Happy Reading
[Don't forget to Vote and Comment]
🎀🌴
Lorong kelas dua belas pagi itu riuh seperti biasa. Suara sepatu yang diseret malas, tawa yang pecah tanpa sebab, dan gumaman siswa yang berkumpul di satu titik paling strategis di sekolah, papan mading peringkat akademik. Tempat suci sekaligus medan perang kecil bagi mereka yang peduli, dan bahan hiburan bagi yang sekadar ingin tahu.
Carmen berdiri paling depan, tangan terlipat di dada, tubuhnya condong sedikit ke depan. Rambutnya diikat asal, wajahnya santai, tapi sorot matanya tajam, penuh keyakinan yang nyaris arogan.
Dan seperti yang ia duga, namanya berada di posisi teratas.
Nomor satu Carmen.
Nomor dua Yuha.
Selisih nilai di antara mereka tipis. Selalu begitu. Tidak pernah jauh, tidak pernah benar-benar aman. Persaingan yang tidak pernah diumumkan, tetapi selalu terasa.
Carmen tidak langsung bereaksi. Ia hanya menarik napas pelan, lalu kembali menyandarkan tubuhnya ke dinding.
“HAHAHA masih lo lagi, men,” seru Ian sambil menepuk bahu Carmen keras-keras. “Ini tuh bukan papan peringkat, tapi papan nama lo sama Yuha.”
Eina mengangguk setuju. “Sumpah, yang lain cuma figuran.”
Carmen tersenyum bangga. “Namanya juga belajar.”
Ian menoleh tajam. “Lo ngomong gitu kayak orang lain nggak belajar aja.”
“Orang pinter mah bebas,” sahut Carmen ringan.
Ian hendak membalas, tapi Eina menyenggol lengannya. “Eh, itu Yuha.”
“Lo tuh nyebelin tau nggak.”
Carmen menoleh. Yuha berdiri beberapa langkah dari papan pengumuman, sedikit menjauh dari keramaian. Buku-bukunya dipeluk rapi di dada, seragamnya selalu tampak rapi tanpa kesan berusaha. Wajahnya tenang, tetapi matanya bergerak pelan, membaca ulang daftar itu seolah ingin memastikan tidak ada yang terlewat.
“Halo, Yuha,” kata Carmen santai. “Salam buat ranking dua.”
Yuha mendengus. “Lo jangan geer dulu. Itu cuma beda tipis.”
“Tipis tapi menang,” jawab Carmen cepat. “Fakta tetep fakta.”
Yuha melangkah mendekat, jaraknya sekarang terlalu dekat untuk sekadar basa-basi. “Lo sengaja, ya? Belajar sampe begadang cuma buat ngalahin gue?”
Carmen menatapnya dengan senyum yang terlihat menyebalkan menurut Yuha. “Gue belajar buat diri gue sendiri. Kalo lo kelempar, ya bonus.”
“Nyebelin,” kata Yuha, tapi matanya justru menyala. “Suatu hari gue bakal ngambil posisi itu.”
Carmen tertawa kecil. “Mana buktinya? Jangan ngomong doang.”
Ian langsung maju selangkah. “Eh, ini vibes-nya kok kayak mau berantem tapi romantis sih?”
Yuha menoleh tajam. “Diem lo.”
Eina cekikikan. “Jadi penonton bayaran aja deh gue.”
Carmen menatap Yuha lebih lama dari yang seharusnya. Ada sesuatu dari cara Yuha berdiri, tidak mau kalah, dan tidak mundur. Dadanya terasa hangat tanpa alasan yang jelas.
“Gini aja,” kata Carmen tiba-tiba.
Yuha menyipitkan mata. “Apaan?”
“Gimana kalo kita taruhan?”
Yuha refleks tertawa singkat. “Hah? Lo kurang kerjaan?”
“Enggak,” jawab Carmen mantap. “Gue serius.”
Ian langsung menutup mulutnya. “Oh, no.”
Yuha menyilangkan tangan. “Taruhan apa?”
Carmen melangkah maju setengah langkah, senyum tengilnya muncul penuh percaya diri. “Akhir semester ini, kalo gue masih ranking satu—”
Yuha tampak bingung, “Hm?.”
“—lo jadi pacar gue.” lanjut Carmen.
Hening.
Eina melongo.
“HAH?!” Ian setengah berteriak.
Yuha terdiam lebih lama dari sebelumnya. Wajahnya yang semula tenang, perlahan berubah, matanya membesar, ia merasakan pipinya memanas.
"Lo… lo ngomong apa barusan?” ucapnya pelan, jelas kaget.
Carmen masih berdiri di tempatnya, santai, seolah tidak menyadari dampak ucapannya. “Lo denger sendiri tadi. Budeg apa gimana?”
Yuha refleks mendekat setengah langkah dan, tanpa pikir panjang, mencubit lengan Carmen.
“Aduh! Sakit!” Carmen meringis, lalu tertawa. “Lucu banget muka lo.”
Yuha membeku. “Gila ya lo.”
“Ish! Malu-maluin tau nggak!” Yuha menatap tajam ke arah Carmen. Namun Carmen hanya membalas dengan tertawa.
“Eh, kalian semua liat, ya! Saksi!” Teriak Carmen pada yang lain. Semua siswa yang disana bersorak dan tertawa, merasa terhibur dengan tontonan gratis.
Yuha menutup wajahnya sebentar. “Lo tuh berlebihan banget, Carmen.”
“Namanya juga usaha,” jawab Carmen santai. “Tenang, kalo lo yang menang—”
Yuha menatapnya malas. “Kalo gue yang menang?”
“Gue siap nurutin kemauan lo,” kata Carmen tanpa ragu. “Sebulan penuh.”
Yuha terdiam. Kali ini bukan karena malu, tapi berpikir.
“Lo janji?”
“Janji,” jawab Carmen mantap.
Yuha menghembuskan napas panjang. Kemudian mengangguk. “Oke.”
Carmen terdiam. “Oke?”
“Iya. Gue terima taruhan lo.”
Carmen tersenyum puas. “Deal.”
Yuha menjabat tangannya cepat, lalu langsung menarik kembali tangannya. “Jangan sok keren dulu.”
“Siap-siap aja,” sahut Carmen dengan senyum tengilnya.
Sejak hari itu, Carmen mulai menyadari satu kebiasaan Yuha yang nyaris tidak pernah berubah.
Yuha selalu belajar.
Di mana pun.
Di perpustakaan, Yuha duduk di meja paling pojok, punggungnya tegak, buku dibuka rapi, pensil bergerak pelan tapi pasti. Wajahnya serius, alisnya sedikit berkerut setiap kali membaca bagian yang sulit. Seolah dunia di sekitarnya mengecil hanya sebatas halaman yang sedang ia pelajari.
Di kantin, saat murid lain sibuk mengobrol atau tertawa keras, Yuha justru membuka buku di sela makan. Satu tangan memegang sendok, tangan lain menahan halaman agar tidak tertiup angin. Tidak terburu-buru, tapi juga tidak lengah.
Bahkan saat jam kosong, Yuha duduk bersandar dengan buku di pangkuan. Sesekali ia menghela napas pelan, lalu lanjut membaca, seperti orang yang sudah berdamai dengan kesibukan.
Dan Carmen, entah sejak kapan, selalu ada di sekitar itu.
Kadang ia berdiri beberapa langkah, pura-pura mengobrol dengan Ian atau Eina, padahal matanya terus melirik Yuha. Kadang ia sengaja lewat lebih dekat dari seharusnya, cukup untuk memastikan Yuha memang sedang fokus.
“Lo nggak capek?” tanya Carmen, menarik kursi di depan Yuha.
Yuha mendongak cepat. “Apaan sih? Lo dateng-dateng langsung ganggu.”
“Gue nanya baik-baik,” sahut Carmen santai. “Dari kemarin gue liat, lo belajar mulu.”
Yuha menutup bukunya setengah. “Ya emang kenapa?”
“Rajin amat,” jawab Carmen sambil menyeringai. “Santai dikit kek.”
“Gue santai,” balas Yuha. “Belajar tuh santai buat gue.”
Carmen tertawa kecil. “Cewek aneh.”
Yuha menatapnya tajam. “Lo ke sini mau apa sebenernya, Carmen?”
“Gangguin lo,” jawab Carmen tanpa rasa bersalah.
Yuha menghela napas. “Pantes.”
“Tenang aja,” lanjut Carmen. “Taruhan tetep jalan kok. Gue cuma ngecek, saingan gue masih niat apa enggak.”
Yuha menutup bukunya sepenuhnya. “Kalau gue kalah, itu karena lo gangguin gue, itu namanya curang.”
Carmen bersandar ke sandaran kursi. “Salah lo sendiri kenapa ga fokus.”
Yuha mendecak. “Lo tuh nyebelin.”
“Ralat, harusnya ngangenin." Jawab Carmen ringan.
Yuha terdiam sebentar, lalu kembali membuka bukunya. “Udah ih sana, jangan ganggu.”
Carmen tersenyum puas, senyum yang jarang ia sadari sendiri. Ada sesuatu pada Yuha saat ia tenggelam dalam fokusnya, tenang, rapi, dan diam-diam begitu memikat.
***
Sore harinya, Carmen duduk melingkar di bangku taman kota bersama Ian dan Eina. Matahari sudah condong, angin sore bertiup pelan, dan suasana jauh lebih santai dibanding hiruk-pikuk pagi tadi.
“Gue masih nggak percaya lo beneran ngomong gitu,” kata Ian sambil menggigit sedotan minumannya. “Taruhan pake pacaran segala.”
Carmen menyandarkan punggungnya, kedua tangan disilangkan di belakang kepala. “Kenapa? Sah-sah aja, kan.”
“Lo tuh berani banget,” timpal Eina. “Itu Yuha, Men. Bukan cewek sembarangan.”
Carmen menatap kedua sahabatnya, ekspresinya berubah sedikit lebih serius. “Justru karena itu.”
Ian menyipitkan mata. “Karena apa?”
“Karena dia nggak gampang nyerah,” jawab Carmen pelan. “Gue suka orang kayak gitu.”
Eina terdiam sejenak. “Berarti lo serius?”
Carmen mengangguk, tapi senyumnya muncul samar. “Gue nggak main-main kalo soal taruhan.”
Ian mendesah panjang. “Fix. Ini bakal ribet.”
“Biarin,” sahut Carmen. “Yang penting seru.”
Padahal jauh di dalam hatinya, Carmen tahu, taruhan itu bukan sekadar soal peringkat. Ada sesuatu tentang Yuha yang sudah terlanjur menarik perhatiannya.
Sejak hari itu, segalanya berubah.
Yuha tidak lagi sekadar saingan. Ia mulai menanggapi setiap provokasi Carmen dengan balasan setimpal. Adu nilai, adu gengsi, adu siapa yang paling keras kepala. Mereka berdebat di kelas, di perpustakaan, bahkan di kantin.
“Apa sih lo liat-liat?”
“Lo kelihatan stres.”
“Gara-gara lo!”
Carmen selalu tertawa. Yuha selalu kesal.
Namun di balik itu, ada sesuatu yang tumbuh, pelan, tidak disadari.
Taruhan itu tidak lagi sekadar permainan.
Tapi menjadi awal dari sesuatu yang kelak akan mereka ingat seumur hidup.
***
Meet the cast
Carmen
Tengil tapi beneran jago, terlalu friendly, hidup isinya full bercanda, jahil kalo sama Yuha
Yuha
Kalem tapi aslinya bawel, gampang salting kalo sama Carmen, pinter banget, rapi
To be continued...