“LONDON?!” pekik kedua kakak beradik itu nyaris bersamaan. Terkejut dengan apa yang baru saja mereka dengar.
“Dad, come on! It’s middle of term! Tidak mungkin kami masuk sekolah di tengah semester.” protes yang laki-laki.
“And I don’t wanna be a new girl. Never! Mum, please do something!” tambah yang perempuan tak kalah emosi.
“Bagaimana, Zayn?” seorang wanita cantik melirik pria di sampingnya sambil tersenyum. “Sudah kuduga reaksi mereka akan seperti ini.”
“You know the answer, Honey. I’m not gonna change my decision.” Jawab Zayn.
“Seriously, Dad!” kata si anak perempuan semakin kesal. “Aku tidak mau pergi!”
“Yeah me too. Lagi pula aku sudah kelas 12, Ayah! Kenapa tidak menunggu sampai hari kelulusan sih?”
“Heh, jangan egois, Zavien! Kelulusanku masih setahun lagi!”
“Listen to me,” Zayn menatap anak-anaknya. “Kami sudah merencanakan ini sejak lama. Dan tidak ada seorang pun yang bisa mencegahnya termasuk kalian. Maaf, tapi untuk kali ini tidak ada demokrasi.”
Si anak perempuan lalu memandang ibunya penuh harap, meminta dukungan.
“Maaf, Sayang. Kau dengar sendiri kan? Ini sudah jadi keputusan ayahmu sejak lama. Recana ini sudah dibuat bahkan sebelum kalian lahir.” Katanya lembut. Si anak laki-laki mendengus kesal lalu menjatuhkan diri ke sofa empuk di belakangnya.
Anak laki-laki ini, Zavien, sangat mirip dengan ayahnya. Tubuh atletis di usia 18 tahun, alis tebal, dan rambut yang dijambul tinggi. Dia juga punya beberapa tato persis seperti ayahnya. Tapi dia bukan bad boy, karena ‘bakat’ itu menurun pada saudara perempuannya, Lakesha.
“It’s not fair, Dad! I hate you!” katanya ketus sambil melipat tangan di dada.
“Yeah, I love you too, Lakesha.” Zayn berjalan menuju anak perempuannya itu dan mencium puncak kepalanya. Lakesha mendengus kesal.
“Sebaiknya kalian mulai berkemas karena besok pesawat kita berangkat. Bawa pakaian dan barang-barang pribadi saja. Semua sudah siap di rumah kita yang baru. Sampai ketemu besok pagi. Good night guys, I love you!” lalu Zayn masuk ke kamar sambil merangkul istrinya, meninggalkan kedua anaknya yang cemberut.
“Daddy is not cool anymore!”
***
Keesokan harinya di bandara Lakesha dan Zavien mendapat kejutan lain. Seolah yang semalam itu belum cukup.
“Lakesha! Zavien!” seru seorang gadis sambil melambaikan tangannya. Kemudian ia berlari dan langsung memeluk kakak beradik yang kebingungan itu. “Senangnya kita masih bisa bersama-sama. Tadinya aku pikir kita bakal pisah selamanya!”
“What do you mean, Tiara?” tanya Lakesha bingung. Sambil memeluk Tiara, dengan mata berbinar-binar ia melirik anak lelaki yang baru saja tiba. “Vas happenin, Tommy?!”
“Kalian tidak tahu ya?” Tiara melepaskan pelukannya.
“Ini kan rencana mereka!” Tommy mengarahkan pandangannya ke dua pasangan yang sedang berpelukan itu.
“Vas happenin Mr. and Mrs. Tomlinson? Finally, the day is coming!”
“Yeah, after all this time. Aku tidak sabar bertemu yang lainnya.”
“Can’t wait to be in UK again!”
Lakesha, Tiara, Zavien dan Tommy baru saja menguping pembicaraan ayah-ayah mereka. “Jadi, maksudmu ‘mereka’ itu…mereka?” Lakesha dan Zavien berpandangan.
Bertahun-tahun lalu, lima orang lelaki yang menamai diri mereka One Direction memutuskan untuk vakum dari boyband mereka setelah sebagian dari mereka menikah dan punya anak. Mereka ingin fokus mengurus keluarga masing-masing. Jadi mereka tinggal terpisah—kecuali keluarga Malik dan keluarga Tomlinson yang memilih tinggal di Amerika. Anak-anak keluarga Malik dan Tomlinson bahkan sudah bersahabat sejak kecil. Tapi mereka—One Direction, sepakat kalau suatu hari mereka akan bertemu lagi dan tinggal di London bersama-sama. Dan inilah ‘suatu hari’ itu.
“Bagaimana? Kalian senang kan si kembar ikut ke London?” kata Zayn ceria. Tapi Lakesha dan Zavien kompak memberi tatapan setajam silet pada ayah mereka.
***
Sesampainya di London ternyata kejutan belum berhenti bagi Lakesha dan Zavien—juga Tiara dan Tommy. Mereka, anak-anak One Direction, akan didaftarkan di sekolah yang sama di sekolah seni milik seseorang yang sangat dekat dengan mereka dulu.
“Bunuh saja kami sekalian, Ayah!” erang Lakesha kesal di dalam mobil setibanya di London.
“Lho, justru asyik kan?” kata Zayn riang. “Siapa tau kalian bisa jadi satu vocal group!”
“Your wish, Dad!” Lakesha mencibir.
“Kalau cuma dengan Tiara dan Tommy sih oke.” Kata Zavien. “Tapi kalau yang lain…”
“Memangnya kenapa dengan yang lain?”
“Yang lain itu….” Lakesha memutar bola matanya, berusaha menemukan kata-kata yang tepat, “Pasti anak-anak yang aneh!”
“‘Aneh’ itu kata yang kasar, Lakesha! Dengar, kalian pasti akan menyukai mereka. Percayalah.”
“Memang Ayah pernah ketemu mereka?” desak Zavien.
“Yaah memang belum sih,” Zayn nyengir. “Tapi Ayah yakin pasti mereka anak-anak yang baik. Liam itu dulu dijuluki ‘Daddy Direction’, anaknya pasti sama dewasanya dengan dia. Niall itu seperti malaikat, anaknya pasti seperti itu. Harry, well, dia friendly dan mudah disukai, jadi anaknya pasti juga sama. Buah kan tidak jatuh jauh dari pohonnya. Seperti kalian berdua yang mirip denganku—”
Groooookk~
“Zayn!” Istri Zayn menoleh ke jok belakang sambil tertawa kecil. Zayn berbalik sambil tersenyum menyadari dua orang favoritnya telah tertidur pulas.
“Kasihan, mereka berdua pasti kelelahan.”
“Hey,” sambil terus menyetir, Zayn meraih tangan istrinya, “Terima kasih sudah memberikanku dua anak yang luar biasa, Sayang.”
***
Higgins Art School heboh. Bagaimana tidak? Sekolah seni paling terkenal di London ini kedatangan murid baru di tengah semester. Tujuh murid sekaligus. Dan semuanya adalah anak-anak One Direction. Boyband paling fenomenal pada masanya dan belum kehilangan penggemar sampai hari ini. Lakesha dan Zavien Malik. Tiara dan Tommy Tomlinson. Darcy Styles. Apple Horan. Felix Payne. Dan entah siapa yang memulai, seketika mereka mendapatkan julukan itu. Little Direction.
Sekarang mereka bertujuh sedang duduk di ruang kepala sekolah. Mendengarkan instruksi dari Mr. Paul Higgins, sang pemilik sekolah.
“Welcome to Higgins Art School. Aku senang melihat kalian semua ada di sini. Rasanya seperti kembali ke masa-masa tour bersama ayah-ayah kalian yang luar biasa. Karena mereka juga sekolah ini bisa berdiri.” Kemudian Mr. Higgins melanjutkan ceritanya tentang masa lalu, yang sangat membosankan bagi anak-anak itu. Bahkan melihat segerombolan murid-murid kepo yang mengintip lewat jendela jauh lebih baik daripada harus mendengarkan ceritanya.
“Well… aku rasa cukup perkenalannya.” Mr. Higgins mengambil tumpukan kertas di lacinya.
“Felix Nathaniel Payne?” Panggilnya. “Dance.” Mr. Higgins menyerahkan selembar kertas ke Felix. Dan memberi satu kertas ke yang lainnya setiap kali dia menyebutkan nama dan jurusan mereka.
“Tommy Matthews Tomlinson, kau ada di jurusan yang sama dengan Felix.”
“Zavien Gamma Malik dan Darcy Ravaaga Styles. Music.”
“Apple Isabella Horan. Drama.”
“Dan yang terakhir, Lakesha Javita Malik dan Tiara Kathleen Tomlinson… Painting. Nah, silakan ke kelas kalian masing-masing.”
Sebelum mereka semua benar-benar berdiri, Mr. Higgins menambahkan, “Kalian tahu kan bagaimana pengaruh ayah kalian terhadap kalian? Sadar atau tidak kalian sudah jadi murid eksklusif di sini.” Mr. Higgins melirik ke serombongan murid-murid yang mengintip di pintu. “Jadi aku harap kalian bertujuh tidak terlalu menonjol dan bisa berbaur dengan yang lain.”
Perintah Mr. Higgins tidak sulit dilakukan. Semua anak pergi ke kelasnya masing-masing tanpa bicara—kecuali Lakesha dan Tiara yang langsung heboh karena mereka ada di jurusan yang sama. Satu lagi yang diturunkan Zayn ke anak perempuannya, bakat menggambar.
Tidak ada jabat tangan. Tidak ada perkenalan. Bahkan saling mengamati wajah pun tidak. Sepertinya bromance ayah-ayah mereka yang fenomenal itu tidak menurun di gen anak-anak itu.
Dan dimulailah kehidupan Little Direction di Higgins Art School.
***
“Cewek itu, siapa sih namanya?” Lakesha mengunyah sandwichnya dengan garang. Memandang sinis serombongan murid yang mengitari meja di sudut kantin. Menyimak entah apa yang diceritakan gadis berambut ikal itu.
“Darcy. Kenapa? Dia Little Direction juga kan?” kata Tiara.
“Please Tiara, jangan sebut nama itu. Kita jadi terdengar seperti geng bodoh, tau!”
“Maaf. Jadi, kenapa Darcy?”
“Smell like a star.” Gumam Lakesha dengan nada menyindir.
Dia benar. Baru beberapa jam Darcy jadi murid baru, tapi dia sudah jadi selebriti. Orang-orang mengagumi kecantikan dan pesonanya. Apalagi ayahnya adalah seorang Harry Styles.
Meskipun ayah mereka adalah Zayn Malik dan Louis Tomlinson, tapi Lakesha dan Tiara tidak seperti Darcy. Mereka cantik tapi tidak suka dandan. Badan mereka bagus tapi tidak pernah dibalut pakaian yang modis. Mereka baik hati tapi sikapnya tidak manis. Mereka teralu tangguh untuk disebut sebagai anak perempuan.Beda dengan Darcy. Dia tidak perlu jadi anggota cheerleaders agar bisa populer. Dan tentu saja kau tidak perlu bertanya darimana dia mendapatkan itu semua.
Bukan cuma Darcy, Felix Payne juga memiliki nasib yang sama. Si jago olahraga ini juga langsung merebut perhatian cewek-cewek di sekolah. Dan beberapa hari kemudian, secara tidak resmi, Darcy dan Felix dinobatkan sebagai putri dan pangerannya Higgins Art School.
***
“Higgins Prince and Princess?! What a joke!” Sepotong sosis jadi korban kekesalan Lakesha kali ini.
“Kamu mau bilang sendiri atau aku yang harus melakukannya?” Tommy bergabung dengan Lakesha dan Tiara.
“Apa maksudmu?”
“Aku kan satu jurusan dengan Felix. Dan ada satu kelas dimana aku jadi partnernya.”
“Dan aku sekelas dengan Darcy.” Zavien yang baru tiba langsung ikut nimbrung.
“Kalian ini apa-apaan sih?!” Lakesha melempar apel ke arah Zavien, tapi dia menangkapnya dan menggigit apel itu tepat di depan wajah saudarinya.
“Cewek yang satu lagi…siapa namanya? Yang di Jurusan Drama?” tanya Tiara. “Dia Little—sorry, maksudku, dia anaknya Niall Horan kan? Anggota 1D?”
“Cewek pirang itu? Yang selalu pakai topi dan polo shirt? Memangnya kenapa?”
“Aku belum pernah lihat dia lagi sejak dari ruang kepsek.”
“Who cares?! Selain rambutnya yang blonde itu, aku bahkan lupa seperti apa wajahnya. Tapi bukannya bagus kalau kita tidak bergaul akrab dengan mereka di sekolah? Just like Mr. Higgins said.” kata Zavien sambil menghabiskan sisa apel di tangannya.
***
Sore ini Lakesha dan Tiara ada kelas melukis di outdoor. Hampir satu jam mereka duduk di taman dengan kanvas di depan wajah mereka. Lukisan bunga Lakesha hampir setengah jadi, tapi kanvas Tiara masih putih bersih.
“Belum dapat inspirasi ya?” tanya Lakesha sambil menyapu kuasnya. Memberikan sentuhan terakhir pada lebah buatannya yang sedang menghisap nectar.
“Belum menemukan objek yang menarik nih. Bantu aku dong, Lakesha!” kata Tiara memelas.
“Kita kan sedang di taman, objek apa lagi yang bagus dilukis kalau bukan pemandangan? Tapi kau kan tidak suka lukisan naturalis…” Lakesha mendongak, menyipitkan matanya yang menyisir seluruh taman mencari sesuatu yang menarik. Itu dia!
“Kenapa kau tidak melukis anak-anak itu saja?” Tiara mengikuti jari telunjuk Lakesha yang mengarah ke segerombolan cowok-cowok yang sedang bermain basket.
Dan di sanalah dia. Dengan tangan kekarnya dia berhasil memasukkan benda bulat itu ke keranjang. Membuatnya meninju udara karena senang, tertawa lebar saat menerima pelukan dari teman-temannya yang bersorak. Membuat Tiara terpesona. Felix Payne baru saja mencetak skor untuk timnya.
“Massive thank you, Lakesha!” Tiara menuangkan cat ke paletnya sambil menyembunyikan senyum.
***
“Bisa tunjukkan aku bagaimana caranya membentuk kunci C?” seorang gadis berambut ikal menghampiri Zavien di kelas Musik Klasik. “Aku jago main piano, tapi aku payah kalau soal gitar.”
Zavien mendongak, “Kau… Higgins Princess kan?”
“Darcy.” Ralatnya kesal.
“Right. Sorry.”
“Jadi bagaimana kunci C-nya?” Darcy sedikit membentak.
“Oh ya! Sorry again… boleh kupinjam gitarmu?”
Darcy terlalu bersemangat, atau terlalu kesal sehingga gitar itu mendesak perut Zavien saat ia menyodorkannya dengan keras.
“Satu jari di sini, satu lagi di sini, dan di sini…” jari-jari panjang Zavien menari di atas fret-fret gitar Darcy.
Jrenggg!
“And that’s the C.”
Saat Darcy sedang mengamatinya, tiba-tiba Zavien menggerakkan jari-jarinya ke fret-fret lain sambil tangan kanannya memetik senar gitar. Lalu ada melodi-melodi sederhana yang mengalun dengan indahnya.
C G C
“I’ve tried to playin’ it cool… but when I’m lookin at you…”
“Hey, lagu itu!” pekik Darcy yang tidak bisa menyembunyikan senyumnya. “Kau ini… Zavien Malik kan? Anaknya Zayn Malik, teman ayahku?”
“Hah, baru sadar? Dari tadi kau tidak lihat jambulku apa?” Zavien menyisir jambul tinggi itu dengan tangannya. Darcy terkikik.
“Maaf. Selain ‘Higgins Princes’ kau juga tidak tahu apa-apa tentang aku kan?”
“Kata siapa? Semua orang tahu siapa kau. Kau ini anak perempuannya kan? That Holmes Chapel Homie?”
“Yeah, Bradford Bad Boy Junior!” Darcy tertawa. “Bisa ajari aku lagu itu? Dari dulu aku selalu ingin menyanyikannya dengan gitar. Tapi bahkan ayahku tidak bisa membantu banyak.”
“Gampang kok.” Lalu Zavien menunjukkan caranya pada Darcy, yang matanya berbinar-binar melihat kelihaian Zavien bermain gitar.
“Nah, sekarang ayo coba.”
Ragu-ragu Darcy mengambil gitarnya kembali dan meletakkan jari-jarinya di fret-fret yang ditunjukkan Zavien.
C G C
I’ve… tried to .. playin it cool
But ..when I’m lookin.. at you
“Bagaimana?” Darcy berhenti.
“Lumayan. Ayo, teruskan saja. Jangan berhenti sampai lagunya habis.”
I can’t.. ever be brave
Cause you make.. my heart race
Lalu bibir Darcy tertarik, menahan senyum lebar yang ternyata tidak bisa dia cegah. Zavien menyadarinya lalu ikut tersenyum. Setelah ini adalah bagiannya Harry Styles.
Shot me out of the sky
You’re my kryptonite
You keep making me weak, yeah
Frozen and can’t breathe
Mereka saling pandang kemudian tertawa kecil. Darcy mengangguk sambil terus memainkan gitarnya. Membiarkan Zavien yang menyanyikan bagian Zayn Malik di lagu itu.
Something’s gotta give now
Cause I’m dying just to make you see
That I need you here with me now
Cause you’ve got that one thing
Satu lirikan kecil dan mereka melanjutkannya bersama-sama.
So get out get out get out of my head
And fall into my arms instead
I don’t I don’t don’t know what it is
But I need that one thing
And you’ve got that one thing….
Lalu permainan itu berhenti karena gitar itu mengeluarkan suara yang aneh.
“Oh I’m sorry. Bahkan gitarku sendiri tidak mengijinkan aku menyanyikan bagian cewek blonde itu.” kata Darcy. Lalu mereka berdua tertawa lagi.
“Thanks, Zav. I never play guitar before. Tidak pernah sebanyak ini.” Darcy melempar senyum.
“Sama-sama.” jawab Zavien.
Kriiing! Time’s up. Kelas sudah selesai.
“Gotta go now. Bye Zav!” lalu Darcy meninggalkan tempat duduknya. Sebelum menghilang di balik pintu ia berbalik. Zavien mengangkat tangan dan menggoyangkan jari-jarinyanya tepat di samping pelipisnya. Darcy membalas lambaian itu sambil tersenyum lebar. Lalu pintu tertutup.
Dan seperti itulah bagaimana persahabatan mereka dimulai.
***
“Sorry I’m late!” Apple Horan memasuki aula sambil terengah-engah. Rambut pirangnya kusut tertiup angin saat dia berlari dari kelas menuju tempat latihannya.
“As always! Cepat ambil kostummu lalu bergabung dengan yang lain.” kata seorang wanita tua dengan ekspresi wajah mengerikan. “Dan jangan lupa sisir rambutmu, Blonde!”
“Yes, Ma’am!”
“Kalau dia tidak bisa berhenti memanggilku ‘Blonde’, aku akan belajar untuk memanggilnya ‘Tonggos’ lain kali.” gumam Apple kesal. Ekspresi hormatnya langsung berubah saat ia berjalan ke belakang panggung.
“I’m gonna use this?!”
“Yes, Apple. Siapa lagi yang pantas jadi Snow White selain kamu?” kata seorang gadis manis berambut hitam.
“You Jenny?”
“Tidak, tidak, aku akan jadi matahari. Berdiri di belakang kalian dan muncul tidak lebih dari lima menit. Aku harap ayahku sibuk dan tidak akan datang menonton.” Kata Jenny murung.
“Aah, Jenny. Perlu aku bilang sesuatu pada nenek sihir itu?” kata Apple sedih.
“No, it’s fine. Ini pertama kalinya aku ikut drama. Aku rasa peran sebagai matahari cukup bagus sebagai permulaan. Aku cuma tidak ingin membuat ayahku kecewa. Dia berharap terlalu banyak.” Jenny tersenyum. Apple tidak tahan untuk tidak merangkulnya.
“Menurutku kau akan jadi matahari tercantik yang pernah ada. Matahari dengan muka bayi di Teletubbies itu pasti langsung minder saat melihatmu nanti.” Apple mencoba menghibur sahabatnya itu.
“Thank you, Apple. I’m okay. Come on, they wait us.” Masih saling merangkul, mereka berdua berjalan kembali ke panggung.
***
“Bagaimana minggu pertama sekolah kalian?” tanya Zayn pada kedua anak mereka saat makan malam.
“Amazing!”
“Awful.”
“Hey, what’s happening to you?” tanya Zayn pada Lakesha.
“Dia iri dengan gadis Styles itu, Dad—Ouch!” Lakesha menendang kaki Zavien dari bawah meja.
“Tell me about Darcy!” kata Zayn.
“Girl’s stuff. You don’t wanna hear that, Dad. It’s complicated and… confusing.”
“Ya! Dan karena itu sampai sekarang kau belum punya pacar!” sembur Lakesha. Lalu mereka saling menjulurkan lidah. Zayn tersenyum melihat kelakuan kedua anaknya.
“Lakesha… tidak apa-apa kalau kau sedikit iri dengannya. Itu wajar kok. Tapi perlakukanlah Darcy dengan baik.” kata Zayn serius.
“Kenapa? Karena dia cantik, keren, dan paling populer di antara semua anak-anak 1D?” jawab Lakesha cepat.
“Bukan begitu, Sayang.” Zayn mencoba menenangkan anaknya.
“Lalu kenapa, Ayah?”
“Itu karena dia…” Zayn terdiam, “Dia… Karena dia anak Harry. Harry itu sahabatku dan itu juga berarti paman kalian. Jadi tolong perlakukan dia dan juga yang lainnya dengan baik. Okay? Sudah ada tawaran membentuk group?”
“Boro-boro, Yah! Mr. Higgins bahkan meminta kami jangan terlalu akrab agar kami tidak terlalu eksklusif.” Kata Zavien.
“Itu kan di sekolah. Saat di luar, bergaullah dengan mereka. Go hang out or something!”
“But we did!”
“I mean except Tiara and Tommy, Lakesha.”
“Tidak janji ya, Yah? Hanya karena bromance konyol kalian, bukan berarti itu berlaku juga untuk kami. We’re never gonna be friends.”
***