karakter:
(Arvanta Dirga Mahameru)
(Laraya Senja Rinjani-enja)
-||-
Dirga menapak turun dari puncak Mahameru, setelah menaklukkan gunung agung itu, pandangannya tertumbuk pada sosok anggun di tepi jalan setapak. Sosok itu tampak ragu, terhenti, dan seolah digelayuti getaran dingin yang membuatnya gemetar.
Dengan hati-hati, Dirga mendekat, langkahnya perlahan namun penuh keyakinan, seperti menari di atas angin yang tenang.
"Sorry, kak. lo... gapapa? " tutur dirga dengan lembut.
Sosok itu mengangkat pandangan, menatap pria yang kini berada tepat di hadapannya. Matanya menahan gelombang emosi, terdiam sejenak seperti menimbang kata-kata yang akan diucapkan, sebelum akhirnya suaranya lembut namun tegas menembus keheningan.
“Gapapa… cuma hari ini rasanya lebih dingin.”
Entah mengapa, Enja merasakan hawa yang menusuk lebih tajam dari biasanya. Anehnya, tidak ada kabut, dan sinar matahari yang sebentar lagi tenggelam masih menyelimuti lembah dengan hangatnya yang biasa. Namun dingin itu tetap merayap, seolah menyimpan rahasia sendiri.
Sorot mata Dirga jatuh pada tangan wanita di hadapannya; jemarinya gemetar, seolah menahan sesuatu yang tak terlihat.
“Tangan lo gemeter, Kak,” ucap Dirga, nada suaranya ringan tapi mengundang perhatian.
Mendengar itu, Enja menoleh mengikuti pandangan Dirga. Ia melihat—gemetar itu bukan hanya di tangan, tapi merambat ke seluruh tubuhnya.
“Gatau kenapa… dari tadi nggak mau berhenti,” tutur Enja, suaranya polos dan lugu, tanpa menyembunyikan kegelisahan yang ia rasakan.
Dirga menoleh, menatap sekeliling dengan seksama, sebelum kembali menatap Enja dan melontarkan sebuah pertanyaan, seolah ingin menyingkap misteri di balik gemetar itu.
“Lo sendirian, Kak?” tanya Dirga, matanya menelusuri sekitar, tak melihat siapa pun dekat Enja.
“Iya… gue sebenernya rencananya mau ke Ranu Kumbolo aja, nggak summit,” jawab Enja, nada suaranya tenang tapi masih menyembunyikan rasa gugup.
“Rileks dulu, tarik napas… gerakin badan lo,” ucap Wira beberapa detik kemudian, suaranya lembut menenangkan.
“Berhenti di sini dari kapan?” tanya Dirga sambil melangkah mendekat, rasa penasarannya terpancar jelas dari sorot matanya.
“Gatau… mungkin udah sekitar sejam,” jawab Enja sambil merenung, ia tak begitu ingat seberapa lama berdiri terpaku di tempat itu.
“Maaf banget ya… gue izin pegang tangan lo,” tutur Wira lembut, suaranya hangat, meminta izin dengan penuh hormat.
“I-iya… maaf juga, udah bikin repot,” jawab Enja, sedikit menunduk, merasa bersalah karena tanpa sengaja membuat orang lain kerepotan.
“It’s okay… kayaknya lo lagi kurang fit ya? Tangan lo dingin banget,” ucap Dirga sambil perlahan mengusap tangan Enja. Tangan yang digenggamnya terasa menusuk dingin, seperti dimasukkan ke dalam freezer.
“Gue juga nggak tau… waktu mau naik, gue ngerasa aman banget. Tapi habis istirahat tadi, kaki gue mendadak berat… capek banget,” kata Enja jujur. Setelah istirahat sejenak, saat kembali berjalan, tubuhnya terasa berat dan melelahkan.
“Kalo gitu, sekarang lo pake jaket gue aja,” ujar Dirga. Bukan tawaran, tapi perintah yang lembut namun tegas, sulit untuk ditolak.
“Jangan… nanti lo ikut kedinginan,” kata Enja panik, takut jika Dirga ikut terserang dingin dan berisiko hipotermia.
Dirga melepas jaketnya dan membalut tubuh Enja yang menggigil. “Gue masih bisa nahan… kali ini lo yang lebih butuh,” ujarnya, mencoba menenangkan sekaligus meyakinkan Enja agar tak terlalu khawatir.
“Maaf banget… sekali lagi gue udah ngerepotin lo,” bisik Enja, tubuhnya mulai terasa hangat dalam pelukan jaket itu.
“Gapapa… gue kan udah jalan turun, jadi santai aja. Lo mau minum?” tanya Dirga, suaranya ringan, tapi penuh perhatian, melempar pertanyaan di akhir kalimat seakan ingin memastikan Enja benar-benar baik-baik saja.
“Gue tadi udah minum kok… oh iya, nama lo siapa?” tanya Enja, baru ingat kalau mereka belum saling mengenal.
“Arvanta Dirga Mahameru… panggil aja Dirga,” jawab Wira, matanya bersinar bangga saat menyebut nama panjangnya.
“Wah… lo kesini berarti mau naklukin diri lo sendiri ya?” ucap Enja sambil tersenyum.
Tawa singkat mengalir di wajah tegas Dirga. “Haha… gue udah lumayan sering kesini, kok. Lo sendiri gimana?” jawabnya apa adanya.
“Ini kedua kalinya… yang pertama gue sampe puncak. Ga heran sih kalo lo suka kesini, Semeru emang indah banget,” kata Enja. Tanpa disadari, tubuhnya yang menggigil tadi kini terasa hangat, dan dia tak sadar bahwa dirinya sendiri punya pesona tersendiri.
“Lo benar… btw, gw belum tau nama lo,” potong Dirga, menatapnya sebentar.
“Oh iya, lupa. Gue Laraya Senja Rinjani… panggil aja Enja,” jawabnya sambil tersenyum manis.
“Nama lo cantik,” ujar Dirga, sengaja menambahkan pujian.
“Makasih… setelah ini, lo ada target naklukin puncak mana lagi?” tanya Enja, ingin meneruskan obrolan ringan.
Dirga menatap jauh ke arah horizon, berpikir sejenak, lalu tersenyum tipis.
“Menurut lo… gue harus naklukin puncak Rinjani dulu… atau puncak hati lo?”
Ucapan itu membuat Enja terkejut. Ia menatapnya, terdiam sesaat, bibirnya sedikit tergigit. “H-hah?”
"kini, hatimu pada adalah
Satu-satunya puncak tertinggi
yang ingin aku tuju. "
-dirga-
-𝐓𝐨 𝐛𝐞 𝐜𝐨𝐧𝐭𝐢𝐧𝐮𝐞𝐝