Married a Gangster? (END)

By bambukuning_

82.1K 5.3K 587

Sequel Rage Demons-Life after marriage Tara dan Aletta Sebuah kisah yang tidak pernah terpikirkan oleh dua a... More

-Prolog-
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46-THE END
EXTRA PART
CHIT-CHAT
New Story

27

1.1K 112 15
By bambukuning_

Pintu ruang kerja yang terletak di lantai paling atas gedung itu terbuka pelan. Aroma kopi hitam yang baru diseduh pun sudah menyambut langkah tegap seorang laki-laki yang baru saja sampai. Tadinya suasana hati Tara tengah merasa berbunga-bunga karena memikirkan sang istri yang pagi ini kembali bertingkah binal. Namun raut wajahnya sontak berubah kala melihat seorang perempuan yang sedang duduk tenang pada sofa di ruang kerjanya seorang diri.

Alis Tara terangkat satu memperhatikan perempuan yang tengah membaca sebuah majalah di ruangan tersebut. Tara masih berada di ambang pintu, menahan pintu itu untuk tetap terbuka. Satu tangannya pun masih berada di dalam saku celananya, "Ada apa andi kesini pagi-pagi sekali bu Zahra?" tanyanya dengan suara tenang dan terdengar begitu dingin. Perempuan yang sudah menyambangi ruangan itu bahkan sebelum dirinya adalah Zahra, perempuan yang sangat ingin ia hindari.

Zahra mengangkat kepalanya, menatap sang pemilik ruangan yang tengah berdiri dengan gagah. Matanya pun beralih menatap pintu yang masih di tahan oleh laki-laki itu, kemudian ia tersenyum simpul. Sepertinya itu sudah menjadi kebiasaan bagi Tara untuk tidak membiarkan pintu tertutup saat ia tengah bersama perempuan di satu ruangan yang sama tanpa siapapun orang yang menemaninya.

"Saya ingin memberikan revisi proposal sesuai arahan bapak. Tidak ada perubahan besar, hanya penyesuaian pada bagian kontrak dan pembagian margin, bukan?" jawab Zahra dengan nada dan senyum ramah.

Tara tidak menanggapi ucapan perempuan itu. Ia tetap bersikap seolah tak mendengar dan melihat Zahra. "Sudah kan?" tanyanya dingin.

Zahra mengangguk, "Ini" ucapnya sambil mengangkat sebuah map yang tadi ia letakan pada meja yang berada di depannya.

"Kalau begitu silahkan keluar" balas Tara dingin. Bahkan laki-laki itu sudah tidak segan-segan mengusir kliennya.

Bukannya bangkit, Zahra malah menyandarkan punggungnya pada sofa sambil bersedekap dada. "Setelah anda membentak dan meninggalkan saya di tengah hujan malam itu, sekarang anda kembali mengusir saya?" balasnya dengan suara yang sama tenangnya dengan Tara.

Laki-laki itu hanya menggendikan bahunya kemudian menjawab dengan acuh "Why not?"

"Inikah attitude seorang CEO dari konglomerat nomor satu di Indonesia?" ucap Zahra disertai tawa kecil di ujung kalimatnya.

Tara langsung mengangguk cepat, "Yah it's me. Saya bisa menjadi orang yang lebih buruk lagi tergantung bagaimana lawan main saya bersikap, bu Zahra"

"Jadi, manfaatkan waktu anda dengan baik selama saya masih berbaik hati. Saya masih berusaha professional sampai sejauh ini adalah hal yang harus anda syukuri" jawabnya terdengar begitu tegas.

Zahra mengangguk-anggukan kepalanya, lalu ia bangkit dari duduknya. Ia berjalan dengan anggun mendekati Tara yang masih berada di ambang pintu. Saat ini mereka sudah saling berhadapan satu sama lain.

"Saya ingin sekalian menjawab ucapan pak Tara saat itu. Jujur saja saya sama sekali tidak membenci Aletta, istri anda. She's really nice, kind, and interesting, that's why you love her so much, right? Dan hal tersebut juga berlaku pada Leo"

"Tapi pak Tara, saya juga tidak suka ketika apa yang saya miliki ternyata tidak sepenuhnya milik saya. Apa salah kalau saya menginginkan posisi Aletta yang begitu di cintai oleh lelakinya? Apa saya salah kalau saya ingin merasa memiliki apa yang Aletta miliki, hanya untuk sekali saja"

Zahra kembali mendekat pada Tara yang terlihat masih mencerna ucapannya. Ia menatap lekat laki-laki di hadapannya itu. "Kalau saya tidak bisa mendapatkan Leo kembali, apa saya boleh berusaha mendekati anda?" ucapnya sambil mengangkat tangan hendak menyentuh wajah tampan laki-laki itu.

Namun belum sempat ia menyentuhnya, Tara sudah lebih dulu bergerak mengahalau dengan cara mencekik leher Zahra tanpa memikirkan siapa orang di hadapannya itu.

"Akh pakh" Zahra terpekik, nafasnya pun tercekat. Ia memberontak menggenggam tangan laki-laki itu dengan kedua tangannya.

Tara menatapnya dengan tatapan bengis. Ia benar-benar tidak pandang bulu kala melawan seseorang yang menjadi ancamannya. Ia tak peduli jika orang itu adalah perempuan sekalipun. "Saya baru saja memperingatkan anda, bukan?"

"P-pakh l-lephas"

Bersamaan dengan itu, Felix baru saja datang. Laki-laki itu sangat terkejut saat melihat Tara tengah mencekik Zahra di ambang pintu dalam ruangannya "Ta, lepas anjing!" ucapnya sambil berusaha melepas tangan Tara.

Tetapi Tara masih tak bergeming meski melihat wajah Zahra yang sudah memucat. Cengkeraman tangannya pun semakin mengerat kala Felix berusaha melerai. Sorot mata Tara menampakan kilatan panas akan sebuah kemarahan. "Saya tidak pernah pandang bulu bu Zahra. Ini peringatan terakhir untuk anda jika ingin perusahaan anda aman" ucapnya sambil menghempas kasar perempuan itu.

"Uhuk uhuk hahh huftt" Zahra langsung terbatuk keras. Ia pun mencoba menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.

Felix merasa kasihan, tapi ia juga tidak berniat membantu. Felix tahu jika Tara sudah seperti itu, maka Zahra lah yang lebih dulu mengibarkan bendera peperangan pada sahabatnya. Tara sendiri sama sekali tidak merasa iba pada perempuan beranak satu itu. Ia malah bersimpati pada angkasa yang entah saat ini berada dimana. Tara bersimpati karena ternyata asa sangat tidak beruntung memiliki kedua orang tua yang sama gilanya.

"Melihat sikap anda yang seperti ini membuat saya tau kenapa anda tidak bisa mendapatkan cinta sesuai dengan apa yang anda mau. Pantas saja cinta laki-laki bajingan itu masih stuck pada istri saya. Poor asa because he has parents like you!"

Zahra meneteskan air matanya. Bukan hanya fisiknya yang sakit, tetapi hatinya pun terasa jauh lebih sakit. Apalagi saat Tara membawa-bawa nama putranya yang masih terlalu kecil untuk mengetahui permasalahan orang tuanya.

"Silahkan keluar dari ruangan saya sekarang juga atau saya cabut kontrak kerjasama kita? Saya tidak peduli jika saya harus merugi demi melepaskan klien gila seperti anda"

Ucapan laki-laki itu sangat menyayat hati. Dirinya ingin sekali mengamuk, namun dalam hati kecilnya ia sadar bahwa dirinya lah yang salah. Percobaannya menggoda laki-laki itu ternyata hanya menjatuhkannya dalam lembah yang begitu dalam. Tara benar-benar tidak seperti kebanyakan laki-laki yang ia temui. Tara hanya ada satu dari sekian ratus juta jiwa laki-laki setia dari godaan yang ada di hadapannya.

Tak bisa Zahra pungkiri, ia masih pun membutuhkan bantuan Tara dalam menyokong brandnya yang masih merintis. Ia tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan ayahnya ini. Maka dari itu, akhirnya ia melangkahkan kaki keluar ruangan dingin itu dengan rasa sakit sekaligus malu.

~BRAK~

Pintu itu langsung di tutup kasar saat dirinya sudah berada di luar ruangan tersebut. Air matanya kembali menetes merutuki kelakuan impulsifnya beberapa saat lalu.

*****

Sedangkan di dalam ruangan itu, Tara sudah melonggarkan dasinya dengan kasar. Tubuhnya merasa panas, bukan karena nafsu, melainkan amarah yang memuncak. Bahkan suhu dingin ruangan itu tidak mampu meredam bara api amarahnya.

"Anjing!" umpatnya kesal.

"Minta resepsionis buat ga biarin dia atau siapapun klien masuk ruangan gue sebelum ada siapa pun disini. Mereka ga ada otaknya sampe ngebiarin orang lain masuk kesini waktu tanpa pendampingan?"

"Kalo disini ada barang berharga atau dokumen rahasia yang gue lupa masukin brangkas, abis itu kita kecolongan, dia mau tanggung jawab? Niat kerja ga sih itu orang bangsat! Cari tau siapa yang biarin dia masuk kesini" ucap Tara menggebu-gebu.

"Ta calm down"

Baru tiga kata yang Felix lontarkan, tetapi sudah membuat Tara sontak menatapnya tajam. "Lo suruh gue tenang?! Di saat kayak gini lo masih bisa minta gue buat tenang? Lo tau ga apa yang dia lakuin?!"

"Dia bilang kalo dia gabisa bikin Leo balik ke dia, tu cewek gila mau deketin gue dan dia hampir nyentuh gue. She's really like a bitch you know?!" ucapnya yang sudah tidak bisa lagi memfilter ucapannya. Inilah Tara yang sebenarnya, ia benar-benar tidak peduli dengan siapa yang ia hadapi jika orang itu sudah mengusik ketenangannya.

"Gimana gue bisa tenang? Gue dateng dan tiba-tiba liat dia di ruangan gue sendiri tanpa ada siapapun. Orang gila mana yan biarin pihak eksternal ada di ruang atasan tertinggi di perusahaannya?"

"Setelah ini lo yang handle semua kerjaan yang berurusan sama dia. Gue masih kasih dia kesempatan karna gue masih inget asa. Gue inget jelas gimana pertama kali gue ketemu asa dan liat senyum dia"

"Let say gue masih kasih sedikit rasa simpati gue because her son. Gue ga mau lagi liat batang tu cewek karna gue ga bisa jamin bisa nahan diri buat ga gebukin dia! Persetan dengan dia seorang cewek or whatever, i don't care!"

Felix hanya bisa menghela nafasnya pelan mendengarkan ucapan Tara yang menggebu-gebu. Sedikit banyaknya, ia bisa merasakan kekesalan laki-laki itu. Untuk saat ini ia hanya akan menuruti perintah Tara sebagai atasannya.

"Biar gue aja yang negor orang yang udah izinin Zahra masuk kesini"

"Yang bener lo negornya, biar dia juga bisa pake otaknya dengan baik"

Felix sudah tidak heran dengan mulut peda Tara jika sedang emosi. Lagi-lagi ia hanya mampu menghela nafasnya pelan sambil berucap "Iya, gue keluar dulu. Mending lo minta pap atau vc bini lo deh biar adem tu otak" ucapnya bukan tanpa alasan.

Felix tahu betul, hanya Aletta yang bisa meredam marahnya laki-laki itu. Mau semarah apapun Tara, pada akhirnya ia akan selalu luluh pada sang istri. Sekacau apapun dia, hanya dengan Aletta lah Tara akan kembali tertata.

"Ga usah lo kasih tau juga gue udah paham apa yang harus gue lakuin" jawab Tara yang sudah terdengar lebih santai dari sebelumnya. Bagai mantra ajaib, nama Aletta saja sudah mampu meredam sedikit demi sedikit amarah sahabatnya itu.

"Yeh anjing dikasih taunya! Semoga anak lo ga nurunin sifat batu dan sombong bapaknya deh, amit-amit" balas Felix sambil terkekeh. Jika Tara sudah sedikit tenang seperti itu, tentu saja Felix tidak akan segan-segan untuk meroastingnya.

"Anak-anak gue, kok lo yang repot bangsat?!"

"Lah gue omnya ege"

"Alah bacot! Cepetan keluar lo gak lo!"

"Sans kali bro" ucapnya kemudian langsung meninggalkan ruangan tersebut.

*****

Warna langit, sudah kembali redup. Tara bergegas membereskan barang-barangnya untuk pulang kerumah. Setelah pagi tadi moodnya di buat hancur karena ulah seseorang, akhirnya ia akan menemui seseorang yang akan mengembalikan moodnya itu. Meski hanya melihat Aletta dari layar ponsel sudah membuat perasaan Tara kembali membaik, rasanya akan sangat berbeda ketika ia bisa memeluk erat tubuh perempuan itu.

Tara belum menceritakan apa yang terjadi pagi ini pada sang istri. Ia masih takut Aletta akan terganggu psikisnya jika mengetahui hal tersebut di saat dirinya tak ada di dekat Aletta. Maka dari itu, Tara berniat memberitahu Aletta secara langsung agar mereka bisa saling mendekap amarah satu sama lain untuk meredamnya.

Langkahnya cepat dan semangat menyusuri tiap lorong gedung. Tetapi wajahnya tetap terlihat datar dan berwibawa. Di tangannya pun bukan hanya menenteng tas kerja, melainkan sesuatu yang sudah sangat ingin ia berikan pada Aletta sejak beberapa hari yang lalu. Namun ia baru ingat untuk membawanya kerumah hari ini.

Saat ia sudah berada di lobi, Tara tidak sengaja melihat salah satu karyawan perempuan tengah berjalan sambil menggandeng seorang anak perempuan yang rambutnya di kuncir dua. Jika di perkirakan, mungkin anak itu baru berusia 3 atau 4 tahun. Entah mengapa saat melihatnya, Tara ingin sekali melihat anak kecil itu menangis.

Tanpa pikir panjang, Tara langsung berlari mendekati orang itu. Tiba-tiba Tara menghadangnya. Tentu saja karyawan itu langsung menganggukkan kepalanya sebagai sapaan.

"Sore pak, ada yang bisa saya bantu?"

"Siapa nama kamu?"

"Saya Tiara dari departemen pemasaran pak"

Tara pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia melirik anak perempuan yang Tiara gandeng. Anak itu membawa sebuah lolipop dan menatap polos pada Tara. "Ini anak kamu? Siapa namanya?" tanyanya to the point.

Perempuan itu terlihat gelagapan mendengar pertanyaan atasannya. Ia sudah takut jika Tara akan memarahinya karena telah membawa anaknya bekerja.

"Tenang saja, saya tidak akan marah selama anak kamu tidak mengacaukan pekerjaan kamu" sela Tara seolah mengetahui isi pikiran Tiara.

"Namanya Anne pak. Mohon maaf sebelumnya pak, hari ini tidak ada yang menjaga anak saya makanya saya bawa dia. Tapi saya pastikan anak saya tidak suka mengacau pak. Dia anak yang baik dan sangat paham kalau saya harus bekerja" jelasnya.

"Saya tidak mempermasalahkan itu. Saya cuma minta sesuatu dari kalian berdua"

Perempuan bernama Tiara itu merasa heran. Orang sekaya itu ingin meminta apa padanya? Tetapi ia tetap mempertahankan ekspresinya agar tidak menyinggung bos galaknya itu.

"Apa ya pak?" tanyanya hati-hati dan tetap sopan.

"Buat anak kamu nangis, saya mau liat dia nangis" jawab Tara sambil tersenyum bersemangat. Sebuah ekspresi yang tidak pernah Tara tunjukkan di depan karyawannya. Tiara masih terheran-heran di buatnya. Menurutnya, saat ini Tara sangat aneh. Mulai dari laki-laki itu mengajaknya bicara untuk hal tidak penting seperti ini saja sudah aneh. Karena dirinya dan seluruh karyawan di perusahaan itu pun tahu jika Tara tidak akan berinteraksi dengan mereka jika bukan karena urusan pekerjaan.

"K-kenapa ya pak?" tanyanya gugup. Pasalnya, masa iya dirinya harus membuat sang putri menangis begitu saja. Apalagi memiliki anak yang anteng di usia toddler adalah sebuah impian bagi para ibu muda.

"Ucapan saya kurang jelas? Saya mau liat anak kamu nangis, sulit?"

Tiara semakin menciut mendengar ucapan atasannya yang terdengar begitu dingin. "T-tapi gimana caranya pak?"

"Loh kok tanya saya? Kan kamu ibunya, harusnya kamu tau apa yang bisa bikin anak kamu nangis"

"Eumm mungkin dengan cara ambil lolipopnya pa-"

~srek~

Belum sempat Tiara menyelesaikan ucapannya. Tara langsung menarik permen lolipop dari tangan mungil gadis kecil itu. Benar saja, dia sudah mencebikkan bibirnya melengkung kebawah menahan tangis.

"Mama" panggil Anne lirih menatap ibunya. Jika orang lain, mungkin Tiara sudah menjambaknya karena membuat sang putri menangis. Namun yang di hadapannya ini adalah sang atasan. Mana mungkin Tiara berani melakukan itu padanya.

Berbeda dengan reaksi ibu dan anak itu, Tara malah tertawa kecil melihat Anne yang begitu menggemaskan saat menahan tangisnya. Ia langsung kembalikan lolipop itu pada Anne hingga membuat senyum di wajah Anne kembali terbit.

Tetapi, Tara kembali menarik lolipop tersebut sebelum Anne benar-benar merasa senang. "Lolipopnya buat om ya, thank you Anne" ucapnya berusaha meledek anak cantik itu.

Dan kali ini, Tara benar-benar membuat Anne menangis. "Huaaa mama, pelmen Anne di a-ambil om j-jahat" ucap Anne di sela isak tangisnya.

"Hahahah" bukannya merasa bersalah, Tara malah mentertawakan Anne yang menangis meraung-raung.

Hal tersebut tentunya membuat orang-orang di sekitar memperhatikan kebisingan yang berasal dari suara tangis seorang anak perempuan. Termasuk Felix yang baru saja datang ke lobi. Felix pun sudah melihat apa yang Tara lakukan sejak tadi pada gadis kecil itu. Ia segera berlari kecil menghampiri Tara.

"Ta ngapain anjing?!" bisik Felix sepelan mungkin saat mengatakan kata kasar.

"Mau liat dia nangis" jawab Tara jujur dan apa adanya.

Felix sempat melotot tak percaya dengan keinginan aneh Tara. "Apa-apaan sih lo? Balikin ga! Liat noh orang-orang udah pada ngeliatin lo. Malu-maluin aja" ucapnya sambil melirik sekitar. Padahal Tara yang melakukan, tetapi malah Felix yang menahan rasa malunya.

Tara pun menatap sekelilingnya dengan tatapan tajam, "Ngapain kalian liat-liat?" ucapnya yang entah mengapa terdengar seperti anak kecil yang tengah menantang untuk bertarung, tetapi tetap mampu membuat mereka takut. Akhirnya sekumpulan orang yang menontonnya tadi pun, langsung bergegas pergi.

Setelahnya, Tara berjongkok di hadapannya Anne "Nih om balikin. Om ga jahat tau. Om bisa beliin kamu sama pabrik-pabriknya kalo om mau" ucapnya sambil memberikan lolipop itu kembali. Bahkan tanpa sungkan Tara mengusap pucuk kepalanya.

~dugh~

Felix langsung menendang pelan kaki sahabatnya. Ia sudah tidak peduli dengan apa yang ia lakukan pada Tara di depan karyawannya. Biar saja hancur sekalian reputasi Tara, daripada dia berbicara macam-macam yang membuat anak kecil mempercayai ucapannya.

Tara berdecak sebal. Kepalanya terangkat, kemudian matanya memicing menatap Felix. "Ck! Ganggu aja lo bangs--wat. Lepwas gak!" ucap Tara teredam karena Felix langsung membekap mulutnya kala Tara hendak mengeluarkan kata-kata keramat di hadapan anak kecil.

"Maaf yaa, nanti kamu hubungi saya aja buat ganti lolipop anak kamu lebih banyak" ucap Felix buru-buru membawa Tara pergi dari sana sambil membekap mulut laki-laki itu.

Tiara yang masih bingung dengan situasi tersebut pun hanya mematung. Ia menatap dua laki-laki itu heran. Dari kejauhan, ia masih dapat melihat Tara yang terus berontak saat Felix menariknya. Ia pun terkekeh saat menatap pemandangan itu.

Orang-orang pun sudah tahu hubungan persahabatan mereka berdua. Jadi tak ayal jika Felix bisa sangat berani dengan atasannya itu. Di saat petinggi-petinggi yang usianya jauh di atas Tara saja tidak berani dengannya, tetapi Felix dengan santai mengatai dan menendang laki-laki galak sekaligus dingin itu.

Lagi-lagi, hal tersebut adalah sebuah pemandangan yang tidak pernah di lihat oleh para karyawan di Noblestone Enterprises. Mereka tidak pernah melihat atasannya bertingkah seperti anak kecil. Yap, menurut mereka yang menyaksikan kejadian sore ini sudah menganggap bahwa apa yang Tara lakukan seperti anak kecil yang jahil dengan temannya.

Di satu sisi, Felix yang membawa Tara ke arah basement sedang mengomelinya tak henti-henti. "Kalo anak lo di kerjain gitu sama orang lain gimana? Pasti lo ga terima kan? Pasti lo amuk orang tuanya kan? Banyak banget tingkah lo hari ini anjir!"

~srek~

Akhirnya setelah beberapa saat Tara di bekap, ia bisa melepas tangan itu.

~plak~

Kepala Felix pun langsung menjadi sasaran tamparannya.

"Tangan lo bau tai bangsat! Lo abis cebok cuci tangan ga sih?!" ucap Tara sambil menutup hidungnya.

Seingatnya, Felix belum buang air besar hari ini. Dan tidak mungkin juga dirinya cebok dengan tangan kanan. Felix pun langsung mencium tangannya untuk mengkonfirmasi kebenaran dari ucapan Tara.

"Tangan gue ga bau sama sekali ya anjing!" ucapnya tak terima karena merasa di dzolimi.

Tara masih menutup hidungnya. Kepalanya sudah geleng-geleng tak menyangka. "Percuma lo blasteran punya idung gede dan mancung tapi dalemnya mampet. Kata gue mending lo periksa kerumah sakit deh. Takut sistem pernafasan lo hang bermasalah" ucapnya santai.

Sementara Felix sudah tidak bisa santai. Felix sudah tidak bisa membedakan apakah Tara sedang membercandainya atau dua memang serius dengan ucapannya. Tetapi jika laki-laki itu serius dengan ucapannya, masa iya tangan Felix bau kotoran?

"Lo ga usah ngadi-ngadi ya, pernafasan gue normal-normal aja tuh" ucap Felix masih berusaha membela diri.

Tara langsung menatapnya jengah, "Susah deh ngomong sama penjajah, maunya menang terus" ucapnya malas sambil kembali membawa-bawa sejarah. "Mending gue balik daripada ketularan lo bau tai, bye" lanjutnya seraya berjalan meninggalkan Felix begitu saja dengan misteri bau tai di tangannya.

-to be continued-
•••

Kalian mau bilang apa ke Zahra dan Tara? Felix juga deh, kasian ga ada yg merhatiin dia wkwkwk

Thank you for reading all ❤️

Continue Reading

You'll Also Like

37.5K 2.4K 48
Dr. Ardian Ramadhya, ahli saraf paling disegani di RS Bina Medika, membuka mata tanpa ekspresi. Ia tak pernah menunda alarm, tak pernah bangun terlam...
14.9K 761 13
#FAKESITUATION!# Cerita ini dibuat murni untuk menghibur, tidak ada niat untuk menyinggung pihak manapun. Kalau kalian suka, silahkan baca dan kalau...
25.5K 3K 56
Sequel of Married A Gangster.
131K 5.5K 30
"pak, jangan kerja terus napa ga cape apa lihat berkas terus" "bukan urusan kamu, kamu saya gaji disini buat kerja bukan main²" "siap salah pak" diko...
Wattpad App - Unlock exclusive features