.☘︎ ݁˖QUARTET OF FATE .☘︎ ݁˖
.ᐟ.ᐟ Beomgyu Harem .ᐟ.ᐟ
- Omegaverse Story -
Original by Ray
~
~
~
Beberapa hari setelah malam ketika Beomgyu mengucapkan terima kasih dan maaf dengan cara yang membuat keempat Alpha hampir kehilangan akal sehat, dorm terasa sedikit berbeda. Kecemasan memang belum hilang sepenuhnya—mereka masih memperhatikan Beomgyu setiap kali ia tersenyum, setiap kali ia diam terlalu lama, setiap kali ia bangun dari tidur dengan napas sedikit berat. Tapi... tidak ada insiden apa pun. Tidak ada panic attack mendadak, tidak ada tatapan kosong, tidak ada getaran halus di tubuh Beomgyu yang mereka kenal sebagai tanda ia menahan ketakutan.
Hari-hari itu berlalu dengan tenang.
Perlahan, mereka mulai bisa bernapas lebih lapang.
Beomgyu terlihat sedikit lebih cerah.
Ia bercanda lagi.
Ia tertawa—tawa kecil yang membuat Kai ikut tersenyum lega, yang membuat Yeonjun berhenti waspada untuk sejenak, yang membuat Taehyun menatapnya lebih lama dari biasa, memastikan itu bukan sekadar pura-pura. Dan Soobin... ia mulai benar-benar bisa tidur lebih dari tiga jam tanpa terbangun karena mimpi buruk tentang Beomgyu.
Meskipun keempatnya masih menyimpan kekhawatiran dalam-dalam, mereka setidaknya merasakan sedikit kestabilan kembali ke hidup mereka.
Dan pada suatu sore setelah latihan, manager-hyung masuk ke dalam ruang latihan sambil membawa ponsel dan senyum lebar yang jarang terlihat. "Anak-anak," panggilnya, suaranya mengandung sesuatu yang membuat semuanya otomatis menoleh. "Kalian masuk nominasi Best New Group untuk acara penghargaan tahunan tahun ini."
Sebentar, semuanya hening.
Dan lalu...
Beomgyu yang pertama bereaksi. Matanya membesar, bibirnya membuka sedikit, lalu ia menatap keempat mate-nya dengan wajah yang berseri-seri. "Kita? Masuk nominasi?" suaranya naik setengah oktaf, kagum, bahagia, tidak percaya.
Hueningkai langsung memeluk Beomgyu dari belakang, memutar tubuhnya sedikit. "HYUUUNG! KITA MASUK NOMINASI!" Pekikannya pecah seperti anak kecil.
Yeonjun terbahak, suaranya berat tapi penuh lega, seolah ada beban besar yang luruh. "Akhirnya... usaha kita kebayar juga," katanya sambil menepuk bahu Soobin.
Soobin sampai menunduk, menutup wajah dengan telapak tangan karena saking emosinya. "Aku bangga banget sama kita... sumpah," ucapnya parau.
Taehyun mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca meski ia mencoba tetap terlihat cool. "Perjalanan gila ini... akhirnya ada titik terang juga."
Dan Beomgyu—dia berdiri di tengah-tengah mereka, tersenyum lebar dengan mata berkilat terang, binar yang bahkan lebih kuat dari beberapa hari sebelumnya.
Untuk sesaat, keempat Alpha menatapnya bersamaan.
Ada rasa hangat yang menenangkan muncul dalam dada mereka.
Mungkin... mereka benar-benar sedang naik lagi dari titik terendah.
Mungkin Beomgyu benar-benar mulai membaik.
Mungkin semua ketakutan itu hanya ketakutan semata.
Dan untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, mereka merasakan kebahagiaan yang murni tanpa disertai rasa was-was.
Seakan dunia memberi mereka jeda napas—walau hanya sebentar.
.
.
.
Sejak kabar nominasi itu datang, suasana dorm perlahan berubah menjadi lebih hidup. Mereka mulai berlatih lebih keras dari sebelumnya—lebih disiplin, lebih fokus, lebih bersemangat. Bukan hanya karena nominasi, tapi juga karena mereka mendapat kesempatan tampil di opening stageacara penghargaan tahunan itu. Itu kesempatan besar. Kesempatan emas. Dan mereka ingin memanfaatkannya sebaik mungkin.
Namun, di tengah rutinitas latihan yang intens, perhatian mereka tidak pernah terlepas dari satu hal: Beomgyu.
Setiap kali mereka break, mata keempat Alpha itu selalu mencari keberadaan Omega mereka. Memastikan Beomgyu minum, istirahat, makan dengan benar, tidak terlihat pusing, tidak napas pendek, tidak menunjukkan tanda-tanda cemas yang biasanya muncul tiba-tiba. Beomgyu sendiri tahu bahwa fokus latihan mereka terbagi karenanya, dan ia merasa sedikit bersalah... tapi sekaligus hangat. Karena perhatian itu bukan membuatnya sesak—melainkan membuatnya merasa aman.
Satu hal yang membuat mereka sedikit bisa bernapas adalah kenyataan bahwa si sasaeng menghilang begitu saja.
Tidak ada pesan.
Tidak ada panggilan.
Tidak ada ancaman.
Tidak ada jejak.
Bagi agensi, itu adalah kabar baik yang harus tetap diwaspadai.
Bagi manager-hyung, itu seperti pedang bermata dua.
Dan bagi keempat Alpha... itu tetap membuat dada mereka terasa berat.
"Diamnya justru lebih bahaya," gumam Taehyun suatu malam setelah latihan usai.
Yeonjun hanya mengangguk pelan, rahangnya mengeras. "Orang sejenis dia nggak bakal berhenti begitu aja."
Soobin bahkan tidak membiarkan Beomgyu menyentuh handphone lebih dari semenit. Dan Hueningkai selalu berjalan 1 langkah di belakang Beomgyu, memastikan tidak ada orang asing yang terlalu dekat. Tidak peduli seberapa padat jadwal latihan mereka, perhatian ke Beomgyu tidak pernah berkurang.
Agensi pun sama—mereka menolak untuk menurunkan pengamanan, meskipun sasaeng itu sudah sebulan tak menunjukkan batang hidungnya. Menurut mereka, seseorang yang bisa menempelkan foto-foto disturbing, menguntit, mengancam, bahkan sempat melukai fisik Beomgyu jelas bukan tipe yang menyerah begitu saja. Risiko terlalu besar. Terlalu berbahaya.
Maka, bodyguard tetap mengikuti Beomgyu ke mana pun ia pergi.
Latihan, wawancara, makan, pulang... semuanya dalam pengawasan ketat.
Beomgyu tidak protes—lebih tepatnya, dia tidak ingin membuat keadaan semakin rumit. Ia hanya mengikuti, meski sesekali terlihat merasa bersalah.
Walau begitu, hari-hari itu sebenarnya berjalan cukup damai. Tidak ada insiden. Tidak ada serangan tiba-tiba. Tidak ada ancaman baru. Hanya latihan keras, napas teratur, dan tawa kecil yang sesekali muncul dari Beomgyu saat keempat mate-nya menggodanya di tengah break.
Untuk yang pertama kalinya dalam waktu lama, mereka merasa bahwa kebahagiaan sedang mencoba kembali pada mereka perlahan—hati-hati, tapi pasti.
Namun, di balik kedamaian itu, satu pemikiran tetap mengintai:
Ketika sesuatu terlalu tenang...
Biasanya badai besar sedang mengendap di balik horizon.
Dan mereka tahu... cepat atau lambat, badai itu akan datang lagi.
.
.
.
Semakin dekat hari acara penghargaan itu, bukannya semakin bersemangat... Soobin justru semakin diam.
Ada yang berubah dari leader mereka. Caranya menatap Beomgyu ketika Omega itu tertawa, caranya memastikan pintu dorm terkunci dua kali, caranya selalu menoleh setiap kali mendengar suara langkah dari lorong. Itu bukan sekadar kewaspadaan biasa.
Itu... firasat.
Suatu malam setelah latihan, ketika Beomgyu sudah tertidur di sofa ruang tunggu dengan hoodie menutupi separuh wajahnya, Soobin menarik ketiga Alpha lainnya ke sudut ruangan. Suaranya rendah, nyaris bergetar.
"Aku nggak tahu kenapa, tapi... aku punya perasaan buruk tentang hari H nanti."
Hueningkai langsung mengernyit. "Maksud hyung? Soal nominasi?"
"Bukan." Soobin menggeleng cepat. "Bukan soal menang atau kalah. Ini beda. Kayak... sesuatu bakal terjadi. Sesuatu yang buruk."
Taehyun menegakkan tubuhnya. "Hyung, kita udah jaga Beomgyu ketat. Bodyguard juga ada. Dia nggak mungkin—"
"Aku tahu." Soobin memotong, nadanya halus tapi tegas. "Tapi firasat ini... bukan yang bisa aku abaikan."
Awalnya, Yeonjun ingin menertawakan ketakutan itu. Ingin bilang bahwa Soobin cuma terlalu stres. Tapi saat matanya secara refleks melirik Beomgyu yang tidur pulas di sofa—seolah tidak sadar dunia gelap sedang mengincarnya—sesuatu menusuk dadanya.
Sama.
Dia juga merasakannya.
Perasaan tidak enak yang menggantung di udara, seperti awan hitam yang sebentar lagi turun.
Hueningkai yang biasanya optimis pun tiba-tiba diam, jarinya menggenggam lengan hoodie yang ia pakai. "Aku juga... ngerasa sesuatu," lirihnya. "Kayak... terlalu tenang."
Mereka saling pandang.
Tidak ada yang perlu dijelaskan lebih jauh.
Semuanya punya ketakutan sama, tapi hanya Soobin yang berani mengatakannya.
Beberapa detik kemudian, Yeonjun yang paling impulsif langsung mengambil keputusan.
"Kita minta tambahan bodyguard."
Taehyun kaget. "Tapi agensi udah—"
"Aku nggak peduli," potong Yeonjun, suaranya rendah dan penuh tekanan. "Kalau itu bisa bikin Beomgyu tetap aman, aku bakal minta sepuluh kalau perlu."
Tak ada yang membalas.
Tak ada yang menolak.
Karena apa pun bentuk firasat mereka... mereka tahu satu hal:
Jika sampai sesuatu menimpa Beomgyu, mereka tidak akan pernah memaafkan diri sendiri.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, keempat Alpha itu merasakan kecemasan yang sama kuatnya—kecemasan yang membuat dada sesak, membuat napas tersendat, membuat pikiran gelap merayap pelan.
Mereka tidak tahu apa yang menunggu.
Mereka hanya tahu satu hal:
Apa pun yang terjadi saat hari H nanti...
mereka harus menjaga Beomgyu.
Dengan segalanya.
Dengan seluruh nyawa mereka bila perlu.
.
.
.
To be continued...