BLOOD OATH : The Forensic Sec...

By introvertworld

103 44 11

Han Mara, inspektur forensik kriminal Kepolisian Metro Seoul, dikenal dingin, galak, dan ditakuti bahkan oleh... More

Episode 1 - Pertemuan Pertama
Episode 2 - Dokter Misterius
Episode 3 - Malam di Gangnam
Episode 4 - Luka Yang Hilang
Episode 6 - Catatan Tua
Episode 7 - Pertanyaan Berbahaya
Episode 8 - Serangan Pertama

Episode 5 - Bayangan di Rooftop

8 5 1
By introvertworld

Lampu neon di ruang autopsi masih berpendar ketika Mara keluar, tapi kilau putih pucat itu terasa seperti menempel di matanya. Kepalanya masih penuh gema ucapan Theo barusan.

"Kalau aku benar-benar memberitahumu, kau mungkin tidak akan sempat tidur lagi"

Suara itu berputar-putar, seperti gema yang tak kunjung hilang. Kata-kata sederhana, tapi menusuk lebih dalam dari rasa lelah di tubuhnya.

Koridor rumah sakit tengah malam lengang, terlalu lengang. Hanya ada suara sepatu boots Mara yang beradu dengan lantai. Langkahnya bergema panjang, seakan ada kaki lain yang mengikuti tepat di belakang. Ia menoleh sekilas, menatap ke arah ruang autopsi yang sudah tertutup rapat.

Theo tak nampak lagi. Seakan menghilang begitu saja.

"Dia selalu muncul dan hilang begitu saja… Menyebalkan", gumam Mara, mendengus pelan, meski ada sedikit getir di ujung bibirnya. Kesal? Iya. Tapi jauh di balik rasa kesal, ada sesuatu yang menekan dadanya. Rasa ingin tahu yang semakin kama semakin tak bisa dibendung.

Di parkiran, pandangannya langsung tertuju pada sebuah sedan hitam yang terparkir rapi di sudut. Bagi Mara, itu bukan mobil asing. Ia mengenalinya tanpa ragu, mobil serupa yang ia lihat semalam ketika Theo meninggalkan TKP di Gangnam.

Plat nomornya terlalu mencolok untuk salah dikenali. 12 가 8888, angka berulang yang langsung menempel di ingatan.

Artinya jelas, Theo belum pulang.

Mara membuka pintu mobilnya sendiri, menyalakan mesin. Tangannya otomatis menggenggam setir, tapi jari-jarinya berhenti tepat sebelum ia menginjak pedal gas. Ada sesuatu yang menahan. Ia mematikan lampu, merunduk sedikit di kursi, lalu memilih diam menunggu.

Udara dingin merambat masuk dari ventilasi. Luka saat ia terbanting di Gangnam masih berdenyut setiap kali Mara menarik napas lebih dalam. Ia mengusap pelipisnya yang basah oleh keringat dingin.

"Kenapa aku melakukan ini?".

Pertanyaan itu sempat muncul dalam benak Mara, meski jawabannya sudah jelas. Semua karena Theo. Karena misteri yang menempel pada lelaki itu lebih besar daripada rasa sakit yang menjalar di tubuhnya.

Beberapa menit berlalu sampai pintu samping rumah sakit terbuka. Sosok jangkung yang Mara tunggu akhirnya keluar. Jas panjang hitam membalut tubuhnya, siluetnya tegak, gerakannya tenang. Tidak ada keraguan di setiap langkah, seakan malam memang miliknya seorang.

Theo masuk ke sedan hitam itu. Mesin menyala pelan. Lampu depan menembus kabut tipis sisa hujan dini hari. Mobil itu meluncur keluar dari basement dengan mulus.

Mara buru-buru menyalakan lampu mobilnya, menjaga jarak aman. Jantungnya ikut berdetak setiap kali lampu rem Theo menyala di depan. Ia harus menjaga jarak. Cukup dekat agar tidak kehilangan, namun cukup jauh agar tidak ketahuan.

-------

Kota Seoul dini hari seperti kuburan raksasa. Jalanan sepi, hanya sesekali ada bus malam lewat. Gedung-gedung tinggi memantulkan bayangan lampu jalan. Theo mengemudi stabil, tidak terburu-buru, seolah tahu tidak ada yang berani mengusiknya di tengah jam rawan seperti ini.

Beberapa blok kemudian, sedan itu berhenti di sebuah gedung apartemen mewah yang berdiri angkuh di seberang rumah sakit. Lampunya menyala redup, lobi marmer putih tampak dingin di balik kaca lebar.

Mara menahan napas. Ia ikut memarkirkan mobilnya di seberang, dua slot dari pintu masuk lalu keluar perlahan. Tumit sepatunya beradu lirih dengan aspal ketika ia menutup pintu mobil, berusaha agar langkahnya tetap senyap.

Theo menyeberang jalan, lurus, tidak menoleh ke kanan atau ke kiri. Masuk begitu saja ke dalam lobi, seakan pintu itu memang selalu terbuka untuknya.

Mara mempercepat langkah. Tapi ketika ia masuk ke lobi, pintu lift menutup tepat di depan matanya.

Sial.

Sekilas, matanya menangkap panel digital di atas pintu lift. Angka merah menyala, R.

Mara terpaku. "Rooftop?", gumamnya.

Jantungnya mendadak menghentak lebih keras. Kenapa Theo naik ke rooftop, tengah malam seperti ini?

Tanpa pikir panjang, Mara mendorong pintu tangga darurat. Udara lembap bercampur bau besi tua menyambutnya. Langkahnya bergema di ruang sempit itu.

Anak tangga seakan tidak ada habisnya. Napasnya semakin berat, bahu dan pinggangnya nyeri setiap kali ia menapak. Luka memar perih di punggung membuatnya meringis beberapa kali, tapi ia terus naik.

Baru setengah jalan saar Mara memutuskan berhenti sejenak. Ia menempelkan punggung ke dinding dingin. Dadanya naik-turun cepat. Keringat tipis muncul di pelipis. Tangannya bergetar saat menyeka. Ia seharusnya pulang… istirahat… tapi tubuhnya harus bergerak lagi, terdorong rasa penasaran.

Sampai akhirnya sampai pintu besi rooftop.

Tangannya meraih gagang besi, dingin menyengat telapak. Ia mendorong hingga pintu itu terbuka dengan decit lirih.

Seketika dunia malam menyergap.

Seoul terbentang luas. Lautan lampu kota berkelap-kelip. Angin berhembus menusuk kulit, merobek kebisuan malam. Dan di sana, Mara melihat Theo berdiri tepat di tepi gedung nyaris tak bergerak. Tegak, diam, seolah menjadi bagian dari langit. Jas panjangnya berkibar, beradu dengan hembusan angin.

Ia menahan napas ketika Theo menoleh sedikit. Matanya merah menyala. Samar tapi jelas, seperti bara yang mencoba disembunyikan di balik kegelapan. Jantungnya terasa berhenti sesaat, lalu menghantam tulang rusuk. Berdetak kencang, tak karuan. Semua insting polisinya berteriak bahaya, tapi kakinya… tak mau mundur.

"Theo", bisiknya tanpa sadar.

Seketika, sosok itu menghilang begitu saja. Tanpa suara langkah atau pintu yang terbuka. Hanya hilang, seperti kabut yang disapu angin.

Mara tersentak. Ia berlari ke tepi atap, mencondongkan tubuh. Matanya menyapu ke bawah, namun yang nampak hanya jalanan kosong. Tidak ada Theo. Tidak ada siapa-siapa.

Tubuhnya membeku. Tangan kirinya masih menempel di beton dingin. Angin merusak rambutnya, meniupnya kusut ke wajah.

Untuk sesaat, Seoul yang berkilau di bawah sana terlihat indah. Tapi keindahan itu membuat ngeri di dadanya semakin pekat. Luka di bahunya berdenyut makin keras. Napasnya berat. Lututnya sedikit gemetar.

Mara mencoba mengatur pikirannya. Mungkin Theo turun lewat tangga darurat lain… Atau mungkin ia yang salah lihat… Tapi hatinya tahu, tidak ada penjelasan logis untuk kecepatan menghilang seperti itu.

Mara menggigit bibirnya kuat, rasa perih punggungnya bercampur asin darah yang sampai ke lidah. Untuk pertama kalinya, keraguan lenyap. Mara yakin, Theo menyimpan sesuatu dan ia tidak akan berhenti sebelum menemukan jawabannya.

Saat ia berbalik hendak pergi, punggungnya merinding. Ada perasaan samar, seperti tatapan yang menusuk dari kegelapan di salah satu sudut rooftop.

Mara menoleh, berhenti, tidak bergerak.

Matanya menajam, menatap lurus ke bayangan pekat di sisi kiri atap. Hanya ada kegelapan kosong disana, tapi instingnya menolak percaya. Ada yang mengintai dan melihatnya dari saja.

Cukup lama ia berdiri di sana, seakan menantang sesuatu yang tak terlihat. Akhirnya, dengan satu helaan panjang, ia bergeming. Sepatunya beradu dengan lantai atap, mantap, seakan memberi tahu dunia bahwa Inspektur Han Mara tidak pernah gentar.

Mara mendesis, menegakkan bahu, lalu berjalan menuju pintu besi. Ia tidak tahu apakah dirinya baru saja diawasi, atau Theo memang masih ada di sana, bersembunyi di balik bayangan.

Tapi ada satu hal jelas, ia baru saja melangkah lebih jauh ke dalam sesuatu yang jauh lebih besar daripada pekerjaannya.

Dan tidak ada jalan mundur.

🥀🥀🥀🥀

Continue Reading

You'll Also Like

145K 5.5K 105
BL TERJEMAHAN - SINOPSIS DI DALAM
35.5K 1.7K 42
Setelah tidak beroperasi selama 7 tahun lamanya kini Genius High School kembali. Sekolah SMA tersohor dengan sistem yang baru. semuanya telah diriset...
Wattpad App - Unlock exclusive features