Kurang dari dua bulan berlalu, besok adalah hari di mana pernikahan kami tepat dua bulan. Apakah besok peletnya akan hilang? Harusnya, sih, iya, karena itu sudah perjanjiannya. Dua bulan pernikahan kami bukan waktu yang lama, karena ternyata aku menikmati tiap detiknya. Makin hari aku makin jatuh cinta pada Naren. Padahal dulunya kami jarang bertegur sapa.
Sudah dari semingguan lalu perasaanku cemas. Cemas akan datangnya masa ini. Masa di mana aku benar-benar tidak siap untuk kehilangannya. Padahal semingguan lagi kami sudah wisuda, kenapa peletnya tidak menunggu sampai selesai wisuda saja, sih? Kan, aku jadi ada kesempatan berfoto dengan Naren. Bisa dibayangkan kami berfoto mengenakan toga itu, berpose penuh bahagia di hari kelulusan kami.
Sayangnya itu hanya akan ternyata di imajinasiku, bukan di dunia nyata. Sepertinya juga aku gagal membuat Naren jatuh cinta. Walaupun dia sangat menghargai pernikahan ini dengan effort-effort-nya itu, tetapi tetap saja itu karena pengaruh pelet, bukan yang tulus dari hati.
Hanya aku yang jatuh cinta padanya. Perasaan ini tidak berbalas ternyata. Naren punya gadis idaman, harusnya dia menikah dengan gadis itu, bukan denganku. Berarti aku jahat banget di sini, sudah merebut Naren dari gadis itu. Habisnya gimana, dong, sudah terlanjur jatuh cinta juga. Ini kayaknya yang kena pelet, tuh, aku. Bukan dia.
Siap tidak siap, ini adalah hari terakhir aku menjadi istrinya. Setelah itu, kami akan bersikap dan berlagak seperti teman sekelas pada umumnya.
Pagi ini disuguhi dengan nasi goreng buatan Naren. Dia memang sudah bisa memasak sekarang. Hebat, dia anaknya cepat belajar, pantas saja nilainya selalu bagus-bagus.
"Kenapa nggak dimakan?" tanya Naren. Mungkin sedari tadi dia terganggu dengan aku yang hanya mengaduk-aduk makanan. "Nggak enak, ya?"
"Enak, kok." Aku langsung lahap memakan beberapa sendok penuh, supaya Naren tidak kecewa. Masakannya enak, tetapi akunya saja yang sibuk melamun dan meratapi nasib ke depannya. "Ren," panggilku.
Naren yang sedang makan sambil fokus memainkan laptopnya itu tidak menoleh. "Hm?" Ia hanya bergumam.
"Gue boleh minta satu permintaan nggak?" tanyaku lagi.
"Emang gue jin?" Ish, dia malah balas dengan bercanda.
"Y-ya, bukan, sih."
"Oh, lo mau mati makanya minta permintaan?" Bujuk buset! Tampang doang ganteng, kalau ngomong enggak disaring!
"Ya, nggaklah. Gue pengen lo turutin aja udah, jangan protes."
"Oke, apa emangnya?"
"Gue mau hari ini lo nggak usah kerja. Cancel aja kalau ada job masuk. Gue pengen kita hari ini full bareng-bareng." Sebelum hari ini habis dan berganti besok, aku ingin menghabiskan waktu dengan Naren. Hitung-hitung kenangan terakhir sebelum dia benar-benar lupa kalau aku pernah jadi istrinya.
"Lo nggak lagi kesambet?" tanya Naren. Setelah itu dia mendekat dan menempelkan punggung tangannya di dahiku. "Nggak panas, ah." Dia lalu bergumam.
"Ya, emang enggak, kocak. Gue nggak sakit. Tapi kalau lo nggak mau juga nggak papa, sih."
"Mau." Eh? Dia bahkan menjawab dengan cepat, secepat sambaran kilat di langit. "Gue beresin dulu, habis itu kita ke kampus." Naren mengambil piringku yang tinggal sedikit nasi gorengnya juga piringnya yang sudah kosong dan membawanya ke dapur.
Ini harus sedih atau senang, ya? Sedih karena waktu bersama kami tinggal sebentar lagi, atau senang karena Naren mau menghabiskan waktu denganku hari ini? Entah, yang jelas aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku harus ukir momen yang indah-indah selama seharian full!
***
Pulang kuliah pukul lima sore, kami berjalan di trotoar. Kali ini Naren menggenggam tanganku saat kami berjalan, bukan lagi aku yang harus minta digandeng. Ini efek pelet kenapa munculnya di detik-detik terakhir, sih? Apa dia tipe yang mepet deadline?
Setelah di kampus dan kelas berlagak sok seperti orang asing, di sini sekarang kami layaknya pasangan. Aneh memang. Ini pun bingung mau ke mana. "Jadinya mau ke mana, Rein?" tanya Naren. Huh, dia malah tanya ke aku, aku saja bingung.
Oh, aku ada edi! Ide maksudnya.
"Gimana kalau kita ke jembatan yang ada di pantai? Ngeliat sunset!" usulku dengan riang. Matahari terbenam sepertinya akan jadi cara selanjutnya menikmati perpisahan ini dengan hangat. Terhitung tinggal beberapa jam lagi, Naren akan lepas dari pelet itu.
"Ya, udah, ayo."
Setelah itu Naren menghentikan angkot yang lewat di depan kami. Pantai memang tidak terlalu jauh, tetapi jika berjalan kaki juga akan terasa pegal.
***
Aku tidak tahu bagaimana sekarang. Rasanya senang, hampa, terharu, kosong. Ah, kalau masa peletnya itu bisa lebih lama, mungkin akan aku perpanjang dan beli yang tahunan. Tidak apa mahal, kalau harus jual ginjal juga aku jabanin!
Ah, elah, begini banget kali pertama jatuh cinta!
Kami memilih duduk di bangku yang ada di tepi jembatan. Menyaksikan matahari terbenam di sana. Aku sedari tadi diam saja, Naren juga begitu. Dia memang aslinya pendiam, sih, jadi enggak usah kaget. Hanya saja aku sadar, dia banyak bicara dan bercanda setelah menikah.
"Rein, lo kenapa? Tumben lo diem aja."
Aku menoleh ke Naren yang memulai pembicaraan duluan. Badanku lemas bukan karena belum makan. Kalau enggak makan berhari-hari pun aku sanggup, tetapi ternyata kehilangan Naren itu lebih buruk dari itu.
"Laper, ya? Mau beli makan?" tawar Naren. Mungkin saja kalau makan di sini, berdua begitu akan lebih romantis. Namun, bukan itu yang aku mau.
"Nanti aja, gue pengen dimasakin lo di rumah. Nggak papa, kan?" pintaku pada Naren. Sebelum berpisah, aku ingin merasakan masakannya untuk yang terakhir kali.
"Y-ya, boleh aja, sih. Lo kenapa, sih, agak aneh."
Memang pantas Naren bingung, aku saja bingung. Katanya kita enggak akan bingung kalau sudah di surga.
"Apa aja menunya, terserah lo. Soalnya kalau menunya menua bersama, kan, enggak mungkin." Aku sedikit bergumam untuk kalimat yang terakhir. Huh, itu kenyataannya, kan.
"Tumis jamur sama telor ceplok setengah mateng?" tanya Naren. Itu bukan ide yang buruk untuk menutup perpisahan.
"Gue ngikut aja," jawabku lemas. Aku menoleh lagi ke Naren. Kali ini dengan tatapan sedih yang benar-benar tidak bisa aku bendung. Kalau bisa ceria terus, sih, aku akan ceria tiap di depannya. "Ren, gue boleh nyender di pundak lo?"
Naren mengangguk. Setelahnya aku menjatuhkan kepala di pundaknya. Nyaman sekali.
"Ren, gue boleh nanya lagi, nggak?" tanyaku sambil menatap matahari terbenam yang sinarnya mulai redup itu.
"Apa?"
"Misalkan suatu hari nanti lo amnesia, apa lo bakal inget sama gue?" tanyaku dengan penuh rasa sedih. Ternyata air mataku sudah lolos begitu saja. Tanpa terasa juga, aku membiarkannya tanpa menghapusnya.
"Orang amnesia itu nggak bakal inget apa pun, Rein. Tapi misal nanti gue lupa sama semuanya, gue bakal selalu inget lo, sebagai istri gue, sebagai pengalaman hidup yang bikin gue jauh lebih dewasa dan kuat. Gue nggak akan pernah lupa hari pernikahan kita, kontrakan kita, tiker pertama kita, semuanya."
Jawaban Naren itu membuatku tambah menangis. Ternyata semua kenangan kami itu ada di memorinya, terekam jelas di sana. Lalu bagaimana kalau semua itu terhapus secara perlahan? Naren akan lupa, Naren akan ingat aku sebagai teman sekelasnya, bukan istrinya.
Gue juga berharap begitu, Ren. Gue berharap lo tetep inget gue sebagai istri lo saat pelet itu hilang nantinya. Ya, walaupun kemungkinannya kecil, sekecil bekicot di sawah.
"Pulang, yuk. Udah malem, nggak berasa, ya." Tak lupa aku menghapus air mataku dan jejaknya sebelum berdiri tegap dan bangun dari pundaknya. Pokoknya dia tidak boleh tahu kalau aku menangis begini. Rein yang dia kenal bukan Rein yang cengeng.
***
Tumis jamur dan telor ceplok setengah jam sudah tersedia di piring kami, lengkap dengan nasi putih hangat. Naren yang memasak ini. Aku, sih, cuma masak nasi putihnya saja. Dia cepat belajar, aku akui dia hebat. Bukan hal mudah untuk anak konglomerat yang biasanya hidup serba mewah, selalu dilayani pembantu, tiba-tiba hidup melarat bersama istrinya.
Naren lahap makannya, sedangkan aku malah melihatnya makan. Besok pagi mungkin aku tidak akan melihat pemandangan seperti ini lagi di depanku saat makan. "Kenapa nggak dimakan? Nggak enak?" tanya Naren yang sadar kalau sedari tadi aku melihatnya.
"Ha? Enak, kok." Aku langsung menyuap satu sendok ke mulutku. Aku enggak bohong, ini betulan enak. Dia tahu saja kalau aku suka telur ceplok setengah matang. Namun, bukannya tersenyum karena senang makanannya enak, aku malah menangis. Ih, cengeng, deh! Sedari tadi ditahan-tahan, akhirnya tidak bisa terbendung juga.
"Lah, kenapa? Kok, nangis?" Naren menaruh piringnya di lantai, mengambil tisu lalu mengusap pipiku.
"Hahaha, mungkin saking enaknya, gue sampe terharu begini." Aku tertawa kikuk, meski setelahnya air mata kembali muncul.
"Dihabisin, kita nggak makan dari pagi," kata Naren. Aku makin lahap makannya, supaya air mata juga tidak keluar lagi.
Menu perpisahan yang enak. Bintangnya sejuta per sepuluh!
Setelah kami menghabiskan makanan masing-masing, kami lanjut tidur. Untungnya tidak ada tugas untuk besok. Setelah mencuci piring, Naren mematikan semua lampu rumah dan menyusul aku yang sudah berbaring di atas tikar.
Dia membentangkan selimut satu-satunya milik kami itu. "Ren, gue boleh minta satu permintaan lagi nggak? Please ...." Mumpung Naren belum tidur, aku menggangunya sejenak.
"Permintaan mulu, nggak sekalian wasiat?" tanya Naren asal nyeplos.
"Ih, gue serius. Sekali ini aja, ya ya?"
"Ya, udah. Apa?"
"Gue mau malem ini tidurnya dipeluk, jangan sampai lepas." Bukan tanpa alasan aku meminta ini. Kemarin aku yang memeluknya saat tidur, sekarang harus gantian. Ini pelukan pertama dan terakhir. Semoga aku bisa dapat!
"Peluk?"
"He'eum," jawabku cepat. Tanpa disangka-sangka, Naren bergeser ke sini dan
memiringkan posisi tubuhnya, juga tangannya langsung melingkar di perutku. Jantungku! Aku menjerit sendiri dalam hati. Aku yang meminta, tetapi malah aku yang dibuat sesak napas.
"Udah. Tidur, gih."
Walau masih dilanda deg-degan yang parah dan sulit dikonsultasikan, aku tetap merem dan mencoba untuk tidur. Sebenarnya aku tidak mau hari ini berakhir. Mau bagaimana lagi, dinikmati pun hari akan tetap berakhir.
***
Paginya aku terbangun lebih duluan di pukul enam. Bangun-bangun dan membuka mata, tangan Naren masih melingkar di perutku. Ternyata Naren mengikuti mauku untuk tidak melepas pelukan itu. Pantas saja tidurku terasa sangat nyaman.
Saat Naren masih tertidur pulas, aku mengambil HP yang ada di sebelah bantalku. Aku bukan kamera, lalu memotretnya. Dengan cepat foto Naren sudah tertangkap di galeriku. Biar ini jadi foto terakhir kebersamaan kami. Bakal jadi kenang-kenangan terindah.
"Eung ...." Dia bergumam, sehabis itu membuka matanya dengan perlahan. "Loh, udah bangun?" tanya Naren. Rupanya pelet itu belum hilang, padahal sudah enam jam berlalu, loh.
"Udah. Nyenyak tidurnya?"
Naren mengangguk dengan mata yang masih sipit dan belum terbuka sepenuhnya itu. "Gue-" Ucapannya terpotong kala HP Naren berdering. Dia langsung melepas pelukan itu dan bangun untuk mengambil HP yang ada di meja sana. "Bentar, angkat telepon dulu," katanya. Aku mengangguk saja sambil menarik selimut yang makin lama, makin ke bawah.
Tatapan Naren berubah saat melihat layar HP-nya. Dia bengong sebentar, lalu menoleh ke arahku, dan habis itu fokus lagi. Loh, siapa yang telepon, ya? Tatapan Naren sampai begitu, loh.
"Gue keluar sebentar, mau angkat telepon." Setelah izin itu, dia lalu keluar dari kamar. Bukan, bukan! Malahan sekarang dia keluar dari rumah. Dari siapa, sih, sampai-sampai harus keluar rumah segala. Jadi kepo, deh!
Aku berdiri dan mengintip sedikit dari jendela. Wajah Naren sangat serius saat bicara di telepon. Ekspresinya marah, menahan tangis, tetapi Naren tetaplah Naren yang anti teriak-teriak. Sayang banget aku tidak bisa dengar dia bilang apa. Setelah ia mengangguk, panggilan itu dimatikan dan Naren mengantongi HP-nya.
Saat dia berbalik dan masuk lagi ke rumah, aku segera berbaring lagi, pura-pura tidak mengintip barusan.
Naren kembali ke kamar, wajahnya memerah dan ada air mata di sana. "Kenapa, Ren?" tanyaku.
Naren bukannya menjawab, dia malah memelukku. Aku hanya diam saja di pelukannya. Pelukan erat yang aku tidak tahu maksudnya. Setelah agak lama memeluk, ia melepaskannya. "Gue pergi dulu, ya. Sebentar, kok." Naren berdiri, setelah itu dia memakai jaket dan celana panjangnya.
"Pergi ke mana?" Aku mulai panik sekarang.
"Nggak jauh." Jawaban singkat itu diberikan, tetapi aku malah makin khawatir.
Setelah memakai jaket dan celana panjang itu, Naren kembali memelukku, tetapi kali ini dia diam, tidak berkata apa pun.
"Ren, lo bakalan balik lagi, kan? Lo bakal pulang lagi ke gue, kan?" Suaraku bergetar, kali ini aku menahan tangis.
"Eum." Naren hanya mengangguk dan bergumam. Dia lalu mengantongi HP-nya dan keluar dari kamar ini. Aku kembali mengintip di balik jendela, Naren di sana. Sebelum pergi, ia berbalik badan dan memandang rumah ini, kemudian tersenyum tipis. Aku bisa melihat ia yang menahan tangis juga.
Apa ini ending-nya? Apa kepergian Naren ini adalah akhir pelet itu? Apa peletnya benar-benar berakhir? Di detik ini?
***
Aku ingin membuktikan pelet itu sudah hilang atau belum. Setelah mandi, aku pergi ke kampus. Di kampus sudah lumayan ramai, tetapi yang pertama kali dicari oleh netraku adalah Naren, suamiku.
Pusing berkeliling kampus, mencarinya di kelas pun tak ada, akhirnya aku ke kantin. Ternyata dia di sana, sedang bercengkerama dengan teman-temannya. Wajah Naren tampak senang dan bahagia, tidak ada air mata itu seperti tadi pagi.
Aku memberanikan diri ke sana. Konyol memang, tetapi ini untuk membuktikan apakah pelet itu masih ada atau tidak. "Hai, Ren." Sapaan dariku menghampiri Naren duluan. Dia dan teman-temannya malah menatap bingung.
"Lo kenapa, Rein? Tumben banget nyapa Naren," ceplos salah satu teman Naren. Aku kurang paham siapa namanya.
Naren? Dia hanya memasang wajah datar, persis seperti orang yang tidak akrab denganku. Berarti pelet itu benar-benar sudah hilang, ya?
"Ah, enggak. Gue cuma mau tanya. Lo punya buku yang direkomendasiin Pak Bambang nggak? K-kalau punya, gue mau pinjem sebentar." Aku menahan tangis, tetapi aku tahan-tahan. Jangan sampai aku tiba-tiba aku menangis di sini dan bikin semua orang bingung.
"Nggak punya." Sikap cuek itu hadir lagi. Naren benar-benar kembali ke setelan awal, di mana kami hanyalah orang yang saling kenal, tidak lebih.
"Okei, thanks." Aku berbalik badan dan segera pergi dari sini. Semuanya bikin aku sakit. Harusnya aku tidak ke sini tadi. Tidak mempertanyakan hal yang aku sudah tahu apa jawabannya.
Pelet itu hilang, tetapi ternyata cintaku yang tidak hilang. Naren lupa semua kenangan kami selama dua bulan itu, tetapi itu akan selalu membekas untukku.
Katanya, walaupun lo amnesia sekalipun, lo nggak bakal lupain gue, Re. Mana? Lo bohong.
Tapi nggak papa. Makasih udah bikin gue merasa dicintai, merasa berharga, merasa ada di dunia ini. Lo cinta pertama gue, dan gue harap bakal jadi cinta terakhir. Gue nggak berharap banyak, tapi gue harap nantinya lo bisa bahagia bareng sama cewe idaman lo itu.
Selamat melupa, Ren. Ribuan terima kasih buat semuanya. Sampai jumpa lagi, Suami gue!
-END-