di dekat spion, lalu menempelkan catatan kecilnya.
'Haii, i know it's kinda freak. But, aku perhatiin mata kamu makin menghitam. Jangan lupa istirahat yaa? Even if it's just a while.
Oiya, kamu suka dengerin musik ngga? Aku lagi suka lagu Honey by Boy Pablo nihh, kalau kamu ada waktu, kamu dengerin yaa? Btw love you, maaf spontan'
Sebelum ia meninggalkan parkiran, Jennie sempat-sempatnya mencium aroma helm lisa yang tergantung di spion motor.
"Hmm, aroma shampo rejoice hijab dan ada bau matahari dikit" gumamnya kemudian kabur dengan segera.
Keesokan harinya, Jennie kembali lagi ke parkiran gedung teknik dengan langkah yang sedikit lebih percaya diri. Begitu menemukan motor astrea Lisa, Jennie langsung mendekat tanpa banyak ragu. Tangannya cekatan mengeluarkan satu permen milkita stroberi dan secarik notes kecil dari dalam tas.
'Lisa, kamu itu sama kayak penjajah zaman dulu. Bedanya, penjajah zaman dulu itu menjajah indonesia, kalau kamu menjajah hatiku.'
Hari-hari berikutnya, semuanya berubah menjadi rutinitas kecil. Setiap kali melihat motor Lisa terparkir, Jennie akan datang membawa satu permen dan satu kalimat baru. Ide-idenya ia ambil dari mana saja, terutama dari TikTok yang hampir setiap malam ia scroll tanpa henti.
'cap cip cup kembang kuncup, kamu cakep sini aku kecup'
'Lisa kamu tau ngga? Kata ilmuwan, gravitasi itu bikin semua jatuh ke bumi. Tapi kenapa aku malah jatuhnya ke kamu?'
'Lisa jangan lupa cintai diri kamu sendiri yaa, kalo gabisa yaudah sini aku bantuin juga hahayyy'
'Kalo minjem seratus ga boleh, minjem bahu kamu buat nyender boleh ga? Hehehe'
Benar kata orang, cinta itu bisa membuat seseorang kehilangan sedikit demi sedikit kewarasannya. Dan logika Jennie mulai digantikan oleh hal-hal yang bahkan dulu ia anggap memalukan. Entah sejak kapan, kalimat-kalimat gombal yang biasanya ia lewati begitu saja di TikTok atau Twitter, sekarang justru terasa cocok. Bahkan terlalu cocok.
"Cringe banget anjirr" ucapnya, tapi tetap melanjutkan gombalan recehnya.
Hari-hari itu terus berlanjut. Hingga akhirnya saat jennie akan melancarkan aksinya di hari yang ke limabelas, ia mendapati satu sticky notes tertempel di helm lisa.
"Haloo, kamu ngga capek yaa bolak-balik dari fakultas kamu ke teknik? Sebagai gantinya, jam 7 malem nanti aku jemput yaa di kosan kamu. Kita stargazing bareng sambil makan molen mini kesukaan kamu,
mau yaa Jennie..?"
Jantung Jennie berhenti berdetak sepersekian detik saat membacanya. Dengan panik ia menoleh ke kiri, kanan, kemanapun matanya bisa menemukan eksistensi Lisa yang mungkin sedang berdiri sambil memperhatikannya dari jauh. Namun hasilnya kosong, tak ada sosok itu di sekitarnya.
"ANJING" umpatnya keras. Bener, ini yang Jennie mau, yakni di notice Lisa. Tapi bukan di hari ke limabelas. Baginya ini terlalu kecepatan.
"MAMAHHHH PAPAHHH, AKU MAU BERHENTI KULIAH AJAA!!" dan tanpa pikir panjang, Jennie langsung berbalik dan kabur dari parkiran. Iyaa, rencananya ternyata berhasil. Tapi ini terlalu berhasil. Ehh jadi ini bagaimana maksudnya?
Tepat pukul 7 malam, ketukan pintu kamar nomor 5 terdengar. "Jennie, ini katanya temen kamu dateng. Samperin gih sana" Suara ibu kos mengalun di pendengerannya. "I-iya bu, ini Jennie turun".
Sebelum turun, Jennie melihat dirinya sekali lagi didepan cermin. memutar badannya ke kiri, lalu ke kanan, merapikan ujung bajunya, membenarkan rambutnya yang sebenarnya sudah rapi dari tadi.
"Ini too much nggak sih..." gumamnya pelan. Ia berhenti sebentar, menatap pantulan dirinya lebih lama.
"Shit...nggak expect dia beneran dateng," bisiknya setengah panik.
"Ya Tuhan, tolong jangan hilangkan kewarasanku kali ini. Mau jaga image banget depan Lisa" sambil turun, Jennie berdoa dalam hatinya.
Tangga menuju lantai bawah terasa lebih panjang dari biasanya. Begitu ia sampai di belokan tangga, Jennie berhenti mendadak. Dari celah itu, ia bisa melihat sosok Lisa yang berdiri di bawah. Dengan kaos putih lengan panjang dan celana jeans biru, berdiri santai sambil sesekali melihat ponselnya.
Refleks Jennie mundur. Ia buru-buru bersembunyi di balik dinding tangga.
"ASTAGA, gabisa gabisa gabisa. Cakep banget!!! Konsonan langit yang akan menjadi sebuah takdir cinta kita....." Jennie mengetuk-ngetuk kepalanya kecil, berharap sisa-sisa kewarasannya masih nyangkut disana.
Setelah beberapa menit menenangkan diri, Jennie akhirnya turun menemui Lisa.
"Yuk, bentar lagi mau hujan soalnya."
Jennie mengucapkannya cepat, hampir tanpa jeda, sambil melirik Lisa sekilas lalu langsung berbalik dan berjalan menuju motor. Tidak ada basa-basi, tidak ada kontak mata lebih dari satu detik. Ia bahkan tidak memberi waktu Lisa untuk merespons, sudah keburu duduk rapi di jok belakang dengan posisi tegak, pandangannya lurus ke depan seperti anak sekolah yang sedang diantar orang tua.
Lisa yang ditinggalkan begitu saja hanya bisa mengerutkan kening.
"Hujan?" gumamnya pelan sambil mendongak ke langit.
Jelas-jelas cerah. Tidak ada angin, tidak ada awan gelap. Bahkan udara malam itu terasa cukup sejuk. Dengan ekspresi masih bingung, Lisa membuka ponselnya dan mengecek perkiraan cuaca.
"Bener kok ngga hujan."
Ia menatap layar beberapa detik, lalu menoleh ke arah Jennie yang sudah duduk manis di motornya tanpa bergerak sedikit pun.
"Oh..." Lisa tersenyum kecil, akhirnya paham. "Salting ya."
Ia menggigit pipi bagian dalamnya, menahan senyum yang hampir melebar.
"Gemes banget sih," lirihnya pelan.
Lisa kemudian berjalan mendekat, mengambil helm yang sudah ia siapkan dari tadi.
"Sini," katanya lembut.
Jennie sedikit menoleh.
"Kepalanya," lanjut Lisa, mengangkat helm itu. "Kamu pakai helm dulu ya. Aku udah beliin helm pink buat kamu, ada gambar kuda poninya juga. Kamu suka nggak?"
Jennie terdiam. Matanya langsung menangkap warna helm itu. Pink, dengan gambar kuda poni kecil di sampingnya. Dalam hati, ia sudah teriak histeris. "ANJING SALTING BANGET."
Ia berdeham kecil kemudian menjawab pelan "suka kok"
Lisa tersenyum, lalu mendekat sedikit untuk memakaikan helm. Tangannya menyentuh sisi kepala Jennie, merapikan posisi helm, lalu menarik tali di bawah dagunya dengan hati-hati.
Lisa memiringkan sedikit kepalanya, mencoba melihat wajah Jennie dari depan.
"Lebih suka mana dibanding aku?" tanyanya santai.
Jennie diam sejenak lalu ia menoleh sedikit, menatap Lisa dengan ekspresi datar yang dibuat-buat.
"Perlu aku lompat dari helikopter kayak Vicky Prasetyo terus teriak konsonan langit yang ak-"
Belum selesai berucap, Lisa langsung menutup mulut Jennie dengan tangannya.
"Diem, Jennie," katanya cepat, setengah tertawa. "Aku salting banget sekarang." Tangan satunya langsung naik menutupi wajahnya sendiri, seolah benar-benar tidak expect dengan jawaban Jennie barusan.
Karena tidak tertutupi dengan sempurna, Jennie masih bisa melihat wajah Lisa dari sela-sela tangannya. Ada semburat merah tipis di pipinya, senyumnya melebar tanpa bisa ditahan, dan matanya ikut menyipit.
"Makanya jangan iseng"
"Yukk jalan, disini mulu ntar kemaleman"
Lisa menaiki motor, menyalakan mesin, lalu sedikit menoleh ke belakang. "Udah siap?"
"Udah," jawab Jennie singkat, meskipun tangannya masih ragu-ragu mau pegangan di mana.
Motor mulai melaju pelan meninggalkan area kosan. Awalnya Jennie hanya memegang ujung baju Lisa. Tapi beberapa detik kemudian, saat motor sedikit mempercepat laju, ia refleks menggenggam lebih erat. "Hehehe, kapan lagi bisa pegang-pegang my crush"
Di tengah perjalanan, Lisa memperlambat laju motornya saat melewati satu deretan penjual jajanan."Mampir bentar ya,: katanya.
"Beli molen?"
Lisa melirik lewat spion. "Iya, yang kamu suka."
Mereka berhenti sebentar membeli molen. Jennie berdiri di samping, sesekali mencuri pandang ke arah Lisa yang sedang membayar.
"Udah," kata Lisa sambil menyerahkan plastik kecil itu. "Hati-hati, masih panas."
Jennie menerimanya segan. "Makasih."
Lisa hanya mengangguk kecil, lalu kembali menyalakan motor.
Beberapa menit berkendara dalam keadaan diam, akhirnya mereka tiba di tempat yang Lisa rencanakan.
"Cantik nggak malam ini bintangnya?"
Suara Lisa terdengar pelan di tengah angin malam yang berhembus tipis. Mereka duduk berdampingan di atas rerumputan. Jennie mendongak, menatap langit yang tidak sepenuhnya dipenuhi bintang, tapi cukup untuk membuat suasana terasa tenang.
"Lumayan," jawab Jennie setelah beberapa detik, matanya masih menatap ke atas.
"Bintangnya nggak terlalu banyak." Ia berhenti sebentar, lalu menoleh ke arah plastik di pangkuannya. "Aku kasih poin plus karena udah beliin aku molen."
Lisa tertawa kecil mendengarnya, suara tawanya ringan, "Kamu ini maniak molen ya," katanya sambil menggeleng pelan. "Hampir tiap hari aku liat kamu beli molen terus."
Jennie yang sedang mengambil satu potong molen langsung berhenti. Ia menoleh cepat, sedikit kaget.
"Kamu... liat?" tanyanya, nadanya berubah sedikit lebih hati-hati.
Lisa mengangguk santai. "Iya."
Jennie terdiam sebentar, lalu mengangguk pelan, mencoba terlihat biasa saja meskipun dalam hati sudah gonjang-ganjing.
"Iya... nggak tau tuh apa yang dicampur mamangnya," gumamnya, pura-pura fokus ke molen di tangannya. "Sampai bikin aku kecanduan gini."
Lisa kembali tertawa kecil, lalu membuka sebotol air mineral dan menyerahkannya ke Jennie tanpa banyak bicara.
"Nih."
Jennie menerimanya. "Makasih."
Ia meneguk air itu beberapa kali, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Setelah itu, ia menutup botolnya pelan, lalu berbalik menghadap Lisa dengan ekspresi yang sedikit lebih serius.
"Aku mau nanya deh," katanya pelan.
"Hm?"
"Tapi kamu jawab jujur ya."
Lisa mengangguk tanpa ragu. "Iya."
Jennie menarik napas sebentar, lalu menatapnya langsung.
"Kamu tau dari mana kalau yang kasih permen milkita sama notes itu aku?"
Beberapa detik hening. Lisa tidak langsung menjawab. Ia justru tersenyum kecil, lalu tertawa pelan seolah mengingat sesuatu.
"Kamu percaya nggak kalau aku udah kenal kamu cukup lama?" katanya santai. "Mungkin... dua tahun?"
Jennie langsung mengerutkan dahi. "Hah? Gimana bisa?"
Lisa tertawa lagi, kali ini sedikit lebih jelas.
"Jadi... dulu aku pernah ke fakultas kamu," katanya sambil menatap ke depan, mencoba mengingat. "Niatnya mau ketemu temen, minjem buku. Terus aku liat kamu..."
Jennie langsung merasa tidak enak.
"...kamu, Rose, sama satu lagi siapa ya..?"
"Irene?," jawab Jennie pelan, sudah mulai curiga ke mana arah cerita ini.
"Iya, Irene mungkin namanya," lanjut Lisa dengan senyum yang makin lebar.
"Kalian bonceng tiga naik Beat karbu. Kayaknya buru-buru banget, nggak tau ngejar apa. Irene yang bawa motor hampir nabrak kolam deket parkiran jurusan kamu."
Jennie langsung membelalak.
"ANJIR."
Ia refleks menutup wajahnya sendiri sebentar, lalu menatap Lisa lagi dengan ekspresi tidak percaya. "Jelek banget first impressionnya," gumamnya frustasi.
Lisa justru tertawa semakin jadi.
"Lucu banget," katanya, masih menahan tawa. "Kamu duduk di tengah, panik banget-"
Belum selesai bicara, Jennie langsung menutup mulut Lisa dengan tangannya.
"Lisa diem!! Gausah ngomong lagi!" protesnya cepat, wajahnya sudah memerah.
Lisa malah semakin tidak bisa berhenti tertawa. Dengan santai, ia memegang kedua pergelangan tangan Jennie dan menariknya pelan menjauh dari wajahnya.
"Hahahaha, lucu banget, serius," katanya sambil masih tertawa. "Mana ekspresi kamu panik gitu lagi "
"Ihh Lisa kamu bisa diem nggak sih!" Jennie langsung merengut, setengah malu setengah kesal. "Jangan diinget-inget itu!"
"Argh aww, aduh!" Lisa tiba-tiba meringis saat Jennie menggigit bahunya.
"Sakit, Jennie! Kamu macan ya?"
Ia langsung mengusap bahunya, wajahnya masih campur antara kaget dan ketawa.
"Biarin sakit" balas Jennie cepat, masih kesal. Tangannya ikut bergerak mencubit-cubit perut Lisa pelan.
"Makanya kamu jangan tengil!"
Lisa tertawa lagi, mencoba menahan tangan Jennie. "Iya-iya, nggak aku ledekin lagi. Tapi tangan kamu juga berhenti cubitin aku dong."
Jennie akhirnya berhenti, meskipun masih cemberut kecil.
Beberapa detik kemudian, suasana jadi lebih tenang. Angin kembali terasa, suara malam kembali terdengar.
Hening.
Sampai Lisa menoleh lagi ke arah Jennie, dengan senyum tengil yang terlihat jelas
"Jadi..." katanya santai. "Gimana rasanya, Jen? Bonceng tiga terus hampir nabrak kolam jurusan?"
Jennie langsung menoleh cepat.
"ANAK TEKNIK BRENGSEK."
"HAHAHAHAHA."
Bonus dikit
4 massages...
Si Anak Teknik
📍Share location
Sayang...
Aku lagi di bengkel, motor aku mogok lagi :(
Temenin aku mau ngga sayang..?
Me
Otw babe
Aku sekalian bawain molen yaa
Kita bengkel date
••••
This is Jennie everytime she saw Lisa
*all the pictures and cover by pinterest
THE END
So yeahh, just random oneshot story guys wkwkwk.
I want to say thank you buat yang sudah membaca ketidakjelasan tulisan aku dan maaf juga masih banyak terdapat kesalahan didalamnya.
Beneran random aja kepikiran 'Jennie anak PGSD' gitu and that's why terbentuklah karya aneh ini.
If you don't mind, please give your vote and comment yupss. Pengen tau pandangan orang lain ngeliat beginian wkwkwk.