gadis kecil milikku

By ntsh___70

198K 13.1K 684

Terjebak dalam situasi yang mengharuskan aku bertanggung jawab atas hidupnya. Entah keberanian seperti apa ya... More

Bab 1
Bab 2
video call
Tidur Sekamar nih ye
Resmi jadi karyawan
Mabuk
Perkara Mabuk
Mual?!
kecupan
Mobil Bergoyang?
Belanja Bulanan
kecupan kedua
Ayyara Punya Pacar?
suami bu Erika
aku dan kamu sudah menikah
Pembagian Tim
Berdarah
Emosi
Mood Erika
Aroma Ayyara
aku cuma tanya
saling panas
Aw!
Weekend -part 1-
Weekend -part 2-
Ayyara sakit
pulang
telat
Perkara Kopi
eror
sikap Erika -part 1-
sikap Erika -part 2-
es krim
caper
pengen ngobrol
kegaduhan
keseleo part 1
Keseleo (part 2)
Firasat
Kecurigaan
Cerita yang panjang
Persiapan
Argumen
outing (part 1)
☘️ cerita baru ☘️
outing (part 2)
malam saat outing
Perhatian kecil
Tatapan
drama pagi
Calista
sebuah misi
ke Mall bareng
Drama
Tegang
Merajuk
Kamar sebelah
kita perlu bicara
Ayah dan anak
Sunyi dan dingin
Meledak
sisa-sisa pertengakaran
Mulai lagi
Yang tak pernah terucap
Tanggung Jawab
Penggakuan Erika
Perubahan
"Aku Suka"
Setelah itu
kegaduhan
Rumah utama
Drama
Predator
Cemburu
Ayyara Ngambek
Kost Bandung
Bocilnya Aku
Mobil
Pulang Kampung
Pengakuan
Gosip dan rencana akhir tahun
Perdebatan
pijatan
Ngambek
Bali
Terlalu manis
Alumni, satu circle
Happy New Year!
Salting
Asbunnya Ayyara
Erika mabuk
Babak Baru
Program
Berita baik dan buruk
Desas-desus
Akhirnya

Outing end

1.4K 133 7
By ntsh___70

Pagi itu kamar masih temaram, udara dingin AC bertabrakan dengan kehangatan tubuh di balik selimut. Ayyara menggeliat kecil, merasa ada sesuatu yang menempel erat di pinggangnya. Saat membuka mata, ia tersadar: lengan Erika melingkar kuat di tubuhnya, wajah istrinya menempel hangat di bahunya.

Gerakannya membuat Erika ikut terbangun. Ia membuka mata perlahan, lalu menegakkan tubuhnya dengan kaget, seakan baru sadar posisi mereka. Pelukannya terlepas, namun bekas hangatnya masih tertinggal di kulit Ayyara.

“Aku…” suara Erika serak, matanya menatap ke bawah. “Aku tidak biasanya… begini.”

Ayyara duduk perlahan, wajahnya kikuk. “Kak Eca mabuk semalam. Aku pikir—”

“Aku ingat,” potong Erika cepat, tatapannya tajam tapi bergetar. Ia menarik napas panjang. “Dan aku sadar, Ayyara. Aku memelukmu karena aku menginginkannya.”

Ayyara membeku, dadanya terasa penuh. Ia ingin menjawab, tapi sebelum sempat, Erika meraih dagunya. Tatapan itu dalam, mengunci, lalu bibirnya menyentuh dengan lembut.

Ciuman pertama terasa ragu, lalu berubah mantap. Erika menundukkan tubuhnya, menekan Ayyara ke ranjang, gerakannya tegas, mendominasi. Tangannya menyusuri rambut, kemudian pipi, lalu merengkuh pinggang. Ayyara terkejut, tubuhnya menegang sejenak, tapi segera luluh, pasrah dalam kendali sang istri.

“Aku gak sula kalau kamu terlalu dekat dengan Adam. ” bisik Erika di sela napas, bibirnya masih menempel di leher Ayyara.

“A-aku gak deket sama Adam” jawab Ayyara gugup, suaranya pecah.

“Lalu?” Erika menatapnya tajam, jemarinya mengunci tangan Ayyara di sisi kepala. “Kamu semalam dekat banget sama Adam, mana ketawa terus"

Ayyara terdiam, pipinya panas, matanya bergetar. Erika menunduk kembali, mencium bibirnya dalam. Kali ini lebih lama, lebih menuntut, hingga napas Ayyara tersengal.

Detik demi detik berlalu, keintiman itu makin dalam. Gerakan mereka saling bertaut, selimut berantakan, napas berpacu. Erika memimpin, Ayyara hanya mampu mengikuti, sesekali menggenggam lengan istrinya erat, seolah takut terlepas.

"Kaak.. Aaaahhh..kak Ecaaa.."

Di antara desah dan tatapan, Erika tidak ada kata-kata berlebihan. Hanya gerakan yang berkata: keinginan, kerinduan, dan rasa memiliki yang terlalu lama disembunyikan.
.
.

Hingga akhirnya—

Tring! Tring! Tring!
Suara telepon berdering kencang di meja samping.

Keduanya berhenti seketika, masih dalam posisi saling berdekatan, napas terengah. Ayyara buru-buru meraih ponselnya dengan tangan gemetar. Erika tetap di atasnya, menatap dengan senyum kecil penuh kecangunggan.

“H… halo?” suara Ayyara bergetar.

“AYYARA! Kamu belum bangun? Ayoo Cepat turun! Semua sudah siap untuk kegiatan outdoor. Kalau kalian kelamaan, nanti di tinggal!” suara Tini nyaring di speaker.

Ayyara menutup mata, menahan malu. “I-ya… sebentar lagi.”

Sebelum telepon ditutup, Tini menambahkan dengan nada penuh candaan:
“Oh iya, kalau nanti jalannya agak limbung, tenang aja. Aku nggak bakal bilang kamu kelelahan di kamar.” bisik Tini.

Ayyara langsung membeku, wajahnya merah padam. Erika terkekeh bingung, lalu menunduk. Ia ingin melanjutkan.

“kaaak. Kita udah di tungguin dibawaah. Masih ada satu kegiatan lagi, setelah lunch baru pulang.” menahan bahu Erika.

"Aku gak mau ikut. Aku mau disini ajaa.." menahan lengan Ayyara.

"Yaudah. Oke" Ayyara ingin bergegas. "Aku mau turun kebawah"
"Kamu mau ikut mereka?" Terdorong oleh Ayyara
Ayyara menggangguk.

"Ini kita udahan?" Erika duduk dengan penyesalan

'Bisa-bisanya dia ninggalin gitu aja. Mana lagi turn on banget lagi' gumam Erika memegang kepalanya.

.
.

Halaman resort sudah ramai. Semua karyawan berkumpul di lapangan luas yang dipenuhi deretan ATV berwarna hitam dan merah. Udara masih segar, meski matahari mulai naik, memberi cahaya terang di antara pepohonan.

Tini sibuk menghitung peserta sambil berceloteh riang, sementara yang lain berisik sendiri, bercanda soal siapa yang paling jago mengendarai.

Di sisi tangga, Erika baru saja turun paling belakangan. Ia berjalan pelan, satu tangan menempel di pelipisnya. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, wajahnya tampak dingin dan lelah.

“Wih, akhirnya sang ratu bangun juga!” celetuk siska
“Pusing ya, Bu Erika? Wajar, semalam kan agak… *heboh*.” Agnes menambahkan dengan nada menggoda.

Erika hanya mengangkat alis, tak menjawab. Ia biarkan orang lain menebak sesukanya. Semua mengira kepalanya pening karena mabuk semalam, padahal hanya karena kegiatan mereka tadi pagi yang… tertunda.

Di sisi lain, Ayyara memperhatikan diam-diam. Ada rasa khawatir yang ia sembunyikan di balik senyumnya. Tatapannya beberapa kali bertemu dengan Erika, yang entah kenapa terus meliriknya. Setiap kali mata itu terkunci, Ayyara buru-buru mengalihkan pandangan, pipinya memanas. Tini yang berdiri di sampingnya langsung mencubit lengannya pelan.

“Kenapa kamu gelisah banget?” bisik Tini penuh curiga. “Dari tadi tuh, Bu Erika… tatapannya nggak lepas dari kamu tau.”
“Apaan sih, kak Tin…” Ayyara buru-buru menepis, namun ekspresinya jelas tak bisa menyembunyikan apa pun.

Instruktur lalu memberikan arahan tentang jalur ATV yang sudah disiapkan: jalanan tanah dengan sedikit tanjakan, beberapa belokan tajam, bahkan ada kubangan air dangkal untuk menambah keseruan.

“Silakan pilih, mau naik sendiri atau berdua,” seru instruktur.

Beberapa karyawan langsung ribut mencari pasangan. Adam, yang biasanya genit, sudah melirik Ayyara. “Ra, mau bareng aku?” tanyanya sambil tersenyum lebar.

Belum sempat Ayyara menjawab, Erika sudah menyahut datar.
“Tidak usah. Dia dengan saya.”

Semua orang sempat terdiam. Adam terkekeh canggung, lalu mundur. Ayyara menoleh cepat ke arah Erika, hendak protes.
“Kak serius? Bukannya tadi kakak bilang nggak mau? Panas, katanya.”

Erika menatapnya sebentar, lalu mengenakan helm tanpa banyak bicara. “Aku lebih baik kepanasan daripada membiarkanmu berdua dengan laki-laki itu.”

Kalimat itu membuat Ayyara tercekat. Pipinya memanas, sementara Tini di belakang mendengarkan.

Akhirnya, mereka naik satu ATV. Erika duduk di belakang, lengan panjangnya memegang pundak Ayyara. Dari luar, orang lain mungkin melihatnya biasa saja, tapi bagi Ayyara, jantungnya berdetak jauh lebih cepat.

ATV melaju, ban memutar tanah basah, debu beterbangan. Ayyara mengemudi dengan hati-hati, sementara Erika diam, hanya sesekali menunduk untuk berbisik di telinganya.

Suara mesinnya meraung, ATV mereka menembus jalan berliku. Sesekali kubangan air membuat cipratan mengenai celana mereka. Ayyara meringis, tapi Erika justru semakin menempel erat, seolah menikmati.

Di tikungan tajam, Ayyara hampir kehilangan kendali. “Aaaahh!” teriaknya.
Tubuh mereka semakin dekat, napas Erika terasa jelas di leher Ayyara.
“Lihat ke depan, jangan takut. Rasakan ritmenya.”
"Kak Eca bisa bawa ini?"
"Enggak! Ini kali pertama aku naik. Aku cuma mau buat kamu gak terlihat tegang"

Kata-kata itu membuat Ayyara berusaha fokus, meski tubuhnya gemetar karena terlalu sadar akan sentuhan di pinggangnya.

Di jalur akhir, ATV mereka melewati tanjakan kecil. Ayyara spontan menutup mata, tapi Erika justru menunduk, berbisik lembut di telinganya, “aku Percaya padamu”

Mereka berhasil melompat turun dengan mulus, ban menghantam tanah kembali. ATV berhenti dengan selamat. Sorakan karyawan lain menggema, memuji keberanian pasangan itu.

Ayyara terengah, tangannya masih memegang erat setang. Erika, masih di belakang, tidak segera melepas pelukannya. Ia justru mendekatkan wajahnya ke telinga sang istri, suaranya rendah namun penuh arti.

“Kamu tidak boleh terlalu dekat dengan Adam… aku beneran gak suka."

Ayyara membeku, wajahnya memerah hebat. Dari kejauhan, Tini melambai sambil berteriak,
“Ayyara. Bu Er. Kalian gpp kan?!" Ucap Vanya memegangi Erika

Ayyara buru-buru melepas helm, menunduk dalam-dalam menahan malu. Erika, sebaliknya, hanya tersenyum tipis, dingin tapi penuh kepuasan.

---

Continue Reading

You'll Also Like

107K 9.9K 17
"Kita sama sama tau kalau kita tidak akan pernah ada di jalan yang sama, lantas, kenapa tidak ada diantara kita yang maju untuk menyudahinya? "
191 0 19
menceritakan tentang permasalahan masa lalu berryl dan mantan kekasihnya yg masih belum terungkap dan melibatkan banyak orang yg tidak bersalah dan b...
3.1K 210 7
pernahkah terbesit di pikiranmu atau sedikit saja kau membayangkan kalau kau bisa menjelajah masa depan? jika iya bagaimana rasanya saat kau punya ke...
43.9K 3K 24
Mengapa Jantungku Berdegup Kencang Saat di dekat dia, Memang itu menyakitkan diriku, Tapi entah mengapa hatiku merasa nyaman dengan Keadaan ini,,,
Wattpad App - Unlock exclusive features