My idol πŸ”ž

By Sugar48

6.3K 158 14

Doni anak kampung berumur 24 tahun secara tiba-tiba serumah dengan idolanya Zee. WARNING!!! πŸ”ž Banyak mengand... More

Part 1

6.3K 158 14
By Sugar48

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hamparan sawah hijau, hidup seorang pemuda bernama Doni. Usianya baru 24 tahun, namun kesehariannya sederhana: membantu ibunya menggarap sawah, menanam padi, atau merawat ternak.

Meski hidup pas-pasan, Doni punya mimpi besar yang ia simpan rapat-rapat. Ia ingin suatu hari bisa pergi ke kota besar, meninggalkan desa terpencilnya, dan bertemu dengan sosok yang sudah lama membuat hatinya bergetar: Azizi Shafa, atau yang lebih akrab disapa Zee—seorang artis muda yang wajahnya sering ia lihat dari layar televisi tua di rumahnya.

Setiap kali acara musik diputar di TV, Doni selalu duduk paling depan, matanya berbinar saat melihat senyum Zee.

“Kalau aja aku bisa ketemu dia langsung… apa mungkin aku bisa deketin dia?” gumam Doni dengan suara lirih, hampir seperti mimpi yang mustahil.

Namun, setelah hayalannya melambung tinggi, Doni biasanya menunduk lesu. Ia sadar, dirinya hanyalah seorang petani muda, dengan pakaian lusuh dan tangan kasar karena lumpur sawah.

“Mana mungkin artis secantik itu mau sama orang kampung kayak aku,” katanya dalam hati, tersenyum getir.

Meski begitu, rasa kagum itu tak pernah hilang. Setiap malam sebelum tidur, Doni berbaring di ranjang kayu sederhana sambil menatap langit-langit rumah. Pikirannya selalu dipenuhi bayangan Zee, senyumnya, tawanya, dan pesonanya yang menurut Doni tak ada duanya.

Rasa rindu pada sosok yang belum pernah ia temui membuat hatinya semakin bergejolak. Kadang ia hanya bisa menutup mata dan membayangkan, seandainya takdir bisa mempertemukan mereka berdua.

Hari-hari Doni di desa semakin terasa monoton. Satu-satunya hiburan yang ia punya hanyalah ponsel butut yang ia beli dari hasil kerja keras di sawah. Meski sinyal sering hilang timbul, Doni tetap rajin membuka Instagram dan TikTok.

Akun yang paling sering ia pantau tentu saja milik Zee.

Setiap kali ada postingan baru, Doni langsung duduk di pojok rumah mencari sinyal, matanya tak pernah lepas dari layar.

“ cantik banget sumpah…” gumamnya sambil menahan senyum sendiri.

Namun, lama-kelamaan kekaguman itu berubah menjadi sesuatu yang lain. Doni sering menemukan konten editan ambigu dari penggemar Zee lainnya. Video-video fanmade itu menampilkan Zee dalam sudut pandang yang membuat imajinasi Doni melayang jauh. Apalagi jaman sekarang adalah jaman AI tentunya sangat mudah penggemar Zee untuk membuat editan gila demi memuaskan fantasi mereka.

Dan puncaknya, setiap kali Doni melihat TikTok Zee saat mengenakan tanktop santai, tubuhnya seakan panas. Ia menelan ludah, dadanya berdegup lebih cepat. Memang Zee jarang sekali memamerkan tubuhnya full body di tiktok tapi tetap saja Doni bisa membayangkan nya

Pikirannya mulai dipenuhi bayangan liar—fantasi tentang kedekatan dengan idolanya yang jelas-jelas hanya bisa ia lihat lewat layar. Rasa kagum bercampur dengan nafsu yang sulit ia kendalikan, membuat Doni sering ona*** sendirian di kamar setiap kali membayangkan Zee.

Sampai pada titik itu, Doni sadar perasaannya sudah bukan sekadar kagum. Ia terjebak dalam dunia fantasi yang ia ciptakan sendiri—antara kenyataan dan khayalan tentang sosok artis yang bahkan tidak mengenalnya.

Siang itu, matahari terik menyinari persawahan desa kecil tempat Doni bekerja. Keringat menetes deras dari dahinya saat ia membungkukkan badan, mencabut gulma yang tumbuh di sela padi. Suasana sunyi, hanya suara jangkrik dan gemericik air irigasi yang terdengar.

Tiba-tiba, dari kejauhan, Doni melihat rombongan mobil mewah yang melintas di jalan desa. Ia mengerutkan kening, karena jarang sekali ada mobil sebagus itu datang ke tempat terpencil seperti desanya. Biasanya yang lewat hanya sepeda motor warga atau truk pengangkut hasil panen.

Rasa penasarannya membuat Doni menghentikan pekerjaannya. Ia berdiri, menatap mobil itu dari balik pematang sawah.

Mobil berhenti di dekat balai desa, dan beberapa orang kota dengan pakaian rapi turun dari dalamnya.

Namun, pandangan Doni terhenti pada satu wajah yang terlihat dari balik jendela mobil—wajah cantik yang sangat familiar baginya. Jantungnya langsung berdegup kencang.

“Itu… itu kan… Zee…?” bisiknya dengan mata terbelalak.

Tangannya yang masih kotor oleh lumpur gemetar tak karuan. Ia sampai mengucek-ngucek matanya, memastikan apakah benar yang ia lihat atau hanya ilusi akibat terlalu sering berfantasi. Tapi semakin lama ia menatap, semakin jelas: Zee benar-benar ada di dalam mobil itu.

Doni terpaku, dadanya berdegup seakan mau meledak.

“lah… kok bisa dia ada di sini, di desa kecil kayak gini… ngapain ya?”

Pikirannya campur aduk. Ada rasa senang, takjub, sekaligus bingung. Ia ingin berlari mendekat, tapi tubuhnya kaku tak bergerak. Hanya matanya yang terus menatap mobil itu penuh rasa penasaran.

Malam itu, Doni berbaring di ranjang kecilnya. Angin malam desa masuk lewat jendela kayu yang terbuka setengah, membuat suasana hening dan sejuk. Ia menggenggam ponselnya, membuka Instagram, lalu matanya langsung berbinar saat melihat postingan terbaru dari Zee.

Di caption tertulis:

“Lagi syuting film horor di desa terpencil, doain lancar yaa~”

Doni sontak tersenyum lebar.

“Pantesan… jadi beneran, dia syuting di desa sini… akhirnya aku bisa lihat dia langsung…” bisiknya, suaranya bergetar menahan semangat.

Rasa kantuknya seketika hilang ketika dia membuka tiktok. Ia terus scroll, mencari update lainnya. Jantungnya semakin berdetak cepat ketika menemukan video TikTok terbaru Zee.

Video itu sederhana—hanya Zee yang tersenyum manis, wajah cantiknya memenuhi layar, rambut hitam bergelombang terurai begitu alami. Tapi yang membuat Doni panas dingin adalah tanktop cokelat ketat yang dipakai Zee, menonjolkan lekuk tubuh bagian atasnya. Belahan kecil di dadanya terlihat samar-samar, cukup untuk membuat Doni tercengang.

“Ya ampun… cantik banget… aduh, gimana kalau aku beneran bisa deket sama dia…” gumam Doni, matanya tak berkedip.

Tangannya yang memegang ponsel mulai gemetar, sementara tangan satunya perlahan bergerak turun. Dari luar celananya, ia mulai mengelus-elus miliknya yang sudah menegang.

Helaan napasnya semakin berat. Ia terus menatap video Zee yang tersenyum polos, seolah senyum itu ditujukan hanya untuk dirinya.

“Zee… aku penasaran banget… gimana rasanya buah d*** kamu…” desis Doni dengan suara serak, wajahnya memerah antara malu dan penuh nafsu.

Pikirannya terhanyut, membayangkan seandainya ia bisa benar-benar menyentuh idolanya itu. Imajinasi yang liar membuat tubuhnya semakin panas, meskipun ia tahu semua itu hanya khayalan belaka.

Doni berbaring miring di ranjangnya, matanya terpaku pada layar ponsel. Video TikTok Zee diputar berulang kali, meski isinya hanya senyuman manis dan gerakan kecil, Doni seperti tak bisa melepaskan pandangannya.

Tangannya tak lagi bisa menahan diri. Perlahan ia menurunkan celananya, lalu mengeluarkan miliknya yang sudah keras menegang. Dengan gemetar ia mulai mengocok perlahan, sementara matanya tetap menatap senyum polos idolanya di layar.

Di kepalanya, imajinasi liar berputar. Ia membayangkan Zee duduk di depannya, mengenakan tanktop ketat itu, lalu buah d* Zee menjepit miliknya**. Dalam khayalannya, Zee menatapnya nakal sambil berbisik, “Enak ya Don?"

“Ahh… Zee…,” desah Doni lirih, tubuhnya semakin panas.

Tangannya semakin cepat bergerak, seakan-akan benar-benar merasakan kehangatan tubuh idolanya. Ia merem melek, tenggelam dalam fantasi nakal yang terasa begitu nyata.

Hingga akhirnya, tak mampu menahan lagi, Doni menggertakkan giginya, tubuhnya menegang, dan cairan putih itu menyembur deras keluar dari ujung miliknya, membasahi perut dan tangannya.

Doni terengah-engah, wajahnya memerah dan tubuhnya lemas. Ia memandang langit-langit kamarnya, lalu terkekeh kecil.

“Gila… cuma lihat video aja udah kayak gini… gimana kalau beneran…”

Ia meraih kain kecil di samping ranjang untuk membersihkan diri, sementara pikirannya masih penuh dengan bayangan wajah cantik Zee.

Hari terus berlalu dan Doni selalu memantau Zee yang lagi syuting dari kejauhan. Kebetulan lokasi syuting mereka sangat dekat dengan rumah Doni jadi ketika selesai bersawah Doni menyempatkan diri untuk memantau idolnya itu.

Di saat pagi hari, waktu sinar matahari sudah tinggi ketika Doni selesai membantu ibunya menjemur baju di halaman. Angin sepoi-sepoi membuatnya santai, sampai tiba-tiba ia melihat dua sosok datang dari jalan kecil depan rumah.

Matanya langsung terbelalak. Itu Zee! Idolanya sendiri, berjalan bersama seorang gadis berambut pendek bernama Ratu, yang tampak seperti asistennya.

Doni mendadak panik, jantungnya berdegup kencang. Tangannya yang memegang jemuran sampai gemetar.
“beneran ini? Jangan halu dong…” gumamnya pelan.

Ratu tersenyum ramah, menyapa lebih dulu.
“Halo, mas! Lagi jemur baju, ya?” katanya sambil melambaikan tangan.

Doni terbata-bata, “I-iya mbak… eee… saya Doni…”

Zee berdiri di samping Ratu, menundukkan kepala sedikit dan tersenyum manis. Senyum itu membuat Doni hampir lupa caranya bernafas.

Ratu lalu menjelaskan maksud kedatangan mereka.
“Gini, Mas Doni… jadi minggu terakhir syuting ini, Zee agak susah tidur di tenda. Nyamuknya banyak banget. Nah, kami lagi nyari penginapan yang agak tenang. Ada rekomendasi nggak, Mas?”

Doni menelan ludah. Otaknya kosong, tapi lidahnya refleks menjawab, “Di rumah saya ada kamar kosong, mbak… bekas almarhumah nenek saya. Kalau mau dipakai, boleh kok.”

Zee langsung menoleh ke arahnya, matanya berbinar. “Serius, Mas? Boleh ya? Wah, makasih banget…” suaranya lembut tapi bikin Doni makin salah tingkah.

Tak lama, mereka bertiga masuk ke rumah Doni. Ibunya menyambut dengan sopan, agak terkejut karena ada artis terkenal tiba-tiba datang.

Zee melihat-lihat kamar kosong yang ditawarkan. Memang sederhana, dinding kayu dengan ranjang tua, tapi cukup bersih. Zee menelusuri dengan pandangan puas.
“Hmm… nggak terlalu bagus, tapi nyaman. Aku suka,” katanya sambil tersenyum ke arah Doni.

Doni langsung menunduk, wajahnya memerah.
“Syukurlah kalau nyaman, Mbak…”

Zee hanya terkekeh kecil, sementara Ratu membantu menurunkan koper kecil milik Zee.

Doni berdiri di pintu kamar, matanya masih tak percaya. Idolanya yang selama ini hanya bisa ia lihat lewat layar ponsel… sekarang akan tinggal di rumahnya sendiri.

Hari pertama Zee tinggal di rumah Doni berjalan cukup tenang. Suasana rumah sederhana itu terasa berbeda karena kehadiran seorang artis yang biasanya hanya bisa Doni lihat lewat layar ponsel.

Sore hari, mereka duduk bersama di ruang tamu sambil mengobrol ringan, Zee yang gampang bergaul langsung menjadi akrab dan Doni yang gugup mencoba menyesuaikan. Angin masuk dari jendela, membuat suasana semakin santai. Doni, yang biasanya jarang bicara panjang dengan orang baru, kali ini jadi lebih berani.

“Sekolah kamu sampai mana, Doni?” tanya Zee sambil menyeruput teh hangat yang dibuatkan oleh ibu Doni.

Doni menggaruk kepala sambil tersenyum kaku. “Hehe… saya dulu sekolah sampai kelas 2 SMA, Mbak. Habis itu putus. Soalnya harus bantuin emak di sawah.”

Zee menatapnya penuh empati. “Oh… aku ngerti. Berat ya. Tapi kamu hebat bisa bantuin keluarga. Jangan minder, ya.”

Doni hanya menunduk, senyum tipis terukir di wajahnya. Hatinya campur aduk—senang karena diperhatikan idolanya, tapi juga sedih diingatkan soal masa lalunya.

Selama obrolan ringan itu, Doni berusaha fokus. Namun, matanya beberapa kali tanpa sadar melirik ke arah Zee. Saat itu Zee mengenakan kaos tipis warna putih yang agak ketat, membuat bentuk tubuhnya terlihat jelas. Belahan s* Zee samar-samar tercetak dari balik kain, membuat Doni jadi salah tingkah.

“Uhuk…” Doni pura-pura batuk, cepat-cepat memalingkan wajahnya ke arah lain setiap kali tatapannya hampir tertangkap.

Zee sempat mengerling curiga, alisnya sedikit terangkat. Tapi ia hanya tersenyum kecil, seolah pura-pura tidak tahu.

“Kenapa, Doni? Kok mukanya merah gitu?” tanya Zee sambil terkekeh pelan.

“E-eh, nggak apa-apa, Mbak… mungkin kepanasan,” jawab Doni gugup, padahal jantungnya berdegup kencang.

Obrolan mereka pun berlanjut lagi ke topik ringan—tentang kampung, makanan desa, dan cerita syuting. Tapi dalam hati Doni, bayangan s* Zee terus menghantui, membuatnya sulit untuk benar-benar fokus pada pembicaraan.

Sore itu, setelah seharian syuting di lokasi yang cukup melelahkan, Zee pulang ke rumah sederhana milik Doni. Rambutnya agak berantakan, wajahnya sedikit pucat karena kelelahan, tapi senyumnya tetap manis.

Di depan rumah Doni sudah menunggu lalu menyapa Zee karena baru balik dari lokasi syuting. Terjadi obrolan ringan.

Hubungan mereka memang sudah terasa akrab, hampir seperti teman sebaya. Walau sebenarnya usia Doni lebih tua dua tahun, tingkah lugu dan polosnya membuat ia tampak lebih muda.

Zee langsung menuju kamar nya, begitu masuk kamar, Zee membuka tas kecilnya dan mulai bersiap untuk mandi. Kamar kosong peninggalan nenek Doni itu hanya dipasang gorden tipis sebagai penutup, bukan pintu. Celah di pinggir kain gorden ternyata sedikit terbuka.

Doni yang kebetulan lewat sambil membawa ember berisi pakaian kotor, tanpa sengaja melihat cahaya lampu dari dalam kamar Zee menyorot keluar. Rasa penasarannya membuat langkahnya berhenti. Ia tahu itu salah, tapi rasa ingin tahunya mengalahkan logika.

Perlahan, ia menoleh. Dari celah gorden itu, ia bisa melihat samar-samar Zee yang sedang melepaskan pakaiannya. Kaos putih dan celana jeans yang tadi dipakainya sudah terlipat di atas kursi. Kini tubuhnya hanya tertutup oleh daleman tipis—atas dan bawah.

Doni terperangah. Matanya tak berkedip, menelan ludah pelan. Tubuh Zee terlihat begitu mulus dan terawat, kulitnya halus bercahaya terkena lampu kamar.

Doni masih berdiri kaku di balik gorden yang sedikit terbuka. Pandangannya terpaku pada sosok Zee di dalam kamar. Kini, pakaian luar yang tadi menempel di tubuh artis muda itu sudah tak ada, tersisa hanya bra dan celana dalam tipis yang menempel di tubuhnya.

Doni langsung tersenyum tipis, jantungnya berdegup makin kencang. Kapan lagi aku bisa lihat ini secara langsung? batinnya bergemuruh.

Matanya menelusuri setiap lekuk tubuh Zee. Kulitnya terlihat mulus tanpa cacat, siluet tubuhnya begitu proporsional. Saat Zee bergerak membenarkan handuk, bagian belakang tubuhnya sempat terlihat jelas, membuat Doni menelan ludah dengan susah payah.

Apalagi, saat Zee tak sengaja menyenggol meja kecil di dekatnya,membuat kedua pasangan bukit kembar Zee jadi sedikit berguncang. 

“Ssshhh… gila montok banget Zee susumu” barin Doni

Darah mudanya langsung berdesir hebat. Keringat dingin menetes di pelipisnya, bukan hanya karena gugup takut ketahuan, tapi juga karena tubuhnya sendiri mulai bereaksi dengan liar.

Sementara di dalam kamar, Zee terlihat santai, sama sekali tidak menyadari ada sepasang mata yang sedang mengintainya dengan penuh nafsu.

Begitu melihat Zee sudah menutupi tubuhnya dengan handuk kecil, Doni langsung panik. Ia menarik kepalanya dari balik gorden, lalu buru-buru melangkah cepat ke dapur, pura-pura sedang mencari sesuatu. Nafasnya masih tersengal, jantungnya berdetak tak beraturan.

Tak lama, suara langkah lembut terdengar. Zee keluar dari kamar, tubuhnya hanya dibalut handuk putih kecil yang menempel pas di tubuhnya. Rambutnya yang panjang masih tergerai berantakan, sedikit basah karena keringat setelah syuting seharian.

Saat melewati ruang tengah, Zee sempat menoleh sekilas ke arah Doni yang berdiri di dapur.

Zee tersenyum tipis. “Eh, Doni… lagi ngapain di dapur malam-malam?” tanyanya ringan.

Doni yang mencoba bersikap normal langsung menjawab terbata, “A-anu… tadi mau ambil air, Mbak.”

Zee tertawa kecil sambil melangkah makin dekat. Kini jarak mereka hanya beberapa langkah saja, dan Doni bisa mencium samar wangi dari tubuh Zee. Pandangan matanya, meski berusaha dialihkan, tetap saja sesekali melirik ke arah lekuk tubuh yang hanya tertutup handuk itu.

Nafsu dalam dirinya perlahan kembali naik. Astagfirullah… jangan ketahuan, batinnya.

Zee yang sedang berdiri di depan pintu kamar mandi menoleh lagi, senyum jahilnya muncul. “Kenapa wajahmu merah gitu, Doni? Kamu panas, ya? Atau jangan-jangan… kamu ngelihatin aku, hm?”

Doni kaget, langsung memalingkan wajah. “E-eh, nggak kok! Mana berani…” jawabnya gugup.

Zee hanya terkekeh pelan, lalu masuk ke kamar mandi sambil tetap menahan handuknya yang nyaris melorot.

Doni menelan ludah keras-keras. Adegan singkat itu sudah cukup membuat darah mudanya kembali bergolak.

Malam semakin larut. Jam dinding tua di ruang tamu berdentang pelan menandai pukul 01.00. Namun Doni masih terjaga di ranjangnya.

Ia berbaring menatap langit-langit kamar yang remang, pikirannya tak bisa berhenti memutar ulang bayangan Zee dengan handuk tadi sore. Senyum, wangi tubuh, hingga setiap lekuk yang sempat terlihat… semuanya berputar jelas di kepalanya.

Doni menggeliat gelisah. Nafasnya berat. Aduh… kenapa nggak bisa ilang bayangannya?

Perlahan, bayangan itu makin liar. Ia membayangkan tubuh Zee tanpa balutan kain, lalu membayangkan bokong Zee yang bulat rapat. Hatinya berdegup kencang, tubuhnya terasa panas.

Tanpa sadar, Doni bergumam pelan, suaranya serak, “Gimana ya rasanya kalau punyaku kejepit di situ…”

Tangannya refleks menutupi wajah, malu sendiri karena fantasinya kelewat jauh. Tapi hasrat itu makin sulit ditahan.

Doni yang sudah dilanda hasrat tak tertahankan akhirnya bangkit dari ranjangnya. Langkah kakinya pelan, hampir tak bersuara, menuju kamar tamu tempat Zee beristirahat.

Dari luar kamar, ia ragu. Tangannya sempat berhenti di sisi gorden yang hanya ditutup seadanya. Duh, gila… kalau ketahuan bisa habis aku… batinnya. Tapi dorongan dalam dirinya jauh lebih kuat daripada rasa takut.

Dengan hati-hati, ia menyingkap sedikit gorden. Lampu kamar memang sudah dimatikan, tapi tidak benar-benar gelap—cahaya bulan dari jendela cukup untuk memperlihatkan sosok Zee di atas ranjang.

Zee sudah terlelap, tubuh mungilnya tampak tengkurap di kasur, napasnya teratur, wajah cantiknya tertutup sebagian rambut hitam yang terurai.

Jantung Doni berdegup kencang. Tangannya dingin, tapi tubuhnya panas. Perlahan ia menyingkap gorden lebih lebar, lalu melangkah masuk dengan sangat hati-hati, menahan napas agar tidak menimbulkan suara.

Setiap langkah terasa menegangkan. Bayangan tubuh Zee yang hanya tertutup selimut tipis membuat Doni semakin kehilangan akal sehat.

Astaga… aku beneran di kamar Zee sekarang…

Doni yang sudah dilanda hasrat tak tertahankan akhirnya bangkit dari ranjangnya. Langkah kakinya pelan, hampir tak bersuara, menuju kamar tamu tempat Zee beristirahat.

Dari luar kamar, ia ragu. Tangannya sempat berhenti di sisi gorden yang hanya ditutup seadanya. Duh, gila… kalau ketahuan bisa habis aku… batinnya. Tapi dorongan dalam dirinya jauh lebih kuat daripada rasa takut.

Dengan hati-hati, ia menyingkap sedikit gorden. Lampu kamar memang sudah dimatikan, tapi tidak benar-benar gelap—cahaya bulan dari jendela cukup untuk memperlihatkan sosok Zee di atas ranjang.

Zee sudah terlelap, tubuh mungilnya tampak tengkurap di kasur, napasnya teratur, wajah cantiknya tertutup sebagian rambut hitam yang terurai.

Jantung Doni berdegup kencang. Tangannya dingin, tapi tubuhnya panas. Perlahan ia menyingkap gorden lebih lebar, lalu melangkah masuk dengan sangat hati-hati, menahan napas agar tidak menimbulkan suara.

Setiap langkah terasa menegangkan. Bayangan tubuh Zee yang hanya tertutup selimut tipis membuat Doni semakin kehilangan akal sehat.

Astaga… aku beneran di kamar Zee sekarang…

Doni kini berdiri tepat di samping ranjang. Nafasnya tersengal, dada naik turun tak beraturan. Ia menatap lama tubuh Zee yang tengkurap di hadapannya.

Tangan Doni otomatis bergerak ke bawah, mengelus-ngelus miliknya dari luar celana. Suara desahan kecil lolos tanpa sadar dari bibirnya.

Perlahan, dengan tangan bergetar, ia mulai menyingkirkan selimut tipis yang menutupi bagian bawah tubuh Zee. Jantungnya seperti mau copot saat kain itu tergeser sedikit demi sedikit.

Hingga akhirnya terlihat jelas—Zee ternyata tidur hanya dengan celana dalam yang menempel ketat di kulit mulusnya.

Doni terbelalak. Matanya tak berkedip, mulutnya sampai terbuka kecil. Dari jarak sedekat itu, ia bisa melihat lekukan pantat Zee yang bulat dan padat, seakan menantang siapa pun yang melihat.

Doni menelan ludah keras-keras, wajahnya memerah karena nafsu yang semakin membakar.

“Gila… indah banget… pantatnya…” bisik Doni hampir tanpa suara, seakan takut sekaligus kagum.

Tangannya makin kuat mengelus-ngelus bagian bawah celananya sendiri, tubuhnya bergetar menahan hasrat.

Doni menahan tawanya sendiri saat menatap pemandangan di depannya.

“Idola gue… tidur kayak gini aja berani banget…” gumamnya dalam hati sambil tersenyum puas.

Bagi Doni, momen ini seperti rezeki tak terduga. Zee, gadis yang selama ini hanya bisa ia kagumi dari layar ponsel, kini terlelap begitu dekat, hanya mengenakan celana dalam tipis yang menempel di kulitnya.

Tubuh Doni bergetar karena nafsu. Ia menatap setiap lekukan tubuh Zee tanpa berkedip, jantungnya berdegup tak terkendali.

Pelan-pelan, dengan tangan gemetar, Doni merogoh celananya sendiri. Ia mengeluarkan pe***nya yang sudah keras sejak tadi. Nafasnya memburu, peluh menetes dari keningnya.

Tangannya mulai mengocok miliknya sambil terus menatap pantat Zee yang begitu menggoda dari jarak sangat dekat.

Dalam batinnya, ia merasa bersalah, tetapi hasrat jauh lebih kuat.

“Maafin aku, Zee… aku udah nggak tahan lagi…” bisiknya lirih, suara parau bercampur dengan desahan tertahan.

Gerakannya semakin cepat, matanya terus menempel pada pemandangan itu, seakan tak ingin kehilangan satu detik pun dari kenikmatan yang ia curi secara diam-diam.

Doni yang sejak tadi hanya bisa menahan diri akhirnya mulai memberanikan diri. Dengan tangan gemetar, ia mendekatkan jari-jarinya ke tubuh Zee yang tengkurap tenang di ranjang.

Pelan sekali, ia menyentuh bagian pinggang Zee, lalu bergerak turun… hingga akhirnya telapak tangannya mendarat di pantat Zee yang hanya tertutup tipis oleh celana dalam.

Deg! Jantung Doni serasa mau meloncat keluar.

Ia menahan napas, menunggu apakah Zee akan terbangun—namun tidak. Gadis itu tetap terlelap, sesekali hanya bergumam kecil dalam tidurnya.

Doni tersenyum puas, lalu mulai meremas perlahan pantat Zee. Kelembutan kulit idola yang selama ini hanya ia impikan kini benar-benar ada dalam genggamannya.

“gila lembut banget… jadi gini ya rasanya” gumam Doni dengan suara bergetar, matanya berbinar penuh nafsu.

Tangannya tak berhenti bermain, sementara tangan lainnya tetap mengocok miliknya dengan semakin cepat. Setiap sentuhan di kulit Zee membuat gairahnya naik berkali lipat.

Doni meresapi sensasi itu sepenuh hati—antara bahagia, gugup, dan mabuk oleh kenikmatan. Ia bahkan sesekali mencium aroma wangi lembut dari tubuh Zee yang membuatnya semakin kalap.

Waktu terus berjalan. Doni yang awalnya hanya berani meremas perlahan, kini semakin berani. Nafsu yang sudah mendidih membuatnya kehilangan kendali.

Zee tetap tidak bergerak, napasnya masih teratur dalam tidurnya. Hal itu membuat Doni semakin kalap, seolah mendapat lampu hijau untuk melanjutkan ulahnya.

Dengan hati-hati, ia naik ke atas ranjang. Lututnya menekan kasur tepat di samping tubuh Zee. Ia menatap punggung mulus idolanya, lalu menelan ludah keras-keras.

Tangannya masih menempel erat di pantat Zee, kini meremas lebih dalam, lebih rakus. “Aduh… gila, enak banget…” bisiknya serak.

Perlahan, ia menurunkan posisi tubuhnya. Dengan berani, Doni mulai menggesek-gesekkan ujung miliknya ke belahan pantat Zee yang hanya terhalang tipis kain celana dalam.

Seketika tubuhnya bergetar hebat. Sensasi hangat dan lembut itu membuat kepalanya berputar. Ia menggigit bibir, menahan desah keras agar tak membangunkan Zee.

“Zee… kalau kamu tahu aku kayak gini, pasti kamu marah… tapi aku udah nggak tahan…” desisnya, sambil terus menggesek lebih cepat, lebih dalam di sela pantat idolanya.

Setiap gesekan membuat Doni semakin mabuk oleh kenikmatan—antara bersalah dan tak kuasa menahan hasrat.

Pelan tapi pasti, Doni makin nekad. Tangannya bergerak gemetar, membuka sedikit lebar belahan pantat Zee, pas seukuran untuk menyelipkan miliknya. Jantungnya berdetak kencang, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

Dengan hati-hati, ia menyingkirkan celana dalam tipis yang menghalangi jalan. Kini tak ada lagi penghalang berarti. Doni menahan napas panjang, lalu menyodorkan miliknya yang sudah keras sekali itu ke sela yang hangat dan rapat.

Begitu berhasil menyelipkan, Doni langsung mendesah pelan, “Hhh… ya ampun… enak banget…” suaranya tercekat, menahan kenikmatan luar biasa yang baru pertama kali ia rasakan.

Ujung miliknya kini terjepit sempurna di belahan pantat Zee. Doni menggertakkan giginya, mencoba menahan diri agar tidak mengeluarkan suara terlalu keras.

Pelan-pelan, ia mulai menggerakkan pinggulnya maju-mundur, seakan sedang melakukan penetrasi betulan. Setiap gesekan membuat tubuhnya merinding, membuat pikirannya benar-benar terhanyut.

Zee yang masih tengkurap tetap tak bergerak, hanya sesekali bergumam kecil dalam tidurnya, tanpa sadar tubuhnya sedang jadi ‘mainan’ nafsu seorang penggemar.

“Zee… aku… nggak kuat kalau gini terus…” Doni berbisik dengan suara serak, sementara gerakannya makin mantap, menikmati sensasi seolah ia benar-benar bersama idolanya.

Doni sudah benar-benar terbakar nafsu. Matanya merem-melek, setiap gesekan di belahan pantat Zee membuat tubuhnya bergidik nikmat. Nafasnya tersengal, dada naik-turun cepat.

Sesekali gerakannya terhenti saat Zee menggeliat kecil dalam tidurnya, membuat jantung Doni hampir copot karena takut ketahuan. Namun, karena Zee tetap tidak bangun, Doni kembali menggerakkan pinggulnya dengan lebih berani.

“Ahhh… gila… rasanya…,” Doni mendesis pelan, mencoba meredam suaranya. Miliknya terus bergesekan masuk-keluar di sela pantat Zee, menciptakan sensasi yang membuatnya hampir hilang kendali.

Makin lama gerakannya makin cepat, pinggulnya menghantam lembut, membuat tubuh Zee ikut berguncang di ranjang. Setiap hentakan membuat Doni semakin keras mendesah, menahan ledakan di dalam dirinya.

“Zee… aku… nggak kuat lagi…,” gumamnya dengan suara parau. Tangan kirinya mencengkeram sprei kuat-kuat, sementara tangan kanannya bertumpu di pinggang Zee, menahan tubuh idolanya agar tetap dalam posisi.

Detik demi detik, rasa nikmat itu semakin menguasainya. Doni sudah di ambang klimaks, tubuhnya gemetar hebat, keringat menetes deras dari dahinya, dan desahan kecilnya berubah jadi erangan tertahan.

Doni sudah benar-benar hilang kendali. Dengan penuh keberanian, ia menindih tubuh Zee yang masih tengkurap. Ranjang kayu berdecit pelan, seolah ikut menahan beban dan irama gerakannya.

Pinggulnya terus bergerak cepat dan teratur, semakin lama semakin dalam, seakan dirinya sudah lupa pada segala rasa takut. Nafasnya terengah-engah, desahannya semakin keras, membuat tubuhnya ikut berguncang hebat.

Hingga akhirnya, dengan satu hentakan kuat, Doni menekan tubuhnya erat-erat ke arah Zee. Sensasi luar biasa itu meledak dalam dirinya, membuat seluruh otot tubuhnya menegang lalu bergetar hebat.

*Crooott crooott crooott!!

“Ahhh… gila…,” desisnya tertahan, wajahnya menunduk dengan senyum puas, penuh kebahagiaan.

Tubuh Doni gemetar hebat, dadanya naik-turun cepat, keringat mengalir deras, sementara di bawah sana, ia merasakan miliknya berkedut-kedut hebat, menyalurkan rasa nikmat yang tak bisa ia bendung lagi.

Beberapa detik ia hanya bisa terbaring di atas Zee, tersenyum dengan tatapan kosong, merasa seperti baru saja mendapatkan mimpi yang jadi nyata.

Doni terdiam cukup lama, tubuhnya masih terasa lemas setelah semua yang ia lakukan. Ia membiarkan pe***nya diam sebentar di belahan pantat Zee sampai benar benar mengecil. etelah cukup Doni perlahan bangkit dan turun dari tubuh Zee.

Nafasnya masih tersengal, keringat dingin menetes di dahinya. Dengan hati-hati, ia mengambil tisu basah dari meja kecil di sudut kamar—milik Zee sendiri. Tangannya gemetar saat ia membersihkan sisa cai an kental miliknya itu sampai bersih.

Ia berhati-hati sekali, memastikan tidak ada tanda mencurigakan yang bisa membuat Zee terbangun atau menyadari sesuatu. Setelah itu, Doni merapikan kembali selimut yang sebelumnya tersingkir. Zee kini kembali tertutup rapi, seakan tidak pernah terjadi apa-apa.

Doni menarik napas panjang, lalu dengan cepat ia menutup kembali celananya. Sebelum benar-benar pergi, ia memberanikan diri melakukan satu hal iseng: wajahnya perlahan mendekat, lalu ia mengecup sekilas bibir basah Zee yang lembut, yang membuat dadanya berdebar keras.

“Maaf, Zee…” gumamnya pelan dengan suara bergetar.

Setelah itu, Doni segera meninggalkan kamar dengan langkah pelan. Ia masuk kembali ke kamarnya sendiri, menutup pintu rapat, lalu merebahkan diri. Rasa puas bercampur dengan rasa takut dan bersalah memenuhi pikirannya. Tak lama kemudian, karena tubuhnya sudah terlalu lelah, ia pun tertidur pulas.

Bersambung…


Continue Reading

You'll Also Like

770K 24.1K 48
BEBERAPA PART DI PRIVATE, SILAKAN FOLLOW UNTUK MEMBUKA. Dalam pikiran dan hati Laura hanya ada Leon. Laki-laki itu seolah sudah menjadi pusat dunian...
1.4M 72.6K 53
​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Mat...
1M 84.5K 105
Arsya Julian atau yang kerap kali di sebut Asa kembali ke kampung halamannya setelah 2 tahun bekerja di perantauan, Asa memilih pulang karena sudah m...
Wattpad App - Unlock exclusive features