COWOK BAIK, COWOK BADUT
"Vino, kamu tuh ya... kalau disuruh mati buat aku, kamu mau nggak sih?"
Elvino hanya tertawa, sambil nyuapin es krim ke mulut Bella.
"Kamu mau aku mati sekarang? Mau pilih warna peti juga sekalian?"
Bella ngambek, manyun.
"Aku serius tahu, Vin! Jangan becanda terus deh."
Elvino langsung pasang wajah dramatis, menaruh sendok es krim di jidatnya sambil rebahan di bangku taman.
"Bella Clarisa, demi cintaku padamu... aku rela mati, hidup lagi, terus mati lagi... asal kamu senyum dikit aja ke aku."
"Gombal!"
"Tapi bucin!"
Mereka tertawa. Setidaknya... Bella tertawa. Dan buat Elvino, itu sudah cukup.
Meski ia tahu, tawa Bella bukan karena cinta. Tapi karena... lucu aja.
Karena Elvino cuma jadi badut penghibur, bukan pangeran berkuda.
Hari-hari Elvino adalah tentang satu hal: mencintai Bella Clarisa sepenuh jantungnya. Bukan hati, karena hatinya sudah kelewat sering patah tiap lihat Bella nyebut satu nama: Raka Mahesa.
Cowok dingin, cuek, galak, yang entah kenapa justru jadi pusat semesta Bella.
"Tadi aku lihat Raka di lorong sekolah... dia makin ganteng ya, Vin..."
Elvino mengunyah mi ayamnya pelan-pelan.
"Ganteng sih... tapi ekspresinya kayak abis nelen dosa orang sekampung."
"Tapi dia cool. Mysterious. Aku tuh... suka banget sama auranya."
Elvino cuma mengangguk, sambil pura-pura senyum.
Dalam hati?
Gue cool juga, kalau tiap hari dijadikan pilihan kedua.
Raka Mahesa adalah definisi es batu berjalan. Kalau Elvino adalah matahari yang selalu hangat untuk Bella, maka Raka adalah kutub utara yang bahkan nggak peduli kamu kedinginan atau nggak. Tapi anehnya… Bella tetap jatuh cinta.
Dan Elvino? Tetap ada.
Tetap nyiapin jas hujan kalau Bella kehujanan nunggu Raka.
Tetap beli cokelat kalau Bella patah hati karena Raka nggak balas chat.
Tetap ngelucu walau hatinya remuk.
"Kamu tau nggak, Vin… aku tuh kadang capek banget ngejar Raka."
"Lari di tempat emang gitu, Bel."
Bella menatap Elvino lama.
"Kamu kenapa sih… selalu ada buat aku?"
Elvino tersenyum, lalu menatap langit.
"Karena aku nggak bisa nggak ada buat kamu."
Di satu sisi cinta yang sepihak.
Di sisi lain, harapan yang tak pernah berpihak.
Dan di tengah-tengah?
Jantung yang terus berdetak… sendiri.
esoknya…
"BELLA!!!"
Teriakan itu menggema dari ujung koridor sekolah. Beberapa siswa menoleh, sebagian tertawa, dan sisanya sudah pasrah—itu pasti Elvino lagi.
Cowok jangkung dengan rambut acak-acakan dan sepatu sobek satu itu lari tergopoh-gopoh sambil membawa... tisu basah?
“Bellaaa... ini! Tisu lemon! Kamu kan gak suka tisu toilet di kamar mandi sekolah, terlalu kering!”
Elvino berhenti tepat di depan Bella, napasnya ngos-ngosan kayak abis dikejar guru bk.
Bella cuma menatap datar.
"Vin... aku cuma ke kamar mandi lima menit, kamu gak usah drama kayak aku diculik alien."
Elvino nyengir lebar. “Tapi kalau alien nyulik kamu, aku rela jadi tumbalnya asal kamu dibalikin.”
Senyumnya norak. Gayanya lebih norak lagi. Tapi entah kenapa, di mata Bella—kadang itu menghibur... kadang.
Dari kejauhan, terlihat Raka lewat. Dingin. Sepatu hitam, tas hitam, wajahnya pun lebih dingin dari es di kutub selatan.
Bella langsung berdiri dan bersikap seolah mau photoshoot: rambut dirapikan, seragam diluruskan, senyum 15 derajat.
“Pagi, Raka!” ucap Bella ceria.
Raka melirik sekilas, lalu jalan lagi. Tanpa sepatah kata. Tanpa senyum. Bahkan bayangannya pun gak sempat mampir.
Bella terdiam. Lagi-lagi seperti itu.
“Eh... dia tuh kayaknya punya penyakit deh,” bisik Elvino.
Bella menoleh, wajahnya kesal, “Penyakit apa?”
“Penyakit langka. Gak bisa ngerespon cinta cewek cantik.”
Elvino ketawa ngakak sendiri. Tapi Bella tetap cemberut.
“Elvino... serius deh, kamu gak capek? Aku suka orang lain, kamu tahu kan?”
Elvino menatap Bella sebentar, lalu tersenyum. Tapi kali ini senyumnya gak selebar tadi.
“Tau. Tapi aku gak suka lihat kamu nangis. Jadi kalau kamu gagal bikin dia senyum, biar aku aja yang bikin kamu ketawa.”
Bella terdiam. Tapi dia gak bisa menyangkal satu hal:
Sebrutalnya penolakan Raka, semenyebalkannya dia, selalu ada satu orang yang jadi pelindung hati patahnya.
Elvino. Si badut. Si cowok baik yang terlalu baik.
Dan di sudut kantin hari itu, Juno—sahabat Elvino, cuma bisa geleng-geleng.
“Bro... lo tuh udah kayak film. Komedi romantis—tapi lo bagian komedinya doang.”
Elvino nyengir, “Yah, yang penting dapat peran, bro.”