HARQEEL

By xxmy23

200K 9.2K 194

Aqeela adalah gadis yang dikenal frontal dan bar-bar, tapi di balik sikap kerasnya, ia sering merasa tidak pe... More

Awal Yang mengerikan
Pesan Pertama
Pesan kedua
Bayangan dibelakangmu
Pergerakan
kebimbangan harry
Perjalanan Tak Terduga
Hari Perjalanan
Camping
Malam Kedua Camping
Terjatuh bersama
Pertama Kali Bersama
Jejak Yang Tidak Terlihat
Lebih Dekat
Rahasia Harry
Masalalu Kita
Memanjat
Berhasil Selamat
Kembali kerumah
Mohan Marah
Terbongkar?
Promosi
Jadi siapa?
Murid baru
Ingatan samar
pengakuan
Jadian
rumit
Ingatan Aqeela
setengah kebenaran
pengakuan Aqeela
Satu Pesan Janggal
pagi
1 kejujuran
perlindungan
closure
sandaran ternyaman
Jebakan
khawatir
Confess
Kebenaran
penuh intrik
backstreet
day 1 backstreet
Harry Overthingking
Mengumumkan
Gagal Backstreet
menyelesaikan drama
Enggak dipeluk
complicated
kejar kejaran
Foto Polaroid
Salah Paham
Harry Demam
Little Girl
Protektif Bf
Selera
Pulang
Sayang

usaha penculikan kedua

1.2K 67 0
By xxmy23

Aqeela mondar-mandir diruang tengah kosnya, wajahnya tegang.
“Perasaan gue nggak enak, Mo. Tadi tuh beneran gue lihat orang aneh banget ngeliatin gue,” ucapnya lirih.

Mohan, yang duduk selonjoran sambil makan mi instan, hanya mengangkat bahu. “Tenang, city girl. Gue di sini, kok. Lagi juga… kayaknya lo cuma panik aja.”

BRAK BRAK BRAK!

Pintu diketuk kasar.

Aqeela dan Mohan saling pandang. Wajah Aqeela langsung pucat. “Itu pasti Harry,” gumamnya cepat.

Mohan berdiri dan melangkah ke pintu. “Santai, gue yang bukain—”

Tapi saat daun pintu dibuka, dua pria asing langsung menerjang masuk.

Satu dari mereka mengayunkan pukulan ke arah Mohan. Cowok gondrong itu reflek menghindar dan melawan, tapi mereka terlalu terlatih. Aqeela menjerit saat Mohan terdorong ke lantai dan salah satu penyerang mulai menarik tangannya.

“LEPASIN GUE!!” teriak Aqeela, menendang liar.

Mohan berusaha bangkit meski wajahnya sudah berdarah. “WOY, JANGAN SENTUH DIA!”

Dia kembali menyerang satu orang, tapi tubuhnya terlempar ke rak buku.

Tepat saat Aqeela hendak diseret keluar—

BRAK!

Pintu terbuka lebih keras.
Harry berdiri di ambang pintu, napas terengah, mata melebar melihat kekacauan di depannya.

Namun, sebelum sempat bergerak, dua pria itu mendadak terdiam sejenak, lalu saling melirik.

Dari earphone kecil di telinga mereka, suara Sandy terdengar panik.

"Mundur. Sekarang. Jangan ada kontak dengan Harry."

Tanpa satu kata pun, mereka melepas Aqeela dan mundur cepat—menghilang secepat datangnya.

Harry masih berdiri membeku. Matanya menatap Aqeela yang terduduk gemetar di lantai.

Lalu dia melangkah maju, menyingkirkan kursi yang terjatuh dan langsung memeluk Aqeela erat.

“Aku telat… maaf. Maaf banget…”

Aqeela masih gemetar. “Mereka… mereka hampir… nyulik aku…”

Harry mengepalkan tangan, rahangnya mengeras.

Di sudut ruangan, Mohan mengangkat tangan lemah.

“Hei… gue di sini juga, tau…” gumamnya.

“Udah kayak nyamuk, nggak dianggap, babak belur pula. Gila emang hidup…”

Aqeela tertawa kecil di sela tangisnya.

Harry melirik Mohan yang terkapar.

Mohan mendesah. “Besok tolong traktir mi instan lima dus, ya. Minimal buat ganti luka batin gue.”

---

Mohan meringis saat menyeka luka di pelipisnya dengan kapas beralkohol.

Aqeela datang membawa salep. “Ini buat lebamnya. Lo kayak habis sparing diring tinju, Mo.”

Mohan menyengir. “Sparing nggak pake dua lawan satu, city girl…”

Setelah luka-lukanya dirawat, Aqeela mulai cerita. Tentang sosok yang mencurigakan, tentang ketakutannya, tentang bagaimana Mohan muncul dan tiba-tiba ada 2 orang itu.

Lalu Harry menjelaskan semuanya ke Mohan. Tentang penyelidikan diam-diamnya selama ini. Tentang kelompok bayangan yang mengincar dirinya. Dan bagaimana mereka tahu—Aqeela adalah kelemahan terbesarnya.

Mohan akhirnya paham. Wajahnya mendadak lebih serius dari biasanya.
“Jadi lo yakin… mereka bakal nyoba lagi?”

Harry mengangguk pelan. “Dan mereka bakal lebih nekat.”

Mohan berdiri, mengambil jaketnya. “Gue pulang dulu, deh. Lo jagain city girl baik-baik. Gue nggak bisa terus-terusan jadi nyamuk pahlawan.”

Aqeela tersenyum kecil. “Thanks, Mo…”

Mohan melambai sambil jalan ke luar. “Lo utang mi instan satu dus. Jangan lupa.”

---

Setelah Mohan pergi, kos kembali sunyi.

Aqeela beberes, membuang tisu dan bekas perban, sementara Harry berdiri di dekat jendela, matanya masih waspada.
“Aku nggak bisa ninggalin kamu sendirian,” katanya akhirnya.
“Aku bakal tinggal di sini. Sementara waktu.”

Aqeela menatapnya. “Kamu yakin?”

Harry menoleh. “Aku nggak mau kehilangan kamu cuma karena aku lengah.”

---

Mereka pergi ke taman kecil dekat sana. Udara sejuk dan sunyi.
Mereka duduk di bangku kayu, tapi Harry hanya diam. Tatapannya lurus, wajahnya tegang.

Aqeela tahu ekspresi itu. Cemburu. Campur marah. Campur takut.

Dia berdiri perlahan, lalu berdiri dihadapan Harry. Tangannya menangkup wajah cowok itu dengan lembut.

“Hey… look at me.”

Mata mereka bertemu.
“Aku bisa jelasin semuanya. Kamu jangan marah dulu.”

Harry menghela napas berat. Lalu lirih berkata,

“Aku cuma… kesel. Kenapa selalu Mohan?
Kenapa bukan aku yang jaga kamu waktu itu?”

Aqeela diam. Menunggu.

“Tapi…” Harry melanjutkan. “Aku juga lega. Karena dia, kamu nggak kenapa-napa.”

Sunyi sejenak. Daun-daun bergerak pelan tertiup angin.

Harry memegang tangan Aqeela yang masih di pipinya.

“Mulai sekarang, kayaknya kita harus bareng-bareng terus.”

Aqeela tersenyum pelan.
---

FOLLOW AND VOTE KAWAN KAWANKU

Continue Reading

You'll Also Like

238K 17.2K 71
[Harqeel Rush mari merapat xixi] Di balik tembok tinggi Asrama 9 Ilmu-tempat anak-anak 'bermasalah' dikirim oleh orang tua mereka-terjalin takdir yan...
35.5K 2.1K 17
Dia kembali, gadis kecil yang dulu selalu mengacaukan sunyinya, kini tumbuh jadi wanita manja yang tak pernah lepas dari pikirannya. Harryan Raynold...
161K 8.1K 56
Aqeela Aza Callista dan Harry Vaughan pertama kali bertemu saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Aqeela yang ceria dan penuh semangat tengah berl...
Wattpad App - Unlock exclusive features