Ceritaku

By rindusenja_2712

55.1K 2.4K 403

WAJIB Follow dulu ya sebelum membaca thanks !!!! Ini berisri kumpulan cerita dan yang pasti dengan konflik ya... More

Ningsih (part 1)🌻
Ningsih (part 2)🌻
Ningsih (part 3)🌻
Ningsih (part 4)🌻
Ningsih (part 5)🌻
Ningsih (part 6)🌻
Ningsih (part 7)🌻
Ningsih (part 8)🌻
Ningsih (Bab 9)🌻
Ningsih (end)🌻
status " istri" (part 1)🍁
status " istri"(part 2)🍁
status "istri"(part 3)🍁
status "istri"(part 4)🍁
status"istri"(part 5)🍁
status "istri"(part 6)🍁
status "istri"(part 7)🍁
status"istri"(part 8)end🍁
pertama(part 1)🌼
pertama (part 2)🌼
pertama (part 3)🌼
pertama (part 4)🌼
pertama (part 5)🌼
pertama(part 6)🌼
pertama ( end)🌼
permata hati (part 1)🌸
permata hati (part 2)🌸
permata hati (part 3)🌸
permata hati (part 4)🌸
permata hati(part 5)🌸
permata hati (part 6)🌸
permata hati(end)🌸
Bersaing dengan masa lalu(part 1)💜
Bersaing dengan masa lalu(part 2)💜
Bersaing dengan masa lalu(part 3)💜
Bersaing dengan masa lalu(part 4)💜
Bersaing dengan masa lalu (part 5)💜
Bersaing dengan masa lalu(part 6)💜
Bersaing dengan masa lalu(part 7)💜
Bersaing dengan masa lalu(part 8)💜
Bersaing dengan masa lalu(part 9)💜
Bersaing dengan masa lalu(end)💜
istri kedua(part 1)🍰
attension
istri kedua(end)🍰
Arshita 🍊
Arshita 🍊
Arshita 🍊
Arshita🍊
Arshita(end)🍊
extrapart istri kedua
Bapakmu Jodohku🪷
Bapakmu Jodohku🪷
Bapakmu Jodohku🪷
Bapakmu Jodohku🪷
Bapakmu Jodohku🪷
Bapakmu Jodohku🪷
Bapakmu Jodohku(end)♥️
Bukan Mauku🍂
Bukan Mauku🍂
Bukan Mauku🍂
Tentangku 🌺
Tentangku🌺
Tentangku🌺
Tentangku🌺
Tentangku🌺
Tentangku 🌺
Tentangku 🌺
Tentangku🌺
Tentangku 🌺
Tentangku🌺
Tentangku (end)
Katanya Cinta Pertama 🍂
Katanya Cinta Pertama 🍂
Katanya Cinta Pertama(end)🍂
Dia🌿
Bukan Mauku(end)🍂
Aku dan Kenanganmu💔
Aku dan Kenanganmu 💔
Aku dan Kenanganmu💔
Aku dan Kenanganmu 💔
Aku dan Kenanganmu 💔
Aku dan Kenanganmu(end)💔
Dia🌿
Dia🌿
Dia(end)🌿
Rahasia Antara Aku dan Dia🪷
Rahasia Antara Aku dan Dia 🪷
Rahasia Antara Aku dan Dia🪷
Rahasia Antara Aku dan Dia(end)🪷
Demi Bapak🍀
Demi Bapak🍀
Demi Bapak(end)🍀
Aku,Kamu dan Kita 🩷
Aku,Kamu dan Kita 🩷
Aku,Kamu dan Kita🩷
Aku,Kamu dan Kita(end)🩷

Katanya Cinta Pertama🍂

416 30 2
By rindusenja_2712


Flashback

plak

"Dasar anak durhaka,susah payah bapak besarin kamu begini balasan kamu?"teriak bapak tepat dihadapan mukaku.

"Itu kewajiban bapak sebagai orang tua!"aku menatap nyalang lelaki yang setiap hari kesebut dengan bapak.

"Kewajiban kamu juga nurut sama orang tua!nikah sama juragan Rusli atau pergi dari rumah ini.!teriakan itu menggelegar dipenjuru rumah ini.

"Kenapa harus aku!kenapa tidak mbak Rasti yang bapak nikahkan dengan juragan!"aku berucap dengan suara yang tak kalah keras.

"Rasti wanita terhormat,dia bekerja dikantor kecamatan jadi suaminya pun harus pegawai negeri.Sedangkan kamu cuma karyawan toko biasa yang gaji pun tak seberapa."ucap bapak lagi padaku.

"Jadi aku bukan wanita terhormat seperti mbak Rasti gitu maksud bapak?oke aku keluar dari rumah ini sekarang juga."

"Keluar!jangan harap bapak akan mencarimu dan jangan pernah kembali lagi kerumah ini.Haram hukumnya kamu menginjakkan kaki dirumah ini."

"Baik!"

Aku kembali kekamarku dan mengambil semua baju dan berkas-berkas penting yang aku punya.Buat apa aku bertahan dirumah ini lagi jika keberadaanku saja tidak pernah dianggap ada oleh bapak dan mbak Rasti.
Sejak ibu meninggal 5 tahun lalu,duniaku juga ikut hancur saat itu.Aku selalu tidak dianggap ada dirumah inu,aku diperlakukan seperti pembantu dirumah ini.Berbeda dengan mbak Rasti yang selalu bapak banggakan,dia cantik, pintar dan bisa bekerja sebagai pegawai kecamatan.Sedang aku cuma gadis biasa lulusan SMA yang hanya bekerja disebuah toko sembako dipasar deket rumahku.

Sejak SMA aku sudah banting tulang sendiri demi biaya sekolahku,demi bisa beli buku dan juga peralatan sekolahku.Bapak sama sekali tidak peduli padaku dan apa lagi pendidikanku.Bapak hanya peduli dengan mbak Rasri,semua baju yang aku pakai dulu adalah baju mbak Rasti yang sudah kekecilan dan kadang juga sudah sobek.Aku anak kandung tapi diperlukan seperti bukan anak kandung bapak.

"Lho mau kemana kamu?"teriak mbak Rasti saat aku keluar kamar dengan sebuah tas besar ditanganku.

"Pergi."jawabku tampa menatap wajahnya.

"Kalau kamu pergi siapa yang nuci bajuku?
siapa yang membersihkan rumah?"ucap mbak Rasti padaku.

"Bukan urusanku,permisi."

"Heh!Kinan!berhenti!

Aku tetap melangkah pergi tampa menoleh sedikitpun,sudah cukup selama ini aku hidup dengan keluarga yang toxic.Dirumah ini pun aku tidak pernah dihargai,bapak dan mbak Rasti hanya butuh tenagaku untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah.Bagi mereka aku seperti pembantu yang bisa diperlakukan sesuka hati mereka.

"Kinan tunggu!"teriakan bapak membuat langkah kakiku berhenti."Selangkah kamu berani keluar dari rumah ini,jangan harap kamu bisa kembali."ucap bapak padaku.

"Kinan tidak akan pernah kembali lagi kesini,ini bukan rumah tapi neraka dalam bentuk rumah."jawabku sambil menatap bapak.

"Kurang ajar,kamu berani berkata seperti itu padahal selama ini kamu tinggal dirumah ini."ucap bapak padaku.

"Tapi aku cuma dianggap pembantu dirumah ini,aku juga anak bapak sama seperti mbak Rasti tapi kenapa aku diperlakukan berbeda."jawabku pada bapak.

"Karena kamu bodoh tidak seperti Rasti yang pintar dan bisa jadi anak kebanggaan bapak."ucap bapak lantang.

Aku tertawa mendengar apa yang bapak ucapkan sebelum berkata"anak bodoh ini yang setiap hari membersihkan rumah, anak bodoh ini yang setiap hari menyediakan makanan dimeja yang kalian makan dan anak bodoh ini yang mengurus semua pekerjaan rumah."ucapku pelan.

"Karena kamu bodoh jadi kamu pantas melakukan semua itu."kali ini mbak Rasti yang angkat bicara.

"Baiklah bapak dan kakakku yang paling pintar,setelah ini kalian tidak akan pernah melihat anak bodoh ini lagi.Permisi."

Dengan langkah mantap aku pergi meninggakan rumah yang bukan rumah untukku.Pergi meninggalkan semua cerita dan kenangan tentang ibu,walau tampa arah dan tujuan tapi aku yakin Allah akan selalu menuntun dan menjagaku aamiin.

Flashback off

🍂🍂🍂🍂🍂

Tujuh tahun bukan waktu yang mudah hidup sendiri,tampa ada sanak dan keluarga.Semuanya harus bisa dilakukan sendiri,bisa karena terbiasa itulah yang harus bisa aku lakukan.Lima tahun yang tak mudah,jatuh bangun aku melalui semua ini sendirian.Awalnya aku masih bekerja ditoko sembako tempat aku bekerja sejak aku lulus SMA,sampai pada akhirnya aku beranikan diri untuk merantau dikota.
Tempat yang asing bagiku,cuma modal niat dan nekad yang aku lakukan saat itu.Aku sempet terlunta-lunta dan nganggur sampai hampir 1 bulan,bermodalkan uang tabungan yang aku punya aku tinggal disebuah kostan kecil yang sumpek.Aku berjalan setiap hari mencari pekerjaan dari toko satu ketoko lainnya,dari warung makan,warteg,semuanya aku datangin satu persatu dengan harapan bisa mendapatkan pekerjaan,tapi hasilnya nihil.

Sampai akhirnya aku melamar disebuah tempat laundry dan alhamdulilah diterima bahkan aku bisa tinggal sekalian diruko ini.
Dari sinilah semuanya mulai berperlahan,
aku bisa menyisihkan sedikit gajiku untuk aku melanjutkan kuliah.Aku ambil kelas karyawan yang kuliah pada malam hari dan alhamdulilah bisa lulus tepat waktu.Bukan hal mudah bisa sampai dititik ini,ada banyak air mata yang hanya bisa aku tumpahkan dalam setiap sujudku.Aku harus bisa membagi waktu antara kerja,
kuliah dan juga tugas kuliah yang tidak sedikit dan cukup menyita waktuku.Waktu istirahatku otomatis berkurang banyak,tak jarang juga sampai tengah malam aku baru tidur karena mengerjakan tugas kuliah.

Aku sangat berterima kasih pada ibu Ratna selaku pemilik laundry tempatku kerja dulu,jika bukan karena kemurahan hati beliau mungkin aku tidak bisa sampai dititik ini sekarang.Beliau orang yang selalu mendukungku,selalu membesarkan hatiku jika aku hampir menyerah dan putus asa.

Flashback on

"Kinan,kamu nggak ada niatan untuk lanjut kuliah nduk?"ucap bu Ratna,pemilik laundry tempatku bekerja saat ini.

"Saya minder bu,kata bapak dan mbak Rasti itu saya bodoh,nggak pantas buat kuliah."
jawabku pelan sambil melanjutkan kegiatanku packing laundry.

"Astaghfirullah,tega sekali mereka bilang begitu sama kamu.Ibu liat kamu pintar,kamu bisa handle kerjaan laundry sekaligus admin sekaligus,ibu cuma ajari sekali kamu sudah langsung bisa jalan."ucap bu Ratna.

"Sudah biasa bu dibilang bodoh dan tidak berguna,padahal saya sejak SMP sampai SMA bisa sekolah juga karena beasiswa.Tapi bapak tidak pernah bangga pada saya,setiap hari hanya mbak Rasti yang dibanggakan."
aku masih ingat jelas saat aku lulus SMA dan dapat tertinggi saat itu,bapak sama sekali tak mengucapkan selamat,bapak bahkan menyuruhku untuk berhenti sekolah dengan alasan terkendala biaya.Padahal bapak punya sawah yang dikelola beberapa orang,punya usaha ternak ayam yang lumayan maju.Aku mengganggap kalau kita berkecukupan dan tidak kekurangan apa pun,karena nyatanya bapak bisa membiayai kuliah mbak Rasti dikota saat itu.

"Ya allah nduk, ternyata tidak mudah ya jadi kamu harus berjuang sendirian,padahal masih ada bapak dan juga kakakmu.Kamu lanjut kuliah ya nduk,nanti ibu bantu buat biaya pendaftarannya gimana?"tanya bu Ratna padaku.

"Apa nggak merepotkan ibu?selama ini ibu sudah terlalu baik sama saya."kataku tak enak,selama ini bu Ratna yang selalu membantuku dalam segala hal.

"Cuma itu yang bisa ibu bantu nduk,lagian hidup kita didunia ini buat apa kalau kita tidak bisa berguna buat sesama.Mau ya?"
bujuk bu Ratna padaku.

"Iya bu mau,di kampus yang deket swalayan aja ya biar deket dan disana juga ada kelas karyawan."kataku pada Bu Ratna.

"Lho kok tahu kalau disana ada kelas karyawan,kamu sudah cari tahu?"

"Sebenernya saya sudah mulai menabung tapi belum terkumpul bu,sudah ada niat juga untuk lanjut kuliah tapi belum tahu kapan."
saat aku disuruh bu Ratna berbelanja ke supermarket,aku nggak sengaja menemukan selebaran tentang pendaftaran mahasiswa baru tentang pembukaan kelas karyawan.

"Kenapa nggak bilang ibu, kalau bilang kan tahun ajaran baru kemarin kamu sudah bisa mulai kuliah nduk."

"Saya cuma nggak mau merepotkan ibu tapi pada akhirnya saya juga merepotkan ibu lagi dan lagi."jawabku pelan.

Bu Ratna berjalan mendekat dan memelukku erat, beliau berkata "kamu sudah ibu anggap seperti anak sendiri nduk,kita sama-sama sendiri disini."bu Ratna seorang janda,tidak punya anak atau keluarga lagi.Usaha laundry ini adalah usaha yang beliau bangun berdua bersama suaminya dulu.Sejak suaminya meninggal beliau melanjutkan usahanya sendiri dibantu dengan beberapa karyawan yang silih berganti tidak betah dan sampai akhirnya bertemu denganku.

"Terima kasih bu,saya seperti punya ibu setelah ketemu bu Ratna."aku mengusap air mataku pelan,tidak ada banyak kenangan antara aku dan almarhum ibuku dulu.Aku hanya punya satu foto bersama ibu saat aku ulang tahun ke 15 dulu.Tidak banyak fotoku dirumah dulu,yang selalu ada foto disetiap moment adalah mbak Rasti,bapak yang selalu mengabadikan bahkan tak jarang bapak cetak dan diberi pigura dipasang diruang tamu atau ruang keluarga.

"Ibu juga beruntung ketemu kamu,ibu merasa seperti punya anak dan punya keluarga lagi."

Sejak saat itu berhubungan kita makin dekat,
tidak seperti atasan dan bawahan tapi sudah seperti ibu dan anak.Aku selalu dapat izin jika harus mengerjakan tugas kelompok atau ada acara dikampus.Bahkan saat aku wisuda pun beliau yang mendampingiku dan ikut naik ke podium saat aku menjadi lulusan terbaik saat itu.Bu Ratna juga tidak mengekangku,beliau bahkan mendukungku untuk bekerja ditempat lain yang jauh lebih baik dari tempat laundry miliknya.

"Setelah ini coba daftar BUMN aja nduk,
ada lowongan kok tahun ini atau mau daftar ditempat lain juga boleh."ucap bu Ratna saat kita baru saja selesai makan malam,memang aku tinggal bersama bu Ratna di ruko ini.

"Tapi nanti ibu gimana?kalau Kinan harus kerja ditempat lain."

"Kan bisa cari orang buat bantuin ibu di laundry,jangan merasa terbebani karena ibu.
Kamu berhak dapat pekerjaan yang lebih baik dari ini tapi satu hal yang ibu minta jangan tinggalkan ibu sendirian ya nduk,ibu cuma punya kamu dan ibu sudah anggap kamu adalah anak kandung ibu sendiri."

"Terima kasih bu dan Kinan janji akan selalu disini menemani ibu,sampai nanti dan sampai kapan pun."aku memeluk tubuh bu Ratna pelan,beliau orang lain tapi bahkan bisa seperti orang kandungku sendiri dan bapak sebagai bapak kandungku bahkan seperti orang lain bagiku.

Flashback off

🍂🍂🍂🍂🍂

Sejak saat itu disela kegiatanku di laundry aku mulai melamar di BUMN tapi tidak lolos dan sampai akhirnya aku diterima disebuah perusahaan konstruksi dikota ini sebagai asisten pribadi CEO.Bukan hal mudah sampai dititik ini,aku harus bersaing dengan puluhan orang kandidat,
menjalani berbagai macam seleksi yang tak mudah bagiku.Hari ini genap satu tahun aku bekerja disini dan artinya sudah genap 5 tahun aku pergi meninggalkan kampung halamanku dan juga tidak pernah mengunjungi makam ibu.Bukan tak ada niatan untuk berziarah kemakam ibu,tapi aku takut bertemu dengan bapak dan mbak Rasti,takut kalau aku akan dicaci maki seperti dahulu.Semua cacian bapak dan mbak Rasti masih teringat jelas dalam otakku,rasa sakit hati dan kecewa pun masih bisa aku rasakan sampai sekarang walau itu sudah 5 tahun terlalu.

Flashback on

Acara kelulusan SMA baru saja selesai semua orang didampingi orang tuanya kecuali aku.Aku duduk sendiri dibangku paling depan,tampa ada bapak atau mbak Rasti yang menemani.Satu persatu bangku sudah mulai terisi penuh oleh wali murid yang hadir,ada setitik harapan kalau bapak akan datang hari ini tapi nyatanya sampai acara selesai bapak tidak hadir.Aku pulang dengan perasaan senang bercampur sedih.
Senang karena aku mendapatkan peringatan pertama dengam nilai tertinggi,sedih karena dihati sepenting ini tidak ada bapak atau mbak Rasti yang datang menemani.Andai ibu masih ada pasti beliau akan datang melihat putri kecilnya ini lulus dengan nilai terbaik,
tapi sudahlah bukankah itu sudah hal biasa.
Sejak kecil aku selalu dinomer duakan dalam segala hal,kalau kata mbah Uti dulu karena bapak kecewa pada ibu.Saat hamil aku dulu bapak sudah berharap kalau yang lahir adalah anak laki-laki,tapi ternyata yang lahir adalah anak perempuan,yaitu aku.

Sejak saat itu hubungan bapak dan ibu jadi semakin renggang,tak jarang juga bapak berbuat kasar pada ibu.Bapak lebih menyayangi mbak Rasti dari pada aku dan ibu.Kalau kata mbah Uti itu karena mbak Rasti adalah anak yang paling ditunggu-tunggu,karena ibu hamil setelah 5 tahun menikah,mungkin karena itu lahirnya mbak Rasti adalah kebahagiaan tersendiri buat bapak dan juga mbah Uti.Hari demi hari pun ibu semakin kurus, tubuhnya yang dulu segar akhirnya perlahan hilang,sampai pada akhirnya saat aku berusia 8 tahun ibu pergi meninggalkan aku sendiri.Duniaku hancur sejak saat itu,apa lagi mbah Uti juga menyusul pergi tak lama setelah ibu pergi.
Dua orang yang selalu jadi garda terdepan buatku sudah pergi meninggalkan aku sendiri dan jadilah aku harus berdiri tegak dikakiku sendiri,dengan semua cacian dan makian yang bapak dan mbak Rasti ucapkan padaku hampir setiap hari.

Aku berjalan cepat berharap bapak akan mengucapkan selamat dan memelukku sama seperti saat mbak Rasti dulu lulus.Tapi nyatanya hanya tatapan nyalang yang aku dapatkan kala itu.

"Aku rengking satu pak dan nilai ujianku paling tinggi disekolah."ucapku saat aku masuk kerumah dan ada bapak disana

diam

Hanya itu tanggapan bapak,bahkan bapak tetep fokus pada hp yang ada ditangannya.
"Pak,Kinan lulus dan dapat nilai tertinggi,
Kinan mau kuliah sama seperti mbak Rasti dulu."ucapku pelan pada bapak.

"Hah!apa kamu bilang kuliah! memang kamu pikir kuliah itu murah,uang dari mana!"teriak bapak padaku.

"Tapi mbak Rasti kuliah."aku juga ingin seperti mbaku bisa kuliah ditempat yang bagus,semua fasilitas dipenuhi oleh bapak tapi harapan cuma harapan, selamanya hanya ada dianggan.

"Rasti beda dengan kamu!lebih baik kamu kerja atau nikah saja dari pada ngabisin uang bapak.!"

deg

Aku hanya terdiam mendengar ucapan bapak,segitu tidak berharganya diriku dimatanya.Aku mengelap air mataku yang sudah turun sejak tadi,melangkah kaki pergi kekamarku,disana aku menumpahkan semua tangisku.Sejak saat itulah aku mulai bekerja ditoko sembako milik temanku,aku bekerja mulai jam 7 pagi hingga jam 5 sore.
Gaji dari aku bekerja aku sisihkan untuk menabung,selain aku gunakan untuk mencukupi kebutuhanku sendiri.Bagi bapak begitu aku bekerja maka semua kebutuhanku adalah bukan tanggung jawabnya,salah lebih tepatnya sejak aku SMA aku terbiasa mencukupi kebutuhanku sendiri.Mulai dari berjualan gorengan,es mambo bahkan mencuci piring disebuah warung makan di deket sekolahku dulu.
Dirumah aku terbiasa makan makanan sisa atau hampir basi,jika aku ketahuan makan masakan yang aku masak siap-siap saja tongkat kayu milik bapak melayang ketubuhku,entah kena punggungku,tangan atua bahkan kaki.

Alhamdulillah pemilik toko baik padaku,
setiap siang aku dapat jatah makan walau dengan lauk tempe atau tahu,tapi aku sudah bersyukur bisa makan dengan tenang tampa mendengarkan cacian dari bapakku.Saat bekerjalah aku bisa tersenyum,bisa sedikit melepasmu semua beban yang aku pikul sendiri tampa ada siapapun yang tahu.

🍂🍂🍂🍂🍂

"Kinan besok ikut nggak kita mau metime kesalon?"kata Rahma salah satu rekan kerjaku dari divisi marketing.

"Maaf aku nggak bisa gabung,biasa harus bantuin ibu di laundry."jawabku sambil terkekeh pelan.

"Kenapa ibumu masih harus kerja padahal gaji kamu sebagai asisten pribadi,lebih besar dari pada gaji kita disini?"tanya Rahma padaku.

"Biasalah orang tua kan pengin punya kesibukan dirumah,ibu juga nggak mau diem orangnya."itulah jawaban andalan yang selalu aku katakan pada setiap orang yang tanya kenapa usaha ibuku.Aku tidak mungkin jujur pada Rahma,walau kita lumayan dekat tapi aku tidak biasa menceritakan apapun pada siapa pun entah pada ibu Ratih sekali pun.

"Iya juga,ibuku juga masih ke ladang walau sudah aku larang,ya udahlah kapan-kapan kita pergi bareng."

"Siiap, yuuk kita lanjut kerja."aku pun kembali keruanganku,saat seperti inilah aku bisa ketemu Rahma dan ngobrol.Kita beda ruangan bahkan beda lantai,sebagai asisten CEO dikantor ini sudah pasti aku menempati ruangan khusus yang ada dilantai paling atas gedung ini.

Saat aku kembali keruanganku disana sudah ada pak Damar,beliau adalah tangan kanan pak Arif selaku CEO dikantor ini.
Tumben dia diruanganku bantinku berucap
"siang pak,ada yang bisa saya bantu?"aku membungkukan sedikit badanku saat aku lewat di depannya.

"Ohh ya Kinan,bisa saya minta file kerja sama dengan PT.Adicipta,saya mau mewakili pak Arif untuk meeting siang ini."
katanya sambil menatapku.

"Baik, sebentar saya siapkan."dengan cekatan aku menyiapkan dokumen yang pak Damar minta,walau jabatan kita sama-sama asisten CEO tapi menurutku pak Damar lebih dari itu,dia tangan kanan pak Arif dalam hal apapun."Silahkan pak."aku menyerahkan semua berkas yang beliau minta untuk meeting hari ini.

"Terima kasih Kinan,nanti tidak usah nunggu saya sampai kantor.Kamu boleh pulang duluan dan hasil rapatnya akan saya email secepatnya."

"Baik pak."pak Damar hanya mengangguk sebagai jawaban,setelah beliau pergi aku langsung menuju ruangan pak Arif ada beberapa berkas yang harus beliau tanda tangani.

tok tok tok

"Masuk!oh Kinan berkas yang diminta Damar sudah kan?"ucap pak Arif begitu aku masuk dan melewati pintu.

"Sudah pak,ini ada beberapa berkas yang harus bapak tanda tangani."aku menyerahkan dua map berbeda.

"Kamu tinggal aja setelah saya cek nanti saya panggil kamu."

"Baik pak,kalau begitu saya permisi."

"Iya silahkan."

Aku meninggalkan ruangan pak Arif dan melanjutkan pekerjaanku yang tertunda.
Besok weekend jadi aku bisa sedikit bernafas lega,walau pun kadang masih ada beberapa pekerjaan yang dikirim pak Damar lewat email dan harus aku selesaikan hari itu juga.Setelah semuanya selesai aku bergegas pulang,waktu sudah menunjukkan jam 5 sore dan aku sudah lewat 1 jam dari jam kerjaku seharusnya.
Tapi ini termasuk cepat,aku lebih sering pulang diatas jam 7 malam,apa lagi jika sedang banyak pekerjaan, bahkan aku bisa pulang jam 9 atau jam 10 malam.

Perjalanan dari kantor ke rumah aku biasa naik angkot jika masih sore,jika sudah terlalu malam biasanya aku akan naik ojek online atau taxi online.Sampai rumah laundry sudah tutup,biasanya akan tutup jam 5 sore,ini bukan laundry besar hanya usaha skala rumahan milik ibu.Apa lagi sekarang sudah menjamur laundry dengan sistem self service yang lebih diminati.Tapi aku teteap bersyukur seenggaknya masih ada pelanggan setia yang memakai jasa kami,walau beberapa bulan ini mulai berkurang drastis dan terpaksa ibu pun harus memberhentikan salah satu orang yang biasa membantunya setiap hari.

"Assalamualaikum."ucapku saat masuk kerumah,sepi itulah yang aku rasakan.Aku melihat beberapa peralatan yang biasanya digunakan ibu sudah dipindahkan bahkan ada yang dipacking rapi.Aku berjalan naik kelantai 2 yang biasa dijadikan tempat tinggal,ada ibu yang sedang duduk lesehan didepan TV.

"Lho sudah pulang nduk,maaf ibu nggak denger."ucap ibu saat melihatku masuk.

"Barusan aja kok,ibu kenapa?"aku melihat sorot mata ibu yang berbeda,wajahnya juga terlihat lebih sayu dari sebelumnya."Ibu sakit?"tanyaku lagi.

"Kamu bersih-bersih dulu ya nduk,nanti setelah magrib kita ngobrol."ucap ibu.

"Ohh iya,kalau begitu Kinan kekamar dulu."
aku melangkahkan kaki meninggalkan ibu,
butuh sekitar 20 menit untuk mandi, bersih-bersih dan sholat.

"Sini duduk disamping ibu "ucap ibu saat aku baru saja keluar kamar,aku langsung duduk disebelah ibu."Kinan,ada sesuatu yang mau bicarakan sama kamu."nach kalau sudah panggil nama biasanya serius,
soalnya ibu selalu memanggilku genduk atau nduk.

"Iya bu,gimana?"aku menggeser tubuhku agar bisa menghadap ibu sepenuhnya.

"Kamu tahu kan laundry kita akhir-akhir ini sepi,bahkan mbak Santi terpaksa harus ibu berhentikan karena oprasional kita yang nggak nutup.Sebulan lalu ibu ditelfon oleh adik ibu dikampung,ibu cerita banyak hal dan sampai pada akhirnya ibu memutuskan untuk menutup usaha laundry yang sudah menghidupi ibu selama ini.Bukan hal mudah bagi ibu buat menutup usaha ini,usaha yang ibu rintis dari nol sama mendiang suami ibu,tapi ibu juga nggak bisa bertahan dengan situasi sekarang yang berbeda dengan dulu.Ibu sadar semuanya yang ibu punya sudah kalah jauh,dari segi kapasitas mesin cuci dan lain sebagainya.Ibu akan menutup usaha ini permanen dan menjual semua aset yang ibu punya disini,ibu punya rumah dikampung dan insya allah ibu akan buka usaha warung sembako disana."ucapan ibu seperti badai yang menerjang tubuhku seketika itu juga,tampa persiapan apa pun dan tampa omongan apa pun sebelumnya.

"Ibu berat buat ninggalin kamu sendirian disini tapi ibu juga nggak punya pilihan lain.Ibu sudah semakin tua,ibu juga ingin lebih dekat dengan keluarga ibu dikampung.Kamu juga tak mungkin selamanya disini menemani ibu,pasti akan ada waktunya kamu buat hidup sendiri dengan keluarga kecil kamu nantinya.Kamu baik-baik ya disini,jaga kesehatan dan jangan suka begadang buat pekerjaan yang masih bisa ditunda,dijaga sholatnya ya nduk."ibu langsung memelukku erat,aku membalas pelukannya dan dalam pelukan ibu juga kami berdua menangis.

Aku melepas pelukan ibu dan mengusap air mata beliau yang masih saja turun.Aku mengambil nafas dalam sebelum berucap
"Kinan nggak tahu harus bilang apa yang jelas Kinan mengucapkan ribuan terima kasih karena ibu sudah menjaga Kinan selama ini.Ibu juga sudah mengizinkan Kinan untuk tinggal disini padahal kita bukan siapa-siapa,Kinan cuma bisa berdoa agar ibu selalu sehat,biar bisa liat Kinan sukses suatu saat nanti dan biar bisa liat Kinan wisuda magister nantinya."air mataku mengalir deras,nafasku terasa lebih berat dari sebelumnya.Aku memeluk ibu lagi, beliau bukan siapa-siapa tapi selama 7 tahun ini beliaulah yang melimpahkan kasih sayang untukku.

"Pasti sayang,ibu akan datang saat nanti kamu wisuda magister, sering-sering telfon ibu ya nduk,kalau ada waktu jangan lupa main kerumah ibu.Kamu bisa tinggal disini dulu sampai ruko ini ada yang beli,ibu sudah pasang iklan dan menawarkan pada para tetangga mungkin ada yang berminat."
kata ibu padaku.

"Kinan akan selalu telfon ibu,nanti kalau ada cuti panjang Kinan janji akan mengunjungi ibu dikampung.Lebih baik Kinan kost aja dideket kantor bu,selain lebih deket dan Kinan juga bisa lebih hemat di ongkos.Ibu nggak keberatan kan?"kataku pelan pada ibu.

"Enggak apa-apa,besok libur kan?kita bisa cari kostan deket kantor kamu nanti ibu temani.Ibu ingin memastikan bahwa sebelum ibu pulang kampung,kamu sudah dapat tempat yang aman."ucap ibu padaku.

"Iya bu,terima kasih buat semuanya Kinan sayang ibu."

"Ibu juga sayang kamu,nduk."

Kami berpelukan lagi dan sama-sama menangis lagi,tapi aku sadar saat ini pasti akan datang entah cepat atau lambat.Aku harus mulai terbiasa lagi hidup sendiri,ada Allah yang akan selalu menjagaku,pasti.

🍂🍂🍂🍂🍂

Beberapa bulan berlalu setelah ibu pulang kampung dan aku tinggal sendiri dikostan deket rumah.Ritme hidupku masih sama,
pagi sampai sore kerja dan malamnya kuliah.Apakah capek? jawabnya sudah pasti capek tapi aku menikmatinya,itu adalah caraku lepas dari semuanya,lepas dari semua pikiran yang menumpuk diotakku.
Pagi ini kebetulan weekend aku sengaja bangun pagi dan ingin CFD dideket kost,
sendirian sudah pasti sama seperti sebelumnya.Apakah tidak punya teman,aku punya teman tapi aku lebih menikmati kesendirian ini,gimana ya pokonya lebih enak sendirian,ada yang sama nggak?

Lari 3 putaran cukup membuat nafasku ngos ngosan,aku duduk meluruskan kakiku sambil mengatur nafasku pelan.Sampai ada seseorang yang mengagetkanku " Kinan!ya ini Kinan kan anak SMA 1 dulu?"wanita didepanku dengan antusias menyapaku.
Aku menatapnya sebentar, mengumpulkan kepingan-kepingan masa lalu dan langsung memeluknya erat.

"Ya Allah Indah."kami saling memeluk erat layaknya dua orang yang sudah lama tidak berjumpa atau sekedar berkirim pesan.

"Ternyata kamu disini,aku cari kamu kerumah tapi kata bapak dan mbak Rasti kalau kamu pergi dari rumah."kata Indah padaku,aku menghembuskan nafas pelan sebelumnya akhirnya berkata.

"Ya aku pergi dari rumah karena nggak mau di nikahan sama juragan Rusli.Kamu sehat kan?sekarang jadi cantik?"ucapku pada Indah.

"Ya Allah kenapa nggak pernah cerita tapi juragan Rusli sudah meninggal karena sakit,sudah lama juga.Aku sehat, kamu sendiri?"

"Alhamdulillah sehat,boleh minta nomer telfon nggak?"aku menyerahkan hpku pada Indah.

"Sudah itu disave ya,ohh ya kamu sudah tahu kalau mbak Rasti sudah nikah?"

"Belum,aku sama sekali lost kontak sama bapak dan mbak Rasti, lagian sejak dulu aku juga nggak punya hp."kataku pada Indah.

"Nikah belum lama tapi suaminya selingkuh terus mereka pisah dan mbak Rasti waktu itu lagi hamil.Bapak kamu juga sakit-sakitan terakhir ketemu sudah keliatan kurus banget."ucap Indah lagi.

Aku menghela nafas pelan,sungguh aku kaget mendengar kabar yang Indah bawa tapi aku bingung menjabarkannya perasaanku, entah sedih atau senang aku juga bingung."Aku pengin pulang tapi aku takut?"kataku akhirnya pada Indah.

"Mau pulang sama aku nanti aku temani sampai rumah."katanya lagi.

"Aku nggak bisa dalam waktu dekat ini kerjaanku sedang banyak."kilahku pada Indah,tapi alasan utamaku bukan itu tapi hanya belum siap ketemu sama bapak dan mbak Rasti.

"Ohh ya udah,aku akan diam dan nggak bakalan cerita sama siapa pun kalau kita pernah ketemu disini."

"Iya terima kasih,kamu disini acara apa?"
tanyaku akhirnya pada Indah.

"Ikut suami dinas."katanya sambil tertawa.

"Ya Allah sudah nikah aja,selamat ya ndah semoga langgeng sampai kakek nenek."

"Aamiin."

Obrolan kami pun berpindah ketempat lain yaitu kafe deket sini,banyak hal yang kami bagi pagi itu.Banyak cerita yang aku dapat dari Indah tentang bapak dan mbak Rasti.
Aku senang mendengar mereka sehat tapi disisi lain aku juga merasa sakit hati dan belum siap jika harus bertemu dengannya dalam waktu dekat ini.


Setelah ketemu Indah beberapa waktu yang lalu,pikiranku selalu berkelana pada bapak dan mbak Rasti,aku putuskan untuk pulang saat weekend.Semoga kepulanganku membawa hubunganku dengan keluarga menjadi lebih baik dari sebelumnya aamin.
Perjalanan dari kota kerumah tidak begitu lama hanya sekitar 5 jam menggunakan kereta,aku sengaja pilih keberangkatan pagi biar sampai sana siang.Dari stasiun kerumah aku naik ojek online,butuh waktu sekitar 30 menit.Aku menatap bangunan rumah yang ada didepanku,masih sama seperti dulu hanya catnya aja yang beda.
Halaman rumah kelihatan lebih gersang dari sebelumnya,pohon-pohon kering dan rumput kering menghiasi halamannya.

deg

Aku melihat bapak yang berjalan keluar rumah,tubuhnya kelihatan lebih kurus dari sebelumnya tapi tampak sehat.Aku menyeka air mataku yang turun tiba-tiba,
aku ingin berlari dan memeluk tubuhnya erat tapi aku juga jika akan ditolak.

"Bapak!"ucapku lirih dan ternyata bapak mendengarnya,beliau menatapku dengan tatapan sulit diartikan,entah terkejut atau apa aku sulit menjabarkannya.

"Lho berani pulang kamu!bapak sudah haramkan kamu menginjak kaki dirumah ini setelah apa yang kamu lakukan pada keluarga ini!"ucap bapak padaku.

deg

Ternyata ucapan bapak 7 tahun yang lalu masih sama,aku hanya diam ditempatku menatap sosok yang aku sebut bapak.Aku menghapus jejak air mataku sebelum berkata"Kinan tidak melakukan apa pun yang merugikan bapak."kataku.

"Tidak melakukan apa pun kamu bilang, setelah kamu pergi dari rumah dan menolak menikah dengan juragan Rusli!.
Kamu tahu bapak sudah terlanjur menerima lamarannya dan menerima mahar dari juragan dan bapak terpaksa harus menjual sawah untuk mengembalikan uang itu!"teriak bapak dihadapanku,beliau sama sekali tidak peduli kami menjadi tontonan warga yang kebetulan lewat didepan rumah.

"Kinan sudah menolak sejak awal,lalu kenapa bapak menerima mahar dari juragan."tanyaku pada bapak.

"Karena kamu bodoh dan kebodohan kamu menghancurkan bapak."umpat bapak lagi.

"Kenapa harus jual sawah kalau memang uangnya ada tinggal dikembalikan."kalau memang uang masih utuh,tinggal dikembalikan karena aku menolak pernikahan itu.

"Tidak semudah itu,uang itu sudah bapak dan Rasti pakai,nggak mungkin bapak bisa mengembalikan uang sebanyak itu."

Benar kan dugaanku kalau uang itu sudah bapak pakai."Itu salah bapak dan mbak Rasti kenapa jadi aku yang disalahkan."aku nggak mau terus-menerus disalahkan atas apa yang tidak aku lakukan,cukup sudah selama belasan tahun aku diperlakukan tidak baik oleh bapakku sendiri.

"Karena kamu menolah pernikahan ini!apa tujuan kamu pulang kesini?mau melihat keadaan bapak yang begini atau mau pamer karena sudah berhasil dikota.Mau pamer kalau sudah bisa beli pakaian bagus dan barang-barang bagus seperti yang kamu pakai sekarang.Kamu cuma lulusan SMA mana ada orang yang mau nerima kamu kerja!"kata bapak dengan amarah.

Ya Allah segitu hinanya aku dimata bapakku sendiri,hingga aku selalu dipandang sebelah mata olehnya.Aku menarik nafas pelan sebelum berkata "aku kerja insya Allah halal."kataku pada bapak.

"Kerja halal jadi ani-ani maksudnya?"

"Mbak!"teriakku pada mbak Rasti yang baru saja pulang kerumah.

"Apa!berani kamu teriak sama kakakmu ini!
berani! mentang-mentang sudah jadi orang lalu bisa seenaknya sendiri."ucap mbak Rasti tak kalah keras dari ucapan bapak.

"Aku nggak terima dituduh aneh-aneh,aku kerja halal."jawabku pada mbak Rasti.

"Mana ada yang mau memperkerjakan lulusan SMA dikota,sedang aku aja yang sarjana cuma jadi pegawai rendahan di kecamatan apa lagi kamu!.

"mbak banyak pekerjaan halal dikota asal kita mau usaha."

"Tapi sayangnya bukan kamu salah satunya,
sok berjibab tapi kelakuannya busuk.!

"Astaghfirullah mbak! kalian nggak tahu apa-apa tentang aku jadi jangan seenaknya ngomong seperti itu.Aku kesini nggak mau ribut,aku cuma mau liat keadaan bapak dan mbak,tapi ternyata ini yang aku dapatkan."
kataku pada mbak Rasti dan bapak.

"Bapak nggak punya anak seperti kamu dan jangan harap kamu bisa menginjakkan kaki dirumah ini lagi.Pergi dari sini!bapak nggak punya anak durhaka seperti kamu,anak bapak cuma Rasti!ingat cuma Rasti.!"ucap bapak dengan nada berapi-api.

"Baiklah permisi,ini terakhir kalinya saya menginjakan kaki dirumah ini."

Aku berbalik pergi, ternyata selama ini aku salah,dalam pikiranmu bapak dan mbak Rasti sudah berubah ternyata semakin menjadi-jadi.Aku melangkah pelan menuju tempat pemakaman umum yang tak jauh dari sini,mungkin ini adalah kedatanganku yang terakhir kalinya kesini.Aku berjanji pada diriku sendiri,bahwa aku tidak akan pernah kembali kerumah itu lagi seperti apa yang bapak inginkan.Pemakaman ini tampak sepi,hanya ada suara burung yang terdengar siang ini.Aku berjalan pelan menuju makam ibu,ya ibu dimakamkan bersebelahan dengan makam mbah uti dan mbah kakung.

Air mataku jatuh saat melihat makam ibu semakin dekat,makam yang dulu terawat kini ditumbuhi banyak rumput.Aku duduk disebelah makam ibu, mengambil daun-daun kering yang jatuh.Aku mencabut rumput-rumput yang tidak terawat,masih ada pohon mawar merah yang aku tanam dulu mesti batangnya sudah mulai kering.
Aku juga membersihkan makam mbah uti dan mbah kung, sebelum duduk lesehan dan berdoa untuk ketiganya.

Aku mencium makam ibu berulang kali,aku memeluk makamnya erat sambil menangis,dalam tangisku aku berkata "maafin Kinan ya bu baru bisa jengguk ibu sekarang.Maaf jika Kinan harus pergi dari rumah dan tinggal jauh dari ibu.Kinan nggak sanggup jika harus terus nurut sama bapak, diperlakukan nggak baik sama bapak dan mbak Rasti.Doa Kinan tak pernah putus buat ibu,walau Kinan berada jauh dari ibu.Kinan sekarang sudah sarjana bu dan sebentar lagi mau wisuda magister,ini semua berkat doa ibu.Kinan juga kerja ditempat yang enak,ibu pasti seneng kan liat Kinan sekarang?bangga kan sama Kinan??Maafin Kinan ya bu kalau sudah durhaka sebagai anak,nggak nurut apa yang bapak katakan,malahan milih buat pergi dari rumah.Kinan kangen sama ibu?
kenapa pergi secepat ini,kenapa nggak ajak Kinan aja?Kinan kangen bu,kangen!".Aku berucap banyak walau sambil menangis.

Ya Allah bisakah engkau menjemputku sekarang?hamba ikhlas ya Allah,buat apa hamba hidup jika yang aku anggap ayah ternyata tidak menginginkan aku.Aku sebatang kara ya Allah,aku tak punya siapa-siapa untuk tempatku mengadu dan pulang.Aku kangen ibu,kangen ya allah
jeritku saat ini,sesak rasanya ya Allah.Aku melampiaskan semuanya dimakam ibu,aku menceritakan semuanya disana,jujur jauh lebih lega dari sebelumnya dan jauh lebih tenang dari sebelumnya.Entah berapa lama aku disana sampai tak terasa hujan mulai turun,aku bergegas keluar area pemakaman.Langkahku semakin berat saat hujan deras mulai turun,air mataku juga ikut turun bersama dengan hujan siang ini.
Ya Allah jika aku harus menaklukkan dunia seorang diri,maka kuatkalah raga dan jiwaku menghadapi dunia.Kokohkanlah kakiku untuk berjalan dan menopang semua cerita hidup yang tak mudah.Aku hanya minta satu hal kuatkanlah iman dan islamku agar aku selalu berada dijalanmu aamiin yaa rabbalalamin,batinku berucap.

🍂🍂🍂🍂🍂

Pagi terbangun dengan suasana hati yang tak begitu baik,kepala pusing mungkin karena terlalu banyak menangis.Dini hari tadi aku sudah sampai disini setelah berjibaku dengan hujan dan juga sulitnya mencari ojek saat ingin ke stasiun.Aku menatap foto ibu yang ada dimeja sebelah ranjang,aku tersenyum seolah ibu berada disampingku dan tersenyum kearahku.Aku menatap sekeliling kamarku,sepi itu yang aku rasakan saat ini.Inilah takdir hidup yang engkau gariskan untukku ya Allah,aku kuat,aku sanggup dan aku mampu ucapku walau hati ini tak sekuat itu.Tapi aku yakin dan percaya ada Allah yang selalu menjagaku,ada Allah yang selalu melindungi dalam setiap langkahku aamiin.

kring kring kring

"Hallo assalamualaikum,ya pak?"pak Damar yang menelfonku sepagi ini.

"Waalaikumsalam Kinan hari ini kamu free tidak?saya minta bantuan kamu."ucapnya diseberang sana.

"Bantuan apa ya pak?"

"Hari ini harusnya saya yang mewakili kantor dalam acara amal tapi mendadak ibu saya sakit,saya harus pulang kampung."

"Iya pak bisa, tempatnya dimana?"tanyaku.

"Saya sharelock sekarang,ada Rahma juga dari departemen marketing disana."

"Ohh baik pak,setelah ini saya bersiap."

"Thanks Kinan,saya tutup telfonnya dan sekali lagi terima kasih banyak."

"Sama-sama bapak, assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Aku menutup telfonnya dan menatap undangan yang pak Damar kirim barusan,
masih jam 8 pagi berarti masih ada waktu buat beberes kostan sebelum berangkat.

Aku menatap bangunan sebuah panti asuhan didepanku,ramai oleh lalu lalang mobil yang membawa banyak sekali barang-barang.Aku melihat Rahma yang sedang berjalan kearahku,aku menyambutnya dan berpelukan sebentar.
"Masih belum mulai kan?"tanyaku padanya.

"Aman mungkin sebentar lagi,kamu datang sendiri?"tanya Rahma padaku.

"Ialah sama siapa lagi,harusnya kan pak Damar yang datang tapi beliau ada acara jadi aku yang disuruh mewakili."jelasku pada Rahma.

"Oalah ok ok,ayo langsung masuk kedalam sudah banyak yang datang kok."ajak Rahma padaku dan aku pun mengikuti langkahnya untuk masuk kesebuah aula yang ada dibagain samping bangunan ini.

Acara dimulai dengan pembukaan dan sambutan dari beberapa pihak,mulai dari beberapa sponsor yang terlibat didalamnya,
perwakilan pihak kantor dan juga pemilik panti asuhan.Ada juga penampilan dari anak-anak panti mulai dari menyanyi,nari bahkan ada juga yang membacakan puisi dan dance.Acara dilanjut dengan pemberian santunan kepada pemilik panti asuhan dan juga bingkisan kepada para anak-anak panti.Setelah itu dilanjutkan dengan acara makan bersama.Rangkaian acara setelah sholat Dzuhur berjamaah,aku masih disini sementara Rahma sudah pamit pulang barusan karena ada acara.

Aku berkeliling melihat seluruh area panti asuhan bersama ibu Erni salah satu pengasuh disini.Beliau menjelaskan banyak hal tentang semua aktivitas yang ada dipanti,tentang anak-anak panti dan lain sebagainya.Aku pun diajak keruangan yang cukup luas,ada beberapa anak-anak mungkin usis 3-10 tahunan sedang bermain,saat aku datang semua berlari kearahku sambil berteriak-teriak "bunda".
Panggilan sederhana dari mereka tapi buat hatiku nyesss sedihnya.

"Gantian ya anak-anak."perintah bu Erni pada anak-anak yang ingin memelukku.

Aku berjongkok didepan mereka dan memeluk mereka bergantian satu persatu.
Terakhir aku memeluk seorang anak perempuan mungkin usianya sekitar 8 tahun,dia tersenyum malu sambil berjalan kearahku."Bunda mau peluk."ucapan sederhana itu sukses buat air mataku jatuh.

"Sini sayang."aku memeluknya erat dan mengelus punggungnya pelan."Cantik namanya siapa?"tanyaku.

"Carissa tapi biasa dipanggil Icha,terima kasih ya bunda Kinan sudah mau peluk,
Icha seneng banget."ucapnya malu-malu.

"Sama-sama sayang,Icha umur berapa?"

"Kata bunda Erni 8 tahun,tapi Icha juga nggak tahu bener atau nggak."jawabnya.

"Lho kok bisa?"

"Soalnya Icha ditemukan di pinggir jalan sama bunda Erni,jadi bunda nggak tahu kapan Icha lahir."ucapnya polos.

Ya Allah ya Robbi,tega sekali orang tuanya,
dia nggak minta dilahirkan tapi dia juga nggak bisa memilih lahir dari ibu dan ayah seperti apa.Aku memeluk Icha lagi sambil berkata"Icha anak hebat."ucapku pelan.

"Terima kasih bunda Kinan,Icha seneng dipeluk sama bunda.Icha nggak pernah dipeluk ibu Icha,yang meluk Icha cuma bunda-bunda dipanti."jawabnya sambil tersenyum lebar.

Satu hal yang baru aku sadari aku lebih beruntung dari pada Icha dan semua anak-anak yang ada disini.Aku bisa merasakan kasih sayang ibu,walau sampai usiaku menginjak 15 tahun.Aku masih punya bapak dan mbak Rasti,walau mereka memerlukan aku buruk tapi seenggaknya aku tahu keluargaku dan tahu asal-usulku.
Aku tersenyum mendengar ucapan Icha sambil berkata "kapan-kapan kalau kerjaan bunda Kinan nggak banyak,nanti bunda main kesini lagi ya.Kita bisa belajar banyak hal sama Icha dan teman-teman yang lain."
ucapku sambil mengelus pipinya yang sedikit lebih berisi.

"Terima kasih bunda,sudah mau main sama Icha dan teman-teman,kita sayang bunda Kinan."anak-anak pun mulai berebut untuk memelukku,aku tertawa melihat tingkah polah mereka semua.Ya Allah ternyata aku selama iki kurang bersyukur,atas semua yang aku miliki selama ini.Aku selalu merasa menjadi orang yang paling sakit didunia ini,tapi melihat anak-anak ini aku sadar kalau nasibku jauh lebih beruntung dari pada mereka.Nasab dan perwalianku juga jelas,tidak seperti mereka yang mungkin bapak ibuknya tidak diketahui siapa namanya,bahkan keberadaan mereka pun tidak pernah diketahui siapa pun.

Setelah ashar aku memutuskan untuk pulang,tentunya dengan perasaan yang jauh lebih baik dari sebelumnya.Mengenal anak-anak dipanti,membuatku bersyukur akan banyak hal yang aku miliki dalam hidup.Walau keluargaku tak secemara orang lain tapi aku lebih beruntung dari pada anak-anak dipanti asuhan tadi.Semoga aku bisa sering mengunjungi mereka disana dan bisa memberikan banyak hal positif untuk mereka nantinya aamiin.Aku bergegas mandi karena udara dikota saat ini puanas luar biasa,bahkan AC dikamarku tak mampu buat mendinginkan tubuhku setelah beraktivitas seharian diluar rumah.

kring kring kring

"Assalamualaikum pak Damar ada yang bisa saya bantu?"ucapku.

"Waalaikumsalam Kinan,gimana acara hari ini lancar?"tanyanya padaku.

"Alhamdulillah lancar pak,acara selesai setelah sholat dhuhur berjamaah."jelasku pada pak Damar.

"Baiklah terima kasih Kinan sudah menggantikan tugas saya dan satu hal lagi mungkin beberapa hari kedepan saya cuti,
kalau ada kerjaan yang mendesak kamu bisa kontak saya kapan pun itu."ucapnya padaku.

"Sama-sama pak,saya juga senang datang keacara seperti tadi.Cuti berapa hari pak?"

"Paling lama 3 hari,semoga sebelum itu sudah bisa balik kantor lagi."

"Oalah iya pak,semoga ibu cepet sehat pak."

"Terima kasih buat doanya dan saya tutup dulu ya assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."jawabku sambil merebahkan diri dikasur,sudah terbayang olehku 3 hari kedepan bakalan hetrik pasti.
Biasanya ada pak Damar yang bantu handle dan kali ini harus sendirian,semangat Kinan kamu pasti bisa!bisa! ucapku pelan sambil menyemangati diriku sendiri.

🍂🍂🍂🍂🍂

Senin cerah dan semangat,itulah motoku hari ini.Dari kostan kekantor cukup berjalan kaki karena kostan yang aku sewa berada dibelakang kantorku.Walau aku harus mengeluarkan kocek lebih karena harga kost yang lebih mahal dibandingkan kostan lain,mungkin karena letaknya yang strategis jadi alasan utamanya.Tapi bagiku nggak masalah,aku bisa pulang pergi jalan kaki,disini juga rame banget jadi nggak takut kalau harus pulang malam sendirian.
Sampai kantor seperti biasa aku jadi yang pertama,menurut security kantor lho ya.
Ruanganku masih sepi tapi sudah bersih itu artinya sudah dibersihkan oleh OB.Aku menyalakan komputer yang ada didepanku tak lupa juga sarapan,sebelum nanti berjibaku dengan pekerjaan,semoga dimudahkan dan yang pasti jadi hari yang semoga menyenangkan.

Denting waktu berjalan begitu cepat hingga jam makan siang pun berlalu begitu saja,
aku cuma istirahat sholat dhuhur dan nyemil buah karena merasa masih sangat kenyang.Pak Arif sedang meeting dilantai 5 bersama jajaran dewan direksi,sedangkan aku disini mengebut beberapa laporan yang harus selesai sebelum jam 3 sore.Sudah ada sebagian laporan yang aku taruh dimeja pak Arif,tinggal 3 laporan yang harus aku selesaikan.Jikalau ada pak Damar pasti akan terasa lebih ringan karena pasti semua ini kita kerjakan berdua,tapi sudahlah beliau lagi cuti jadi harus semangatlah pokoknya.

"Kinan,besok kamu ikut saya ke lapangan,
ada beberapa hal yang harus saya urus disana."pak Arif berucap saat beliau baru saja selesai meeting.

"Baik pak, berapa hari disana?"tanyaku.

"Mungkin 3 harian tapi bisa lebih cepet dari waktu yang ditentukan,kita berangkat jam 7 pagi dari sini."

"Baik pak,saya siapkan semuanya."

"Ohh ya jangan pesan hotel, semuanya sudah diurus Damar."ucap pak Arif lagi.

"Baik pak."

Aku menghembuskan nafas pelan,bersiap untuk besok tugas luar kota.Aku sudah beberapa kali keluar kota tapi kali ini terasa lebih berat,tempat yang aku datangi adalah tanah kelahiranku dan proyek yang sedang kita bangun berada tak jauh dari rumahku.
Semoga saja tidak bertemu dengan mbak Rasti atau bapak,karena besar kemungkinan untuk ketemu mengingat mbak Rasti adalah salah satu pegawai kecamatan dan besok akan ada pertemuan dengan para tokoh-tokoh masyarakat untuk melakukan doa bersama sebelum peletakan batu pertama keesokan harinya.


Kita sampai di lokasi tepat jam 1 siang,aku berjalan mengikuti pak Arif dan juga pak Damar.Aku kira beliau masih cuti tapi ternyata tadi pagi sudah standby di kantor saat aku datang.Kami menuju kesebuah aula yang sudah disiapkan sebelumnya,
hari ini akan di adakan doa bersama bersama para tokoh masyarakat,perangkat desa dan warga sekitar.Peletakan batu pertama akan dilaksanakan besok jam 8 pagi jika tidak ada perubahan jadwal,disini akan dibangun RS milik perusahaan tempatku bekerja.RS ini diperuntukkan untuk masyarakat kurang mampu dan menengah kebawah,tapi jangan khawatir semua dokter dan tenaga medisnya adalah orang-orang profesional yang ahli di bidangnya.Sudah ada beberapa RS yang dibangun perusahaan dibeberapa daerah,
kali ini kampung halamanku yang dipilih.

Aku duduk di deretan paling depan,duduk bersebelahan dengan pak Damar,sedang pak Arif duduk disebelah para tokoh-tokoh masyarakat sekitar sini beserta para jajaran pemerintahan didaerah tempat tinggalku.
Sebelum aku duduk ,aku bisa melihat ada mbak Rasti dideretan belakangku,aku menghembuskan nafas pelan sebelum dengan khidmat mendengarkan sambutan yang dilakukan oleh bupati setempat.

"Kinan,nanti kamu yang mewakili perusahaan memberikan sambutan."pak Damar berbisik lirih ditelingaku.

"Lho saya!bukan pak Arif atau bapak sendiri?"ucapku kaget.

"Pak Arif percaya kalau kamu bisa."

"Baiklah pak."aku menghembuskan nafas dalam,bisanya aku yang memberikan sambutan,biasanya pak Damar yang mewakili pak Arif kenapa harus aku.Tapi ini adalah tugas dan mau nggak mau,ya harus mau bismillahirrahmanirrahim.

Aku sudah berdiri diatas podium,aku memandang sejenak semua orang yang hadir ditempat ini,memejamkan mata sejenak dan mengucapkan bismillah sebelum memulai memberikan sedikit sambutan mewakili perusahaan.

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,Selamat siang dan salam sejahtera bagi kita semua.

Yang saya hormati,bapak Arifin Raharjo selalu CEO PT.Dewantara Nusantara,yang saya hormati bapak Irawan Rusli selaku bupati Pandanasih,yang saya hormati bapak Damar Nalendra selalu pimpinan proyek pembangunan RS.Dewantara Hospital.Para tamu undangan,tokoh agama, tokoh masyarakat,serta seluruh hadirin yang berbahagia.

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Tuhan Yang Maha Esa,atas rahmat dan karunia-Nya,sehingga pada hari yang berbahagia ini kita dapat berkumpul bersama dalam acara penting doa bersama dalam rangka pembangunan RS.Dewantara Hospital yang insya allah besok akan kita mulai proses pembangunannya.

Hadirin yang saya muliakan,

Pembangunan fasilitas kesehatan seperti rumah sakit ini merupakan bagian integral dari pembangunan nasional, yang bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat setinggi-tingginya. Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan setiap orang berhak atas pelayanan kesehatan yang layak.Oleh karena itu,kehadiran rumah sakit ini menjadi sangat strategis, terutama dalam meningkatkan akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah Pandanasih dan sekitarnya.

Rumah sakit ini hadir dengan fasilitas unggulan,seperti IGD terpadu, peralatan modern seperti CT Scan,dll yang diharapkan dapat memberikan pelayanan kesehatan yang optimal dan profesional. Tujuan utama kita adalah agar masyarakat tidak perlu lagi jauh-jauh mencari pengobatan, karena fasilitas lengkap sudah tersedia di daerah kita.Tentu saja, pembangunan infrastruktur fisik harus diiringi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, utamanya dokter spesialis dan sub-spesialis, serta tenaga medis yang ramah dan kompeten, agar pelayanan kesehatan dapat meningkat secara holistik.

Akhir kata, dengan memohon ridha dan anugerah Tuhan Yang Maha Esa agar pembangunan RS ini diberikan kemudahan dan kelancaran sampai saya Saira Kinanti mewakili PT.Dewantara Nusantara pamit undur diri.Semoga Allah SWT senantiasa memberkahi setiap doa dan usaha kita semua demi terwujudnya masyarakat yang sehat dan sejahtera.Terima kasih atas perhatian Bapak/Ibu sekalian.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Tepuk tangan para hadirin menutup sambutanku siang ini,aku menunduk sopan ketika melewati pak Arif dan beberapa tokoh masyarakat dna juga jajaran pemerintahan setempat.Aku menghela nafas lega,walau tampa persiapan dan teks Alhamdulillah aku bisa memberikan sedikit kata sambutan tanpa kesulitan berarti.Aku kembali duduk ditempat semula,pak Damar langsung mengulum senyum manisnya yang jarang sekali terlihat sambil berkata
"Pilihan saya tak pernah salah dan kamu membuktikan kalau kamu memang pantas berada diposisimu sekarang,Kinan."ucap pak Damar pelan.

"Terima kasih pak,saya tidak bisa seperti ini tampa bimbingan pak Arif dan juga bapak.
Terima kasih atas kesempatan yang telah perusahaan berikan,saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya."ucapku.

"Saya tidak melakukan apa pun,kamu bisa seperti sekarang ini karena kemampuanmu yang memang luar biasa."

"bapak terlalu berlebihan,saya masih jauh dibawah bapak dan pak Arif tentunya."

"Saya tahu tapi saya yakin kamu bisa lebih dari sekarang, percayalah."

"Aamiin semoga saja bisa seperti bapak dan juga pak Arif nantinya."

"Harus lebih baik dari saya dan pak Arif."

"Semoga pak."Alhamdulillah disini dan dikantor aku merasa sangat dihargai,sekecil apa pun hal yang aku lakukan selalu dapat apresiasi dari perusahaan terutama dari pak Arif dan pak Damar tentunya.Semoga kedepannya aku bisa berkontribusi lebih baik lagi untuk perusahaan aamiin.

🍂🍂🍂🍂🍂

Aku melangkahkan kaki menuju mobil duluan,pak Damar masih berbincang dengan team arsitek didalam,kalau pak Arif sudah pulang duluan sejak tadi dan sudah dianter supir kantor ke villa.Kita memang tadi berangkat dengan 2 mobil,aku dan pak Damar dalam satu mobil yang sama.

"Kinan!"

Sebuah teriakan menghentikan langkahku,
aku berbalik dan mencari siapa yang memanggil namaku,ternyata mbak Rasti.
Aku sudah menduga sejak awal,jika pasti mbak Rasti akan menemui setelah acara ini selesai dan terbukti sekarang."Iya"aku berusaha bersikap biasa saja.

"Kamu jual diri ya,sampai bisa kerja di perusahaan bonafit seperti sekarang"ucap mbak Rasti padaku.

"Maksudnya?"aku menatapnya dengan emosi yang mulai naik,tapi aku berusaha untuk menahannya.

"Kamu lempar tubuh kamu ke bos-bos itu kan,sampai kamu bisa kerja disana.Kamu cuma lulusan SMA mana mungkin bisa kerja di perusahaan sebesar itu dan punya kedudukan tinggi disana."

plak

Satu tamparan aku layangkan tepat dipipi mbak Rasti, ucapannya barusan benar-benar buat kesabaranku habis.Aku sudah diam selama ini atas tuduhan bapak dan dia yang tidak mendasar,tapi tidak untuk kali ini walau mungkin setelah ini aku akan dapat teguran dari kantor membuat keributan disini."Katakan sekali lagi!katakan!"ucapku geram.

"Kamu berani menampar mbakmu,dasar adik kurang ajar.!"hardiknya padaku.

Aku tersenyum miring mendengar ucapan dan berkata."sejak kapan aku punya kakak seperti anda dan sejak kapan aku jadi bagian dari keluarga kalian.Bukankah itu yang selalu kalian katakan padaku,kalau aku bukan bagian dari keluarga kalian,apa kalian lupa?perlu aku ingatkan?"ucapku jumawa didepan mbak Rasti.

"Aku akan laporkan ini pada bapak,biar kamu diseret dan mendapatkan hukuman akibat berani menamparku."

"Silahkan! panggil sekarang aku nggak peduli!satu hal lagi aku bukan wanita murahan yang menjual diri seperti mbak hanya demi uang dan kesenangan."ucapku sambil tersenyum miring,sejak dulu aku tahu kalau mbak Rasti suka gonta-ganti pacar,pernah juga jalan sama suami orang.
Awalnya nggak percaya jika ada orang-orang yang bilang seperti itu,tapi aku percaya setelah melihatnya sendiri.

"Jangan menuduh sembarangan ya?"

"Lho kalau bukan fakta kenapa harus marah,saya harus pergi waktu saya terlalu berharga untuk urusan seperti ini."aku langsung melangkahkan kaki meninggalkan mba Rasti yang masih mengomel tak jelas.
Susah payah aku menjauh ternyata jalan takdir mempertemukan kita ditempat ini karena pekerjaan.

Sampai mobil aku menghembuskan nafas lelah,hari ini pekerjaan tidak terlalu berat tapi yang berat adalah masalah pribadi.Aku melihat kearah aula belum ada tanda-tanda pak Damar kembali,mungkin masih banyak yang mesti dibahas didalam.Aku membuka sedikit kaca jendela,udara sejuk langsung menyentuh kulit wajahku,udara ini adalah udara yang kurindukan setiap hari,tempat ini adalah tempat yang kau rindukan setiap hari tapi tidak dengan orang-orang didalamnya kecuali ibu.

tok tok

Kaca mobil diketuk dan pak Damar sudah berdiri didepan mobil,aku membuka kunci pintu dan membirkan beliau masuk lewat pintu kemudi."Maaf nunggu lama."ucap pak Damar begitu duduk dibalik kemudi.

"Nggak masalah pak,setelah ini kita mau kemana pak?"tanyaku pada beliau,karena pak Arif bilang semuanya sudah diurus pak Damar jadi aku perlu tanya,aku tidur dimana untuk malam ini.

"Ke villa,pak Arif sudah lebih dulu kesana,
tenang aja disana bukan hanya kita bertiga ada anak-anak departemen arsitek yang ikut juga.Ada 1 perempuan jadi kamu bisa tidur satu kamar bareng dia."jawabnya.

"Ohh baik pak."iya emang tadi aku sempat melihat ada mbak Clara,senior arsitek dikantor,aku belum sempet bertegur sama dengannya.Walau kita tidak terlalu akrab tapi kita kenal satu sama lain,paling tidak itu tidak buat aku canggung nantinya.

Sampai villa ternyata sudah rame,mungkin ada sekitar 10 orang disana.Aku langsung naik keatas kekamar yang pak Damar tunjuk untukku.

"Ehh ada mbak Kinan sini masuk-masuk."
mbak Clara sudah duluan sampai.

"Kita sekamar nggak apa-apa kan mbak?"
ini kebiasaan jika beda departemen biasa kita panggil mbak,kalau dikantor ya dipanggil ibu atau pak.

"Santai aja mbak,aku sudah mandi sekarang mbak Kinan yang mandi,habis magrib nanti kita makan diluar."ucapnya padaku.

"ohh iya mbak."

Setelah magrib kita semua rombongan 4 mobil keluar menuju tempat makan yang sudah dibook pak Damar sebelumnya,aku pertama kalinya datang kesini,ini kayaknya restoran baru karena dulu seingatku tempat ini masih sawah dan sekarang sudah beralih fungsi jadi restoran tepi sawah yang menawarkan berbagai masakan khas Nusantara.Aku duduk disebelah mbak Clara,sedang para laki-laki memilih duduk diarea smoking room terkecuali pak Damar yang ikut bergabung denganku.

"Sana lho ikutan yang lain,malahan nongkrong disini."usir mbak Clara pada pak Damar,mereka berdua senior dikantor kalau anak-anak bilang suhunya.

"Bau rokok,males banget."

"Heleh jangan-jangan kamu sengaja mau deket-deket sama Kinan."ucapan mbak Clara sukses membuatku tersedak air liurku sendiri,bisanya dia ngomong kaya gitu sama pak Damar.

"Kalau Kinan mau yaa nggak apa-apa."ini apa lagi, jawabnya pak Damar itu ambigu dengan muka lempengnya tampa ekspresi seperti biasanya.

"Aku setuju,Kinan jomblo kan?"mbak Clara tiba-tiba bertanya kerahku.

Aku melihat pak Damar sebentar sebelum menjawab pertanyaan mbak Clara " Lebih tepatnya lagi fokus tesis mbak,belum ada niatan buat pacaran atau lainnya."ini adalah jawaban paling realistis.

"Wuihh keren Kinan,nggak ada suara apa-apa langsung tiba-tiba magister.Ambil jurusan apa dan dimana?"mbak Clara beneran nggak ada rasa canggung sama sekali,kalau nggak ada dia pasti suasana disini awkward banget.

"Ambil management mbak,masih dikampus yang lama."kebetulan saat wisuda dapat tawaran beasiswa dari kampus, nggak mau buang-buang kesempatan langsung aku ambil walau kadang jadwalnya kocar-kacir sama jam kerja dan lembur.

"Keren ya semoga bisa cepet selesai dan ilmunya bermanfaat."

"Aamiin makasih doanya mbak."jawabku.

"Kok nggak pernah bilang kalau kamu lanjutin kuliah."pak Damar tiba-tiba ikutan angkat bicara.

"Saya sudah bilang pak Arif dan HRD sebelumnya pak."jawabku,emang sebelumnya aku langsung meminta izin pak Arif dan beliaulah yang langsung bicara sama HRD.

"Ohh okeyy."

Gitu aja tanggapannya,emang manusia kulkas ngomong seperlunya,bicara juga seperlunya.Selebihnya bakalan diam aja lebih suka natap tablet atau komputer dan berkas-berkas jika dikantor.Tak berapa lama makanan kami pun datang,kami makan dengan tenang,hanya ada suara sendok yang beradu dimeja.Selepas makan malam kita semuanya nongkrong diluar villa sambil ngobrol banyak hal,kecuali pak Arif yang izin undur diri terlebih dahulu.


Aku duduk ditepi kolam renang,mbak Clara sudah  masuk duluan karena suaminya telfon.Udara disini masih sama seperti dulu dingin dan bertambah dingin jika malam menjemput.Aku merapatkan tanganku,ku peluk tubuhku sendiri dengan kedua tanganku sampai sebuah jaket hinggap dipundakku.Aku menoleh keatas ternyata pak Damar yang memberikan jaketnya.

"Udara disini dingin,bisa masuk angin kalau nggak pakai jaket."ucapnya dan duduk disebelahku.

"terima kasih pak."ucapku sambil terus menatap air kolam didepanku.

"Tadi siang itu kakak kamu?"

deg

Aku langsung menoleh kearah pak Damar cepat,kita saling bertemu pandang sebelum aku memutuskan kontak dan berkata "kok bapak tahu?"

"Saya nggak sengaja denger obrolan kalian waktu mau ke mobil,maaf."ucapnya padaku.

"Enggak masalah pak,saya yang harusnya minta maaf sudah buat keributan disana."

"Cuma saya yang tahu karena anak-anak yang lain masih didalam.Jadi kamu asli sini?"tanya pak Damar.

"Saya lahir dan besar disini,rumah saya tak jauh dari sini mungkin sekitar 20 menit jika naik kendaraan.Tapi sejak 7 tahun yang lalu saya merantau dan menetap dikota."kataku.

"Orang tua masih ada?"tanyanya lagi.

"Ibu sudah meninggal sejak saya berusia 15 tahun,tinggal bapak dan mbak Rasti yang bapak liat tadi siang."

"Besok setelah acara peletakan batu pertama kamu boleh mampir kerumah orang tua kamu,saya bisa suruh supir buat antar kamu.Siangnya sekitar jam 1 tapi kita harus kembali lagi ke kota."

"Tidak usah pak,saya akan tetep disini ."

"Nggak mau lepas kangen dengan bapak?"

"Hidup saya rumit pak dan saya tidak sedekat itu dengan bapak apa lagi mbak Rasti.Jadi saya akan tetap disini sampai tugas saya selesai."jawab mantap.

"Baiklah jika itu yang kamu mau,besok jika kamu berubah pikiran langsung bilang aja."

"Enggak akan berubah pikiran pak,saya permisi masuk kedalam dan terima kasih buat jaketnya."aku menyerahkan jaket diatas pangkuan pak Damar,aku langsung bergegas masuk tampa menoleh kearah pak Damar yang masih duduk dibangku itu.

Malam ini ditanah kelahiranku,aku melepas semua rindu yang kubawa untuk ibu.Besok sebelum ketempat pembangunan RS,aku akan berziarah dulu kemakam ibuku,aku bisa berangkat setelah subuh sebelum semua orang bangun dan bisa kembali kesini lagi saat sarapan pagi.Bukan ingin kucing-kucingan dengan yang lain tapi aku nggak mau jika sampai disana ketemu bapak dan mbak Rasti.Luka kemarin yang kemarin mbak Rasti torehkan masih terasa sampai sekarang dan aku nggak ingin menambah luka baru lagi.Lebih baik aku seperti ini,terlihat diam dan misterius.Aku nggak mau orang-orang tahu tentang kondisi keluarga sebenarnya,biarlah jadi rahasia yang aku pendam sendiri.









to be continued












Cerita baru lagi dan semoga suka ya,ini nggak tahu nanti endingnya gimana yang aku tahu pokoknya aku nulis aja sesuai apa yang ada diotakku.Jangan lupa klik bintang dipojok kiri bawah dan komen yang banyak ya guys...

Salam sayang dan sehat buat semuanya,
terima kasih atas dukungan selama ini buat aku dan setia menjadi pembaca karya-karyaku thanks 🙏🙏🙏

Continue Reading

You'll Also Like

115 10 19
lupa ingatan menjadi memori, suka menjadi cinta dimana aku terkena amnesia. musibah, kesedihan,masalah,pertengkaran semua melanda ke aku, walaupun in...
231K 4.3K 18
Follow dulu ya guys sebelum baca thanks. Jangan jadi silent reader ya,tekan tombol bintang dipojok kiri bawah dan koment banyak banyak ya gratis. Lan...
858K 39.8K 52
Langsung baca saja ya!!
Wattpad App - Unlock exclusive features