Selamat membaca}{
Hari Minggu siang, langit cerah banget. Angin gerah bercampur bau aspal panas bikin suasana kota kecil itu khas banget. Di sebuah rumah sederhana dengan cat biru muda, terdengar suara gitar dipetik. Nadanya ngalir pelan, kadang berhenti, kadang ngambang kayak lagi nyari bentuk.
Itu rumah Gevan.
Di kamarnya yang dindingnya ditempel poster band rock sama sticky notes berantakan, Gevan lagi duduk di pojok kasur. Rambutnya acak-acakan, kaos hitam longgar, dan gitar akustik kesayangannya ada di pangkuan.
Tangannya sibuk main chord, matanya sesekali melirik buku tulis yang penuh coretan lirik.
"Langkah kecilmu, senyum sederhana,
jadi alasan… aku tetap ada."
Gevan gumam pelan. Suaranya serak, nggak sempurna, tapi ada rasa di setiap nada.
---
Tiba-tiba pintu diketok. “"Van, makan dulu!" suara ibunya nyamber.
"Iya, bentar Bu!"
Ibunya masuk dengan senyum sabar. "Main gitar lagi? Dari tadi pagi lho kamu belum keluar kamar."
Gevan nyengir. "Lagi dapet inspirasi, Bu. Sebentar lagi turun kok."
Ibunya geleng-geleng. "Ingat ya, musik boleh. Tapi jangan lupa sekolah juga. Ibu nggak mau kamu cuma main gitar doang."
"Iya, Bu…" jawab Gevan pelan.
Setelah ibunya keluar, Gevan ngeluarin HP. Ada chat masuk dari Ani.
Ani: Van, lo sibuk nggak hari ini?
Gevan: Nggak terlalu. Lagi main gitar aja.
Ani: Mau gue temenin nggak?
Gevan: Serius? Yaudah, ke rumah gue aja.
Gevan buru-buru ngerapiin kamarnya seadanya. Poster band diturunin satu karena sobek, baju kotor ditendang ke bawah kasur, dan meja belajar yang penuh buku dipindahin ke pojok. Walau tetep berantakan, buat ukuran Gevan ini udah "rapi maksimal".
---
Nggak lama kemudian, motor berhenti di depan rumah. Ani muncul dengan senyum malu-malu, masih pakai dress santai warna biru muda.
Ibunya Gevan nyambut di ruang tamu. "Oh, kamu Ani? Masuk, Nak. Gevan di kamar."
Ani salim sopan. "Iya, Tante."
Begitu masuk kamar, Ani langsung bengong. "Gila… ini beneran kamar lo? Kayak studio mini."
Di sekeliling kamar ada gitar listrik disenderin ke tembok, keyboard kecil di meja, sama earphone berserakan. Sticky notes penuh lirik nempel di dinding.
Gevan ketawa kecil. "Ya beginilah dunia gue."
Ani jalan keliling, matanya berbinar. "Lo nulis lirik sebanyak ini? Semua tentang siapa?"
"Macem-macem. Tentang mimpi, tentang hari-hari gue, kadang tentang lo juga."
Ani kaget. "Hah? Tentang gue?!"
Gevan nyengir nakal. "Ya kan lo bagian dari hidup gue sekarang."
Ani langsung salah tingkah, mukanya memerah. *Gombal lo, Van."
Mereka duduk di lantai, gitar di tengah. Gevan mulai petik pelan.
"Ni, gue mau nunjukin sesuatu. Lagu yang lagi gue bikin."
Ani ngangguk. "Oke."
Gevan mulai main chord sederhana. Suaranya mengisi kamar kecil itu.
Kau begitu sempurna
Di mataku kau begitu indah
Kau membuat diriku akan slalu memujamu
Di setiap langkahku
Ku kan slalu memikirkan dirimu
Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu
Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa
Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Oh sayangku kau begitu
Sempurna Sempurna
Kau genggam tanganku
Saat diriku lemah dan terjatuh
Kau bisikkan kata dan hapus semua sesalku
Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa
Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Oh sayangku kau begitu
Sempurna Sempurna
Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa
Kau adalah darahku (darahku)
Kau adalah jantungku (jantungku)
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Oh sayangku kau begitu
Kau adalah darahku (darahku)
Kau adalah jantungku (jantungku)
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Oh sayangku kau begitu
Sayang ku kau begitu
Sempurna Sempurna.
matanya fokus ke Gevan. Ada sesuatu yang dalem banget di balik setiap kata.
Begitu lagu berhenti, Ani bertepuk pelan. "Van… itu bagus banget."
"Masih mentah sih. Tapi gue bikin ini karena… ya, lo bikin gue ngerasa hidup gue punya arah."
Ani nutup mulut, nahan senyum. "Lo bikin gue malu tau nggak."
Gevan cengengesan. "Emang itu tujuannya."
---
Mereka ngobrol lama soal musik. Gevan cerita gimana dia pertama kali pegang gitar waktu kelas 4 SD, dikasih sama pamannya yang dulu sering main band. Dari situlah dia jatuh cinta sama musik, sampai rela begadang demi latihan.
"Kadang gue mikir, musik itu satu-satunya bahasa yang bener-bener ngerti gue," kata Gevan pelan.
Ani menatapnya serius. "Tapi lo jangan lupa, orang lain juga bisa ngerti lo, Van. Bukan cuma musik."
"Lo salah satunya," Gevan balas cepat.
Ani terdiam, senyumnya tipis.
Sore menjelang, mereka pindah ke teras rumah. Gevan bawa gitar lagi, mainin lagu-lagu random sambil Ani ikut nyanyi kecil. Beberapa tetangga lewat sampe nengok karena suaranya enak didengar.
"Wih, kalau lo duet terus, bisa bikin grup vokal nih," celetuk tetangga.
Ani ketawa ngakak, Gevan ikutan nyengir.
"Lo sadar nggak, Ni? Musik bikin orang ketawa bahkan tanpa kita maksud."
Ani ngangguk. "Iya. Musik lo kayak bunga buat gue. Sama-sama bikin hidup lebih indah."
Tapi kebahagiaan itu nggak lama. Pas mereka lagi asik, HP Gevan bunyi. Ada notifikasi dari grup chat band sekolah.
"Latihan minggu depan batal, gitaris kita cabut," tulis salah satu temennya.
Muka Gevan langsung berubah. Ani nyadar. "Kenapa, Van?"
"Band gue bubar, Ni. Padahal kita udah siap ikut festival musik bulan depan."
Ani ikut sedih. "Seriusan? Trus lo gimana?"
"Ya… nggak tau. Gue kecewa banget. Musik itu dunia gue, Ni. Tapi sekarang rasanya kayak runtuh."
Ani nyentuh tangan Gevan pelan. "Hei, jangan gitu. Band boleh bubar, tapi musik lo nggak bakal hilang. Selama lo masih punya gitar dan hati, musik lo tetep hidup."
Gevan ngeliat Ani lama. Kata-kata itu sederhana, tapi bikin dadanya anget lagi.
---
Malamnya, setelah Ani pulang, Gevan duduk sendirian di kamar. Dia pegang gitar, nyoba bikin lagu baru. Tapi kali ini inspirasinya jelas: Ani.
Dia nulis lirik di sticky note, tempel di dinding.
'Kalau dunia runtuh,
lo tetep jadi cahaya.
Gue janji,
musik gue bakal selalu nemuin lo. '
Dan dengan senyum kecil, Gevan sadar satu hal musik memang dunianya, tapi Ani udah jadi bagian dari nada paling penting di hidupnya.
====
Siapa nih yang pengen dinyanyiin babang gepan, jadi pengen deh
Jumpa lagi⋆˚𝜗𝜚˚⋆