Gempa memikirkan bagaimana dia bisa memiliki 6 anomali yang sungguh amat sangat unik dan aneh. Dimulai dari yang sangat ingin mengulitinya hidup-hidup, menceramahi nya tentang sesuatu yang cukup sederhana, seperti hei dia hanya lupa mematikan keran wastafel kenapa perlu cerewet sekali sih? Astaga hidup Blaze sepertinya hanya terisi tindakan-tindakan dan perilaku yang harus teroganisir dengan tepat dan sempurna. Bagaimanapun tidak ada yang sempurna, yeah, setidaknya begitu.
Mengesampingkan hal itu, ada empat makhluk lainnya yang cukup menyebalkan namun juga menghibur nya. Seperti tiga ekor kera yang kadang-kadang membuat Gempa cukup terhibur dengan tingkah laku mereka yang absurd dan abnormal. Kadang Gempa merasa mereka hanya seekor alien yang sedang mengamati bagaimana menjadi manusia sejati namun terlalu berlebihan dalam meniru manusia itu sendiri. Namun, lagipula-mereka memang bukan manusia asli, toh.
Thorn menjelaskan bahwa mereka semua hanyalah makhluk tiruan hasil laboratorium dengan sampel manusia asli, ah, bagaimana ya menjelaskan nya? Kurang lebih seperti para ilmuwan menggunakan DNA dari beberapa manusia untuk menciptakan makhluk seperti mereka, dengan beberapa kelebihan kekuatan alam. Gempa tidak terlalu mengerti bagaimana kekuatan mereka itu asal sebenarnya darimana, yang jelas, ya, mereka memang hanya manusia tiruan. Yang pertama kali diciptakan adalah Thorn, dia merupakan suatu eksperimen yang hampir mendekati kesempurnaan, emosinya stabil, kekuatannya bisa dia kendalikan dengan baik, dia juga merupakan eksperimen yang pandai dan bisa diandalkan. Berbeda dengan Taufan, emosinya meledak-ledak seperti kembang api, kekuatannya tidak cukup stabil, dan dia selalu memberontak dan membuat masalah di gedung laboratorium. Dikarenakan hal itu, beberapa ilmuwan menyarankan agar Thorn mendampingi Taufan dan dapat mengontrolnya. Tentunya Thorn kesulitan akan hal itu, berkali-kali dia gagal dan diserang. Mereka hampir putus asa, namun seorang ilmuwan muda di gedung penelitian itu membuat suatu alat yang cukup hebat.
Alat itu merupakan semacam sebuah jam tangan, namun dapat digunakan dua arah, yaitu dapat mengontrol kekuatan si pemakai dan dapat mengontrol kekuatan dari pengguna lainnya. Namun, hanya satu orang yang dapat mengendalikan kendali dua arah tersebut. Dan, tentunya Thorn lah yang memegang kendali dua arah tersebut. Taufan awalnya menolak dengan keras, dia terus memberontak saat para ilmuwan memaksanya memakai alat tersebut, namun pada akhirnya dia tetap dipakaikan alat itu. Tentunya tidak semudah itu melepaskan alat itu begitu saja.
Selama berminggu-minggu, perlahan Taufan mulai stabil, emosinya sudah tidak meledak-ledak dan kekuatan nya bisa dia kendalikan dengan baik dan bertahap. Setelah masalah itu selesai, barulah makhluk lain seperti mereka diciptakan, seperti Gempa, Solar, Ais, Blaze, dan Halilintar. Mereka berenam juga dipakaikan alat yang sama seperti Taufan. Intinya, kendali mereka sepenuhnya ada pada milik Thorn, karena mereka berpikir bahwa dia merupakan suatu bentuk representasi yang paling dapat diandalkan dan penurut dari mereka semua.
Namun, salah besar. Gedung penelitian itu meledak tepat pada bulan ke-12 berakhir, tepat ketika kembang api meledak di angkasa sana, ketika guncangan hebat hampir menghancurkan seluruh kota di malam paling ditunggu umat manusia. Tak ada yang tersisa dari gedung penelitian itu, semuanya hancur lebur.
Hanya mereka, menatap bagaimana gedung itu meledak dengan sempurna sesuai rencana pelarian yang telah Thorn dan Taufan rancang sedemikian rupa. Mereka kabur diam-diam setelah menanamkan banyak bom di berbagai area gedung itu. Kabur ke sebuah pulau yang cukup jauh dari kota besar itu, pulau yang telah menjadi acuan mereka sejak awal, melanjutkan suatu rencana sunyi yang merupakan suatu tujuan utama mereka diciptakan. Meneliti suatu hal yang lebih jauh dari angkasa dan lebih sunyi dari lautan. Di sana, di banker rahasia di bawah tanah, organisasi paling rahasia dan hampir mitos jalanan.
Baiklah mungkin Gempa terlalu memikirkan banyak hal, kepalanya rasanya pusing dan terjepit oleh realita yang ada. Dia menghisap nikotin di tangannya, dan menghembuskan asap itu pelan. Mata senja nya menatap lurus ke depan, pada para manusia yang berlalu-lalang di bawah jembatan penyebrangan itu. Matahari perlahan merekah di sudut-sudut kota kecil itu, toko-toko mulai dibuka, burung camar terbang di sekitar pantai sana. Gempa mendengus, kemudian membuang rokoknya begitu saja. Hari sudah hampir siang, dan dia harus segera pulang sebelum Blaze berceloteh menyebalkan padanya.
Gempa menguap kecil, sambil berjalan malas menuruni tangga di sana. Tak banyak orang di hari semuda ini, hanya beberapa anak sekolah dan orang yang hendak pergi bekerja.
____ 0_★ ____
Sangat menyebalkan. Sok ngatur. Dan, sungguh sialan, Gempa berdiri dengan kaku ketika Blaze sedang mengeluarkan kata-kata pedas nya seperti, "sekalian aja gak usah pulang sama sekali, Gem, lu cuman benalu di sini. Gak ada gunanya sama sekali." Oh, wow, mungkin Gempa harus tersinggung dengan hal itu. Tunggu, mungkin dia harus peduli? Ah, dia ingin sekaleng soda lagi. Gempa hanya memutar matanya acuh tak acuh, dan menguap sekali lagi, dia hanya berjalan pergi begitu saja dan mengabaikan Blaze di depan pintu.
"Eiyoo, Gem! Kemana aja lu semalam? Thorn nyariin lu. Dia kayaknya kesel gitu," Ais menyapa Gempa dari pintu dapur, tepat ketika Gempa hendak membuka kulkas, dia menoleh pada Ais sambil menaikkan sebelah alisnya tertarik. Thorn jarang mencarinya, mungkin ada suatu hal yang cukup menarik.
"Kenapa? Buat apa?" Tanya Gempa, sambil kembali membuka kulkas itu, dia butuh sekaleng soda untuk menjernihkan pikiran nya. Ais menggendikan bahu nya, "mungkin misi, dia baru aja berangkat tadi malam sama Taufan dan Solar." Ujar Ais, wajahnya tampak setengah jengkel, karena dia nampaknya juga ingin ikut.
"Heh, Taufan lagi dan lagi. Dasar posesif." Sarkas Gempa, sambil meneguk soda itu. Ais hanya menyeringai geli dan menyipitkan matanya, "lu tahu sesuatu kan, Gem?"
"Tahu apa? Lu pikir gua apaan? Mereka tuh udah gitu dari awal. Gak heran kali." Gempa mendengus geli, dan berjalan pergi begitu saja, menaiki tangga menuju kamarnya. Dia hanya ingin merebahkan diri seharian setelah semalaman mabuk di klub murahan di pinggir kota.
____ /ᐠ。ꞈ。ᐟ\ ____
Gempa mengernyit, kemudian perlahan membuka matanya. Kepalanya berdenyut nyeri, dia melirik sekitar kamar nya yang agak berantakan itu. Di luar tampaknya sedang ramai, karena sejak tadi penuh kebisingan. Oh, Gempa berharap Taufan berduel lagi dengan Thorn atau siapapun. Itu akan menjadi pemandangan yang menyegarkan. Dia butuh hiburan.
Gempa segera keluar dari kamarnya itu, menuju balkon di dekat tangga, dia melirik pada Halilintar dan Taufan yang sedang berdebat. Lebih tepatnya Taufan yang terus mengeluarkan segala umpatan dan bentuk hinaan. Oh, Gempa berpikir dia cukup kreatif dalam hinaannya. Sangat menyebalkan sekali untuk didengar. Halilintar sesekali menyela untuk mencoba menjelaskan sesuatu. Gempa beralih melirik pada Thorn yang nampak sedang serius mengotak-atik sebuah tablet dan Solar hanya berdiri kikuk di sana bersama Ais. Blaze? Ah, entah kemana, barangkali dia sedang sibuk merakit bom lagi.
Oh, ini semakin menarik. Kini Taufan sudah mulai mencekik Halilintar hingga mereka berdua terjatuh, tangannya sudah siap sekali untuk memukul Halilintar yang sudah pasrah itu. Gerudi angin, sepertinya Taufan serius ingin membuat sistem Halilintar semakin abnormal. Dan yap, sang pengendali elemental Thorn takkan membuat itu terjadi, lagi. Thorn membentak Taufan dengan kasar dan menarik kerah belakang pakaiannya. Halilintar terengah-engah, namun juga tetap terkena semprotan kemarahan Thorn. Solar juga tampak semakin gugup sambil mengotak-atik sebuah benda pipih seperti handphone di tangannya.
Baiklah, mungkin Gempa seharus nya turun kebawah dan menonton apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dia butuh hiburan, toh.
Namun, baru saja dia hendak menginjakkan kaki di anak tangga terakhir, dirinya tiba-tiba tersedot oleh sebuah cahaya terang.
"HALI SIALAN! INI SEMUA SALAH LU, BRENGSEK!"
____ ◖⚆ᴥ⚆◗____
T.B.C.
Happy late new year, y'all.
Oh! Anw, ini urutan dari yang paling tua (paling pertama diciptakan) dan terakhir;
1. Thorn
2. Taufan
3. Gempa
4. Solar
5. Ais
6. Blaze
7. Halilintar
Alasan nya? Oh, gak ada, aku cuman kepikiran. See u another time, y'all.