7 Days for 7 Dreams

Por DewiworoSrikandhi

5.7K 269 98

|| 7 lelaki berbeda orang tua yang menjadi satu keluarga, berjuang untuk mempertahankan jumlah anggota mereka... Más

~ BAB Perkenalan
~ BAB. 1
~ BAB. 2
~ BAB. 3 who did it?
~ BAB. 4
~ Bab. 5
~ BAB. 6
~BAB . 7
~BAB . 8
~BAB . 9
~BAB . 10
~BAB . 11
~BAB.12
~BAB.13
~Bab. 14
~BAB. 15
~BAB. 16
~BAB. 17
~BAB.18
~BAB.19
~BAB.20
~BAB.21
~BAB.22
~BAB.23
~BAB 24

~BAB. 25

86 3 1
Por DewiworoSrikandhi

Hi Hello Annyeong
🌷Happy reading🌷





BAB. 25



(Setelah banyaknya kemacetan yang mereka lewati)

Mereka bertujuh sudah sampai di mansion, seperti biasa...Varez dengan tiga pawangnya, ya Nathael, Jovan, dan Carez membantu Varez untuk keluar dari mobil dengan kurse roda, Suasana mansion yang sudah lama mereka rindukan, akhirnyaaa.

Haelka membanting tubuhnya di sofa bersamaan dengan Malvin dan Rendy, Jovan masih membantu Varez untuk pindah ke sofa.. sedangkan yang lainnya sudah duduk dengan santai. Bel mansion berbunyi, Malvin dengan rasa malasnya dia yang harus membukakan pintu itu karena yang lainnya terlihat lebih lelah dari dirinya. Malvin membuka pintu dan melihat seorang kurir pengantar makanan berdiri disana, membawa banyak makanan.

Pesanan atas nama Haelka? ucap kurir itu,

"Oh iya, orangnya ada didalem, biar saya yang trima aja pesenannya, terimakasih ya" ucap Malvin, ia menutup kembali pintunya dan meletakkan makanan tadi di atas meja ruang tamu,

"Wahhh tepat waktu, Haelka lagi bosen sama masakannya Nathael, jadili Haelka pesen makanan deh" ucap bayi beruang itu dengan santainya, Nathael memposisikan tubuhnya duduk tegak dan menatap banyaknya makanan yang Haelka pesan,

"Inilo yang bayar Hael?" tanya Nathael,

Nggak, gue pake kartu kreditnya Carez tak apa Haelka, jujur memang lebih baik daripada berbohong, tapi kamu terlalu jujur untuk saat ini, Carez membelalakkan matanya menatap ke arah Haelka, veribu kata siap keluar dari mulut Carez,

Aishh, abang nggak bilang ke Carez dulu?, itu uangnya mau Carez pake buat beli baju bang, kenapa di pake sih?, balikin nggak?, main pake uang orang aja "ucap Carez. ia mengomeli abangnya itu.

Gue cuma bercanda, nggak mungkinlah gue pake duit lo, dompet aja lo bawa di saku terus, gimana cara ambilnya coba" ucap Haelka,

Suasana hening seketika, sepertinya Jovan sedang memikirkan sesuatu, hal yang sangat menganggu pikirannya, dia berdiam tanpa septah katapun, hingga..


"Kok Gue liat tadi...abang yang anterin makanan itu kenapa nggak pake jaket kayak biasanya kurir pesenan pake ya?, apa jaketnya lagi dijemur kali ya?" ucap Jovan, ia membuat semua orang kini menatapnya,

"Itu abang yang kerja di kantin rumah sakit, gue minta tolong untuk anterin makanannya ke sini, soalnya gue males kalo suruh antri lama, entah kenapa tuh kantin berasa kayak cafe woi, ramenyaaa" ucap Haelka, semua tertawa bersamaan setelah mendengar ucapan Haelka

Varez mengulurkan tangannya, hendak mengambil minuman di atas meja, tangannya tidak bisa menggapai botol minuman itu, ia menepuk bahu Carez disampingnya dan meminta bantuan ke abangnya itu. Carez juga membantu Varez untuk membuka tutup botolnya, hari ini ia dimanja lagi oleh abang abangnya, kenapa ia tidak bisa mandiri sampai sekarang?. pertanyaan yang selalu mengganggu otak Varez, pertanyaan itu

(Setelah membiarkan mereka menyantap makanan......}

Rendy membersihkan sampah sampah di atas meja, dan kembali duduk di samping Malvin. Sang leader itu.. Malvin menoleh ke arah Varez, ia menatap dengan serius ke mata adik terakhirnya itu, satu pertanyaan yang akan ia sampaikan...

"Varez kena kasus bully ya disekolah?" tanya Malvin dengan ekspresi serius. Varez terdiam sebentar, ia sungguh takut menjawab pertanyaan itu, sudah ia coba untuk menyembunyikan semua itu tapi tetap saja terbongkar.

Eh?, nggak kok bang "ucap Varez, jelas sekali anak itu berbohong.

"Bisa nggak Varez jangan bohong sama abang?, abang udah deger semuanya langsung dari guru kamu, tapi kamu masih berusaha bohong kayak gini?" ucap Malvin, ia akan selalu sabar kalau menghadapi Varez.

Varez menundukkan kepalanya ke bawah.

Maaf bang tapi Varez bisa ngatasin semua masalah Varez sendiri kok. Varez cuma nggak mau jadi beban lagi, di sekolah udah jadi beban jangan di mansion juga jadi bebannya, iya kan?, hehe maaf ya bang" ucap Varez ia kembali membalas tatapan Malvin.

Wahaha, Varez mau liat mainan dikamar abang nggak?, ada banyak mainan Tho ucap Haelka, ia mencairkan suasana tegang disana, mencoba untuk mengajak Varez ke kamarnya dan menghindari pembicaraan introgasi dengan Malvin.

Haelka mendorong kursi roda Varez menuju kamarnya diikuti dengan Jovan dan Carez, kini di ruang tamu hanya ada Malvin, Rendy, dan Nathael saja, empat orang lainnya itu pergi ke kamar bayi beruang Haelka itu, Rendy menepuk bahu Malvin dan berbicara padanya.

"Varez baru keluar dari rumah sakit, kenapa lo tanya kayak gitu ke dia, setidaknya luangin beberapa hari lagi sebelum lo ngomong kayak tadi, jangan tambahin pikirannya" ucap Rendy, anak itu benar, seharusnya Malvin jangan membahsa hal seperti itu dulu ke Varez

(Dikamar Haelka)

Haelka si bayi beriang itu duduk di samping Varez, Jovan sudah mebantu memindahkan Varez ke tempat tidur Haelka tadi. Sebenarnya suasana hening sedang menyelimuti kamar itu, Jovan juga ikut duduk disamping Varez, kini mereka bertiga duduk berjejeran.

Jovan dan Haelka menghembuskan napas mereka bersamaan, membuat Varez menoleh bergantian menatap kedua abangnya itu. Varez tertawa kecil, la mengucapkan nama panjangnya dengan perlahan dan hati hati....

Alvarez Pradipta, anak dengan seribu masalahnya, selalu jadi beban dimanapun ia berada "Varez, ia belum menyelesaikan ucapannya tapi Jovan sudah menjeda anak itu berbicara.

"Shuttt, diern, adik kesayangan abang kayak kamu nggak boleh ngomong gitu, itu semua nggak bener, sejak kapan kamu jadi beban hah?, kita nggak pernah nganggep kayak gitu Var, jangan berpikiran yang enggak enggak "ucap Jovan.

"Biar abang ralat, ekhemm, Alvarez Pradipta anak dengan seribu bakat yang selalu jadi kebanggaan abang abangmu ini, selalu jadi penyemangat buat kita semua" ucap Haelka.

Var, lo tahu nggak perbedaan lo sama ketopraknya bu Minah di depan sekolah lo itu?, nih ya biar gue jelasin, kalo lo itu... Varez adek kesayangan abang, nah kalo ketopraknya bu Minah itu tandanya abangmu ini masih laper, beli yuk " lanjut Haelka, okelah memahami bahwa hidupnya bergenre komedi adalah cara yang tepat, Jovan juga menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Haelka.

Varez kembali tertawa mendengar kalimat yang keluar dari mulut Haelka, baru saja bayi beruang itu selesai makn dan sekarang?, la berencana untuk makan lagi?, jangan makan terlalu banyak Haelka, sifat cerewetnya Rendy menunggumu. Varez meminta bantuan Jovan untuk memeganginya agar la bisa berdiri dan pindah ke kursi roda, sebenarnya ia sudah tidak memerlukan benda itu lagi karena yang sakit kepalanya bukan kakinya, tapi daripada kena amuk Rendy lebih baik ja tetap menuruti kemauan abangnya itu, sabar ya anak bungsu dreams.

Varez menggunakan kursi rodanya menuju ke meja Haelka yang ya ampun...kotornyaaa, ia membantu sedikit merapikan sampah sampah diatas meja Haelka, dan menemukan gantungan kunci imut dengan beberapa karakter kartun didalamnya, Haelka dan Jovan ikut mendekat ke arah Varez, bayi beruang itu menjelaskan tentang gantungan kunci yang adiknya pegang.

"Itu kita bertujuh, bang Rendy yang gambar karakternya terus gue jadiin gantungan kunci deh, tapi karena baru cetak satu terus gambarnya ilang jadi cuma punya itu doang" ucap Haelka menjelaskan, Varez mengangguk memahami ucapan Haelka.

Bang Malvin masih belum sadar tentang traumanya Varez?" tanya Haelka.

"Udah tahu dia, waktu kita pulang dari rumah sakit karena pamannya Carez..dia udah sadar dari situ, kalo lo mau tanya kok gue bisa tahu jangan tanya kayak gitu, soalnya que juga cuma kerasa aja" ucap Jovan, Varez menghembuskan napasnya, dia pikir ini semua sudah berakhir, tapi ternyata masih ada trauma yang selalu saja mendatanginya.

"Abang Varez, mimpi Varez nggak ada yang bisa terjadi lagi, sekarang normal kayak orang pada umumnya, abang sama yang lainnya juga udah nggak bisa kayak gitu lagi sekarang" ucap Varez, apa?, tiba tiba?.

"lya kah?, beneran?, wahhh, harusnya lo seneng dong, katanya lo pengen hidup normal, ya ini udah bebas sekarang "ucap Haelka.

"Karena ini tiba tiba jadi masih agak kaget aja bang, Varez juga baru tahu tadi pagi karena...,eh nggak jadi, Varez ke ruang tamu dulu ya bang, hehe" ucap Varez, ia kembali menuju ke sana, untung saja kamar Haelka tidak di lantai atas.

Masih bersama Malvin, Rendy, dan Carez di ruang tamu, Varez si bayi hamster itu duduk di samping Carez yang menatapnya dengan hangat, ia merangkul bahu adiknya dan membelai
surai rambut Varez, sudah terlihat dari wajahnya... Carez pasti sedang memikirkan berbagai macam pertanyaan yang sudah siap ia keluarkan dari mulut tapi harus menunggu waktu yang tepat terlebih dahulu.

"Abang, biarin Varez selesaiin masalah Varez sendiri ya?, Varez nggak mau bergantung terus sama abang "ucap Varez, ia membuat kedua abangnya....malvin dan Rendy menoleh ke arahnya. Carez menganggukkan keplanya dan tesenyum menatap Varez

"Abang akan kasih Varez waktu untuk selesailin masalah Varez sendiri, maafin abang ya?" ucap Malvin.

"Abang nggak salah kok, nggak usah minta maaf kayak gitu" ucap Varez.

"Varez mau bungeoppang nggak?, abang masakin dulu ya?" ucap Carez la berdiri dari duduknya dan menuju dapur, begitu pula dengan Rendy dan Nathael yang juga mengikutinya ke dapur.

Tiga orang pemegang wilayah dapur sedang bekerja, kalau mereka bertiga ynag masak dapur pasti aman teritram bahkan tanpa ada yang berserakan sedikitpun hanya Malvin dan Varez yang tidak bisa mendekati alat alat dapur milk Rendy itu.

Terakhir kali mereka berdua memasak itu, telur goreng yang keseluruhannya berwarna hitam gelap, ya benar gosong. Jovan dan Haeľka juga ikut membantu memasak di dapur, benar benar, Malvin dan Varez hanya menjadi penonton yang trauma dengan telur gosong.

Haelka yang sedang mencuci beberapa piring itu...tiba tiba mendekat ke Varez, dengan tangannya yang masih penuh busa sabun la membersihkan busa itu dibaju Jovan yang berdiri disampingnya.

"Numpang ngilangin sabun ya, Jov" ucap Haelka, ia benar benar menghilangkan busa sabun yang menempel ditangannya, ke baju Jovan.

Gue sudah berusaha biar genre hidup gue tuh komedi, eh datanglah Haelka dan Nathael yang membuat genre gue seketika berubah karena mereka berdua, agghhh capek gue kesal Jovan, anak bergenre komedi itu harus berkelahi dengan dua bocah itu.

"Varez mau jalan jalan sama abang nggak?, kamu udah bisa jalan kan?, kakinya nggak sakit kan?" tanya Haelka.

"Mau bang, kaki Varez nggak kenapa kenapa kok "ucap Varez, senyuman jelas
terlihat diwajahnya.

"Jagain Varez ya, sampe dia pulang ke mansion tapi ada yang luka.. gue jadin bubur lo" ucap Nathael.

"Gue cat boneka beruang lo biar jadi warna ink menyala" gliran Jovan yang mengancam bayi beruang itu.

"Iya lya bawel Haelka mencuci tangannya terlebih dahulu dan mengambilkan Jaket untuk Varez dan mengajaknya keluar untuk jalan jalan.

Mungkin jaraknya jauh jadi Haelka meminjam mobil Jovan, karena kalau pakai mobilnya Nathael sudah seperti pindah rumah (mobil dengan ukuran yang besar). Mobil Jovan hanya cukup untuk empat orang jadi kursinya tidak terlalu banyak.

Haelka memarkirkan mobil dengan baik di depan toko perabotan yang waktu itu Varez membelikan gelas untuknya, la mengajak Varez masuk kedalam toko dan melihat lihat banyaknya barang disana. Mulai dari gelas, piring, panci, wajan, dan masih banyak lagi perabotan dapur kesukaan Nathael.

Bayi beruang itu langsung tertarik dengan sahabat sahabatnya disana, iya gelas gelas beruang yang imut seperti dirinya, haha, la dengan cepat mengambil beberapa gelas didepannya itu, ternyata masih banyak yang lainnya...seperti bentuk harimau dan kelinci, la memborong semuanya dari ujung hingga ujung, dia akan memamerkan kekayaan didepan Varez dengan kartu milik Carez yang la ambil.

"Wahh, gelas yang dari Varez kemarin pasti pecah yang bang, maaf ya" ucap Varez, ucapannya itu membuat Haelka menoleh ke wajahnya.

"Ini ada yang hamster Var, kamu mau nggak?, kali ini abang yang bayar" sunguh kebohongan Haelka.

"Pake kerditnya bang Carez?" Varez sudah hafal betul kelakuan abangnya itu.

"Yah ketahuan, nggak kok, ini gue pake uang gue sendiri lah" ucap Haelka, baklah ia tidak bisa berbohong didepan Varez, bayl hamster itu tertawa kecil disana.

Oke... banyak sekali yang Haelka beli, ingat ya pakal duitnya sendiri kok, haha. Ia meletakkan barang belanjaan di bagasi mobil dan segera bergegas pulang kemansion sebelum terjadi
macet yang lebih parah.

Akhirnya mereka berhasil sampai di mansion sebelum Rendy mengamuk. Haelka membawa barang belanjaan sekaligus membantu Varez turun dari mobil, benar seperti dugaan Varez Rendy sudah berdiri didepan pintu menyambut mereka berdua dengan senyum yang mengartikan segalanya.

"Lo beli gelas lagi kan?, Hael, gelas lo numpuk di rak sebelah wastafel sana, tapi udah beli lagi aja, jangan lah buang buang uang, Haelka Archalaaa!. Beli banyak kan lo?"

benar bukan?, tidak ada hari seru Haelka tanpa Rendy yang mengamuk, bayl beruang itu dengan santainya tertawa tipis didepan Rendy.

"Menghibur Varez bang" ucap Haelka tepat disamping Rendy, ia berjalan menuju meja dapur dan menata barang yang la beli, benar benar hanya gelas yang ada didalam tas belanjaan itu.

Varez melepas jaketnya lalu duduk disamping Jovan disofa, menghembuskan napasnya lelah, la mendekat ke vas bunga diatas meja dan mulai berbicara dengan tanaman itu, memang aneh tapi itulah Varez dengan seribu tingah anehnya.

Jovan menatap ke Varez yang berbicara dengan tanaman di vas itu seperti sudah biasa melihat kejadian seperti sekarang inl, jika ada pohon maka disana ada Varez yang siap mengajak pohon berbicara.

"Kamu belum disiram sama bang Rendy ya?, Varez ambil air dulu ya tanaman"  ucap Varez, la sungguh mengambil air dari wastafel kemudian menuangkannya ke dalam vas dengan hati hati.

Ia membelai daun demi daun yang ada di vas, tersenyum lembut sambil menatap tanaman yang la pegang itu, vas milik Rendy yang jarang abangnya itu siram.

"Var, itu temen lo ya?, akrab banget perasaan" ucap Jovan.

"lya bang ini temen Varez, udah hampir layu, Varez mau beli yang baru bang... boleh nggak?" tanya Varez, tentu saja Jovan tidak bisa menolak permintaan adiknya itu, la menganggukkan kepalanya menyetujui ap yang diminta Varez.

"Besok pagi kita beli bunga baru ya, ajak yang lainnya juga ucapan Jovan itu benarr benar membut senyum girang tergambar diwajah Varez, la senang karena akan mendapat teman baru.

































Hi guys maap jarang upload lagi nge-stuck sama jalan ceritanya hhehew, tp isokey aku tambah bab baru, semoga suka ya 🥺❤️‍🩹.

Seguir leyendo

También te gustarán

526K 41.1K 62
Rumah. Hanya cerita tentang tujuh bocah yang mencari rumah untuk sekedar tempat berbagi senyuman dan canda tawa (300523) #45 in criminal (010623) #80...
12.8K 767 17
Menceritakan 7 lelaki dengan masalah hidup masing-masing tetapi semuanya terasa indah saat mereka bersama
37K 2.2K 27
tentang kisah hidup 7 barudak halu.
Wattpad App - Desbloquea funciones exclusivas