ORION : 2INE'S & LILYNN #48Fi...

By reevenar

2.9K 437 27

"Nanti kalau aku udah---" "Gosah ngomong yang aneh-aneh! Tuh, kamu lihat cahaya langit yang ada di atas sana... More

Episode. 1
Episode. 2
Episode. 4
Episode. 5
Episode. 6
Episode. 7
Episode. 8
Episode. 9
Episode. 10
Episode. 11
Episode. 12
Episode. 13
Episode. 14
Episode. 15
Episode. 16
Episode. 17
Episode. 18
Episode. 19
Episode. 20
Episode. 21
Episode. 22
Episode. 23
Episode. 24
Episode. 25
Episode. 26
Episode. 27
Episode. 28
Episode. 29
Episode. 30
Episode. 31

Episode. 3

117 15 0
By reevenar

Happy reading 🤍


"Sepertinya di depan ada yang kecelakaan, Non." Kata Pak Wirya sopirnya Delynn. Delynn emang kalau berangkat sering dianter sama sopir. Pas pulang baru dijemput sama Maminya. Tapi itu juga gak tiap hari, paling ya minimal 2 kali seminggu.

Delynn gak nyahut. Dia cuma melirik kedepan dengan tatapan dinginnya. Terus dia Hela napas tanpa komen apa-apa. Ini dia sisi lain dari Delynn. Dia bakalan berubah 180 derajat kalau lagi gak sama Maminya.

"Kalau, Non, bersedia. Saya bisa panggil teman saya buat anterin, Non, ke sekolah biar gak telat." Kata Pak Wirya lagi.  "Naik motor tapi."

"Gausah." Jawab Delynn dengan sibuk liatin tab di pangkuannya. Gayanya udah kayak CEO muda di Dracin aja. Tapi emang dia CEO sih. Papinya punya usaha Diamond dan dia pun udah disuruh ngelola salah satu cabangnya dari umur 14 tahun. Gak sepenuhnya ngelola karena masih dibantu juga sama Leon, Bapaknya. Pesona anak tunggal kaya raya ahli waris tuh gini.

Pak Wirya hanya mengangguk tanpa mengusul lebih lanjut.

Perlahan mobil pun mulai kembali jalan meski gak bisa dengan kecepan normal.

Delynn keliatan menghela napas berkali-kali baru kemudian dia lihat orang-orang di luar jendela mobil. Suasana yang keliatan dari dalam itu seolah diluar kayak lagi malam. Padahal aslinya matahari bersinar dengan cerahnya.

Ketika lagi gabut gabutnya merhatiin orang orang, mata Delynn pun terhenti ke sosok cewek yang lagi makan bakso gerobakan pinggir jalan. Di sampingnya terparkir mobil listrik mungil.

Karena mobilnya lagi pelan banget, Delynn jadi bisa ngeliatin cewek itu sedikit lebih lama. Gimana cara dia makan dengan lahapnya sama cegukan yang bikin badannya kedut kedut. Menyaksikan hal itu sudut bibir Delynn jadi sedikit terangkat. Dia jadi merasa terhibur ditengah kemacetan yang terjadi.

"Dasar chipmunk." Gumam Delynn sambil geleng-geleng.

"Ada apa, Non?" Tanya Pak Wirya saat menotice nona mudanya seperti ngomong sesuatu .

Delynn gak nyahut. Dia cuma geleng-geleng sambil balik ambil tab terus fokus liatin laporan lagi.

______

"Ibu, serius nih gapapa kami tinggal?" Tanya Erine sekali lagi ketika dia sama Virgi udah bersiap mau berangkat ke sekolah.

Cynthia gak langsung menyahut, beliau justru ngambil tongkat pel terus, "Tew! I FEEL GOOD!"

Lihat ibu mereka udah bisa gaya kesurupan, fix. Udah pasti sehat walafiat itu ibu dua buntut.

"Oke oke. Kami percaya kalau gitu. Aku berangkat dulu ya, Bu." Kata Erine sebelum kelakuan ibunya makin menjadi.

"Virgi juga, Bu. Assalamu'alaikum." Kata Virgi dengan bersaliman sama ibunya.

"Iya, kalian hati-hati ya. Ingat tumblernya jangan sampai ketinggalan di angkot."

"Siap, Ibu. Nih, udah aku rantai." Kata Virgi sambil nunjukin tumblernya yang emang dipakein tali rantai. Erine yang lihat itu cuma senyum aja liatin.

"Bye, Bu." Ucap Erine yang kemudian jalan lebih dulu ngelewatin bunga bunga yang sesekali dia hirup wanginya.

________

Tin!

Baru beberapa meter Erine sama Virgi jalan ninggalin rumah mereka nuju angkot sekolah yang sering standby gak jauh dari rumahnya, udah ada yang ngeklakson. Pas Erine tengok itu mobil kayak gak asing.

"Bang Ol!" Seru Virgi ketika kaca mobil diturunkan.

"Hai! Ayo, masuk!" Kata Oline yang masih didalam mobilnya.

"Oke---" Virgi gercep tapi tangan Erine lebih gercep buat nahan.

"Makasih. Tapi kita biasa naik angkot." Kata Erine dengan muka cueknya.

"Gapapa, biar sekalian gue anterin." Kata Oline lagi.

"Iya, Ka, naik mobil aja adem."

"Ga--- Virgi."

Oline udah keluar dari mobilnya terus bukain pintu dan itu langsung diserbu sama Virgi.

"Ka Erine, ayo!" Kata Virgi yang udah duduk di jok belakang.

Oline ngasih tatapan buat Erine juga ikutan masuk.

"Lo mau adek Lo gue culik?" Tanya Oline dengan tatapan nakal.

Erine rolling eyes. Mau gak mau dia pun ikutan masuk. Tapi pas dia gerak mau masuk ke jok belakang, Oline keburu nutup terus bukain yang depan.

Dia bikin gedikan dagu lagi agar Erine masuknya di jok depan.

"Lo ada motive apa sih sebenarnya tiba-tiba muncul di kehidupan gue begini?" Tanya Erine dengan tatapan tajam.

Oline gak langsung jawab, dia lihat jam tangan dikirinya. "Udah mau jam 7. Masih mau ngobrol disini atau telat bareng?"

"Udah, Ka, buruan naik. Ntar aku yang telat." Desak Virgi.

Erine ambil napas terus masuk sama nutup pintu mobil sendiri. Oline yang mendapatkan perlakuan kayak gitu cuma senyum tipis aja. Terus dia ikut masuk mobil dan jalanin nuju gerbang utama sekolahannya Virgi yang mana 15 menit lalu dia juga abis anterin Trisha di sana. Ribka gak dianter, soalnya itu anak pengen berangkat sendiri pakai sepeda listrik katanya. Dia juga beda sendiri sekolahnya.

_______

Ctak!

"Bukain!"

Oline ambil permen lolipop dari dasboard ngirauin kekesalan Erine yang gak bisa langsung turun keluar.

"Ck! Lo denger gue gak sih?"

"Lo manggil gue?"

Erine rolling eyes. Sambil mendengus.

Oline kasihin permen baru untuk Erine.

"Gue mau turun bukan mau permen."

"Lo sadar gak sih sama sikap Lo itu dengan orang yang udah nolongin Lo? Hm?"

"Tau."

"Kalau tau kenapa masih kayak gitu?"

Erine ngeliatin Oline yang juga sama lagi liatin dia sambil ngemut permen. Erine salfok sama bibir merahnya.

Oline naikin sebelah alisnya.

"Ck, gue gak suka aja sama orang yang pura-pura baik. Mending Lo kasih tau gue sekarang deh, Lo ada niat terselubung apa sebenarnya?" Tanya Erine dengan muka yang kek udah cape banget ngadepin orang orang fake gitu.

Oline gak langsung nyahut, dia malah merhatiin Erine dengan tatapan yang daleeeeeem banget. Bikin Erine jadi rada grogi tapi dia tahan seolah dia gak peduli.

"Kalau gue bilang gue tertarik sama Lo gimana?" Kata Oline sesaat kemudian.

"Sorry, gue bukan cewek yang kayak gitu. Mulai sekarang, jangan pernah Lo muncul lagi dihidup gue. Terima kasih atas semua pertolongan Lo sejauh ini. Sekarang bukain pintunya gue mau sekolah." Kata Erine dengan nada datar dan aura dingin yang bikin suhu dalam mobil jadi makin rendah.

Oline senyum smirk.

"Oke. Fine. Tapi kalau takdir berkata sebaliknya. Jangan salahin gue kalau Lo bakalan jatuh cinta sama gue." Kata Oline dengan mengklik tombol unlock.

"Gak akan!" Itu kata Erine sesaat setelah turun lebih dulu.

Lihat hal itu Oline cuma senyum sambil muterin stik lolipop dalam mulutnya.

Gak lama kemudian dia juga nyusul ikutan turun. Orang sekolah mereka sama.

_____

"Duh, enaknya liatin vitamin C di pagi hari." Celetuk Nala pas liat Delynn keluar dari mobil Eropa keluaran terbarunya. Diikuti dengan satu bodyguard sekaligus sopir yang siap siaga membukakan pintu mobil untuknya.

"Anjay, udah kayak lagi main series Dracin aja ya dia." Sambut Levi.

"Iya lagi. Mana mukanya mendukung pula." Timpal Aralie ikutan sambil benerin kacamatanya.

Pas Delynn udah jalan di koridor barulah ketiga sobat gesreknya menghampiri. Bodyguardnya gak ikut, beliau udah tak suruh pergi sama Delynn.

"Wedeh, makin hari makin keliatan seger aja deh kesayangan." Kata Nala dengan merangkul Delynn.

"Singkirin gak tangan kotor lo itu sekarang." Tegur Delynn dengan suaranya yang deep banget. Tenang tapi tegas.

"Okey." Sebenarnya Nala gak takut. Cuma dia ngehormatin aja sama keinginan kawannya itu.

Set!

Tapi bukan Nala namanya kalau gak bandel dibilangin.

Gak bisa merangkul bahu, di pinggang pun jadi.

"Mulai." Kata Levi liat Nala suka banget gangguin queen ice mereka.

"Jambak aja, Del." Aralie ngomporin.

Delynn gak ngomong apa-apa tapi matanya udah kek nyalain laser yang siap mutusin lengan Nala kapan aja. Menyadari hal itu Nala angkat tangan terus berdiri ditengah-tengah AraLev.

Delynn gak nanggepin terus jalan nuju lift.

Ketiganya juga segera ikut nyusulin. Tapi pas pintu lift udah mau ketutup, ada orang yang lari-larian sambil teriak. "TUNGGUUUUUUU!!" Katanya yang bikin Nala refleks nahan lift pake tangan bikin pintunya balik buka.

"Terima kasih." Katanya begitu ikut masuk.

"Sama-sama cantik." Jawab Nala dengan naikin alis. Dengar Nala ngomong gitu, Delynn yang berdiri di belakang sambil nyender cuma rolling eyes doang. "Mau lantai berapa?" Tanya Nala lagi masih dengan nada menggoda.

"Dua, Ka." Kata cewek itu pas ngeh sama warna blazer yang dipake sama orang yang kini satu lift dengannya. Untuk anak kelas 1 warnanya merah maroon, untuk kelas 2 warnanya biru navy, dan untuk kelas 3 warnanya hitam legam. Nah, mereka yang bertiga ini blazernya warna hitam semua .

"Ini masih lama bell-nya tau. Masih ada setengah jam lagi malah." Kata Levi pada cewek yang berdiri didepannya itu.

"Hah?" Dengan keriwehannya cewek itu pun ngecek jam tangannya. "Lah? Sejak kapan ini mati!" Ujarnya ngomong sendiri.

"Gapapa. Setiap manusia pasti pernah bikin kesalahan." Kata Aralie dengan memegang pundaknya. Gak lama kemudian lift terbuka di lantai 2.

"Yang semangat ya!" Kata Levi nyemangatin.

"Makasih, Kak." Jawabnya dengan berbalik.

Deg!

Tatapan cewek itu ketemu sama tatapan dinginnya Delynn.


•••

Terimakasih banyak atas waktu luangnya 🙏
Jgn lupa tinggalin jejak votenya ya 🙏🥰

Continue Reading

You'll Also Like

1.8K 241 28
kisah dimana anak remaja SMA yang jatuh cinta dengan wanita yang memiliki anak satu .
10.1K 1.7K 9
•100% fiksi. •GxG [homophobic menjauh]. •Dilarang keras membawa cerita ke kehidupan nyata. •Perlu diingat bahwa cerita ini adalah hasil imajinasi p...
1.3K 192 7
Masuk SMA baru harusnya jadi awal yang tenang-asal kakaknya bukan Ketua OSIS paling populer di sekolah. Jeandra Arvell Lucierre Jacqueline (Catherina...
1K 150 8
Abigail Rachel Maheswari Siswi cantik, kalem dan pintar yang lebih suka suasana tenang daripada jadi pusat perhatian. Hatinya lembut dan setia, tapi...
Wattpad App - Unlock exclusive features