Cerita ini sebenarnya udah tamat sampai bab akhir. Jadi cerita ini bakal aku update sering, 1 sampai 3 part per updatean.
Kalo "Lucky Fan Idol???" dan "From Bali to Seoul" kan masih ongoing, jadi updatenya agak lama. Soalnya mikirin alurnya juga... hehehe😅
Semoga masih ada yang baca cerita ini ya...
~Happy Reading~
Musim semi telah tiba. Bunga-bunga sakura buatan di Seoul International School mulai dipasang menghiasi lorong-lorong sekolah, sebagai simbol kedatangan hari-hari terakhir para siswa kelas 12.
Carmen duduk di bawah pohon sakura depan aula, mengenakan seragam terakhirnya sebagai siswi kelas 12. Buku catatan kecil tergeletak di pangkuannya, berisi daftar target dan rencana hidup ke depan.
"Kelulusan. Jepang. Sains. Hidup baru."
Gadis itu tersenyum pelan. Siapa sangka, dirinya yang dulu gadis ceria dan super aktif, kini tumbuh menjadi sosok yang tangguh, disiplin, dan siap melangkah ke dunia baru.
Dan hari ini, berita besar datang padanya...
Ruang Kepala Sekolah – Siang Hari
"Selamat, Carmen," ucap Kepala Sekolah dengan bangga. "Kamu resmi diterima di Universitas Tokyo, jurusan Ilmu Sains dan Lingkungan, melalui beasiswa prestasi penuh dari Pemerintah Jepang."
Carmen nyaris tak bisa berkata apa-apa. Tangannya gemetar saat menerima surat konfirmasi beasiswa itu.
"Terima kasih... sungguh, terima kasih," ucapnya, mata berkaca-kaca.
Sementara Itu – Universitas Seoul (SNU)
Di sudut ruang baca jurusan Teknik Arsitektur, Niki duduk menyusun model bangunan dengan serius. Jemarinya lincah memotong kertas dan mengukur detail.
Tak jauh dari sana, Anton datang membawa dua kaleng kopi kaleng.
"Arsitek ternyata lebih ribet dari yang kubayangkan," ucap Anton santai sambil menyodorkan kopi ke Niki.
Niki menoleh dan tertawa. "Dan Hukum lebih melelahkan daripada yang aku kira. Tapi kamu tetap kelihatan santai, ya."
Anton mengangkat bahu. "Namanya juga pembawaan."
Sejak Niki masuk Universitas Seoul beberapa bulan lalu, ia dan Anton memang semakin sering menghabiskan waktu bersama. Awalnya karena sering bertemu di perpustakaan umum, kemudian mulai bertukar cerita, saling curhat, hingga akhirnya menjadi... partner nongkrong kampus.
Namun Niki tak pernah berani mengungkap bahwa sebenarnya ia menyimpan rasa kagum terhadap kakak sepupunya yang satu ini. Bukan hanya karena wajah tampan atau prestasi Anton, tetapi karena ketenangan dan kehangatan yang ia pancarkan.
Kembali ke Carmen – Malam Hari di Rumah
Carmen memeluk surat beasiswanya erat-erat. Di meja, ada foto masa kecilnya bersama Eunseok dan Anton.
Di sebelahnya, ada hadiah kecil dari Stella dan Ian, yaitu pena dengan ukiran "Fly beyond the stars, Carmen!"
Suara pintu diketuk perlahan.
"Masuk," sahut Carmen.
Anton masuk dengan tangan di saku celana, membawa sekotak kue stroberi.
"Katanya kamu resmi dapet beasiswa Jepang?"
Carmen mengangguk semangat. "Universitas Tokyo. Ilmu Sains dan Lingkungan."
Anton duduk di pinggir ranjang. "Aku bangga banget sama kamu. Tapi..."
"Hmm?" Carmen menoleh.
Anton menatap adiknya serius. "Kamu yakin akan kuat kalau jauh dari semua orang? Dari rumah, dari teman-teman, dari... Yushi?"
Carmen diam sejenak.
"Aku belajar dari kalian berdua, Anton-oppa dan Eunseok-oppa... Kalau kita mau bertumbuh, kita harus berani jauh dari zona nyaman. Aku sayang Yushi. Tapi aku juga punya masa depan yang harus kujalani."
Anton tersenyum tipis. "Jawaban keren. Pantesan banyak cowok ngejar kamu."
"YAK!" Carmen melempar bantal ke arahnya.
Mereka tertawa.
Beberapa Hari Kemudian – Hari Wisuda
Carmen berdiri di panggung, menerima penghargaan sebagai Siswa Berprestasi Nasional, disambut dengan tepuk tangan riuh dari seluruh hadirin.
Di antara kerumunan, terlihat Yushi yang diam-diam kembali dari Jepang selama dua hari, duduk di barisan belakang, memakai masker dan hoodie untuk menyamar. Di sampingnya, Kotoko dan Niki, serta Anton dan Eunseok.
Wajah Yushi penuh bangga. Matanya berkaca-kaca.
"Dia benar-benar bersinar," gumamnya lirih.
Sore Hari – Di Lapangan Belakang
Yushi akhirnya menghampiri Carmen setelah acara selesai. Ia mengeluarkan kotak kecil dari saku jaketnya. Bukan cincin, melainkan liontin berbentuk bintang.
"Untuk kamu. Karena kamu sudah bersinar jauh lebih terang dari siapa pun yang pernah aku kenal."
Carmen tersenyum haru. Ia menerima kalung itu dan memakainya langsung.
"Terima kasih. Dan aku harap, aku bisa bersinar di langit yang sama denganmu, walau kita beda tempat."
Yushi menggenggam tangannya.
"Langitnya sama. Cuma jaraknya yang berbeda. Tapi aku tahu, cinta kita sudah cukup kuat untuk menempuh jarak itu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued