BISIKAN

Od PMHstone

54 4 0

"Gadis tuli itu, mimpiku." Dipanagara Arehsan Více

2. Dear Name
3. Slowmo in Peace
4. Me a Memory
5. Reply Again
6. New Student
7. First Love?
8. After Meet

1. Prolog

21 1 0
Od PMHstone

Sepuluh tahun lalu, sinar matahari di siang hari begitu menyengat. Seorang gadis kecil berusia tujuh tahun melindungi wajahnya dengan telapak tangannya sembari berlari kecil mengejar anak yang berjalan cepat di depannya. Hingga akhirnya gadis itu berhasil menahan tangan anak itu dari belakang. Nama laki-laki itu Dipanagara Rehsandra, biasa dipanggil Rehsan. Anak berusia enam tahun yang baru saja memasuki sekolah dasar.

Saat tangannya dicekat, anak itu menghentikan langkah kakinya dan berbalik menatap gadis yang mengejarnya tadi.

"Rehsan, tunggu!!" ketus Nayna.

"Ada apa?"

"Aku minta maaf soal tadi. Aku gak bermaksud buat kamu malu di depan kelas." sesalnya.

Rehsan menatap datar gadis di depannya. Sebenarnya saat di kelas tadi Nayla mengatakan bahwa dirinya menyukai Rehsan dan itu bocor hingga ke seluruh kelas. Akibatnya Rehsan diejek satu kelas hingga membuatnya malu, itu sebabnya ia membenci Nayna, gadis yang sedari tadi mengejarnya.

"T-tapi...aku serius, aku suka sama kamu." sanggah Nayna.

"Aku masih kecil, aku gak mau pacaran. Nanti dimarahin bunda." tukas Rehsan.

"Gimana kalo kita udah besar? Kamu mau jadi pacar aku?"

"Besar? Dewasa maksud kamu?" tanya Rehsan.

Yang ditanya mengangguk. "kalo aku udah besar. Aku mau jadi pacar kamu. Kamu harus mau, ya?"

Anak laki-laki itu bergeming ragu membalas pertanyaan itu. Ia masih naif untuk mencintai lawan jenis. Ia masih ingin bermain dengan teman-temannya, ia tidak mau mengenal cinta di usia yang sangat kecil.

"Oh iya, habis ini papa sama mama ajakin aku nonton konser orkestra moza di luar kota. Aku harus pergi sekarang. Da-dah Rehsan!" pamitnya.

Gadis itu lekas berbalik, lambaian tangan mengiringi langkahnya yang berlari semakin menjauh. Sementara Arzan terus menatap kepergian gadis itu hingga lenyap dari pengelihatannya sebelum akhirnya ia beranjak pergi meninggalkan tempat itu untuk pulang.

Sementara di sisi lain Angga, pria berusia 30 tahun baru saja selesai menutup teleponnya. Ia berjalan memasuki rumah, langkahnya terhenti ketika berada di ruang tamu tepatnya di sofa, ia melihat anak gadisnya sedang duduk sambil mengayun-ayunkan kakinya sementara Inara sang mama sedang mengikat rambut putrinya.

"Udah siap nonton orkestra?" tanya Angga.

"Siap!!" seru Nayna.

"Makan yang banyak, ya. Soalnya tempat ini jauh. Jadi gak boleh ngeluh kalo perjalanan nanti, oke?"

"Oke, pah!?"

Angga tersenyum sambil tertawa pelan. Ia mengusap lembut rambut putrinya hangat melihat betapa antusiasnya Nayna. Gadis itu memang sangat menyukai musik, ia bahkan bercita-cita ingin menjadi dirigen orkestra dan memiliki hobi bermain piano. Entah mewarisi gen dari siapa, orang tuanya tidak ada yang memiliki ketertarikan pada musik. Apapun itu, Inara dan Angga akan tetap mendukung mimpi putri kecilnya itu.

"Kamu gak papa cuti sehari buat nemenin Nayna?" tanya Inara.

"Gak papa. Asal Nayna senang, saya akan lakukan apa saja demi dia dan kamu." balas Angga.

"Nayna udah nunggu lama buat nonton orkestra kesukaannya."

"Maka dari itu saya gak mau janji-janji terus sama dia. Hari ini saya akan menghabiskan waktu sama kalian." tandas Angga.

Inara tersenyum sambil mengangguk. Mereka lantas mengulurkan tangan pada putrinya sebelum ia menyematkan tangan mungilnya. Nayna keluar dari rumah menuju mobilnya dengan kedua orang tuanya menggandeng tangannya. Serasa harmoni, begitu senang melihat keluarga bahagia seperti itu, mereka berharap kehangatan itu akan berlangsung selamanya

Perjalanan mereka membutuhkan waktu sedikit lama, namun demi mengatasi kebosanan sering kali mereka bernyanyi mengiringi Nayna dengan lagu anak-anaknya. Suara speaker dari dasbor mobil pun terdengar jelas membuat Nayna lebih bersemangat dalam bernyanyi, meski suaranya tidak terdengar bagus namun gadis kecil itu terlihat menikmatinya.

Mobil yang Angga tunggangi berhenti, bukan karena telah tiba melainkan lampu merah yang mengharuskan mobil untuk berhenti. Di sana Nayna bercerita tentang lampu merah, kuning, dan hijau tentang apa saja peraturannya. Kendati demikian, kedua orang tuanya tidak terusik sedikit pun mendengarkan celotehan anaknya.

"Merah artinya berhenti, kuning artinya hati-hati, dan hijau artinya...JALAN!!!" pekik Nayna dengan suara lantang.

Angga tersenyum lagi, ia lekas menginjak gas untuk mobilnya melaju sesuai teriakan anaknya saat lampu lalu lintas berubah menjadi hijau.

Pria itu hanya memperhatikan jalannya yang lurus kedepan, hingga ia tidak tau bahwa truk kontainer berwarna putih mendadak oleng karena rem blong yang menabrakan apapun yang ada di depannya, termasuk mobil yang Angga kendarai.

Mobil itu terpelanting jauh hingga mengguling beberapa kali. Kecelakaan beruntun itu mengakibatkan mobil yang Angga kendarai juga ikut terkena. Ketika mobil berhenti mengguling, keadaan mereka sangat mengenaskan apalagi kendaraan itu berhenti dengan posisi terbalik.

Angga membuka matanya merasa seluruh pengelihatannya berputar, ia menatap ke samping melihat istrinya yang terpejam dengan darah memenuhi pelipis mengalir deras hingga ke pipinya. Tangannya yang bergetar mencoba meraih tangan Inara namun wanita itu tidak kunjung sadar, sama halnya dengan dirinya yang menangis tanpa sadar melihat keadaan istrinya yang mengenaskan.

"P-papa....paa.."

Suara lirih terdengar dari belakang. Ia melihat putrinya sedang menahan semua rasa sakit itu. Segera ia melepas sabuk pengamannya dan merangkak menuju sang putri untuk melepaskan sabuk pengamannya, Nayna langsung terjatuh karena posisi mobil yang terbalik itu.

Gadis itu masih menahan rasa sakit yang luar biasa, terlebih kedua telinganya merasa berdengung karena menghantam jendela saat mobil berguling.

Angga lekas memeluk putrinya dan mencoba membuka pintu meski tangannya masih terasa sakit akibat tulang yang patah. Mobil sudah mengeluarkan asap putih dan bau sangit, ia belum berhasil mengeluarkan Nayna ataupun Inara dari sana, namun percikan api mengharuskan mereka untuk segera keluar sebelum mobil meledak.

Pintu mobil tiba-tiba macet, pria itu berteriak ketakutan. Karena panik, ia lantas menendang kaca mobil yang sudah retak dan mengeluarkan Nayna dari sana. Sementara ia kembali menuju sang istri untuk menyelamatkannya, ia menepuk-nepuk pipi Inara yang tidak kunjung sadar.

"Sayang! Buka mata kamu!! Ayo bangun!!! Bangun!!! Sayang?!! Inara bangun, sayang!!!" pekik Angga.

Di sana Angga mencoba membangunkan sang istri, namun naas wanita itu tidak memiliki pergerakan sama sekali. Hingga akhirnya ia menyerah dan langsung menarik memeluk tubuh istrinya yang penuh darah tersebut.

Sementara Nayna terus menggedor-gedor jendela mobil memanggil kedua orang tuanya. Kepulan asap menghitam membuat Nayna semakin kuat memukul-mukul kaca mobil. Warna setempat yang melihat gadis kecil di dekat mobil berasap itu langsung mendekat, anak itu terus memberontak saat mereka mencoba menarik tubuhnya. Ia hanya ingin pergi dengan kedua orang tuanya. Yang Nayna lihat jika Angga sedang menangis sembari memeluk erat tubuh jasad sang istri, ia seakan tidak mendengar teriakan dari putrinya yang terus memanggil-manggilnya.

Karena tidak ada waktu lagi, seorang pria lekas mengangkat tubuh anak itu menjauh dari mobil. Namun belum beberapa langkah, mobil itu meledak hingga pria yang menggendong Nayna ikut terpental termasuk Nayna sendiri.

Anak itu terjatuh mencium aspal, kecelakaan mobil tadi cukup membuat telinganya berdengung hebat, kini telinganya harus berdengung lagi, kepalanya terasa pusing berputar-putar. Pandangannya yang sedikit kabur menatap ke belakang dimana api berkobar sangat besar menghanguskan kedua orang tuanya.

Dunia terdengar sunyi di tengah huru-hara yang ditatapnya. Tangisan serta jeritan Nayna tidak terdengar meski sangat lantang. Pandangannya memburam ketika ia hendak merangkak mendekati mobil yang terbakar itu sebelum akhirnya seluruh dunia menggelap di pandangannya. Gadis itu akhirnya pingsan di tempat karena mengalami benturan hebat di kepalanya. Sementara kedua orang tuanya meninggal di tempat di dalam mobil itu.

Hari itu kecelakaan beruntun mewaskan sebanyak 8 orang termasuk Angga dan Inara dan 20 lainnya mengalami luka-luka. Sepuluh mobil dikabarkan rusak karena truk tronton bermuatan lebih itu. Para korban langsung dilarikan ke rumah sakit dengan unit ambulans yang cepat datang.

Nayna tidak menyangka hari yang sudah lama ia nantikan ternyata berubah menjadi malapetaka baginya. Gadis kecil itu harus menanggung kesedihan luar biasa akibat kehilangan kedua orang tuanya.

To be continued..

Pokračovat ve čtení

Mohlo by se ti líbit

1.5M 122K 68
Flora Severian terbangun sebagai Hazellette Ashcroft, istri Duke dalam novel fantasi sejarah. Figuran yang akan dihancurkan oleh tokoh utama wanita...
1.5M 35.8K 80
WARNING ⚠️ 17+ Area! Alexa Xyra. Gadis dengan segala pesona yang menguar dalam dirinya selalu mampu membuat siapa saja bertekuk lutut untuk dirinya...
888K 67.4K 41
Zanuel Luca Korzh seorang anak bungsu dari keluarga terpandang di daerah kota ini. Namun, keistimewaannya membuat dirinya berbeda dari anggota keluar...
879K 72.8K 97
Arsya Julian atau yang kerap kali di sebut Asa kembali ke kampung halamannya setelah 2 tahun bekerja di perantauan, Asa memilih pulang karena sudah m...
Aplikace Wattpad - odemkni exkluzivní funkce