*Kalau teman-teman tidak sabar mau langsung baca bab berikutnya, bisa ke NT, ya😊 di sana sudah sampai bab 86. Selamat membaca🥰🩷
*****
"Ayah kamu baik-baik saja, besok dia sudah diperbolehkan pulang. Mau menjenguknya?" tawar Evano.
Dia mengatakan itu karena Kana beberapa kali terlihat murung dan menjadi lebih pendiam. Evano tahu istrinya pasti sedang khawatir, tapi di saat yang sama gengsinya terlalu tinggi, dan itu semua berkat kelalaian ayah kandungnya itu sendiri.
"Tidak apa-apa, mau gimanapun dia memang ayahmu," ungkap Evano mendekat lalu mendekap istrinya sambil mencium pucuk kepalanya. "Lihat saja, dan pastikan kondisinya, supaya perasaanmu sebagai anaknya menjadi lega. Kamu dia sebentar, gak usah ngomong abis itu kita pulang," lanjut Evano meyakinkan.
Kana mendongak menatap suaminya dengan wajah yang sedikit manyun, tapi kemudian dia mengangguk. "Tapi ini karena kamu yang maksa, Mas. Bukan aku yang peduli. Cih, siapa juga yang mau mempedulikan tua bangka itu, sudah gak tanggung jawab ke anak, eh malah banyak maunya, dan tega menjadi anak sendiri tumbal kejayaan bisnisnya!"
Evano mengangguk setuju dan mengusap puncak kepala istrinya lalu tersenyum. "Ya sudah, kamu siap-siap sana. Dandan yang cantik, biar si Sabun Mandi iri!"
Kana terkejut, dan menatap suaminya dengan sedikit syok mendengar ucapannya. Evano menyadari itu dan menjelaskan. "Loh, kamu sendiri yang suka bilang begitu, memanggil anak tiri ayahmu begitu. Bukannya itu panggilan kesukaanmu padanya? Sabun Mandi!"
"Tapi Mas tahu dari mana?" tanya Kana serius.
"Dari kamu sendiri, lagian kamu suka membicarakan itu saat berbicara dengan dua temanmu itu di telepon," jelas Evano.
"Mas nguping?"
"Bukan nguping, tapi gimana aku gak dengar, kamu itu kalau di rumah bukannya memperhatikanku, malah suka teleponan dan videocall berjam-jam dengan dua temanmu yang aneh itu!"
Kana menyengir dan menggaruk kepalanya yang tak gatal, tapi beberapa detik kemudian dia juga gak mau kalah. "Tapi itu juga karena salah Mas, punya istri suka dianggurin dan lebih suka bergelut dengan pekerjaan. Harus banget gitu kerja dua puluh empat jam?!"
"Kamu ini!" Evano menjewer ringan hidung Kana, lalu mengusap kepala istrinya itu gemas. "Pintar sekali ngelesnya! Sudah, sekarang lebih baik kamu siap-siap, kita ke rumah sakit sebelum dia pulang!"
*****
Sementara itu, Khanza sudah di rumah. Dia sudah boleh pulang, tapi hubungannya dan suaminya kembali memanas. Pria itu marah karena mengetahui Khanza hendak di bawa kabur dari rumah sakit tempo waktu oleh anak buah suruhan Kana, atau tepatnya Evano untuk membuat Kana senang.
"Makanlah ... habiskan dan minum obatmu setelah itu!" ungkap suaminya dingin.
"Hm, kamu bisa pergi!" jelas Khanza ketus.
Namun, ternyata jawaban itu membuat kesabaran suaminya habis. Dia menatap istrinya dengan tatapan yang mengancam dan mengintimidasi.
"Makan, aku bilang makan!" tegasnya sambil mengulurkan sesuap bubur yang disendok dan diarahkan ke depan mulut istrinya. "Jangan diam saja Khanza, dan tolong berhenti membuatku marah!"
Khanza mendengus kasar dan membalas tatapan suaminya dengan tidak mau kalah. "Apa kamu tidak dengar, aku bilang aku bisa makan sendiri, dan asal kamu tahu aku mual melihat wajahmu. Kalau sudah begitu kamu pikir aku bisa makan?!"
Suaminya mengeram, mengepalkan tangan dan mencoba menahan emosinya. "Khanza!!"
"Aku benar-benar serius. Aku mual mencium aroma tubuhmu yang menyengat, kamu mau aku masuk rumah sakit lagi, atau kamu mau anak ini leny—"
Belum selesai bicara, suaminya langsung memotong kalimatnya. "Baik! Aku akan keluar, aku akan ganti parfum, ada lagi yang kamu mau?" tanyanya dengan nada yang dipaksakan mengalah. "Tapi kamu harus makan, dan minum obatmu. Jangan macam-macam lagi, apalagi meminta bantuan sahabatmu kabur dariku, atau akan melakukan sesuatu yang membuatmu menyesal Khanza!" tegas suaminya.
"Kita lihat saja nanti, kalau kamu masih belum mensucikan diri dari belaian selingkuhan berkedok sekretarismu itu, atau tubuhmu masih berbau dia, jangan salahkan aku nekat. Aku hanya gagal hari itu, bukan berarti aku berhenti mencoba!" ceplos Khanza dengan nada yang sangat menjengkelkan.
Emosi suaminya tampaknya sudah diubun-ubun, sebab telinganya sendiri sudah keliatan memerah, tapi pria itu justru mengangguk, dan Khanza semakin memperkeruh keadaan. Tak kenal takut jika sewaktu-waktu kesabaran suaminya bisa habis, dan amarahnya meledak.
"Ah, tunggu dulu!" tahan Khanza sebelum suaminya benar-benar pergi. Suaminya itu hampir keliatan senang, tapi setelah Khanza melanjutkan ucapannya di kembali jengkel. "Transfer aku uang, sekarang juga! Aku juga gak bisa makan tanpa nonton live orang jualan. Aku mau checkout beberapa barang, supaya nafsu makanku meningkat."
"Akal-akalanmu saja!" cibir suaminya kesal, tapi kemudian dia tetap melakukan maunya Khanza, tapi setelah itu dia tetap di dorong menjauh.
"Sudah sana, pergilah! Jangan kembali ke sini sebelum waktu makan berikutnya. Abis makan aku mau istirahat dan aku tidak bisa istirahat dengan tenang kalau kamu malah di sini!"
*****
Di sisi lain Kana dan Evano sampai di rumah sakit. Wanita itu langsung mendekat ke arah brankar pasien di mana ayahnya sedang berbaring di sana. Laki-laki tua itu lantas tersenyum dan menatap putrinya bahagia. Tatapan yang tidak pernah dia tunjukkan pada Kana selama ini.
"Kamu datang, Nak?"
"Hm, dan aku membawa beberapa buah dan suplemen kesehatan untuk ayah. Makan dengan baik, dan jangan sampai sakit lagi!" ungkap Kana dengan wajah datar.
"Baiklah, tapi Ayah benar-benar tidak menyangka kalau kamu sangat mempedulikan Ayah setelah semua ini," ungkap Ayahnya terdengar sedikit bergetar.
Mungkin dia memang terharu mendapati kehadiran anak kandungnya, karena dia saat yang sama anak tirinya yang selama ini sangat diperhatikannya, justru mengabaikannya.
"Ya, bagaimana lagi. Sampai kapanpun ayah akan menjadi ayahku, walaupun ayah sudah tega mengabaikan aku bertahun-tahun, lalu memanfaatkan aku untuk perusahan, tapi tak apa. Setidaknya aku memdapatkan suami yang sangat perhatian, tidak seperti ayah," cibir Kana.
"Maafkan ayah, Nak ...."
Kana tak langsung menjawab, dia menatap ayahnya sejenak, menghela nafas dan menggeleng. "Aku tidak akan pernah memaafkanmu, tidak, tapi–" Wanita berhenti sejenak kemudian tersenyum. "Tapi ayah tidak perlu risau, karena aku tidak akan balas dendam. Hidup saja dengan baik dan terus abaikan darah danginmu sendiri. Setidaknya jangan sakit lagi dan membuatku repot mengkhawatirkanmu!"
Laki-laki itu langsung mengangguk, memasang wajah anak kecil yang seolah baru saja diomeli ibunya, dan Kana segera berbalik, sebab dia tak mau lemah di hadapan ayahnya.
"Oh, ya. Cepat nikahkan anak tirimu itu, sebelum dia menjadi bencana di hari tuamu, tapi ya itu terserahmu juga ayah. Terserah, mau mendengarku atau tidak. Silahkan saja!" ucap Kana sebelum kemudian berlalu meninggalkan ayahnya begitu saja.
*****