"Kenapa sepanjang jalan orang-orang memperhatikannya? Itu hanya perasaanku saja, kan? Atau memang dia seperti itu? Maksudku lihatlah dia benar-benar..."
"Cantik?"
"... Iya, aku akui itu."
"Iya, kan?"
"Eh, tapi kenapa semua orang lebih menyukai orang-orang yang cantik dan tampan sekarang? Seperti semua orang yang good-looking di mata mereka itu istimewa?"
"..."
Erin terdiam, mencari kata-kata yang pas untuk menjawab interogasi dari Lydia (lagi). Sedangkan Lydia hanya menatapnya dengan penasaran sambil mengetuk jari di meja. Akhirnya Erin menimpali,
"Bukankah itu sudah menjadi tradisi, ya? Kalau orang-orang yang good-looking di sekolah ini dipuja-puja layaknya selebritas."
Erin mengangkat alis kemudian menambahkan, "Kau ini aneh. Masih saja mempertanyakan hal itu."
Ia menghela napas panjang kemudian menggelengkan kepala pelan. Kelihatannya dia sudah bosan dengan pertanyaan Lydia yang itu-itu saja meskipun orang yang ditunjuk berbeda-beda tetapi intinya sama yaitu Lydia masih skeptis dengan siswa-siswi yang good-looking di sekolah swasta itu. Ada perasaan iri di hatinya.
Biasanya setelah dijelaskan oleh Erin dia hanya ber-"oh" pendek. Namun kali ini tidak. Dia hanya diam saja menopang dagu sembari memperhatikan ruang kelas yang ramai di jam istirahat. Terlihat beberapa siswa yang masih berada di kelas, saling bercakap dan beberapa ada yang bercanda. Erin melirik ke Lydia lalu berkata, "Aku tahu kau masih galau dengan mereka... Apalagi siswi-siswi yang cantik dan imut itu."
Erin berdehem lalu ikut memperhatikan keadaan kelas. Pandangannya mengarah ke segerombolan siswi-siswi yang sedang bergosip. Tiba-tiba Lydia membuka suara, "Erin, kenapa kau masih saja peduli padaku bukannya dengan kelompokmu?"
Erin menoleh ke Lydia seketika. Lydia menambah, "... Kau dulu selalu menjadi pusat perhatian, loh. Kau cantik, pintar, dan agak, maaf, kemayu. Dan itu menjadikanmu meraih peringkat pertama waktu itu, kan?"
Mendengar hal itu, Erin tersenyum tipis sambil berkata, "Yah, itu kan, dulu. Tapi semenjak kecelakaan itu aku jadi sadar bahwa peringkat konyol itu tidak ada artinya sama sekali. Dan aku lebih suka diriku yang sekarang. Merasa lebih damai."
Lydia agak terkejut dengan perkataannya. Entah mengapa dia menjadi lebih bersyukur.
Kata kunci: Cantik, imut, kemayu
Challenge day 1