REBORN

Galing kay widymori

612 73 59

Sebuah kelahiran adalah berkat dari Tuhan. Namun bagaimana kalau sebuah dosa membuat kelahiran terasa menjadi... Higit pa

CHAPTER 2
CHAPTER 3
CHAPTER 4
CHAPTER 5

CHAPTER 1

181 21 21
Galing kay widymori

PERHATIAN

Cerita ini mengandung unsur dewasa, hubungan sesame jenis dan dikhusus kan untuk para fujoshi dan fudanshi. Terdapat banyak typo, bahasa yang berantakan dan kesalahan lainnya yang tidak terkoreksi oleh author. Dan mohon maaf apa bila terdapat bahasa yang rancu dan suli dimengerti karena tidak semua laki-laki~ *abaikan* manusia sempurna. Sekian dan selamat membaca.

-Widymori-

REBORN

CHAPTER 1

Bagaikan tersambar petir di siang bolong, seorang pria dengan tinggi 183 cm terpaku di tempatnya hanya karena sesosok pria mungil yang sedang menyiapkan secangkir late di bar cafe. Ia nyaris tidak mengedipkan matanya karena sosok itu adalah sosok yang ia cari selama ini.

"Tuan?" Panggil sosok itu dan pria lain di depan mesin kasir itu mengedipkan matanya. Ia tersadar dari lamunannya karena suara indah pria itu menerobos masuk dengan tidak sopannya.

"Maaf." Sesal pria jangkung itu. Senyuman barista yang merangkap kasir itu hanya tersenyum manis dan menyodorkan segelas late dingin dengan toping caramel di atasnya.

Ini memang bukan minuman favoritnya namun begitu melihat sosok itu entah mengapa kakinya bergerak untuk masuk ke dalam cafe dan memesan apapun yang bisa membuat percakapan dengan pria mungil di hadapannya. Seolah tak mau menyudahi pertemuan itu, Boss nama pria jangkung itu kembali bersuara.

"Eh, namamu siapa?" Tanya pria itu. Merasa aneh dengan pertanyaan itu, kasir itu mengerutkan dahinya bingung. Pasalnya selama ia bekerja di cafe itu, baru pria itulah yang menanyakan namanya.

"Lee Noeul." Ucapnya. Senyum manis itu terkembang. Boss memutar tubuhnya dengan rasa bahagia. Akhirnya pencariannya selama berabad-abad terselesaikan di tahun ini.

...

Hari berikutnya Boss kembali mendatangi cafe tempat kerja Noeul. Ia memesan minuman yang sama tapi dengan satu tambahan sebuah roti lapis isi daging. Kursi dekat jendela adalah pilihan yang tepat karena dari situ ia bisa melihat dengan jelas pergerakan pria mungil berparas menawan baginya.

Waktu bukanlah sesuatu yang penting bagi Boss karena pekerjaannya bisa di kendalikan dari jarak jauh dan seorang sekertaris menggantikan tugasnya untuk bertemu beberapa orang. 

Ia sempat berpikir untuk membeli cafe tempat Noeul bekerja, tapi ia mengurungkan niatnya dan tidak mau mencampuri urusan pujaan hatinya itu. Sibuk memikirkan banyak rencana, seorang pria lain memasuki cafe. Pria itu menuju kasir dan menyapa Noeul dengan begitu akrab.

"Pulang jam berapa hari ini? Apa perlu ku jemput?" Tanya pria itu. Noeul tersipu dan menggeleng pelan sebelum akhirnya menjawab pria yang tersebut.

"Aku harus lembur, atasanku menyuruh untuk menghitung pendapatan di bulan ini." Ada rasa kecewa dari nada suara pria mungil itu. Boss menebak bahwa pria jangkung di hadapan Noeul adalah kekasihnya karena dari cara berbicara Noeul yang berbeda saat melayaninya di kasir.

Boss hanya mengamati dari jauh tanpa mau ikut campur. Inilah yang ia lakukan setiap kali bertemu dengan sosok Noeul dari abad ke abad. Dan bisa dibilang baru kali ini ia berinteraksi langsung dengan sosok itu setelah ratusan tahun.

.

.

Ketika malam, Boss masih memantau sosok itu dari tempat yang jauh. Ia menyewa sebuah gedung yang langsung bersebrangan dengan tempat Noeul bekerja. Posesif? Bisa dibilang begitu karena ia tidak mau kehilangan sosok itu lagi. Hukuman langit masih berjalan dan membutuhkan ratusan tahun lagi agar ia bisa bersama sang pujaan hati.

"Hah~ akhirnya selesai." Noeul meregangkan semua ototnya. Semua laporan keuangan sudah selesai ia catat dan sekarang tinggal ia membereskan semua barang yang ada di cafe.

Dari kejauhan Boss mengamati sosok itu di lantai dua. Boss jelas hapal betul kalau lelaki itu sudah membereskan semua bangku di lantai dua, tandanya ia akan bersiap-siap pulang. Karena itulah ia mengambil kunci mobilnya dan bergegas turun ke parkiran bawah.

Ia menyalakan mobilnya dan menginjak gas lalu kendaraan beroda empat itu melaju. Ia memutar aga jauh dari gedung tempat mobil itu terparkir dan berhenti tepat di depan sebuah gedung cafe yang biasa ia datangi di pagi atau siang hari.

"Hai." Sapa Boss dari dalam mobilnya. Noeul terkejut namun tersenyum ramah seperti biasanya. "Aku datang terlalu larut, aku kira cafe ini masih buka." Basa basi yang yah paham kan sampai sini?

"Oh maaf, cafe kami memang tutup di jam 9 malam." Jawab Noeul masih dengan senyum ramahnya.

"Kau mau pulang?"

"Ya."

"Bagaimana kalau aku antar? Jam segini akan sangat lama menunggu bis yang lewat." Mendengar itu Noeul berpikir sejenak. Sebenarnya ia ingin menolak tawaran itu karena jelas ia belum mengenal baik orang di dalam mobil itu, tapi ini memang sudah larut malam dan benar akan sangat lama menunggu bis di malam hari.

Jadi di sinilah ia berada sekarang. Di dalam mobil mewah milik pelanggannya. Bohong kalau Noeul tidak merasa takut karena jantungnya sedari tadi berdetak tidak normal. Kalau Boss memiliki pendengaran yang luar biasa tajam, mungkin ia akan tahu lelaki di bangku penumpang itu sedang berdebar kencang.

"Sudah berapa lama kau bekerja di cafe itu?" Percakapan yang memecah keheningan. Noeul menoleh dengan gugup lalu menjawab pertanyaan si pengemudi.

"Sudah dua tahun." Jawabnya dan Boss hanya bergumam.

"Lalu kau tinggal sendiri? Bukankah yang tadi pagi itu kekasihmu?" Seketika tubuh itu menegang. Pasalnya tidak ada yang mengetahui hubungannya dengan Sunny pacarnya.

"Bagaimana kau...." Tidak menyelesaikan kalimatnya, Boss menjawab kebingungan pria itu.

"Kau begitu bahagia ketika pria itu datang. Aku hanya menebaknya dari ekspresi mu." Dan Noeul kembali tersipu ketika ia mengingat kenangan bersama kekasihnya itu.

Sepanjang perjalanan Boss selalu memancing lelaki itu untuk bercerita dan Noeul dengan antusias berbicara bagaimana kehidupannya dan banyak cerita lainnya. Dan tibalah ia di tempat tujuan mereka.

"Kau bisa turunkan aku di depan." Ucap Noeul. Dengan enggan Boss memarkirkan mobilnya di sisi jalan dan melihat sekeliling. Ia memastikan kalau tempat itu aman.

"Aku antar sampai depan apartemen." Namun penolakan menjadi jawaban.

"Tidak usah. Ini sudah tidak jauh dari apartemenku. Lagian mobil tidak bisa masuk."

"Aku bisa memarkirkan mobilku dulu dan berjalan kaki untuk mengantarmu masuk." Tapi lagi-lagi anak itu menolak. Sebelum hal ini merambat ke hal lainnya, Noeul pamit dan membuka pintu mobil.

"Terimakasih sudah mengantarku. Sampai berjumpa di cafe." Ucapnya dan berjalan menjauh meninggalkan Boss yang menekuk bibirnya ke bawah.

...

Minggu ini adalah minggu terberat bagi Boss. Tidak usah ditanya kenapa karena ia tidak bisa mendatangi cafe di mana Noeul bekerja.

Selama seminggu ini ia harus menghadiri sebuah seminar di mana ia adalah pembicaranya. Semua ini karena kesuksesannya dalam mengembangkan beberapa cabang perusahaan dalam setahun terakhir ini.

"Setelah ini kau harus menghadiri..."

"Kenapa banyak sekali?" Nadanya kesal dan wajahnya terlihat tidak suka. Ia terus melihat ponsel pintarnya mengecek tanggal.

"Hari ini adalah jadwal terakhir. Sore ini jadwal anda untuk kembali ke kota." Sang sekertaris menjelaskan. Boss sedikit tenang tapi menunggu sore tiba itu masih terlalu lama karena ini masih jam 8 pagi.

.

.

Selesai seminar, Boss hanya menyapa beberapa orang untuk berpamitan dan melanjutkan perjalanan ke bandara. Semua barang dari hotel sudah di masukan pada mobil dan karena tidak ada jadwal tambahan, selesai jadwal terakhir Boss memutuskan untuk menunggu jadwal penerbangannya di bandara.

Begitu mendarat, Boss membawa mobilnya ke kawasan kota di mana ia biasa menghabiskan waktu. Ia memarkirkan mobilnya di gedung yang ia miliki. Setelah memastikan mobilnya aman, ia menyebrang dan memasuki cafe tempat Noeul bekerja. Sambutan hangat dari kasir membuat bibirnya mengembangkan senyuman tampan.

"Pesanan seperti biasa?" Noeul memastikan bahwa pesannya sesuai seperti biasanya.

"Ya seperti biasanya." Masih dengan senyuman tampan. Noeul yang mengetik pesanan di komputer ikut tersenyum karena merasa konyol dengan kejadian ini.

"Seminggu ini aku tidak melihatmu. Ada perjalanan bisnis?"

"Emm,, lebih tepatnya aku menjadi pembicara di sebuah seminar." Ia berbicara seraya mengambil kartu pembayaran dari dompetnya lalu menyerahkannya pada Noeul.

"Wah,, kau bekerja sebagai dosen?" Wajah bersinar itu membuat Boss ingin sekali memeluknya tapi ingat, ini belum waktunya.

"Pekerjaanku tidak semulia itu. Aku bekerja di sebuah perusahaan swasta dan menjadi pembicara pada sebuh seminar, hanya sampingan." Ia mencoba merendah.

"Tapi hebat sekali bisa menjadi pembicara di sebuah seminar. Jabatanmu pasti sangat tinggi sampai bisa menjadi pembicara seperti itu. Ini silahkan." Ia menyerahkan segelas kopi dan sepiring kue coklat pesanan Boss.

"Hari ini lembur lagi?"

"Aku ada janji dengan kekasihku hari ini." Mendengar itu Boss merasa sedikit kecewa. Tapi apalah dayanya karena ia hanya seorang pelanggan.

"Kalau begitu selamat bersenang-senang." Kemudian ia meninggalkan Noeul dan duduk di bangku favoritnya dekat jendela.

...

Noeul meremas seprai ketika kekasihnya menghisap kuat kulit putih yang kini berwarna merah. Rintihan lebih mendominasi saat keduanya memadu kasih. Sikap kasar Sunny kerap kali membuat Noeul tidak nyaman saat bercinta tapi pria mungil itu hanya bisa menahan diri dan membiarkannya.

Langit sudah gelap waktu itu, Noeul membereskan dirinya di kamar mandi. Memar di pergelangan tangan, noda kiss mark bertebaran di kulit putihnya dan bekas gigitan di pundak menjadi saksi bahwa hubungannya dengan Sunny tidak baik-baik saja.

Noeul mengoleskan obat pada luka-lukanya sendirian karena sng kekasih langsung meninggalkannya setelah bercinta. Itu adalah kebiasaannya. Sunny Wannarat adalah seorang pemilik perusahaan elektronik terbaik di kota Bangkok. Banyak brand yang ingin bekerja sama dengannya namun penyeleksiannya cukup ketat dan memiliki syarat yang sulit di penuhi brand-brand tersebut.

Noeul bertahan dengan hubungan ini karena Sunny banyak membantu keluarganya dalam melunasi hutang ayah dan ibunya.

.

.

.

Pagi ini Noeul berangkat dari kediaman Sunny di antar langsung oleh sopir pribadinya. Ini hal yang rutin di lakukan kalau Noeul menginap di apartemen kekasihnya itu.

Dengan luka memar di lehernya, Noeul hanya menutupinya dengan scarf dan beberapa plaster di bagian lengan. Ia tidak ingin banyak pertanyaan dari rekan kerjanya nanti.

Pelanggan mulai berdatangan memasuki jam makn siang. Seperti biasa Noeul berada di belakang mesin kasir dan mengarahkan rekan kerjanya untuk menu-menu yang dipesan pelanggannya.

Dentingan lonceng di atas pintu masuk memberitahu siapapun bahwa ada pelanggan baru yang datang. Jelas Noeul mengenal sosok itu, sosok tinggi yang selalu tersenyum ketika mereka bertatapan.

"Bagaimana harimu?" Boss menyapanya. Lelaki yang berada di belakang kasir itu hanya tersipu.

"Aku baik." Menyadari ada yang tidak biasa menimbulkan pertanyaan di benak lelaki jangkung itu.

"Kau sedang sakit?" Padangan Boss terarah pada scarf yang di gunakan Noeul. Ia juga melihat beberapa plaster luka di tangannya.

"A-aku hanya," bermaksud menyembunyikan semua itu tapi terlambat, Boss menemukan semuanya di tubuh kurus itu.

"Seharusnya kau beristirahat bukan malah bekerja." Nasehat itu membuat diri Noeul tersentuh. Ia berpikir seharusnya kata-kata itu terlontar dari bibir kekasihnya namun kekasihnya malah meninggalkannya sedari malam setelah mereka bercinta.

"Aku baik-baik saja." Ucapnya seraya ia menyiapkan pesanan dari Boss. "Ini." Ia menyerahkan pesanan Boss tapi pria itu menahan gerak Noeul.

"Kau bisa menceritakan apapun padaku. Kapan pun aku bisa mendengarkan mu." Tapi Noeul hanya tersenyum dan mendorong lengan Boss pelan.

"Aku benar-benar baik-baik saja." Ia bersih kukuh. Jadi dengan engan, Boss meninggalkan pegawai kasir itu yang terlihat kembali murung.

Boss harus tahu batasan antara dia dan Noeul yang menjadi kekasih orang. Tapi bagaimana pun Noeul ada di sini sekarang karena kesalahannya. Jadi ia harus melindunginya walau nanti saat ia kembali terlahir menjadi manusia, ia akan kembali melupakannya.

Jadi ia memutuskan untuk memperhatikannya dari jauh dan mencintainya dalam diam. Seperti seorang penyair yang mengagumi keindahan dunia.

...

Terasa seperti dejavu, Noeul kembali mengobati lukanya di kamar apartemen yang sepi. Ia merasa seperti pelacur yang dibayar tiap malam oleh seorang pengusaha kaya.

Cairan bening itu mengalir membasahi pipi tirus yang terlihat pucat. Pantulannya di cermin membuatnya terlihat kacau dan perasaannya semakin berantakan. Apa ia harus menyudahi hubungan ini? Tapi ia harus membayar seluruh uang yang ia pinjam dari kekasihnya itu.

Tidak pernah terbersit dalam dirinya bahwa ia akan ada dalam keadaan seperti ini. Ia harus menjadi tulang punggung keluarga dan membayar semua hutang ayah ibu nya.

Ia sempat berpikir untuk mengakhiri hidupnya, namun bayangan kedua orang tuanya membuatnya urung. Tapi pada kenyataannya, ayah dan ibu nya terus menggunakannya sebagai mesin pencari uang.

"Hallo?" Ia menyapa seseorang dari balik telepon. Suara seorang wanita paruh baya terdengar.

"Nak, apakah kau bersama Sunny sekarang?" Ia tahu arah pembicaraan ini akan ke mana. Maka dia menaruh ponsel itu di atas meja dengan spiker menyala.

"Sunny sedang ada perjalanan bisnis. Kenapa?"

"Kami membutuhkan uang untuk membeli beberapa kebutuhan dalam seminggu ini. Apa kau bisa-"

"Minggu lalu aku sudah mengirim kalian
40.000 bhat. Itu cukup untuk dua bulan? Kenapa sudah habis?" Noeul menyela pembicaraan sang ibu. Suara di sebrang sana berubah meninggi dengan perkataan sang anak.

"Kebutuhan di sini begitu besar. Kami berdua membutuhkan banyak sekali kebutuhan seperti obat dan vitamin. Kau tahu membeli semua itu di desa seperti ini tidak mudah jadi wajar kan kalau sudah habis?!" Nada tinggi itu terdengar pecah di spiker ponsel Noeul di atas meja.

Ia hanya tidak habis pikir kenapa orang tuanya begitu boros? Apa ini yang membuat mereka terlilit hutang dengan mudah? Noeul hanya menghela napas dan berniat menyudahi panggilan itu.

"Besok akan ku usahakan untuk mendapatkan uang. Tapi ini yang terakhir di bulan ini!" Peringatan keras dan suara di sebrang sana kembali melembut.

"Terimakasih na, kau memang bisa di andalkan." Lalu sambungan tertutup.

Noeul merebahkan tubuhnya di ranjang besar apartemen itu. Ia merenungkan kehidupannya yang sulit ini. Apa ia harus lompat dari atap gedung apartemen ini? Atau ia harus terus berjuang untuk menghidupi kedua orang tua nya yang boros dan senang menghamburkan uang.

Dalam lamunannya ia tersadar pada sebuah kalimat dari seseorang. 'Kau bisa menceritakan apapun padaku. Kapan pun aku bisa mendengarkan mu.'. Ia bangkit dan meraih ponselnya lalu mengetik sebuah nama di kontaknya. Namun ia berhenti dan kembali ragu, apa ia bisa mengandalkan orang lain lagi selain Sunny?

.

.

.

Di tempat lain, Boss sedang berputar-putar di atas kursi kerjanya. Ia terus menatap ponsel di atas meja kerjanya. Boss dengan sukarela memberikan nomer kontaknya pada Noeul, berniat membantu anak itu dalam keadaan sepenting apapun. Tapi sampai saat ini ia belum juga mendapatkan pesan apapun dari anak itu.

Ia mulai frustasi dan mengacak-acak rambutnya tapi getaran di ponselnya menghentikan aksinya yang konyol itu. Ia mengambil ponselnya di atas meja dan melihat no dengan nama seseorang yang ia tunggu. Tombol berwarna hijau ia geser dan menyapa orang di sebrang sana.

"Ha-hallo?" Suara di sebrang sana dengan ragu. Boss menarik kedua ujung bibirnya lebar dan menjawab dengan antusias.

"Hallo."

"Kau sedang sibuk?"

"Ehmm... Tidak."

"A, aku...."

"Ada yang mau kau ceritakan?" Hening. Noeul berpikir keras apa yang harus ia ceritakan. Semua yang ingin dia ceritakan menguap bagaikan asap, ia bingung namun orang di sebrang sana masih menunggu.

"Sebenarnya aku hanya butuh teman."

"Baiklah. Kau di mana sekarang?" Ia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.

Noeul berjalan kembali ranjang di apartemen itu. Membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk itu dengan ponsel masih menempel di telinga.

"Aku di apartemen kekasihku." Deng ada tekanan di dadanya. "Dia meninggalkanku untuk bekerja malam ini." Lanjutnya lagi.

Boss sempat berpikir, apa lebam-lebam di tubuhnya perbuatan kekasihnya? Tapi ia berusaha untuk berpikir positif dan berdoa agar itu tidak benar-benar terjadi.

Tidak ada perbincangan apapun kala itu tapi Boss menemani temannya itu tidur. Setelah mendengar suara napas yang teratur, Boss bisa menebak kalau anak di sebrang sana sudah tertidur. Ia menghentikan panggilan lalu bergerak untuk pulang ke kediamannya.

...

Matahari sudah tinggi dan cuaca hari ini begitu cerah. Udara yang sejuk menyambut jutaan orang di negara ini. Jam baru menunjukan 07.20 tapi jalan-jalan di kota ini sudah penuh dengan beragam kendaraan dan ratusan orang memadati kendaraan umum yang ada. Salah satunya adalah Noeul yang berdesakan dengan puluhan orang di BTS.

Noeul memang pelanggan tetap BTS dan kendaraan umum lainnya. Ia tidak mau menjadi salah satu orang yang menyumbang polusi di kota Bangkok, tapi dengan kepadatan kereta cepat itu membuat ia sesak dan terkadang berharap ia memiliki sayap untuk menghindari kepadatan yang ada.

Setelah perjalanan 30 menit menggunakan BTS, ia akhirnya bisa menghirup udara segar. Lelaki itu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sedikit untuk akhirnya sampai di tempat kerjanya. Cafe memang buka di jam 10.00 mendekati jam makan siang, tapi ia harus menyiapkan semua perlengkapan seperti melihat stok kopi, tepung untuk kue-kue dan alat makan yang akan digunakan lainnya.

Ia memang tidak bekerja sendiri, tapi semua bergantung padanya. Mungkin inilah resiko kalau terlalu dekat dengan owner cafe tapi apa semua harus ia yang tangani?

Selesai mengecek semua stok ia kembali melihat alat-alat yang akan di pakai nantinya. Tanpa di sadari si kecil, sepasang mata sedang memantau dari sebrang gedung cafe. Jendela kaca yang besar membuat siapa saja bisa melihat kegiatan orang di dalamnya. Maka dengan mudah Boss memantau pergerakan Noeul dari gedung sebrang seperti sekarang ini.

Ia sudah merencanakan siang ini lelaki jangkung itu akan mengecek kondisi temannya. Apakah luka yang kemarin sudah sembuh atau bahkan bertambah.

.

.

.

Ramai pengunjung sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Noeul dan pegawai lainnya. Noeul sibuk di kasih dengan pesanan sedangkan yang lain terus bergerak untuk menyiapkan pesanan dari mulai minuman dan makanan yang akan disajikan.

Lonceng kembali berdenting dan pintu kaca terbuka oleh seorang pria jangkung dengan pakaian casual. Sang kasih tahu betul siapa pria itu dan dengan senyum ramah ia menyambut pria dengan kaos biru langit, jins senada juga blazer berwarna putih.

"Selamat siang." Sapanya sengan senyum ramah. Tanpa Boss harus mengatakan pesanannya, Noeul mengetikan sesuatu di alat pesanan.

"Duduklah nanti akan ku antar ke mejamu." Ucapnya. Boss menyerahkan kartu untuk membayar namun sang kasir menolak katanya bayaran untuk kemarin malam karena pria jangkung ini mau menemaninya.

Tidak membutuhkan waktu lama Noeul membawa nampan berisi sepiring cake dan segelas minuman hangat. Suasana di luar memang tidak terlalu panas tapi secangkir kopi panas akan membuat badannya rileks.

"Minumlah, kuharap ini bisa membuatmu nyaman." Ia menaruh semua pesanan di meja dan beranjak.

"Eh,, nanti malam,," belum selesai kalimat itu terucap, Noeul menoleh pada lawan bicaranya lagi. " Nanti malam apa kau mau ku temani lagi?"

Pria yang bekerja sebagai kasir itu terdiam sejenak. Ia berpikir apakah itu ia butuhkan? Atau kemarin itu karena suasana hatinya sedang kacau. Namun Noeul mengangguk sebagai tanda ia membutuhkan teman nanti malam.

"Hubungi aku kalau kau membutuhkan teman." Ucapnya dan dengan senyum yang masih mengembang di wajah kurus itu, Noeul berbalik dan melangkah menuju kasir.

...

Di sebuah gedung perkantoran di tengah hiruk pikuk kota Bangkok, seorang pria dengan kemeja putih dan jas hitam sedang bercumbu dengan pria lainnya.

"Aahh...ah..aaahh..." Desahan menggema di ruangan tertutup lantai 9. Gerakan lelaki dominan terus mendorong dari bawah membuat pria di atasnya terus tersentak dengan desahan yang menggila.

"Terus... Ehhmm.. lebih.. ah ah ah.. dalam.. ehhmm.." pinta pria di atasnya. Sunny pria dominan itu terus bergerak terburu dengan keringat yang meluncur deras di pelipis pria itu.

"Ohh sayang... Terus melompat!" Pinta pria itu seraya menjambak pria kecil di atasnya.

Tidak hanya cekikan, jambakan bahkan cambukan terkadang terjadi saat proses bercinta seperti ini. Entah memang tabiatnya atau fantasi dalam bercinta Sunny yang ekstrim seperti ini. Tidak heran siapapun yang sudah bercinta dengan Sunny akan mendapat kenang-kenangan luka yang bisa hilang atau bahkan berbekas selamanya.

"Apa kau tidak terpuaskan oleh kekasih mu hingga memanggilku ke kantormu?" Pria itu membenahi dirinya yang berantakan.

"Dia terlalu lemah. Aku tidak suka saat dia pasrah dan tidak ada perlawanan."

"Tapi ku lihat dia adalah tipikal orang yang penurut. Kenapa kau tidak menyukai orang seperti itu?" Setelah beres berpakaian, pria kecil itu melenggang mendatangi si dominan dan duduk di pangkuannya.

Sebuah kecupan mendarat pada bibir itu namun balasan dari si dominan membuat keduanya bergulat pada lumatan dan kecipak tercipta menjadi latar kegiatan panas keduanya.

"Aku hanya bisa bertempur denganmu. Hanya kau yang bisa memuaskan hasratku." Jawabnya ketika ciuman mereka berakhir.

"Kalau begitu, putus lah dengannya dan jadikan aku ratu di hidupmu!" Kemudian keduanya saling bercumbu melanjutkan adegan panas yang belum selesai.

~TBC~

Ipagpatuloy ang Pagbabasa

Magugustuhan mo rin

17.7K 912 10
Boss terjebak di dalam kelas seni karena sahabatnya Lebih tepatnya 'dijebak' Tapi dengan begitu ia bisa melihat model telanjang yang menarik perhatia...
121K 7.1K 41
Summary: Bayangkan! cowok tampan, pintar dan dingin disekolah tiba-tiba menjadi suamimu dimasa depan. nah, hal itu di alami oleh seorang siswa yang b...
2.7M 136K 45
Tentang Morgan yang terjebak dalam permainannya sendiri.
1.6M 143K 82
[SEQUEL OF ALDANA] 3 kali mengulang kehidupan membuat Adelia tidak bisa mempercayai siapapun kecuali dirinya sendiri. Dikehidupan pertamanya, Adelia...
Wattpad App - I-unlock ang mga eksklusibong feature