Tidak terasa liburan hanya tinggal menghitung hari. Ian, Nara dan Reza menghabiskan sisa liburan mereka dengan belajar di salah satu cafe di daerah dekat rumah Nara dan Reza.
Saat mereka sudah selesai belajar, Nara mengatakan ingin foto bertiga untuk kenang-kenangan.
"Tumben banget lo ngajak foto, oh gue tau karena bentar lagi gue sama Reza kelas 12 dan lo bakal ditinggal sendirian sih ya." Ledek Ian yang membuat wajah Nara memerah menahan kesal.
"Yaudah kalau lo nggak mau biar gue sama kak Reza aja yang foto."
"Eh siapa yang bilang nggak mau."
Ketiganya kemudian berfoto beberapa jepretan mengunakan ponsel Nara. Gadis itu kemudian membagikan foto itu kepada dua temannya lewat aplikasi chat.
"Aku mau post di Instagram boleh ya?" Tanya Reza, yang langsung diiyakan oleh teman-temannya.
–⏳–
Di malam hari Nara hendak membeli snack untuk menonton film. Saat pulang, ia bertemu dengan Reza yang hendak pergi menggunakan sepeda motornya.
"Mau ke mana kak malam-malam." Tanya Nara melihat penampilan Reza yang sangat rapih. Laki-laki itu mengenakan jas hitam dan celana bahan hitam.
Reza membuka helm full face nya, "hallo Nara, aku mau ke acara ulang tahun teman ku."
Nara berfirasat buruk, kemungkinan besar Alisya akan hadir juga. Nara kemudian membujuk Reza agar dirinya bisa ikut. Reza mengizinkan asal gadis itu tidak berdandan terlalu lama.
Hanya lima belas menit, Nara siap dengan riasan dan gaun berwarna putih selutut dengan pita hitam di pinggang. Setelah berpamitan dengan sang ibu, Nara dan Reza pun berangkat ke lokasi acara.
Butuh waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai ke lokasi acara. Acara birthday party itu digelar di sebuah rumah mewah di kawasan elit. Rumah berarsitektur Eropa dengan nuansa warna putih. Dari depan saja sudah terlihat value pemilik rumah itu. Siapa murid dari sekolahnya yang memiliki rumah seindah ini, Nara jadi bertanya-tanya dalam hati.
Parkiran sudah dipenuhi dengan beberapa kendaraan roda dua dan roda empat. Di depan pintu, beberapa pelayan menyambut kedatangan para tamu dan mengantar mereka ke area ruang pesta. Isi dalam rumah itu sangat megah, tidak kalah dari penampakan luarnya. Nara sampai bercak kagum dalam hati.
Ruang pesta telah ramai oleh tamu, sebagian asik mengobrol, sebagian lainnya berdansa menikmati musik. Ruangan pesta di dekor sesuai dengan tema acara yaitu black and white. Ada kue setinggi satu meter dan air mancur coklat disana.
Di sebelah ruangan itu, dipisahkan oleh pintu kaca, terdapat sebuah taman dengan kolam renang yang cukup besar yang memisahkan antara taman dan ruangan itu.
Nara melihat beberapa orang ditaman dan sepertinya hanya orang-orang tertentu yang diizinkan masuk, para pelayan menjaga ketat area itu.
Seorang laki-laki dari arah Taman menghampiri Nara dan Reza. "Za! Ayo masuk udah di tungguin yang lain." Tutur laki-laki itu.
"Partner juga boleh masuk kan dre?" Tanya Reza kepada Andre.
"Yaelah, kalem aja yang lain juga pada bawa cewek."
Sebelum ketiganya beranjak ke taman, Andre sempat menatap Nara dengan seksama selama beberapa detik, hingga akhirnya laki-laki itu melenggang pergi terlebih dahulu ke taman.
Benar dugaan Nara, hanya orang-orang tertentu yang boleh masuk ke taman. Di area taman yang tertutup bunga dan pohon ada sebuah rumah kaca kecil di sana. Jika dari ruang pesta, rumah kaca ini tidak begitu terlihat.
Sesampainya di rumah kaca, gadis bersurai hijab itu memperhatikan sekeliling. Kebanyakan murid-murid populer di sekolahnya ada disini. Hanya ada beberapa wajah yang familiar di mata Nara, yang paling ia tahu adalah Keisya, dulu ia adalah mantan teman Tania. Lalu Andre teman dekat Ian.
Reza disambut baik oleh orang-orang di sana, tapi tidak dengan Nara. Gadis itu hanya seperti bayangan Reza.
Seorang gadis cantik yang duduk ujung meja panjang itu, datang menghampiri Nara dan Reza. Gadis itu mengenakan dress putih panjang dengan belahan rok yang sampai paha dan mengenakan tiara kecil sebagai hiasan kepalanya.
"Akhirnya Reza datang juga, ku pikir kamu nggak datang loh! Oh tapi ternyata kamu bawa partner ya." Ucap Alisya sambil melirik Nara sekilas.
Akhirnya Nara menyadari siapa ratu pesta tersebut. Dia adalah Alisya, gadis terpopuler di sekolah.
"It's okey bawa partner, yang lain juga bawa kok, biar tambah rame aja ya nggak sih!" Tutur Alisya sambil meminta pendapat pada para tamunya yang lain.
Nara diam saja ia memang tamu tidak diundang.
Alisya kemudian menyuruh Reza dan Nara untuk duduk. Kemudian meminta Keisya untuk menuangkan teh di cangkir yang ada di hadapan mereka.
Orang-orang yang ada di meja panjang itu sibuk mengobrol dengan Alisya sebagai pusatnya. Reza pun beberapa kali ikut menanggapi. Sedangkan Nara hanya bisa diam sambil menunduk. Sekarang ia benar-benar merasa seperti pajangan yang fungsinya hanya untuk meramaikan meja makan.
Meskipun ia hanya mendengarkan orang-orang berbincang, tapi Nara merasa lelah. Perbincangan panjang itu berhenti sejenak saat pintu rumah kaca dibuka dengan kasar oleh seseorang. Di ambang pintu, siluet seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan postur tegap terlihat jelas. Laki-laki itu kemudian berjalan ke arah meja, saat tubuhnya terkena sorot lampu barulah Nara mengetahui siapa laki-laki itu. Laki-laki itu adalah Ian.
Ian berjalan ke arah Alisya yang sudah berdiri untuk menghampirinya. Saat jarak mereka menipis Ian menatap gadis itu. "Gue masih diterima kan meskipun telat? Iya kan, tuan putri?"
Alisya tersipu malu mendengar dirinya dipanggil tuan putri oleh Ian. Namun Nara justru mendengar perkataan Ian seperti sebuah sarkasme. Nara terbiasa bercanda seperti itu dengan Ian dan ia mengetahui itu dengan baik. Tapi Nara tidak mau memperdulikan hal itu.
Alisya menyuruh Ian duduk di kursi yang telah disediakan, yaitu kursi yang lumayan dekat dengan dirinya. Namun justru Ian menyuruh Andre untuk bertukar tempat dengannya dan malah duduk di sebelah Nara dan Reza.
"Kenapa datang ke sini nggak bilang-bilang?" Tanya Ian entah ditujukan kepada Reza atau Nara.
"Saya dapat undangan, jadi berhak datang dong." Tutur Reza dengan senyuman khasnya.
"Terus kenapa lu ngajak Nara?" Tanya laki-laki itu lagi.
Nara mulai tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Untunglah kedua laki-laki itu berbicara dengan suara pelan dan orang-orang tidak memperhatikan mereka.
"Tunggu-tunggu, ini ada apa?" Tanya Nara sambil menatap Ian dan Reza bergantian, posisi ia duduk berada ditengah keduanya.
Kedua laki-laki itu diam saat Nara bertanya, tidak lama kemudian Ian buka suara, "nggak, nggak ada apa-apa."
Kemudian laki-laki dengan mata elang itu pergi ke arah smoking area. Nara merasakan ada yang aneh dari sikap Ian malam ini.
–⏳–
By_Zaenuna