Suara langkah menggema di balik lorong gelap, dengan topeng yang terpatri menutupi wajahnya. Berpadu dengan tali yang menjuntai ke bawah, menjadi ciri khasnya seorang assasin dari Releova.
Berjalan penuh dengan tatapan datar, di ikuti dua orang yang membuntutinya dari belakang.
Hingga ia perlahan masuk ke sebuah ruangan dengan bau amis yang mengguar menusuk hidungnya, memperlihatkan manusia yang kini terduduk tak berdaya, di atas kursi besi dengan rantai yang melilit, menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.
Hanya suara helaan nafas, dengan detak jantung yang masih terlihat berdetak kala menandakan orang itu masih hidup, namun bagaimana mungkin itu terjadi kala anggota tubuh yang sudah berserakan di lantai, meski hanya sebelah bagian, namun itu menjadi pertanyaan, bagaimana orang itu masih bisa hidup?
Namun nyatanya dia sengaja di biarkan hidup kala perlatan medis yang membantunya untuk masih merasakan keadaan dirinya sendiri, meski indra prasanya kembali di pertanyakan, apa masih berfungsi?
Senyuman itu terukir di belah bibir seorang remaja yang tak lain adalah Riyu, menatap penuh pada orang yang bisa di sebut mayat hidup.
"Gua rasa hukuman lo sudah selesai, saat nya lo ngejalanin kehidupan kedua lo di neraka sana" ucapnya lalu menebas kepalanya cepat.
Prak!
Kepala itu terjatuh, terpisah dari tubuhnya di iringi semburan darah yang keluar dari lehernya.
Berbalik arah Riyu menatap dua orang yang yang menjadi bawahannya "urus mayat itu, dan bersihkan tempat ini sebersih mungkin, bila perlu bawa Cleaning Service sekalian agar kembali kinclong, gua gak mau saat gua kembali kesini nanti masih tersisa bau-bau manusia haram" ujarnya.
'tak sadarkah dia bahwa dia ajh lebih dari seekor setan? Bahkan iblis saja tak perlu ikut menggoda nya' tentu saja kalimat itu hanya mampu di lontarkan dalam hatinya saja, sebagai bawahan tentu tau tugasnya hanya sekedar menuruti apa yang diinginkan tuannya.
Riyu berlalu pergi meninggalkan tempat suram itu, yang tak lebih hanya tempat yang di jadikan hukuman untuk orang-orang yang memang menurutnya pantas mendapatkannya.
Kini ia telah duduk di jok motornya, menyalakan mesin lalu melesat pergi dengan tujuan yang pasti, ke tempat dimana dia bisa melampiaskan semuanya.
Sampai dia tiba di parkiran gedung dengan 5 lantai, tidak terlalu mencolok dengan dsain kantor perusahaan pada umumnya.
Menjalankan bisnis di bidang ekspedisi platform digital yang di rancang khusus untuk kebutuhan bisnis berskala besar, dengan pengiriman barang berbasis via darat, laut, ataupun udara.
Dengan nama perusahaan Araykev.ia yang di pimpin langsung oleh anak kedua Bagaskara, tentu itu hanya latar depannya saja untuk menutupi isi dari perusahaan yang tidak terlalu mencolok tersebut.
Nyatanya di dalam terdapat satu akses dimana para pembunuh bayaran/assasin untuk mengambil misi yang akan di lakukan mereka.
Entah itu di di perlukan untuk sekedar menggali informasi, atau membunuh para oknum yang mendeskriminasi, yang dapat merugikan banyak pihak.
Riyu turun dari motornya, berjalan masuk tanpa memperdulikan sapaan dari para penjaga kantor, bahkan para karyawannya pun cukup tau dengan kebaradaanya yang menjadi adik bungsu dari pemilik perusahaan.
Memasuki lift menuju lantai terastas, hingha bunyi 'ting' terdengar di iringi pintu lift yang terbuka, kembali melanjutkan jalannya sampai ia membuka pintu yang masih tertutup rapat dimana sang pemilik perusahaan berada.
Riyu berdiri menatap kedepan pada seorang pria yang masih berkutat dengan komputernya.
"Duduklah lebih dulu, abang masih ada pekerjaan yang tidak bisa abang tinggalkan" ucap pria tersebut tanpa menoleh ke arah Riyu, yang tak lain adalah Aray putra kedua Bagaskara.
"Apa lama?"
"Tidak, hanya tinggal beberapa saja" jawabnya tanpa menoleh.
Sampai Riyu pun duduk di kursi tepat di sebrang aray bekerja.
Hingga beberapa menit berlalu dengam Riyu yang hanya diam memperhatikan, kini Ray beralih menatap seseorang yang ia anggap sebagai adiknya.
"Ada apa?" tanyanya sekilas.
"Harusnya abang tau kehadiranku disini untuk apa? dengan pakaian yang saat ini aku kenakan, maka harusnya aku tak perlu lagi menjelaskan" jawab Riyu acuh.
Menghela nafas sesaat, Ray bersandar pada kursi kebesarannya "apa Al sudah sadar?"
"Eum. Tapi dia tidak kembali" mengerutkan alisnya Ray menatap bingung "maksud kamu?"
"Pemilik tubuh aslinyalah yang kembali menempati raganya"
"Dan kamu tidak bisa menerimnya?" Riyu menatap datar "dia hanyalah orang asing bagiku"
"Bukannya Al sudah menitipkan dia padamu?" ucapnya kala yang tentu saja ia tau, permasalahan seperti apa yang adiknya hadapi.
"Dengan merebut apa yang sudah Al raih?" tekannya "tidak semudah itu dia bisa merebut posisi Alvan"
"Tapi-"
"Bang cukup. Berikan Saja aku misinya, aku butuh pelampiasan untuk ini, aku tidak mau jika aku yang akan melampiaskannya dengan membunuhnya" gertaknya dengan penuh penekanan di setiap katanya.
Ray menghela nafas sesaat, sampai dia menerik laci meja, lalu mengambil satu map biru muda dan menyerahkannya pada Riyu "pastikan malam ini selesai" ucapnya.
Riyu meraihnya, lalu membuka map tersebut yang ternyata berisikan data profil seseorang "budak korporat?"
"Itu hanya kedok belaka, nyatanya dia terlibat dalam perdagangan manusia" jelas Ray.
Riyu kembali menutup mapnya, lalu beranjak berdiri "akan aku selesaikan, dan tolong siapkan 3 misi berikutnya karena jika hanya ini saja, maka ini tak akan cukup" ucap Riyu dan berlalu pergi.
Ray menggelengkan kepalanya "anak itu terlalu sulit di kenadlikan" gumamnya dengan mata yang terus tertuju pada Riyu yang sudah hilang di telan pintu.
Sedangkan kini disebuah ruangan dengan di dominasi warna putih, di sisi kanan dekat jendela terdapat berangkar pesakitan yang diisi oleh remaja yang masih terbaring menutup matanya.
Dan di sisi kanannya sudah terdapat beberapa sofa yang mengelilingi meja untuk menunggu, yang sudah di isi oleh ketiga pria tengah duduk membicarakan yang memang sudah membuat mereka penasaran.
"Jadi benar perailisihan kalian tadi memang memacu adik kami seperti tadi?" Reksa bertanya dengan raut wajah geram.
"Kurang lebih, iya" jawab Revan tanpa berdalih apapun.
Raka menatap datar "apa alasannya?"
"Karena ketika Alvan bangun bukan lah seseorang yang kami tunggu" penjelasan itu membuat Raka dan Reksa menatap penuh tanya.
"Bukankah selama ini kalian disini memang menunggu adik kami? Tapi kenapa seolah kalian menunggu orang lain" ucap Raka dengan nada tanya.
Menghela nafas sesaat, rasa-rasanya Revan harus memberitahukannya "kami menunggu Al bukan Alvan" ucapnya lagi.
"Tolong jelaskan lebih detail, saya benar-benar tidak mengerti dengan ucapan kamu" Raka menekan katanya karena tidak faham dengan apa yang Revan ucapkan.
Menatap penuh ke arah kedua pria yang lebih tua di atasnya, Revan kembali berucap "kalian tentu tau Alvan merupakan bagian dari kami, yang jelas kalian sekarang sudah mengerti bahwa di balik ke tiga topeng itu adalah kami"
Raka sudah menduga hal itu, saat dia mengetahui Alvan adalah Ars dan mereka berdua selalu berada disisi adiknya berarti mereka adalah Kara dan Riyu, ketua dari Releova yaitu Shikigami Chameleon.
"Dan sebenarnya Ars bukanlah Alvan, melainkan alter ego miliknya" tentu penjelasan itu membuat mereka mematung.
Fakta yang baru saja mereka ketahui bahwa Alvan memiliki alter ego?
"Jadi Alvan memiliki alter ego? Tapi sejak kapan?" Reksa bertanya.
"Kalian tahu apa tentang dia? Di saat kalian saja selalu mengabaikannya, bahkan kalian tidak mengetahui bahwa Alvan memiliki alter ego atas apa yang kalian perbuat?" lanjutnya yang jelas itu hanya dalih kebohongan belaka, karena tidak mungkin dia mengatakan tentang Alvan yang bertransmigrasi.
"Tapi sejak kapan?" Raka kembali bertanya dengan pelan malah lebih seperti gumaman
"Saya tidak tahu kapan persis dia muncul, tapi alter ego itu muncul hanya pada saat Alvan mengalami depresi, hingga di gantikan oleh sosok Al yang mampu menopang Alvan.
Hingga puncaknya saat Alvan meminum pengharum ruangan yang membuatnya lama tak sadarkan diri, dan itu memicu hingga yang datang adalah alter egonya.
Saya sempat bertanya kenapa dia bisa seleluasa itu sekarang, mengendalikan tubuh milik Alvan? Dan kalian tahu apa jawaban yang di lontarkan alter egonya?" mereka terdiam seolah menunggu jawaban kembali atas pertanyaan yang Revan lontarkan.
"Alvan tak sadarkan diri di alam bawah sadarnya, hingga Al harus menggantikan posisinya untuk menjalani hidup Alvan, sampai dia merasakan sendiri perlakuan kalian. Hingga dia bertekad akan menghancurkan akar dari apa yang di alami oleh Alvan sendiri bahkan jika itu harus membunuh kalian, meski nyatanya dia masih sadar jika kalian mungkin penting bagi Alvan dan membuatnya menahan diri" jelasnya dengan jeda "tentu kalian sadar perubahan Alvan yang begitu signifikan bukan? Dan nyatanya itu bukanlah Alvan melainkan Al alter egonya"
Mereka berdua duduk termenung, jadi selama ini perubahan Alvan yang kasar, arogan, bahkan berani memukul balik, karena yang berada di tubuh Alvan itu bukan dirinya tapi alter egonya?
"Dan apa kalian tau?" jeda Revan yang membuat mereka kembali mendongak menatap Revan "dia muak dengan kalian, hingga puncaknya dia ingin menghancurkan kalian tapi nyatanya dia urung hingga merubah rencananya dan malah lebih ingin menghancurkan mansion dimana tempat itu menjadi kenangan paling menyakitkan yang dia terima. Meski ia tahu kenangan manis sempat terjalin disana, tapi rasa sakit yang dia derita lebih mendominasi" jelas Revan kembali hingga dia menghirup nafas dalam "dan yah, pada akhirnya dia berhasil melakukan itu, meski dengan nyawa dia yang menjadi taruhannya" ucap Revan dengan tatapan penuh ke arah Alvan yang masih tertidur.
"Saya rasa penjelasan saya cukup untuk membuat kalian mengerti dengan apa yang kami lakukan tadi" ujarnya dan beranjak berdiri "dan selebihnya tolong jaga dia sebentar, saya ada beberapa urusan yang perlu di selesaikan, jika tidak mampu menjaganya saya akan kembali untuk menjemputnya" ucapnya kembali dengan penekanan di akhir kata, lalu berlalu pergi tanpa memperdulikan tatapan tajam dari mereka berdua ke arahnya.
••••••••
Namun di sebuah ruangan yang cukup luas, terdapat pria baya yang duduk dengan secangkir kopi menatap ke arah luar jendela, melihat luasnya kota dari atas kantor yang kini ia pijaki.
Renhard menyesap cairan cafein itu perlahan, dengan tatapan penuh ke depan, pikiran yang berkecamuk antata khawatir dan takut terus bersimbuh di dalam otaknya.
"Kamu sudah berhasil melakukannya Alvan, jadi tolong kembalilah pada kami" ucapnya sendu "Opa benar-benar merindukan mu, tolong Alvan, beri Opa kesempatan untuk menata ulang kembali semuanya" ucapnya kembali dengan helaan nafas yang begitu berat.
Rasa khawatir yang membuncah, rasa takut yang seolah menghantui, rasa bersalah yang terus berkecamuk membuatnya merasa tak bisa menjalni hidupnya dengan leluasa.
Di saat yang di khawatirkan itu terus menggrogoti, rasa takut yang seolah akan ada sesuatu yang terjadi, dan rasa bersalah yang seolah tak bisa memaafkan dirinya sendiri, jika nyatanya kata kehilangan akan ia terima kembali.
_______________
→→→→
→→→→