Suara alas sepatu yang bergesekan dengan aspal adalah musik pengiring bagi para siswa yang saat ini memasuki tahun ajaran baru. Ingar bingar di sekeliling tak sedikit pun menjadi gangguan, seolah hanya waktu yang menjadi prioritas utama dalam pikiran. Berbondong-bondong langkah kaki berjalan menuju lapangan, dengan tergesa memasuki barisan yang masih tersisa.
Hari pertama masa orientasi akan terasa amat membosankan. Hanya mendengar sambutan dari kepala sekolah beserta jajaran, berkenalan dengan beberapa siswa di kanan dan kiri, membuat kelompok, dan memperhatikan para pengurus osis memaparkan materi. Tidak ada yang menarik, setidaknya belum, untuk Sebiru Samudera yang lebih suka melakukan kegiatan fisik dibanding duduk selama berjam-jam sembari menahan kantuk.
"Berikut adalah daftar barang bawaan untuk kegiatan besok, silakan dicatat di buku masing-masing."
Tepat setelah kalimat tersebut selesai diucap, puluhan pasang kepala serempak menunduk dan fokus pada buku di atas meja. Tidak terkecuali Sebiru, lelaki itu dengan bersemangat menulis kata demi kata yang terpampang di papan tulis sebab setelah ini, para siswa diperkenankan untuk pulang. Namun naas, belum sempat menulis hingga kalimat akhir, pena pada genggamannya menunjukkan sebuah protes dengan menghambat tinta agar tidak muncul saat menggores huruf di atas kertas.
Sebiru berdecak, meski telah berusaha mencoret kertas di belakang buku, hanya titik-titik kecil yang muncul di antara garis timbul tak berwarna. Terasa seperti komedi sebab Sebiru baru saja membeli pena tersebut pagi tadi, tepat sebelum lelaki itu berangkat ke sekolah.
Sebiru mengorek isi tas yang sebetulnya telah ia hafal isinya di luar kepala, hanya saja Sebiru mencoba peruntungan dengan berpikir akan ada sebuah pena yang tersempil di sudut tas. Mungkin, jika Sebiru membeli lebih dari satu pena, ia tidak perlu terlihat sibuk sendiri seperti orang bodoh. Bahkan anggota osis di depan kelas beberapa kali melirik ke arahnya.
Tanpa disangka, sebuah pena muncul dari belakang pundak Sebiru. Dengan cepat lelaki itu berbalik, seorang siswi menyodorkan pena dengan raut acuh tak acuh. Sebiru meringis, dalam hati menerka betapa putus asa dirinya terlihat saat mencari pena di dalam tas, sehingga gadis di belakang lelaki itu sampai menyadari kegundahannya. Namun di saat seperti ini, Sebiru tidak ingin berpikir panjang. Ia menggumamkan kata terima kasih sebelum kembali berkutat pada buku di atas meja. Setidaknya, siang ini Sebiru terselamatkan dari teguran para osis di depan kelas.
***
Tidak ada banyak hal yang dilakukan di hari terakhir masa orientasi. Para siswa baru dipersilakan mencari tempat duduk ternyaman untuk memperhatikan demo ekskul di tengah lapangan. Sorak sorai mulai memenuhi lapangan, sesekali Sebiru juga tak mau ketinggalan untuk memberi tepukan tangan paling bersemangat. Ini adalah bagian kegemaran Sebiru, seluruh ekstrakurikuler yang ditampilkan dari awal hingga akhir terlihat begitu menarik. Dimulai dari bidang olahraga, bahasa, sains, tari, tapi hal yang menarik perhatian Sebiru adalah musik.
Sebiru selalu tertarik dengan hal-hal berbau musik, sebab sang bapak selalu memutar musik klasik dari radio butut di rumah mereka hampir setiap hari sejak Sebiru kecil. Ralat, bahkan saat Sebiru masih dalam kandungan. Jadi meski terkadang Sebiru menggerutu melihat sang bapak masih menggunakan radio butut yang beberapa kali harus dipukul saat tidak mengeluarkan suara, ia tidak bisa memungkiri bahwa radio itu memiliki jasa besar dalam memperkenalkan Sebiru pada musik. Terutama musik-musik lawas milik musisi Indonesia.
Masing-masing ketua kelompok—yang telah dipilih di hari pertama masa orientasi—mulai membagikan selebaran kertas formulir ekstrakurikuler setelah mengambilnya dari para anggota osis yang berkeliling. Dalam tulisan seperti ini, baru terlihat ada banyak sekali daftar ekstrakurikuler yang dapat diikuti, meski jumlahnya sama dengan yang ditampilkan di tengah lapangan beberapa saat lalu. Namun tentu saja, Sebiru telah melabuhkan hati pada klub musik. Maka tanpa ragu, Sebiru akan mengisi formulir tersebut dengan cepat lalu mengembalikannya pada si ketua kelompok.
Meski memiliki semangat yang berkobar layaknya api disiram bensin, tidak memungkiri jika harapan lelaki itu dapat padam seketika. Saat teman kelompoknya mulai berdiskusi sembari mengisi formulir, Sebiru harus kembali menelan kekesalan sebab lupa membawa pena. Lagi-lagi benda kecil itu.
Dua hari ke belakang, Sebiru selalu mengandalkan pena milik seorang siswi di bangku belakang. Bahkan pagi tadi pun, Sebiru masih meminjam pena milik siswi tersebut. Bukan karena Sebiru memanfaatkan keadaan, bukan pula karena tak punya uang untuk membeli pena baru, hanya saja Sebiru sedikit trauma membeli pena di tempat sebelumnya. Maka Sebiru berpikir, hari ini setelah kegiatan usai, ia akan pergi ke toko buku untuk membeli pena sebanyak mungkin. Memang terdengar hiperbola, tapi Sebiru benar-benar akan membeli lebih banyak cadangan pena agar insiden pada hari pertama masa orientasi tidak terulang. Bisa gawat jika Sebiru berada dalam keadaan genting tapi pena yang ia miliki malah tak berfungsi.
Maka saat menyadari Sebiru dan si siswi pena berada di kelompok berbeda, ia mulai menyayangkan hal tersebut. Sebiru juga tidak tahu di mana siswi itu duduk, pun jika meminjam pada teman kelompoknya Sebiru merasa sangsi, sebab mereka sangat fokus mengisi formulir dan terlihat tak ingin diganggu. Mungkin Sebiru harus menunggu sedikit lebih lama sampai mereka selesai dengan tulisannya.
"Pena?"
Sebiru terlonjak. Ia menoleh ke sumber suara dengan raut terkejut, dihadiahi kekehan oleh seseorang yang secara tidak sengaja telah mengejutkannya. Itu suara siswi yang selalu meminjamkan pena pada Sebiru. Tanpa sadar, Sebiru mengembuskan napas lega.
"Pena?" tanyanya kembali sebab Sebiru tak kunjung menjawab apalagi mengambil sebuah pena dari genggamannya.
"Kamu mengejutkanku."
Lagi-lagi gadis itu terkekeh, ia menarik lengan kanan Sebiru dan memberikan pena itu di atas telapak tangannya.
"Maaf," senyum gadis itu mengembang, "kamu terlihat bingung menatap ke sana kemari, dan belum menulis formulir sama sekali, jadi aku simpulkan kamu tidak membawa pena. Seperti biasa."
Sebiru meringis mendengar perkataan tersebut, sebab memang benar, Sebiru tidak lagi membawa pena setelah hari pertama masa orientasi. Saat gadis itu hendak berdiri dan kembali pada tempat duduk semula, suara Sebiru telah lebih dulu menginterupsi.
"Sebentar, siapa namamu?" sadar jika pertanyaannya mungkin akan membuat gadis itu tak nyaman, Sebiru buru-buru menambahkan, "aku sudah meminjam pena milikmu sejak hari pertama masa orientasi, aku rasa tidak sopan jika tidak mengetahui namamu."
"Oh? Aku pikir kamu tidak akan pernah menanyakan namaku sama sekali," gadis itu menyeringai saat mendapati raut bersalah Sebiru, "Namaku Gayatri, dan kamu tidak perlu memperkenalkan diri sebab aku sudah tahu namamu. Omong-omong, aku duduk di sebelah sana."
Setelah mengatakan hal itu, Gayatri melangkah kembali ke tempat semula. Meninggalkan Sebiru yang masih mengerjap kebingungan dengan sebuah pena hitam pada genggaman tangan.
***
Selamat debut, eom seonghyeon<3
Stream FaShioN everyone!