NOCTIS SOLARIS

By EllsadayChristiela

17.7K 2.4K 471

Matahari selalu memberi cahayanya agar bulannya tetap hidup. Semua orang menyebut itu fenomena alam yang inda... More

BAB 2
BAB 3
BAB 4
BAB 5
BAB 6
BAB 7
BAB 8
BAB 9
BAB 10
BAB 11
BAB 12
BAB 13
BAB 14
BAB 15
BAB 16
BAB 17
BAB 18
BAB 19
BAB 20
BAB 21
BAB 22
BAB 23
BAB 24
BAB 25

BAB 1

2.2K 187 28
By EllsadayChristiela

Matahari pagi menyusup melalui celah gorden sutra di lantai dua kediaman Suryaningrat, namun sinarnya seolah enggan menyentuh kulit Bagaskara Seandika Suryaningrat. Pemuda itu berdiri mematung di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya yang tampak asing. Kemeja putih seragamnya yang kaku terlihat terlalu lebar di bagian bahu, seolah tubuhnya baru saja menyusut dalam semalam.

Sean, begitu lingkungan memanggilnya menghela napas, sebuah aktivitas sederhana yang mendadak terasa seperti mendaki tanjakan terjal. Dadanya terasa kosong, dan kepalanya berdenyut seirama dengan detak jantung yang melambat.

Pandangan sean turun ke lengan kirinya. Di bawah kemeja yang ia kancingkan dengan jemari bergetar, terdapat sepetak memar kebiruan yang masih segar di lipatan siku. Bekas tusukan itu masih berdenyut, meninggalkan rasa ngilu yang menjalar hingga ke ujung jari. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba mengusir rasa pening yang membuatnya hampir limbung.

Tok 
Tok

Pintu kamarnya terbuka tanpa menunggu izin. Seorang remaja laki-laki masuk dengan langkah ringan, hampir melompat. Wajahnya cerah, pipinya kemerahan, dan matanya berbinar penuh energi.

" Sean! Lama banget sih? Ayah sama Bunda udah nunggu di bawah," seru Sasangka Keandika Suryaningrat, yang di panggil dengan singkat Kean. Ia menghampiri sena dan menepuk bahu kakaknya dengan keras sebuah tepukan persahabatan yang bagi sean terasa seperti hantaman batu besar.

Sean meringis kecil, namun segera menyembunyikannya di balik senyum tipis yang dipaksakan. " hemm.. duluan aja."

Kean tertawa, lalu bercermin di samping sean. Ia merapikan rambutnya yang hitam sehat, sangat kontras dengan rambut sean yang terlihat sedikit kusam pagi ini 

" Gue ngerasa seger banget hari ini se.. kayak punya tenaga buat lari maraton!"

Sean menatap bayangan kean di cermin. Sean terlihat begitu hidup, begitu penuh dengan warna, sementara dirinya sendiri tampak seperti sketsa pensil yang mulai dihapus perlahan. Ada rasa syukur yang pedih di hati kean melihat binar itu, namun di sudut gelap pikirannya, sebuah suara berbisik: ck.

"Baguslah," gumam Bagaskara singkat. Suaranya serak. "Ayo turun. Jangan bikin Bunda nunggu."

Kean merangkul bahu sean, menyeret kakaknya yang berjalan dengan langkah berat menuju ruang makan. Di koran-koran sosial, mereka sering disebut sebagai kembar identik yang sempurna. Namun pagi ini, saat mereka berjalan berdampingan di lorong mansion yang sunyi, mereka tampak seperti dua sisi koin yang berbeda: yang satu adalah bulan yang baru saja memenangkan cahayanya, dan yang satu adalah Matahari yang hampir padam karena memberikan seluruh apinya.

-

-

Ruang makan itu terlalu luas untuk hanya diisi empat orang. Di atas meja marmer panjang yang sanggup menampung dua puluh tamu, Adrian Suryaningrat dan Eleanor Maheswari duduk di ujung meja dengan punggung tegak, seolah-olah sedang memimpin rapat dewan direksi daripada sekedar sarapan keluarga.

Begitu Sean dan Kean muncul, pandangan Eleanor langsung terkunci pada Sean. Wanita itu meletakkan serbet kainnya, matanya menyipit penuh selidik.

" sean, jalanmu lambat sekali.. Kamu merasa pusing ?" Suara Bunda tenang, namun ada nada tuntutan di sana yang membuat Sean tidak punya pilihan selain menegakkan punggungnya yang pegal.

" ngantuk aja bun " jawab Sean singkat. Ia menarik kursi berat di sebelah Kean.

Di hadapan Sean, sebuah gelas berisi cairan merah pekat sudah menunggu. Bukan jus stroberi segar seperti milik Kean, melainkan sari bit dan bayam dengan aroma tanah yang tajam. Di sampingnya, terdapat deretan suplemen yang harus Sean telan setiap pagi.

" habiskan sarapan jusmu, Se.. Ayah sudah melihat laporan lab-mu kemarin sore. Angka-angkanya mulai menyentuh batas bawah," ayah berujar tanpa melepaskan pandangannya dari tablet di tangan kiri. " Kamu tidak boleh drop. Besok ada jadwal penting di sekolah, kan? Ayah tidak mau kamu kenapa kenapa dan menghambat jadwal kita minggu depan "

Sean menatap cairan merah itu dengan muak. Namun, ia melihat Kean yang sedang asyik mengunyah roti dengan pipi yang mulai merona sehat. Kontras itu kembali menghantamnya.

" iya, yah," gumam Sean. Ia meminum cairan kental itu dalam satu tarikan napas, menahan rasa mual yang bergejolak di perutnya yang kosong.

Bunda tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak sampai ke mata. Ia beralih mengusap punggung tangan Kean dengan sayang 

" Kean sayang, hari ini kalau merasa lelah di sekolah, langsung hubungi pak urip, ya? Tapi lihat wajahmu hari ini... Bunda senang sekali. Kamu tampak sangat segar "

Kean menyengir, memamerkan deretan giginya " udah dapet booster kan bund. Tenaganya double!"

Kalimat polos Kean bagaikan belati yang menoreh tepat di memar lengan Sean. Sean menunduk, fokus memotong telurnya dengan tangan yang sedikit bergetar. 

-

-

Perjalanan menuju SMA Nusantara terasa lebih panjang dari biasanya. Di dalam mobil sedan mewah yang kedap suara itu, Kean asyik mengetik sesuatu di ponselnya, sesekali tertawa kecil. Sementara Sean hanya menyandarkan keningnya pada kaca jendela yang dingin. Ia memandangi aspal jalanan, membayangkan rasanya berlari di atas sana tanpa harus mengkhawatirkan apapun.

" makasih ya, Pak Urip," ucap Kean ceria saat mobil berhenti tepat di depan lobi sekolah.

Begitu pintu mobil terbuka, perhatian orang-orang seolah tersedot pada mereka. Dua pangeran Suryaningrat telah tiba. Kean turun dengan langkah mantap, menyapa satpam dan teman-temannya dengan lambaian tangan yang hangat. 

Sedangkan sean menyusul di belakang, berjalan dalam diam seperti bayangan yang bertugas menjaga sang tuan muda. Beberapa siswi berbisik-bisik memuji ketampanan mereka, namun Sean tidak peduli. Kepalanya masih sedikit pening, dan aroma parfum bunda seolah masih menempel di kerah bajunya, mencekik.

" Gue duluan ya, Se! Anak-anak photografi udah nungguin di kantin," pamit Kean sambil menepuk lengan Sean tepat di atas bekas memar itu lagi yang sekarang tertutup hoodie berwarna abu abu 

Sean hanya mengangguk kecil " Jangan kecapekan, Kean."

"Siap, Bos!" Kean menghilang di balik koridor, dikelilingi oleh tawa dan keriuhan teman-temannya.

Setelah memastikan sosok Kean benar-benar hilang dari pandangan, bahu Sean yang tadinya tegak seketika merosot. Topeng " kakak teladan " itu retak. Ia tidak menuju ke kelasnya. Alih-alih belok ke kanan, Sean mengambil jalan memutar menuju area belakang sekolah yang jarang dilewati orang.

Di balik gudang olahraga, Sean menyandar pada dinding beton yang kasar. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah kunci motor dengan gantungan carabiner yang sudah kusam. Ia menarik dasinya hingga lepas, membuka dua kancing teratas kemejanya, dan menghirup udara luar dengan rakus.

Matanya yang tadinya sayu dan patuh di meja makan, kini berubah menjadi tajam dan liar. Di rumah, dia adalah matahari yang hampir padam. Tapi di sini, di balik bayang-bayang, Sean adalah api yang siap membakar apa saja.

" sabar " bisiknya pada diri sendiri 

Ruang kelas XII-IPA 1 biasanya riuh saat jam diskusi kelompok, namun di sudut kanan belakang, suasana terasa lebih teratur. Empat siswa duduk melingkar, namun atensi mereka sepenuhnya tertuju pada satu orang: Bagaskara Seandika Suryaningrat.

Sean sedang membolak-balik lembar kerja biologi dengan gerakan jemari yang tenang. Tidak ada jejak jemari yang bergetar seperti saat di meja makan tadi pagi. Di bawah lampu neon kelas yang terang, wajahnya tampak segar, tajam, dan penuh wibawa. Seragamnya yang pas di badan menunjukkan bahu yang tegap, hasil dari latihan fisik rutin sebagai katarsis nya menjadikan tubuhnya tegap seperti sekarang.

"Jadi, kita bagi dua bagian. Analisis data genetika biar gue yang pegang. Sisanya, kalian bagi buat penyusunan laporan sama presentasi. Ada keberatan?" Sean bertanya sambil menatap rekan kelompoknya satu per satu.

Suaranya tidak keras, namun memiliki penekanan yang membuat siapa pun enggan membantah. Itu adalah jenis suara yang biasa didengar dari orang-orang yang terbiasa memimpin.

"Gue oke, Se. Tapi bagian analisis itu kan paling susah, yakin lu sanggup sendirian?" tanya aras, salah satu teman dekatnya yang juga kapten tim futsal.

Sean hanya menaikkan satu sudut bibirnya sebuah seringai tipis yang terlihat meremehkan sekaligus memikat 

" Lu kayak baru kenal gue kemarin aja, ras... Fokus aja ke bagian lu, jangan sampai ada salah ketik yang bikin nilai kita turun ke sembilan puluh lima."

"Sombong banget, tapi ya emang bener sih," sahut aras sambil tertawa, diikuti anggukan setuju anggota kelompok yang lain.

Di barisan depan, beberapa siswi tampak berpura-pura sibuk dengan buku paket mereka, padahal mata mereka sesekali melirik ke arah sudut belakang. Tiara, siswi paling populer di kelas itu, tampak sengaja memutar kursinya hanya untuk mencuri pandang ke arah Sean yang sedang serius mencoret-coret kertas dengan pulpen peraknya. Setiap kali Sean menyisir rambutnya yang sedikit jatuh menutupi dahi dengan tangan kiri, terdengar bisik-bisik tertahan di antara para gadis itu.

"Gila ya, emang bener-bener perfect. Udah ganteng, tajir, pinter, adiknya juga sayang banget sama dia. Kurangnya apa coba?" bisik seorang siswi di kelompok sebelah yang hanya dibalas Sean dengan lirikan mata saat ia tak sengaja mendengar percakapan itu.

Lirikan dalam itu sukses membuat siswi tersebut salah tingkah dan buru-buru menunduk. Sean tahu benar cara memainkan pesonanya tanpa terlihat berusaha terlalu keras.

Ibu Ratna, guru Biologi yang terkenal dengan julukan 'Singa Sekolah', berjalan mendekat. Biasanya, ia akan memberikan komentar pedas pada setiap kelompok, namun saat sampai di meja Sean, ekspresinya melunak.

"Kelompok Sean sudah sampai mana?" tanya Bu Ratna dengan nada yang hampir bisa dibilang... ramah.

"Hampir selesai, Bu. Kami sedang mendalami kaitan mendelian genetics dengan kasus-kasus spesifik. Saya rasa drafnya bisa saya serahkan sebelum jam istirahat," jawab Sean dengan nada sopan yang sempurna.

"Bagus. Selalu bisa diandalkan, seperti biasa. Kalau semua siswa seperti kamu, Sean, hidup saya pasti jauh lebih mudah," puji Bu Ratna terang-terangan yang langsung disambut sorakan " huuhuu " pelan dari teman-teman sekelasnya.

Sean tertawa lepas, sebuah tawa yang terdengar sangat lepas dan tanpa beban. Ia terlihat sangat... normal. Begitu hidup, kompeten. Di momen ini, ia benar-benar menikmati perannya sebagai 'Anak Emas'.

Dari kejauhan, melalui jendela kaca yang menghubungkan kelasnya dengan koridor, Sean sempat menangkap sosok Kean yang berjalan melewati kelasnya menuju ruang fotografi. Kean sempat melambai singkat ke arahnya dengan senyum lebar sambil mengangkat kameranya. Sean membalasnya dengan lambaian tangan yang penuh perlindungan, membuat beberapa orang di kelas kembali berkomentar betapa harmonisnya hubungan kakak-beradik itu.

Bagi seisi SMA Nusantara, Sean adalah matahari yang berada di titik tertinggi. Tidak ada awan yang menutupinya, tidak ada badai yang berani mendekatinya. Ia adalah gambaran keberuntungan yang dibungkus dengan kemeja putih tanpa cela.

-

-

Kantin SMA Nusantara saat jam istirahat pertama selalu menyerupai lautan manusia yang berisik, namun kerumunan itu seolah terbelah secara alami saat Sean berjalan masuk bersama dengan aras. Dengan tangan yang dimasukkan ke saku celana dan langkah santai, sean menuju sebuah meja di dekat jendela besar meja yang secara tidak tertulis telah menjadi wilayah kekuasaan Suryaningrat bersaudara.

" udah pesen ?" tanya Sean sambil menepuk pundak Kean yang sedang fokus menatap layar kameranya.

Kean mendongak, matanya berbinar " eh, Se! Belum, nungguin lu. Gue mau mi ayam, tapi nggak pakai sawi ya. Oiya, sama es tehnya jangan terlalu manis."

" pesen sendiri kean .. udah gede juga lu .. " seloroh aras

sedangkan sean mendengus pelan, namun tangannya terulur mengacak rambut Kean dengan gemas " manja. Ya udah, tunggu sini... lu mau pesen apa ras ? biar sekalian .. " 

" apa aja yang penting gratis .. " jawab aras sambil tersenyum pepsodent

Beberapa pasang mata mengikuti gerak-gerik Sean saat ia mengantre. Tidak ada yang berani menyerobot, malah beberapa siswa kelas sepuluh sengaja memberi ruang lebih agar Sean bisa memesan duluan. 

Saat Sean kembali dengan nampan berisi pesanan mereka bertiga,  ia juga membawa sebotol air mineral dingin yang langsung ia letakkan di depan Kean.

" Minum air putih dulu sebelum es teh " perintah Sean mutlak.

Kean mengerucutkan bibirnya, namun tetap patuh " Siap, Kanjeng Gusti Bagaskara.. "

Tawa kecil Sean pecah mendengarnya. Mereka mulai makan sambil mengobrol. Kean dengan antusias menunjukkan hasil jepretannya pagi tadi , foto makro kelopak bunga yang masih basah terkena embun.

"Bagus," puji Sean tulus. Matanya menatap Kean dengan binar bangga yang tidak bisa dipalsukan. "Lu emang punya mata buat hal-hal kayak gini, Ke."

"Iya dong! Nanti kalau ada lomba pameran sekolah, lu harus dateng ke stand fotografi ya, Se," ujar Kean penuh semangat. Pipi anak itu merona kemerahan karena antusias.

" kean .. lu gak ada niat mau foto gue pas tanding futsal gitu ? gue kan mau update .. " tanya aras sembari menyuap mie ayam kedalam mulutnya 

" berani bayar berapa lu kalo mau gue fotoin ? " ledek kean

" dih.. udah kaya tapi mata duitan .. ya sekalian lah lu fotoin kalo si sean lagi tanding juga, kan gue satu team sama sean .. " jawab aras tidak mau kalah 

" lah kalo foto nya sean mah udah banyak, tiap tanding gue fotoin .. tapi gak pernah satu kalipun di up ke sosmednya dia .. " gerutu kean " eh .. tapi lu punya sosmed gak sih se ? " 

" udah lupa passwordnya .. " tukas sean santai 

" matahari tidak perlu menunjukan sinarnya kepada dunia karena ia sudah terang dengan sinar nya .. " tiba tiba aras menjadi puitis menggambarkan sosok sean 

" mulai mulai .. gila .. " sambar sean kesal yang hanya di balas dengan senyum oleh aras

Sedangkan di meja-meja sekitarnya, bisik-bisik pujian mulai terdengar lagi. 

"Sumpah, gue pengen banget punya abang kayak Sean. Perhatiannya itu, lho..." 
"Kean juga gemesin banget, ya? Pantesan Sean jagain banget."

Sean mendengar semua itu, tapi dia tetap fokus pada adiknya dan aras sahabatnya. Di bawah meja, ia sempat merasakan denyut halus di lipatan sikunya, pengingat dari kejadian tadi pagi. Namun, melihat tawa lepas Kean dan binar sehat di mata adiknya, Sean merasa bahwa semua kepalsuan ini semua rasa sakit yang ia sembunyikan memang ada harganya.

Untuk sesaat, Sean benar-benar percaya bahwa mereka adalah saudara normal, di sekolah yang normal, dengan masa depan yang normal.

tbc

~~~

Test ombak dulu lah yaa .. 
1 bab .. 
kalo ok aku lanjut .. 
kalo perlu revisi banyak .. 
aku tarik lagi dulu buat di perbaikin .. 

ini aku blm tau akan lanjut kapan, 
seperti ucapan aku di sebelumnya .. 
aku mau coba selesaiin sela sama penumbra dulu baru pindah kesini .. 
jadi give me your feed back yaa 

THANNKYUUUU :) 

Continue Reading

You'll Also Like

40.7K 2.6K 38
CAELAN DAVA VALERE LUCIEN DEVAN VALERE mereka sama.... tapi kehidupan mereka bagaikan kehidupan seorang yang hina dan seorang mulia "jangan ikutin g...
93K 17.1K 40
Setelah menikah dengan seorang Janelle Claire Dervaine, perempuan yang didambakan banyak orang, Cassie pikir ia setidaknya akan merasakan pernikahan...
4.2K 52 2
Keano dan Seano, si kembar yang berbeda. Banyak yang bilang mereka mirip, namun lain lagi bagi mereka yang bahkan tidak pernah sekalipun merasa demi...
10.8K 1.4K 11
Ada banyak hal yang membuat Radeya berkali-kali ingin menyerah. Menyudahi semuanya. Namun, di sela-sela hidup yang tak pernah benar-benar ramah, Tuha...
Wattpad App - Unlock exclusive features