Boundless Love [END]

Por lemamelia19

245K 12.6K 408

Menikah dengan mantan pacar? Disaat Eleanor sudah sangat menikmati kehidupannya sebagai wanita karir yang me... Más

First Talk
Mini Trailer
Part 1 [Crazy Deals]
Part 2 [Lele Cepu]
Part 3 [Tanpa Sadar]
Part 4 [Mengais Restu]
Part 5 [The Worst of Proposal]
Part 6 [Perfect Day]
Part 7 [Shame]
Part 8 [Darkness]
Part 9 [Trip]
Part 10 [Pillow Talk]
Part 11 [Jealousy]
Part 12 [Like Another Merried Couple]
Part 13 [ketegangan]
Part 14 [The Best Healing]
Part 15 [Who is She?]
Part 16 [Dance Floor]
Part 17 [Hai!]
Part 18 [Suprising Guest]
Part 19 [Ambition]
Part 20 [Another Life]
Part 21 [Passion At Night]
Part 22 [Two Side]
Part 23 [I'll Home]
Part 24 [Not You]
Part 25 [Cerita Masa Lalu]
Part 26 [Protect You]
Part 27 [Trap]
Part 28 [Dirty Mind]
Part 29 [Sweet Punishment]
Part 30 [Dirty Talk]
Part 31 [Meet Up]
Part 32 [Merajuk]
Part 33 [Peperangan]
Part 34 [The Tragedy]
Part 35 [Pervert]
Part 36 [His Lips]
Part 37 [Childish Abim]
Part 38 [Kecurigaan]
Part 39 [Beloved Husband]
Part 40 [Don't Give Up]
Part 41 [Mabuk Kepayang]
Part 42 [Ledakan Peringatan]
Part 43 [That Scary Things]
Part 45 [Kesempatan]
Part 46 [Till The End]
Part 47 [Kembali ke Masa Lalu]
Part 48 [Korban Lain]
Part 49 [Tears Of You]
Part 50 [That I Love]
Part 51 [Kelas Masak]
Part 52 [Another Drama]
Part 53 [Family Trip]
Part 54 [Ketahuan]
Part 55 [The Plot Twist]
Special Potongan Harga

Part 44 [Terpaksa Menerima]

2.8K 164 3
Por lemamelia19

Long weekend gak tuh, ramein dong.
Happy Reading, sorry for typo.


Rupanya ancaman itu nyata, benar-benar nyata dan yang lebih mengerikannya lagi ancaman itu tertuju padaku. Ini bukan lagi kasus penguntit dari seorang lelaki yang memiliki obsesi, melainkan kasus berbahaya dari seorang psikopat yang memiliki ambisi.

Sekarang tak ada alasan bagiku untuk tidak mengikuti semua yang Papa dan Abim instruksikan, menyembunyikan diri di dalam rumah selama penjahat itu masih berkeliaran di dunia luar.

Tapi aku tak di biarkan sendiri, semua orang terdekatku bergiliran untuk menemaniku selama Abim pergi. Meski ada banyak pengawal di luar, mereka tetap tak membiarkanku sendirian di dalam rumah.

Sebenarnya bukan hanya aku saja yang di kawal ketat, tetapi orang di sekitarku juga terlebih lagi untuk perempuan seperti Mama, Mami, Nenek, istrinya Om Sakti bahkan sampai Tante Rosie.

Hal itu bertujuan agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan, apalagi semenjak kejadian dibobolnya ponsel milik Dimas, tak menutup kemungkinan penjahat itu menargetkan orang di sekitarku agar bisa berkomunikasi denganku.

"Oh shit!"

Perhatianku teralih menatap seruan Om Bams yang menggelegar, misuh-misuh tak terima di kalahkan Om Sakti saat bermain PS. Ya ampun, para orang tua itu sepertinya sudah lupa dengan usia mereka.

Berbeda dengan Om Sakti, tampak tertawa puas setelah berhasil memenangkan pertandingan.

"El, main. Gantiin si Bams, cupu dia."

Om Sakti melemparkan stick PS kearahku yang langsung aku tangkap, bergerak turun untuk duduk di atas karpet bersama dua penjagaku hari ini.

"Idih, menang sekali aja belagu. El, kalahin si kera sakti itu!"

Aku memilih untuk tak menghiraukan perdebatan dari dua orang di sampingku ini, memilih untuk fokus memainkan game yang baru saja di mulai. Soal game aku tidak terlalu payah dalam memainkannya, salah satu hobi di tengah kesibukanku tapi aku tidak sampai kecanduan seperti Abim.

"Nice! Serang terus! Iya begitu!" seru Om Bams sebagai komentator, telingaku nyaris pecah karena dia berteriak di dekat telingaku.

"Apaan? Kok kamu jago mainnya sih? Di ajarin Abi?"

"Mana ada, aku itu jago dalam semua hal."

"Iya deh, Om baru tahu kamu jago. Tahu gitu, daritadi Om main sama kamu aja daripada sama si perjaka tua."

Mulai lagi, melemparkan panggilan mengejek satu sama lain.

Saat sedang menuju puncak permainan, tiba-tiba saja layar televisi mati begitu saja, pun dengan lampu di seluruh ruangan.

"Ayo keluar."

Tanganku di tarik pelan oleh Om Bams dan Om Sakti, bergegas membawaku keluar.

Sebenarnya aku baik-baik saja, karena kami berada di living room yang hampir seluruh dinding ruangannya adalah kaca transparan, jadi ruangan tidak sepenuhnya gelap karena ada cahaya dari luar.

"Jagain El, biar gue periksa ada apa."

Om Sakti berjalan meninggalkan kami, untuk memeriksa masalah yang terjadi.

"You okey?" tanya Om Bams yang aku balas anggukan cepat.

"Mau Om panggil Abi kesini?"

"Gak usah, kayaknya cuma mati listrik aja."

Aku memilih untuk duduk di kursi malas yang ada di beberapa spot luar rumah, menunggu kedatangan Om Sakti dengan tenang.

"Hebat banget, kamu masih bisa kendalikan emosi di saat genting kayak gini."

Mendengar itu aku kembali mendongak, menatap sosok jangkung Om Bams yang sudah mengenalku sejak aku lahir, yang senantiasa menyayangiku meski tak ada darah yang sama antara kami.

"Orang lain pasti gak akan sesantai kamu, karena gak semua orang punya pertahanan yang seperti kamu."

"Aku emang takut, syok juga pastinya. Tapi perasaan marahku lebih besar, rasa kecewa karena gak bisa berbuat apa-apa juga ada."

"Tapi itu semua gak berlaku lagi, aku gak takut lagi karena ada kalian semua, berkat kalian semua aku selalu merasa tetap aman."

"I know you, pasti sulit buat kamu terima akibat dari kondisi seperti ini."

"Hm, cuma karena satu orang aku harus di karantina kayak gini. Gimana aku bisa terima?"

"Kamu tenang aja, kalau bajingan itu berhasil ketemu. Om bakal gantiin kamu balas dendam, kalau perlu Om kebiri dia di depan umum pake cutter biar makin sakit."

"Masa cutter? Mainan anak sekolah itu, Om."

"Kalau gitu Om bakal sewa samurai punya temen Jepang Om."

Aku langsung terkekeh geli mendengarnya, ucapannya itu seperti sedang membujuk seorang bocah yang sedang merajuk.

"Nah gini dong, kan makin cantik kalau ketawa."

Aku mempertahankan bibirku tetap naik, bekalangan ini aku memang jarang tertawa bahkan untuk tersenyum pun tak pernah sampai mata.

"Om," panggilku.

"Apa, cantik?"

"Om gak ada niat buat jadiin Tante Rosie istri?"

Hal pertama yang aku dengar adalah helaan napas panjang darinya, tampaknya dia sudah sangat bosan dengan pertanyaanku ini.

"Gak bosan-bosannya kamu tanya gitu ke Om?"

"Om, serius deh. Di mata aku, kalian itu punya sesuatu yang lebih dari sahabat."

"Siwer mata kamu itu."

"Jujur deh, Om ada rasa kan sama Tante Rosie?"

Om Bams mengacuhkanku, dengan santainya dia bersikap seolah tak mendengar apa-apa dan memilih untuk mengeluarkan ponselnya memainkannya.

"Emangnya Om gak mau punya partner di ranjang? Seru lho Om."

Om bams tertawa keras, lalu menjitak pelan dahiku.

"Beneran udah gede ya kamu, udah tahu soal ranjang sekarang."

"Om, aku ini udah jadi istri lho."

"Iya-iya, Nyonya Abimanyu."

"Om kan tahu, aku sempet punya pemikiran yang sama kayak Om dulu. Nah makanya sekarang aku kasih bocoran, biar Om mau nikah. Seru lho, Om."

"Kamu pikir bakalan mempan? Mama kamu aja sekarang udah pensiun buat comblangin Om."

"Om, enak lho kalau punya istri. Bisa kapan aja minta di layani, pokoknya enak deh."

"Emangnya kalau mau di layani harus punya istri dulu? Main kamu belum sejauh itu ternyata."

"Tinggal ke hotel buat sewa kamar plus ceweknya sekalian, beres deh."

"Om! Aku bilangin Mama ya? Kalau Om suka jajan di luar!"

"Emangnya kalau di bilangin, Mama kamu itu bisa apa?"

"Om serius deh, Om gak takut kena penyakit kelamin?"

"Ngomongnya di jaga, gini-gini juga Om selalu main bersih dan Om bukan maniak yang asal cicip sana-sini ya."

"Om, gak takut dosa?"

"Sejak kapan kamu sok agamis begini?"

"Astaga, gak mau temenan lagi sama Om deh."

"Kamu kan anaknya Om," pipiku di tekan kedua tangan Om Bams.

"Ah sana! Jauh-jauh!"

Aku sudah mulai kesal saat Om Bams malah sengaja menjahiliku, dia baru berhenti saat Om Sakti kembali dengan raut seriusnya.

"Gimana? Ada masalah?" tanya Om Bams yang raut wajahnya langsung berubah serius.

"Bukan masalah besar, tapi ada baiknya kalau kita tinggalin rumah ini secepatnya. Gue udah telepon Sakha sama Abim, mereka udah siapin hotel buat sementara kita tinggal."

"Emangnya kenapa, Om? Ada apa lagi sekarang?"

Om Sakti menatapku lamat, sebelum akhirnya menjelaskan apa yang terjadi.

"Di rekaman pengawas pos keamanan perumahan ini ada orang mencurigakan yang ketangkap kamera, postur tubuhnya hampir sama kayak bajingan itu. Karena itu, mendingan kita cepet-cepet pergi dari sini."

"Mati listrik disini juga ulah dia?"

"Bukan juga, tapi yang pasti mati listrik ini di sebabkan karena ada yang coba sentuh keamanan di rumah ini."

"Sekarang listriknya udah nyala, mendingan kamu siap-siap sekarang dan bawa barang penting aja biar sisanya kita yang urus."

Bahkan rumah pun tak lagi menjadi rumah karena ulah penjahat itu. Pada akhirnya aku harus meninggalkan rumah ini juga.

Baru kali ini aku bepergian hingga di kawal oleh lima mobil pengawal sekaligus, hampir mengalahkan pengawal presiden saja bedanya mereka tidak mencolok.

Setibanya di hotel, aku menatap keadaan sekitar. Ada banyak pria jangkung berpakaian hitam di sekitar area luar dan dalam hotel, aku bisa membedakan mereka yang adalah pengawal kami dengan keberadaan earphone di telinga mereka.

Pemilik hotel ini adalah kerabat dekat dengan keluarga Pramadana, tak heran jika Papa bisa dengan mudah membersihkan area ini dalam hitungan jam saja.

Aku di bawa ke lantai atas, tempat singgah sementara kami. Om Bams dan Om Sakti masih senantiasa di sampingku, mereka tahu aku tidak akan nyaman jika di antar oleh pengawal.

"Mama sama yang lain bakal disini juga, Om?"

"Iya, mereka on the way kesini."

"Sampe disini aja, Om. Aku bisa masuk sendiri, ada Abim juga kan di dalem," kataku saat kami tiba di depan pintu kamar suit hotel.

"Ya udah, sana masuk. Istirahat, gak usah pikirin hal lain."

Aku mengangguk, berpamitan lagi dan akhirnya masuk. Kamar suit ini cukup luas dan memiliki banyak fasilitas ruangan lain, hampir tak berbeda dengan unit apartemen Abim. Terasa seperti rumah, tapi bukan benar-benar rumah.

Aku melangkah semakin masuk, melihat keberadaan Abim tengah duduk di sofa living area dengan banyak laptop di depannya. Tak bergeming meski aku ada di jarak kurang dua meter di depannya.

Alih-alih mendekatinya, aku memilih untuk masuk ke dalam kamar utamanya dan bergegas untuk mandi. Aku memerlukan air untuk menyegarkan tubuh dan pikiranku.

...

"Udah makan?"

Itu pertanyaan pertama yang Abim katakan padaku setelah hampir lima jam aku berada di hotel ini, bahkan pertanyaannya itu lebih terdengar seperti basa-basi saja, tak terdengar benar-benar peduli.

Aku berdehem singkat, mengambil air botol yang menjadi tujuanku keluar kamar, lalu kembali masuk ke dalam kamar.

Hari sudah gelap, tapi aku tak berkeinginan untuk menutup tirai gorden agar bisa melihat city light yang cukup memanjakan mata dari lantai sepuluh ini.

Membosankan, tidak ada yang bisa aku lakukan di sini. Aku sudah tak memainkan ponselku sejak beberapa hari belakang dan aku sengaja meninggalkan ponselku di rumah, aku juga tak membawa benda elektronik lain yang bisa aku gunakan untuk menuntaskan kebosananku ini.

Pintu kamar terbuka, tapi aku tak berniat untuk sekedar berbalik dan menoleh, memilih untuk tetap menatap pemandangan malam kota di depan.

"Kamu pesan room service?"

"Iya, udah datang?"

Terdengar pintu kamar tertutup, barulah aku berbalik dan melihat Abim yang datang dengan trolley berisikan cemilan dan beberapa jenis botol alkohol.

"Kenapa gak pesen makanan berat?"

"Aku gak lapar."

Tanpa aku minta, Abim memindahkan semua makanan dan minuman keatas meja di depan sofa berukuran sedang yang muat untuk tiga orang duduk. Aku duduk di sofa itu, menunggu Abim selesai menyajikan semua makanan keatas meja.

"Ngapain?" tanyaku saat melihat Abim menempati ruang di sisiku, alih-alih keluar dan kembali bekerja.

"Makan, apa lagi?"

"Tapi aku pesen buat aku sendiri."

"Oke, tapi kamu gak mungkin habisin semua botol ini kan?"

"Cuma ada satu gelasnya."

"Masalahnya apa? Minum dari mulut aku aja kamu pernah, masa kamu keberatan cuma karena minum di gelas yang sama?"

Cih, menyebalkan. Ada saja balasannya yang membuatku tak bisa berkutik lagi.

Aku membiarkannya minum untuk pertama kali, sebelum aku ambil gelas itu dan meminumnya untuk tegukan kedua. Begitu terus, kami menyesap minuman itu bergiliran sampai tak sadar satu botol sudah berhasil kami kosongkan.

"Payah, masa baru sebotol udah mabuk aja." Aku menatap Abim yang sedang memejamkan mata, menopang kepalanya dengan satu tangan.

"Siapa yang mabuk? Aku masih sadar total."

"Makan kejunya," Abim menggeleng, menolak aku berikan potongan keju.

Dia tak suka memakan keju secara utuh dan tanpa di campur apapun, tapi aku ingin dia memakannya. Entahlah, aku penasaran melihat raut wajahnya saat dia merasakan lelehan keju di mulutnya.

Aku menyerah memaksanya mencicipi keju, lalu memakan potongan itu.

Kedua kakiku sengaja aku naikan, menindih paha Abim. Lalu aku bersandar pada sandaran sudut sofa, menatap Abim yang berseberangan denganku.

Kakiku bergerak nakal, memasuki kemejanya dan menyentuh benda keras di dalamnya.

"Sekarang lihat, siapa yang mabuk?"

"Aku masih sadar," balasku sembari menekan dadanya dengan telapak kakiku, kancing kemeja bagian bawahnya mulai terbuka.

"Kalau begitu, gimana kalau kita langsung mulai?"

"Mulai apa?"

"Bercinta."

"Gak mau! Jangan harap kamu bisa sentuh aku malam ini."

"Kenapa?"

"Kamu sendiri yang jauhin aku, cuekin aku."

"Jadi kamu gak suka aku jauhin kamu?"

"Gak suka!"

"Makanya, jadi istri itu harus nurut sama suami."

"Istri itu bukan pelayan!"

"Siapa bilang suami itu raja, suami itu pemimpin. Memangnya susah buat nurut sama pemimpin?"

"Aku juga mau jadi pemimpin!"

"Kita berdua sama-sama pemimpin, Ele."

"Terus siapa anggotanya?"

"Anak-anak kita nanti."

Hanya mendengar ada akhiran kita setelah kata anak-anak saja membuatku tak mampu menahan senyuman, tanpa bisa di tahan bayangan random masa depan itu muncul di kepalaku.

Abim mengambil kakiku yang ada di dadanya, mengeluarkannya dan dengan santainya mengecup telapak kakiku.

"Kamu lupa atau sengaja, kalau kamu cuma pake bathrobe tanpa dalaman."

"Aku gak lupa tuh, kenapa? Punyaku kelihatan emang?"

Sudah pasti kelihatan, sejak tadi aku terus mengangkat kakiku hingga bathrobe bagian bawahku tersingkap.

"Kyaa..!" jeritku saat dia tiba-tiba saja menarik kedua kakiku hingga kepalaku terjatuh ke permukaan bawah sofa dan aku terbaring sepenuhnya di bawah tubuhnya.

"Abim!" aku melotot menatapnya dan memukul lengannya yang berada di samping tubuhku.

Namun Abim langsung menahan kedua tanganku, satu tangannya membawa kedua tanganku dan mengunci pergerakan ku di atas kepalaku.

"Jangan goda aku, sayang."

Abim semakin bergerak maju yang memaksa kakiku semakin terbuka lebar di kedua sisi pinggangnya, celananya menekan milikku di bawah sana yang terbuka.

Satu tangannya lain bergerak menarik simpulan tali di perutku, lalu menyingkap satu-satunya kain yang menutup tubuhku.

Angin pendingin ruangan menyentuh kulitku yang terbuka, tapi anehnya aku merasakan panas. Itu karena aku berada di bawah tatapan Abim.

Curang, tubuhku sudah berhasil dia telanjangi tapi tubuhnya masih berpakaian lengkap.

"Kenapa cuma di lihatin aja? Gak mau mulai?"

Lalu hap, setelah itu Abim tidak melepaskanku lagi.



Kelanjutannya ada di karyakarsa ya 🙈 terlalu 🔞 buat dilanjut disini.

Caranya kalian tinggal klik link yg ada di bio aja ya, kalau udah punya app nya bisa langsung cari akun yang sama atau judulnya langsung. Lalu cari di seri Boundless Love dan bagian Uncut Part 44.

Gaada aplikasinya? Bisa kok melalui web.
Selamat mencoba.

Terima kasih sudah membaca, jangan lupa beri vote dan tinggalkan komentar yang banyak. See you next!

Salam saya,
lemamelia19

[Bandung, 6 Sep 25]

Seguir leyendo

También te gustarán

413K 16.6K 37
Western Series 1 Mature Content 21+ Cerita ini dilanjut versi PDF! Sebagai seorang istri yang menikah karena perjodohan, hubungannya dengan sang suam...
339K 3.4K 30
[ SUDAH END DAN PART LENGKAP ✅ ] [ 21+ ] ----- Kisah ini menceritakan tentang seorang paman dan juga keponakannya yang saling mencintai. Iya memang...
350K 15.6K 69
Ia terdiam sejenak menatapku, lalu bertanya, "Can we be friends?" Aku tak tahu harus menjawab apa. Seorang suami meminta istrinya untuk menjadi teman...
Wattpad App - Desbloquea funciones exclusivas