Di kantin kampus, Moza memperhatikan bangku yang diduduki seorang gadis yang dengan tenang menikmati makan siangnya. Bukan gadis itu yang menjadi fokus utamanya, melainkan sesosok wanita yang berdiri sembari memperhatikan gadis itu dari samping. Kenapa wajahnya menampakkan kesedihan seperti itu?
Sosok wanita di samping gadis itu bukan manusia. Moza tahu itu. Jadi saat sosok itu beralih menatap ke arahnya, reflek Moza mengalihkan pandangannya demi menghindari tatapan mata dari si hantu.
Menatap mata mereka sama saja memberi pengumuman kalau Moza bisa melihat dan merasakan kehadiran mereka. Ih dia sih ogah. Malas bercengkrama dengan mereka sebab kebanyakan tampang dan penampilannya sangat tidak bisa diterima oleh nalar manusia.
Niat hati Moza tidak ingin dekat dan berinteraksi dengan sosok hantu wanita itu. Sialnya, si sosok hantu itu justru menghampiri Moza. Sosok itu tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya dan perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Moza.
Sumpah Moza deg-deg an minta ampun. Sejujurnya dia itu penakut. Sialnya lagi wajah hantu ini sangat jelek. Wajahnya hancur sebelah, mulutnya mengeluarkan cairan darah yang berwarna kehitaman dan berbau busuk. iyuwh..
Moza sudah menahan napas sejak tadi dan berpura-pura masih menikmati makannya meskipun sambil menahan mual.
"Kamu bisa lihat saya?" tanya sosok hantu itu tiba-tiba. Suaranya hampir menyerupai bisikan.
Moza tetap diam dengan tenang. Tapi diam-diam dia mencengkeram kuat sendok yang dipegangnya.
Tak
Sebuah mangkok bakso yang tiba-tiba diletakkan dengan keras di mejanya. Moza menoleh dan menemukan Malvin berdiri di hadapannya. Malvin ini teman sekelasnya, meskipun begitu mereka tidak cukup akrab tapi sering saling menyapa saat tidak sengaja berpapasan.
"Eh sorry, kekencengan ya gue naruh mangkoknya" ucapnya sambil nyengir.
"Ngagetin aja sih, lo"
"Gue udah laper banget soalnya. Tapi ngeliat meja udah pada penuh dan meja ini yang masih kosong, ya langsung aja gue gas nempatin keburu diduluin orang" jawabnya.
Moza melihat ke sekitar, saking fokusnya Moza pada hantu sampai membuat dia tidak memperhatikan kalau kantin memang sudah sangat sesak.
Tanpa Moza sadari Malvin menatap sosok hantu wanita tadi dengan tajam. Sedetik kemudian hantu itu menghilang begitu saja.
"Lo kalo nggak mau disamperin jangan ngeliatin kayak lagi nandain gitu, Za" Moza yang mendengar itu langsung menoleh dan mengernyit heran.
"Hantu tadi nyamperin lo karena dia ngerasa lo lagi penasaran sama dia".
Moza melotot kaget "Lo bisa ngeliat 'dia'?.
Malvin tersenyum miring kemudian melahap baksonya dengan cepat.
Moza merasa penasaran sekaligus antusias karena merasa memiliki teman sepenanggungan. Memiliki kemampuan bisa melihat dan merasakan kehadiran hantu atau biasa disebut 'indigo' sangat menyiksa baginya.
Dulu saat SD dia sempat dibully karena sering histeris saat melihat hantu buruk rupa di hadapannya. Saat itu untuk pertama kalinya dia mendapati pemandangan menyakiti mata seperti itu. Teman-temannya mulai mengacuhkan dan membully nya karena menganggap dirinya itu tukang halu, anak setan bahkan pembawa sial.
Hal menyakitkan yang membuat keluarganya memutuskan pindah ke kota adalah saat pembully an itu semakin parah. Moza dikunci di dalam gudang oleh teman kelasnya dengan dalih uji nyali seperti yang ditonton di TV.
Dia ketakutan setengah mati saat mendapati hantu tanpa kepala yang berdiri di ujung ruangan. Memang sih hantu itu tidak menyakitinya, tapi Moza ini kan manusia normal ditambah dia juga masih anak-anak. Wajar kalau dia merasa takut bahkan sampai ditemukan dalam keadaan pingsan saat pintu dibuka oleh satpam dan para guru di sore harinya.
Sejak saat itu moza tidak pernah lagi memberi tahu siapapun perihal dirinya yang mmemiliki kemampuan melihat sosok hantu. Dia juga mencoba abai saat bertemu dengan intitas gaib apapun jenisnya. Karena sekali Moza bertatap mata dengan mereka maka akan otomatis mengundang sosok lain yang ikutan penasaran.
Hantu juga bisa kepo, tahu.
"Bisalah. Gue bahkan bisa berkomunikasi sama mereka" ucap Malvin yang membuat Moza takjub.
"Kok lo bisa sesantai itu. Nggak takut emangnya sama mereka?" tanyanya antusias.
Bagaimana ya menjelaskannya?. Selama ini Moza menangisi kemampuannya ini sendirian. Mengetahui fakta kalau ada orang lain yang seperti dirinya rasanya seperti menemukan harta karun emas batangan ditengah kemiskinan yang melanda.
"Biar tampang brandal gini, gue itu masih punya iman. Jadi gue cuma perlu takut sama Tuhan aja".
"Ck!. Maksud gue muka hantu tadi kan setengah hancur gitu. Lo nggak ngeri?"
Malvin menggeleng mantap sambil menyeruput es teh. "Udah jadi pemandangan umum buat gue dari masih bayi baru brojol. Jadi sekarang udah biasa aja ngeliat begituan tiap hari".
Moza mengangguk. Eh tapi dia juga kan bisa melihat hantu dari kecil, saat umurnya 10 tahun. Tapi sampai sekarang melihat penampakan hantu masih tetap menakutkan 'tuh.
"Hantu tadi udah terlanjur penasaran sama lo yang bisa lihat dia. Jadi mungkin setelah ini dia bakal balik lagi nyamperin lo"
Moza mendengkus mendengar itu. Dia juga tahu itu, biasanya juga seperti itu. Tapi Moza bisa terus mengacuhkan mereka agar mereka tidak tahu kalau moza bisa melihat mereka.
"Ntar gue cuekin juga pergi" ucapnya malas.
Malvin menatapnya sebentar lalu tersenyum miring setelahnya.
"Kita lihat aja nanti"
*****
Malam harinya Moza sedang merebahkan badannya di atas kasur saat pintu kamar di ketuk lalu muncul lah mamanya setelah membuka pintu.
"Za, Mama sama Papa mau pergi bentar ya".
"Kemana, Ma?" tanya Moza.
"Ke rumahnya rekan kerja Papa buat silahturahmi. Kamu mau ikut?" tawar mamanya.
"Nggak ah, ngapain. Aku mau di rumah aja sambil ngerjain tugas".
"Ck!. kamu tuh kapan sih pernah mau kalo di ajak pergi sama orang tua?" Decak kesal sang mama.
Moza itu bukannya tidak mau, tapi sebagai manusia introvert, berdiam diri di rumah sendirian jauh lebih baik daripada ngang ngong di tengah keramaian.
"Males mama. Paling juga dengerin papa bahas bisnis sepanjang acara. Nyengir mulu sekalipun cuma buat formalitas kan juga bikin capek, Ma" jawabnya ngaco.
"Yaudah kalo nggak mau ikut. Pusing mama debat mulu sama kamu perkara ginian". ucapnya yang di balas kekehan oleh sang anak.
"Lauk buat makan malam udah mama siapin di meja makan ya, Za. Kalo abis makan jangan lupa di cuci piringnya. Mama sama papa berangkat dulu, ya"
Dengan patuh Moza mengangguk. Maka dengan begitu saat memasuki jam makan malam dia langsung menuju meja makan dan menikmati masakan ibunya yang sangat membuat lidahnya bergoyang dombret. Enak banget!.
Setelah kenyang dan sudah mencuci piringnya, Moza kembali ke kamarnya untuk mengerjakan tugas makalahnya. Menjadi mahasiswa semester 3 lumayan membuat sibuk juga ya ternyata.
Tak lama terdengar suara ponselnya bergetar. Nama Mama tertera di layarnya membuat Moza mengernyit heran.
Untuk apa mamanya menelfon?, padahal beberapa menit yang lalu sudah menelfon nya untuk mengingatkan segera makan malam. Mamanya juga mengatakan kalau kemungkinan akan pulang larut karena rekan kerja ayahnya mengajak untuk membahas pekerjaan seusai makan malam tadi.
Tidak mau lebih bingung, Moza segera mengangkat panggilan itu.
"Halo, ma. Kenapa?".
"Mama di depan, Za".
Jawaban mamanya itu membuatnya semakin heran.
"Katanya pulang larut. Nggak jadi emang, ma?" tanyanya sambil berjalan keluar kamarnya di lantai 2.
"Iya. Tolong bukain pintu, Za" pintaanya lagi.
Herannya, Moza sama sekali tidak mendengar suara mobil papanya parkir. Lagipula orang tuanya kan memiliki kunci cadangan. Kenapa sekarang malah minta tolong untuk dibukakan pintu?.
Moza memastikan sekali lagi bahwa ponselnya menampilkan nama Mama dan bahkan nomornya juga milik mama.
Setelah sampai di depan pintu, Moza nampak ragu membuka pintu itu. Maka untuk memastikan sekali lagi, dia mengintip ke arah luar dari jendela kacanya.
Moza terkejut karena ternyata di luar sana sedang hujan lebat. Padahal seingatnya sepanjang hari tadi cuacanya masih cerah.
Dengan cepat dia membuka pintu, takut kalau mama dan papanya kehujanan semakin lama. Anehnya saat pintu terbuka tidak ada siapapun di sana.
Moza celingukan mencari keberadaan mobil papanya. Tidak ada. Apa Moza dikerjain ya sama mamanya?, begitulah terkaannya saat ini.
"Mama isengnya nggak ketulungan, Ih" gumamnya kesal.
Merasa kesal dengan keisengan sang mama, Moza berniat menghubungi kembali mamanya untuk mengamuk. Tapi sebelum itu terjadi, perhatiannya teralihkan saat dari ekor matanya dia melihat seseorang berdiri di pekarangan samping rumahnya.
Moza menoleh dan mendapati mamanya berdiri di sana sambil memegangi payung berwarna hitam. Mamanya tersenyum ke arahnya lalu melambaikan tangan seolah memintanya menghampiri ke sana.
Entah kenapa Moza justru merasa merinding dan waspada saat itu juga. Sedetik kemudian senyum mamanya berubah menjadi seringaian lalu wajah cantik itu berubah menjadi mengerikan penuh darah dan nanah. Dari mulutnya keluar cairan merah kehitaman dan baunya sampai menusuk hidung Moza. Baju formal mamanya juga berubah menjadi gaun putih compang camping. Rambut yang tadinya rapi kini berubah jadi berantakan.
Dia hantu yang di kantin tadi siang!.
Moza terpaku di tempatnya. Tubuhnya menegang dan sangat sulit untuk digerakkan. Mau teriak pun rasanya suaranya tertahan di tenggorokan. Moza ingin menangis rasanya. Sumpah demi apapun dia ketakutan sekarang.
Suasana sekitar juga lebih sepi dari biasanya. Listrik tiba-tiba mati ditambah petir yang menyambar-nyambar menambah suasana tegangnya.
Sosok hantu itu semakin menyeringai. Dan entah bagaimana sosok menyeramkan itu dengan cepat berdiri di hadapanya dengan tubuh melayang.
Moza ingin menutup matanya tapi tidak bisa. Seringaian si hantu semakin lebar hingga mukutnya robek sampai ke telinga. Wajahnya yang tadinya sudah penuh dengan nanah dan darah kini bertambah dengan warnanya yang menghitam dan terdapat belatung di luka yang dideritanya.
AAAAAA!!!!... HIHIHIHIHIHIHI
Si hantu tiba-tiba menjerit kencang sambil cekikikan cukup lama. Telinga Moza berdenging untuk sesaat akibat teriakan nyaring itu.
Tubuh Moza semakin menegang diteriaki begitu di depan wajahnya. Napasnya semakin berat, ingin berteriak namun sekarang bahkan mulutnya tidak bisa terbuka.
Hantu itu perlahan semakin mendekatkan wajahnya ke depan wajah Moza. Semakin dekat sampai dia bisa dengan jelas melihat luka menganga di wajah hantu itu.
"Saya tahu kamu bisa lihat saya HIHIHIHIHIHIHI".
Dan detik itu juga semuanya berubah menjadi gelap. Moza menatap sekitarnya, tidak ada cahaya, tidak ada suara sama sekali. Semuanya sunyi. Napasnya semakin tak beraturan. Moza benar-benar ketakutan.
"SAYA TAHU KAMU BISA LIHAT SAYA!!!"