Tiga Minggu kemudian
Pagi-pagi buta, udara di kamar masih terasa dingin dan sunyi, hanya suara detak jam yang terdengar samar. Aqeela terbangun dengan wajah yang mengernyit menahan rasa tidak nyaman di perutnya. Ada sensasi keram yang menusuk disertai rasa kembung, membuatnya gelisah di tempat tidur. Badannya terasa lemas, dan perlahan butiran keringat dingin membasahi pelipisnya.
Ia bangkit dengan langkah gontai, mencoba menuju toilet. Suara pintu yang dibuka terburu-buru dan hentakan kakinya yang tidak stabil membuat Harry terjaga. Lelaki itu refleks menghampiri, rasa khawatir langsung memenuhi dadanya ketika melihat Aqeela berjongkok di depan kloset, tubuhnya gemetar, wajahnya pucat.
Beberapa saat kemudian, Aqeela muntah, namun yang keluar hanya cairan bening. Setiap kali ia mencoba mengeluarkan isi perutnya, tubuhnya justru semakin lemah, sementara gejolak di dalam perutnya terus mendorong, memaksa untuk dikeluarkan, tapi tak ada selain cairan bening yang keluar. Proses itu berlangsung sekitar lima belas menit, membuat Aqeela semakin lemas, napasnya tersengal, tubuhnya nyaris tak bertenaga di pelukan Harry yang berusaha menenangkannya, sambil menyibakkan rambut dari wajah pucat istrinya.
Harry yang biasanya tenang, kali ini benar-benar panik. Melihat Aqeela semakin lemas setelah lima belas menit berjuang di depan kloset, membuat jantungnya serasa diremas. Wajah pucat istrinya, tubuh yang gemetar, serta keringat dingin yang terus mengalir membuat Harry tidak bisa diam.
Dengan cepat ia mengangkat tubuh Aqeela dari lantai kamar mandi, membawanya kembali ke tempat tidur dengan hati-hati. "Sayang, aku panggil dokter sebentar ya" ucapnya dengan suara bergetar, mencoba menahan rasa takut yang menekan dadanya.
Namun, gerakannya terhenti saat tangan Aqeela menggapainya seolah mengatakan jika Harry jangan melakukan hal tersebut.
"Jangan tinggalin aku. Mau peluk" kata Aqeela dengan suara lemah.
"Tapi kondisi kamu gak bisa dibiarin" Harry menukas. Benar-benar merasa cemas pada kondisi wanitanya pagi itu.
"Aku marah kalo kamu ninggalin aku barang sedetik pun" kata Aqeela mengancam suaminya.
"Fine. Aku tetap disini nemenin kamu" pada akhirnya Harry pasrah, menuruti apa mau istrinya meskipun rasa cemas dalam dirinya semakin menjadi.
Akhirnya Harry kembali memeluk wanitanya diatas ranjang. Mengusap pinggang wanitanya dengan gerakan naik turun membuat rasa tenang perlahan menjalar pada diri Aqeela.
"Tiba-tiba kamu mual pagi-pagi, kenapa, hm ? Aku beneran panik dan— khawatir" ucap Harry berterus terang dengan perasaannya.
"Kayaknya asam lambung aku naik" jawab Aqeela menebak akan kondisi tubuhnya pagi ini.
"Terakhir kepala pelayan kasih laporan kamu sering gak makan nasi, kenapa ?" Kembali Harry bertanya, pria itu sungguh-sungguh khawatir pada wanitanya.
"Gak tahu, kayak males aja. Aku senengnya makan yang manis, buah segar juga" kata Aqeela manja.
"Periksa ke dokter, hm ?" Harry menebrlinwajah Aqeela yang berada dibawah dagunya.
"Nggak, aku baik-baik aja kok" katanya kekeh.
"Biasanya penurut" kata Harry nadanya penuh kecurigaan, dan Aqeela sadar akan itu.
"Kalo Hari ini gak membaik, aku nurut buat periksa ke dokter" jawab Aqeela mulai mengajukan negosiasi dengan suaminya.
Harry pasrah, takut jika terlalu memaksa, Aqeela akan merasa tidak nyaman.
"Fine, aku ikutin semua mau kamu, tapi hari ini makan yang baik, yang sehat. Aku temenin kamu sarapan sebelum pergi ke kantor" putus Harry pada akhirnya.
Tanpa sadar, Aqeela membuang nafas seolah merasa lega dengan keputusan suaminya barusan.
"Fine, aku nurut kali ini" kata Aqeela akhirnya.
"Thats my girl"
Harry mengacak puncak kepala wanitanya gemas, meskipun rasa cemasnya masih menggantung diantara hatinya.
***
"Kamu gak mau suapin aku ?" Aqeela mencebikkan bibir merahnya pagi ini ketika duduk berdampingan dengan suaminya untuk sarapan pagi ini.
"Minta yang bener, sayang" titah Harry kemudian, ia meraih sendok yang digenggam Aqeela, mulai menyedokkan nasi goreng seafood yang aman untuk wanitanya pagi itu.
"Makan yang banyak" ucap Harry saat Aqeela menerima satu suap nasi goreng dari tangan Harry. Wanita itu hanya mengangguk patuh, mirip anak kucing yang penurut.
"Nanti pulang kantor, kamu bisa beliin aku dessert yang ada ditoko pastry seberang kantor gak ?" Kata Aqeela tiba-tiba, "aku lagi mau banget itu, beliin ya ?" Imbuhnya tanpa memberi jeda untuk Harry menjawab.
"Aku beliin nanti, yang penting kamu sehat dulu, deal ?" Katanya hangat, mengusap puncak kepala wanitanya penuh sayang.
"Aku nurut. Makasih suami" ucapnya begitu menggemaskan.
Setelah itu mereka kembali makan dengan tenang. Harry bergantian menyuapkan makanan pada Aqeela dan pada dirinya sendiri. Pagi ini, wanitanya begitu manja, lebih manja dari biasanya, dan Harry senang akan itu.
***
Jarum jam menunjukkan pukul sembilan pagi. Sepeninggal Harry yang sudah pergi ke kantor, Aqeela mengurung diri dikamarnya. Ekspresi wajahnya ditekuk, ia berjalan mondar-mandir diruangan itu dengan bertelanjang kaki. Ia menggigit telunjuknya, merasakan cemas yang luar biasa saat itu. Kondisinya pagi tadi membuatnya semakin dihantui rasa cemas dan sisanya takut.
Ia mengecek aplikasi kalender pada ponselnya. Sial! Jadwal menstruasinya sudah lewat dua Minggu, namun ia belum melakukan apapun, dan kondisinya tadi pagi ? Apakah itu berarti yang ia cemaskan betulan terjadi ?
Buru-buru ia bergegas pergi ke kamar mandi. Mengeluarkan sebuah benda yang sudah lama ia simpan dilaci tempat meletakan perlengkapan mandi.
'aku pakenye gimana ini ?'
'aku searching dulu kali ya'
'ah ribet banget si'
'ya Tuhan... Aku takut banget sekarang'
Aqeela melihat video tutorial cara menggunakan alat tes kehamilan. Ya, wanita itu melakukan intruksi penggunaan alat tes kehamilan yang ditontonnya diponsel.
Aqeela mondar-mandir didepan toilet. Menunggu cairan urine bereaksi pada alat tes tersebut. Jantungnya berdegup kencang, bahkan tangannya sudah bergetar karena gugup dan takut.
Sekitar dua menit kemudian, ia meberanikan diri untuk memeriksanya. Berharap hasilnya negatif. Ya, Aqeela benar-benar trauma dengan kehamilan setelah kehilangan janinnya diusia pernikahannya dengan Harry ke tiga bulan, dan saat ini, usia pernikahan mereka sudah menginjak satu tahun lebih, terus terang Aqeela merasa was-was. Takut ia betulan hamil, sementara dirinya belum siap secara psikis.
Deg.
Tubuh Aqeela membeku saat melihat dua garis merah yang begitu pekat yang ditunjukan oleh benda pipih berukuran kecil tersebut. Satu bulir air mata lolos tanpa permisi. Dadanya sesak, jantungnya berdegup tak normal. Tubuh Aqeela ambruk kelantai masih menatap benda pipih tersebut.
Wajahnya sudah basah dengan air mata yang berlomba keluar dari tempatnya. Ia tidak tahu harus bagaimana, yang jelas, ia merasa takut saat ini. Benar-benar takut yang tidak bisa ia definisikan dengan kata-kata.
'Ha—harry...'
Wanita itu berucap lirih, menyebut satu nama yang selalu bisa menenangkan hatinya. Tanpa pikir panjang, Aqeela menyalakan ponselnya, bergerak mencari nomer suaminya kemudian menghubungi pria itu.
Sementara dikantor perusahan milik Harry, pukul sembilan pagi lewat sekian, pria itu nampak tenggelam pada tumpukkan dokumen dimeja kerjanya. Sesekali membetulkan kacamata baca yang bertengger diatas hidung mancungnya.
"Periksa dana yang dikeluarkan untuk proyek terbaru kita, gue rasa ada pos siluman dilaporannya. KOREKSI" ucap Harry tegas dan dingin.
Kevin yang saat itu berada dimeja yang berbeda segera menoleh. Bangkit dari kursinya dan meraih sebuah map hitam berisi lembaran dokumen laporan keuangan dari lapangan.
"Sial. Kenapa bisa bagian keuangan kecolongan ! Uangnya gak sedikit pula" gerutu Kevin saat membaca laporan tersebut.
"Itu kenapa gue selalu protektif soal keuangan! Panggil manager keuangan dan bagian lapangan. Gue mau laporannya dua puluh menit dari sekarang !" Titah Harry yang segera dipatuhi oleh Kevin.
Setelah Kevin pergi, ponsel Harry berdering. Panggilan dari wanitanya. Senyum pria itu terbit hanya dengan melihat nama sang wanita muncul dilayar ponselnya.
"Ha-Harry......hikssss"
Deg.
Jantung Harry berdetak cepat. Pikiran buruk langsung menghantui kepalanya.
"Sayang, are you okay ?" Tanya Harry penuh kecemasan.
"No. Aku mau kamu pulang sekarang !" Suara wanitanya begitu parau diujung telepon.
"Bilang, apa yang terjadi ? Mual lagi ?" Pertanyaan itu tak mendapat jawaban selain Isak tangis yang semakin nyaring.
"PULANG!" teriak Aqeela dibalik telepon.
"Aku pulang sekarang. Panggil pelayan selagi nunggu aku sampe rum—"
"NGGAK ! AKU CUMA MAU KAMU HARRY !" Bentak Aqeela hilang kendali.
Harry memijat hidungnya. Tak mengerti dengan sikap Aqeela yang tiba-tiba kacau seperti ini.
Tanpa menunggu lama, Harry menyambar kunci mobil miliknya yang tergeletak diatas meja kerja. Melepas kaca mata bacanya dan pergi meninggalkan ruangan kerja khusus miliknya.
"Kevin, urus sisa kerjaan gue. Ada hal darurat" beritahunya saat berpapasan dengan Kevin diluar ruangan miliknya.
Tak sempat Kevin menjawab, Harry sudah lebih dulu masuk kedalam lift. Yang ada dalam kepalanya hanya satu, memastikan keadaan Aqeela secepat mungkin.
Mobil Limosin itu melaju dengan kecepatan penuh, membelah jalanan kota yang sedikit padat namun masih lancar. Harry memacu kemudinya tanpa pertimbangan. Tak memperdulikan suara decitan ban mobil yang beradu dengan aspal panas. Ia hanya ingin segera sampai dirumahnya. Memastikan kondisi wanitanya baik-baik saja.
Harry terus memainkan klakson agar mobil yang ada disekitarnya menyingkir. Memberi akses jalan untuknya meluncur. Kepalanya sudah penuh dengan satu nama, yaitu : Aqeela. Apa yang sebenarnya terjadi ? Sial! Ia selalu hilang kendali jika sudah menyangkut wanitanya.
***
Lima belas menit kemudian mobil hitam itu sampai tepat didepan pintu masuk utama kediamnya.
"Dimana istriku ?" Tanya Harry kepada salah satu pelayan yang ada disana.
"Nyonya masih dikamar sejak tuan pergi ke kantor, belum keluar sama sekali" jawab pelayan tersebut menundukkan kepala, tak berani menatap langsung kerah tuannya.
Mendengar jawaban dari pelayan tersebut, Harry langsung berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya dilantai dua. Ia harus segera menemui wanitanya.
"Sayang !" Panggil Harry saat sampai dikamar miliknya dengan sang istri.
Ia mengendarkan pandangnya, tak menemukan keberadaan Aqeela disana. Sampai suara Isak tangis dari arah toilet terdengar samar ditelinganya. Langkahnya mengayun kesana, ia mencoba menenangkan detak jantungnya, namun sulit, terlalu cemas pada istrinya.
"Sayang...." Lirih Harry saat melihat Aqeela duduk dilantai toilet dengan wajah sembab. Hidung dan matanya memerah. Suaranya parau, tubuhnya bergetar seolah ketakutan.
"Ha—harry...." Suara itu serak, lebih terdengar seperti bisikan yang begitu pilu.
Harry berjongkok, merengkuh tubuh lemah wanitanya, "shhtt.... Aku disini. Kamu aman, sayang" ucapnya berusaha menenangkan Aqeela yang justru semakin menangis hebat saat masuk kedalam pelukannya.
"A—aku ta—kut" ucap Aqeela susah payah. Tenggorokannya tercekat, begitu sakit.
"Shhhtttt aku disini, gak perlu takut lagi, hm" Harry semakin mengeratkan pelukannya, berharap bisa menenangkan wanitanya dengan begitu.
Aqeela menggeleng lemah dalam dekapan pria itu. Tangan kecilnya yang sejak tadi terkepal, ia angkat perlahan. Tepat dihadapan prianya, Aqeela membuka tangannya, sehingga sebuah benda pipih terjatuh kelantai. Harry melihatnya, dan segera meraih benda asing tersebut.
"Ini yang bikin aku takut, Harry. Aku takut. Bener-bener takut... Hikssss" ucap Aqeela kembali terisak.
"I-ini ?" Harry meminta penjelasan dari Aqeela ,karena jujur ia tidak mengerti dengan semua ini.
"Hamil. A—ku ha—mil" katanya susah payah mengucapkan itu, kemudian kembali terisak dalam tangis yang sulit untuk dihentikan.
Harry terdiam. Memandangi benda pipih yang baru pertama kali ia lihat itu. Hamil ? Wanita hamil ? Entah ia harus senang atau sebaliknya, yang jelas rasanya ia begitu terkejut.
"Aku takut hiksss" kembali Aqeela mengucapkan kata 'takut' untuk kesekian kalinya membuat Harry kembali tersadar, mengeratkan pelukannya pada tubuh ringkih wanita itu.
"It's okay, semua akan baik-baik aja, Aqeel—"
"Baik-baik aja ?! Kamu lupa kalo aku gak mau hamil, Harry ! Gak mau ! Aku takut gak bisa ! Takut gagal !" Teriaknya histeris. Pelukan pria itu bahkan terlepas begitu saja saat Aqeela meronta dengan segala kekuatannya.
"Kamu bilang baik-baik aja ? Apanya yang baik-baik aja, Harry ! APA ?!" kembali Aqeela berteriak histeris, antara marah, takut, dan segala perasaan asing yang mulai merayap pada hatinya.
"Kita main tanpa p*Ng*m*n. Wajar kamu hamil, sayang" kata Harry berusaha menenangkan wanitanya, namun nihil. Aqeela kembali meronta, berteriak marah sulit dikendalikan.
"Aku gak mau hamil ! GAK MAU !" teriaknya nyalang. Menatap Harry penuh marah dan rasa kecewa.
"Kamu janji gak akan buat aku hamil, Harry ! Kamu bohong ! Sekarang aku hamil ! Dan itu karena kamu !"
Harry membuang nafas kasar. Tak tahu lagi harus menenangkan wanitanya dengan cara apa. Benarkah ini kesalahannya ? Ya, jelas itu kesalahannya karena gagal membuat Aqeela merasa aman dalam genggamannya. Harry menghamili istrinya, dan situasi kali ini sedikit konyol, namun Harry memang benar-benar menyesali dirinya yang ceroboh. Harusnya Aqeela tetap tidak hamil, agar wanitanya tak merasa terpancing akan trauma tentang kehamilan.
Harry merengkuh tubuh wanitnya yang sudah lemas dilantai. Menggendong Aqeela dengan sisa tenaganya menuju kamar mereka. Masalahnya kali ini benar-benar sulit, entah apa yang harus ia lakukan saat ini.
"Aku benci kamu, Harry. Pergi!" Ucap Aqeela marah, ketika pria itu berhasil mendudukan wanitnya dibibir ranjang milik mereka.
"Sayang... Tolong jangan seperti ini. Aku salah, aku gagal bikin kamu aman disamping aku, maaf..." Ucap Harry penuh sesal, namun Aqeela tetap menolak untuk mendengarkan itu.
"Aku hamil, Harry. Hamil. Sekali lagi, aku hamil. Kamu tahu setakut apa aku sama kehamilan, hikss...." Aqeela kembali terisak pilu. Hatinya sakit, dadanya sesak.
"Apa yang kamu takutin, hm ?" Tanya Harry hati-hati.
"Aku takut gagal lagi, aku gak mau kehilangan buat yang kedua kalinya, Harry. Aku takut...hikss" tangan kecilnya menghapus kasar air mata yang jatuh tanpa henti.
"Shhhttt.... Kamu harus percaya kalo kehamilan kali ini kuat. Kamu kuat, bayinya kuat. Jangan siksa diri kamu dengan ketakutan yang belum tentu jadi keny—"
"Kamu bisa bilang begitu ? Serius Harry ? Padahal kamu sendiri yang paling takut aku hamil ! Tapi kamu tetap hamilin aku !"
Harry kembali membuang nafas kasar, rasanya ia benar-benar buntu saat ini.
"Aku panggil dokter buat mastiin kondisi kamu, benar hamil atau nggak" putus Harry pada akhirnya.
"Kamu gak liat hasil tepspeknya garis dua ? Itu berarti aku beneran hamil, Harry !"
"Kenapa kamu jadi sekacau ini ? Kita pasangan suami istri, wajar kalo kamu hamil, gak ada yang salah"
"Salah. Karena aku gak mau hamil. Titik."
"Aku harus gimana sekarang, Aqeela ? Gak mungkin aku ambil resiko buat gugurin kandungan kamu, aku gak—"
"Kenapa enggak ? Pasti usia kandungannya masih kecil, mungkin buat digu—"
"STOP AQEELA! JAGA MULUT KAMU!"
Deg.
Aqeela mematung ditempatnya mendengar suara tinggi Harry yang berani membentaknya.
"Jangan melewati batas" katanya dingin, kemudian setelah itu pergi meninggalkan Aqeela dikamar tersebut.
Air mata kembali jatuh menyusuri wajahnya yang sudah sembab, bahkan kini terkesan pucat.
'kenapa ? Kenapa harus aku ?'
Aqeela terus bermonolog dengan dirinya sendiri. Membiarian air matanya lolos tanpa rintangan yang berarti.
Ia melipat lututnya, menenggelamkan wajahnya disana, kembali larut dalam Isak yang memilukan.
NOTES: guysssss siapa yang selalu rewel minta Bab Aqeela hamil lagi🤣