Crash With Me | LEOWON

By flautc

41.4K 3.2K 923

Greyson High School hanya ada dua jenis manusia, mereka yang takut pada Blackveros, atau mereka yang diam-dia... More

โFirst Impact.โž
โRed Eyes and Ripped Rules.โž
โFault Lines.โž
โWrong Place, Right Time.โž
โSilent Collision.โž
โCrossroads.โž
โThe Chameleon's Gambit.โž
โDominance Of Greyson's.โž
โEdge of Chaos.โž
โResonace Arrival.โž
โColide Course.โž
โRequiem Before the Storm.โž
โGhosts in the Rearview.โž
โThe Silver Heir.โž
โA Mask Beneath the Howl.โž
โFractured Truth.โž
โHollow Trigger.โž
โThrough The Veinlight.โž
โBlack Horse.โž
โDusk Remnant.โž
โFault Lines.โž
โStill Breathing.โž
โNo Sirens Tonight, Ash After Impact.โž

โCrash With Me.โž

1.2K 118 19
By flautc



‎▾ㅤ✪ ㅤ flautc Multiverse -



♞♜ .

ⓘ CHAPTER 22.

• [ 2♡ ] + [ 10♡ ] + [ 2♢ ] •

‎‎

Sangwon berlari.

Napasnya tersengal, kaki menapak cepat di lantai beton yang dingin dan retak.

Di belakangnya, langkah Heeseung terdengar berat, setiap ayunan pisau tajamnya memantulkan cahaya samar dari lampu yang remang. Rasanya seperti dikejar bayangan sendiri, seperti monster yang tak pernah lelah.

Sangwon membelok terlalu cepat di lorong sempit gedung tua itu, menabrak sesuatu. Tubuhnya tersentak, kehilangan keseimbangan. Sosok itu muncul di hadapannya semua hitam, tudung menutupi wajahnya, bayangan yang gelap di tengah cahaya remang.

"Ah... siapa...?" Sangwon terengah, tangannya terangkat sedikit, panik menyeruak.

Sosok itu diam, tidak bergerak terlalu cepat, hanya menatap.

Tapi aura yang terpancar dari tubuhnya cukup untuk membuat Sangwon berhenti. Jantungnya berdegup kencang, paru-parunya terasa tercekik.

Sangwon menyipitkan mata, berusaha mengenali bayangan itu. Tapi ketika sosok itu melangkah sedikit maju, sosok dominan yang familiar, postur ramping tapi kuat, wajahnya tersembunyi di tudung, Sangwon seperti tersengat petir.

"Kak... kakak?" Suaranya pecah, hampir berbisik.

Tanpa pikir panjang Sangwon bergerak maju dan memeluk sosok itu. Tubuhnya gemetar, napasnya berantakan, dan ia menempelkan wajahnya ke dada yang hangat dan kuat itu.

Sosok dominan itu tidak berkata apa-apa.

Tidak satu kata pun.

Hanya membalas pelukan itu, mengeratkan dirinya hingga tangan Sangwon terasa terlingkupi di pinggang rampingnya.

Sangwon menutup matanya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

"Ini bukan mimpi kan?"

Pikiran itu berputar liar di kepala Sangwon, antara lega dan takut. Apakah ini nyata atau mimpi? Tapi rasa hangat itu, dada bidang yang menekan tubuhnya, napas yang menenangkan, semua terasa... nyata.

Lalu, tiba-tiba.

Bibir itu menempel di bibir Sangwon.

Cepat, tiba-tiba, penuh kepastian.

Sangwon tersentak, matanya membelalak, tapi refleksnya membalas. Lidah yang halus, hangat, membakar tiap saraf di wajahnya, membuat jantungnya seakan ingin meledak.

"Masih mimpi... atau nyata sekarang, hm?" suara itu berbisik pelan, dingin tapi menggetarkan.

Sangwon tidak sempat menjawab.

Kepalanya penuh, pikiran berantakan, tapi hatinya mengamuk. Refleks, ia memukul dada bidang itu, menutupi wajahnya di ceruk leher. Sosok dominan itu tersentak sedikit, tapi diam, menatap Sangwon dengan mata yang menahan senyum tipis.

Wajah Sangwon panas.

Pipi merah seperti mawar, jantungnya tercekik, tapi ada sensasi manis yang aneh. Sosok itu menahan pelukan, lalu secara perlahan melepaskan.

Sangwon menarik napas, dada berdebar, otot leher menegang. Ia menatap sosok di depannya, pandangan gemetar tapi penuh harap.

"Gua... gua nggak percaya lo nyata kak."

Sosok itu membalas tatapannya dengan ketenangan tajam, seakan mengatakan, lo bisa hancur sekarang, tapi kita masih di sini.

Sangwon menelan ludah.

"Pernah dengar pepatah... lebih baik hancur bersamamu daripada utuh tanpamu?" Suaranya pelan tapi berat, emosinya tercurah di setiap kata.

Sangwon itu tidak menjawab, hanya mencondongkan badan sedikit, jarak mereka menyempit. Mata mereka bertemu, ketegangan dan candu bercampur, rasa takut dan kelegaan menyatu dalam satu detik yang terasa abadi.

Rasa dingin dari gedung tua itu tidak lagi terasa. Yang ada hanya detak jantung Sangwon, napas yang terburu, dan sosok dominan di depannya. Rasanya dunia bisa runtuh kapan saja, tapi di sini, di pelukan ini, semuanya terasa terhenti, meski sebentar.

Mereka melepaskan pelukan secara perlahan, tapi ketegangan tidak hilang. Sangwon tetap menatap, takut kehilangan, takut ini semua hanyalah ilusi. Sosok itu tetap diam, mengawasinya, memberikan ketenangan yang aneh.

"Crash with me." Sangwon akhirnya berbisik, napasnya bergetar.

"Stay with me, please?"

Sosok itu menatap dalam, seakan menelan kata-kata itu, lalu memalingkan kepala sedikit, menyiapkan diri untuk menghadapi apa pun yang menunggu di luar gelap labirin itu.

Lorong tua, bayangan panjang, dan langkah-langkah berat Heeseung masih terdengar, tapi untuk sesaat, Sangwon dan sosok dominan itu berhenti di dunia sendiri, menahan detik yang terasa rapuh tapi membakar.



• ✪ •

Siluet hitam itu muncul dari ujung lorong seperti noda yang merambat di dinding lembap.

Posturnya tinggi, ramping, terlalu tenang untuk seseorang yang membawa tiga kemungkinan kematian sekaligus. Di tangan kanan, belati berkilat memantulkan cahaya redup lampu yang berkedip. Di kiri, pisau lipat terbuka setengah, seolah belum memutuskan perannya. Dan di balik mantel hitamnya, pistol terselip santai, terlalu santai untuk seseorang yang niatnya jelas.

Langkahnya pelan, berirama, seperti seseorang yang sedang menikmati pertunjukan.

Suaranya menyusup di antara debu dan bau besi tua.

"Panggung sempit, cahaya buruk, tapi dramanya hidup," katanya ringan, nyaris jenaka.

"Dua kekasih yang saling menemukan di tengah reruntuhan, nyaris seperti puisi yang ditulis pakai darah."

Sangwon membeku.

Napasnya tercekat.

Matanya bergerak liar, dari belati, pisau, lalu ke siluet wajah yang tertutup bayangan.

"K-kak... Heeseung?"

Nama itu jatuh seperti pecahan kaca.

Dalam sepersekian detik, Leo bergerak.

Tubuh kekarnya langsung bergeser ke depan, satu langkah penuh niat, bahunya menabrak ruang kosong seolah-olah ia bisa mendorong ancaman itu mundur hanya dengan keberadaannya.

Tangannya mencengkeram pergelangan Sangwon dan menariknya ke belakang punggungnya, menutupi tubuh kecil itu sepenuhnya. Punggung Leo menegang, tulang belikatnya jelas di balik pakaian hitam yang masih menyimpan bekas luka dan perban samar.

"Jangan keluar dari belakang gua," ucapnya rendah, tanpa menoleh, "apa pun yang lo liat nanti."

Siluet hitam itu tertawa kecil. Bukan tawa keras, lebih seperti dengusan puas.

"Masih hidup," katanya, nada suaranya berubah tajam, penuh racun, "bahkan berdiri tegak, padahal aspal panas Rift harusnya cukup buat ngeringkus bangkai."

"Jangan berani liatin dia," suara Leo rendah, padat, tanpa getar. "Lewatin gua dulu sebelum tangan kotor lo nyentuh dia."

Belati di tangannya berputar pelan.

"Gua nguburin orang tua gua dengan tangan kosong, sialan." lanjutnya, suaranya kini dingin, berlapis dendam.

"Dan tiap malam, wajah lo yang jadi nisan di kepala gua."

Leo menghela napas berat.

Dadanya naik turun tidak stabil. Rasa nyeri dari tulang rusuk yang retak, bahu yang belum pulih, dan kulit yang masih seperti terbakar aspal panas, semuanya berteriak bersamaan. Tapi kakinya tetap menapak.

Ia menyeringai tipis.

"Mau balas dendam?" katanya, suaranya serak tapi tegas.

"Lakuin sekarang, brengsek, gausah banyak omong kosong."

Matanya mengunci siluet itu.

"Biar lo sadar siapa yang pengecut di sini sebenarnya."

Wajah di balik bayangan itu mengeras.

Dalam sekejap, segalanya pecah.

Heeseung menerjang lebih dulu, belatinya meluncur cepat ke arah perut Leo. Leo menangkis dengan lengan, baja beradu baja, suara nyaring memantul di lorong sempit.

Tendangan menyusul, menghantam sisi tubuh Leo tepat di rusuk yang belum pulih. Leo terhuyung satu langkah, rahangnya mengeras menahan erangan.

Pisau lipat menyambar, nyaris mengoyak pipinya. Leo membalas dengan pukulan telak ke rahang lawan, cukup keras untuk membuat siluet itu terpental ke dinding, tapi tidak cukup untuk menjatuhkannya.

Heeseung tertawa lagi, kini lebih liar.

"Masih bisa mukul?" ejeknya.

"Atau lo cuma sok kuat berdiri di depan bocah itu?"

Pistol terangkat setengah, ancaman jelas.

Leo melirik sekilas ke belakang. Sangwon berdiri kaku, matanya melebar, tubuhnya gemetar.

"Lari," bentak Leo tanpa menoleh, "Sekarang!"

"Tapi-"

"Sekarang, Sangwon!" Nada itu bukan permintaan.

Itu perintah yang dibangun dari darah dan ketakutan.

Sangwon menelan ludah.

Ia mengerti.

Leo menahan ini semua bukan untuk menang, tapi untuk membuka jalan. Dengan napas terputus-putus, Sangwon berbalik dan berlari, langkahnya menggema menjauh.

Heeseung menggeram, matanya mengikuti sosok kecil itu.

"Oh tidak," katanya pelan, "yang kecil itu kunci lo."

Ia hendak mengejar, tapi Leo menerjang lebih dulu.

Bahunya menghantam dada Heeseung, mendorongnya keras ke dinding. Belati terlepas dan jatuh berdenting ke lantai. Pisau lipat mengoyak lengan Leo, darah hangat langsung merembes, tapi Leo tidak mundur.

Mereka saling menghantam seperti dua bangunan runtuh yang saling bertabrakan.

Tinju, siku, lutut, semua dilepas tanpa ritme indah, hanya insting dan kebencian. Leo terjatuh sekali, lututnya menghantam lantai, tapi ia bangkit lagi, napasnya berat, pandangannya berkunang.

Heeseung menendangnya dari samping, membuat Leo terhempas ke rak besi tua. Darah menetes dari pelipisnya.

"Keluarga gua mati karena lo," desis Heeseung, mendekat.

"Dan lo masih berani berdiri sekarang."

Leo tersenyum berdarah.

"Dan lo masih gagal ngebunuh gua," balasnya, terengah.

"Itu yang bikin lo gila."

Pisau lipat kembali terangkat.

Leo menangkap pergelangan tangan itu, ototnya menjerit protes.

Tinju Leo menghantam wajah Heeseung, keras, tanpa ragu.

Tapi Heeseung membalas dengan lutut ke perut, pisau lipat kembali terbuka, menggores bahu Leo. Rasa perih menjalar, tapi Leo tidak mundur.

"Sadar sialan! Sebelum gua lupa Heeseung yang gua kenal sekarang udah mati." desis Leo saat belati nyaris menembus lehernya.

"Mati sejak lama." balas Heeseung sambil menekan, matanya menyala penuh dendam. "Gua bakal hancurin lo pelan-pelan."

Leo menghantam dinding dengan tubuh Heeseung, retakan menjalar di beton.

"Lo mau neraka?" Senyumnya kejam.

"Gua temenin."

Mereka bergerak seperti dua orang yang sudah hafal pola satu sama lain,

Mereka saling dorong, wajah berjarak satu napas, dua monster dengan bahasa yang sama.

Pertarungan itu seperti domino yang disusun rapi oleh dua orang yang saling memahami setiap pukulan balasan, setiap celah dimanfaatkan hingga satu kesalahan kecil mengancam meruntuhkan segalanya.

Di kejauhan, langkah Sangwon menghilang.

Dan Leo tahu, apa pun yang terjadi setelah ini, ia sudah memilih.

• ✪ •

Sangwon berlari.

Langkahnya goyah, napasnya tercekik panik, tapi ia tahu Leo sedang menahan neraka supaya dia bisa keluar hidup-hidup.

Nama Bangchan berputar di kepalanya seperti alarm yang tak mau diam.

Di belakangnya, suara perkelahian berubah jadi simfoni brutal.

Napasnya tersedak panik, paru-parunya seperti diperas dari dalam, tapi kepalanya jernih dalam satu hal.

Leo.

Sedang menahan neraka supaya ia bisa keluar hidup-hidup.

Nama Bangchan berputar di kepalanya seperti alarm yang tak mau diam.

Bangchan.

Bangchan.

Bangchan.

Di belakangnya, suara perkelahian berubah jadi simfoni brutal. Dentuman tubuh ke dinding, logam beradu, desahan sakit yang ditahan paksa.

Sangwon tidak menoleh. Kalau ia menoleh, kakinya akan berhenti. Kalau ia berhenti, semua ini sia-sia.

Lorong bercabang.

Tangga darurat.

Pintu besi setengah terbuka.

Ia memilih insting.

Di kejauhan, gerbang utama gedung tua itu meledak dalam kekacauan. Beberapa anak Wolf terlihat baku hantam dengan pria-pria berseragam hitam. Jean berdiri di tengahnya, rahangnya mengeras, darah mengalir dari pelipisnya saat ia menahan satu orang suruhan Yeonjun dengan kunci lengan brutal.

Sangwon tidak ikut campur.

Ia memanfaatkan celah.

Di sisi kanan bangunan, pintu servis terbuka sedikit. Dari dalam, terdengar dua suara saling beradu nada tinggi, emosi tajam, seperti dua orang yang saling menggenggam tenggorokan dengan kata-kata.

Sangwon berhenti mendadak.

Ia menunduk, matanya menangkap batang logam besi tergeletak di lantai, karatan, berat, dingin.

Tangannya gemetar saat menggenggamnya, tapi ia tetap mengangkatnya.

Tidak ada waktu untuk ragu.

Ia melangkah pelan.

Setiap napas ditahan.

Lalu ia mendorong pintu itu.

Ruangan itu remang.

Bau obat, darah, dan logam menyatu.

Di tengah ruangan terlihat sebuah kursi roda.

Sosok pria tergeletak lemas di atasnya, kepala terkulai, tubuhnya terlalu diam untuk seseorang yang seharusnya hidup.

"Kak Chan," suara Sangwon pecah, hampir tidak keluar.

Kepala itu terangkat perlahan. Wajah pucat, mata cekung, bibir kering. Tapi mata itu mata itu mengenalnya.

"Sangwon," suara Bangchan serak, hampir seperti bisikan dari dasar kubur, "awas-!"

SRETT.

Terlambat.

Tubuh Sangwon ditarik keras ke belakang.

Lengan kuat melilit lehernya, pisau lipat dingin menempel tepat di kulit tenggorokannya. Napasnya tersedak, batang besi jatuh berdenting ke lantai.

"Ketemu lagi," suara itu rendah, nyaris ceria, "keluarga kecil yang menyentuh."

Sangwon menegang.

Sosok bersurai maroon itu.

Bau darah dan besi.

Matanya bergerak cepat, dan jantungnya seperti diremas saat melihat lantai di samping kursi roda. Seseorang tergeletak di sana, tubuhnya penuh luka. Memar biru dan merah tercetak jelas di kulitnya, bibirnya pecah, tangannya terkulai tak berdaya.

"Ricky..." napas Sangwon gemetar.

"Masih hidup," Yeonjun terkekeh, menekan pisau sedikit lebih dekat, "entah kenapa kalian susah mati."

Sangwon melawan.

"Lepasin gua, sialan."

Sikutnya menghantam perut Yeonjun, tumitnya menginjak kaki pria itu. Tapi cengkeraman di lehernya menguat. Dunia menggelap di tepi penglihatannya.

"Wow..."

"Gua ngurusin lo selama ini, cuma ini doang balesan lo? Dasar bedebah kecil."

"Jangan bodoh," bisik Yeonjun.

"Ini permainan dua orang yang saling ingin menyelamatkan, tapi akhirnya terjebak bersama."

Bangchan menggerakkan kursi rodanya setengah mati.

Tangannya gemetar di roda, tubuhnya jelas belum pulih, napasnya terputus-putus.

"Lepasin adik gua," katanya, suaranya lemah tapi penuh ancaman.

"Sentuh dia sedikit lagi, dan gua pastiin hidup lo berakhir dengan cara paling kotor."

Yeonjun tertawa, keras, puas.

"Ancaman dari orang setengah mati," katanya, lalu pisau itu bergeser.

"Atau gini aja. Lo bunuh diri sekarang, atau adik lo mati di tangan gua."

Sangwon membeku.

Bangchan menegang.

"Gua ga akan nurut sama bajingan kayak lo," Bangchan mendesis.

"Dan kalau lo pikir gua takut mati, berarti lo gak kenal gua."

Di pojok ruangan, Sangwon melihat sesuatu.

Seseorang tergeletak dengan kepala tertutup kain tebal. Tubuh pria tak bergerak seperti seseorang yang tengah kehilangan kesadarannya. Namun terlihat dadanya naik turun pelan yang menandakan ia masih hidup.

Perhatian Yeonjun teralihkan sesaat.

Ia tertawa lagi, menikmati konflik ini seperti tontonan murahan.

Kesempatan itu, sekecil apa pun.

Itu cukup.

Sangwon menoleh cepat dan menggigit dengan sangat kuat tanpa ragu. Giginya menancap di lengan Yeonjun sampai ia mencium rasa besi.

"BANGSAT-!"

Cengkeraman itu longgar sesaat.

Sangwon bergerak refleks.

Tangannya meraih batang besi di lantai, mengangkatnya dengan seluruh sisa tenaga, lalu menghantamkannya ke kepala Yeonjun.

Benturan tumpul.

Yeonjun meringis, terhuyung, darah mengalir dari pelipisnya.

Sangwon tidak menunggu.

Ia berlutut di sisi Ricky, tangannya gemetar menyentuh nadi lehernya.

"Kak, dia masih hidup," bisiknya lega, hampir menangis.

Ia menarik tubuh Ricky, melingkarkan lengan kakaknya ke lehernya, membopongnya dengan susah payah. Beratnya nyaris membuat lututnya menyerah.

Ia menoleh ke Bangchan. "Kak-"

"Gua bisa sendiri," Bangchan memotong, napasnya berat.

"Kita harus keluar sekarang."

Bangchan memutar roda kursinya.

Gerakannya kaku, jelas menyakitkan, tapi ia memaksa tubuhnya yang setengah mati untuk bergerak.

Sangwon melirik sekali lagi ke pria berkerudung kain di pojok ruangan, dadanya sesak. Ada dorongan kuat untuk menghampiri.

"Maaf," gumamnya lirih, kepada siapa pun itu.

Di belakang mereka, Yeonjun bangkit dengan tawa rendah yang mengerikan.

"Lari," katanya.

"Gua suka ngejar."

Langkah kaki dan teriakan terdengar mendekat.

Orang-orang Yeonjun.

Sangwon mempercepat langkah, menyeret Ricky, bahunya terbakar sakit. Bangchan memacu kursi rodanya melewati lorong sempit.

Di belakang, bayangan kematian bergerak cepat.

Kejar-kejaran itu dimulai.

Dan Sangwon tahu selama bajingan bersurai maroon itu masih bernapas, tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar aman.

• ✪ •

Tubuh mereka beradu di lorong sempit yang remuk.

Dinding retak.

Lampu berkedip.

Bau darah semakin kental.

Leo menahan satu tusukan, lengan kirinya robek, panas menjalar sampai bahu. Heeseung tidak berhenti. Matanya kosong tapi hidup hidup oleh sesuatu yang lebih gelap dari sekadar marah.

"Udah lama," suara Heeseung berat, napasnya berbenturan dengan napas Leo, "lo inget meja tua itu?"

Sikut Heeseung menghantam rahang Leo.

Leo terhuyung, tapi bertahan.

"Meja tempat kita buka kartu," lanjutnya, senyum miring tercetak di wajah berdarah itu, "bukan buat menang, tapi buat lihat siapa yang paling berdarah."

Heeseung menendang lutut Leo.

Leo jatuh setengah berlutut.

"Kita buka sekarang," katanya pelan, nyaris khidmat

"Tanpa meja, tanpa lilin, cuma tulang dan dosa."

Pukulan pertama dilepas.

Dalam benturan itu, seolah udara terbelah.

Ace of Hearts.

Dalam narasi, kartu itu tidak jatuh ke lantai. Ia muncul di antara mereka, merah pekat, berdetak seperti jantung.

Hati.

Cinta.

Dan kehilangan yang paling kejam.

"Nyokap gua mati," suara Heeseung bergetar, tapi senyumnya tetap ada, "di malam balapan lo, di tikungan sialan itu."

Pisau lipat menggores perut Leo. Tidak dalam, tapi cukup untuk mengingatkan sakit.

"Buna Jeya, Nyokap gua." Heeseung menyebut nama itu dengan getir.

"Dia cuma mau pulang. Lo datang kayak iblis, rem lo ga sempat hidup, dan tubuhnya mental kayak kartu rusak."

Leo terdiam sesaat.

Pukulan berikutnya tidak ia balas.

Ace of Hearts dalam maknanya, bukan sekadar kematian ia adalah cinta yang direnggut tanpa izin.

"Lo bahkan manggil namanya," Heeseung mendesis, "dan sejak itu, setiap napas gua isinya darah."

Leo akhirnya bicara, suaranya serak.

"Gua ingat," katanya, napas berat, "dan gua bawa itu tiap hari."

Heeseung tertawa pendek. "Belum cukup."

Ia menyerang lagi.

Benturan berikutnya lebih keras.

Kepala Leo menghantam pilar beton seakan dunia berputar.

King of Diamonds.

Wajik.

Harta.

Kuasa.

Keserakahan yang disembah seperti Dewa.

"Om Adrian," Heeseung meludah nama itu.

"Bokap lo. Bajingan itu."

Leo menegakkan tubuhnya, darah menetes dari pelipis.

"Dan Bokap gua," lanjut Heeseung.

"Om Harvey?" Tanya Leo.

Pukulan menghantam dada Leo.

"Perusahaan gua tenggelam bukan karena lemah," katanya.

"Tapi karena dijerat."

King of Diamonds bersinar dingin.

Kartu ini bukan soal uang, tapi tentang bagaimana nilai manusia diukur dengan neraca.

"Di saat kami jatuh," suara Heeseung meninggi.

"Keluarga lo nonton dari balkon."

Leo menahan pisau dengan tangan kosong. Darah mengalir di sela jarinya.

"Adrian gak nyentuh satu sen pun," katanya rendah.

"Dan itu kesalahan terbesarnya." Heeseung menggeram.

"Kartu kedua terbuka. Lo bahkan masih berani berdiri dihadapan gua?" Ia menghantam lagi.

Benturan ketiga seperti runtuhnya langit-langit.

Queen of Clubs.

Keriting.

Keluarga.

Akar yang seharusnya menguatkan, tapi justru menjerat.

Heeseung terhenti sesaat, tangannya gemetar.

"Gua pulang," katanya lirih.

"Setelah kita menang tanding basket tahun itu. Saat kita berhasil membuat nama Greyson disorak."

Leo menatapnya.

Untuk pertama kalinya, tidak menyerang.

"Dan gua ketemu Bokap gua," lanjut Heeseung, suaranya pecah.

"Dia bunuh diri dengan cara menggantungkan dirinya di kantornya. Meja yang sama tempat dia tanda tangan utang."

Queen of Clubs dalam narasi, berderak.

Ia bukan ratu.

Ia janda dari harapan.

"Semua hilang," Heeseung berteriak, lalu menghantam Leo bertubi-tubi, "istri, martabat, hidup."

Leo terjatuh, tapi bangkit lagi.

"Gua ada di sana malam itu," katanya pelan, "dan gua juga kehilangan."

Heeseung berhenti.

Matanya merah.

"Lo punya segalanya," katanya.

"Keluarga, nama, masa depan."

Leo tersenyum pahit.

"Dan gua kehilangan semuanya satu-satu."

Heeseung menjerit, lalu membuka kartu terakhir dengan cara paling kejam menusukkan pisau ke bahu Leo.

Ten of Spades.

Sekop.

Kematian.

Akhir yang ditarik perlahan, bukan dijatuhkan.

"Keluarga lo," kata Heeseung.

"Lanjut hidup."

Leo menahan jeritan, mencabut pisau itu dengan gigi terkatup.

"Mereka... Ah bajingan bisa-bisanya masih tertawa," lanjutnya.

"Sementara gua ngubur dua nama sendirian."

Ten of Spades bukan akhir cepat.

Ia kematian yang dipaksa menunggu.

Darah mengalir.

Dua tubuh terengah, saling menatap.

Leo akhirnya melangkah maju. Bukan menyerang mendekat.

"Lo mau balas dendam kan?" katanya, suara rendah tapi tegas, "lakuin ke gua sekarang, katanya mau bunuh gua? Gua udah survival kematian sekali, gua rasa gak seburuk itu."

Heeseung mengangkat senjata.

Tangannya gemetar.

"Biar lo sadar," lanjut Leo, mendekat meski terluka.

"Siapa yang paling tolol di sini sebenarnya."

Heeseung tertawa.

Tawa pecah, gila.

"Kartu gua udah kebuka semua," katanya.

"Sekarang giliran lo mati di meja yang sama."

Mereka menghantam satu sama lain lagi.

Bukan seperti musuh.

Tapi seperti dua orang yang paham bahwa satu kesalahan saja, dan seluruh domino runtuh.

Dan di balik semua itu, Leo tahu satu hal.

Heeseung masih hidup di dalam sana.

Tapi dendamnya sedang membunuhnya perlahan.


Tinju Leo menghantam dinding, meleset tipis dari kepala Heeseung, bahunya bergetar, napasnya berat, panas di kulitnya kembali mengingatkan pada aspal Rift yang belum sepenuhnya pergi, tubuh ini belum pulih, tapi kebenaran tidak menunggu badan yang siap.

Heeseung tertawa miring, darah di sudut bibirnya pecah, matanya masih menyala oleh dendam.

"Masih mau ceramah?" katanya, langkahnya maju, belati masih di tangan, "habisin aja, lo paling jago nyakitin."

Leo ikut tertawa, pendek, serak, miris, seperti orang yang baru sadar betapa rusaknya hidup mereka berdua.

"Lucu ya," katanya sambil menghapus darah dengan punggung tangan, "jiwa udah kayak satu orang yang sama, tapi ujungnya saling bunuh."

Mereka saling menerjang lagi, bahu bertabrakan, lutut menghantam perut, belati menggores kulit Leo, tapi ia tetap berdiri, dan di saat itu, kartu miliknya terbuka.

Bukan kartu Heeseung.

Seven of Diamonds.

Wajik, bukan soal kekayaan, tapi hutang yang beranak pinak, jebakan yang disusun oleh tangan sendiri.

"Nyokap lo," Leo membuka suara, nadanya tenang tapi tajam, sambil mendorong Heeseung ke pilar beton.

"Gak mati karena gua, gak mati karena gua yang nabrak saat balapan."

Heeseung menjerit, marah, belatinya menusuk udara.

"Jangan bawa Nyokap gua, Sialan!"

Leo menahan pergelangan tangan itu, ototnya bergetar.

"Nyokap lo mau mati," katanya, pelan, faktual, kejam tanpa teriak.

"Bukan karena gua, tapi karena Bokap lo. Dan itu faktanya."

Seven of Diamonds berdenyut maknanya jelas tentang hutang, keserakahan, kebangkrutan yang ditutup rapat.

"Bokap lo," lanjut Leo, mendorong lebih keras.

"Dia Harvey manusia paling rakus, serakah, hutang di mana-mana, perusahaan hancur, dan waktu dan beraninya dia datang ke Bokap gua."

Heeseung terdiam setengah detik, cukup untuk Leo memukul rahangnya, kartu itu pecah di udara.

Leo membuka lagi.

Jack of Clubs.

Keriting adalah pilihan buruk, tindakan yang terlihat kuat tapi berujung menjerat diri sendiri.

"Bokap gua," kata Leo, napasnya naik turun.

"Gak sanggup bantu lagi, bukan karena gak mau, tapi karena kalau dipaksa, semuanya tenggelam secara bersamaan."

Heeseung tertawa kasar, penuh ludah dan darah.

"Alasan pengecut."

Leo menghantam balik, suara tulang bertemu tulang.

"Lo gak ada bedanya sama Bokap lo, Harvey gak nerima," lanjut Leo, tak berhenti.

"Dia mau rebut milik Bokap gua, mau hancurin rumah tangga Bokap gua, nyawa dilawan nyawa."

Jack of Clubs berputar maknanya pilihan yang salah, langkah gegabah yang membawa kehancuran.

"Dan tau apa yang terjadi?" Leo mendekat, matanya dingin.

"Bokap gua lepasin dia, karena gak tega, karena masih nganggep dia itu keluarga."

Heeseung terdorong mundur, napasnya tercekik, tawa miris keluar tanpa sadar.

"Terus? Lo mau gua percaya omong kosong Lo sekarang?"

Leo membuka kartu ketiga sambil menahan tusukan belati dengan lengan yang sudah berdarah.

Nine of Spades.

Sekop adalah penderitaan berkepanjangan, malam panjang tanpa akhir.

"Debkolektor datang," Leo melanjutkan, suara rendah tapi menghantam.

"Hutang gak keurus saat itu Bokap lo sendirian, dan akhirnya dia milih mati, karena dia gak sanggup bayar dosanya sendiri."

Nine of Spades menghitam, maknanya jelas, penderitaan yang ditinggalkan ke orang lain.

"Nyokap lo," Leo menarik napas panjang.

"Habis itu hancur semua harta habis, tubuh hidup tapi jiwa kosong."

Heeseung menatap kosong sesaat, lalu tertawa pecah, hampir histeris.

"Jadi ini semua salah Bokap gua?"

Leo ikut tertawa, pahit, sambil bersandar sebentar ke dinding.

"Ini semua salah pilihan," katanya.

"Dan dendam lo salah alamat."

Kartu terakhir Leo terbuka, perlahan, paling berat.

Ace of Spades.

Sekop yang akhir memiliki arti suatu kebenaran yang tidak bisa ditawar.

"Balapan itu," Leo menatap lurus ke mata Heeseung.

"Gua tahun gua masih bocah, masih belajar hidup, dan Nyokap lo jalan dengan tatapan kosong."

Heeseung terdiam, belati di tangannya gemetar.

"Dia gak lihat gua," lanjut Leo, suaranya menurun.

"Gak lihat jalan, dan gua gak sempat berhenti, terlalu dekat, terlalu cepat."

Ace of Spades menutup segalanya, kematian tanpa niat, tanpa pemenang.

"Nyokap lo capek," Leo berkata pelan.

"Dan dunia cuma kebetulan milih gua sebagai titik akhirnya."

Sunyi jatuh di antara mereka, aneh, rapuh.

Mereka berdiri terengah, berdarah, lalu tertawa bersamaan, bukan bahagia, tapi getir seperti dua anak yang sadar permainan ini sudah rusak sejak awal.

"Kita seharusnya berdiri di sisi yang sama," Heeseung bergumam.

Leo mengangguk tipis.

"Tapi kita keburu diajarin salah."

Belati kembali terangkat, tinju kembali mengepal, mereka maju lagi, bukan cuma untuk membunuh, tapi karena berhenti berarti mengakui bahwa semua luka ini sia-sia, dan keduanya belum siap menerima itu.

Heeseung jatuh terduduk dengan bunyi berat, punggungnya menghantam lantai dingin, belati terlepas dari genggaman dan meluncur entah ke mana, tawanya pecah tanpa ritme, tanpa arah, seperti orang yang baru sadar dunia tidak pernah berjalan sesuai cerita yang ia bangun sendiri.

Dadanya naik turun, matanya merah, basah, tapi tetap memaksa senyum yang retak.

"Enggak mungkin," gumamnya, lirih, nyaris berdoa pada kebohongannya sendiri.

"Itu... itu gak mungkin."

Leo berdiri beberapa langkah darinya, tubuhnya jauh dari kata baik-baik saja, bahu kirinya turun tidak simetris. Lengan kanannya bergetar menahan nyeri, darah mengalir tipis dari pelipisnya, mengering di rahang, memar biru keunguan mencetak tulang rusuk, setiap tarikan napas seperti menggesekkan besi panas ke paru-paru, tapi tatapannya tetap lurus, tidak goyah.

"Itu faktanya," kata Leo, suaranya rendah, stabil, tidak menekan, justru itulah yang menampar.

"Lo boleh benci, boleh marah, tapi kenyataan gak berubah cuma karena lo tutup mata."

Heeseung menelan ludah.

Tawanya berhenti mendadak, seperti dipukul dari dalam, bahunya bergetar, lalu kepalanya menunduk, rambutnya jatuh menutupi wajah.

"Bajingan bersurai maroon itu," gumamnya, suaranya bergetar, penuh racun dan kebingungan, "dia bilang semuanya hitam putih, dia narik gua ke jurang ini satu-satunya jalan."

Leo menarik napas dalam, dadanya terasa robek, langkahnya berat saat ia mendekat, setiap tapak seperti menginjak pecahan kaca, darah dari luka lama dan baru bercampur, dua tubuh yang tadi saling ingin membunuh kini sama-sama compang-camping, sama-sama kalah oleh kebenaran.

Ia berhenti tepat di depan Heeseung, menurunkan tubuhnya perlahan, lalu menepuk pundak itu, sekali, ringan, tulus, sentuhan yang tidak mengancam, tidak menghakimi.

"Gua turut berdukacita," kata Leo, suaranya serak, tapi jujur.

"Gua tahu ini telat, dan mungkin enggak ada gunanya sekarang, tapi setidaknya gua harap lo gak buta soal fakta."

Heeseung tidak menoleh, hanya mengepalkan jari, kukunya menekan telapak sendiri, napasnya patah-patah.

Leo melanjutkan, kalimatnya mengalir tanpa jeda, seperti luka yang akhirnya dibuka.

"Dan akibat permainan lo, cukup banyak nyawa yang lo tarik, lo pikir gua gak tahu lo peralat Sanghyeon dan Liyu, cuma buat manipulasi gila lo?" ia tertawa pendek, pahit.

"Dan apa yang lo lakuin ke Jake."

Ia menggeleng pelan, darah menetes dari dagunya.

"Sialan," katanya lirih, "gua hampir mati di Rift, tapi ternyata ini jauh lebih busuk."

Heeseung akhirnya mengangkat kepala, matanya kosong, air mata menggantung, tidak jatuh, seolah tubuhnya sudah kehabisan reaksi.

Leo berdiri lagi susah payah, lututnya sempat goyah, tapi ia menahan, membalikkan badan, langkahnya tertatih namun mantap, setiap jejaknya meninggalkan bercak merah kecil, bukti bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang keluar utuh dari neraka ini.

Saat ia berjalan menjauh bahunya bergetar, air mata jatuh tanpa suara, bukan karena sedih, bukan karena iba tapi karena semua rasa pahit itu akhirnya tersaji lengkap, tidak ada lagi kebohongan untuk disembunyikan, tidak ada lagi alasan untuk dipeluk.

Heeseung ditinggalkan sendirian di sana, terduduk di lantai dingin, dikelilingi sisa tawa, sisa dendam, dan fakta yang terlalu berat untuk dibantah, sementara langkah Leo menghilang di lorong gelap, membawa luka, kebenaran, dan keputusan untuk tidak menoleh lagi.


• ✪ •


Sangwon berlari sambil menopang tubuh Ricky, lengannya melingkar di bahu pria itu, berat badannya terasa seperti beban hidup dan mati sekaligus, napasnya tersengal, paru-parunya terasa terbakar, lantai dingin memantulkan suara langkah yang saling kejar, terlalu banyak gema, terlalu sedikit arah.

Ricky bergerak lemah, kepalanya terangkat sedikit, kelopak matanya bergetar, suara napasnya kasar, tidak beraturan, seperti mesin tua yang dipaksa hidup lagi.

"Ah," gumamnya pelan, suara itu keluar tanpa tenaga, "kepala berisik, sialan."

"Bertahan," jawab Sangwon cepat, suaranya gemetar tapi tegas.

"Jangan tidur sekarang."

Di depan mereka, Bangchan mendorong kursi rodanya dengan kedua tangan yang bergetar, jari-jarinya kaku, setiap dorongan terasa seperti menarik tubuh dari kuburan, bahunya menegang, rahangnya mengeras menahan mual yang naik turun, pandangannya berkunang, dunia seperti bergoyang, tapi ia tidak berhenti.

"Kak chan," panggil Sangwon, panik merayap di nadanya, "pelan dikit."

Bangchan menggeleng, keringat dingin mengalir di pelipisnya.

"Enggak bisa," katanya terputus, napasnya berat, "kalau pelan, kita mati."

Lorong berbelok tajam suara langkah lain muncul dari belakang, teriakan samar, logam beradu, sepatu menghantam lantai, semua bercampur jadi satu tekanan panjang yang menempel di tengkuk.

Ricky tersadar lebih jauh, matanya terbuka setengah, fokusnya goyah, tapi ia sadar akan genggaman Sangwon yang terlalu erat.

"Banyak suara," katanya lirih.

"Fokus," Sangwon membalas, hampir memohon, "lihat gua."

Mereka membelok lagi, pintu darurat tertutup, pintu lain terkunci, ruang menyempit, dinding beton menjulang seperti perangkap, napas Sangwon semakin berat, kakinya hampir menyerah.

Bangchan berhenti mendadak, kursi rodanya berdecit pelan, dadanya naik turun cepat.

"Buntu," gumamnya, pahit.

"Ah, sialan."

Sangwon menoleh ke belakang, bayangan bergerak cepat di ujung lorong, suara langkah itu kini jelas, terlalu dekat.

"Kak," katanya panik.

"Ada yang datang."

Ricky mencoba berdiri, lututnya langsung goyah, Sangwon menahan tubuhnya kembali.

"Jangan," ujar Sangwon cepat.

Ricky menghela napas berat, sudut bibirnya terangkat tipis, getir.

"Waktu memang selalu buruk."

Langkah itu berhenti beberapa meter dari mereka, lalu terdengar tepukan pelan, ritmis, santai, terlalu santai untuk situasi ini.

"Larinya gua akuin cukup jauh juga," suara itu terdengar, rendah, tenang, berbahaya.

"Padahal pintunya enggak ke mana-mana."

Sangwon membeku.

Rambut maroon muncul dari balik bayangan sosok itu melangkah maju dengan senyum tipis, mata tajam, pakaian rapi meski berlumur noda kecil, seolah kekacauan ini cuma gangguan kecil baginya.

"Yeonjun," gumam Sangwon, suara itu keluar nyaris tanpa sadar.

Bangchan menegakkan tubuhnya di kursi roda meskipun kepalanya berdenyut hebat, pandangannya kabur di tepi.

"Lo telat," katanya serak, tapi tetap menantang, "permainan lo udah kebuka."

Yeonjun tertawa kecil, kepalanya miring sedikit.

"Kebuka buat siapa," katanya ringan, "orang-orang yang bahkan enggak tahu mau lari ke mana."

Ia melirik Ricky yang setengah bersandar di Sangwon.

"Masih hidup," katanya datar, "keras kepala juga."

Sangwon menarik Ricky lebih dekat ke dirinya, tubuhnya gemetar, tapi matanya tajam.

"Jangan sentuh mereka," katanya, napasnya terpotong-potong, "urusan lo sama gua."

Yeonjun melangkah satu langkah lagi, jarak mereka kini terlalu dekat, tekanan itu terasa nyata.

"Lucu," katanya pelan, "selalu ada yang sok berani di detik terakhir."

Bangchan mendorong kursi rodanya setengah putaran, memposisikan diri di depan Sangwon dan Ricky, lengannya gemetar hebat, tapi bahunya tegak.

"Lewatin gua dulu," katanya, setiap kata keluar dengan susah payah, "kalau berani."

Yeonjun berhenti, menatap Bangchan lama, senyum tipisnya menghilang sedikit.

"Baru bangun dari kubur," katanya dingin, "tapi masih sok jadi tameng."

Udara di lorong itu menegang napas mereka saling bertabrakan, darah, keringat, dan ketakutan bercampur jadi satu, tidak ada lagi ruang untuk mundur, hanya ada pilihan antara jatuh atau melawan, dan di mata Sangwon, detik itu terasa seperti garis tipis antara hidup dan kehilangan segalanya.

Lingkaran itu menutup rapat, orang-orang Yeonjun berdiri membentuk dinding hidup dengan senjata terangkat rendah namun siap, cahaya pucat dari lampu gudang memantul di lantai yang basah oleh darah, keringat, dan jejak roda kursi yang diseret paksa.

Sangwon berdiri setengah membopong Ricky yang tubuhnya masih gemetar, wajahnya pucat dengan lebam menghitam di rahang dan pelipis, napas Ricky pendek-pendek seolah setiap tarikan adalah negosiasi dengan rasa sakit.

Sementara Bangchan duduk di kursi roda, tubuhnya tegak tapi jelas dipaksa oleh kehendak semata, kulitnya pucat hampir abu-abu, selang infus masih terbalut perban kasar di lengan, matanya tetap hidup, terlalu hidup untuk seseorang yang baru saja bangkit dari koma,

Yeonjun berdiri di hadapan mereka dengan senyum tipis yang tidak pernah menyentuh mata, mantel hitamnya bersih kontras dengan kondisi mereka, seolah ia datang dari dunia lain, dunia yang tidak tersentuh darah,

Bangchan menggerakkan kursi rodanya setengah putaran, roda berderit pelan, suaranya serak namun tajam saat ia tertawa kecil.

"Lucu," katanya, suara itu seperti besi diseret di beton.

"Lo masih suka berdiri kayak raja padahal lantainya penuh mayat dan rahasia,"

Yeonjun mengangkat bahu ringan, "Lo selalu dramatis, sialan,"

Bangchan menunduk, tangannya gemetar sedikit saat ia merogoh saku jaketnya, lalu satu per satu kartu jatuh ke lantai dengan suara kertas tebal menyentuh semen, ia tidak melemparnya sembarangan, ia menatanya.

"Lo inget permainan lama kita?" ucap Bangchan.

"Satu kartu terbuka, satu fakta keluar, dan kali ini. Lo gak bisa kocok ulang kartu."

Kartu pertama ia geser dengan ujung jarinya, perlahan, seolah memberi waktu bagi semua orang untuk bernapas.


Ace of Spades

Hitam legam dengan simbol sekop besar di tengah, Bangchan mengangkat wajahnya, menatap Yeonjun lurus tanpa berkedip.

"Ini kartu kematian," katanya pelan.

"Tapi bukan kematian badan, ini kematian martabat, kematian batas, kematian seseorang yang masih belum punya pilihan,"

Sangwon membeku, ada sesuatu di dadanya yang mendadak mengeras.

Bangchan melanjutkan, suaranya turun satu oktaf.

"Lo inget saat itu lo mabuk berat, dan lo sentuh anak di bawah umur, bukan sekali, bukan dua kali dan lo tahu siapa yang nutupin semua laporan itu,"

Yeonjun tertawa kecil, pendek, palsu.

"Ah.. sialan. Fitnah,"

Bangchan membalas dengan senyum miring penuh kebencian.

"Bajingan, gua yang terima laporannya, gua yang diseret ke ruangan tertutup, nama gua, nama Wolf, hancur di meja orang-orang yang lebih tinggi dari kita,"

Ia menggerakkan kursinya maju sedikit, napasnya berat.

"Korban-korbannya hilang secara sosial, trauma berat, ada yang pindah kota, ada yang ngurung diri, dan lo masih berdiri di sini pakai jas mahal seolah semua itu cuma noda kecil."

Ricky menelan ludah, tangannya mencengkeram lengan Sangwon tanpa sadar.

Sangwon mulai gemetar, memori lama yang terkubur rapi mendadak retak.

Bangchan menarik kartu kedua, membukanya.

Seven of Hearts

Merah, simbol hati berderet, namun tidak utuh,

"Ini soal ego," Bangchan berkata.

"Hati yang seharusnya melindungi, tapi malah menuntut," Ia menoleh sedikit ke Sangwon.

"Gua pernah bilang ke lo soal Wolf, soal Sangwon yang gua jaga waktu itu,"

Sangwon mengangguk perlahan, wajahnya menegang.

Bangchan kembali menatap Yeonjun.

"Dan lo ingat malam itu, lo orang pertama yang gua sebut bajingan yang pantas mati."

Udara seolah runtuh.

Sangwon terhuyung satu langkah.

Napasnya tercekat saat potongan ingatan menghantamnya, ruangan gelap, bau menyengat dari kain yang membekap wajahnya, zat anestetik yang biasa dipakai untuk melumpuhkan korban penculikan. Tubuhnya melemah, tangan kasar meraba dalam keadaan setengah sadar, dan bayangan pria berpakaian serba hitam.

"Lo sentuh dia, orang yang paling gua jaga." Bangchan menggeram.

"Saat dia tertidur, saat lo mabuk dan kalau gua datang telat lima menit aja. Lo bakal nambah satu korban lagi,"

Sangwon terisak tertahan.

Tubuhnya kaku, trauma lama yang ia kira sudah sembuh kini terbuka kembali.

Ricky memegangnya lebih erat, wajahnya penuh amarah. Yeonjun menghela napas panjang, ekspresinya berubah dingin,

Bangchan membanting kartu ketiga ke lantai.

King of Diamonds

"Ambisi," katanya.

"Uang, kendali, lo mau segalanya tunduk, sedangkan gua mau sistem yang gak makan orang hidup-hidup."

Ia tertawa pahit,

"Itu beda jalan kita dan sejak saat itu, lo putuskan gua harus mati."

Bangchan menarik napas dalam-dalam, dadanya naik turun berat namun ia tetap melanjutkan.

"Lo gak pernah menyesal, sialan. Lo cuma takut,"

Ia mengeluarkan kartu terakhir, meletakkannya pelan,

Joker

"Kartu tanpa wajah," Bangchan berbisik, "kekacauan murni,"

Ia menunjuk dirinya sendiri. "Bukti hidup itu gua,"

Suasana menegang, senjata-senjata terangkat sedikit lebih tinggi.

Bangchan menatap Yeonjun dengan mata merah namun tajam.

"Selama gua hidup, lo gak pernah aman, makanya lo mau bunuh gua," Ia tersenyum miring, darah menetes dari sudut bibirnya,

"Masalahnya, sekarang semua orang dengar,"

Sangwon menatap Yeonjun dengan mata basah dan marah.

Ricky menggertakkan gigi, tubuhnya gemetar bukan karena lemah tapi karena ingin menyerang,

Bangchan bersandar sedikit di kursinya, suaranya melemah namun tetap penuh luka,

"Gua percaya Lo," katanya lirih.

"Dan lo nusuk gua dari belakang,"

Ia menghela napas panjang,

"Sekarang giliran lo hidup dengan kartu-kartu ini terbuka,"

Dan keheningan itu lebih tajam dari senjata apa pun.

Keheningan itu akhirnya retak bukan oleh tembakan, bukan oleh teriakan, melainkan oleh suara langkah Yeonjun yang maju satu tapak, mantelnya bergeser, wajahnya kini tanpa senyum, matanya dingin seperti orang yang akhirnya berhenti berpura-pura menjadi manusia, tangan kanannya masuk ke saku dalam, lalu ia mengeluarkan satu set kartu yang jauh lebih bersih dari milik Bangchan, tidak ternodai darah, tidak terlipat, seolah disimpan khusus untuk saat ini,

"Kalau lo udah buka neraka gua," ucap Yeonjun tenang, "giliran gua jelasin kenapa,"

Bangchan tertawa pendek, kasar, dadanya bergetar menahan sakit.

"Bilang aja sekalian, brengsek," katanya.

"Jangan sok suci,"

Yeonjun jongkok perlahan, sejajar dengan Bangchan yang duduk di kursi roda, lalu ia membuka kartu pertamanya, menaruhnya di lantai dengan dua jari.

Queen of Clubs

Simbol keriting hitam mengunci pandangan semua orang, Yeonjun menepuk kartu itu ringan.

"Insignia Wolf," katanya pelan.

"Bukan lambang kehormatan, tapi kunci,"

Bangchan menyipitkan mata, "Kunci buat bajingan haus kuasa kayak lo,"

Yeonjun tersenyum tipis, kali ini jujur dalam kebusukannya.

"Itu kode otoritas," lanjutnya.

"Hak komando, jalur akses ke jaringan lama, arsip yang tidak tercatat, orang-orang yang hanya patuh pada simbol, bukan nama,"

Ia menoleh ke orang-orangnya yang berdiri melingkar.

"Kalau gua pegang itu, gua bisa nulis ulang sejarah,"

Sangwon menahan napas, dadanya terasa sesak.

Yeonjun kembali fokus ke Bangchan.

"Gua bisa bilang lo pengkhianat, gila, ancaman internal, dan semua akan percaya."

"Makanya gua gak dibunuh," ia menyeringai pahit.

Yeonjun mengangguk kecil,

"Karena gua butuh waktu, ngambil kendali tanpa perlawanan,"

Bangchan tertawa, suara itu pecah dan getir.

"Licik, tapi pengecut,"

Yeonjun membuka kartu kedua, lebih pelan, seolah menikmati setiap detiknya.

Ten of Spades

Deretan sekop hitam seperti barisan nisan.

"Ini operasi," ucap Yeonjun.

"Pembersihan," Ia mengangkat wajahnya sedikit ke arah Ricky.

"Dan di sinilah peran orang yang lo kira cuma pelarian,"

Ricky menegang, napasnya tertahan Sangwon refleks menopang tubuhnya lebih kuat.

Bangchan berdecak.

"Jangan lo bawa dia ke sini, anjing."

Yeonjun tersenyum miring,

"Ricky bukan mantan yang ninggalin," katanya.

"Dia saksi," Kata itu jatuh berat.

"Dia tahu dosa gua," lanjut Yeonjun.

"Dan dia memilih kabur, memilih hidup, memilih diam."

Ricky menggertakkan gigi, suaranya serak namun terdengar.

"Gua mau buka mulut," katanya.

"Dulu."

Yeonjun menoleh cepat, matanya tajam, "Dan gua bikin lo takut."

Bangchan menatap Ricky, ada luka lama di matanya.

"Dia diancam," Bangchan berkata pelan. "Kehilangan segalanya kalau balik."

Yeonjun mengangkat bahu. "Dia lemah waktu itu."

Bangchan mendengus kasar. "Karena gua yang bikin dia ngerasa gak guna," katanya, amarah dan penyesalan bercampur, "dan lo masuk di sela itu."

Ricky menunduk, bahunya gemetar.

"Gua kabur bukan karena gak peduli," ucapnya lirih, "tapi karena gua takut jadi mati berikutnya."

Yeonjun membuka kartu ketiga.

Nine of Hearts

Hati merah yang tampak hampir ironis.

"Trauma," katanya.

"Ketakutan, kontrol emosional," Ia menatap Ricky dingin.

"Lo saksi hidup kedua, tapi rapuh."

Bangchan menggerakkan kursi rodanya maju setengah roda, suaranya meninggi meski tubuhnya melemah,

"Sekarang dia berdiri di sini, bajingan,"

Ricky mengangkat wajahnya, matanya merah tapi tegas.

"Gua mungkin hancur," katanya.

"Tapi gua masih hidup, dan gua denger semuanya,"

Sangwon menelan ludah, matanya berpindah antara Bangchan dan Yeonjun, amarahnya berlapis trauma.

Yeonjun berdiri perlahan, membuka kartu terakhirnya.

Ace of Diamonds

Simbol wajik berkilau di bawah lampu redup.

"Kontrol absolut," katanya.

"Uang, kerakusan kekuasaan." Bangchan tertawa, pahit dan penuh kebencian.

"Semua demi amanin diri lo sendiri,"

Yeonjun mendekat satu langkah. "Selama lo hidup," katanya pelan, "gua target disini."

Bangchan menatapnya tajam,

"Dan selama gua hidup," balasnya.

"Lo bajingan yang kebusukannya kebuka satu-satu."

Ricky menghela napas berat, suaranya bergetar. "Gua gak kabur lagi,"

Sangwon mengangguk kecil, berdiri lebih tegak meskipun tubuhnya lelah.

Lingkaran itu kini bukan lagi milik Yeonjun sepenuhnya, karena kartu-kartu telah terbuka, dan kebenaran, sekali terucap, tidak pernah bisa dimasukkan kembali ke dalam dek.

Lingkaran itu mengerut.

Orang-orang Yeonjun berdiri seperti dinding hidup, senjata setengah terangkat, tatapan mereka kosong namun patuh, menunggu satu aba-aba yang bisa mengubah tempat itu jadi kuburan terbuka.

Bangchan berhenti menggerakkan kursi rodanya.

Roda besi itu berdecit pelan, suara kecil yang justru terdengar terlalu keras di antara napas berat dan detak jantung yang saling kejar.

Yeonjun melangkah maju satu langkah.

Tangannya terangkat perlahan, bukan untuk menyerang, tapi untuk membuka kartu berikutnya.

Sebuah kartu dilempar ke lantai beton.

Kertas tebal itu berputar, berhenti dengan wajah menghadap ke atas.

King of Diamonds.

Cahaya lampu memantul di simbol wajik merah itu, berkilau seperti darah yang belum mengering.

Yeonjun tersenyum, tipis, beracun.

"Lo tahu apa arti raja wajik," katanya, suara rendah tapi jelas, seperti pisau yang tidak perlu diayunkan untuk melukai.

"Kontrol, otoritas, semua yang dibangun di atas transaksi, bukan kepercayaan."

Bangchan tertawa.

Bukan tawa lega, bukan tawa puas, tapi tawa yang patah, keluar dari dada yang masih sakit.

"Lo nyasar, bajingan. Gua bukan simbol yang bisa lo pakai buat nulis ulang sejarah."

Yeonjun mendekat lagi.

"Salah," katanya, lebih pelan.

"Selama lo hidup, sejarah itu terkunci, selama lo koma, sejarah itu bisa gua sunting."

Bangchan mencengkeram roda kursinya.

Buku-buku jarinya memutih, urat-urat menonjol, napasnya mulai tidak beraturan.

"Gua koma karena lo," katanya, suara mulai bergetar bukan karena takut, tapi karena amarah yang terlalu lama ditekan.

"Bukan karena gua lengah, tapi karena gua percaya sama orang terbangsat yang gua anggap saudara."

Yeonjun tertawa kecil.

"Dan itu kesalahan terbesar lo."

Di belakang Bangchan, Sangwon menelan ludah.

Lengannya masih menopang tubuh Ricky, beratnya nyata, napasnya terasa di kulit, hangat dan goyah.

Ricky tidak berkata apa-apa.

Tatapan kosongnya menembus lurus ke depan, bukan ke Yeonjun, bukan ke Bangchan, tapi ke sesuatu yang hanya dia lihat sendiri, sesuatu yang membuat rahangnya mengeras seolah menahan kata-kata yang kalau keluar akan meruntuhkan segalanya.

Yeonjun menoleh.

Matanya jatuh ke arah Ricky.

"Oh, saksi hidup kedua," katanya ringan, terlalu ringan untuk sesuatu yang seharusnya berat.

"lo lihat, Chan bahkan sekarang dia masih diam, sama seperti dulu."

Bangchan membalas tatapan itu dengan sorot yang lebih tajam.

"Diam bukan berarti lemah," katanya.

"Dan lo salah besar kalau lo pikir semua orang di ruangan ini takut sama lo."

Yeonjun mengangkat alis.

"Lalu kenapa tidak ada yang bergerak."

Bangchan menghela napas.

Pendek, berat, seperti paru-parunya menolak bekerja sama.

"Karena mereka tahu," katanya.

"Kalau lo mulai menembak, semua yang lo bangun runtuh di tempat."

Yeonjun berhenti tersenyum.

Untuk pertama kalinya, ada celah kecil di wajahnya, sesuatu yang bergerak cepat lalu disembunyikan.

Ia merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan kartu lain.
Dilempar ke lantai, lebih keras dari sebelumnya.

Salah satu orang Yeonjun bergerak gelisah, yang lain saling melirik.

Yeonjun mengepalkan tangannya. "Gua bisa bunuh lo sekarang."

"Lo bisa," Bangchan membalas cepat.

"Tapi lo kehilangan segalanya."

Sunyi.

Sunyi yang tidak kosong, tapi penuh tekanan, seperti udara sebelum kaca pecah.

Ricky menghirup napas dalam.

Dadanya naik turun, lebih cepat sekarang.

Sangwon merasakannya, dan untuk sesaat, tangan Sangwon gemetar, bukan karena takut, tapi karena menyadari Ricky sadar sepenuhnya, dan memilih diam.

Yeonjun menggeram pelan. "Lo pikir lo menang."

Bangchan tersenyum miring.

"Bukan menang," katanya, "gua cuma nolak kalah."

Yeonjun mengangkat senjatanya.

Bukan diarahkan, hanya diangkat, cukup untuk membuat semua orang menahan napas.

"Gua capek dikejar masa lalu," katanya, suara naik setengah oktaf, retakan itu kini jelas.

"Gua capek diancam oleh orang yang seharusnya udah mati."

Bangchan mencondongkan tubuh ke depan. Setiap gerakan jelas menyakitkan, tapi dia tetap melakukannya.

"Dan gua capek," katanya,

"Nutupin dosa lo."

Itu titiknya.

Klimaksnya bukan tembakan, bukan jeritan, tapi keheningan yang pecah oleh kenyataan.

Yeonjun menatap Bangchan lama.

Lalu tertawa.

Tertawa keras, kering, nyaris histeris.

"Lo tahu," katanya.

"Kalau gua gagal hari ini, gua bakal tetap jadi hantu di hidup lo."

Bangchan menatap balik.

"Dan lo tahu," katanya.

"Kalau lo lanjut, nama lo mati di tangan gua."

Ricky akhirnya bergerak.

Bukan bicara. Hanya satu langkah kecil ke depan, dibantu Sangwon, berat tapi cukup.

Gerakan itu cukup.

Yeonjun menyipitkan mata.

Untuk pertama kalinya malam itu, dia terlihat... ragu.

Dan di antara kerumunan, satu orang menjatuhkan senjatanya.

Bunyi logam itu jatuh ke lantai terdengar seperti lonceng kematian.

Tidak ada tembakan.

Belum.

Tapi semua orang di sana tahu, setelah malam itu, tidak ada yang akan kembali sama.

Lorong itu bergetar oleh keputusasaan ketika Yeonjun menyadari semua mata kini mengarah padanya, napasnya memburu, rahangnya mengeras, dan untuk pertama kalinya kartu di tangannya bukan lagi alat kendali, melainkan tameng terakhir.

Ia mengangkat satu kartu, ujungnya bergetak di antara dua jarinya, kartu yang belum sempat dibuka, kartu yang seharusnya menjadi kunci pamungkas.


DOR.


Namun sebelum satu kata pun keluar dari mulutnya, suara letusan memecah udara.

Bukan ke tubuh, bukan ke kepala, melainkan tepat ke tengah kartu itu.

Kertas tebal itu robek oleh peluru, terbelah di udara sebelum jatuh ke lantai, dan seluruh ruangan membeku.

Semua kepala menoleh ke satu arah yang sama.

Lorong gelap di sisi timur.

Langkah kaki terdengar perlahan, tidak tergesa, tidak ragu, seperti seseorang yang sudah berdamai dengan rasa sakitnya sendiri.

Dari bayangan itu muncul dua sosok.

Satu berjalan dengan pistol masih terangkat, tangan stabil meski lengan penuh goresan darah kering, dan satu lagi terhuyung di sisinya, lengan dililitkan di pundak orang yang menopangnya, napas berat, tubuhnya jelas tidak lagi dalam kondisi utuh.

Bangchan membeku.

Matanya membesar.

Kursi rodanya berderit pelan saat tangannya mencengkeram sandaran.

Sangwon melangkah refleks ke depan setengah langkah, suaranya keluar tanpa sadar.

"Kak Leo?"

Leo mengangkat wajahnya, matanya bertemu Sangwon hanya sesaat, lalu pandangannya bergeser, berhenti pada satu sosok yang berdiri berhadapan dengan Yeonjun.

Heeseung.

Tubuh mereka berdua sama-sama hancur, memar ungu dan hitam menyebar di kulit, darah mengering di pelipis dan rahang, napas mereka berat, bercampur keringat dan rasa logam di mulut, namun langkah mereka seirama, seolah sesuatu telah diputuskan di antara mereka tanpa perlu kata.

Heeseung menopang Leo dengan satu tangan, bahunya menahan beban penuh, dan di tangan lainnya, pistol terarah lurus ke Yeonjun.

Yeonjun menatapnya seperti melihat hantu.

"Jadi ini balasan lo?" katanya, suaranya pecah, "setelah semua yang gua kasih ke lo?"

Heeseung tersenyum miring, pahit, dan penuh racun.

"Bajingan sialan," katanya.

"Lo berani nipu gua, berani putar balikkan fakta, berani jadikan gua anjing buat dendam Lo sendiri."

Dalam satu gerakan cepat, Heeseung mendorong Leo ke belakang dengan hati-hati, lalu menerjang Yeonjun.

Tubuh mereka bertabrakan keras.

Pistol terlepas, jatuh berderak di lantai.

Tinju menghantam rahang, siku menyambar rusuk, sepatu menggesek lantai licin oleh darah, dan teriakan tertahan bercampur geraman kemarahan.

Sangwon tersentak kembali ke realitas.

"Sekarang," katanya cepat, menoleh ke Bangchan dan Ricky, "kita pergi."

Bangchan masih menatap lurus ke depan, matanya tidak lepas dari Leo.

"Leo?" suaranya serak, hampir tidak percaya.

Leo menoleh, sama terkejutnya.

"Lo ngapain di sini, Chan?" katanya, napasnya tertahan oleh nyeri.

Sangwon menatap mereka bergantian, kepalanya penuh tanda tanya.

"Tunggu," katanya.

"Kalian saling kenal?"

Leo menggeleng kecil, wajahnya mengeras. "Bukan waktunya," katanya.

"Kita harus pergi sekarang."

Langkah kaki cepat terdengar.

Orang-orang Yeonjun bergerak, senjata terangkat, niat membunuh kembali memenuhi udara.

Namun sebelum mereka sempat mendekat, dua sosok muncul dari sisi belakang, gerakan mereka presisi, sunyi, brutal.

Satu pukulan ke leher.

Satu hantaman ke kepala.

Dua tubuh roboh tanpa suara.

Salah satu dari mereka bersuara, terengah namun jelas.

"Leo?"

Leo menoleh.

Matanya membelalak sesaat.

"Jean," katanya, hampir tertawa.

"Junmin?"

Sangwon terpaku. "Bukannya Lo udah balik?" tanyanya pada Junmin.

Junmin tidak menjawab, hanya mengangguk singkat, lalu meraih Leo, menyampirkan lengannya dengan lebih kuat di bahunya.

"Ayo," katanya.

"Sebelum tempat ini runtuh."

Jean bergerak ke Bangchan, mendorong kursi roda itu tanpa ragu, tangannya mantap meski wajahnya tegang.

Mereka mulai bergerak.

Satu langkah.

Dua langkah.

Lalu suara tembakan lain menggema.


DOR.


DOR.


Kali ini mengenai daging.

Heeseung terhuyung.

Peluru menembus sisi tubuhnya.

Ia terjatuh ke satu lutut, tangannya menekan luka, darah segar mengalir di sela jarinya.

Namun ia tidak berteriak.

Ia hanya menggeram, menahan napas, menahan tubuhnya agar tidak roboh sepenuhnya, matanya masih terkunci ke arah Yeonjun yang terhuyung mundur di kejauhan.

Leo berbalik refleks.

"Hee-"

Heeseung mengangkat tangan, menghentikannya, wajahnya pucat namun matanya tajam.

"Pergi," katanya singkat.

"Jangan berhenti."

Udara kembali menegang, karena di titik itu, pilihan mereka semakin sempit, dan setiap langkah ke depan berarti meninggalkan seseorang di belakang, sementara tembakan berikutnya hanya tinggal menunggu waktu.



"Ah, sialan."

Leo berbalik tanpa pikir panjang.

Langkahnya pincang, napasnya berat, setiap tarikan udara seperti menarik pecahan kaca dari paru-paru, namun ia tetap bergerak bersama Junmin menghampiri Heeseung yang sudah terjatuh setengah bersandar di lantai.

Darah merembes cepat dari sisi kiri perut Heeseung, hangat, lengket, dan terlalu banyak.

Junmin langsung berlutut, tangannya sigap menekan luka itu dengan jaketnya sendiri, giginya terkatup keras menahan panik.

"Tekanan terus," katanya, suaranya tegang, "jangan lepas, jangan berani gerak."

Heeseung terkekeh pelan, napasnya bergetar.

"Gua kira," katanya lirih, "gua mati dengan cara yang lebih... heroik."

Leo menodongkan pistolnya ke depan, lengannya gemetar bukan karena takut, melainkan karena tubuhnya sendiri hampir menyerah.

Di seberang mereka, Yeonjun mengangkat kedua tangan perlahan, seolah patuh, seolah menyerah.

Namun senyum itu.

Senyum licik yang tidak pernah benar-benar hilang dari wajahnya.

"Jangan ikut campur," kata Yeonjun santai.

"Lo mau mati lagi?"

Langkah kaki lain terdengar.

Salah satu anak buah Yeonjun muncul dari lorong samping, menyeret seseorang yang kepalanya tertutup kain hitam tebal, tubuhnya meronta, jeritannya teredam namun jelas putus asa.

Yeonjun meraih kepala sosok itu, menariknya mendekat ke tubuhnya.

"Tembak gua," katanya ringan, "dia mati."

Jeritan itu terdengar lebih jelas.

Sangwon membeku.

Darahnya serasa berhenti mengalir.

"Jake?" katanya, suaranya pecah, tidak yakin, tidak ingin yakin.

Heeseung yang setengah sadar mengangkat kepala, matanya melebar, napasnya tercekat.

Yeonjun menarik kain hitam itu dengan satu gerakan kasar.

Wajah Jake tersingkap, basah oleh air mata, napasnya terengah, dan dalam sekejap pisau Yeonjun sudah menempel di lehernya, kulitnya tertekan tajam hingga memerah.

"Jangan," Sangwon melangkah refleks.

"Jake gak ada hubungannya sama ini, jangan bawa nyawa orang lain ke jurang lo, Kak."

Suaranya bergetar, penuh amarah dan luka lama yang kembali menganga.

"Sialan," lanjutnya, "di saat kayak gini gua masih nganggep lo orang yang pernah gua panggil kakak, kakak paling brengsek yang pernah gua kenal."

Leo langsung menarik Sangwon ke belakang tubuhnya, lengannya melingkar kuat di dada Sangwon, menahannya.

"Jangan maju," katanya tegas.

Jake menangis tanpa suara, bahunya bergetar.

Matanya bertemu dengan Heeseung.

"Kakak," isaknya.

"Tolong, jangan tinggalin."

Heeseung mencoba bergerak.

Begitu ia menggeser tubuhnya, darah menyembur lebih deras dari luka yang belum tertutup sempurna.

Ia meringis, tangannya gemetar, namun tetap mengulurkan tangan ke arah Jake.

"Jake," katanya lemah.

"Liat gua, dengerin gua."

Junmin menekan luka itu lebih kuat, wajahnya pucat.

"Berhenti gerak," bentaknya.

"Lo mau mati di tangan gua sekarang?"

Di sisi lain, Jean sudah meraih kursi roda Bangchan, wajahnya keras, tanpa kompromi.

Ia menoleh ke Sangwon dan Leo. "Ada peledak di gedung ini," katanya cepat.

"Kalian semua bakal mati kalau masih di sini."

Bangchan menggertakkan gigi. "Gua gak pergi," katanya, "gua gak ninggalin-"

Jean memotongnya.

"Ini bukan urusan lo sekarang," katanya dingin, "tugas gua nyelametin lo dan Ricky."

Jean memberi isyarat pada Sangwon, lalu dengan bantuan singkat, ia dan Junmin yang satu tangan masih menahan Heeseung, memindahkan Ricky lebih jauh ke lorong aman.

Bangchan dipaksa bergerak, kursi rodanya menjauh meskipun matanya terus menoleh ke belakang.

"Leo!" teriaknya. Leo tidak menoleh, matanya terkunci pada Yeonjun.

Pada pisau di leher Jake.

Pada darah yang membasahi lantai di bawah tubuh Heeseung.

Momentum itu menggantung.

Leo yang baru kembali dari kematian, tubuhnya masih menyimpan rasa aspal panas dan tulang retak.

Sangwon yang berdiri kaku, trauma lama menghantamnya tanpa ampun, wajah di hadapannya adalah sumber luka yang selama ini ia kira sudah sembuh.

Heeseung yang terkapar, menyadari seluruh hidupnya dibangun di atas kebohongan, dan orang yang ia cintai kini menjadi sandera.

Jake yang sama sekali tidak tahu apa-apa, hanya tahu nyawanya sedang ditimbang oleh orang yang tersenyum di depannya.

Dan Junmin, berdiri di tengah semua itu, dadanya sesak, menyaksikan empat orang yang ia sebut keluarga saling hancur di satu ruangan yang siap meledak.

Tidak ada lagi ruang untuk mundur.

Tidak ada lagi pilihan yang bersih.

Yang tersisa hanya keputusan, dan siapa yang harus dikorbankan agar yang lain bisa hidup.

Yeonjun terus mundur.

Satu langkah, dua langkah, tumit sepatunya sudah menyentuh tepian lantai yang runtuh, di bawah sana hanya gelap dan kehampaan, jurang gedung itu menganga seperti mulut yang siap menelan apa pun yang jatuh ke dalamnya.

Pisau di leher Jake semakin menekan, kulitnya tergores tipis, napas Jake tersengal, dadanya naik turun cepat, matanya merah namun tetap terkunci lurus ke depan.

Heeseung berdiri dengan bantuan Junmin, tubuhnya nyaris roboh, satu tangan menekan perutnya yang berdarah, satu tangan lagi menggenggam lengan Junmin agar tidak jatuh.

Ucapan Jean terngiang di kepala mereka semua, pintu utama tidak terlalu jauh, tapi waktu mereka jauh lebih sedikit dari jarak.

Leo menarik Sangwon ke belakang tubuhnya tanpa sepatah kata pun, lengannya kokoh, protektif, Sangwon tidak melawan, hanya menatap punggung lebar itu, menatap sosok yang berdiri di depannya seolah menjadi satu-satunya dinding antara hidup dan mati.

Jake menatap Leo.

Tatapan itu berbicara, ketakutan, harapan, permohonan yang tidak keluar sebagai suara.

Leo menghela napas pendek, lalu menoleh ke Heeseung.

"Bagaimana kalau kita bermain permainan gunting, batu, kertas." katanya sangat datar.

Yeonjun tertawa, suaranya menggema di ruang kosong itu.

"Serius?" ejeknya. "Di saat kayak gini lo ngajak main permainan bocah?"

Heeseung tahu.

Leo tahu dia tahu.

Tangan Heeseung terangkat perlahan, jari-jarinya gemetar, lalu mengepal.

Batu.

Memiliki isyarat untuk tetap diam.

Leo sedikit memiringkan kepala, cukup dekat untuk berbisik ke telinga Sangwon.

"Nanti tarik Jake," katanya rendah.

"Jangan ragu."

Sangwon menelan ludah, jantungnya seperti mau meloncat keluar, tapi ia mengangguk, berdiri tepat di belakang Leo, menunggu.

Yeonjun melangkah lagi, satu tapak lagi dan punggungnya akan menyentuh udara kosong.

Heeseung mengangkat tangannya lagi.

Gunting.

Dua jari terbuka.

Memiliki isyarat untuk tetap berdiri.

Napas Leo tertahan, matanya mengukur jarak, lantai, sudut pijakan, posisi Yeonjun, posisi Jake, semuanya dihitung dalam sepersekian detik yang terasa seperti selamanya.

Detik berdetak keras di kepala mereka.

Lalu.

Heeseung mengubah isyaratnya.

Lima jari terbuka sempurna.

Kertas.

Menunduk.

Jake bergerak refleks, tubuhnya menunduk, bahunya turun, pisau Yeonjun kehilangan targetnya sesaat.

"Sekarang," kata Leo.

Sangwon menerjang keluar dari belakang Leo, tangannya menarik Jake sekuat tenaga, tubuh Jake terseret ke belakang, terlepas dari cengkeraman Yeonjun.

Di saat yang sama Leo mendorong.

Dorongan penuh tenaga, penuh amarah, penuh semua luka yang menumpuk sejak lama.

Yeonjun terhuyung, matanya melebar, tangannya meraih udara kosong, lalu tubuhnya jatuh ke belakang, hilang ke dalam jurang dengan teriakan yang terputus di tengah.

Tidak ada waktu untuk memastikan.

Tidak ada waktu untuk melihat ke bawah.

"Cabut" teriak Leo.

Jake langsung memeluk Heeseung, tangannya gemetar, wajahnya basah oleh air mata.

"Kakak tahan," katanya panik.

"Tahan dikit."

Heeseung tersenyum lemah, satu tangannya melingkar di bahu Jake, membiarkan dirinya dituntun oleh tubuh yang jauh lebih kecil darinya.

Sangwon menopang Leo dari sisi lain, langkah mereka terburu-buru, napas mereka berat, di bawah kaki terasa semakin tidak stabil.

Di depan, Junmin berhenti mendadak.

Di tangannya, layar kecil menunjukkan hitungan mundur.

Dua puluh detik.

"Ah sialan. Lewat sini," teriak Junmin.

Ia menunjuk ke sisi bangunan yang runtuh, sebuah celah terbuka mengarah ke luar, di bawahnya terlihat semak-semak dan tanah, tidak terlalu tinggi, tapi cukup untuk melompat.

Junmin melompat duluan, tubuhnya menghilang dari pandangan, lalu suaranya terdengar dari bawah.

"Lompat," teriaknya.

"Sekarang."

Jake dibantu Heeseung lebih dulu, Heeseung mendorongnya dengan sisa tenaga yang ada, Jake terjatuh ke depan, melompat, dan ditangkap Junmin di bawah sana.

Sangwon menyusul, melompat tanpa ragu, tubuhnya mendarat keras, ia meringis namun langsung bangkit.

Di atas, Leo membantu Heeseung naik ke bibir celah, tangan mereka saling menggenggam, darah menetes dari tubuh Heeseung, wajah Leo pucat, napasnya terputus-putus.

Waktu habis.


BOOM.


Ledakan mengguncang udara, suara memekakkan telinga, api dan pecahan bangunan menyembur keluar, panasnya menyambar wajah.

Junmin, Jake, dan Sangwon refleks menunduk, tangan menutup kepala, tanah bergetar hebat di bawah mereka.

Api menyebar, asap hitam membubung tinggi.

Mereka menoleh.

Leo dan Heeseung tidak muncul.

Tidak ada bayangan jatuh.

Tidak ada tubuh melompat.

Jake menjerit.

Tangisnya pecah, lututnya lemas, tubuhnya hampir roboh jika tidak ditahan Sangwon.

"Tidak," katanya berulang.

"Tidak, tidak, tidak."

Sangwon menahan napas, dadanya sesak, matanya perih tapi tidak ada air mata yang keluar.

Junmin menarik mereka.

"Kita pergi dulu dari sini," katanya tegas, meski suaranya bergetar.

"Sekarang."

Mereka berlari ke arah pintu utama, sirene sudah terdengar, lampu merah biru menari di kejauhan.

Polisi, ambulans, petugas medis memenuhi area itu.

Jake dan Sangwon langsung ditarik oleh paramedis, diperiksa, ditenangkan, selimut darurat melingkari bahu mereka.

Junmin berusaha mendekat ke lokasi ledakan, matanya liar, napasnya berat.

"Biarkan saya masuk," katanya.

"Masih ada orang di dalam."

Petugas keamanan menahannya.

"Tidak aman," kata mereka.

"Api masih menyebar."

Junmin menggertakkan gigi, tinjunya mengepal, matanya merah.

Jake jatuh terduduk, menangis tanpa kendali, tubuhnya gemetar hebat. Sangwon memeluknya, lengannya erat, kepalanya menunduk di bahu Jake.

"Gua gamau kehilangan Heeseung," kata Jake tersedu, suaranya pecah, "gua udah gak punya siapa-siapa lagi."

Sangwon menelan tangisnya sendiri, tangannya menepuk punggung Jake perlahan.

"Mereka pasti masih hidup," katanya lirih.

"Kita harus percaya mereka, itu yang harus kita pegang sekarang."

Namun matanya tetap menatap ke arah gedung yang terbakar, ke api yang terus menjilat langit, ke tempat di mana dua sosok terakhir kali mereka lihat, dan belum kembali.



• ✪ •

Semua Kartu Telah Terbuka secara bersamaan.

ⓘ ‎Satu Tarikan Kartu Terbuka.

🃎 Two of Hearts [ 2♡ ] Clue: Dua hati bertemu, tapi belum tentu selamat.

🃎 Ten of Hearts [ 10♡ ] Clue: Keluarga, cinta, dan janji semuanya diuji di titik ini.

🃎 Five of Diamonds [ 5♢ ] Clue: Kekurangan membuat seseorang rela mengkhianati segalanya.


• ✪ •


Mau test ombak dulu, selamat menggalau!

Continue Reading

You'll Also Like

32.4K 2.6K 24
[LEE LEO & LEE SANGWON] Seorang wedding planner muda bernama Lee Sangwon, telah mengalami banyak perubahan besar dalam hidupnya semenjak menikah deng...
20.8K 2.6K 33
-Cerita Remake -No NC (Tidak ada adegan seks) -Non Baku Kisah seorang Lee Sangwon yang sudah terbiasa hidup berdampingan dengan makhluk tak kasat ma...
15.7K 1.2K 25
Querencia: A Place Like Home Geonwoo โ™ก Anxin โ™ก Geonxin โ™ก ALD1/ALPHA DRIVE ONE โ€ข Start : 01.10.2025 โ€ข End : 04.10.2025 Remake from Querencia (Binh...
41.1K 3.8K 56
Keseharian para penghuni kontrakan abah Hui yang penuh dengan kerusuhan!! Setiap hari selalu ada saja tingkah aneh yang di lakukan oleh para bocah ba...
Wattpad App - Unlock exclusive features