Wah, kencan pertama yang langsung membuat hati berdegup! Seperti suasana dan momen paling berkesan yang membuat Jennie merasa "wow" pada Lisa.
Saat mata Lisa menatapnya, seakan seluruh dunia berhenti sejenak, dan dalam setiap gerakan macho‑nya, Jennie menemukan keindahan yang tak pernah ia bayangkan- sebuah misteri yang membuat jantungnya berdegup lebih cepat daripada kata‑kata untuk mengungkapkannya.
Saat dia tersenyum, seolah semua cahaya di ruangan itu berkumpul menjadi satu, dan Jennie tak bisa menahan diri, hatinya melompat, matanya berkilau, dan dalam setiap gerakannya terasa keindahan yang tak terlukiskan.
"Apa kamu suka tempat ini, Jennie?"
Jennie terkesiap, rupanya sejak tadi Jennie hanya sibuk dengan penilaiannya sendiri, bahkan ini Lalisa kenapa terlihat sangat berbeda dari hari biasanya? Atau karena Jennie tidak pernah benar-benar memperhatikan Lisa?
"O-oh aku suka, aku baru pertama kesini, jadi ini tempat yang cukup menyenangkan"
Jennie sedikit terkejut dan semakin gugup.
"Em, aku senang kalau kamu juga suka, kamu cantik sekali Jennie" Lisa tersenyum kagum, tidak kalah mengagumi Jennie sejak tadi,.
Keadaan kembali hening, sesekali tangan Lisa yang ada di atas meja mengetuk meja dengan jarinya, berfikir hal apa yang harus dia katakan, agar Jennie merasa lebih rileks dan tenang, pasalnya, Lisa juga cukup melihat kegugupan Jennie,
Tidak ingin keadaan canggung lebih lama, Lisa beralih untuk duduk di sebelah Jennie, lalu mencondongkan tubuhnya ke sisi Jennie,
"Jennie, aku baru pertama pergi dengan seseorang, aku terlalu sibuk menyembunyikan rasa suka ku padamu, yang ternyata sebenarnya kamu sangat menarik, ya?"
Jennie semakin kalang kabut, hatinya hampir mencelos karena detak jantung yang kacau saat ini, mendapati Lisa seperti sangat profesional memperlakukan wanita, Jennie mengangkat alis seolah protes jika Lisa pasti berbohong.
"..Aku hanya ingin membuat keadaan tidak canggung, jangan salah paham, aku juga gugup asal kamu tahu!"
Jennie tersenyum tipis "terimakasih kalau begitu, karena ini kencan pertama untuk mu, aku menyiapkan diriku yang terbaik, tentu saja, agar kau terkesan" kata Jennie lalu tertawa gugup, kenapa juga dia harus bicara seperti itu, membongkar hal yang tidak harus nya Lisa tahu.
Lisa menatap Jennie penuh rasa senang, karena jawaban Jennie, apa lagi malam ini memang cukup mengesankan untuk nya.
Rasanya, Lisa ingin menelan Jennie saja, setiap gerakan Jennie terlihat anggung,
Setiap hari Jennie terlihat sangat cuek dan tidak perduli padanya, tapi nyatanya seperti gadis lainnya yang manis juga lembut, Lisa baru mengetahui sikap Jennie itu.
"Wah aku terkesima, terimakasih karena kamu berhasil, sekali lagi terimakasih ya?" Lisa meraih tangan Jennie dan menggenggam nya dengan lembut, lalu membawanya di depan bibirnya dan mengecup nya beberapa kali.
Benar-benar di luar dugaan, rupanya Lisa tipe orang yang physical touch, tapi menyenangkan karena semua penuh kelembutan.
Karena di dalam mobil saat perjalan menuju tempat kencan mereka malam ini, tempat yang Lisa pilih, Lisa terus menggenggam tangan Jennie tanpa melepaskan nya barang sekejap,
Sialnya, Jennie tidak merasa keberatan sama sekali, malah dia merasa sangat aman saat Lisa terus menyentuhnya.
"Aku tidak pernah membayangkan bisa berada di suatu tempat seperti sekarang bersama mu hanya berdua, Jennie"
"..kalau boleh aku tahu, sebenarnya, aku adalah kekasih mu yang nomor berapa sekarang?" Lanjut Lisa, dan hal itu membuat Jennie mengingat kekasihnya yang sejak tadi dia lupakan karena Lisa.
Jennie menarik tangannya, menatap Lisa sebentar lalu memalingkan wajah, Lisa terlihat kecewa tapi Lisa sangat bisa mengontrol ekspresi nya.
"Kenapa kamu tanya tentang itu?"
"Hanya ingin tahu, kalau tidak mau memberi tahu ya tidak apa-apa juga, lagi pula aku akan berusaha agar aku hanya menjadi satu-satunya untuk mu dan yang kamu butuhkan nanti" kata Lisa, jujur Lisa merasa ingin sekali memiliki Jennie tanpa harus sembunyi-sembunyi lagi sejak Jennie berada dalam mobilnya tadi.
"Hanya kamu dan Jaehyun, kamu pikir aku ini wanita yang suka selingkuh?"
"Tapi aku selingkuhan mu" jawab Lisa cepat, Jennie diam karena memang benar apa yang Lisa katakan.
"Kamu tidak suka?"
Jennie menatap Lisa yang terlihat lesu seketika, lalu meraih tangan Lisa.
"Dengar, kamu kan bilang mau jadi yang keberapapun bahkan di urutan terakhir, jadi? Kalau kamu tidak mau juga tidak apa-apa, kita berteman saja!"
Lisa langsung panik mendengar itu, sudah melangkah jauh mana mungkin harus kembali berteman lagi.
"Aku sudah menjadi teman mu lebih dari 2 tahun dan hampir 3 tahun, aku tidak mau!"
Lalu memanyunkan bibirnya, cih, kemana perginya Lisa si pendiam dan irit bicara sekarang? Bahkan Lisa terlihat kesal dengan wajah lucu nya? Melihat itu hati Jennie merasa tergelitik.
Jennie terkikik pelan, membuat Lisa menatapnya sambil memicing.
"Hentikan tatapan itu Lisa, jadi jangan protes, aku belum memiliki perasaan apapun padamu, hanya saja jangan marah padaku, aku tidak suka siapapun marah padaku!"
Ya kalau Lisa bersikap seperti itu, memungkinkan jika dia akan tereliminasi setelah kencannya malam ini kerena Jennie tidak menyukai seseorang yang mudah kesal.
Hanya saja sebenarnya Jennie merasa tidak rela jika membuat Lisa kesal, tentu saja karena jarang ada momen berdua seperti ini.
"Sudah jam 10 malam, aku tadi tidak pamit pada kedua orang tuamu membawa anak gadisnya berkencan, jadi ayo kita pulang?"
Benar memang sudah jam 10, Jennie biasanya saat pergi berkencan dengan kekasihnya malah bisa lewat tengah malam, atau bahkan tidak pulang sepanjang malam karena menginap di rumah kekasihnya,..
Hubungan Jennie dengan Jaehyun sudah cukup lama, sudah satu tahun apa lagi orang tua Jennie juga sudah tahu hubungan mereka dan tidak mempermasalahkan sama sekali, jadi sebebas itu mereka berdua.
"Baiklah, ayo, malam juga semakin dingin, dan aku kedinginan karena gaun ku"
"Tenang saja, aku bisa menghangatkan mu nanti!" Kata Lisa lalu tersenyum melihat Jennie yang melotot seolah memperingatkan dan juga tahu apa maksud dari ucapan Lisa.
"Jangan macam-macam, aku tidak melakukan hal yang tidak-tidak tanpa perasaan yang jelas!" Jawab Jennie kesal, gagasan saling menghangatkan tanpa rasa saling cinta itu bukan hal yang baik menurut Jennie,
Lisa tidak menjawab masih terus mengandeng tangan Jennie menuju mobilnya, toh tentang perasaan, Lisa memilikinya dan itu sangat besar untuk Jennie.
Lisa membukakan pintu mobil untuk Jennie, dan beralih duduk di sisi kiri mengambil kemudi.
Setelah mobil keluar dari area restoran, Lisa kembali meraih tangan Jennie untuk dia genggam.
Karena ini bukan kali pertamanya untuk Jennie saat Lisa menyentuhnya dengan posesif, Jennie merasa biasa saja.
Tapi perasaan itu menghilang saat tiba-tiba saja Lisa menghentikan mobilnya di tepi jalan yang cukup kurang penerangan.
"Kenapa berhenti disini?" Tanya Jennie menatap Lisa.
Lisa memiringkan tubuhnya dan melepas sabuk pengamannya mencondongkan tubuhnya ke arah Jennie,
Mendekatkan wajahnya di depan Jennie, mendapati itu Jennie memundurkan kepalanya, tapi terhalang sandaran jok di belakang nya, tubuh Jennie mendadak kaku, Jennie memejamkan matanya tidak ingin melihat apa yang akan Lisa lakukan.
Bukan mendorong tubuh Lisa atau menolak, Jennie malah menghirup dalam-dalam aroma dari Lisa yang kian menyengat di hidungnya, hingga dia lupa jika mungkin harus mendorong Lisa agar menjauh.
Lisa meraih wajah Jennie dengan tangan kirinya dan membenarkan rambut Jennie yang seperti tirai menutupi sebagian wajahnya.
Jennie merasakan tangan Lisa yang dingin membelai wajahnya, mulai memejamkan mata dengan tenang tanpa mengunci matanya dengan paksa, menikmati sentuhan Lisa di wajahnya.
"Aku ingin sekali menciummu sejak tadi" kata Lisa, terdengar berbisik dan bukan permintaan juga meminta izin, tapi terkesan keinginan yang harus Jennie tahu, jika Lisa akan menciumnya sekarang juga.
Aroma nafas Lisa segar, seperti ribuan daun mint yang segar dan manis masuk ke hidung Jennie saat Jennie mencoba mendapatkan udara untuk menenangkan dirinya.
Detik berikutnya, Lisa meraih wajah Jennie dan mendekatkan ke wajahnya, lalu menempelkan bibirnya ke bibir Jennie.
Hanya sebuah kecupan, lalu kedua kalinya Lisa kembali mengecup bibir Jennie dan sedikit melumatnya yang anehnya Jennie tidak menolak.
Hal itu membuat Lisa semakin menaikkan tempo gerakan bibirnya di bibir Jennie, melumat atas dan bawah,
Saat Lisa membelai lengan atas Jennie yang membuat Jennie merinding, saat itu Jennie membuka mulutnya yang membuat Lisa semakin melumat bibir Jennie.
Jennie mengerang kecil saat akhirnya Lisa meremas pinggangnya, rupanya tangan Lisa sudah bermain kesana kemari menyentuh tubuh Jennie,
Tangan yang awalnya berasa dingin, kini mulai terasa hangat, hawa malam yang awalnya menusuk karena suhu mungkin di bawah -15°c seolah menjadi perapian alami,
Merasakan tangan Lisa yang hangat terus menyentuh nya, Jennie tidak tahan lagi, dan meraih tengkuk Lisa, menekan belakang leher itu untuk mendapatkan lidah Lisa semakin membelit di dalam mulutnya.
Suara kendaraan yang berlalu lalang tidak lagi mengkhawatirkan bagi Lisa, malah Lisa berharap suara yang berisik lebih berisik untuk menyamarkan suara erangan mereka,
Lisa tidak ingin saat ini berakhir begitu saja,
Dengan satu kali gerakan menggunakan jari telunjuknya, Lisa meloloskan kostum Jennie dan mengeluarkan satu payudara Jennie untuk dia remas,
Melepaskan ciumannya di bibir Jennie beralih menjilati dengan basah leher Jennie yang terasa sangat wangi, wangi surgawi, Lisa tergila-gila dengan aroma Jennie.
Jarinya tidak henti meremas payudara Jennie, dari memainkan puting dengan jari jempolnya, dan meremas lembut,
Hingga akhirnya bibir Lisa bergerak hingga payudara Jennie dan sudah memerah karena remasan Lisa.
Jennie mengerang, mendesah saat lidah basah dan hangat itu menyentuh dadanya, dia mendongak menjambak rambut Lisa.
"Aaahhhh,, ehhhmmmm"
Lisa tahu, Jennie menyukainya.
Benda yang awalnya layu, kini berdenyut kian mengeras di antara kedua pangkal kaki Lisa.
Jennie merasa basah di inti miliknya yang perlahan menjadi gatal!
"Aaahhh Lisa! Ooohhhh!"
Lisa terus melumat payudara Jennie dan meremas bergantian kiri dan kanan, rasanya setiap apa yang dia lakukan pada tubuh Jennie, ingin dia ulang terus menerus, tidak peduli Jennie hampir berteriak,
Lisa membelai paha Jennie, hingga hampir saja sampai di pangkal yang sudah banjir dan gatal itu, Jennie mengatup kedua pahanya menghalangi tangan Lisa yang akhirnya Lisa hanya meremas bokong Jennie yang sedikit terangkat.
Lisa membawa tangan Jennie yang sejak tadi memeluk lehernya dan meremas rambutnya untuk menyentuh inti yang berdenyut dengan rasa panas di antar kedua kaki Lisa.
Sambil membuka gesper dan slatingnya sendiri, agar mempermudah Jennie menyentuh inti panasnya.
"Sentuh itu, aku mohon, sayang"
Suara Lisa berat seperti merintih, membuat Jennie yang sejak awal hampir linglung kembali sadar, dan karena penasaran, Jennie perlahan mulai menggerakkan tangan nya yang terasa berat untuk menyentuh sesuatu yang sudah mengembung itu,
Tanpa melihat, hanya menggunakan filling, akhirnya Jennie bisa menyentuh nya, hangat, keras, berdenyut, dan terasa gendut dengan bentuk yang sedikit melengkung karena terhalang boxer yang ketat.
"Ahhhmmm emmmhhh"
Lisa mendesis di sela lumatannya di payudara Jennie.
Merasa Jennie mulai membuka pahanya, dengan cepat, Lisa membuka paha Jennie semakin lebar dengan cukup kasar.
Dan kembali mencium bibir Jennie yang terus terasa manis di mulut Lisa.
Lisa menyentuhnya perlahan, jarinya mengikuti lipatan Jennie yang cukup lembab, hingga akhirnya tangan Lisa berhasil masuk dari segitiga yang di singkirkan kesamping,
Sangat basah, aroma manis menyeruak indra penciuman Lisa,
Jennie mengeluarkan penis Lisa yang sepertinya tersiksa karena terhimpit boxer Lisa, dan mulai memijatnya ke atas dan bawah.
"Lisaaahhhh, aaahhh"
Jennie mendesis, membuat nya tanpa sadar meremas penis Lisa kuat.
Lisa memasukan satu jarinya dan mulai keluar masuk dengan lincah di vagina Jennie yang licin, lalu menambah satu jari lagi membuat Jennie mendongak sambil membusungkan dadanya, seolah mempersilahkan Lisa untuk melumat dadanya lagi.
Jennie mendesah, menjerit, mendesis saat jari Lisa masuk cukup cepat dan kuat.
Jennie menaikkan kedua kakinya di atas jok membuat kedua kaki Jennie terbuka semakin lebar.
"Oooh Lisa, akuu sampaiiii!"
Jennie ambruk sepenuhnya kebelakang, saat cairan penuh kenikmatan itu akhirnya meleleh keluar, tubuhnya bergetar, kedua kakinya mengejang kuat hingga akhirnya dia selesai dengan pelepasannya,.
Mengagumkan, Jennie puas hanya dengan jeri Lisa dan dengan posisi sesempit ini, hal yang belum pernah Jennie bayangkan bahkan saat bersama kekasihnya.
Melihat Jennie menatap nya dengan sayu, Lisa membenarkan pakaiannya Jennie, dan membersihkan paha bagian dalam Jennie, rupanya cairan itu cukup banyak menyubur hingga membasahi jok mobil Lisa.
Lisa memasukan penisnya yang masih meronta kembali ke dalam boxer dan celananya.
"Kamu terlihat lelah"
Lisa sambil membenarkan rambut Jennie yang acak-acakan menempel di wajah dan leher Jennie karena keringat.
Jujur Jennie masih lemas, seks yang tidak pernah dia lakukan dan dia bayangkan, di tepi jalan dan di saksikan kendaraan yang tanpa sadar dengar perbuatan mesum mereka.
Jennie hanya mengangguk, dan mulai memejamkan matanya, membiarkan Lisa mengendari mobilnya sendiri,
Salah sendiri membuat Jennie seperti ini.
Selama perjalan Lisa hanya fokus menyetir dengan sesekali melirik Jennie yang tertidur cukup pulas,
Rasanya hatinya akan meledak, tidak menyangka bisa meniduri Jennie di dalam mobilnya dengan jarinya.
Lisa merasa semakin menyukai Jennie, dan tubuh Jennie akan menjadi cemilan favorit nya mulai sekarang.