ALE

By BYE_GIE08

17 0 0

Tanpa sadar pertemuan kembali Alael dan Alinea telah menghidupkan sesuatu yang telah lama dikubur Alinea dari... More

Bab II: Pulang
Bab III: Aira

Bab I: Pertemuan

4 0 0
By BYE_GIE08

Alael hadir di masa ketika hidup Alinea hanya berisi serangkaian pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban. Padahal mereka sudah lama saling mengenal, jauh sebelum pertemuan itu kembali terjadi. Dulu, mereka hanya dua orang pemuda yang terluka di kampung halamannya.

Saat ini, keduanya masih sama-sama masih susah. Alinea bekerja serabutan, menulis hanya di sela-sela jam tidur. Sementara Alael—ia jauh di laut, terombang-ambing di kapal yang entah singgah di pelabuhan mana.

Mereka tak pernah benar-benar dekat secara fisik. Yang mereka punya hanyalah layar ponsel, sinyal yang sering terputus, dan obrolan panjang di tengah malam. Aneh, tapi justru itulah yang membuatnya cukup. Lebih dari cukup, sebenarnya.

Beberapa tahun silam, dimana semesta mempertemukan mereka kembali–tak pernah mereka rencanakan, akhirnya terjadi. Di kota yang asing namun jadi persinggahan Alael setelah melaut, sekaligus tempat Alinea mencoba peruntungannya. Hari itu pasar tradisional riuh rendah. Sisa hujan pagi masih menyisakan hawa dingin, jalanan becek, dan aroma tanah bercampur wangi sayuran segar. Pedagang berteriak menawarkan dagangannya, suara tawar-menawar bersahut-sahutan dengan langkah terburu orang-orang yang berlalu lalang.

Alael baru saja menjejakkan kaki di kota itu setelah berhari-hari berlayar. Rencananya sederhana: singgah, beristirahat, lalu melanjutkan perjalanan kembali ke laut. Tapi di tengah keramaian pasar, matanya menangkap sosok mungil yang pernah begitu akrab baginya—sosok yang dulu jadi tempatnya menitipkan mimpi dan resah semasa kecil di kampung halaman.

Ia ragu sejenak. Benarkah itu dia?

Namun langkah kakinya sudah lebih dulu mengikuti. Setengah berlari, ia berusaha menyelip di antara kerumunan orang, matanya tak lepas dari gadis yang terasa begitu familiar. Tapi orang-orang terlalu banyak, ia nyaris kehilangan jejaknya.

"Alin! Alinea!!" teriaknya keras, membuat beberapa orang menoleh dengan wajah terganggu.

"Ah, maaf, permisi... saya buru-buru," ujarnya sambil terus merangsek maju.

Alinea sama sekali tidak menyadari ada yang memanggilnya. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri, berjalan mantap ke arah kios langganan. Hingga di persimpangan, ia berhenti sejenak, ragu memilih jalan. Saat itulah Alael menemukan celah. Ia berlari sekuat tenaga sebelum jejak itu benar-benar hilang.

"Alineaaaaa! Tunggu!" suaranya serak, nyaris putus napas.

Alinea refleks menoleh. Semua orang di sekitar tampak ikut memperhatikannya. Ia kebingungan, menunjuk dirinya sendiri seolah bertanya: "Aku?"

Pemuda itu berhenti tepat di hadapannya, membungkuk setengah badan sambil mengatur napas yang terengah. Sisa air hujan masih menetes dari atap seng pasar, jatuh berirama ke tanah becek. Pandangannya jatuh pada selop lusuh yang dikenakan Alinea—basah, penuh bercak lumpur, dan tanpa kaus kaki. Seketika tawanya pecah, mengingat kebiasaan kecil yang dulu selalu membuatnya geli.

Alinea mengernyit. Ia belum bisa memastikan siapa orang asing ini.

"Tuan? Apakah ada yang bisa saya bantu?" suaranya dingin, membuat senyum di bibir Alael sedikit getir.

Tuan? Dia benar-benar tak mengenalku? batin Alael. Tapi wajar, penampilannya sekarang berbeda jauh. Wajahnya tertutup bayangan topi, tubuhnya penuh lelah dari perjalanan laut. Ia menegakkan badan, tersenyum nakal.

"Baiklah. Perkenalkan, aku Alael, dari desa Baratam. Salam kenal!" katanya sambil mengulurkan tangan, berpura-pura memperkenalkan diri.

Alinea terdiam. Nama itu seperti membuka kotak perasaan yang telah ia simpan rapat bertahun-tahun. Harapan, rindu, sekaligus luka yang pernah membuatnya berjanji untuk tetap tegar meski ditinggalkan. Air mata nyaris jatuh, tapi ia buru-buru berbalik, melangkah pergi seolah tak terjadi apa-apa.

Alael tertegun. Apa ia salah orang? Tidak mungkin—itu pasti Alinea.

Ia mengejar, menahan tangan mungil itu. "Alin? Kau Alin, bukan?"

Langkah Alinea terhenti. Bahunya kaku. "Alin yang kau kenal... sudah tidak ada."

Pegangan itu pun terlepas. Alinea berjalan lagi, tenang namun menyimpan getar di hatinya. Ia kira Alael menyerah. Tapi ternyata, dengan jarak yang nyaris tak terdengar, pemuda itu masih mengikutinya.

Jalan yang ditempuh Alinea terasa akrab bagi Alael. Ia sempat mengira mereka menuju kos-kosan tempatnya menginap, tapi gadis itu terus berjalan lebih jauh hingga akhirnya berhenti di depan sebuah rumah sederhana di kawasan padat penduduk.

Alael mempercepat langkah, menyamai posisinya.

"Jadi, di sini rumahmu, Alinea?" katanya ringan, menatap ke arah teras kecil dengan kursi kayu yang tampak lapuk.

"Tidak jadi buka pintunya?" ia menambahkan, melihat kunci pintu yang sudah diputar.

Alinea berbalik, terkejut sekaligus kesal. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Apa lagi? Bertamu. Bertemu teman lama," sahut Alael sambil menyunggingkan senyum.

Sial, ia tersenyum! batin Alinea, merasa dadanya berdegup tak karuan.

"Tidak boleh," jawabnya tegas, berdiri menghalangi pintu.

Alael menundukkan kepala, mencoba mengintip ke balik bahu mungil itu. Ia tahu pintu tadi sudah terbuka. Dan sebelum Alinea bisa mencegah, tangannya lebih cepat memutar gagang pintu. Pintu bergeser. Tubuh Alinea yang kecil nyaris terjatuh, tapi secepat itu pula Alael menangkapnya.

"Mari, kita berbicara di dalam, Alin..." ujarnya sambil terkekeh, masih menahan tubuhnya.

Alinea mendorongnya menjauh, berusaha menegakkan diri. Ia masuk ke rumah dengan langkah keras, menepuk-nepuk bajunya yang sebenarnya tidak berantakan.

Alael hanya tersenyum, memperhatikan tingkahnya. "Dia masih Alinea yang ku kenal," gumamnya pelan, seakan bicara pada dirinya sendiri.

***

Alael sudah duduk di sofa ruang tengah rumah Alinea. Pandangannya berkeliling, menyusuri setiap sudut. Rumah itu kecil, tapi Alinea berhasil menyulapnya jadi ruang sederhana yang nyaman. Entah kenapa, tak ada rasa canggung begitu ia masuk. Padahal, Alael bukan tipe orang yang gampang merasa betah di tempat asing.

Di ruang tengah itu hanya ada satu sofa dan sebuah meja kecil. Di sampingnya berdiri rak buku tua yang tampak ringkih. Ruang tengah langsung tersambung dengan ruang makan—atau lebih tepatnya dapur mungil. Hanya ada satu meja kecil dengan dua kursi berhadapan. Dari sana, terlihat Alinea sibuk menata belanjaannya.

"Tidak usah repot-repot, Lin," seru Alael dari sofa.

Alinea pura-pura tak mendengar. Padahal, sebenarnya ada rasa bergetar di dadanya—aneh, hangat—karena pria itu kini benar-benar ada di rumahnya. Ia sengaja menahan diri untuk tidak menoleh, takut senyumnya terbaca. Tangannya terus sibuk, seolah-olah setiap gerakan bisa menyamarkan kegugupan yang tak ingin ia akui.

Alael terkekeh. Selalu ada kesenangan tersendiri saat bisa membuat Alinea terlihat kesal. Ia lalu menoleh ke rak buku di samping sofa. Buku-buku lusuh berderet rapat, bekas sering dibuka dan dibaca. Saat hendak mengambil satu, rak itu bergoyang. Reyot. Alael mencondongkan tubuh, memeriksa kerangkanya dengan gaya sok tahu. Benar saja, rak itu sudah tua, minta diperbaiki.

Langkah Alinea mendekat. Ia menaruh segelas air putih di meja dengan sedikit kasar, cukup membuat Alael mengalihkan perhatian.

"Ini! Cuma ada air putih," ucapnya singkat.

Ia lalu menarik kursi dari meja makan, duduk berhadapan dengan Alael. Meski nadanya ketus, jantungnya berdetak lebih cepat. Ia benci kalau Alael bisa dengan mudah membuat rumahnya—dan dirinya—terlihat begitu terbuka.

Senyum muncul di wajah pria itu. Dia masih saja menggemaskan, batinnya.

"Rakmu mau aku perbaiki, Lin?" tanyanya dengan sorot mata prihatin.

"Tidak perlu. Itu memang sudah tua.", jawab Alinea ketus.

"Jadi, kamu mau apa datang ke sini, TUAN?" sambungnya lagi, kali ini lebih berani, berusaha menutupi gejolak yang barusan ia rasakan.

Alael beralih pandang ke alinea. Ia menarik napas sebentar. Raut wajahnya berubah sedikit lebih serius dan teduh dari sebelumnya. Tidak ada lagi senyum tengil di wajahnya.

"Rumah yang kusewa tak jauh dari sini, Lin. Anggap saja tadi aku hendak pulang dan beristirahat, tapi malah tidak sengaja menemukan kalau kita bertetangga," ujar Alael sambil menepuk-nepuk lututnya, bersiap bangkit dari sofa.

Alinea tidak menjawab. Matanya menelusuri keadaan rumah kecilnya yang kini sudah dipelototi Alael tanpa ampun. Ia menyesal, kenapa tadi tidak sempat merapikan? Kenapa tidak membuat rumah itu tampak lebih layak? Ada rasa malu yang menusuk. Ia benci bila Alael masih saja melihatnya sebagai gadis kampung yang dulu selalu rapuh di hadapannya. Ia ingin Alael tahu bahwa hidupnya kini sudah lebih baik, bukan alinea yang selalu bergantung pada nya. Sayang sekali—bukti di depan mata justru menunjukkan bahwa selain pindah kota, tidak ada perubahan berarti dari dirinya. Setidaknya, begitu yang dirasakan Alinea.

"Mampirlah kapan-kapan kalau kau butuh bantuan, Lin. Aku masih sepuluh hari lagi di sini sebelum kembali melaut."

Kalimat itu meluncur begitu ringan, seolah Alael tidak sadar betapa dalamnya ia mengaduk perasaan Alinea.

Lelaki itu beranjak dari sofa. Alinea gusar, duduk kaku di kursi, tidak tahu harus menahan atau melepas. Haruskah ia terus menjaga egonya—menyembunyikan rindu yang selama ini ia pendam? Atau membiarkan hatinya lengah, sekali saja, untuk jujur pada rasa yang sudah lama bersemayam?

Sebelum mencapai pintu, Alael menoleh sekali lagi. Senyum samar muncul di wajahnya. "Aku senang bisa bertemu denganmu lagi, Lin."

Pintu yang menjadi saksi pertemuan mereka siang tadi menutup. Hening tersisa di udara.

Sial. Sial. Sial.

Alinea berkali-kali mengumpat dalam hati. Kepalanya terasa penuh, dadanya sesak. Ia membenamkan wajahnya dalam pangkuan, berharap bisa mengusir gejolak aneh yang mendesak keluar. "Perasaan apa ini?", Ia bahkan tidak bisa mendefinisikannya.

Yang ia tahu, suara rendah nan lembut milik Alael masih terngiang. Jantungnya membandel, menolak untuk tenang. Dan lihatlah—hari sudah hampir gelap. Sejak kepergian Alael tadi, Alinea bahkan belum sempat melakukan apa pun. Ia lupa membuat makan malam, lupa membereskan belanjaan yang masih teronggok di meja. Bahkan lampu rumah ia tunggu untuk menyala dengan sendirinya.

Ia sudah tenggelam. Bukan dalam pekerjaannya, bukan pula dalam mimpinya. Melainkan dalam dirinya sendiri—dalam rindu yang selama ini ia anggap sudah mati.

***

Keesokan paginya, Alinea mondar-mandir di sepanjang jalan sekitar rumah kontrakannya. Pagi kota sudah penuh sesak: bunyi klakson bersahut-sahutan, motor menyalip di sela trotoar, aroma gorengan bercampur dengan wangi kopi dari warung kecil di tikungan. Semua orang tampak tahu arah tujuan mereka, kecuali Alinea.

Alinea melangkah dengan wajah penuh keragu-raguan, sesekali celingak-celinguk ke arah gedung-gedung di sekitar. Berkali-kali ia melewati rute yang sama, seperti pendatang baru yang tersesat. Tak jauh, ia berdiri di pinggir jalan sambil menggenggam ponsel. Tapi matanya sama sekali tak menatap layar itu. Ia terus mencari sesuatu. Atau seseorang.

Dari sebuah balkon kecil di lantai tiga gedung tua, sebatang rokok mengepul. Alael. Ia memperhatikan Alinea sejak tadi, menahan diri agar tidak tertawa melihat gadis itu bolak-balik di sekitar gedung.

"Alin? Apa yang dia lakukan di sana?" gumamnya, separuh bingung, separuh geli.

Ia mengisap rokoknya sekali, lalu kembali mengamati. Alinea sudah tiga kali mondar-mandir, menoleh ke arah gedung-gedung seperti sedang memilih, menimbang, menebak. "Apa dia... mencari aku?" senyum tipis muncul di wajah Alael.

Ketika wajah Alinea makin kusut dan langkahnya mulai lesu, Alael segera mematikan rokoknya. Ia berlari menuruni tangga, napasnya memburu. Ah, sejak bertemu Alinea di kota ini, kenapa aku selalu saja dipaksa berlari? batinnya sambil mengatur napas. Ia sampai di pintu depan gedung, mencoba menenangkan napas agar terlihat sewajar mungkin. Dan tepat ketika Alinea hendak lewat, pintu itu terbuka.

Alinea terkejut, tubuhnya refleks berhenti. Lebih terkejut lagi saat melihat sosok yang muncul.

"Alin!" seru Alael, wajahnya terang oleh senyum. "Kau tahu alamatku?" tanyanya cepat, nyaris seperti anak kecil yang baru dapat kejutan.

Panas menjalari wajah Alinea. Ia sadar ekspresinya sekarang mungkin sudah seperti kepiting rebus. Tanpa banyak pikir, ia segera berbalik dan melangkah pergi.

"Hei, Lin! Kau sudah sarapan? Aku mau ke warung kopi dekat sini. Ayo ikut, biar kali ini aku yang traktir," seru Alael sambil mengejarnya.

Alinea berhenti mendadak, membuat Alael hampir menabraknya.

"Pertama, aku tidak sedang mencarimu. Atau alamatmu," ujarnya cepat, suaranya sedikit bergetar. "Kedua, aku sudah sarapan. Jadi pergilah. Ini cuma kebetulan. Jangan melebih-lebihkan." Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah lagi, menutupi kebohongannya.

Alael nyaris tak bisa menahan tawa. Ia membiarkan gadis itu berlalu, senyum lebar masih menggantung di bibirnya. Sangat menggemaskan, alael berbisik pada dirinya.

Sementara itu, sampainya di rumah dengan langkah terburu, Alinea langsung menutup pintu rapat-rapat. Ia jatuh tersandar, dadanya naik-turun. Entah mana yang lebih cepat sejak tadi: langkah kakinya, atau degup jantungnya ketika tiba-tiba mendapati Alael di depan pintu. Ia hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangan—berharap suara jantungnya tadi tak sempat terdengar olehnya.

"Ah, sial!. Padahal aku sudah cukup dewasa untuk tidak jatuh di lubang yang sama," ia meyakinkan dirinya sendiri. Namun tubuhnya tak sejalan dengan pikirannya. Wajahnya masih panas, jantungnya masih memukul-mukul dada, seakan berkhianat pada logika.

Ia mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan diri. Tapi justru yang muncul adalah senyum kecil di sudut bibirnya. Sebuah senyum yang segera ia hapus paksa, seolah itu dosa.

"Sialan, Alael," bisiknya.

Setelah mengambil waktu menenangkan hatinya, Alinea akhirnya bangkit dari lantai dekat pintu. Ia menarik napas panjang, mencoba menyingkirkan jejak gemuruh yang masih tertinggal di dadanya. "Sudah, cukup. Tenang, Lin," bisiknya pada diri sendiri. Langkahnya diarahkan ke dapur—ia pikir segelas air bisa membantu meredakan panas di wajahnya.

Namun, baru saja ia beranjak, suara ketukan terdengar di pintu rumahnya. Tok. Tok. Tok. Alinea terhenti. Dadanya kembali melonjak. Ia menoleh pada pintu yang baru saja ia tinggalkan, jantungnya serasa ingin melompat keluar.

Siapa? Jangan bilang...

Suara ketukan itu datang lagi, sedikit lebih keras.

Tok. Tok.

Tangan Alinea gemetar. Bagian dari dirinya ingin berlari ke dapur dan pura-pura tidak ada di rumah. Tapi bagian lain... bagian yang tak bisa ia kendalikan, justru menuntunnya kembali ke pintu. Perlahan, ia meraih gagang pintu. Jari-jarinya dingin.

Alinea membuka pintu. Degup jantungnya seketika mereda, berubah menjadi heran. Bukan Alael. Seorang anak laki-laki berdiri di sana, mungkin sekitar sepuluh tahun usianya. Rambutnya agak acak-acakan, wajahnya setengah malu, setengah cuek. Di tangannya tergenggam sebungkus kertas cokelat yang tidak terlalu besar. Dari sela lipatan bungkusannya, Alinea mencium aroma roti hangat bercampur wangi kopi yang samar.

Anak itu menatapnya sebentar, lalu mengulurkan bingkisan itu.

"Untuk Kakak," katanya singkat.

Alinea otomatis menerima bungkusan itu. Kertasnya masih hangat, seperti baru saja dibeli dari kedai.

"Dari siapa ini?" tanyanya, masih setengah terkejut.

Anak itu mengangkat bahu. "Dari... seseorang." Senyum kecil muncul di wajahnya, lalu ia berbalik, berlari kecil menuruni jalan, meninggalkan Alinea berdiri di depan pintu dengan perasaan campur aduk.

Ia menutup pintu kembali, menatap bingkisan hangat di tangannya. Roti dan kopi—sederhana, tapi entah mengapa terasa begitu personal. Dengan jari-jari yang masih gemetar, Alinea membuka lipatan kertas cokelat itu. Di dalamnya terdapat secarik catatan,

"Aku harap kau masih Alinea yang sama. Penyuka kopi dan sedikit rasa manis dari roti atau kue untuk menemani mu menulis."

Di balik catatan itu, tertulis sebuah alamat rumah, lengkap dengan nomor telepon. Tentu saja, Alinea langsung mengenali pengirimnya. Alael. Lagi-lagi, ia selalu bisa membuatnya tersenyum tanpa harus hadir secara langsung.

Saat membaca baris tentang menulis, Alinea tak kuasa menahan perasaan haru. Mimpi-mimpi yang hampir ia kubur, hampir ia abaikan karena ragu dan takut gagal, seketika kembali hidup di hatinya. Secarik kertas kecil itu, dengan aroma roti hangat dan kopi yang samar, seperti menyalakan kembali api yang lama ia padamkan.

Continue Reading

You'll Also Like

608K 42.7K 59
Evelyn Amelie Laurent, seorang perawat berusia 25 tahun, ditugaskan merawat Raymond Dominguez, mantan petinju yang kehilangan karier setelah cedera b...
2.4M 54.6K 60
Posesif? Itu lah yang kini Syana rasakan sejak identitas nya terungkap. Garel yang dulunya selalu bersikap dingin padanya berubah menjadi sosok yang...
4.2M 138K 54
"Tadi siapa?" "Denger, lo itu cuma milik gue, paham?" Reagan Kanziro Adler seorang ketua dari komplotan geng besar yang menjunjung tinggi kekuasaan...
Wattpad App - Unlock exclusive features